Cliche Case!?

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Typos, OOC, and many more

"Jadi titik puncak dari sumbu ini adalah nol koma tiga, setelah itu kita harus menggambar grafiknya seperti ini" Tangan Hinata bergerak menggambar sebuah grafik di papan tulis, tangannya dengan lincah menggambar garis lurus tanpa menggunakan penggaris. Tiba-tiba Hinata mendengar suara bisik-bisik dari barisan paling belakang, Hinata menghentikan pergerakan tangannya.

"Nanti nyontek ya"

"Nyontek apa?"

"Ya PR!"

Sementara murid yang menjawab tak tahu bahwa di belakangnya ada Sang Guru dengan mngetukan kakinya ke lantai.

"Sssttt bodoh! Hinata-sensei!"

Sang murid dengan kaku menengok kebelakang dengan senyuman tak berdosa.

"Hai sensei..."

"Hai, tadi kamu mau nyontek apa? PR?

"..."

"Kamu berdiri di lorong, sekarang!" usir Hinata dengan galak, semua yang berada di kelas bergidik ngeri saat melihat salah satu teman mereka di usir dari pelajaran wanita cantik itu, mereka harus mencatat dengan baik.

'Jangan cari masalah sama guru cantik ini!'

Di usia mudanya ini Hinata telah menjadi guru Sekolah menengah atas, Hinata sewaktu kuliah mengambil kelas akselerasi bersama sahabatnya, Shikamaru sehingga ia bisa langsung lulus dengan gelar S3. Hinata pernah ditawari menjadi dosen tetapi ia tak mau karena menjadi dosen itu terlalu merepotkan, jadi ia lebih memilih menjadi guru SMA.

"Oke sampai dimana kita tadi? Grafik ya?"

Hinata kembali kedepan papan tulis dan melanjutkan menerangkan pelajarannya.


Hinata berjalan menyusuri lorong sekolah, ia melihat siswa-siswi yang sedang melakukan kegiatan klub mereka dari luar jendela lorong.

"Sensei!" teriak suara jeritan dari seorang gadis berambut panjang dengan siluet yang sama dengan Hinata, ia berlari ngos-ngosan , memegang lututnya sambil mengambil napas kembali.

"Hanabi, sudah kubilang jangan berlari di koridor, kau ini" sementara si empunya hanya nyengir menampakan gigi putihnya, Hinata menghela napas, capek menasihati adiknya berkali-kali tetapi masih saja tetap bandel, Huh.

"Hehe maaf nih ada hadiah dari cowok" Hanabi menyodorkan kotak berwarna biru dengan pita yang berwarna merah, Hinata mengernyit curiga, Jangan-jangan...

"Dari fans kakak yang ganteng lho~ mau? Kalau gak mau buat aku saja" Hinata menghela napas, sudah dia duga ada lagi yang mengiriminya hadiah, entah itu di rumah, di jalan, di sekolah ia mengajar, terkirimlah cokelat, cincin, bahkan berlian yang Hinata terima sampai tak terhitung jumlahnya.

"Iya buat kamu saja,dan jangan panggil Kakak oke? Soalnya kalau kita di sekolah hanya sebatas Guru dan murid"

Hanabi mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya dengan sebal, padahal ia ingin sekali memamerkan bahwa Hinata adalah Kakaknya. Hinata gemas dengan pipi Hanabi yang seperti mochi yang sering dimakannya, tangan Hinata langsung mencubit Hanabi hingga sang adik sangat kesakitan.

"Adaw sakit Kakak! Tuh kan pipi aku jadi merah hmph" Hanabi mengalihkan pandangannya dari Hinata, sementara pelaku dari pencubitan pipi Hanabi hanya terkikik geli dengan lembut ia usapkan tangannya ke pipi Hanabi.

"Kamu ada kegiatan?"

"Nggak ada"

"Kita pulang yuk"

"Iya Kak"


Suara nyaring dari mesin cleaner membuat Naruto semakin semangat membersihkan apartemennya yang bisa dibilang luas. Naruto memaju mundukan selang dari mesin tersebut dan mencari kotoran yang berada di lantak apartemennya.

Naruto bukanlah anak manja, ia menolak tawaran orang tuanya untuk menyewa beberapa pembantu di rumahnya, ia lebih memilih membersihkannya sendiri, walaupun sesibuk apapun pekerjaannya sebagai bos di beberapa perusahaan tak membuat Naruto kecapekan, bahkan Naruto bisa memasak sendiri, saking mandirinya Naruto sehingga membuat orang tua Naruto harus khawatir atau tidak karena anak mereka sudah kelewat batas dengan kegiatan yang menguras energi.

Bahkan orang tua Naruto ingin sekali kelak Naruto memiliki pendamping hidup agar bisa mengendalikan jadwal Nauto yang bisa dibilang berantakan itu, tetapi Naruto yang notabene tidak tertarik dengan cinta sama sekali tak peduli dengan apa yang orang tuanya katakan. Naruto yang usianya hampir menginjak berkepala tiga itu membuat orang tua Naruto khawatir karena jika Naruto kelak akan pensiun maka siapa yang akan menjadi penerus? Naruto adalah anak tunggal jadi tak ada yang bisa menggantikannya dari posisinya tersebut.

"Hmmm hari ini aku akan makan sashimi saja, lapar..." Naruto menghentikan kegiatan bersih-bersihnya, ia melenggang ke dapur untuk memasak, ia meraih gagang kulkas dan melihat kedalamnya.

"Astaga, kenapa isi kulkas habis semua..." Naruto melongo tak percaya, ia bahkan sampai lupa untuk membeli makanan sendiri, Naruto mendesah pelan. Ia memutuskan untuk makan di luar saja. Naruto memakai jaket kulitnya berwarna hitam, mengambil topi dan kacamata. Ia mengambil kunci mobil di nakas dan langsung menancap gas dari kawasan apartemennya tersebut.


"Ya Tuhan... ramai sekali..." Hinata melihat bahwa semua bangku telah penuh, Hinata yang masih memegang nampan yang berisi bingung harus duduk dimana, sebelumnya Hinata mengantarkan Hanabi ke rumah temannya karena ada tugas kelompok, dan dipertengahan jalan ia merasa lapar, dan berakhirlah Hinata di restoran cepat saji ini.

Hinata berdecak, Hinata mengelilingi pandangannya di dalam restoran tersebut, kemudian pandangan Hinata berhenti di salah satu meja yang kosong beserta kursinya. Hinata langsung tersenyum bahagia dengan ligat ia langsung mengahampiri meja itu, sesaat ia akan menarik kursi itu ia melihat tangan lain yang meraih kursi itu juga.

"Errr maaf saya yang pertama disini" Hinata memandang lelaki yang memakai topi dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.

"Saya yang pertama menemukan tempat duduk ini pak" Hinata menatap tajam mata dari lelaki tersebut.

"Saya juga yang pertama menemukan kursi ini, nona" Oke Hinata mendesah, ia tak mau sifat galaknya keluar seperti ia memarahi siswanya seperti tadi ia mengajar.

"Oh begitu tapi bisakah bapak mencari tempat lain? Saya sudah lama berdiri seperti orang bodoh karena mencari kursi yang kosong untuk di duduki"

"Seharusnya anda yang pergi, nona"

'Astaga, gentlenya nggak ada' jerit Hinata dalam hati, Hinata berpikir sepertinya pria ini tidak bisa menghargai perempuan walaupun perempuan itu seksinya minta ampun, entahlah itu hanya spekulasi Hinata saja.

"Terus saya harus duduk dimana? Disini semua kursi sudah penuh"

"Kamu duduk di emperan"

'GRRRR GAK SOPAN' Hinata mendesis tak suka, secerdas apapun Hinata, kalau ia sedang emosi pasti ia tak akan berpikir dengan logis.

"Bapak ngusir saya? Maaf tapi bapaklah yang harus duduk di emperan, kalau bisa silahkan duduk di lantai" Hinata tersenyum tak berdosa, Hinata hanya mengatakan yang sejujurnya jika ia sedang marah.

"Itu seharusnya kamu"

Perdebatan mereka berdua menarik perhatian pengunjung restotan tersebut, sepertinya ada hiburan kecil yang menarik, Hinata dan lelaki itu tak sadar jika mereka menjadi bahan tontonan. Hinata mencoba untuk tenang dan berpikir agar bisa memenangkan kursi itu layaknya seperti piala.

"Oke sekarang begini, kita adu suit, yang menang akan mendapatkan kursi ini, yang kalah akan di emperan atau di lantai, bagaimana?" usul Hinata, lelaki berkacamata itu terdiam, ia pun mengangguk setuju.

"Jan"

"Ken"

"Pon!"

"..."

Naruto memilih kertas, sementara Hinata memilih gunting. Hinata tersenyum penuh kemenangan, ia pun memandang Naruto.

"Saya menang, jadi Bapak akan duduk di emperan atau di lantai, terserah Bapak mau duduk dimana" Hinata langsung duduk di kursi dan langsung memakan makanannya yang agak mendingin karena perdebatan panjang tadi. Sementara lelaki berkacamata itu masih mematung.


"Wanita itu menyebalkan! Arrghhh aku tak mau bertemu dengannya lagi!" Naruto melempar asal topi, jaket dan kacamatanya. Naruto langsung merebahkan tubuhku di kasur king size tersebut.

"Aku membencinya..." Setelah itu Naruto langsung terlelap tidur.

.

.

.

To Be Continued

I'm back, ini adalah chapter pertama, maaf karena kurang panjang.

Dobe-Tan: 'Ap yg mw di repiew cb selain kata 'next'?' Oh tentu saja saran untuk begini begitu, bagaimana pendapat para readers tentang story aku, seperti kamu, ngerti?. 'mw repiew membangun tpi hanya dgn cerita yg dikit begini atau yg ente sebut prolog?' haduh, gini ya untuk soal review menbangun ini untuk chapter selanjutnya maaf sepertinya harusa diralat dari 'membangun' menjadi 'saran' , 'Biasakan ngomong pake otak ente yah thor *nunjuk dengkul* :v' that emoticon, oh my... kzl.

Thank you so much for your review guys!