Len tiba di Hokkaido untuk urusan bisnisnya. Masih besok, tapi..mungkin tak apa jika ia berangkat lebih awal. Netranya mengekor pada jarum jam tangannya, memastikan waktu.

Ia sempat berpikir untuk mengajak Yohio, tapi..anak angkatnya itu tertidur pulas dan Len tidak tega membangunkannya pagi-pagi.

Len melambai pada sebuah taksi. Mengucapkan destinasi selanjutnya dengan cepat, kemudian memasuki kendaraan berlapis putih itu. Supir taksi itu mengangguk dan melajukan mobilnya.


Kawaranai Mono - Unchanged Things

Vocaloid masih bukan punya Panda T_T

Drama. T


Yukari menutup pelan kaca ketika Yohio telah melangkah masuk ke dalam mobilnya.

Ya, terkadang mereka berangkat bersama.

"Mau jalan-jalan dulu?" Tawar Yukari sembari menyalakan mesin mobilnya. Melirik sebentar ke arah pemuda itu. Beberapa sekon, terasa getaran mengalir.

"Ini mobilmu, jadi terserah kau." Yohio mengalihkan pandangan ke arah kakinya di bawah.

.

Kereta mulai melaju perlahan. Orang-orang memang berdesakan ―tapi tidak terlalu parah seperti kereta menuju Chuo atau Minato.

Lengan saling menyenggol, punggung bertabrakan, dan kata maaf adalah pemandangan sehari-hari.

Olivia menggapai pegangan di atas. Sementara Yuu berdiri; berada agak jauh darinya. Mereka terpisah karena keberadaan orang-orang yang menyumpal transportasi massa ini.

Sudah setahun mereka bersama, tapi..tetap saja mereka selalu terlihat jauh. Secara denotatif maupun konotatif. Olivia bahkan tidak ingat alasan mengapa ia menerima pemuda itu dulu.

Yuu didesak orang-orang. Tubuhnya digencet bergantian ―tidak nyaman. Olivia mulai tak terlihat dari tempatnya. Tapi, ia tak bisa melakukan apapun hingga kereta berhenti di stasiun selanjutnya.

.

Yukari menghentikan laju mobilnya di depan sebuah restoran. Jelas saja Yohio mengernyit heran. Bukankah seharusnya mereka segera ke kantor?

"Hari ini hari Minggu." Yukari menjawab pertanyaan di benak Yohio. Gadis itu melepaskan sabuk pengaman dan membuka kunci mobil.

Mungkin, Yukari sebenarnya adalah ahli nujum? Yohio menggeleng sendiri.

"Kau aneh sekali, sampai lupa hari. Ayo turun, Takahashi." Yukari membuka pintu mobil. Yohio melakukan hal yang sama. Mereka lalu menutup pintu mobil bersamaan. Yukari mengunci mobilnya kembali dari luar. Ia memberi pandangan pada Yohio.

"Kau suka masakan China?"

Mereka memasuki restoran bergaya China itu. Suara dentingan menyambut mereka. Seorang pelayan bersurai cokelat dengan cheongsam merah menyambut mereka di depan pintu. Melempar senyum untuk pelanggan ― "Selamat datang, tuan dan nona."

Yukari mengambil sebuah tempat di dekat kaca. Yohio menempati di depannya. Mereka saling berhadapan kini.

Pelayan lain berbalut cheongsam biru serta bermanik hijau menghampiri mereka. Senyumnya begitu memikat. Yukari melirik nametagnya; Luo Tianyi.

"Anda ingin memesan apa, tuan dan nona?"

Yukari menyandarkan punggungnya ke kursi, "Apa saja yang enak?"

Pelayan itu tersenyum ramah sembari menjelaskan; "Kami punya berbagai menu. Ada kwe tiau, bakpao ..."

Pelayan itu menyebutkan semua menu yang ada. Yukari memilih menu pertama yang disebutkan. Sedangkan Yohio malah merasa tidak enak merepotkan Yukari. Jadi ―dia tidak memesan apapun.

"Pesanlah satu, Takahashi." Yukari mendelik ke arahnya dengan tatapan tajam.

"Tidak usah repot-repot."

"Tidak apa. Nanti juga kuambil dari gajimu..sepertinya kau tidak butuh gaji, kan?" Canda dara bersurai ungu itu. Jelas saja, Yohio sama sekali tak perlu gaji dari perusahaannya. Cukup mengintip saldo dari buku rekening tuan Kagamine Len; kau pasti tahu dan takkan menanyakan hal seperti ini.

"Kata siapa?" Yohio sewot. Enak saja. Dasar atasan diktator.

.

Suara langkah kaki mulai bergema. Menapaki atas pondasi stasiun. Gerbong berderet menumpahkan isinya. Lalu terdengar pemberangkatan kereta selanjutnya melalui pengeras suara.

Olivia mencari Yuu yang datang bersamanya. Tapi, orang-orang seakan memisahkan mereka. Sebelum akhirnya seseorang menarik lengannya. Olivia menoleh dan mendapati kekasihnya tengah berdiri di samping kirinya.

"Kukira kau terinjak." Olivia bermuka datar ketika mengatakan candaan begitu. Yuu terbahak-bahak. Ya ampun, mengapa Olivia selalu memasang muka teplon ketika bercanda?

Olivia hanya tersenyum melihat Yuu tertawa.

"Olivia..jarang sekali kau bercanda..ayo, aku ingin segera bertemu ayah dan ibumu.." Ujar Yuu sembari membenahi tas yang dipanggulnya. Olivia mengangguk. Mereka lalu berjalan beriringan ―saling berpegangan tangan.

.

Len tiba di sebuah penginapan di Otaru. Ia membayar pada supir taksi dan berjalan keluar dari mobil. Lalu ia segera masuk ke penginapan ―ia sudah memesan kamar di tempat ini jauh hari. Kenapa ia tidak ke hotel dan ke penginapan sederhana ini?

Len sedang ingin melakukannya.

Bergegas untuk menuju kesana. Ingin menyempurnakan materi untuk besok lalu segera beristirahat. Ia dipandu oleh seorang pelayan.

Ia menemukan ruangannya di lantai dua. Ia menggeser pintu. Len menyalakan lampu dan meletakkan barang bawaannya.

Len merebahkan dirinya di atas futon yang telah disiapkan. Di sudut kamar ada semacam dupa aromaterapi. Len memandangi langit-langit intens. Menatap pendar di atasnya.

"Saya permisi dulu, tuan." Pelayan itu kemudian menutup pintu dengan menggesernya kembali. Len duduk dan mencari-cari laptopnya di dalam tas.

.

.

Yukari memang menyebalkan.

Yohio terkantuk-kantuk di kursi taman yang tak jauh dari restoran Tiongkok itu. Yukari tadi menjejalinya dengan macam-macam masakan. Untung saja Yohio tidak muntah di dalam restoran karena terlalu banyak makanan masuk ke perutnya. Ia muntah setelah mencari toilet umum di sekitar sini. Tenggorokannya kering dan mulutnya terasa pahit. Mengerikan.

"Kau baik-baik saja, Takahashi?" Yukari duduk di sampingnya, membawa sekotak tisu dan sebotol air mineral dari dalam mobilnya tadi. Ia hendak memberikannya pada Yohio.

Baik-baik gundulmu itu.

"Tidak apa, Yutaka-san. Semalam aku juga merasa tidak enak badan." Tolak Yohio. Yukari diam. Tapi, tangannya bergerak membuka tutup botol air mineral dan mengarahkannya ke mulut Yohio. Yohio melirik ke arah Yukari sebentar sebelum meminumnya ―karena terpaksa.

Yukari menjauhkan mulut botol dari bibir Yohio ketika merasa cukup. Lalu Yukari mengambil satu lembar tisu dan mengusapkannya pada area sekitar bibir pemuda itu. Yohio sedikit memerah. Apakah Yukari tidak sadar, begitu banyak orang di taman ini yang memandangi mereka?

"Yutaka-san, cukup. Terima kasih." Yohio menahan tangan Yukari untuk meneruskan kegiatannya. Yukari menatapnya tajam. Yohio bergidik melihatnya.

"Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi." Katanya sambil menjauhkan diri dari Yohio. Yohio mengernyit pertanda tak mengerti. Kenapa, ucapan Yukari itu selalu sulit dipahami olehnya?

"Akan kuantar kau pulang.."

.

.

Olivia dan Yuu berjalan kaki menuju rumah kedua orang tua Olivia karena tak terlalu jauh dari stasiun, sekitar seperempat jam saja. Olivia telah memberitahu ayah dan ibunya tadi melalui sms. Kemudian ayahnya membalas 'boleh saja.' Kenapa orang tuanya masih saja terlihat aneh? Hah.

Olivia hanya berharap kedua orang tuanya tidak seaneh ketika ia mengajak Rinto kemari.

Mereka tiba di pagar depan rumah Olivia. Olivia mendorongnya pelan dan memasuki pekarangan rumahnya. Kemudian gadis itu menekan bel depan pintu beberapa kali. Ia lalu menoleh pada Yuu yang sedari tadi memperhatikan wajahnya.

"Eh? Ada apa, Olivia?" Tanya Yuu. Olivia menurunkan pandangannya sedikit ke bawah, ke arah tangan mereka yang saling menggenggam.

"Bisa kau lepas pegangan tanganmu? Aku malu." Katanya sambil tetap dengan wajah datar. Sedetik kemudian, Olivia membuang muka ke arah lain. Yuu tidak menurutinya. Ia justru menarik tangan Olivia dan membuat kekasihnya itu kini berada di pelukannya.

"Tidak apa, kan? Lagipula kita sepasang kekasih."

Oh, ingatkan Olivia untuk memukul Yuu nanti.

Krieeett~

Baru saja pintu dibuka. Seorang pria berkacamata muncul. Ia diam sebentar melihat ke arah Olivia dan Yuu. Yuu hanya tersenyum sementara Olivia sibuk berusaha melepaskan diri dari pelukan maut kekasihnya.

"Olivia...siapa pemuda itu?!" Pria berkacamata itu heboh. Kemudian, dia menunjuk ke arah wajah Yuu.

"Apa yang kau lakukan pada anakku?! HAH?! Kau pikir pengetahuan Otaku milikmu bisa mengalahkanku dan membuatku menyerahkan Olivia padamu?! Jangan kira ini mudah, wahai pemuda-yang-tak-aku-tahu-siapa !"

Olivia tidak memberitahu, bahwa ia akan datang bersama kekasihnya. Untuk kejutan bagi kedua orang tuanya nanti. Wajar saja ayahnya jadi panik begitu. Hahaha, lucu sekali. Tak lama kemudian, ibunya menyusul muncul.

"Kenapa ribut se―"

Target has locked.

"Siapa kau, pemuda jahat?! Kau pikir kau bisa mengambil Angel dari kami?!"

Olivia mendongak, ingin tahu seperti apa reaksi Yuu pada kedua orang tuanya. Yuu seperti bengong ―atau melongo?

"He..hebat!" Pujinya. Matanya berbinar kemudian. Eh? Berbinar? Mengapa penglihatan Olivia makin tidak beres saja?

"Jawab kami, anak muda! Siapa kau?!" Ayah Olivia membetulkan letak kacamatanya.

"Sa-saya Yamashita Yuu, kekasih Hiruzen Olivia. Se-senang bertemu dengan anda.." Yuu tersenyum malu-malu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia membungkukkan sedikit badannya dan membuat Olivia terlepas darinya.

Kedua orang tua Olivia terpaku di tempat. Beberapa sekon, tubuh mereka memutih dan pudar tertiup angin.

Halo, ini bukan panel manga komedi.

.

.

Yohio terus menatap sisi kanan jalan. Entahlah. Ia dan Yukari sebenarnya tak bicara banyak. Apalagi Yukari adalah tipe orang yang irit bicara. Yohio cukup diam saja, 'kan?

Mereka melewati deret rumah. Yohio terkadang melihat bunga di pot depan atau pohon apa saja yang nampak. Ia hanya tak ada kerjaan selain melihat-lihat pemandangan rumah.

Ketika mobil Yukari melewati sebuah rumah, Yohio melihatnya.

Memang tidak lama, tapi ia melihat Olivia sedang tertawa dengan seorang pemuda di sebelahnya. Eh? Jadi, itu tadi rumah Olivia?

Meski ia hanya melihat punggung gadis itu tadi, ia yakin ia tidak salah lihat. Siapa pemuda itu tadi? Siapa?

Tunggu, kenapa ia malah menjadi ingin tahu?

Ah, entahlah.

Ia terakhir kali bertemu Olivia di festival musim panas tiga tahun lalu seusai ia mendengar kabar kematian ibunya. Masih terbayang di benak Yohio, saat gadis itu menawarkan kembang gula kepadanya. Ia memang tidak menerima kembang gula itu. Ia justru membuangnya dan―

Yohio menggeleng sendiri. Kenapa dulu dia melakukan itu? Ia juga tidak tahu. Apa..yang sebenarnya ia pikirkan?

Mungkin tindakannya dulu itu mempengaruhinya sekarang? Kenapa..kenapa harus Olivia? Lalu, ia juga tidak tahu bagaimana Olivia akan memandang dirinya.

Sudahlah.

.

"Olivia..kenapa kau tidak bilang kau sudah punya pacar?!" Ayah Olivia membetulkan letak topi fedoranya. Meja ruang makan kini menjadi meja untuk menginvestigasi. Ayahnya berdiri berhadapan dengan mereka; dengan Olivia yang swt parah dan Yuu di samping Olivia yang hanya tersenyum.

"T-tousan.." Olivia mencegah ayahnya melakukan hal yang lebih aneh lagi.

"Tidak apa kok. Kami cuma senang karena akhirnya kau punya pacar! Huhuhu...akhirnya, anakku...!" Sahut ibunya.

"Tapi tetap saja! Apakah ilmu Otaku milikmu pantas sebelum mendapatkan anakku!" Ayah Olivia berdehem sebentar.

"Tenang saja, tuan Hiruzen.." Yuu mengeluarkan senyum lima jari yang sangat menyilaukan, sampai-sampai pasangan Hiruzen harus pakai kacamata hitam.

"Meski aku bukan Otaku tapi aku menyukainya. Dan aku berjanji akan membahagiakan Olivia."

Gerombolan jangkrik datang.

Pessshhh.

"De-dewasa sekali jawabannya! Kau lulus!" Seru pasangan Hiruzen. Olivia tertawa malas. Ampun, deh.

"Nak Yuu...lalu kau bekerja dimana, tinggal dimana, dan nama orang tuamu siapa?" Tanya ayah Olivia. Olivia menampar mukanya sendiri pelan. Kenapa baru tanya...

"Saya bekerja sebagai asisten Olivia di Shota Jump, saya dulunya tinggal di Akita, dan kedua orang tua saya ―mereka berada di Inggris sekarang, untuk mengurus perusahaan keluarga disana. Kebetulan, ibu saya berasal dari sana."

"Oh, Inggris? Keren juga tuh.." Ibu Olivia menyahut.

Ayah Olivia membetulkan letak kacamatanya "Hm, baiklah! Aku merestui hubungan kalian dan ―kapan rencana pernikahan kalian?"

Olivia terbatuk tanpa sebab. Sedangkan Yuu hanya tersenyum.

"Saya akan menunggu hingga Olivia siap. Bukankah begitu, Olivia?"

...

The wind is blowing

...

"Wooooghhh! Dewasa sekali! Dimana kau menemukan pemuda sebaik ini, Olivia?!" Ibu Olivia berbinar sementara ayahnya pundung di pojokan.

"..sialan.." Umpatnya.

"Kau kenapa sayang?" Ibu Olivia mendekati suaminya.

"Tidak..tidak apa-apa! Hmpphh!"

"Katakan saja, sayang!"

"Hmph! Gak kok! Bukan apa-apa!"

Sumpah, Olivia makin swt parah. Kami-sama...tolong berikan pencerahan kepada kedua orang tuanya.

Ah, Olivia ingat. Ia juga ingin mengunjungi makam Rinto dan berdoa untuknya. Tapi, apa Yuu mau mengantarnya, ya? Gak apa kok, Olivia juga bisa berangkat sendiri. Lagipula Yuu juga tidak tahu Rinto itu siapa.

"Permisi, aku mau keluar sebentar..." Olivia beranjak dari kursinya.

"Mau kemana, Olivia?" Tanya Yuu.

"Mencari udara segar..."

.


Yukari tidak langsung mengantarnya pulang. Yohio sampai terheran sendiri mengapa. Yukari berbelok menuju sebuah area pemakaman.

"Ng..Yutaka-san?" Panggil Yohio sedikit ragu. Yukari memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir dan mematikan mesin mobilnya.

"Bisa tunggu disini saja, Takahashi-san? Aku mau berdoa sebentar.."

Yohio hanya mengangguk sebagai jawaban. Yukari pun beranjak keluar dari mobil dan menutup pintunya kembali. Meninggalkan Yohio sendirian di dalam.

Netranya mengerling ke sisi kiri bodi mobil melalui kaca, memperhatikan Yukari yang berjalan semakin menjauh.

Kira-kira, Yukari hendak berdoa untuk siapa?

Seperempat jam menunggu, tapi Yukari belum kembali. Yohio jadi khawatir. Jadi ia ikut turun dari mobil Yukari dan berniat menyusul wanita itu.

Tepat saat itu, ia berjumpa dengan seseorang.

"Takahashi?"


Tsuzuku