Cliche Case!?

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Typos, OOC, and many more

Hinata membaca novelnya dengan tenang, duduk di pojok perpustakaan sekolah di dekat jendela, tangan kirinya menjadi tumpuan kepalanya,sementara tangan kanannya memegang novel yag berada di atas meja untuk mengganti halaman novelnya tersebut. Saat ini adalah bukan jam mengajarnya jadi Hinata bisa tenang melanjutkan membaca novelnya yang sempat tertunda.

"Hi~nata!"

Sakura menepuk pundak Hinata, yang ditepuk hanya menoleh kemudian melanjutkan bacaannya.

"Ih Hinata dingin bener!" Hinata hanya terkekeh mendengar celotehan temannya itu, Hinata kemudian menatap teman berambut pink tersebut.

"Apakah ada murid yang sakit?" Hinata bertanya

"Lima orang, dua demam, satu asma kambuh, dua pingsan saat olahraga"

Hinata hanya ber-oh ria saja.

Sakura adalah dokter di SMA tempat Hinata mengajar, dan otomatis menjadi teman kerja.

"Hinata, kamu mau aku kenalin sama cowok gak? Lumayan tampan walaupun berat untuk mengakuinya, hah" Sakura hanya tertawa dengan orang yang dia bicarakan, sementara Hinata cuek saja dan melanjutkan bacaannya. Sakura mendesah dengan sikap Hinata.

"Hinata~ aku tahu kamu sudah kenyang dengan cowok-cowok yang naksir sama kamu, tapi ini berbeda Hinata!" Sakura menggebrak meja, pengawas perpustakaan menegur Sakura, sementara pelaku penggebrak hanya cengengesan.

"Berbeda? Oh ayolah Sakura-san, semua cowok di dunia itu sama, mereka hanya mengincar sesuatu dari seorang perempuan sebagai pemuas nafsu mereka, kecuali ayahku dan saudaraku"

"Hinata! Tak semua cowok begitu, kamu berlebihan"

"Oh ya?"

Sakura yang gemas langsung mencubit kedua pipi gembil milik Hinata, Hinata memegang jidat Sakura agar tak mendekat lagi. Hinata mengelus pipinya yang merah karena cubitan si pinky.

"Ugh Sakit" Hinata menatap tajam mata emerald Sakura, sementara si empunya hanya nyengir kuda.

"Hinata gini nih, si cowok ini ada sisi menariknya, yah walaupundia tak sopan dengan wanita tetapi di apria yang baik kok"

"Sisi menarik?"

Sakura menyeringai, berdehem sebentar kemudian melanjutkan penjelasannya.

"Sisi menariknya adalah ia tak tertarik dengan cinta, sama seperti kamu Hinata"

"Maaf aku ralat, aku tak pernah mengatakan bahwa aku tak tertarik dengan cinta, tetapi aku belum menemukan yang tepat"

"Pokoknya Hinata kamu sepertinya akan cocok dengannya!"

Hinata memutar bola matanya, masih tak peduli dengan ucapan Sakura ia melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

"Bel sebentar lagi, aku mau mengajar" Hinata menutup novelnya, berdiri dan meninggalkan Sakura yang masih terbengong.

"Hinata ini, kalau begitu aku akan memakai plan b" Sakura tersenyum licik dengantawa jahatnya, sementara Hinata yang sedang menjelaskan materi tiba-tiba bersin.


Bunyi ketukan pena yang mengisi ruang kerja Naruto, ia memikirkan cara yang lebih cepat untuk mengembangkan perusahaannya.

"Naruto"

"Hm"

"Ini berkas yang ka—"

Naruto langsung menyambar selembar kertas dari tangan asistennya, Shikamaru. Naruto melihat kertas itu dan langsung mengembangkan senyumnya.

"Akhirnya aku dapat ide yang cemerlang!" Naruto meregangkan otot tangannya keatas karena pegal yang dirasakannya.

"Merepotkan, seharusnya kau memikirkan yang lain selain pekerjaan itu, misalnya mencari pacar" Shikamaru duduk di sofa terdekat dari meja kerja Naruto.

"Pekerjaan itu lebih penting, daripada pacaran yang tak jelas, aku saja mual melihat pegawaiku saling bermesraan ewh"

Shikamaru menggelengkan kepalanya, ia melihat sekeliling ruang kerja milik Naruto yang bercat dinding berwarna cokelat dengan garis berwarna putih, vas bunga di sudut ruangan dan lukisan hewan berekor sembilan.

Shikamaru memandang Naruto yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, Shikamaru menjadi teringat dengan sahabatnya.

"Naruto, kau mirip sahabatku yah walaupun dia galaknya minta ampun, dingin seperti es kalau kau yang hiperaktif dan ramah tetapi kalian tak tertarik dengan percintaan"

Naruto mendongakkan kepalanya, ia kemudian bersandang di kursinya yang empuk dan meneguk soda yang ada di mejanya.

"Kalau dipikir-pikir kalian cocok juga"

"Uhuk uhuk!"

Naruto terbatuk-batuk karena ucapan Shikamaru, krmudian menatap tajam pria nanas tersebut.

"Hoi! Apa hakmu dengan mencocokan diriku sama sahabatmu itu! aku bukan gay!"

Shikamaru menaikan alis kanannya, selang beberapa saat pria nanas tersebut hanya menunjukan raut datar tetapi bahunya bergetar, Naruto mengambil buku dan langsung menimpuk Shikamaru tepat dikepalanya.

"Sakit" Shikamau memegang dahinya yang terkena buku tebal milik Naruto.

"Kau! Jika kau tertawa maka aku akan memotong gajimu luma puluh persen!"

Shikamaru hanya diam. Perlu diingatkan, Naruto adalah seorang bos di beberapa cabang perusahaan milik keluarganya, ia dipilih karena ia adalah anak satu-satunya dari Minato, sang pemilik perusahaan yang sebelumnya. Berkat jerih payah Naruto, perusahaan keluarga milik Naruto berhasil menguasai sektor perdagangan di Jepang. Sehingga Naruto dijadikan bos nomor satu di Jepang.

"Dia itu wanita"

"..."

Naruto hanya melongo, dia mengira bahwa Shikamaru tak pernah dekat wanita manapun. Naruto merasakan pipinya memanas karena malu. Shikamaru kemudian keluar ruangan Naruto, beberapa detik kemudian terdengar gelak tawa yang keras dari Shikamaru.

"SHIKAMARU!"

...

Jarum panjang menunjukan angka delapan, hari sudah gelap. Naruto sibuk mengemasi barang-barangnya dan segera pulang, setelah mengemasinya ia mencari kunci mobilnya.

"Dimana?" gumam Naruto sambil melihatdi kolong meja kerjanya, ia mencari di laci, kantong jas dan celana, di balik sofa, tetapi ia tak menemukannya.

"Oke tenang, tarik nafas dan buang" Naruto kembali mencari benda kecil tersebut, tetapi tak ada, dengan rustasi ia mengacak rambutnya. Saat ia meraih gagang pintu ruangannya ponselnya berdering.

"Ah Naruto, maaf tadi kunci mobilmu kebawa sama Ibu hehe"

"APA!"

"Tadi Ibu tak sengaja mengambil kunci mobilmu, jadi malam ini kau naik taksi saja, bye!"

"Tung—"

Bip Bip

Naruto memasukan ponselnya dengan kasar, dengan langkah lebarnya Naruto keluar dari kantornya yang masih ramai, beberapa pegawai menyalaminya, yang dibalas hanya senyuman.


"Hinata, maaf ya kamu jadi lembur seperti ini"

"Ah tak apa Kuranai-sensei, ini sudah tanggung jawab sebagai guru."

Hinata tersenyum manis dengan mantan guru yang telah mengajarnya sewaktu ia SMA, Kurenai menjadi teladan oleh Hinata sehingga ia menjadi seperti ini. Kurenai memperingatkan Hinata agar tak pulang terlalu malam, Hinata hanya mengiyakan. Kurenai melenggang pergi dari ruang guru, dan sekarang tinggalah Hinata yang sibuk mengoreksi lembar ujian anak kelas satu.

Pintu ruang guru perlahan tertutup dengan sendirinya, Hinata hanya meliriknya dan dengan cuek ia masih mengoreksi.

Drap drap

Langkah kaki yang mendekati ruang guru, Hinata tahu bahwa tinggal dirinya yang masih berada di sekolah ini, Hinata menggelengkan kepalanya, ia tak percaya dengan kejadian mistis yang dialami warga sekolah.

Hinata masih asyik menulis nilai di atas kertas dengan pena merahnya, Hinata tersenyum simpul melihat nilai Hanabi yang terus meningkat, mungkin Hinata akan memberikan hadiah pada Hanabi nanti.

Braakkk

Hinata sedikit kaget, suara bising dari kelas yang tepat disamping ruang guru membuat Hinata pusing.

'Tenang Hinata, kau selalu dilindungi-Nya'

Hinata berpikir untuk memeriksa apa yang terjadi di luar ruang guru, dengan hati-hati Hinata berjalan pelan untuk keluar dari ruangan, kepala Hinata menyembul untuk melihat keadaan lorong. Hinata kemudian menyusuri koridor yang diterangi oleh sinar bulan dari jendela koridor. Hinata sampai di kelas yang ia yakini adalah sumber kebisingan tersebut, dengan ragu-ragu Hinata membuka pelan kelas tersebut. Hinata melihat kursi-kursi yang berantakan, meja yang sudah tak tertatur lagi. Hinata meneguk ludahnya.

Tanpa Hinata sadari ada seseorang dibelakangnya, tangan orang itu menepuk pundak Hinata.

"KYAAAA!"

DUAGH

Hinata meninju orang tersebut dan menendang alat vital milik si pelaku sampai tersungkur jatuh mengaduh kesakitan. Hinata mengatur napasnya, Hinata berjongkok untuk melihat siapa orang itu.

"Ampun sensei!"

Hinata menegakkan kepalanya, Hinata memfokuskan pengelihatannya untuk melihat siapa dia.

"Konohamaru!"

Tanpa pikir panjang Hinata langsung menjewer telinga muridnya tersebut yang notabene adalah pacarnya Hanabi.

"A-Aduduh! Sakit! A-ampun sensei!"

Hinata menyeret muridnya tersebut ke ruang guru, tentu saja dengan telinganya yang dijewer. Hinata mendudukan Shikamaru di kursinya.

"Kamu ngapain malam-malam begini di sekolah? Apa saya harus men-skorsing kamu supaya jera?"

"Sa—saya hanya kabur dari rumah"

"Lebih baik saya hubungi keluarga kamu"

"Jangan! Bisa-bisa aku kena omel lagi" Konohamaru cemberut dan memasang muka melas, Hinata menghela napasnya, Hinata mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, ia terlihat memencet sesuatu dan menempelkan ponselnya di telinga kirinya.

"Halo? Ya ini saya guru dari Konohamaru, Sarutobi-san"

Konohamaru melotot, pasti gurunya yang galak ini menghubungi neneknya.

"Hm baiklah"

"..."

"Saya rasa itu tak perlu, saya kasihan"

"..."

"Baiklah"

Hinata mematikan ponselnya, kemudian membereskan barang-barangnya di atas meja dan menggandeng tangan Konohamaru.

"Saya antar kamu pulang"

Sepertinya rasanya terbalik, seharusnya si cowok yang harus mengantarkan si perempuan pulang ke rumahnya, yang ini malah si perempuan mengantar si cowok.


Naruto menunggu di halte bus, tadi ia tak menemukan satu pun taksi sehingga memutuskan untuk menaiki bus. Setelah meilhat ada bus yang sampai di halte, Naruto langsung masuk ke dalam bus tersebut. Saat seudah masuk Naruto melihat banyak kursi yang sudah penuh ia melihat ada kursi yang paling belakang kosong melompong, saat Naruto hampir sampai di kursi tersebut, tiba-tiba ada perempuan dengan lelaki remaja yang juga menghampiri kursi tersebut.

"Hei saya yang duluan!"

"Eh, Saya yang duluan bapak!"

Dan mereka berdua merasa dejavu.

.

.

.

Hi everyone! Sepertinya perkembangan hubungan Naruhina masih belum kelihatan, tapi jangan khawatir saya sudah memikirkan hubungan mereka gimana nantinya :) bagi yang minta fast updatenya saya tak bisa menjaminnya, saya memutuskan untuk setidaknya satu minggu satu chapter akan saya update.

Thank you fo your review guys!