"Takahashi?"

Yohio menoleh, mendapati seseorang memanggilnya. Pemuda dengan balutan jaket biru tiba-tiba berdiri di sampingnya.

"Ah, Lui?" Yohio tersenyum sekedarnya. Lui, yang menyapanya; turut melakukan hal serupa. Pemuda itu membawa sebuket bunga mawar biru.

"Sedang apa, Takahashi?"

Yohio menarik senyumnya. Teringat sesuatu.

"Menemani atasan diktatorku yang sekarang menghilang di antara batu nisan." Nadanya malas, ―oh menyebut bahwa bosnya adalah Yukari? Tidak, tidak.

Lui terbahak mendengarnya, "Maa, hari yang indah, bukan? Seharian cerah."

Yohio merasa ganjil dengan sikap Lui, tapi ia hanya diam saja.

"Kau sendiri sedang apa, Lui?"

Lui gelagapan mendengarnya, "Ha-hanya ingin mengunjungi makam temanku." Dipeluk buket bunga dengan erat.

"Mau jalan bersama?" Tawar pemuda beriris rubi. Lui meremat pembungkus bunga yang ia bawa,

"B-boleh.."

.

.

"Suzune Ring?"

Yohio terkejut melihat nama itu terukir di batu nisan. Seingatnya, itu teman sekelasnya semasa SMA.

"Ya." Lui hanya menunduk. Menatap sendu pada nisan di depannya. Diletakkan sebuket bunga, sebelum meraba batu penanda itu.

"Ring, bagaimana kabarmu?"

Yohio bahkan tak pernah mendengar kabar kematian salah seorang teman SMA-nya. Untung saja ia bertemu Lui. Kalau tidak, mungkin selamanya ia takkan pernah tahu juga.

"Suzune Ring, ya?"

.

.

.

.

Olivia tiba di pemakaman sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumahnya. Betapa lega ia pergi sendiri. Ia tidak mau dicecari pertanyaan oleh Yuu nanti. Bukannya tidak mau, tapi itu merepotkan.

Iroha tadi sempat mengirim e-mail, ia sedang berpergian ke Tiongkok karena menang undian berhadiah. Olivia terkikik membalasnya dengan pesan, "jangan lupa oleh-olehnya." Lalu Iroha kembali membalasnya "Aku bertemu seseorang di Tiongkok!" Berikut lampiran foto. Iroha sedang berpose dengan seseorang yang mengenakan cheongsam merah. Rambutnya putih pendek dan tersenyum kecil. Pasti Iroha sedang bersenang-senang disana.

Olivia kembali menatap ke depan, menyusuri beberapa meter lagi untuk sampai di makam Rinto. Tapi, ia terkejut setengah mati, saat melihat Yukari di sana.

Wanita itu menangis tanpa suara.

Kawaranai Mono - Unchanged Things

Ada beberapa hal yang berharga bagi Yukari. Salah satunya Rinto ―walau tak pernah mengaku dari mulut sendiri.

Setiap kali berkunjung ke makam Rinto, ia rasa tidak perlu menahan diri. Ia tidak pernah jujur terhadap perasaannya sendiri. Semua terlambat untuk sebuah penyesalan.

Kenapa dulu ia menyia-nyiakan Rinto?

Wajah dan senyum bodoh otaku itu selalu terbayang di benaknya. Membuatnya tersenyum walau mengeluarkan air mata.

Jika saja..ia bisa kembali ke masa lalu, tidak perlu memupuk rasa benci pada Rinto ―setidaknya tak berakhir seburuk ini.

"Rinto.."

Bahkan ia menyebut nama pemuda itu dengan benar. Tanpa panggilan khususnya untuk Rinto.

Yukari mendengar langkah kaki. Ia tak menoleh, disangka itu Yohio. Cih. Kenapa dia datang di saat dirinya tengah bersedih?

"Yukari.."

Bukan suara bariton yang terdengar.

Yukari menoleh curiga, Olivia berdiri di sampingnya.

Tangisnya menjadi.

.

.

.

"Pembunuhan, katamu?"

"Ya, sejujurnya aku tak punya bukti kuat. Tapi aku yakin Ring dibunuh."

Yohio meneteskan keringat dingin.

"Kronologisnya?"

Lui bercerita dari awal.

.

Waktu itu Lui dan Ring pergi ke Hitachi Seaside Park. Mereka keasyikan hingga malam. Arah rumah mereka berbeda sehingga terpaksa berpisah. Namun, ponsel Ring tanpa sengaja terbawa oleh Lui, ia baru menyadarinya ketika telah berjalan cukup jauh. Berniat mengembalikan, ia justru menemukan Ring tergeletak di tengah jalan dengan kepala berdarah. Ia sudah membawanya ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong. Menurut dokter, Ring kehabisan darah dan mungkin ini hanya kecelakaan. Tapi, Lui yakin bukan itu kejadian sebenarnya. Ia sendiri tak tahu mengapa, namun hatinya berkata demikian.

"Lebih baik kau diam saja, Lui. Berurusan dengan polisi lebih merepotkan daripada yang kau kira." Yohio mengibaskan tangan. Lui hanya menunduk, entah memikirkan apa dengan tangan yang mengepal erat.

"Kurasa begitu." Pandangannya menurun.

Yohio tidak berkomentar lagi. Ia tahu porsinya. Ia hanya menatap langit senja yang perlahan menggelap di atas sana. Angin sore tiada henti memanjakan epidermis. Bayangannya memanjang dan membentuk sudut di perpanjangannya.

Lui menyentuh bahu Yohio. Yohio menukikkan alis heran, namun kebingungannya segera terjawab dengan arah telunjuk Lui. Ia mengarahkannya pada sebuah tempat yang hampir luput dari penglihatan mereka di ujung sana.

"Bukankah itu Hiruzen?"

Yohio kesulitan mencari kata.

.

.

.

.

.

Kembang gula terjatuh karena tindakan mendadak seorang pemuda di dalam kapsul ferris wheel. Langit yang berwarna-warni saat ini bukanlah atensi utama mereka. Tenggelam dalam keindahan serta keramaian festival musim panas, eliminasi spasi terjadi. Kedua bibir menempel selama beberapa detik, sebelum kembali terpisah karena tersadar.

"Takahashi...apa yang kau lakukan?"

Pihak yang ditanya tidak menjawab. Kapsul mereka turun lima menit kemudian, giliran mereka selesai.

Mereka keluar dari kapsul bersama-sama. Si gadis hanya memalingkan muka, sementara sang pemuda menggaruk kulit kepala yang sebenarnya tidak gatal.

"Maaf..Oliv― Hiruzen-san..."

Lalu tak ada yang berbicara lagi. Masing-masing berjalan mengambil arah yang berbeda. Tanpa kata.

Kembang gula itu tertinggal di dalam kapsul, rasa manisnya mungkin mulai memudar.

.

.

.

Olivia meletakkan nendoroid Yuka-sama edisi terbaru yang selalu menjadi favorit Rinto di sebelah nisannya. Yukari memandang aneh, tapi bertanya juga,

"Apa itu?"

Olivia hanya menatap maklum, "Kesukaan Rinto. Aku baru sadar mengapa ia begitu menyukai tokoh ini." Bagaimana mungkin ia baru menyadarinya sekarang? Namanya hampir mirip Yukari.

Yuka-sama.

Yukari.

Sama-sama Yuka.

Olivia tertawa tanpa suara. Sedang Yukari makin memandangnya penuh tanya.

"Bukan apa-apa, Yutaka-san. Aku bersyukur bertemu denganmu di sini. Hahh, kau benar-benar beruntung dicintai orang baik seperti Rinto, duh aku jadi iri." Cerocos gadis berhelai pirang itu. Rasanya sedikit hangat bila teringat Rinto yang berusaha mendapatkan atensinya sebagai seorang teman.

"Si-siapa yang beruntung, huh. Dia otaku." Yukari membuang muka. Olivia tak mampu lagi menahan tawa, mengingat karakter Yuka-sama―pujaan fiksi Rinto― katanya juga punya sifat tsundere.

"Kenapa kau tertawa, Olivia-chan?!" Yukari bersungut-sungut, wajahnya memerah.

"Sepertinya aku tahu kenapa Rinto suka padamu, Yu-ta-ka-Yu-ka-ri-san."

"Apaan sih?! Ah, maaf Olivia-chan, aku harus pergi. Ada rapat klien malam ini."

Olivia tidak terkejut mendengarnya, tetapi apa yang ia lihat setelah itu.

"Yukari, kurasa kita harus kembali."

Takahashi Yohio berjalan ke arah mereka. Yukari hanya mengangguk,

"Oh. Aku pergi dulu, Olivia-chan~" Yukari melambai pada Olivia yang terpaku. Ia kemudian berlalu bersama dengan pemuda itu. Mereka berbicara sesuatu, dan tampak akrab satu sama lain. Sejak kapan..? Seingatnya mereka tidak sedekat itu saat sekolah dulu.

Waktu mengubah segalanya.

.

.

Len berakhir di pemandian air panas dalam penginapan. Seluruh sendinya pegal minta diistirahatkan. Setelah seharian sibuk ke sana ke mari, ia langsung bertekad untuk mandi. Duh jangan sampai bau keringatnya mengganggu untuk esok hari.

Ia melepas handuk dan memasuki air hangat yang ia idamkan sedari tadi. Ah, benar-benar nyaman untuk epidermisnya. Sungguh nikmat.

"Len? Itu kau?"

Len menatap horor pada sekeliling. Siapa itu?!

"Oi, di belakangmu."

Len terkejut ketika menoleh. Ia menjerit panik.

"HUOO.. KIYOTERU!" Pekiknya. Si pemuda berkacamata yang kini tak memakai kacamata di belakangnya hanya tersenyum dengan kilauan.

"Yo! Osu!" Serunya.

"K-K-Kau sedang apa di sini, kacamata?!" Len masih sedikit panik.

"Tentu saja menikmati liburan bersama anakku. Ngomong-ngomong dia ada di sebelah. Sialan, aku kan juga ingin melihatnya man―"

Sebuah batu kerikil melayang dari sebelah melewati pembatas dan mengenai kepala Kiyoteru saat itu juga.

"Maafkan ayah, nak." Kiyoteru menangis imajiner.

"Mati saja kau, pedofil." Len merotasi netra.

"Aku bukan pedofil! Aku lolicon!" Bela Kiyoteru, yang sebenarnya malah membuka kedoknya sendiri.

"Tolong jangan buka aibmu. Omong-omong, sepertinya pedofil dan lolicon itu sama."

"Tidak sa―"

"Sama-sama bejatnya."

JLEB

Kiyoteru menangis makin deras dan keras.

"O-oi.." Len risih juga bila mendengar kawannya menangis begini. Bisa-bisa besok dia harus ke THT, kan gak awesome seorang Kagamine pergi ke sana.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu, kawanku?" Tangis Kiyoteru mendadak reda dan menatap Len dengan aura bunga-bunga bermekaran.

Apa penglihatan Len makin buruk karena usianya, ya?

"Baik. Kau sendiri?" Tanya Len balik. Ia meluruskan pandangan pada teman semasa sekolahnya itu.

"Tentu saja baik! Sayang istriku tidak ikut mandi di sini bersama ki―"

Kerikil melayang lagi dari sebelah.

"Maafkan aku, sayang." Kiyoteru mengusap benjolan di kepalanya. Len hanya swt di tempat. Kenapa bisa tepat sasaran semuanya, ya? Keluarga Kiyoteru benar-benar mengerikan!

"Sepertinya menyenangkan ya." Komentar Len. Ah, andai Yohio ikut juga, ia pasti merasa senang berkali lipat. Meski Yohio bukanlah darah dagingnya, tapi ia tetap menyayanginya seperti ketika ia menyayangi Rinto dulu.

Ah, Rinto..ya..akhir-akhir ini Len belum berkunjung ke tempat Rinto. Ia juga urung memberitahu Olivia soal tali persaudaraan di antara mereka―gadis itu juga berhak tahu kebenarannya. Hanya saja belum ada waktu yang tepat untuk membicarakannya. Setelah ini mungkin Len harus menyusun rencana.

"―eeen! Leeeenn! Kau dengar aku tidak?!" Kiyoteru kesal diabaikan karena telah bercerita panjang lebar tentang pengalamannya menjadi guru, sedang Len melamun tanpa menghiraukannya.

"Maaf, Kiyoteru."

.

.

.

Yukari dan Yohio masuk ke mobil bersamaan. Dari cermin di atas dasbor, Yukari mengamati Yohio. Pemuda itu memandang samping, seakan-akan ada sesuatu yang tak ingin ia lewatkan. Yukari memanaskan mesin, dibutuhkan sekitar satu setengah menit. Dan Yohio masih tampak terpaku pada pembatas translusen yang membiaskan sinar senja itu.

Yukari turut melirik, didapatinya Olivia yang keluar dari area pemakaman. Tidak ada yang berbeda. Kecuali saat seorang pemuda tiba-tiba menghampirinya dan menggandeng tangannya.

Siapa?

Yukari tak meluputkan pandangan dari Yohio. Rautnya masam dan menatap tak suka. Yukari sampai harus berkali-kali melirik bergantian antara sisi luar dan dalam untuk memastikan. Sepertinya Yohio tak menyukai pemuda yang seenak jidat menggandeng tangan kawannya. Yukari tak mengatakan apa-apa, ia hanya mengamati. Belum ada bukti yang cukup untuk menguatkan asumsinya.

Yukari mulai melajukan mobilnya. Membiarkan Yohio bertanya pada diri sendiri.

tsuzuku