Cliche Case!?
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
Naruto's
KRIIIIINGGG!
Oh jam sialan, aku sedang bermimpi dan langsung tandas dalam sekejap. Aku pun langsung bangkit dari ranjang dan menuju ke dapur untuk memasak sesuatu. Aku mempunyai ambisi untuk hidup mandiri, tanpa ada pelayan, koki, pembantu atau apapun itu di apartemenku, Aku harus bisa melakukannya sendiri. Kadang Aku pernah mendengar orang-orang menyubetku 'Tuan perfeksionis' karena kalau Aku yang melakukannya sendiri maka akan membuahkan hasil yang hampir sempurna.
Aku pergi ke walk in closet sebelum ke dapur untuk membasuh wajahku. Aku melihat pantulan diriku di cermin, Ya Tuhan! Aku ini hantu atau apa? Melihat orang yang di cermin dengan rambut berantakan dan wajah yang suntuk karena kelelahan.
Deg.
Ugh, entah kenapa belakangan ini di bagian dadaku merasa sangat nyeri, Aku tak tahu penyebabnya karena Aku selalu menjaga makananku. Aku hanya berdiam diri sambil meringis menahan sakit, setelah sakit itu hilang Aku langsung menuju ke dapur.
Entah kenapa akhir-akhir ini Aku sering membayangkan wanita itu, tatapan tajamnya yang menyiratkan kesal kepadaku, bahkan dia berbeda dari yang lain karena jika Aku yang merebut sesuatu dari mereka maka dia akan tertunduk dengan iming-iming yang menggiurkan, maksudku yang menggiurkan itu 'uang' sebelum kalian berfantasi yang aneh-aneh. Entah kenapa ada getaran aneh yang dirasakan di dadaku saat berpandangan dengannya, tapi... apa maksudnya?
.
.
.
Sialan, rapat kali ini lumayan panjang karena ini adalah rapat untuk proyek yang sangat teramat penting, semua orang di perusahaan bergantung padaku, walaupun mereka panjang lebar mendengarkannya tetapi Aku sudah paham dengan materi yang diberikan.
Lima belas menit kemudian akhirnya selesailah rapat menyebalkan tadi, dengan Shikamaru yang berjalan di belakangku sambil mengoceh tentang janji yang kubuat untuk menghadiri beberapa acara membuat kepalaku berdenyut.
"Dan juga pada pukul tiga sore Anda akan menghadiri ceremonial—"
"Cukup! Aku sudah tahu dengan jadwal hari ini, kali ini kau bisa langsung pulang"
Aku melihat Shikamaru menaikan alisnya, Oh tidak Aku salah bicara.
"Ralat, Kau kembali ke ruanganmu"
Shikamaru hanya mendesah kecewa, ugh dasar pemalas. Shikamaru membungkuk hormat padaku dan pamit untuk kembali ke ruangannya. Aku langsung membuka pintu ruang kerjaku, dan melangkah ke dalam, tetapi...
"HAI ANAK KU YANG GANTENG!"
Sialnya Aku lupa dengan e-mail Ibuku bahwa ia akan ke kantor hari ini, menyebalkan. Ibu langsung memelukku dengan erat sampai membuat diriku pingsan.
"I-Ibu! uhuk! Lepas!"
Aku dengan sengaja menarik beberapa helai rambutnya agar ia melepaskan pelukan mautnya kepadaku.
"Sakit! Anak durhaka kamu nak.. hiks"
Ibuku mendramatisir dengan nada memelas dan menunjukan wajah sedihnya.
"Drama Queen"
Ibu hanya menyengir tak berdosa dan langsung memiting kepalaku, mempunyai Ibu yang kejam seperti inilah... oh nasibku...
"Aduduh! Sakit!"
Sampai akhirnya Ibu melepaskan pitingannya dari kepalaku dan kemudian ia duduk di sofa dekan dengan meja kerjaku, Aku langsung duduk di samping Ibu.
"Ibu ngapain kesini?"
"Bete, tak ada hiburan... seperti malam-malam..."
Ibuku bersenandung tak jelas dengan suara yang dibuat purau kalau ia kelihatan sedang galau seperti di putus cinta, Ibuku ini memang ajaib bisa berakting seperti itu.
"Ibu lebih baik Kau pulang saja jika tak ada urusan"
Aku mencoba bangkit dari sofa, tetapi ada yang menahan lenganku.
"Tidak! Ibu ingin kamu menemaniku pergi kencan dengan teman Ibu!"
Aku melotot dengan ucapan Ibu. Apa? Kencan? Dengan temannya? Dan berarti artinya... SELINGKUH!
"ASTAGA IBU SELINGKUH! AKU HARUS MENELPON AY—"
"Ssssttt! Kau jangan berisik! Maksud Ibu dengan 'kencan' adalah menemuinya dalam jamuan nanti!"
"Oh, bilang dari tadi dong"
"Ibu mau mengatakannya tapi Kau histeris anakku sayang~ Jadi bagaimana! Mau?"
Ibu menatapku dengan mata yang berbinar seperti kucing yang memelas untuk meminta makanan pada majikannya, ugh imutnya!
"Baiklah, Ayo"
"Yeaay!"
Aku tersenyum melihat Ibu yang menggoyangkan tubuhnya kesana kemari karena senang, seperti masih muda saja haha.
.
.
Hinata's
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Ayahku, walaupun umurnya yang sudah semakin tua tetapi tetap merayakan ulang tahunnya, lucu.
"Hanabi! Ambil bunga dandelion untung menghiasi ruang tamu!"
"Iya bawe!"
Aku hanya mendengus mendengar jawabaan Hanabi. Perayaan ulang tahun Ayah berada di rumahku ini, rumahku ini adalah mansion utama bagi keluarga Hyuuga, memang Ayahku sekarang menjabat sebagai direktur perusahaan kami sehingga Aku, Hanabi dan Ayah tinggal di rumah besar ini. Aku harus cuti selama tiga hari karena menyiapkan ini itu untuk perayaan ulang tahun Ayah.
"Ah, Hinata-san selamat sore"
"Ah iya, selamat sore"
Aku tersenyum membalas salah satu sepupuku yang ikut andil dalam merayakan ulang tahun Ayah, bisa dibilang ini adalah ulang tahun yang mewah karena dengan pesanan catering, kue dan sebagainya bisa membuat mata hampir keluar karena besarnya bianya yang harus dikeluarkan.
"Hinata."
Aku mendengar suara bariton yang familiar, segera kutengokan wajahku untuk melihat pemilik dari suara itu.
"Kak Neji!"
Aku berhambur kepelukan hangat Kakak sepupuku ini, Kak Neji yang menjadi manajer di salah satu cabang perusahaan milik Ayah yang berada di Hokkaido membuat Aku tak bisa bertemu dengannya. Aku mendengar Kak Neji terkekeh sambil mengelus rambutku, Aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, sama seperti dulu, aroma yang selalu menenangkanku pada saat kehilangan Ibu.
"Hey, apakah Kau masih menjadi anak manja?"
Kak Neji dengan usil menyentil dahiku yang tertutup poni dan langsung mencubit pipiku dengan gemas, lama-lama pipiku menjadi korban sama seperti Hanabi.
"Kakak meremehkanku! Aku sekarang menjadi guru matematika si sekolah Hanabi, Aku juga mendapat gelar profesor, bagaimana?"
Aku tersenyum miring meremehkan orang yang dihadapanku kini, Kak Neji menatapku tak percaya. Ya, dulu Aku selalu mendambakan otak jenius milik Kak Neji, saat melihat dia menjawab soal dengan mudah membuatku termotivasi untuk belajar hingga Aku melampaui Kak Neji yang hanya mendapatkan S2 karena Ayah memintanya untuk bekerja.
"Kau serius Hinata? Ya ampuunn, Aku seperti melihat bayi yang tumbuh dengan cepat"
"Meledek ceritanya nih?"
"Iya"
Aku mencubit lengan Kak Neji sangat kencang sehingga ia mengaduh kesakitan. Beginilah sifat asliku keluar kalau Aku berada orang yang sangat kusayang maka Aku dengan cepat menghangat dan manja, sebaliknya, jika aku berada di dekat orang yang kubenci, maka aku akan menatapnya dengan garang.
"Kak Hinata itu kalau di sekolah cantik-cantik galak lho Kak Neji"
Aku mendengar celetukan Hanabi entah sejak kapan berada di samping Kak Neji.
"Benarkah?"
"Iya, pada wal saat Kak Hinata mengajar itu membawa kesan manis-manis gimana gitu, tapi lama kelamaan manisnya berubah menjadi asam ketika ditelan, malahan kesannya pemberi harapan palsu"
Oke, Aku membenarkan ucapan adikku yang manis ini, memang benar pada awal aku pertama kali mengajar sifatnya lembut, sangat lembut malah, tetapi lama kelamaan Aku sebal dengan tingkah muridku sehingga Aku berubah menjadi galak, suka menghukum, bahkan pelit nilai.
"Hanabi sayang, mau Kakak buat nilai rapormu merah, hm? Kakak ini wali kelasmu lho"
Aku tersenyum kepada Hanabi, tetapi adikku yang satu ini malah nyengir kuda sambil membentuk tanda 'peace' di tangan kanannya.
"Neji! Ayah ingin berbicara padamu!"
Teriakan Ayah yang berasal dari taman belakang rumah membuat Kak Neji menghentikan acara menonton drama Kakak-Adik di depannya.
"Ah maaf, nanti kita lanjutkan!"
Kak Neji keluar dari ruang tamu menuju ke taman belakang, Hanabi entah kemana sudah menghilang begitu saja. Aku duduk di salah satu sofa di ruang tamu ini dan mengambil beberapa tangkai bunga dandelion. Aku menghirup aroma bunga itu, menenangkan seperti wangi Ibu.
Tanpa sadar air mataku merembes keluar,mengingat kejadian Ibu yang meninggal karena kecelakaan. Waktu itu Aku berumur dua belas tahun, sementara Hanabi berumur enam tahun membuat kami berdua terpukul karena kehilangan Ibu di saat usia kami masih belia. Aku juga waktu itu sempat kasihan dengan Ayah karena semenjak kehilangan Ibu, Ayah selalu mengorbankan waktunya untuk menghibur kami dan berusaha membuat kami berdua kembali tersenyum, Aku sangat senang mempunyai Ayah, Aku bertekad untuk tak menyakiti hati Ayah.
.
.
.
Author's
"Akhirnya kita sampai juga!"
Naruto berdecak kagum dengan bangunan megah yang terpatri di hadapannya, bangunan yang berwarna putih dengan campuran tradisional-modern membuat kesan unik di mata Naruto.
"Jadi rumor itu benar bahwa Hyuuga memiliki set rumah termewah se-Asia, luar biasa"
Mobil Naruto langsung memasuki kawasan pekarangan rumah milik keluarga Hyuuga, Naruto kembali dibuat takjub dengan taman depan rumah yang di hiasi dengan air mancur.
"Ahh andai Ayahmu dapat membuat rumah idaman seperti ini Naruto, Ibu akan tetap betah di rumah!"
Naruto menggelengkan kepalanya karena ucapan Ibunya.
"Ibu, rumah kita juga luasnya minta ampun sampai jalan saja terasa pegal sampai Aku pindah ke apartemen"
Ya, karena luasnya rumah keluarga Uzumaki membuat Naruto lelah berjalan kesana-kemari, andai saja ada alat teleportasi mungkin itu akan mudah, tetapi rasanya masih belum tercapai karena para peneliti masih berpikir keras cara membuatnya.
Naruto memarkirkan mobil mewahnya di parkiran , Naruto melirik Kushina yang sibuk berdandan.
"Ibu... mau sampai kapan kau berdandan?"
"Sabar, dandanan Ibu luntur karena keringat"
Naruto memutar bola matanya bosan, ia juga membenarkan jas kerjanya yang sedikit berantakan.
"Nah sudah! Ayo!"
Kushina langsung menarik dasi Naruto untuk keluar. Naruto hanya menurut saja karena sama saja memberontak maka akan langsung dibunuh oleh Ibunya sendiri. Naruto dan Kushina memasuki rumah tersebut, Naruto melihat sekeliling.
"Ternyata di dalam rumahnya tak terlalu luas, ternyata hanya tamannya saja yang luas" gumam Naruto.
Mansion utama Hyuuga memiliki dua lantai, dengan bangunan di tengah taman, kalian bayangkan saja lapangan sepak bola yang di tengahnya terdapat bangunan mewah, dan di sekeliling rumah itu terdapat taman dengan berbagai bunga. Di halaman belakang mansion Hyuuga ini juga terdapat kolam renang.
"Hiashi!"
Kushina berlari meninggalkan Naruto, ia langsung memberikan kepalan tinju kepada pria paruh baya itu, dan juga dia membalas kepalan tinjunya.
"Hey, apa kabar?"
"Baik, dimana putramu?"
"Oh, tunggu sebentar.. Naruto!"
Naruto yang berada dikerumunan orang melihat Ibunya yang melambai, memberikan tanda untuk menyusulnya.
"Nah, ini dia putraku! Bagaimana? Tampan seperti Minato?"
Naruto hanya tersenyum kaku, Hiashi melihatnya dari atas sampai bawah dan pada akhirnya mengangguk puas.
"Ya Kau benar, dia seperti suamimu"
"Ngomong-ngomong dimana putrimu?"
"Mereka sedang berada di teater bersama sepupu menonton film"
Naruto terkejut, bahkan di rumah ini ada bioskop untuk menonton? Naruto merasa kekuatan Hyuuga sebanding dengan perusahaannya.
"Ah Aku iri dengan fasilitas di rumahmu! Bisakah Aku membeli bioskop itu untuk melihat Tom Cruise?"
"Ya ampun.. Kau ini Kushina, tak pernah berubah"
Ibu dan pria paruh baya bernama Hiashi itu tertawa terbahak-bahak, Naruto memutar bola matanya karena ucapan Ibunya yang ceplas ceplos.
"Ah, selamat ulang tahun yang ke lima puluh Hiashi-san"
Naruto mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, dibalas oleh Hiashi.
"Ya, sama-sama"
"Ayah?"
Naruto rasanya mengenal suara lembut ini, perlahan Naruto menatap perempuan dengan rambut yang di kepang, ia memakai dress berwarna biru muda selutut dengan heels yang tingginya 5 cm.
"Ah perkenalkan ini putriku Hinata"
Naruto dan Hinata berpandangan, sampai keduanya melonjak kaget.
"Kamu!"
"Kamu!"
.
.
.
To be continued
Hai! Ternyata Hinata disini jadi orang kaya juga ya haha, aku emang sengaja buat dia kayak gitu karena saya akan membuat konsep yang mainstream, hehe. Dan saya juga akan memasukan sedikit drama disini jadi siap siap ya nanti :p
By the way saya juga akan UAS minggu depan jadi kemungkinan tak bisa update, dan saya mohon maaf karena minggu kemarin tidak update karena harus mengerjakan lima puluh soal, mengejar guru sampai jatuh bangun untuk mendapatkan nilai jadi yahhh maklum.
Thanks you very much for your review! See ya!
