Cliche Case!?
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
Hinata's
"Kamu!"
"Kamu!"
"Lho, kalian pernah bertemu?"
Aku mengacuhkan pertanyaan Ayah, menatap sinis lelaki di depanku ini. What the hell! Why i should meet him again?! Arrrgghh.
"Ah, Kalian pasti berpacaran ya?"
Aku langsung melotot dengan pernyataan wanita berambut merah di samping Ayah. Berpacaran? Aku bahkan tak sudi pacaran dengan orang yang egois seperti dia!
"Tidak." Aku hanya menjawab dengan nada yang dibuat sedatar mungkin.
"Ah! Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka berdua Hiashi? Mereka tampak serasi~"
"WHAT!"
Semua orang kini menolehku dengan tatapan bingung, itu karena Aku histeris dengan wanita dewasa berambut merah ini. Sementara lelaki berambut kuning ini bersikap tenang seperti tidak terjadi apapun.
"Ah iya, Aku juga tak sabar ingin menimang cucu."
Oh my God, mengapa belakangan ini Aku ketiban sial? Aku berharap Kak Neji langsung datang dan membelaku untuk tak ikut andil dalam rencana perjodohan bodoh ini.
"Tou-sama, Aku tadi mendengar suara jeritan Hinata, ada apa ini?"
Akhirnya pahlawan berkuda putih datang juga, Kak Neji... Aku sayang Kamu! Aku pun menarik lengan Kak Neji dan berjinjit membisikan sesuatu.
"Tolong bantu Aku Kak! Aku mau dijodohkan!"
Kak Neji langsung terdiam lalu menatapku, tanpa ragu dia mengangguk. Kakak sepupuku ini memang memiliki sifat sister complex, jadi jangan macam-macam terhadapnya, bisa-bisa akan dikuliti oleh dia, mengerikan. Aku dan Kak Neji kembali ke arah Ayah, wanita berambut merah, dan lelaki kuning itu.
"Aku tak setuju Ayah, mana mungkin Aku langsung dijodohkan dengan lelaki yang bertemu denganku hanya dalam hitungan jari?"
"Aku juga tak setuju Tou-sama, Aku tak mau Hinata terluka karena lelaki yang baru kutemui ini."
Aku terharu dengan ucapan Kakak sepupuku ini.
"Ayah yakin dengan Naruto, dia pasti mampu menjaga Kamu..."
Aku hanya mendengus kesal, sekali lagi kulihat wajah errr siapa namanya tadi? Naruto? Oke Aku menatap Naruto yang tampak tenang, saat Aku menatap matanya dia langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain, hey! Apa-apaan itu!?
"Bagaimana Hinata? Kamu setuju?"
"..."
Aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Ayah. Logikaku mengatakan tidak, tetapi hatiku mengatakan iya. Aku kembali menatap mata biru yang indah itu.
Indah? Apakah Aku mengatakan itu? Haha.
"Bagaimana Hinata?"
"Aku... harus memikirkannya."
Aku melangkahkan kakiku menuju ke kamarku yang berada di lantai dua. Saat menaiki tangga Aku melihat sepasang mata biru itu menatapku dengan pandangan yang sulit doartikan.
...
Author's
Hiashi menghela napasnya setelah melihat kepergian Hinata. Naruto masih setia memandangi tangga yang sudah dilewati oleh Hinata.
"Naruto.. Naruto!"
"Ah... Iya?"
"Daritadi Ibu memanggilmu."
"Maaf"
"Jadi bagaimana Naruto? Kau mau?
Naruto memandangi tiga orang di hadapannya, ia lalu menatap Neji.
"Kau kembaran Hinata?"
"Selamat, Kau adalah yang bertanya itu dari sekian banyak orang. Sayangnya jawabannya tidak."
Neji berpikir kemiripannya pada Hinata adalah rambut panjangnya dan mata mereka yang sama, sayangnya rambut Neji berwarna coklat.
"Yang lebih penting, Apakah Kau menerima perjodohan ini?"
Naruto menutup matanya. Selama ini ia tak berpikir untuk menjalin hubungan dengan wanita, apalagi Ibunya selalu menuntutnya untuk membawa seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Ia malah menjadi tertantang untuk jatuh hati kepada 'wanita' itu, karena ia merasakan getaran yang sulit dijelaskan.
"Aku... terima perjodohan ini."
"Kau yakin?"
Naruto mengangguk. Neji menatap pancaran mata Naruto untuk mencari sesuatu, ia mengangguk puas.
"Baiklah, Aku merestuinya."
Naruto lega dengan jawaban Neji, sekarang tinggal seseorang lagi yang harus ditaklukan, yaitu...
Hinata.
"Bagaimana kita meyakinkan Hinata agar menyetujuinya."
Hiashi bersuara, tampak keempat orang itu berpikir. Kushina memejamkan matanya, kemudian senyumnya merekah.
"EUREKA!"
"Woah, tenang Ibu."
Beberapa orang memandang Kushina dengan heran, Naruto sampai membekap mulut Ibunya dan meminta maaf.
"Jadi... Bagaimana rencanamu, Kushina? Aku harap berhasil seratus persen untuk meyakinkan Hinata."
"Ralat, bukan meyakinkan."
Kushina tersenyum misterius dengan mengangkat kedua alisnya, tiga orang pria tersebut bingung.
"Maksudmu?"
"Aku tahu ini memaksa anakmu Hiashi, tetapi ini adalah jalan satu-satunya."
Naruto, Neji dan Hiashi bertambah bingung dengan perkataan nyonya rambut merah ini.
"Aku mendapatkan rencana ini dari novel yang kubaca, kalian harus mendengarnya.
...
Hinata's
Aku melihat hamparan bunga lavebder yang terbentang luas di depanku. Aku mencium aroma yang familiar, seketika Aku melihat sesosok wanita mengenakan gaun one piece dengan sepatu kaca yang menawan di tengah hamparan bunga lavender, dia adalah...
IBU!
Sesegera mungkin Aku berlari menuju Ibu, ia tampak cantik. Aku telah sampai di tengah, tinggal lima langkah lagi, tetapi Ibu mengisyaratkan Aku untuk berhenti melangkah dengan tangannya.
"Ibu... Aku rindu—"
"Ssstt.. Hinata, dengarkan Ibu, Sayang."
Tatapan itu, Aku sangat merindukannya. Ibu langsung mendekatiku lalu mengusap rambutku dengan sayang, Ibu sedang tersenyum lembut.
"Ibu barusan berbicara Hanabi, dia bahkan rewel ketika menjelaskan betapa menyebalkannya dirimu."
"Itu namanya pencemaran nama baik."
Ibu langsung tertawa,bahkan sampai sekarang tawanya masih terdengar seperti melodi. Aku ingin waktu berhenti sekarang. Ibu langsung menuntunku menuju ke ladang ilalang bahkan Aku tak menyadari ada ladang ilalang disini.
"Hinata, Kamu tahu arti bunga matahari?"
Aku hanya menggeleng polos, Aku melihat Ibuku yang tersenyum geli menatapku. Entah kenapa sekarang Ibu lebih banyak tersenyum sekarang.
"Kamu sekarang harus mencari tahu maknanya."
"Kenapa?"
"Janganlah Kamu membuat bunga itu layu dan rapuh, jangan membuatnya menjauh dari kehangatan."
"Apa maksud Ib—"
"Suatu hari nanti Kamu akan tahu."
Ibu hanya tersenyum penuh makna. Aku masih bingung dengan ucapannya, seketika tubuhku diselimuti kehangatan. Dipeluk, itulah yang Aku rasakan.
"Sepertinya sesi Kita berhenti disini, Ibu hanya ingin menyampaikan itu saja. bisakah Kamu berjanji agar tak membuatnya layu?"
Aku bingung menjawabnya apa, bahkan Aku masih tak mengerti dengan ucapan Ibu.
"Aku... usahakan, asalkan Ibu tidak pergi dari sini"
Kali ini Aku ingin mencoba egois, walaupun Aku selalu mengatasi egoku, tetapi ini berbeda.
"Ibu akan menemuimu lagi Sweetheart." Bisik Ibu ditelingaku
Aku mulai terisak, membasahi gaun cantik milik Ibu yang Aku yakini hadiah dari Tuhan untuknya agar bertambah cantik.
"Ibu... Jangan pergi! IBUU!"
Ibuku menjadi titik cahaya yang melayang menuju ke langit. Seketika Aku merasakan pinggangku dipeluk, tiba-tiba dunia ini menggelap.
Aku perlahan membuka kelopak mataku yang berat ini, pasti karena mimpi itu sehingga bantalku basah.
Krriett
Aku merasakan beban yang melingkar di penggangku, dan merasakan deri napas di ceruk leherku. Segera Aku membalikkan badan untuk melihat siapa pelakunya. Aku langsung melotot.
"Zzzzzz..."
...
...
...
...
Loading
...
Three
...
Two
...
One
...
100%
...
"OHHH MY GOD MATAKU TIDAK PERAWAAAAN LAGI HUEEEEE!"
.
.
.
To be continued
A/N :
Hey hoo! Kemarin saya salah mengetik nama bunga dibagian 'Hinata menghirup bunga dandelion' dan saya menyadarinya... APA YANG DIHIRUP DARI BUNGA DANDELION OH MY... YANG ADA MALAH BERSIN UHUH seharusnya saya ngetiknya lavender tapi yahhh gimana terlanjur, maklum saya sering pikun :")
Dan ini adalah cover pilihan saya yang pertama, bagaimana tanggapan kalian? Minggu depan saya akan menampilkan cover pilihan saya yang kedua.
See u next time, See ya!
