Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
"Aku mendapatkan rencana ini dari novel yang kubaca, kalian harus mendengarnya."
Kushina menghela napasnya lalu menatap ketiga pria itu dengan serius.
"Aku tahu ini terdengar gila...Rencananya adalah membuat skenario."
"Skenario?"
"Yaitu membuat Naruto seranjang dengan Hinata dalam keadaan shirtless."
"..."
"..."
"..."
Hening, Hiashi mencerna perkataan dari sahabatnya tersebut, Neji hidungnya kembang kempis setelah tahu apa maksud dari Kushina, sementara Naruto? Dia kelihatan tenang.
"APA!"
"Ck, dimana kejeniusanmu Hiashi? Lemot sekali."
"Aku tak rela Hinata tidur seranjang dengan keadaan seperti itu!" ujar Neji
Neji mengacak rambutnya, Hiashi menatap tajam Kushina yang hanya cengengesan dengan membentuk tanda V dengan jarinya.
"Ingatlah, ini hanya skenario untuk meyakinkan Hinata, Kalian tenang saja."
"Tapi dia laki-laki! Kau tahu 'kan, apa maksudnya!?"
"Terlebih lagi ia adalah lelaki normal, Aku tak mau Hinata dijamah samai Hinata resmi menikah." Tambah Neji. Kushina melirik Naruto yang hanya memasang tampang sok polos, kemudian menjitak putranya tersebut.
"Kalian tenang saja, kalau Naruto melakukan sesuatu pada Hinata, kupastikan dia sudah kumutilasi lalu mengubur seluruh bagian tubuhnya secara terpisah."
Naruto meringis mendengar penuturan wanita yang melahirkannya itu, Ia kemudian mengangguk sebagai tanda setuju.
"Oke, jangan sampai Kau berbuat macam-macam pada Hinata!"
"Kau jangan melakukan apapun pada putriku."
Naruto mengangguk, ia merasa sial mengapa harus kena semprot oleh ketiga orang di hadapannya ini.
"Aku akan menjelaskan rencananya. Jadi pada saat Hinata bangun reaksinya akan terkejut seperti menjerit, kemudian Hiashi dan Aku mendatangi kamar Hinata."
Hiashi mangut-mangut saja seakan mengerti, Neji yang masih tak rela dengan rencana ini hanya menyerah saja.
"Hiashi dan Aku harus berakting marah, pasti ia akan merasa terpojok 'kan? Dan kita melancarkannya dengan memaksakan dia harus menikah!"
"Baiklah, Aku setuju."
Kushina tersenyum puas sambil merangkul Hiashi, Neji menggelengkan kepalanya.
"Oh ya, ini adalah password kamar milik Hinata."
Naruto mengambil secarik kertas itu dari tangan Hiashi, kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah! Rencana.. dimulai!"
...
Hinata's
"OHHH MY GOD MATAKU TIDAK PERAWAAAAN LAGI HUEEEEE!"
"Berisik"
Sialan, dia hanya bisa mengerang dan mengeratkan pelukannya. Tahukah kalian Aku dipeluk dengan pria setengah telanjang? Tidur dengan seorang pria dengan keadaan shirtless membuatku stress!
BRAKKK
Pintu kamarku terbuka dengan keras, Aku melihat siluet seseorang yang berdiri tegap dan disampingnya ada seorang wanita berambut panjang. Tunggu... bukankah itu...
AYAH DAN IBU DARI LELAKI ITU!
Oh tidak, mereka berpikir Aku telah berbuat yang aneh-aneh dengan lelaki disampingku ini, bagaimana dia mengetahui password kamarku? Arrgghh.
"Hinata! Ya Tuhan... Kamu..."
"Tu—Tunggu Ayah! Aku bisa menje—"
"Menjelaskan apa! Kau sudah tidur dengan laki-laki! Dan dia... Ayah kecewa denganmu..."
Oh tidak... matilah Aku, hiks.
Aku melihat lelaki yang masih tidur disampingku ini, Hey! Dia masih seakan tak mendengar bentakan Ayah, ugh.
"Nghh...Ibu?"
Naruto mengerjapkan matanya, sekarang dia bangun juga!
"Naruto! Apa yang Kamu lakukan!"
"Apa yang Aku lakukan?"
Kulihat ia memandangku kemudian melihat tubuhnya yang sexy, wait.. sexy? TIDAK OTAKKU BERGESER!
"Tunggu Ibu, sepertinya Ibu salah paham! Hiashi-san memberikan password yang menunjukan kamar tamu, dan Aku tak melihat ada seseorang yang tidur di ranjang ini karena ruangan ini gelap, Aku harap Kalian tak salah paham"
Oh, jadi itulah alasannya berada disini. Siapapun tolong Aku!
"Itu hanyalah alibi karena Kamu ingin tidur dengan Hinata! Pokoknya kalian harus menikah! Ayah tak mau mendengar kabar mengenakan untuk keluarga kita."
Tunggu... menikah? MENIKAH?
"AYAH, AKU TAK MAU."
"Ayah tak mau Kamu terlibat dalam skandal, jalan keluarnya adalah Kalian harus menikah."
Ayah dan wanita berambut merah itu pergi dari ambang pintu kamarku. Ucapan Ayah seakan menusuk hatiku dengan ratusan belati. Aku menatap tajam pria yang masih tenanng ini, apa-apaan dengan sikap tenangnya ini! Grrr.
Sekarang Aku tak bisa berkutik lagi dengan titah Ayah, menikah karena insiden... Aku merasakan hidupku seperti novel-novel yang kubaca. Hidupku ini sangat klise sekali... ha ha.
...
Author's
Hiashi dan Kushina langsung ber-high five ria karena rencana mereka berhasil. Kushina cekikikan dengan membanggakan dirinya yang berakting cukup lancar.
"Wow Hiashi, bakatmu dalam drama masih melekat juga."
"Tentu saja, Aku masih berbakat dalam ber-akting. Dan Kau juga Kushina, tampang sedihmu tadi seakan membuatku ingin tertawa."
Kushina mencibir perkataan Hiashi. Mereka memang sengaja menginap untuk melancarkan aksi, Kushina sempat menghubungi Minato dan menjelaskan rencananya, dan Minato setuju akan hal itu.
"Ah, Aku tak sabar untuk menimang cucu!"
"Aku juga."
Hiashi tersenyum menanggapinya. Sekarang mereka berdua duduk dipinggiran kolam renang.
"Kau mau cucu perempuan atau laki-laki?"
"Hmmm, menurutku laki-laki."
"Kau terlalu tomboy Kushina."
"Hey! Itu kan pendapatmu."
"Kalau Kau Hiashi?"
"Perempuan."
Hening.
Hiashi mengerutkan alisnya, karena Kushina tak merespon perkataannya. Ia menoleh dan menemukan Kushina yang menutup mulutnya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang perutnya, bahunya bergetar seakan menahan tawa.
"HAHAHAHA! HIASHI! HAHA—UWAAA!"
BYUUURRR
Kushina tercebur akibat dorongan Hiashi, ia kemudian mencipratkan air ke tubuh Hiashi.
"Sialan Kau calon besan tak berperasaan!"
"Salah sendiri."
Hiashi meninggalkan Kushina yang malah keasikan sendiri berenang.
...
Hinata's
Bisa-bisa Aku menjadi gila karena rencana Ayah menikahkanku dengannya. Sekarang Aku, Ayah dan Hanabi sedang sarapan. Aku hanya mengaduk-aduk nasi yang berada di piring, Ahu hanya menatap kosong piring itu. frustasi? Tentu saja! ayah salah paham denganku karena dikira Aku telah ehem melakukan 'itu'.
"Hinata, Kau dan Naruto akan menikah minggu depan."
"Uhuk!"
Aku terbatuk karena tertelan salivaku sendiri, Apa? Minggu depan? BIG NO!
"Apakah tidak terlalu cepat Ayah?"
"Tidak, Ayah tak mau sampai tersebar luas karena kejadian itu."
"Tapi Aya—"
"Tak ada kata tapi, Kau akan menikah minggu depan! Mengerti?"
Aku hanya bisa mengangguk kaku. Aku melihat Hanabi yang tampak kegelian, segera kujitak kepalanya.
"Cepat habiskan sarapanmu, sebentar lagi Kita berangkat."
"Baik."
...
Aku menatap datar murid di hadapanku ini, dia menunduk takut padaku. Aku melipat tanganku di dada dan menatapnya tajam.
"Kamu tahu konsenkuensinya apa kalau Kamu menyontek?"
Dia mengangguk pelan. Kalian bertanya kenapa Aku mengintimidasi murid dihadapanku ini? Oke Aku jelaskan. Aku telah berjanji akan mengadakan ujian harian di kelas Hanabi, Aku melihat barisan belakang ada yang berbisik, Aku langsung menghentikan ujian dan memanggilnya ke depan.
"Kenapa Kamu menyontek?"
"Sa—Saya tak bisa..." cicitnya takut. Aku mengangkat alis dengan heran, selama Aku cuti, Aku menugaskan mereka untuk mempelajari bab yang akan diujikan dengan guru pengganti.
"Kamu belajar?"
Saat muridku menjawab pintu kelas terbuka, menampilkan sosok Kurenai-sensei yangperawakannya terlihat habis mengejar orang, ada apa ya?
"Hinata-sensei, ada yang menunggu anda, dia meminta anda untuk menemuinya sekarang."
"Menunggu? Maaf, seharusnya ada peraturan tamu harus menunggu sampai bel berikutnya berbunyi."
"Dia memiliki kekuasaan disini, jadi tak bisa diganggu gugat."
Aku menaikan satu alisku. Kekuasaan? Disini? Ada urusan apa dia denganku sampai tak bisa digugat?
"Siapa?"
"Pemilik Sekolah, Naruto Uzumaki."
Seketika Aku menganga tak percaya. Pemilik sekolah? Oh Tuhan, dunia ini sempit sekali. Tapi... kenapa dia yang harus menjadi atasanku!
"Anda ditunggu di ruang direktur."
"Hahh, Baiklah.. lima menit lagi."
Aku mendengar suara kegirangan dari murid-muridku di kelas.
"Ehem."
Seketika hening, Aku lalu menatap Kurenai-sensei dan meminta dia untuk mencari guru pengganti di kelas ini, dan kelas dipenuhi dengan desahan kecewa.
...
Author's
Naruto sekarang bersandar di kursi kebesarannya dengan kaki yang bersilang di atas meja direktur. Ia sibuk memainkan game dari ponsel keluaran terbaru di genggamannya.
Tok tok tok.
"Akhirnya... Masuk!"
Pintu dibuka sepelan mungkin, terlihat kepala yang menyembul disana. Naruto menurunkan kedua kakinya dan langsung menunjuk sofa yang berada di hadapan meja direktur.
Hinata memasuki ruangan itu dan mendudukan dirinya di sofa yang ditunjuk oleh calon suaminya itu.
"Jadi... kenapa kau datang kesini disaat jam mengajar berjalan?"
Hinata menatap Naruto dengan tatapan intimidasinya, Narruto hanya memutar bola matanya.
"Oh ayolah, Kau tak tahu? Aku ini—"
"Pemilik sekolah ini."
Naruto tersenyum lebar dengan perkataan calon istrinya itu, Hinata menatap jengah dengan orang yang duduk di hadapannya ini.
"Syukurlah Kau tahu itu, dan Aku bisa saja melakukan apapun seperti memecatmu misalnya?"
Hinata mengambil bantal sofa disampingnya dan langsung melemparnya tepat di wajah Naruto, Hinata tertawa puas melihat wajah cemberut Naruto.
"Tidak etis melempar bantal pada calon suamimu."
"Tidak etis memecat sembarangan pada calon istri."
Naruto mencibir Hinata dengan berkomat-kamit sementara Hinata? Ia hanya bisa tertawa di dalam hati.
"Kembali ke poin utama, tujuanmu kesini untuk?"
"Kita fitting baju pernikahan, bagaimana kalau kita pergi sekarang?"
Belum Hinata menjawab, Naruto langsung menyambar tangan Hinata dan menariknya keluar dari ruangan itu. posisi Hinata dan Naruto sekarang berpegangan tangan, saat berpapasan dengan Hanabi, adik Hinata itu langsung berteriak.
"CIIIEEEE MESRA EHEM!"
Hinata merasa ingin menggali lubang dan mengubur dirinya disana, tetapi itu tak mungkin dilakukannya. Tetapi di dalam hatinya ia merasa tenang dan nyaman saat tangannya di genggam oleh Naruto.
...
"Kalau ini?"
"Tidak mau, terlalu terbuka."
"Ini?"
"Tidak juga, di bagian dadanya terlalu sempit."
"Oh ayolah Hinata! Ini gaun yang keberapa kau tolak?"
"Delapan."
Naruto mengacak rambutnya dengan frustasi, sementara si resepsionis butikk hanya tertawa melihat pasangan ajaib itu.
"Ah Aku mau yang ini."
Hinata menunjuk dress putih selutut tanpa lengan, dengan pita yang melingkar dipinggangnya dan bunga berwarna putih di bagian dada kiri.
"Ini dress Hinata... Bagaimana kalau Kau mengenakan ini di resepsi?"
Hinata mengangguk semangat, Naruto memanggil resepsionis dan menunjukan dress tersebut untuk dibenahi.
"Sekarang kita cari gaun untukmu, Kau mau memakai piyama tidur pada saat pemberkatan nanti?"
"Tidak, Aku tak mau konyol di pernikahanku sendiri."
Entah mengapa Hinata pada saat menyebut kata 'pernikahan' membuat hatinya berdesir.
"Bagaimana kalau yang ini?"
Hinata melihat gaun berwarna putih dengan kain yang menjuntai kebelakang, dengan bahu yang terbuka dengan bunga berwarna putih di dadanya, mata Hinata berbinar dan langsung menyetujuinya. Naruto cukup senang melihat senyuman Hinata, ia masih bersalah karena waktu itu tak menghormati Hinata sebagai wanita dan menyuruhnya duduk di emperan.
...
"Hinata."
"Hmmm"
"Maaf."
Hinata memandang Naruto yang sedang menyetir mobilnya. Ya, mereka dalam perjalanan pulang, Naruto berinisiatif mengantar calon istrinya itu. Awalnya Hinata menolak karena katanya bisa menjaga diri dengan karate yang dipelajarinya, tetapi Naruto tetap ngotot sehingga Hinata segera angkat tangan.
Entah kenapa hati Hinata sudah tak membenci pria disampingnya ini, yang ada hanyalah perasaan aneh yang mengalir dalam dirinya, Ia akhirnya mulai menerima perjodohan ini.
"Maaf untuk apa?"
"Semuanya, seperti menyuruhmu duduk di emperan."
Hinata terkekeh dengan mengingat kejadian konyol pada saat dia mengantar Konohamaru, mengingat muka melas Naruto yang kalah adu suit di bus itu.
"Jangan dipikirkan, itu sudah lewat."
"Kau membenciku?"
Hinata menggeleng dan tersenyum lembut, ia sekarang ingin menatap kedua pasang mata biru yang menjadi candunya belakangan ini.
"Kita sampai."
Hinata kembali sadar dan ingin membuka pintu, tetapi lengannya tertahan.
"Apa ya—"
Cup
Naruto mengecup kening Hinata cukup lama, Hinata tertegun dengan sikap Naruto ini. Naruto melepaskan kecupannya dan mengusap rambut Hinata dan menyelipkan rabut Hinata ke telinganya.
"Sampai jumpa."
To be continued
Naruhina sudah mengibarkan bendera lope-lopenya, tapi belum sepenuhnya haha! Saya ngebet menulis ini karena melihat couple yang bermesraan di sekolah saya, hiks. Jadi saya melampiaskannya disini. Saya merasa alurnya cepat, kalau kalian?
Thanks for your reviews guys! see ya!
Than you for your review guys! See ya!
