Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
...
Hinata memandang langit malam yang bertabur bintang, terkadang ia melihat sang bintang mengerling nakal padanya. Hinata duduk di bangku taman belakang rumahnya yang dihiasi lampu warna-warni.
Tiga hari lagi, Hinata akan melepas masa lajangnya dengan pria yang ia anggap sangat menyebalkan. Bahkan setelah insidan kecupan itu ia menganggapnya seperti angin lalu, malahan belakangan ini ia menghindar dari calon suaminya karena Hinata merasa jengkel entah kenapa pada saat bertemu dengan lelaki yang notabene adalah calon suaminya.
"Galau?"
Hinata merasakan pundaknya ditepuk, ia melihat sang pelaku penepukan yang tak lain adalah adiknya. Hinata mengghela napasnya. Hinata bergeser memberi ruang agar adiknya itu bisa duduk.
"Bukan, hanya saja Aku sadar bahwa akan terikat pada sebuah hubungan."
Hanabi memangutkan kepalanya. Hanabi sebenarnya tahu kalau Ayahnya bersekongkol dengan Kushina yaitu menciptakan skenario yang menjebak Hinata untuk menikah di usianya yang masih muda, Hanabi setuju dengan rencana Ayahnya itu karena tak tahan melihat Kakaknya belum memiliki pacar.
"Tenang saja Kak, menurutku menikah itu enak." Ujar Hanabi tenang, Hinata menjitak dahi adiknya.
"Kamu masih kecil tetapi sudah bilang menikah itu enak?"
"Aku sudah dewasa Kak!"
"Kamu masih kelas satu sma Hanabi Sayang." Ujar Hinata
"Menikah itu tidak sembarangan Hanabi, Kita tak bisa bebas lagi karena sudah terikat."
Hinata mengambil jeda sebentar, menyusun kata-kata yang tepat untuk diutarakan. Hanabi diam saja karena tahu Kakaknya akan melanjutkan kalimatnya.
"Kalau akan berpergian maka Kakak akan meminta izin kepada Uzu- maksud Kakak Naruto-san."
Hinata mengingat perkataan Ayahnya yang harus memanggil calon suaminya dengan menyebut nama kecilnya. Walaupun ia canggung, Hinata menggunakan sufix –san untuk menghilangkan kecanggungan.
"Dan juga proses untuk bercerai itu sangat panjang Hanabi, kalau Kamu sih enak bisa langsung berkata 'putus!' pada Konohamaru maka akan langsung bebas."
"Hei! Kenapa harus membawa Konohamaru-kun!"
"Itu perumpamaan Hanabi."
Hinata dan Hanabi terdiam. Hanabi iseng mengambil tangan kanan Hinata dan memainkan jari kakaknya, sementara Hinata masih sibuk dengan pikirannya akan hal pernikahan dirinya.
"Kakak besok mengajar?"
Hinata mengangguk menanggapi perkataan adiknya. Tiba-tiba Hinata teringat mimpi itu, mimpi dimana ia dan Ibunya bertemu.
"Hanabi, apakah Kau tahu arti dari bunga matahari?"
Hanabi menghentikan aktivitas memainkan jari Hinata, lalu menatap bingung Kakaknya dengan alis terangkat.
"Setahuku artinya adalah kehangatan dari warnanya yang cerah mengantarkan kita pada rasa kenyamanan."
"Oh."
"Kenapa Kakak menanyakan itu?"
Hinata terdiam, di dalam batinnya ia berkata mana mungkin kalau Ibunya yang sudah tiada di dunia ini datang menemuinya di alam mimpi dan menyuruhnya untuk mencari makna dari bunga itu.
"Iseng saja. Ayo kita masuk, udaranya semakin dingin." Ujar Hinata yang langsung meninggalkan Hanabi yang sedang dilanda kebingungan.
...
Ribuan pasang mata menatap takjub seorang wanita bak bagaikan dewi yang turun dari langit mengenakan balutan gaun berwarna putih dengan kain panjang yang menjuntai ke belakang, sang adik membantu mengangkat kain tersebut karena tak mau sang Kakak tersandung akibat kain yang panjang itu.
Sementara sang lelaki tak mau kalah dengan sang wanita yang sedang bersanding di sampingnya ini. Dengan kemeja berwarna putih dengan dasi berwarna hitam tak lupa dengan balutan tuxedo berwarna senada dengan dasinya meanmbah ketampanannya.
"HINATAAAAA!"
Seorang wanita berambut pinky menaiki pelaminan dengan girang, bahkan para tamu undangan sempat tertawa karena kelakuan wanita pinky itu.
"Aku tak menyangka Kau akan menikah dengan si bodoh ini."
"Aku mendengarnya.".
Si pinky hanya cengengesan lalu memeluk sang wanita yang kini telah bersuami, Hinata Uzumaki. Ya, sekarang marganya telah berganti setelah Naruto mengucapkan kalimat sakral di depan khalayak umum.
"Kau berhutang cerita padaku!" bisik Sakura di telinga Hinata. Hinata mendengus kesal pada Sakura yang dibalasnya dengan cengiran.
"Naruto! Jika Kamu membuat guru galak ini menangis, Aku tak segan untuk membunuhmu!"
Naruto hanya menganggukkan kepalanya.
"Dan... jangan lupa memberikan keponakan yang lucu. Bye!"
Sakura langsung berlari menuruni pelaminan dengan gelak tawanya, tak ayal wajah Hinata dan Naruto sudah memerah malu.
...
Hinata's
Capek, itulah yang kurasakan, dan lebih sialnya acara akan berlangsung selama dua hari. Hari pertama, diadakan di gedung mewah yang disewa. Sebagian besar seluruh tamunya adalah kolega bisnis Ayah dan Suamiku. Mungkin Aku merasa aneh saat menyebut dirinya 'Suami' karena sekarang Aku dan Dia sudah terjalin dalam suatu ikatan. Mungkin Aku harus belajar untuk menjadi Istri yang berbakti, kalau tidak Aku akan didepak dari keluarga Hyuuga.
Hari kedua diadakan malam ini, dan tentu saja Aku tak memakai lagi gaun yang sangat susah dilepas itu. Aku akan memakai dress berwarna putih yang Aku pilih saat fitting baju pengantin. Acara akan berlangsung di kediamanku, pada awalnya Kami ingin mengadakannya di gedung berbeda, tetapi Ayah tak setuju dan malah berbicara.
"Tak baik menghabiskan uang, mencari uang itu susah!"
Ayah sama saja, ia menghabiskan uangnya entah berapa nominalnya Aku tak tahu, tetapi setelah mengetahui makanan yang dipesan, dekorasi, dan sebagainya mungkin harus mengeluarkan beberapa koper yang berisi puluhan yen. Dan para tamu undangan yaitu hanya kerabat, saudara, dan teman-teman dekat Kami saja.
"Hinata, dimana kemeja milikku?"
Aku tahu suara itu, Suamiku. Aku melihat Dia yang celingak-celinguk bingung mencari kemeja putihnya. Kalian tahu sekarang Kami berdua ada dimana? Hotel. Berdua. Sekamar.
Canggung? Haha sayangnya jawabannya adalah iya. Setiap kali dia bertanya Aku menjawabnya dengan singkat dengan nada yang jutek.
"Digantung dekat pintu kamar mandi." Aku menunjuk jalan yang menuju pintu kamar mandi yang tertutup oleh dindinng. Dia mengangguk kemudian menuju ke pintu kamar mandi.
Oh, apakah kalian berpikir bahwa kami ini sudah melakukan 'itu'? Tidak, sama sekali tidak. Saat sampai ke hotel terjadi insiden 'perebutan' sama seperti di bus waktu itu, sesaat kami melupakan status yang sudah kami jalin ini. Seenak jidatnya dia melompat ke ranjang dan merentangkan tangan dan kakinya dan berkata.
"INI DAERAH KEKUASAANKU!"
Dan Aku bertanya-tanya sendiri, buat apa dia membuatku nyaman beberapa waktu lalu saat kejadian kecupan itu kalau dia berubah menjadi menyebalkan? Seperti cenayang dia langsung menjawab.
"Waktu itu kesambet setan baju pengantin, jadi jangan harap Aku bersikap romantis."
Rasanya Aku ingin mencakar wajahnya yang selengekan itu, mungkin kalau dia menjadi salah satu muridku maka nilainya akan kuberi nol besar atau mempermalukan dia dengan menghukumnya berlari sebanyak seratus kali plus dilihat oleh tiga angkatan.
"Kita harus bersiap-siap."
Oh, dia sudah memakai kemeja putihnya, terselip bunga mawar di kantung bajunya. Aku akui bahwa dirinya benar-benar tampan luar biasa, ummm walaupun ketampanannya masih kalah oleh Sasuke Uchiha, pacar Sakura.
Dia berjalan mendahuluiku, Aku pun mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba saja dia berhenti berjalan sehingga Aku menabrak punggungnya yang tegap itu.
"Kau harus mensejajarkan langkahmu itu."
"Tuan, bagaimana caranya Aku bisa sejajar berjalan denganmu kalau Anda berjalan dengan langkah lebar Anda, dan juga Saya memakai heels walaupun hak pendek tetapi bisa jadi nanti Aku tersandung."
Dia menatapku dengan lekat, ia kemudian meraih tanganku dan langsung menyusuri lorong hotel. Lagi, Aku merasa bingung dengan sikapnya itu. Membuat hatiku menghangat, kadang-kadang membuatku ingin menendangnya dengan jurus karate milikku.
Apa yang Kau lakukan padaku?
...
Pesta kali ini sangat meriah, Aku dibuat tertawa oleh Lee. Ia adalah teman seperjuanganku pada saat lomba karate nasional di Tokyo, tetapi kalah karena ia mengalami cedera sehingga menjadi runner up, sementara Aku memenangkannya karena lawan tak sengaja melakukan pelanggaran sehingga didiskualifikasi.
Aku melihat Lee sedang menari perut bersama Chouji, pelatihku Guy-sensei ikut serta. Dan tiba-tiba saja panggung diambil alih oleh duo macan, Sakura dan Ino. Mereka bernyanyi dengan suara cempreng sehingga diusir secara tidak hormat oleh Lee.
"Hinata! Lihat temanmu itu mengambil panggung talenta kami berdua!"
Sakura menunjuk Lee yang masih asyik menari perut di atas panggung, diikuti oleh tamu yang lain. Aku hanya tertawa pelan melihat Ino dan Sakura yang kembali naik panggung yang heboh itu.
BRAKK
Aku mendengar suara gaduh diseberang sana, terdapat suara panik yang mengintrupsiku. Perasaanku tak enak, Aku langsung berlari menghampiri sumber suara itu. Aku melihat orang-orang berkerumun disana, semua orang langsung memberi jalan padaku. Aku hanya diam mematung. Kak Neji melihatku dan langsung berteriak.
"HINATA! NARUTO PINGSAN!"
Hatiku mencelos saat mendengarnya, dengan cepat Aku menghampiri Kak Neji yang sedang memapah Naruto. Aku meringis melihatnya yang terus mengeluarkan peluh di dahinya itu, Aku mengambil sapu tanganku lalu mengelap keringatnya itu.
"Kak... Ka—kamu hubungi dokter, Aku akan memapahnya menuju ke kamar ku."
Kak Neji mengangguk dan langsung menyerahkan Suamiku ini, segera ku raih pinggangnya. Aku merasakan napasnya yang memburu, tanpa sadar air mataku mengalir.
...
"Bagaimana dok keadaan suami saya?"
Aku mengenggam tangan Naruto dengan erat, dia terus mengeluarkan keringat dengan napas yang tak teratur. Tsunade-san melirikku, ia menarik napasnya. Aku semakin mengeratkan genggamanku.
"Naruto... terkena penyakit jantung."
.
.
.
To be continued
A/N: Saya mengetik ini dalam keadaan stuck. dan juga saya ingin bilang sesuatu sama seseorang, yang merasa saja.
Anda tak punya rasa malu? menulis cerita itu nggak gampang, memikirkan alurnya seperti apa, bagaimana dan sebagainya. pakai otak anda. terima kasih.
