Cliche Case!

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Typos, OOC, and many more

...

Hinata's

Aku sudah tak bisa berkata banyak mengenai penyakit yang diderita suamiku itu. Oh tunggu, apakah aku tadi bilang suamiku? Lelaki menyebalkan itu? Sepertinya aku harus mengakuinya mengingat cincin yang sudah tersemat di jari manisku ini. Aku menatap wajahnya yang masih tertidur.

Sebenarnya Naruto-san hanya mengalami gejalanya saja dan masih bisa dicegah. Contohnya adalah jangan begadang terlalu malam mengingat ia adalah workaholic.

Sebagai istri yang baik aku harus mengatur pola hidupnya dari sekarang, kalau ia tak mau menurutiku maka akan kubuat dia sengsara, contohnya mengerjakan kumpulan seratus soal matematika bertaraf internasional.

Aku menatap wajahnya yang biasanya terlihat menyebalkan bagiku kini terlihat polos, napasnya yang tenang membuatku lega karena ia tak meracau lagi dengan napasnya yang terengah-engah. aku beranjak dari ranjang dan melihat jam menempel di dinding kamar.

05:00.

Aku lalu beranjak dari ranjang menuju ke bawah. Sepertinya ayah belum bangun, dan juga ibu mertua serta ayah mertuaku juga sepertinya masih terjaga. Aku melangkahkan kakiku menuju ke dapur, berniat untuk membuat teh.

Selesai membuat teh, aku beranjak menuju ke ruang keluarga. Langkahku terhenti begitu aku melihat grand piano berwarna putih di dekat tangga yang berbentuk melingkar itu. Seakan piano itu menggodaku untuk segera dimainkan, aku menuju ke arah piano itu. aku menaruh cangkit berisi teh itu di atas piano itu.

Aku membuka kap yang menutupi tuts piano yang berderet rapih itu. Seakan melihat mainan yang telah lama hilang, jariku dengan usil menekan-nekannya dan membuat nada yang asal-asalan. Sebenarnya piano ini tak pernah dimainkan sebelum aku lahir, dan hanya akulah yang memainkannya sedari kecil.

Aku mempelajari bermain piano secara autodidak sejak umurku lima tahun. Waktu itu aku iseng ke perpustakaan yang memang sengaja ayah sediakan untukku, lalu mencari buku tentang tangga nada dan mempelajarinya satu-persatu. Bahkan aku pernah menjahili Hanabi dengan memainkan piano dengan nada yang menyeramkan pada tengah malam sehingga membuat dirinya berlari.

"Hoh, kau bisa bermain piano juga ya?" aku berjengit kaget dan memutar kursiku melihat pemilik suara serak khas bangun tidur itu.

"Kalau aku berkata 'ya', kenapa?" Tanyaku padanya lalu membelakanginya, ia pun berjalan menuju samping piano dan menumpukan kedua tangannya di pinggiran piano itu.

"Mungkin kau adalah pianis rendahan yang hanya bisa membuat nada asal-asalan seperti itu." Ujarnya sambil menguap lalu menenggelamkan kepalanya ditumpuan tangannya itu.

Aku membanting semua jariku dengan kesal di atas tuts piano yang menimbulkan suara itu menggema sehingga membuat dirinya melompat. Kulihat wajahnya menatapku polos tanpa dosa, rasanya aku ingin menabok wajahnya itu.

"Oh ya? Sejauh mana anda mengetahui dunia musik, my hubby?" Tanyaku dengan senyuman yang maknanya lain. I want to murder him.

"Entah, kau bisa menanyakannya padaku." Ucapnya dengan dagu yang dinaikkan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam celana pendeknya, menatapku remeh.

"Baiklah, aku akan memberikan pertanyaan untukmu menggunakan piano ini."

"Oke." Aku mendengus kesal melihat tingkahnya yang sok bossy, suka memerintah sembarangan. Dan juga... TEHKU DIHABISKAN OLEHNYA?

Aku menatap garang ke arahnya yang malah dibalas dengan gaya angkuhnya. Oh Tuhan, seandainya pria ini bukan suamiku aku akan mencakar wajahnya.

"Aku berikan hanya lima detik untuk mendengarnya." Kedua tanganku kusejajarkan di tuts piano, terangkat lalu menghentakan jari-jariku bergantian mengetuk tuts itu seraya menghitung.

Lima.

Empat.

Tiga.

Dua.

Satu.

"Jawab!" Aku langsung mengacungkan telunjukku ke wajah bantalnya itu. ia lalu memperlihatkan sesuatu di tangannya.

"Apa maksudnya?" Tanyaku heran, yang aku lihat dia menyeringai.

"Perhitunganmu salah Hinata, di stopwatch ini tertera angka empat koma sembilan puluh sembilan detik dan kau kekurangan nol koma nol satu detik, artinya kamu harus mengulangi permainannya." Ujarnya.

ASTAGA HANYA KURANG NOL KOMA NOL SATU DETIK!

Gila.

Aku ingin segera memukulnya dengan stick golf yang tergeletak manis di dekat televisi.

"Alasan, untuk pertanyaannya—"

"Nol koma nol satu detik Hinata."

"Kau terlalu lebay, aku ingin mengetes—"

"Nol koma nol satu detik."

"Tap—"

"Nol koma nol satu detik."

"Aku tahu—"

"Nol koma nol satu detik."

Aku terdiam sebentar seraya meliriknya yang berdiri di sampingku, ia masih mengacungkan stopwatch-nya di hadapanku yang tertera nomor sialan itu. Apakah darahku tidak akan naik menghadapi orang ini? Suamiku sendiri? Rasanya aku ingin menghujaninya dengan Gandr.

"Naruto—"

"Nol koma nol—"

"SATU DETIK DENGAN WAKTU KECEPATAN CAHAYA MELINTASI BULAN." Teriakku.

Mungkin karena gejala penyakitnya ini membuat otaknya menjadi error 404 NOT FOUND atau memperlihatkan gambar binatang purba itu, Dinosaurus. Oh, ataukah ia terkena virus dari program komputer? Kepalaku pusing.

"To the point, pertanyaanku adalah jawablah judul dan pencipta karya itu." Tanyaku sambil membekap mulutnya karena nol koma nol satu detik itu. Aku melepaskan bekapanku dan menatapnya, ia memasang pose berpikir dengan tangan di dagu.

"Turkich March."

Bingo!

"Penciptanya Mo...Mo..."

Hah?

"Mo..Mo—"

Aku mengetukan kakiku untuk bersabar.

"Mo...Mo...Moza..."

Sedikit lagi!

"Mozarela." Jawabnya polos.

"..."

"..."

Aku lelah.

...

"Jadi, jika a dan b adalah bilangan riil, dan bilangan-bilangan tersebut berbentuk a + bi maka bilangan itu disebut bilangan kompleks. Contohnya sebagai berikut..."

Aku menerangkan materi di tengah kelas dengan buku di tanganku. Kadang aku merasa tidak fokus saat menerangkan materi, yang ada hanya salah mengeja.

"Bilangan kompleks pada umumnya dinyatakan sebagai penjumlahan satu suku— maaf dua suku, dengan..."

Kulihat Hanabi mencoba menahan tawanya karena ia tahu bahwa lidahku tak sengaja tergigit saat membaca tadi.

Aku melihat Konohamaru—pacar Hanabi yang sedang mengobrol dengan tetangganya. Telunjukku mengarah kepadanya.

"Konohamaru, terangkan kembali tentang bilangan kompleks."

Kulihat dia kikuk dan membolak-balikan kertas di mejanya. Aku menghela napas dan mendekati mejanya.

"Kalau kamu tidak memperhatikan pelajarannya, bagaimana jika kamu tak naik kelas?"

Konohamaru hanya cengengesan. Hinata menjewer telinga Konohamaru sehingga sang empunya berdiri.

"Kamu keluar dari kelas saya."

...

"Aku pulang."

Sepertinya belum ada yang pulang karena tak membalas salamku. Aku menutup pintu dan bergegas menuju ke kamar.

Ayah menyuruh Naruto-san untuk tinggal di rumah karena beralasan harus mengantar Hanabi dan menjaganya. Tetapi awalnya Naruto-san menolak karena kami sudah menikah, tetapi ayah menggertaknya sehingga tak bisa dibantah.

Hanabi sepertinya masih di rumah temannya untuk kerja kelompok, ayah sedang berada di kantor, sementara aku tak tahu suami kurang ngajar itu keadaannya bagaimana.

Drrrt drrrt.

Aku meraih ponselku yang aku letakan di atas nakas di samping ranjang. Ada pesan masuk dan disitu tertera nama suamiku.

From : My handsome husband.

'Aku sedang di perjalanan pulang, siapkan makan malam untukku 3'

ASTAGA APA-APAAN DENGAN EMOTICON ITU! DAN JUGA NAMA KONTAKNYA ASTAGA.

Segera kuganti nama kontaknya.

'To : Suami jelek.

'Jangan memakai emoji seperti itu.'

Aku meletakan kembali ponselku di atas nakas lalu bergegas menuju ke kamar mandi sekedar untuk menyegarkan pikiran selama seharian ini. Setelah aku mandi menggunakan air hangat, aku bergegas mengenakan piyama berwarna biru. Aku menyiapkan kaus beserta celana pendek untuk suamiku yang aku letakan di atas ranjang.

Aku lalu turun ke bawah melangkahkan kaki menuju dapur untuk memasak sesuatu. Jangan kalian pikir bahwa aku yang berasal dari kalangan kelas atas ini tak bisa bertempur di dapur, sedari dulu aku diajarkan memasak oleh ibuku.

Saat aku memotong bawang,aku merasakan pinggangku dipeluk dari belakang. Entah kenapa aku merasa tegang karena pelukan itu terasa hangat. Aroma maskulinnya membuatku mabuk karenanya. Saat aku ingin menengok kepalaku ditahan olehnya.

"Jangan berbalik, wajahku sekarang tak pantas dipandang karena sekarang wajahku terlalu tampan."

Aku langsung mencubit pinggangnya karen tingkat kepercayaan tingginya melebihi batas. Aku mengacungkan pisau di wajahnya.

"Mandi dan pakailah baju yang aku siapkan di ranjang."

Aku melihat ia merengut dan berjalan menjauhiku. Aku hanya menggeleng melihat tingkahnya, tiba-tiba ia berhenti menaiki tangga dan meneriakan sesuatu.

"Ayah dan Ibu akan kesini untuk menginap! Jadi masaklah yang banyak!"

Aku hanya mengangguk pasrah, entah kenapa aku merasa tak enak dengan kedatangan mertuaku itu, apalagi dengan Kushina-san.

...

Author's

"HELLO MY ONLY ONE SON." Teriak Kushina menggelegar sambil memeluk putranya itu. Seperti biasa, menarik beberapa helai rambut milik sang ibu agar terlepas dari pelukan mautnya itu.

"Ah, silahkan masuk." Ucap Hinata menggiring kedua mertuanya itu masuk bersama dengan suaminya.

"Ah, aku akan panggilkan ayah." Hinata meninggalkan suami dan orang tuanya menuju ke perpustakaan. Saat menaiki tangga ia mendengar sayup-sayup orang menyanyi, ia pun mendekati asal suara yang berasal dari perpustakaan. Hinata membuka sedikit pintu perpustakaan dan mengintip.

Terlihat sang ayah berdiri membelakanginya menyanyi dengan suara yang bergetar, di tangannya terdapat sebuah foto keluarga. Setelah sang ayah menyanyi ia mengelus foto tersebut, mengelus wajah seorang wanita dewasa yang tersenyum.

Hinata langsung melesak masuk dan memeluk sang ayah dari belakang. Hiashi terkekeh dengan setetes air mata yang menuruni pipinya.

"Ayah ketahuan menangis ya?"

Hiashi merasakan anggukan kepala putrinya di balik punggung tegapnya itu. Hiashi berbalik dan memeluk Hinata.

"Jangan melihat ayah menangis." Hiashi mengelus rambut putrinya dengan lembut. Menangis tanpa suara membuat Hinata geram pada ayahnya sendiri sampai ia menengadahkan wajahnya.

"Ayah tak perlu menahannya! Kalau ayah ingin menangis, aku dan Hanabi akan menemanimu, karena ayah adalah pelindung kami."

Hiashi mengacak rambut Hinata sehingga sang empunya gemas pada ayahnya. Hinata melirik foto berbingkai yang masih dipegang ayahnya itu.

"Ayah rindu dengan ibu? Bagaimana kalau hari Minggu kita ke makam?"

"Makam ibu terlalu jauh, dan itu di Inggris."

Hinata memutar bola matanya lalu melepaskan pelukan ayahnya itu. Ia berkacak pinggang seraya menatap ayahnya garang.

"Percuma saja ayah mempunyai harta yang tak habis tujuh turunan jika tak menggunakannya!"

"Hinata..."

"Oh ayolah! Aku ingin curhat dengan ibu!"

Hinata menatap ayahnya dengan tatapan memohon. Sang ayah mencoba mengalihkan pandangannya.

"Ayah! Apakah ayah tak rindu dengan ibu?"

Hinata menangkup wajah ayahnya itu dengan kedua tangannya dan menatap manik ayahnya.

"Baiklah."

Hinata berhambur memeluk ayahnya sampai sang ayah hampir terjatuh

"I love you Dad!"

"Love you more." Hiashi mengelus rambut panjang Hinata. Tiba-tiba Hinata melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya mengingat tujuan awalnya ke

"Ah, Kushina-san dan Minato-san sudah datang. Ayah sebaiknya turun menghampiri mereka."

Hinata melangkahkan kakinya terburu-buru meninggalkan Hiashi yang tersenyum kecil melihat punggung Hinata menjauh.

'Anak kita sudah dewasa.'

...

Hinata's

Makan malam kali ini benar-benar canggung diantara aku dan dia. Aku tak tahu mengapa orang tua kami sangat bersemangat mengungkit masalah 'itu'. Kalian tahu arah pemikiranku ini kemana? Mungkin kalian yang sudah dewasa mengerti. Aku dan dia hanya diam saja mendengar celotehan satu wanita dewasa dan dua pria dewasa di meja makan ini.

"Naruto, bagaimana? Lancar?" Tanya Ibu mertuaku.

"Hah?" Jawabnya bingung dengan memasang wajah bingung.

"Kalian sudah 'iya-iya' kan?"

Katakanlah aku mesum atau apa karena aku sudah tahu pembicaraan ini mengarah kemana. Kalau kalian ingin tahu bahwa wanita itu lebih mesum dari para pria.

"Apa maksud ibu?" Tambah kebingungan, Naruto-san melirik ayahnya yang acuh dengan topik pembicaraan.

"Apakah ibu harus mengatakannya secara frontal?" Ucap ibu mertuaku dengan hidung yang kembang kempis. Aku mengangkat tanganku.

"Biar aku saja yang menjelaskannya secara ilmiah."

Naruto-san menataku dengan tatapan polos. Rasanya ingin tertawa dengan ekspresinya.

"Kamu pernah mempelajari tentang reproduksi?" Tanyaku yang dibalas anggukan. Aku berdehem sebentar meredakan kegugupanku.

"Kamu tahu prosesnya bagaimana?" Lanjutku.

"Proses? Bukankah prosesnya adalah masuknya—" ia menghentikan perkataannya, aku melihat pipinya memerah. Ibu mertuaku langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi malu putranya itu.

"Apakah kita harus menggunakan bahasa para ilmuan Minato?" Ucap ibu mertuaku itu sambil tertawa.

"Jadi bagaimana?" Ucap ayahku datar.

"Belum." Ucapku yang disambut oeh tatapan horror oleh para orang dewasa itu.

"Aku ke toilet dulu." Ibu mertuaku berdiri dan melenggang menuju dapur karena itu adalah satu-satunya jalan menuju toilet.

Seorang pelayan datang menyerahkan minuman pada kami. Ia pun membungkuk dan melenggang pergi menjauhi meja makan. Beberapa saat kemudian ibu mertuaku datang dengan senyuman, entah kenapa melihat senyuman itu membuat diriku bergidik.

"Baiklah, bagaimana kalau kita makan." Ucapnya dengan semangat. Aku yang keheranan melihat tingkah semangatnya.

Setelah makan, aku meminum minuman yang diberikan pelayan tadi sampai tandas. Entah mengapa rasanya sedikit berbeda, apakak hanya perasaanku saja?

"Aku akan ke kamar." Naruto-san bangkit dari duduknya dan berjalan menjauhi kami. Kudengar suara deheman dari ayahku.

"Hinata, kamu temani suamimu sana. Kasihan dia, ayah lihat wajahnya berkeringat."

Aku hanya mengangguk dan menarik diriku dari kursi menjauhi ruang makan. Entah kenapa aku merasakan hangat di tubuhku.

...

Author's

Saat Hinata menjauhi mereka dan tak terlihat lagi. Kushina dan Hiashi ber-high five ria, sementara Minato menggelengkan kepalanya.

"Aku yakin kita berhasil lagi!" Ucap Kushina sambil cekikikan karena senang dengan rencana mereka yakin seratus persen berhasil.

"Kau membeli obat perangsang itu dimana? Tanya Minato heran.

"Aku dan Hiashi memesannya, karena kami yakin bahwa mereka berdua belum melakukan apapun jadi kami bersekongkol." Ucap Kushina merangkul sahabat karibnya itu.

"Aku tak tahan dengan mereka yang tak melakukan hal itu. Mungkin kita akan mati menunggu kedatangan cucu." Lanjut Hiashi.

"Dan juga aku tak mau Naruto menjadi perjaka sampai tua." Ucap Kushina.

"Bagaimana kalau kita taruhan? Aku yakin akan mendapat cucu perempuan." Ucap Hiashi.

"Baik! Dan juga aku yakin Hinata nanti mengandung cucu laki-laki!" Ucap Kushina dengan sorot mata berbinar.

Perdebatan berlanjut panjang hingga tengah malam hingga Minato tertidur pulas di meja makan.

.

.

.

To be continued

A/N : Hello! Maaf saya baru update karena sibuk dengan liburan sehingga melupakan fiksi ini. saya dapat inspirasi saat mendengar permainan animenz dan ishter-kun, kalau yang tak tahu cari permainan mereka di youtube. Bagaimana? Lumayan panjang saya membuatnya haha.

Happu new year 2016!

Ok, thank you for your review guys! See ya!