Title : "Two Foolish Brothers"

Author : oohpuuut

Genre : Drama, sad, romance.

WARNING! NC, Yaoi, & dirty talk!

Cast :

Sehun

Luhan

Chanyeol

Baekhyun

Support cast..


Chapter 3


Pagi di dalam Club El Dorado. Mereka masih berada di dalam dua kamar yang berbeda, Chanyeol tidur bersama Baekhyun, sementara Sehun bersama Luhan. Mereka seperti dua pasang pengantin baru yang sama-sama berbulan madu di sebuah Hotel.

Luhan tertidur lelap di atas tempat tidur yang besarnya cukup untuk 2 orang. Tidak ada seseorang disampingnya, karena Sehun sendiri sudah bangun satu jam yang lalu. Ia duduk di sebuah kursi yang terletak disamping jendela kamar. Matanya masih diam menatap sosok cantik yang tertidur. Wajah Luhan seperti malaikat kecil yang tertidur dengan damai, Sehun tersenyum saat mengingat tadi malam jemarinya menyentuh kulit putih dan lembut di wajahnya itu.

"Kapan kau bangun, hyung?" gumam Sehun diakhiri senyuman.

Luhan menggeliat di atas tempat tidur.

"Eung~ Sehunna!"

Sehun terperangah ketika Luhan menyebut namanya. Senang sekali rasanya mengetahui jika orang yang selalu ada di dalam mimpi Luhan adalah dirinya, terlepas dari indah atau buruk kah mimpi itu. Setidaknya mereka tetap bertemu walau pun di alam yang berbeda.

Mata rusa itu masih terpejam, rupanya Luhan hanya mengigau.

"Tukang ngigau.." Sehun berdecak.

Sehun membuka jendela kamar, sudah pukul 8 pagi dan sepertinya udara di luar sana sudah tak begitu dingin. Saat jendela itu terbuka, udara segar langsung berlomba memasuki ruangan yang mulai terasa pengap itu. Udara di dalamnya kini lebih segar. Lain dengan Sehun yang menikmati angin pagi, Luhan sibuk menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, sampai ia terlihat seperti kepompong.

"Dingin sekali.." gumam Luhan.

Matanya mulai terbuka, Luhan melihat ke sekitar kamar. Mata rusa itu langsung terbuka lebar saat sosok Sehun tertangkap jelas oleh matanya.

"Se-Sehun? Ah tidak! Direktur?" Luhan terkejut.

Ia langsung turun dari tempat tidur, lalu sedikit merapihkan rambut dan bajunya.

"Nyenyak?" tanya Sehun.

"Sekali." Jawab Luhan masih dengan nada judesnya.

"Mau pulang sekarang?" tawar Sehun.

"Dengan penampilan seperti ini? Mana mungkin.. Direktur pulang saja lebih dulu!"

Sehun berjalan mendekati Luhan, ia mendekatkan wajahnya pada Luhan. Lalu berbisik, "Bisa tidak kau sedikit lebih sopan padaku?"

Seketika seluruh tubuh Luhan menegang. Wajahnya menjadi kaku, biasanya ia akan keras kepala jika diberi peringatan, namun kali ini tidak. Baru saja bisikan dan Luhan sudah takut setengah mati. Mungkin karena aura dingin Sehun yang kuat atau tatapan matanya yang seperti akan menembakkan laser.

"Maaf." Jawab Luhan sangat pelan.

"Rapihkan bajumu, cuci wajahmu dan sisir rambutmu, aku akan menunggu di parkiran!" ucap Sehun seraya meninggalkan Luhan di dalam kamar.

Di kamar sebelah, tempat dimana Chanyeol dan Baekhyun tidur atau lebih tepatnya bercumbu tadi malam, keadaan tak jauh berbeda. Chanyeol bangun lebih dulu dari Baekhyun. Ia memperhatikan gerak-gerik Baekhyun dalam tidurnya. Sesekali ia menghela nafas, sepertinya sedang gelisah.

"Apa yang aku lakukan tadi malam!" racaunya sambil mengusak rambut hitamnya.

"Siapa itu?" suara Baekhyun terdengar, rupanya ia baru bangun.

"Baek?"

Baekhyun terdiam sesaat, mengingat-ngingat siapa pemilik suara bass itu.

"Chan?" ucapnya ragu.

"Ya?"

"Jadi kau Chanyeol?"

"Ya, kau sudah bangun?"

"Sudah."

Keduanya saling melempar pertanyaan singkat seperti orang linglung.

"Chan, kenapa kau ada di kamarku?" ucap Baekhyun masih terdiam di dalik selimut.

"Ini masih di Club, Baek."

"Apa?" Baekhyun kembali diam, perlahan ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya, ia terkejut sebab di tubuhnya hanya melekat celana pendek bermotif buah strawberry.

"Apa yang sudah terjadi?" gumam Baekhyun.

"Entah.."

"Chan! Apa yang sudah terjadi!?"

"Baek, tadi malam-"

"STOP! Jangan bilang kalau... YAAAAAA!"

Chanyeol menghampiri Baekhyun yang terlihat sangat shock, namun Baekhyun malah menjauhinya.

"Jangan mendekat!" teriak Baekhyun.

Chanyeol mengusap dahinya yang mulai pening meladeni sikap Baekhyun.

"Baek, dengar, kau yang pertama menci-"

"STOP! Aku mau pakai baju! Kau keluar!" lagi-lagi Baekhyun berteriak kepadanya.

Chanyeol yang sudah tidak tahan dengan suara cempreng Baekhyun pun keluar dari kamar. Ia membiarkan Baekhyun untuk memakai pakaiannya lebih dulu, sementara itu ia menunggunya di luar kamar.

Saat Chanyeol berdiri di depan kamar, Luhan terlihat baru keluar dari kamar sebelah.

"Kau belum pulang juga?" tanya Chanyeol sebagai sapaannya pagi ini pada Luhan.

"Kau sendiri?"

"Aku baru mau pulang."

"Kalau begitu, ayo!"

"Tunggu! Aku harus menunggu Baekhyun dulu."

Luhan terlihat jengah saat Chanyeol menyebut nama pria pendek itu.

"Tunggu! Jadi kalian tidur bersama tadi malam?"

"Ya, tapi ingat! Aku tidak memperkosanya!" sergah Chanyeol.

Luhan menatapnya bingung, padahal Luhan tidak berbicara apa pun yang menjurus pada hal 'itu'.

"Kenapa?" tanya Luhan. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan curiga.

"Kenapa apanya?"

"Kenapa kau berbicara seperti itu?"

"Bicara apa? ah~ hehehe..." dengan bodohnya Chanyeol malah tertawa saat menyadari mulut lebarnya itu sudah keceplosan.

"YA! Apa yang kau lakukan padanya!" bentak Luhan.

"Kan aku sudah bilang! Bukan aku yang memulainya!"

"Ya Tuhan Park Chanyeol!"

Klek..

Luhan dan Chanyeol berhenti berdebat saat pintu kamar di sebelah mereka terbuka. Baekhyun keluar dari dalam kamar itu, ia berjalan melewati Chanyeol dan Luhan dengan kepala menunduk. Sepertinya ia ingin menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu.

"Baek!" panggil Chanyeol.

Baekhyun tak menjawab, ia terus berjalan meninggalkan Chanyeol.

"Kalian berdua... aigoo!" gerutu Luhan hampir saja memukul kepala Chanyeol.


Sehun sudah berada di parkiran menunggu Luhan keluar.

"Sehun!"

Bukan Luhan rupanya yang berteriak, tetapi Baekhyun. Ia berlari menghampiri Sehun dengan wajah yang sepertinya akan menangis.

Greb!

Tanpa diduga, Baekhyun menghambur memeluk Sehun.

"Aku mau pulang! Cepat antar aku pulang!" ia merengek didada Sehun.

Sehun yang kebingungan pun hanya diam tanpa membalas pelukan Baekhyun. Beruntung Chanyeol dan Luhan sudah keluar dari Club, keduanya pergi menghampiri Sehun dan Baekhyun. Terlihat raut wajah Luhan yang menatap jijik ke arah Baekhyun.

"Kenapa anak ini?" Luhan berkata sambil melihat Baekhyun.

"Itu yang ingin aku tanyakan." Jawab Sehun.

Chanyeol adalah satu-satunya orang yang mengerti keadaan Baekhyun saat ini, ia hanya diam di belakang Luhan.

"Kenapa dia?" tanya Sehun melihat Chanyeol.

"Dia-"

Belum Chanyeol menuntaskan ucapannya, Baekhyun sudah berteriak.

"Jangan bicara! Ayo pulang saja!"

"Berisik!" geram Luhan. Lalu ia pergi menuju tepi jalan untuk menunggu Taxi. Sehun yang berharap bisa mengantar Luhan pulang pun terlihat kecewa.

"Kau akan mengantar Baekhyun pulang kan? Kalau begitu aku dan Luhan pergi duluan!" Chanyeol menundukkan kepalanya sekilas untuk memberi salam.

Sehun hanya bisa menganga, ia bahkan tak sanggup untuk berkata 'Tunggu!' lalu ia melirik Baekhyun yang masih bersembunyi didadanya. Ia mendesah frustasi lalu menjauhkan tubuh Baekhyun yang menempel pada tubuhnya.

"Kau kenapa sih? Aneh begini..."

Baekhyun menggelengkan kepalanya yang masih menunduk. Setelahnya ia pergi ke dalam mobil Sehun tanpa berkata apa pun lagi.


Setelah kemarin berpesta ria bersama Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun, Luhan kembali bekerja sebagai security di Perusahaan Golden Fish. Ia bersikap seolah tak terjadi apa pun, padahal kemarin itu mereka seperti pasangan muda yang sama-sama merayakan hari jadi mereka. Entah apa jadinya jika ia bertemu dengan Sehun hari ini.

Bersikaplah seperti biasa Xi Luhan!

Lima kata itulah yang sedari tadi bergemuruh dalam benaknya.

Baru beberapa hari, namun ia sudah merasa nyaman untuk berjaga di tempat ini. Bahkan ia sudah mulai terbiasa untuk berbagi oksigen dengan orang-orang di dalamnya. Padahal sebelumnya, Luhan menganggap tempat ini sebagai pasar ikan yang bau dan busuk. Entah apa alasannya, ia malah betah bekerja disini.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, Luhan mendengar teriakan dari seorang wanita.

"Pencuri!"

Tanpa berpikir panjang ia segera mengejar pencuri itu. Wanita yang baru saja diambil tasnya oleh si pencuri segera menelpon polisi –beruntung ponselnya masih ditangan. Masih di depan gedung perusahaan, Luhan berlari mengejar si pencuri. Ini hal yang sepele baginya, di Club dulu ia bahkan pernah melawan segerombol preman yang menolak untuk membayar minuman. Saat itu Chanyeol babak belur sampai tiga hari tidak masuk ke Club, tapi Luhan hanya mendapat luka lecet di pipinya.

Mungkin tubuhnya lebih kecil dari si pencuri itu, namun gerakannya lebih gesit. Luhan berhasil menggapai punggung si pencuri, ia menarik bajunya hingga keduanya terjatuh. Belum si pencuri berdiri, Luhan sudah lebih dulu berada di atasnya dengan posisi kaki yang menginjak perut si pencuri.

"Kau salah sasaran, teman." Luhan tersenyum miring.

"Minggir kau anak kecil!"

"Hahaha.. ada dua hal paling kubenci! Pertama, saat orang memanggilku manis atau cantik, dan kedua saat mereka memanggilku seperti anak kecil. Kau menambah pekerjaanku saja, teman."

Bugh!

Luhan berkali-kali memukul wajah si pencuri itu, namun bukan berarti tanpa perlawanan. Saat Luhan sibuk menarik kerah baju si pencuri agar membuatnya berdiri, tangan pria berkepala botak itu sibuk mencari sesuatu di saku jaketnya.

Pisau lipat.

Salah satu benda yang wajib dimiliki oleh para penjahat. Mereka tentu menggunakan benda itu untuk perlawanan atau sekedar ancaman.

Sreett bugh!

Dan Luhan tentu tidak bodoh, ia tahu perlawanan semacam itu. Saat tangan si pria berkepala botak itu siap menghunuskan ujung pisau yang amat tajam ke dalam perut dan mengoyak kulitnya, Luhan dengan sigap menepis tangan itu lalu memutarnya hingga terdengar suara seperti retakan. Mungkin tulangnya patah.

"Aaaakh!" pekik si pencuri.

Brukk!

Luhan menjatuhkan tubuh si pencuri ke atas tanah, membiarkannya merintih kesakitan lalu ia mengambil dompet yang dicuri itu.

"Pak, jangan memberi makan keluargamu dengan uang ini. Kalau mau, kau saja. Karena mereka tidak tahu apa-apa." ucap Luhan.

Saat ia berbalik badan dan melangkah pergi, pencuri itu berdiri lalu berlari ke arahnya. Dengan pisau yang masih digenggamnya, ia berencana akan menusuk Luhan dari belakang. Namun..

Sreeett!

Luhan menangkisnya sekali lagi.

"Sungguh, kau ingin melihat darah hari ini!?" geram Luhan.

Suara sirine dari mobil polisi pun akhirnya terdengar. Setelah terjadi perkelahian yang lumayan melelahkan bagi Luhan, beruntung polisi datang dan membereskan sisanya. Sementara Luhan kembali berjaga di depan pintu perusahaan setelah menyerahkan dompet itu kepada si pemilik.

"Akh!" Luhan meringis.

Ia merasakan perih di bagian perutnya, padahal si pencuri tadi sama sekali tak memukulnya. Mobil hitam yang akhir-akhir ini sudah sering dilihatnya datang dengan dua mobil lainnya yang mengikuti dari belakang. Sehun, si pemilik mobil mewah itu keluar dari dalam mobil. Ini sudah pukul jam 8, dan memang waktunya ia datang ke kantor.

Luhan membungkuk untuk memberi hormat kepadanya, dan sialnya rasa perih di perutnya semakin terasa saat ia membungkuk. Ia meringis tepat saat Sehun berjalan didepannya dan suaranya itu terdengar oleh Sehun. Namun seperti biasa, ia bersikap seolah tak peduli. Sehun terus berjalan ke dalam Kantor.


Pukul 8 malam, sudah waktunya Luhan pulang. Seharian sibuk berjaga, ia sampai lupa untuk memeriksa keadaan perutnya yang tadi pagi terus-menerus terasa perih. Sebelum pulang ke rumah, Luhan mengganti seragamnya terlebih dahulu dengan baju yang lebih simple seperti kaus dan jeans. Ia menggantungkan seragamnya di dalam ruangan kecil khusus untuk security.

Luhan langsung pergi setelah mengganti pakaiannya. Beberapa menit setelah ditinggal Luhan, Sehun sampai didepan ruangan kecil itu. Ia masuk ke dalamnya untuk mencari Luhan, namun yang ia temukan hanya seragamnya yang tergantung di dinding. Keningnya berkerut saat melihat noda darah pada seragam kerja Luhan itu.

Sehun mengambil seragam itu.

"Kenapa dia?" gumamnya.

Noda darah itu Luhan dapatkan saat berkelahi dengan pencuri tadi. Tanpa ia ketahui, pisau lipat yang digunakan si pencuri tadi berhasil menyayat perutnya sampai mengeluarkan darah.

"Bodoh!"

Sehun berlari keluar gedung untuk mencari Luhan. Lalu pergi ke arah halte karena Luhan sudah tidak ada di depan kantor, beruntung Luhan masih ada di halte sedang menunggu bis.

Sehun tersenyum saat melihatnya tengah duduk seorang diri di halte. Ia berjalan menghampirinya.

"Luhan?"

Si pemilik nama terkejut lalu ia menoleh ke arah Sehun yang memanggilnya.

"Direktur? Ada apa?"

"Ini!"

Sehun memperlihatkan noda darah itu pada Luhan.

"Darah siapa itu?" tanya Luhan.

Tanpa menjawabnya Sehun malah menarik kaus Luhan ke atas sampai perutnya terlihat.

"Apa yang kau lakukan Diretur!"

"Bodoh! Lihat kau terluka!" kesal Sehun.

Luhan melihat perutnya dan benar saja ada luka gores yang cukup dalam disana.

"Eh? Kenapa bisa?"

"Kau bahkan tidak tahu luka ditubuhmu sendiri!"

"Tadi aku tidak sempat memeriksanya.. tapi kenapa Direktur bisa mendapatkan seragamku?"

"Bukan waktunya bercerita, sekarang kita obati lukamu!"

"Aku bisa sendiri!"

"Bisa infeksi!" bentak Sehun.

Luhan terdiam, ia sudah tidak bisa melawan lagi kalau Sehun sudah marah seperti ini. Lantas ia pasrah saja ditarik oleh Sehun untuk mengikutinya pergi entah kemana.

"Klinik?" Luhan menatap gedung putih didepannya.

"Sepertinya harus dijahit." Ucap Sehun.

"Tapi pengobatan dirumah saja sudah cukup!"

"Diam!"

"Oke.."

Satu jam setelah pengobatan Luhan selesai, Sehun langsung menebus biayanya dan mengajak Luhan untuk pulang.

"Aku bisa naik bis.." jawab Luhan menolak tawaran Sehun.

"Kau tunggu disini, aku akan menjemputmu."

Luhan mendesah saat Sehun sama sekali tak menanggapi ucapannya. Lagi-lagi ia pasrah diatur ini itu oleh Sehun.

Tiiin!

Sehun menekan klakson mobil saat ia sampai di depan klinik. Luhan melihatnya lalu ia berjalan mendekati mobil Sehun.

"Masuk!" pinta Sehun padanya.

Luhan pun masuk ke dalam mobil.

"Tunjukkan dimana rumahmu."

"Baiklah.."


Sehun menatap bangunan kecil yang Luhan sebut sebagai rumahnya itu. Tak bisa disebut sebagai tempat tinggal yang nyaman baginya, tidak ada pekarangan dan banyak selotip yang menempel pada kaca jendela karena retak. Banyak perkakas yang berkarat tersimpan di depan rumah, menambah kesan kumuh pada rumahnya. Sehun menatap sendu pada kondisi itu.

Luhan melirik Sehun yang sedari tadi memperhatikan tempat tinggalnya.

"Direktur?" panggil Luhan.

"Ya?"

"Terima kasih untuk semuanya!" Luhan keluar dari mobil lalu berjalan menuju rumah.

Ia sekali lagi membungkuk kepada Sehun sebagai tanda hormat sekaligus terima kasih. Sehun tak memberi respon apa pun, ia hanya memperhatikan Luhan dan rumah yang ada dibelakangnya. Tanpa mengubah sedikit pun raut wajahnya yang dingin, Sehun mulai menjalankan mobilnya, lalu pergi.


Tinggal menghitung hari menuju musim dingin, Luhan akan mempersiapkan ritualnya untuk menyambut musim penuh salju itu seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Di belakang perumahan tempat tinggalnya, ada sebuah bukit kecil yang kayunya bisa diambil oleh semua anggota masyarakat disana. Mereka biasanya berlomba untuk mendapatkan kayu-kayu itu.

Saat musim dingin, cerobong asap di setiap rumah akan kembali mengepulkan asap dari pembakaran kayu sebagai penghangat ruangan. Untuk itulah mereka mengumpulkan kayu. Cara tradisional ini belum Luhan ubah, sebenarnya ia mampu untuk membeli penghangat ruangan yang lebih modern, tapi baginya ada hal yang lebih penting daripada memasang alat itu di rumahnya. Ia tabungkan separuh uangnya untuk rencana lain.

Udara pagi mulai terasa dingin, Luhan keluar rumah dengan mengenakan jaket tebal. Namun entah siapa, seseorang telah menunggunya di depan rumah.

"Tuan Xi Luhan?"

"Saya sendiri, kenapa?"

"Saya hanya ingin menyampaikan surat keterangan ini."

Pria paruh baya bermantel cokelat itu memberikan satu map kepada Luhan.

"Surat keterangan?"

Luhan pun membuka lalu membaca isi surat itu. Ia terkejut saat membacanya, pasalnya surat keterangan itu berisi tentang peralihan kepemilikan rumah yang Luhan tempati saat ini.

"Maksudnya rumah ini bukan milikku lagi?"

"Maaf, tapi ada orang yang ingin membeli rumah ini, Tuan Xi."

"Aku rutin membayar tagihan, dan aku menyewa rumah ini dengan harga normal! kenapa kau jual!?"

"Maaf Tuan.."

"Aku memang selalu kalah dengan uang! Aku tidak peduli dengan surat ini! Ini tetap rumahku!"

"Tuan!"

"Maaf Pak, kau menjualnya tanpa persetujuanku, aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja."

"INI RUMAHKU! KAU PIKIR KAU SIAPA!?" pria itu balas membentak Luhan sampai ia terdiam.

"Kemasi barangmu!" sambungnya dengan suara lebih rendah.

"Ha-hari ini?"

"Ya."

"Oh My God!"


"Apa!? kenapa tiba-tiba!?"

"Entahlah Chan.. aku juga shock!"

"Lalu kau akan tinggal dimana nanti?"

Luhan menatap Chanyeol dengan tatapan penuh harap. Anjing pudel ini kembali beraksi dengan wajah polosnya -_-

"Tidak mempan Xi Luhan.." ucap Chanyeol.

"Lalu aku akan tinggal di pinggir jalan, begitu?" ia mulai merengek.

"Kau kan bekerja di Golden Fish, apa gajihmu masih kurang untuk membeli atau menyewa rumah lagi?"

"Masalahnya, aku tidak tahu dimana tempat sewa rumah yang murah!"

"Aku tahu dimana..."

Luhan dan Chanyeol menoleh ke arah suara yang baru mereka dengar lagi.

"Sehun?"

"Direktur?"

"Kau tidak masuk kerja?" Sehun menatap Luhan.

"Aku ambil shif malam."

"Ku dengar ada yang mencari tempat sewa rumah?"

"Ya, Luhan! dia baru saja diusir-"

"YA!"

"Oke maaf.."

Sehun duduk di depan Chanyeol dan Luhan.

"Ada urusan apa Direktur kita ini?" ucap Chanyeol.

"Baekhyun tidak ada disini?" tanya Sehun.

"Jadi kau datang kesini untuk mencari anak itu?" gumam Luhan.

"Dia tidak pernah kemari lagi setelah kejadian itu."

"Kejadian apa?" tanya Sehun dan Luhan serentak.

Chanyeol sadar ia baru saja merangkai kata yang salah.

"Kejadian... eng~ saat kita pesta!" jawabnya diakhiri cengiran.

"Memangnya dia hilang sejak kapan?" kini Luhan yang bertanya.

"Kemarin malam.. Presdir Byun menyuruhku untuk mencarinya! menjengkelkan..."

Luhan tersenyum, ia senang ternyata Sehun mencari Baekhyun dengan terpaksa, bukan kemauannya sendiri. Tapi kenapa ia harus senang?

"Kenapa tersenyum?" Chanyeol menatap aneh Luhan.

"Tidak papa.. tidak boleh?" sergahnya.

"Baiklah kalau tidak ada," Sehun berdiri dari kursi "oh iya.. Luhan, jam 5 sore nanti datang ke kantor." Lanjutnya.

"Untuk apa? masuk kerjanya kan jam 8..."

"Datang saja!"

"Baiklah..."

Chanyeol menahan tawanya melihat sikap Luhan.

"Kau jadi penurut eoh?" goda Chanyeol.

"Cari mati?" bisik Luhan.

Chanyeol pun terdiam setelah mendengar nada bengis dari anjing pudelnya ini. Luhan menatap punggung lebar Sehun yang mulai menghilang di balik pintu Club.


Pukul 5 sore, sesuai perintah dari Sehun, Luhan datang ke kantor namun tanpa berseragam. Itu juga karena perintah Sehun. Luhan menunggunya di cafetaria dekat kantor, dan itu juga usul dari Sehun.

"Menunggu lama?" Sehun akhirnya datang membuat Luhan mengulas sebuah senyuman.

"Tidak juga, Direktur."

"Ayo pergi!"

"Kemana?"

Sehun tak menjawabnya, namun ia menarik tangan Luhan untuk membawanya pergi ke tempat yang akan menjadi jawaban dari pertanyaannya itu.

Sekitar 30 menit mereka berkendara dan akhirnya Sehun berhenti di suatu tempat, tepatnya di depan sebuah rumah kecil namun terlihat indah, bersih dan nyaman. Ada halaman kecil yang dibatasi oleh pagar putih, jalan setapak buatan yang menuju pintu utama dan rumput hijau pendek yang terawat. Luhan sangat suka melihatnya. Namun tak ada rumah lain selain rumah kecil itu. Hanya ada taman dan danau buatan di sekitarnya. Percis seperti rumah lamanya.

"Ini rumah siapa?" tanya Luhan.

"Rumahmu."

"Apa!?"

"Kau kan sedang mencari rumah baru?"

"Tapi-"

"Kau tidak suka?"

"Aku suka, tapi... pasti mahal."

Untuk kesekian kalinya Sehun ingin tertawa namun ia pendam sedalam mungkin. Tingkah Luhan memang kadang polos, bahkan terlalu polos untuk preman kampung sepertinya.

"Tidak mahal kok,"

"Tunggu! Apa Direktur sengaja mencarikan rumah untukku?"

"Kurang lebih.."

Sehun membuka pintu mobil lalu keluar. Ia berjalan melewati halaman rumah lalu membuka pintu rumah dan memasukinya. Luhan segera menyusul Sehun, ia juga penasaran dengan isi dari rumah mungil itu.

"Woah~" Luhan menatap takjub seisi ruangan di dalam rumah yang bercat kuning itu.

Rapih dan minimalis, Luhan suka dengan gaya rumah kecil ini. Ia langsung betah walau baru sekali menginjakkan kakinya di dalam rumah ini. Sehun meliriknya lalu ikut tersenyum. Usahanya berhasil.

"Jadi, kau mau pindah ke sini?"

"Eumm... berapa biayanya?"

"Kau hanya perlu membayar 10 juta per tahun."

"Per tahun?"

"Ya!"

"Woah~ benarkah!" Luhan terlihat begitu senang.

Sehun menangguk mantap.

"Woaaaahh! Aku suka tempat ini! Terima kasih Direktur! Terima kasih!" Saking senangnya ia melompat-lompat sambil memegang kedua tangan Sehun –tanpa sadar.

"Eh?" ia langsung menjauh dari Sehun setelah menyadari sikapnya itu.

"Aku mau melihat kamar tidurnya dulu..." Luhan menurunkan pandangannya dan berkata dengan canggung.

Di dalam kamar yang juga bergaya sama dengan cat berwarna biru langit, Luhan menatap satu per satu benda dan hiasan yang ada di dalam kamar.

"Ini seperti di hotel bintang lima! Hebat!" ia bersorak.

"Kau hanya perlu membayar uang muka sekitar 8 juta." Sehun berbicara di ambang pintu.

Luhan menoleh kepadanya.

"Hanya 8 juta?" mata rusa itu semakin berbinar.

"Iya.."

"Uwaaahh! Ini benar-benar hebat! Ya! darimana kau mendapatkan tempat seperti ini? Hebat sekali! Direktur Jjang!" ucap Luhan sambil mengangkat kedua jempolnya.

"Dasar.." gumam Sehun.


Menjelang malam, Sehun dan Luhan masih berada di dalam rumah kecil itu. Mereka baru saja mengurus surat-surat kepemilikan rumah, dan mulai besok Luhan bisa memindahkan semua barangnya ke rumah ini. Setelah membereskan semua surat-surat itu, Luhan pergi ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

"Jauh lebih empuk! Punggungku tidak akan sakit lagi mulai besok.."

Sehun mendengarnya dari luar, ia merasa senang sekaligus sedih mendengarnya. Selama ini ia tidur di tempat yang empuk, dan jauh berbanding terbalik dengan keadaan kakaknya yang tidur diatas kasur tipis yang bahkan rasanya seperti tikar.

"Hyung..." lirihnya.

Beberapa saat berlalu, Sehun masih berdiri di depan kamar. Pintu kamar tertutup, dan sudah beberapa menit ia berdiri namun ia tak mendengar suara apa pun dari dalam kamar.

"Apa dia tertidur?"

Sehun pergi ke dalam untuk memeriksanya. Dan benar saja, Luhan tertidur. Ia meringkuk di atas tempat tidur seperti bayi di dalam perut ibunya. Sehun tersenyum melihatnya. Ia meraih selimut dibawah kaki Luhan, lalu membukanya lebar-lebar dan menutup tubuh Luhan sebatas perut dengan selimut itu.

"Sehun.."

Luhan kembali mengigau dengan menyebutkan nama sang adik. Si pemilik nama sebenarnya ada di depan Luhan saat ini, tapi ia tak tahu. Walau bertatap muka sekali pun, Luhan tak menganggap Sehun sebagai adiknya, itu semua karena Sehun sendiri yang menutupi identitas aslinya pada Luhan.

"Apa setiap malam kau menyebut namaku?"

"Aku senang, hyung.."

"Terima kasih, kau masih mengingatku."

Sehun berbicara satu arah.

Dari sudut mata Luhan, Sehun melihat lelehan air mata. Ia menangis, lagi. Setiap malam, setiap kali ia memimpikan Sehun, ia pasti menangis.

Sehun yang berdiri di samping tempat tidur mulai merasakan sakit yang sama dengan Luhan. Semakin deras saja air mata keluar dari matanya.

"Hey.. kenapa kau selalu menangis?"

Sehun menunduk, ia menghapus air mata Luhan dengan jemarinya.

"Jangan sampai kau menangis di depan orang lain selain aku.."

Tanpa terduga, tangan Sehun yang mulai menjauh dari wajah Luhan tertahan oleh tangan lain. Mata yang terpejam dihadapannya perlahan terbuka. Luhan bangun dari tidurnya, dan kini mereka saling melempar tatapan dengan jarak yang begitu dekat.

"Kau.. bangun?"

"Sehun? Benar kau Sehunku?" lirih Luhan.

"Kau.. mengenaliku?"

"Sehun... Sehun-ah.."

"H-hyung?"

"Aku merindukanmu Sehun-ah!"

Luhan bangun dari tidurnya, ia beranjak turun dari tempat tidur lalu berdiri tepat di depan Sehun.

"Kau begitu tinggi! Dan kenapa sekarang kau terlihat lebih tampan?" Luhan berkata dengan mata yang menatap sendu.

Ia meraih wajah Sehun dengan kedua tangannya. Kakinya berjinjit untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sehun.

"Kau tampan sekali... tunggu! Kau bukan Sehunku! Kau... Direktur yang sombong itu kan?"

Sehun melotot mendengarnya.

"Benar! Kau Direktur sombong yang seperti albino itu! Woahh! Bagaimana bisa kau sangat mirip dengan adikku? Kau mencuri wajah tampannya ini eoh?" racau Luhan.

"Apa dia bisa mabuk saat tidur?" gumam Sehun.

"Kau sungguh menyebalkan! Dan temanmu yang bermata sipit itu juga lebih menyebalkan!"

"Baekhyun?"

"Naah! Kau tahu namanya!"

"Ya! Xi Luhan! kau-"

"Tapi aku menyukaimu.."

Sehun terdiam.

"Sungguh.. otak bodohku ini menyukai pria menyebalkan sepertimu, buktinya yang ada di otakku hanya nama dan wajahmu.. menyebalkan bukan?"

"..." Sehun tak berkata apa pun.

Luhan memegang kedua pundak Sehun lalu maju satu langkah untuk lebih dekat dengannya. Dengan tiba-tiba, Luhan mencium bibir kissable Sehun cukup lama. Setelahnya ia kembali menjauhkan kedua bibir itu.

"Aku tidak tahu sejak kapan, tapi saat kau menatapku di kantor, membentakku, memarahiku karena perutku terluka, dan membantuku mencarikan rumah, aku sangat tersentuh dan menyukai semua perlakuanmu itu.. kalau kau tidak suka padaku, menjauhlah dariku, karena aku tidak pandai untuk melupakkan perasaan seperti ini."

Sehun menatap Luhan begitu lekat, rasanya bila ia berkedip, sosok manis di depannya ini bisa saja hilang.

"Sehun... aku tidak memaksamu untuk menyukaiku, maka dari itu-"

Chup~

Sehun mengecup bibir Luhan sampai ucapannya menggantung.

"Akan kulupakan semua rencanaku untuk saat ini," ucap Sehun "Aku hanya ingin malam ini menjadi malam yang indah dan panjang untuk kita.."

Chup~

Ia kembali mencium bibir Luhan, memegang pinggangnya dan menariknya untuk lebih dekat dengannya.

"Love you too.. deer.."

Luhan perlahan tersenyum mendengar pernyataan manis itu dari mulut Sehun. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Sehun dan masih berjinjit agar wajahnya sejajar dengan Sehun.

Sehun kembali mengecup bibir Luhan berkali-kali. Semakin lama bibir itu terasa lebih manis dan menggiurkan, ia bahkan rela menukar 100 permen lolipop dengan bibir Luhan yang menurutnya jauh lebih manis. Keduanya terjatuh dalam ciuman yang semakin lama semakin menuntut itu. Sehun memegang kedua sisi pinggang Luhan agar tubuhnya lebih terangkat.

"Eung~"

Sehun melepas pautan mereka.

"Kenapa?" tanya Sehun.

"Pegal.." jawab Luhan.

Sehun tersenyum.

"Mau pindah tempat?"

"Kemana?"

Sehun melirik tempat tidur yang ada di belakang Luhan.

"Kau serius?"

Tanpa menjawab pertanyaan Luhan lagi, Sehun mendorong tubuh Luhan perlahan mendekati tempat tidur.

"Biar tidak pegal saja.." ucapnya.

"Pervert!" ejek Luhan.

Sehun menjatuhkan tubuhnya dan Luhan secara bersamaan, kedua lengan Sehun memeluk pinggang Luhan dan posisi mereka kini sangat pas untuk kegiatan panas mereka selanjutnya. Sehun memulainya dengan mencium bibir Luhan lebih menuntut dan nafsu yang menggebu-gebu. Lidah keduanya bermain di salah satu goa lembab itu, Luhan mengusap kepala Sehun yang tak henti bergerak di atasnya.

Malam yang panjang akan mereka lewati dengan deru nafas, keringat, dan kenikmatan yang membuai keduanya.


Chanyeol bersiap untuk menutup Clubnya malam ini. Sudah pukul 11 malam dan waktunya Club di tutup. Ponselnya yang disimpan di atas meja bergetar, ia segera meraih ponselnya itu setelah melihat nama kontak yang memanggilnya.

Baekhyunnie

"Hallo Baek?"

"Chan? Akhirnya ada yang mengangkat telponku!"

"Kau dimana? Tadi Sehun mencarimu!"

"Dia mencariku? Benarkah? Tapi kenapa dia tak mengangkat telponku? Kau bohong ya!"

"Benar, dia mencarimu! Tapi kau sekarang dimana?"

"Chan, tolong jemput aku! Aku takut disini..."

"Kau dimana?"

"Aku- Chan!"

Brakk!

Piiiip..

Chanyeol mendengar suara benda jatuh disana dan tiba-tiba sambungan telpon dari Baekhyun terputus. Sontak ia kini sangat mencemaskan keadaan Baekhyun, dimana dan sedang apa dia sekarang.

Setelah menutup Club, ia segera memacu mobilnya dengan cepat, namun entah ia harus kemana.

.

.

.

TBC

Yoleihoooo~

First, gue mau minta maaf karena late update :3

Second, gue tentu mau ngucapin terima kasih buat kalian karena udah mau baca karangan aneh gue :*

And Last, gue mau pidato bentar :v

Oke, kenapa gue late post? Gue butuh ide mamen! Dan ide itu sialnya malah muncul tiap jam 9 malem, alhasil gue musti gadang buat ngetik lanjutan FF ini -,- kalo siang gue gak punya waktu banyak buat mantengin laptop jadi kalo gak sore ya malem /lah kenapa malah curhat?/ dan yaaaaaa gue tunggu aja dulu review dari kalian, kalo banyak ya guenya pan semangat jadi bisa fast update, tapi kalo dikit you know i know lah rasanya kaya gimana :3

Sekian pidato singkatnya, kalo ada unek-unek yang bikin enek silahkan keluarin di kolom komentar... :) :)

Follow my instagram : oohpuuut (whehehe..)

Terima kasih buat semua pembaca TFB, yang udah follow, fav, review dan Cuma sekedar baca doang.. lafyuuu~