Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
...
Semburat cahaya sang surya tampak malu-malu menyelinap ke kamar itu melalui jendela yang terbuka sedikit. Sinar keemasannya menyebabkan sang pemilik kamar mengerang, tampaknya rasa hangat menjalari wajah wanita itu.
Ia pun mengambil seonggok bantal yang tergeletak disampingnya, untuk menutupi wajahnya. Tetapi tiba-tiba ia bangkit dengan cepat dan mata yang melotot menatap tengah ranjang yang sedikit ternodai membuat rasa kantuknya hilang.
Tunggu,
Ia lalu lompat dari ranjang menuju ke dinding, tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti karena merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Otak jeniusnya segera bergerak cepat menyadari ada sesuatu yang janggal.
Noda di kasur yaitu darah.
Rasa sakit di bagian pribadinya.
Badan yang terasa pegal.
Padahal ia berpikir tak terjadi apapun semalam, dan terkecuali rasa pusing dengan pandangan kunang-kunang yang menyergapnya semalam saat ia memasuki kamar untuk menemui mulai curiga, dengan cepat ia berjalan tanpa peduli rasa sakit yang dideritanya menuju ke dinding yang ternyata ada kalender menggantung disana.
Tanggal 24, tunggu...
Wanita itu merasa bahwa jadwal bulanannya sudah selesai seminggu yang lalu, yang berarti...
"AYAH!"
...
Hinata's
Aku menuruni tangga dengan cepat, aku tak peduli lagi rasa sakit yang menjalar. Yang penting aku harus mendengar penjelasan mereka, tentu saja aku tak begitu bodoh tak menyadari apa yang terjadi padaku. Percuma bagiku yang sudah lulus dengan usia belia dan pernah melakukan penelitian ini tak menyadari hal kecil yang terjadi padaku.
Aku pusing dengan kelakuan para orang tua yang terlalu mencampuri urusan rumah tangga anak mereka. Dan hey! Apa-apaan itu karena mencampur obat perangsang ke dalam minuman. Ugh, sekarang hartaku yang berharga sudah diambil. Oh, mungkin mereka pikir rencana mereka berhasil karena berpikir telah mengelabuiku. Salah satunya adalah aku yang terbangun dengan pakaian lengkap, dan juga pria menyebalkan—maksudku suamiku itu tak ada di kamar saat aku terbangun.
Aku pun melewati ruang keluarga. Ayah, Naruto-san, Ibu dan ayah mertuaku, dan juga Hanabi duduk di atas karpet dengan meja bundar di tengah mereka. Mereka tampak tertawa terbahak-bahak saat ibu mertuaku memperagakan bebek yang sedang berjalan dengan suara meniru hewan itu.
Rasanya aku ingin tertawa juga, tetapi mengingat rasa amarahku pada mereka membuatku mengurungkan niat untuk tertawa. Dengan nada yang dingin kelewat dingin dengan raut datar khas milikku sudah terpatri sempurna.
"Aku ingin mendengar penjelasan kalian semua."
Mendadak suasana menjadi hening. Hanabi langsung kabur menuju teater, ibu mertuaku juga mengintili Hanabi. Ayah mertuaku, entah sejak kapan ia pergi.
Dan sekarang yang tersisa disini adalah aku, suamiku, dan ayah.
Aku mendekati meja itu dan duduk dihadapan mereka berdua dengan hawa intimidasi yang diturunkan oleh ayahku. Aku memicingkan mataku melihat Naruto-san yang hanya memalingkan wajahnya dariku. Aku menarik napas dan membuangnya dengan kasar.
"Lima menit penjelasan."
Aku menatap jam yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kiriku. Aku mendengar ayah menghela napasnya dan terdiam, mungkin merangkai kata-kata yang tepat untuk diutarakan. Aku pun juga terdiam membiarkan ayahku berpikir seraya menatap tajam pria yang berstatus suamiku itu. Oh, dia hanya menatap grand piano putih milikku itu yang terletak di pojok ruang ini.
Sekali lagi, aku mendengar helaan napas dari ayah. Tatapannya padaku tampak bersalah, rasanya aku telah berdosa karena membuat beliau seperti itu dengan tatapan intimidasiku.
"Maafkan ayah, semua ini ayah lakukan untuk masa depanmu, Hinata."
Aku tertawa sinis mendengarnya, untuk masa depan katanya? Aku kembali menatap jam tanganku.
"Tiga menit ."
Jeda beberapa detik, aku hanya terdiam.
"Ayah ingin kamu terlihat bahagia. Ingat saat Gaara mencoba untuk melamarmu? Saat itu ayah sangat semangat untuk menerima lamarannya, karena sifatnya, pekerjaan, bahkan asal-usulnya menjadi seorang menantu idaman. Tetapi kamu menolaknya, bahkan para pria rela berbondong-bondong untuk memilikimu,"
"Tetapi kamu hanya menolak, menolak, dan menolak. Sampai kapan Hinata? Ayah berpikir seperti itu. Saat ada secercah harapan bahwa ayah tahu kamu berpacaran dengan—" Dengan segera aku mengangkat tanganku untuk menghentikan ucapan ayah. "Bukan, aku tak pernah berpacaran dengannya. Ayah dan Kushina-san salah tanggap. Bahkan aku beru bertemu dengannya selama beberapa hari."
Aku kembali melirik jam tanganku.
"Satu menit."
"Ayah ingin melihatmu bersama lelaki lain, yang dapat menjagamu, mengawasimu, dan menyayangimu masa tua yang akan menemani ayah. Ayah tak ingin khawatir pada mutiara kecil ayah, kamu selalu menjadi mutiara kecil ayah yang telah menemani ayah selama ini, bersama dengan Hanabi dan juga ibumu yang sudah berada di sana."
Oh Tuhan... bolehkah aku menangis?
"Tetapi ayah mempunyai maksud lain untuk memasukan obat perangsang itu ke minumanmu."
Aku mengernyitkan dahiku.
"Ayah menginginkan cucu."
Cucu? Aku bahkan tak berpikir untuk mempunyai anak. Bahkan aku tak dapat membayangkan kehidupanku nanti saat sudah menjadi seorang ibu.
Aku mengangkat tangan kiriku, melihat waktu yang aku tentukan.
"Waktu habis."
Kulihat raut wajah ayah tampak lega, aku pun menarik sudut bibirku untuk tersenyum. Aku menyilangkan tanganku di dada.
"Ayah boleh pergi, aku ingin berbicara dengannya."
Ayah mengangguk samar dan menjauhi kamu berdua. Aku menatap dirinya yang kepalanya di topang dengan tangannya, sampai ia bersuara.
"Tadi malam kau cukup liar."
HAH.
"Lihatlah ini," dia menunjukan lehernya yang terdapat banyak bercak merak.
"Ini,"
Ia menunjukan bahunya, bercak merak ada disana juga.
"Dan ini."
Dia berbalik dan mengangkat kaosnya, memperlihatkan punggungnya yang terdapat banyak cakaran disana. Errr, apakah itu perbuatanku?
"You so damn freak." Ia menyeringai ke arahku. Aku bergidik melihat seringaiannya, rasanya nyaliku menciut lima persen.
"A-APA YANG KAU BICARAKAN!" Aku menerjangnya dengan melempar bantal dari sofa. "Itu adalah kenyataannya. Kau bahkan menginginkannya la—"
Bugh bugh bugh
Aku berdiri dan memukulnya menggunakan bantal. Tak peduli dengan ringisannya, aku mencubit lengan berototnya itu. ia pun berlari, dan aku pun mengejarnya. Terjadilah kejar-kejaran dengan mengelilingi rumah luas ini.
...
Keesokan harinya aku langsung pergi mengajar karena jengkel dengan pria kuning itu. Semalam aku tak tidur seranjang dengannya.
Berdasarkan dari penjelasan ayah mertuaku bahwa Naruto-san melakukannya dalam keadaan sadar. Dan berpura-pura pusing, dan itu adalah rencana jahat yang dibentuk oleh ayah dan ibu mertuaku. Oke, aku tahu bahwa dui jahil itu sangat terkenal dengan keusilannya. Walaupun ayah memiliki sifat dingin dan datar, tetapi keusilannya sangat tinggi.
Coba kalian bayangkan, aku mendengar cerita dari ayah mertuaku. Ayah dan Kushina-san dulu adalah trouble maker. Awalnya aku kaget dan mendengarkan ceritanya. Catatan kriminal mereka menumpuk di ruang kedisiplinan. Kalau Kushina-san aku maklum karena dilihat dari raut wajahnya yang sudah ketebak. Tetapi ayah? Dengan raut tegas, datar, dan dingin mempunyai sifat usil.
Minato-san menceritakan salah satu kelakuan yang dilakukan oleh mereka berdua. Pada saat jam istirahat, ayah dan ibu mertuaku tak sengaja melewati toilet guru. Tiba-tiba terlintas di otak mereka berdua untuk mencari mangsa, mereka pun berdiam diri toilet itu sampai ada seorang guru memasuki toilet itu.
Saat guru itu memasuki salah satu bilik toilet mereka mengendap-ngendap, ayah mengunci pintu toilet, sementara Kushina-san berjalan mendekati bilik itu. Dan apa yang mereka dapat? Yaitu mencuri celana dalam guru itu, dan celana dalam itu berwarna kuning dengan polkadot kuning tua. Parahnya celana dalam itu mereka tempel di mading dan bertuliskan.
'Mirip Spongebob ya :p '
Dengan panah yang menunjuk celana dalam itu.
Aku langsung tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu. Ya ampun ayah...
...
"Sekarang kita akan membahas ulang tentang Trigonometri, buka halaman seratus dua."
Aku mengambil spidol di papan tulis dan menggambar segitiga, kemudian menuliskan beberapa kalimat disana. "Baik, saya akan menanyakan apakah kalian masih ingat sudut istimewa mengingat itu akan keluar di ujian nanti."
Terdengar keberisikan melanda kelas ini, wajah mereka pucat. Aku rasanya kasihan dengan mereka, tetapi mau bagaimana lagi kalau ini adalah gaya mengajarku.
"Jika kalian ingin hafal sudut istimewa, maka saya ingin kalian menulis sudut-sudut istimewa sebanyak satu halaman—tidak, satu buku."
"HAH?"
"Kalian mau pintar? Kalau begitu kerjakan itu, kumpulkan pada saya minggu depan."
Aku tahu aku kejam, tetapi itu demi kebaikan mereka. Bahkan dulu saat masih kecil aku harus menghafalkan perkalian dengan menulis perkalian satu sampai sepuluh sebanyak satu buku. Menurutku menulisnya secara berulang akan membuat kita menjadi mengingatnya dari pada secara lisan.
Bel istirahat berbunyi, siswa-siswi pun berhamburan keluar kelas untuk ke kantin atau untuk bermain? Aku pun membereskan absen beserta kertas-kertas tugas. Aku mengernyitkan dahiku melihat kerumunan siswi di depan kelas. Aku pun penasaran dan berjalan keluar.
"Tampan!"
"Ih itu artis nyasar ya?"
"Ampun, meleleh."
"Gila, keren banget!"
"Kyaaaa~"
Siapa sih? Aku melihat kerumunan siswi itu semakin banyak. Kerumunan itu pun memberi celah pada seseorang yang ingin melewati mereka. Aku tampak familiar dengannya, seketika aku cengo menatapnya.
"Gaara?"
...
"Jadi kau telah menikah?" tanya Gaara. Aku dan dia sedang berada di kantin, karena selama mengajar tadi aku menahan lapar yang melandaku.
'Ya." jawabku sekenanya. Hey, pasti kalian para perempuan akan canggung dengan seorang pria yang mencoba melamarmu tetapi kita menolaknya. "Aku telah mempunyai calon." Ucap Gaara. Aku hanya mangut-mangut seraya menyendokkan nasi goreng ke mulutku.
"Kau cukup mengerikan juga saat mengajar." Aku hampir tersedak karena ucapannya. Apa? Mengerikan? Apakah sebegitu seramnya aku ketika mengajar? Well, aku memang tergolong guru killer disini jadi wajar kalau aku mengerikan walau wajahku cantik.
"Terima kasih, aku merasa tersindir." Gaara hanya terkekeh mendengar ucapanku. Mungkin ia orang ramah, jadi mungkin aku akan menerimanya sebagai teman. Ingat, garis bawahi 'mungkin'.
"Jika aku bersekolah disini dan kau adalah guru yang mengajarku, kau akan menilaiku berapa?" tanya Gaara. Aku tersenyum padanya kemudian meneguk air putih di gelas yang aku genggam sampai tandas. "Jika kau mempunyai sikap, sopan santun yang bagus, serta pintar maka akan aku berikan kau nilai A plus."
"Tetapi jika aku mempunyai sifat bandel dan juga tak mempunyai sopan santun, dan memiliki otak yang setara dengan Albert Einstein apakah kau tega tak memberiku nilai A?"
"Kalau soal sifat bandel dan sebagainya maka kau akan berurusan dengan dewan kedisiplinan, kau harus tahu diri dan membenahi sifatmu agar orang lain menerimamu, sadar akan kecerdasanmu itu berguna. Jika kau mempunyai sifat bandel dan sebagainya tetapi mempunyai otak yang setara dengan ilmuwan diluar sana fine, i will gave you A plus. But, kau harus segera perbaiki sikapmu itu."
Gaara bertepuk tangan sehingga membuat orang-orang menatap kami, aku hanya berdehem untuk menghentikan acara bertepuk tangannya itu.
"Pantas saja Temari sangat mengidolakan dirimu."
"Temari?"
"Kakakku menghadiri acara seminar di New York sewaktu kuliah, dan kau menjadi juru bicara di acara seminar itu kan?"
Ah... seminar itu. Waktu itu aku memang ditunjuk menjadi juru bicara, yaitu sebagai motivator untuk para mahasiswa dan mahasiswi dari salah satu universitas disana. Umur dua puluh tahun sudah lulus S3, dan menjadi motivator calon sarjana yang lebih tua dariku.
"Temari berkata bahwa ada seorang gadis yang sudah lulus S3 pada umur dua puluh tahun, dia terlihat menggebu-gebu begitu menceritakan dirimu. Dan tahukah kau bahwa aku mengenalmu darinya?"
Oh, pantas saja dia datang-datang langsung melamarku waktu itu.
...
"KAKAK!" Teriak Hanabi dari luar.
"Hmm?"
"JANGAN HAM HEM HAM HEM!"
"Ada apa!"
"Ada cowok ganteng mau melamar!"
Melamar? Aku pun turun untuk melihat siapa yang berani melamarku, tahukah dia aku baru saja sampai di Jepang sehabis berada di dalam pesawat sangat lama setelah menghadiri seminar itu.
Aku pun mengintip dari tembok dan mengintip sedikit. Terlihat ayah sedang berbincang dengan... Sabaku Gaara? Bukankah dia adalah pewaris dari Sabaku Oil?
"Apakah anda yakin mau melamar anak saya?"
"Ya, saya kagum dengannya pada pandangan pertama."
Pandangan... pertama? Hell, aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku pun kembali memasang kupingku.
"Pandangan pertama? Kau melihatnya dimana?"
"Saya tak mau menjelaskannya, yang penting saya ingin melamar putri anda, apakah anda bersedia untuk menyerahkannya pada saya?"
Wow, he's ambitious. Mungkin gayanya sangat bossy melihatnya berpangku kaki dengan jari yang bertaut di atas pangkuan kaki itu, dan juga dagu yang terangkat sedikit. Terlihat balutan jasnya yang mahal dan sepatu kulit yang lancip diujungnya.
"Saya terserah dengan jawaban Hinata, asalkan dia akan bahagia itu membuat saya senang."
Kudengar ayah memanggil Hanabi, menyuruhnya untuk memanggilku. Mungkin sedikit mengerjai Hanabi menghilangkan rasa bosanku. Aku pun langsung nyelonong memasuki ruang tamu, ayah terlihat kaget melihatku.
"Apakah Hanabi bisa teleportasi sehingga dengan satu detik kamu bisa muncul disini dari kamarmu?" Aku menggedikkan bahuku."Mungkin." Jawabku asal.
"Jadi, siapa ini?" aku melirik pria bermarga Sabaku itu sedang menatapku lekat-lekat. Merasa risih ditatap seperti itu, aku duduk di samping ayah dan hanya menatap piano putih yang menemaniku selama ini.
"Saya ingin melamar anda, Hinata Hyuuga." Suara dari Sabaku itu memecah keheningan yang terjadi selama beberapa detik tadi. Aku sengaja memasang wajah polos.
"Melamar?"
"Ya, Saya ingin mempersunting anda Hinata Hyuuga. Saya akan memberi harta yang saya punya jika anda meminta, saya bisa membeli apapun itu asalkan anda mau menikah dengan saya."
Eeerr, rasanya aku terkesan seperti gadis murahan yang hanya mau menguras harta orang. Aku mengubah raut wajah polosku menjadi datar.
"Maaf, saya menolak lamaran anda, alasannya adalah dari tatapan anda kepada saya berkesan seperti gadis murahan yang hanya tergiur dengan kekayaan anda, apakah anda selalu dekat dengan wanita penjilat sehingga pandangan anda kepada saya menjadi seperti itu? oh, lebih baik anda harus memperbaiki pandangan anda kepada perempuan di dunia ini. kalau begitu saya permisi ummm, Tuan Sabaku."
Aku pun meninggalkan Sabaku itu dan ayah yang masih terpaku atas ucapanku tadi. Masa bodoh dengan ucapanku yang seperti pisau, aku bisa menilai orang dengan tepat jadi jangan salahkan aku.
...
Sepertinya pandangannya terhadap perempuan sudah berubah, syukurlah. Deringan ponsel Gaara menghentikan perbincangan kami, ia pun mengangkat telepon itu dengan raut wajah serius. Aku kembali memakan nasi gorengku dan menyisakan sosisnya hanya untuk kumakan untuk bagian pun mengantongi ponselnya dan menghela napasnya.
"Ada apa?" tanyaku. Gaara berdiri dan menaruh uang di meja. "Ada kericuhan di kantor, maaf Hinata kita harus menutup perbincangan kita."
"Tak apa." Ucapku sembari tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Gaara berjalan menjauhi meja tetapi ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Aku telah membayar bagianmu menggunakan uang di atas meja itu." Ia pun kembali berjalan dan menghilang dibalik kerumunan siswa-siswi yang mengantri makanan. Lumayan, gratis makan dan menghemat uang, haha.
"Hinata, siapa itu?"
Aku mengenal suara bariton ini, aku menengadahkan kepalaku dan menatap Naruto. Kulihat rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah karena... marah?
.
.
.
To be contonued.
