Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
...
Hinata's
Bayangan hitam meliputi pandanganku, aku terus mendorongnya sehingga menampilkan atap temda berwarna putih. Aku mendudukkan diri dan merengangkan tanganku, aku mengucek kedua mataku lalu merapihkan rambutku yang sedikit berantakan akibat tidur. Aku pun melihat sekelilingku,terlihat para guru masih tidur. Aku pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam empat pagi.
Aku berdiri dan berjalan menuju keluar tenda, tiba-tiba rasa lapar mendera perutku. Aku pun bergegas ke dapur yang di sediakan oleh panitia.
Ngomong-ngomong aku mau masak apa?
Mataku menelusuri dapur yang tampak sedikit berantakan akibat ada sampah, pandanganku berhenti pada kumpulan cup mie instan yang teronggok manis di dekat kompor. Aku mengambil cup mie instan itu dan memandangnya.
Selama ini aku tak pernah makanan jenis ini, karena aku tak diperbolehkan oleh ayah. Jika aku ketahuan memakan ini, maka siap-siap hukuman akan datang. Aku pun menghela napas, karena perutku sudah kompromi mau bagaimana lagi?
Aku pun mengambil panci di rak kemudian meletakkannya di atas kompor. Aku mengambil teko dan menuangkannya di panci, kemudian menghidupkan kompor. Aku pun mengambil kursi kecil dan mendudukkan diri sembari menunggu airnya mendidih. Sesekali aku menguap karena masih merasakan kantuk.
"Hinata? Apa yang kau lakukan disini?"
Aku menengok dan menemukan suamiku yang berdiri di dengan mengusap rambutnya yang berantakan. Ya Tuhan, pagi-pagi ini aku diberi cuci mata. Aku pun menggeleng karena pikiranku yang nyeleneh itu.
"Aku memasak mie instan, kamu mau? Kebetulan airnya tadi kelebihan." Ucapku, ia mengangguk lalu duduk di sampingku, tanpa kursi. Aku pun bangkit dan mengambil satu lagi cup mie instan lalu aku mengambil milikku dan membuka bungkusnya. Kulirik panci di sampingku, ternyata airnya mendidih. Aku pun mematikan kompor dan menuangkannya ke dalam cup mie instan itu.
Aku pun menyerahkan cup itu kepadanya. "Tunggu tiga menit, jangan dibuka tutupnya." Aku pun kembali duduk dan menunggu mie di dalam cup itu perlahan-lahan tidak keras lagi.
"Tidurmu nyenyak?" tanyanya, aku menengok dan tersenyum, kemudian mengangguk. "Iya, kamu?" dia menggeleng, aku mengerutkan keningku.
"Gruru laki-laki di tendaku tak sengaja menendangku hingga terbangun, saat aku mau tidur kembali tulang keringku di tendang," aku meringis mendengar perkataannya, aku bisa menebak siapa pelakunya. Rock Lee.
Aku memikirkan kata-kata Sakura kemarin, dan kejadian tadi malam. Kurasa memang benar, bahwa aku mencintainya. Aku pernah membaca novel, dan terdapat kata-kata bahwa 'Hati tak sinkron dengan pemikiran'. Dan itu memang benar, aku berusaha menampik perasaan itu, tetapi hatiku memberontak.
Mungkin jika aku yang berasal dari masa lalu tahu akan hal ini, maka ia akan menertawakanku dan mengatakan 'Kau mengingkari janjimu untuk tak tertarik dengan pria.' Seperti halnya lagu dari Demi Lovato yang berduet dengan Calvin Harris, dengan sepenggalan lirik 'I Need Your Love' bahwa aku membutuhkan cintanya, waktunya.
"Sepertinya mienya sudah jadi,"
Lamunanku buyar dan mengambil cup mie instan itu kemudian memakannya dalam hening. Aku melirik Naruto-kun sedang melahap mie instannya, sesekali dia kepanasan dan tersedak. Aku tersenyum melihat tingkahnya lalu memakan mie instan di tanganku ini.
"Hinata,"
"Hm?"
"Kamu mau punya anak berapa?"
"UHUK!"
Aku tersedak saat ingin menelan, kurasakan sapuan tangannya di punggungku. Ia pun menyerahkan segelas air putih, aku menerimanya lalu meminumnya sampai tandas.
"Terima kasih." Ucapku padanya.
Kenapa dia menanyakan hal itu? aku rasanya ingin menendangnya dengan jurus karateku, walaupun aku perempuan,aku adalah pemegang sabuk hitam jadi jangan macam-macam padaku. Aku memandangnya bingung. Mungkinkah dia ingin mempunyai anak? Apakah mungkin dia hanya mau melakukan kegiatan 'itu' dengan alibi menginginkan anak?
Tidak, tidak, tidak! Ya ampun, kenapa pemikiranku aneh-aneh begini? Apakah aku terkena virus abnormal sehingga mengurangi kewarasanku ini?
"Hinata, kau tahu? Aku ingin sekali mempunyai anak."
Nah kan.
"Tapi kau jangan salah sangka kalau aku hanya ingin melakukan 'itu' dengan alibi ingin mempunyai anak."
Dan pemikiranku salah.
"Aku tahu tentang pendapatmu terhadap laki-laki. Sakura memberitahuku bahwa kau beranggapan bahwa lelaki menginginkan wanita hanya ingin memuaskan nafsunya. Tidak. Semua lelaki tidak seperti itu , Hinata."
Aku terdiam. Hanya memandang lurus ke depan, dan mendengarkan kalimat yang keluar dari bibirnya.
"Dan juga, aku ingin meminta maaf akan sikapku waktu itu."
Aku memandangnya bingung. Pandangannya hanya menatap kompor di depan kami, aku pun mengikuti memandang kompor kecil itu.
"Sikapku yang kekanakkan karena menginginkan sebuah kursi."
Aku hanya tertawa mengingat pertemuan ku di bus itu, "Ya, dan kamu kalah suit dariku." Ucapku dengan kekehan, dia pun tertawa dan memandang ke langit.
"Oh ya, sebenarnya pertemuan pertama kita bukan di bus itu." aku mengernyitkan alisku, bukankah pertemuan pertamaku itu berada di bus itu? Rasanya sebelum kejadian itu aku belum pernah bertemu dengannya.
"Ingat dengan pria berkacamata menggunakan topi?"
Aku memutar bola mataku, berusaha mengingat ciri-cirinya. Saat disebutkan ciri-cirinya, rasanya aku mengingat sesuatu. Bola mataku membulat, kemudian telunjukku menunjuk wajahnya.
"KAMU YANG DI RESTAURAN ITU?" Dia mengangguk, aku hanya menggeleng tak percaya. Dua kali kejadian, dengan apa yang terjadi kami pada saat itu sama. Berebut kursi.
"Waktu itu aku kesal padamu, apa-apaan wanita ini? Aku bahkan sempat berkata membencimu di dalam hati. Dan dari kata hatiku berkata bahwa aku harus menaklukanmu."
Aku terperangah mendengar penuturannya. Ya, kamu berhasil menaklukanku. Sebenarnya aku juga bersalah dengannya, sikapku juga tak kalah kekanakkan.
"Aku juga minta maaf..." Ucapku purau. Aku menarik napas kemudian menghembuskannya dengan pelan, aku medongakkan kepalaku untuk melihat langit yang masih gelap.
"Sikapku juga kekanakkan, sebenarnya waktu itu aku melihat kursi kosong di restauran itu, tetapi aku yang keras kepala ini—" ucapanku terhenti karena merasakan kepalaku di tepuk. Aku pun menengok dan melihat ia menatapku dengan tatapan lembut.
"Sebagai seorang laki-laki aku bersikap tak seharusnya, kau tidak salah. Hina rasanya karena aku membenci seorang wanita karena hal sepele."
Kami saling bertatapa, kemudian kening kami saling bersentuhan. Aku merasakan napasnya yang hangat menerpa wajahku. Ah, rasanya aku ingin memohon waktu bisa dapat berhenti, dan kami seperti ini terus.
"Hinata, aku menginginkan kamu sebagai ibu dari anak-anakku. Apakah kamu mau?"
Aku menatap bola matanya yang seperti lautan, indahnya. Aku pun mengangguk, ia lalu tersenyum dan mengecup keningku. Rasanya aku ingin menangis, bahagia karena memiliki laki-laki sepertinya. Dulu aku selalu mengidam-ngidam kan seorang pria romantis.
Dan itu menjadi kenyataan.
...
Aku membagikan sapu lidi kepada para siswi. Ya, karena ini hari kedua maka akan diadakan membersihkan lingkungan di sini. "Jika kalian menemukan sampah, ambil dan buang pada tempatnya, mengerti?"
Mereka pun mengangguk dan berpencar. Aku mengedarkan pandanganku, rasanya aku ingin tertawa melihat Konohamaru menunggangi sapu lidi bak nenek sihir, ia berlari karena dikejar oleh Hanabi. Mungkin karena Konohamaru mencuri sapu lidi itu dari Hanabi.
"Konohamaru, kembalikan sapu lidi milikku!"
"Ohoho~ kakek sihir ini akan menyihirmu menjadi gadis kerajaan, kemudian menikahimu."
"Jangan gombal!"
Nah, seperti itulah perdebatan mereka sembari kejar-kejaran. Aku menggelengkan kepalaku kemudian beralih menuju para siswa yang mencabut rumput serta mengambil sampah yang menumpuk. Seorang siswa menghampiriku.
"Sensei, aku menemukan ini." ia menyerahkan ponsel kepadaku, aku mengamati ponsel berwarna biru muda itu. ponsel siapa ini?
"Dimana kamu menemukannya?"
"Di dekat tenda kelompok saya, tetapi saat saya memeriksanya mereka tak kehilangan ponsel mereka." Aku mengerutkan keningku, kemudian membuka folder ponsel tersebut.
Aku melihat aplikasinya, isinya game, sebagian besar adalah game perperangan, dan kemungkinan ini adalah ponsel milik laki-laki. Kemudian aplikasi chatting, aku pun membukanya dan semuannya diperintahkan untuk login. Lalu aku beralih membuka file, aku mengerutkan kening saat menemukan folder yang mencurigakan.
'Mine, don't opened.'
Aku pun membukanya. Aku membulatkan bola mataku, tak percaya isi file ini. ini adalah foto para guru perempuan dan siswi. Ada yang sedang berganti baju di bilik perempuan, foto saat seorang guru sedang memakai kemejanya dan foto yang tak pantas. Aku pun men-scroll ke bawah, mencari apakah ada fotoku.
Ada.
Fotoku sedang saat ingin memasuki toilet, kemudian fotoku saat mengajar. Aku memijit pelipisku, ini milik siapa? Ini tak bisa dibiarkan. Apakah orang ini gila? Aku bahkan tak percaya bahwa ada seseorang berhasil memotretku, bahkan aku tak menyadarinya.
Aku pun berjalan menuju tenda guru, aku berjalan dengan tegas. Bahkan murid-murid yang aku lewati merinding, biarkan. Aku pun memasuki tenda dan menghampiri suamiku yang duduk sambil membaca manga shounen.
"Naruto-kun."
Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. "Ada apa?" tanyanya, aku menghela napas dan duduk di sampingnya. Aku pun menunjukan ponsel itu padanya.
"Kenapa?"
"Seorang siswa menemukan ponsel ini, ia mengatakan menemukan ponsel ini di dekat tenda kelompoknya, tetapi ia mengaku kelompoknya tak ada yang kehilangan, dan saat ku geledah.. isi filenya luar biasa." Aku menggelengkan kepalaku dan menatap ponsel di tanganku.
"Isinya apa?"
Aku memejamkan mataku lalu menarik napas. "Foto para siswi dan guru, ada foto yang tak pantas aku tunjukkan. Yang jelas ini namanya pelecehan, ada fotoku di dalamnya,"
"Itu tak bisa dibiarkan," Ucapnya dengan menggeram, aku pun mengangguk. Ia pun bangkit dan menarik tangan kananku. "Aku akan memberitahukan ini kepada para guru," aku mengangguk dan berjalan dengannya.
Naruto-kun dan aku berencana menemui kepala sekolah, Toneri Otsutsuki. Dia juga pernah melamarku, tetapi aku menolaknya. Ia sedang berbincang dengan Rock Lee.
"Otsutsuki-san." Toneri pun berbalik dan tersenyum, lebih tepatnya tersenyum padaku. Aku langsung membuang muka dan mengeratkan pegangan tanganku pada Naruto-kun.
"Ada apa, Uzumaki-san?" Ucapnya formal. Aku yang masih membuang muka hanya mendengarkan saja, bisa-bisa Toneri modus padaku, dan aku merasakan bahwa Toneri masih memandangiku.
"Saya ingin membicarakan sesuatu." Ucap Naruto-kun, ia menyodorkan tangannya. aku pun memberikan ponsel laknat itu seraya menghindari kontok mata dengan Toneri.
"Istri saya mendapatkan ponsel ini dari seorang siswa, ia menemukannya di dekat tenda kelompoknya, dan siswa itu mengaku bahwa kelompoknya tak ada yang kehilangan. Dan isi dari ponsel ini sangat disayangkan,"
Aku pun menatap raut wajah Toneri berubah sebentar kemudian kembali normal. Aku hanya menaikkan alis dengan reaksinya itu. matanya hanya tertuju pada ponsel yang berada di genggaman suamiku, bukan lagi aku.
"Anda sudah memeriksanya, Hinata-sensei?" Ucapnya dengan nada waspada. Aku hanya mengangguk, ia kemudian menghela napasnya.
"Kalau begitu kita akan mengurus kasus ini, kita akan memeriksa semua murid." Ujar menaikkan alis dengan penuturan Toneri, semua murid?
"Maaf, artinya murid perempuan di periksa? Menurut saya itu tak mungkin Toneri-san, mana mungkin seorang perempuan memotret sesama jenisnya."
Toneri hanya tertawa dan menatapku, aku pun memalingkan wajahku lagi. "Hinata-san, bisa jadi ada seorang siswi yang abnormal, dalam artian lesbian."
Aku hanya diam, membenarkan perkataannya dalam hati. "Baiklah, kita akan memanggil murid secara per-kelas ke tenda ini. Hinata-san, menurut saya anda adalah alat pendetektor kejujuran berjalan." Ucap Toneri membuatku kebingungan.
"Ah, saya paham akan hal itu, Otsutsuki-san. Istri saya bisa membedakan siapa yang bohong dan jujur hanya menatap mata orang tersebut." Aku pun hanya memicingkan mataku menatap mereka berdua.
"Jadi, bagaimana?"
Aku hanya mengangguk pasrah, ini akan menjadi hari yang panjang, hah...
...
"Kamu yakin ponsel ini bukan milik kamu?"
"Iya sensei."
"Baiklah, kamu boleh pergi."
Dan itu adalah murid terakhir. Semuanya jujur, tak ada yang berbohong. Hanya satu-satunya murid yang tak kuperiksa, Hanabi. Adikku itu tak mungkin mempunyai dua ponsel karena ayah tak memperbolehkannya.
Entah kenapa kepalaku sangat pening, dan juga pandanganku sedikit berkunang-kunang. Mungkin karena efek aku menginterogasi banyaknya murid. Itu tidak penting, yang paling penting adalah kasus ponsel laknat ini.
Aku bingung, jadi ini ponsel ini milik siapa? Semua murid telah ku bombardir dengan pertanyaan serta ancaman, tetapi mereka menjawabnya dengan tenang. Jika semua murid mengaku bukan pemilik dari ponsel ini, yang berarti pemiliknya di antara para staff, panitia, serta guru.
Aku mengamati setiap orang yang sedang berlalu-lalang di belakangku, aku menarik diri dari kursi menuju ke arah suamiku yang berbincang serius dengan Rock Lee. Aku pun menarik ujung baju Naruto-kun, ia pun menoleh dan menatapku.
"Bagaimana?"Aku menggeleng, Naruto-kun dan Lee-san hanya menundukkan kepala. Mereka tampak berpikir, mataku menelusuri orang-orang satu per satu di dalam tenda ini, semuanya berbincang tentang masalah ponsel ini. bahkan aku melihat sakura terlihat emosi karena ia juga di potret secara diam-diam.
"Lee, menurutmu siapa pemiliknya?" tanya Naruto-kun dengan nada serius.
"Aku tak tahu, menurutmu?"
Suamiku hanya menggeleng lalu memijit pelipisnya, ia kelihatan lelah. Aku pun mengelus lengannya, ia menatapku dan tersenyum, aku pun membalasnya juga dengan senyuman.
"Bagaimana jika pemilik dari ponsel ini ada di antara guru, staff, dan panitia?" Ucapanku membuat dua orang lelaki di hadapanku itu menatapku bingung, aku memandang orang-orang di belakang mereka.
"Jika semua murid bukan pemiliknya, artinya pemiliknya tidak lain tidak bukan ada di antara kita." Aku pun menatap Lee-san dengan tatapan intimidasi milikku.
"Apakah anda pelakunya?"
Lee-san langsung melongo kemudian menggeleng, "Walaupun aku mesum, tetapi aku tak sampai sebegitunya memotret wanita, apalagi wanita telanjang."
Aku memandang mata Lee-san, ia tak berbohong. Kemudian aku bergantian menatap suamiku. "Hinata, kamu juga jangan menuduhku yang tidak-tidak," Ucapnya seraya memutar bola matanya, ia juga tampak tak berbohong.
"Hinata, ponselnya dimana?"
Aku pun tercekat. Bodoh! Aku meninggalkannya di meja! Aku pun berlari menuju meja, mereka berdua mengikutiku dari belakang. Aku pun dengan tergesa-gesa dan berdiri di samping meja itu, dan ponsel itu lenyap entah dimana.
Artinya pelakunya memang ada di dalam tenda ini, aku pun menatap keluar tenda. Bukankah itu Toneri-san? aku pun menyipitkan mataku ketika ia memasukkan sesuatu ke dalam kantung celana jeans-nya.
Itu ponselnya!
"Naruto-kun! Lee-san! ponselnya ada di Toneri!" mata mereka berdua membulat kemudian berlari mendahuluiku. Aku pun mengikuti mereka dari belakang.
Toneri pun menyadari kalau dirinya di kejar, ia pun langsung berlari. Naruto-kun dan Lee-san menambahkan kecepatan larinya hingga aku tertinggal. Aku pun melihat Hanabi dan Konohamaru di dekat pohon dimana arah Toneri akan berlari.
"HANABI! KONOHAMARU! CEGAT TONERI!" terakku pada mereka. Mereka berdua awalnya kebingungan, setelah melihat Toneri berlari ke arah mereka, mereka pun sigap mencegat Toneri. Toneri pun melewati Konohamaru melalui kedua kakinya, aku hanya bisa melongo saat melihat Toneri melakukan itu.
Toneri tampak berlari menuju ke arah parkiran, aku melihat Konohamaru dan Hanabi mengikuti Toneri bersama Naruto-kun dan Lee-san.
"Hoi! Kalian Tangkap kepsek!" Teriakkan Konohamaru membuat semua murid menghadang Toneri dari depan. Mereka membentuk lingkaran agar Toneri tidak dapat kabur. Aku pun mendekati mereka dan memasuki lingkaran itu bersama dengan Lee-san dan Naruto-kun.
"Kau tertangkap," Ucap Lee-san, aku hanya memandang tak percaya pada Toneri. Aku kira dia adalah pria polos yang baik, tetapi ternyata aku salah. Kata-kata dari 'jangan menilai dari sampul' terbukti.
"Ma—maaf kan aku..." ucapnya dengan wajah menunduk, Naruto-kun pun mendekatinya. Aku menaikkan alisku, Toneri menyeringai?
Tiba-tiba Toneri melempar ponselnya, kami melihat ponsel itu teronggok di parkiran. Saat aku berbalik, tiba-tiba Toneri sudah berlari memutar menuju ke arah parkiran dan mengambil ponselnya. Itu hanya pengalihan! Ternyata ponsel itu tahan banting.
Aku yang pertama kali menyadarinya langsung mengejar Toneri. Aku pun dengan kencang berlari menyusul Toneri, saat sudah dekat dengannya aku pun menendang punggungnya hingga terjembab. Aku pun menduduki tubuhnya lalu mengambil ponsel tersebut dari tangannya.
Toneri mendelik kesal ke arahku, aku hanya menghadiahinya dengan senyuman. Aku melihat suamiku dan yang lainnya mendekatiku, Naruto-kun lalu menarik tanganku dan memelukku.
"Jangan nekat seperti tadi," ucapnya, ia semakin mengeratkan pelukannya padaku.
Sakit di kepalaku semakin mendera, aku merasa tidak bisa berdiri lagi.
"Hinata? Kamu kenapa?"
Aku hanya bisa tersenyum lemah, dengan sigap dia menangkapku tubuhku yang sudah limbung. Pandanganku mulai memburam hingga akhirnya pandanganku di halangi oleh kegelapan...
.
.
.
To be continued.
A/N: What happened to Hinata? Chapter besok adalah terakhir! setelah selesai dengan fict ini saya akan mengerjakan Meet You, mampir ya :)
Thank you for your review guys!
