Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
...
Hinata's
Suara orang yang berkasak-kusuk memenuhi indra pendengaranku, tetapi bayangan ini masih menimpa ku. Saat aku menyadari tanganku di genggam, dengan cepat aku menyingkirkan bayangan itu. Aku mengerjapkan mataku, aku pun duduk dan memijit pelipisku, sakit di kepalaku masih terasa. Aku pun menengok ke kiri dan menemukan suamiku tertidur dengan menggenggam tanganku. Aku tersenyum lalu membimbing tanganku membelai surai kuningnya.
"Ngh..." ternyata sentuhanku membuatnya terbangun, aku hanya tersenyum geli memandang wajahnya yang menatapku horror.
"Hai," sapaku.
Ia pun langsung memelukku dengan erat sehingga membuatku terbatuk-batuk. "Lepaskan!" aku memukul punggungnya sehingga dia melepas pelukan gorilanya. Aku pun menarik napas dan mendelik padanya, ia hany mengusap tengkuknya.
Aku pun teringat akan Toneri, bagaimana dengan kasus itu?
"Toneri bagaimana?" tanyaku padanya, ia mengehla napasnya kemudian duduk kembali. Tangan kanannya menggenggam tangan kiriku.
"Dia sudah kupecat, dan aku mengirimnya ke pulau kecil," ucapannya membuatku tercengang, ke pulau kecil? Astaga, itu pasti jauh sekali. Aku mengerutkan keningku, kenapa aku pingsan?
"Kamu sakit. Jangan berjalan, jika kamu ingin berkeliling gunakan kursi roda."
"Sakit apa?"
Ia terdiam, aku memicingkan mataku curiga. Saat ingin membuka suaranya, tiba-tiba Shikamaru memanggilnya. Aku langsung melotot pada Shikamaru, dia menangkupkan kedua tangannya dan memberikan tatapan memelas. Aku mendesah kemudian menyuruhnya keluar.
Sakura kemudian menghampiriku dengan kursi roda yang di dorongnya, ia tersenyum padaku. "Kau butuh udara pagi, nona." Aku hanya tertawa kemudian mengangguk, Sakura pun mendorong kursi rodaku keluar dari tenda perawatan.
Aku merapatkan jaketku karena udara pagi disini sangat dingin. Aku menatap langit yang masih menampakkan bintang, setengah berwarna oranye dan setengah berwarna biru. Sakura melakukan hal yang sama, menatap langit itu.
"Sakura, berapa lama aku pingsan?"
"Dari kemarin siang." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya pada langit itu. Dia tampak memikirkan sesuatu, bola mataku membulat melihat setetes air mata turun dari pipinya.
"Hei! Kenapa kamu menangis!" Ia tersentak dan menghapus air matanya. Aku pun memintanya untuk membawaku ke tebing yang suamiku tunjukan waktu itu. Sakura menatap kagum pada pemandangan dihadapannya. Aku menatap sungai di bawah sana, matahari yang perlahan-lahan naik membuat burung-burung disana berterbangan.
Aku melirik Sakura yang duduk di batu sebelah kiriku, ia tampak termenung. Aku pun melempar selimut yang kugunakan untuk menutupi kakiku mengenai wajahnya. Ia langsung melotot padaku.
"Untung selimut ini tak jatuh ke jurang." Aku hanya terkekeh mendengar gerutuannya. Situasi pun hening kembali, aku melirik Sakura kembali. Ia melamun, daritadi dia seperti itu. aku pun berdehem untuk mencairkan suasana sebelum bersuara.
"Apa yang kamu pikirkan, Sakura?" tanyaku, tiba-tiba ia terisak. Aku pun kelabakan dan bangkit dari kursi rodaku, aku mengelus bahunya yang bergetar. Ia memeluk pinggangku dan menenggelamkan wajahnya di perutku. Aku hanya mengelus rambut permen kapasnya itu. Tangisannya mereda, aku kembali duduk di kursi roda.
"Mau berbagi cerita?" Sakura mengangguk, ia memejamkan matanya kemudian membuang napasnya dengan kasar. Sepertinya ia akan berbicara dengan nada kesal dan bisa saja memecahkan telingaku.
"SASUKE BRENGSEK! TAK PEKA! SIALAN!" Suaranya menggema hingga membuat burung-burung di seberang sana berterbangan. Aku bergidik ngeri akan teriakan Sakura, bulu romaku dibuat merinding karena teriakannya itu. Ini juga menjadi alasan mengapa para murid tak mau membuat Sakura marah. Dan juga jika marah, maka kata-katanya tak akan tersaring.
"DASAR ASSH*LE!"
Kan...
Aku bangkit dan membungkam mulut pedasnya itu. Ia meronta ingin dilepaskan, dan aku menggeleng keras. Aku pun melepas bungkamannya, ia mengatur napasnya yang naik turun. "Jadi... ada apa denganmu dan Sasuke?"
"Dia selingkuh dariku!"
"Hah? Selingkuh?"
"Iya! Dan saat aku berteleponan dengannya tadi malam, ada suara wanita disana Hinata!" pekiknya histeris. Aku mengusap tengkukku, Sakura masih menggerutu kesal.
"Mungkin kamu salah pa—"
"Salah paham bagaimana! Jelas-jelas aku mendengar suara wanita memanggilnya dengan embel-embel 'Sasuke sayang~' dengan nada manja!"
"Ya tap—"
"AKU AKAN MENGAKHIRI INI!"
Ia melepas cincin yang melingkar di jari manisnya itu kemudian melayangkan tangannya di udara. Mataku seketika melotot lalu merebut cincin itu darinya.
"Sakura! cincin ini sangat sayang untuk dibuang,"
Aku tegaskan SANGAT. Karena merek cincin itu adalah Tiffany&Co. Hanya cincin yang di balut dengan berlian kecil ini harganya bisa selangit, dan juga ini limited edition. Aku hanya meringis kalau ada seseorang yang tega membuang cincin berharga ini.
"Terserah aku!"
"Dengar Sakura, lebih baik kamu pikirkan perasaan Sasuke juga. Kamu harus mendengar penjelasannya, aku tebak. Pasti kamu memutus panggilan secara sepihak kan?"
Ia mengangguk.
"Sebaiknya temui atau hubungi dia. Dengarkan penjelasannya, jika kamu ingin melihat kebohongan Sasuke. Tatap matanya. Apakah terpancar kebohongan atau kejujuran, dengan begitu selesaikanlah masalahmu." Sakura kembali mengangguk patuh. Aku menghembuskan napas lega, setidaknya makhluk satu ini sudah jinak.
Langit sudah terang, aku pun duduk di kursi roda dan didorong oleh Sakura untuk kembali ke perkemahan. Saat sampai di perkemahan, lapangan sangat ramai. Bahkan para murid sibuk mempersiapkan acara untuk nanti malam.
...
Aku merasa pernah berada disini. Aku berjalan mengitari ilalang-ilalang ini, semua tampak familiar, langkahku terhenti. Aku melihat pohon besar disana, terdapat ayunan yang tergantung disana. Tiba-tiba warna daun pohon itu berubah menjadi warna kuning, berubah lagi berwarna ungu, berubah menjadi warna biru. Lima menit sekali warna daun pohon itu akan berubah.
Aku tertarik mendekati pohon itu, saat aku hampir sampai ke pohon itu, tiba-tiba dari tanah keluar dinding yang menjulang tinggi. Aku mengernyitkan dahiku. Aneh, kenapa dinding bisa tumbuh dari tanah?
Aku pun mengitari dinding tersebut. Dinding ini melingkar, dan juga kokoh. Bagaimana cara aku meraih pohon itu?
"Ibu! Ibu!"
Terdengar teriakan seorang anak kecil, tetapi mengapa nadanya senang?
"Ibu! Ayo masuk ke dinding ini!"
Dia memanggilku... ibu?
"Bagaimana caraku untuk menghancurkan dinding ini?" gumamku.
"Berjuang,"
Aku terkaget akan suara bariton itu dan langsung menghadap ke belakang. Pandanganku bertabrakan dengannya, Naruto-kun. Sedang apa dia disini?
"Ayah! Ibu!"
Aku kembali menghadap ke dinding itu, sekarang nada dari anak itu tampak sedih. Di dalam tembok itu anak itu terisak, meraung meminta pertolongan. Tiba-tiba air mata menuruni pipiku, mengapa aku menangis? Aku tak pernah serapuh ini. tetapi hatiku tersayat saat mendengar anak di dalam dinding sialan ini menangis.
"Tunggu ibu, nak." Ucapku, kemudian dengan kesal aku memukul dinding itu, berharap bahwa ada retakan disana. Perih. Kedua tanganku bercucuran darah, aku memandang kedua kakiku. Ya! Jika tanganku terluka, sekarang aku akan menggunakan kakiku. Saat aku ingin menendang dinding di depanku, tanganku dicekal.
"Kita akan menghancurkannya bersama-sama." tangan besarnya mengusap tanganku yang berdarah secara bergantian, saat ia selesai mengusap kedua tanganku, luka di tanganku hilang dalam sekejap. Aku menatapnya tak percaya dan mengangkat kedua tanganku di udara. Ajaib.
"Bagaimana kamu melakukannya?" tanyaku, ia hanya membalasnya dengan senyum lembut. Ya Tuhan, aku bersyukur telah menikahinya. Ia menggenggam tangan kananku kemudian mengepalkannya.
"Siap akan meruntuhkan dinding ini dan membebaskan anak kita?"
Eh, anak?
Kepalan tangan kami terhadap dinding itu mempan, dinding itu perlahan-lahan runtuh—tidak, dia hancur seperti pasir. Aku menatap tak percaya lagi, sebenarnya dunia apa ini?
"AYAH! IBU!"
Siluet seorang anak kecil berlari kecil ke arah kami. Suamiku berjongkok kemudian merentangkan tangannya, anak itu menubrukan dirinya di pelukannya. Setelah itu suamiku mengangkatnya di udara kemudian berputar-putar, anak itu tertawa ceria. Aku memperhatikan wajah anak itu, dia sangat mirip dengan lelaki di sampingku, tetapi kulitnya putih mulus.
Naruto-kun menurunkannya kemudian berjongkok, aku pun ikut berjongkok untuk melihat wajah anak itu. Matanya berbinar menatap kami berdua, aku tersenyum kemudian mengusap kepalanya.
"Dimana orang tuamu?" tanyaku lembut, ia lalu menunjuk kami berdua. Aku mengerutkan keningku, kenapa ia menunjuk kami?
"Kalian berdua adalah ayah dan ibuku. Dinding tadi menandakan bahwa setiap cobaan harus kalian hadapi bersama, setelah itu kalian akan menemuiku."
Cobaan?
"Ayah dan ibu adalah idolaku, pahlawanku, malaikatku. Saat ini aku memohon kepada Tuhan untuk menemui kalian, dan itu terkabulkan!"
Ia merentangkan tangannya di udara kemudian melompat kegirangan, aku tersenyum. Ini mimpi. Tetapi aku merasa bahwa ini adalah nyata, mungkin jika aku hamil nanti aku akan mengidam ke ladang ilalang.
"Ibu menyadari bahwa ini mimpi kan?"
Anak ini bisa tahu?
"Tidak apa, aku juga akan bertemu dengan ayah dan ibu di dunia yang lebih luas. Kadang di masa yang akan datang ayah dan ibu akan menghadapi cobaan, jadi hadapi bersama-sama ya!"
Aku mengangguk dan tersenyum, kemudian kami berpelukan dengan erat. Dia berubah menjadi cahaya yang memudar, ia menangis di lekukan leherku. Aku mengelus punggung kecilnya, ia tampak rapuh. Dan perlahan-lahan cahaya itu menghilang.
Dan pemandangan di hadapanku berubah menjadi gelap.
...
Aku menutupi wajahku menggunakan bantal, mimpi itu membuatku gila. Aku pun duduk di pinggir tempat tidur dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam lima sore.
Aku pun berjalan keluar dari tenda guru. Saat aku keluar dari tenda, suara bising mendera ke indera pendengaranku. Aku menatap panggung yang ramai di lapangan sana, para murid begitu antusias, mereka melompat-lompat kegirangan karena band yang sedang naik daun sedang memberikan pertunjukan.
Aku pun mendekati panggung itu, lebih tepatnya mendekati Sakura yang sedang merekam band kesayangannya menggunakan handycam. Aku memegang bahunya, tubuhnya menegang sebentar kemudian berbalik.
"Kau mengagetkanku saja, Hinata!"
Aku hanya tersenyum saja, Sakura kemudian kembali merekam konser itu. Ngomong-ngomong, dimana Naruto-kun? Sejak tadi pagi terkhir melihatnya ia tak pernah terlihat. Aku melirik Sakura yang masih fangirling terhadap band itu.
"Sakura,"
Dia hanya membalasnya dengan gumamam, aku berdecak sebal kemudian memukul bahunya. "Dimana suamiku?" tanyaku, Sakura hanya mengangkat bahunya. Aku hanya bisa menghela napas, pandanganku kembali menelusuri seluruh temat ini, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada.
Aku kembali menatap panggung. Acara pun berlanjut, sekarang adalah para murid akan memperlihatkan bakat mereka. Ada melawak, bernyanyi, melukis, beat box, dan sebagainya. Hanabi juga menampilkan olahraga yang entah apa namanya itu, di atas meja ia terampil membuat gelas plastik menjadi menara lalu menyusunnya, tangannya sangat lincah.
"Baik, sekarang kita akan mengadakan request, dan kami melakukan polling dalam dua hari belakangan ini. Luar biasa, isi permintaan tersebut sebagian besar sama!"
Kemudian riuh para murid bersorak penuh kemenangan. Aku tak tahu apa yang mereka request, dan juga aku merasakan perasaan tak enak, terlebih lagi bulu romaku berdiri seakan ada alarm peringatan. Terlebih lagi beberapa orang melirikku, damn.
"Baiklah, request kita kali ini adalah..."
Jangan.
Semoga bukan aku, semoga.
"Adalah..."
Kenapa ekpresinya harus dramatis!
"Hinata-sensei dan Naruto-sensei berduet!"
JEGERRRR...
Tamatlah hidupku.
"Maju! Maju! Maju!" sorakan para murid membuatku panik, tanganku ditarik paksa oleh Sakura menuju ke belakang panggung. Aku hanya bisa pasrah saja, dan sekarang aku bingung.
Apa yang akan kami tampilkan?
Bagaimana jika gagal?
Pasti memalukan!
Saat sampai ke belakang panggung, aku bersitatap dengannya. Dia memalingkan wajahny dariku, tunggu... aku yang salah lihat atau Cuma perasaanku saja? Pipinya menampilkan semburat tipis, dan itu sangat manis.
Haha... otakku mulai rusak.
"Jadi, kalian akan menampilkan apa?"
"Kita akan bernyanyi."
Aku pun melotot tak percaya, bernyanyi? No, no, no. Aku tak mau.
"Bernyanyi? kamu mau kita dipermalukan?"
Naruto memandangku sebentar, kemudian ia menggenggam tanganku. Aku terkesiap dengan sikapnya, ia menatapku dengan intens. Aku berdiri mematung karenanya.
"Bermain piano? Bagaimana? Kami telah menyiapkannya, dan juga aku tahu... kamu bisa bernyanyi.", Mendengar kata 'piano' membuatku kalah telak. Aku pun mengangguk dan hanya bisa menunduk.
"Pianonya sudah siap!" Teriakan dari panitia membuatku sukses kembali melotot, apakah ini memang sudah dipersiapkan?
Saat aku ditarik naik ke panggung, aku menyuruhnya untuk berhenti. "Kita akan bernyanyi apa?", tanyaku seraya memijat pelipisku. Ia hanya tersenyum misterius. "Lihat saja."
Aku dan dia pun menaikki panggung. Sumpah, nervous. Itu yang aku rasakan, para murid bersorak saat melihat kami berada di panggung. aku terkejut melihat grand piano milikku yang diletakkan di tengah panggung. Dan Naruto, ia duduk di kursi dengan mic yang berada di tempatnya.
Aku pun duduk di hadapan piano milikku ini. Aku mengusap piano tersebut, sekilas bayangan ibuku saat bermain piano terlintas di otakku, jari-jarinya yang lincah menekan tuts putih dan hitam secara bergantian. Matanya yang terpejam menghayati permainannya membuatku terkagum olehnya.
Aku pun menegakkan kepalaku dan melihat selembar kertas yang di letakkan di atas piano. Aku hampir saja menganga saat melihat judul lagu di kertas tersebut. Apakah ini lelucon? Aku dan dia akan berduet menyanyikan lagu itu? My endless love?
Aku meliriknya, dia tersenyum padaku. Kemudian ia mengodekan tangannya, menyuruhku untuk mulai bermain. Aku hanya bisa mengangguk pasrah, tanganku terangkat ke udara. Dentingan piano pun mengisi keheningan yang dibuat oleh semua orang disini. Mereka hanya diam dan memperhatikan penampilanku, tidak. Penampilan kami.
Dia pun mulai bernyanyi dan Ya Tuhan... walaupun suaranya sedikit fals, tetapi dia menghayatinya. Aku meliriknya, ia memandangku. Hingga akhirnya giliranku menyanyi, aku mendekatkan bibirku pada mic di hadapanku. Sesekali berhati-hati melihat jariku, tak lucu jika ada nada yang kepleset.
Aku pun mulai bernyanyi, awalnya sedikit kaku. Tetapi saat dia menyemangatiku dengan senyumannya, aku mulai rileks. Dan pada di pertengahan lagu, kami melantunkan lirik lagu ini bersama. Saking terlalu menghayatinya, aku mulai memejamkan mataku.
Aku menahan napasku karena selesai menyanyikan lagu yang penuh perasaan itu. Aku mengatur napasku yang naik turun. Mereka yang menonton kami kemudian bersorak, bahkan ada yang menitikan air mata, mungkin karena terharu.
Dia mendekatiku, lalu menarikku ke tengah panggung. Kami pun membungkuk sambil mengucapkan terima kasih. Dan tiba-tiba saja ia berlutut. Para penonton langsung mengucapkan 'uh-oh' karena ini.
"Hinata, mungkin ini terdengar gila. Di tengah acara seperti ini, aku merasa ingin meminangmu secara resmi. Selama ini, aku belum pernah melamarmu. Aku ingin tahu bagaimana perasaan seorang pria melamar seorang wanita. Jadi Hinata... i love you, will you marry me?"
Aku membekap mulutku menggunakan kedua tanganku. Air mataku turun sangat deras karena pekataannya. Dia bilang apa? I love you? Aku... sangat bahagia. Merasa ada yang mencintaiku. Aku pun memeluknya, tak peduli murid-muridku yang bersorak melemparkan bunga-bunga ke panggung.
"Love you too." Bisikku di telinganya. Ia memegang pinggangku, kemudian berputar-putar mengangkatku di udara. Aku hanya bisa tertawa dengan air mata ini. lalu ia memelukku lagi.
"Terima kasih karena telah membuatku bahagia, Hinata. Dan sekarang, ada kehidupan di dalam perutmu ini." Aku pun melepaskan pelukannya dan menatapnya tak percaya. Jangan bilang, bahwa aku... hamil?
"Aku hamil?" Ia mengangguk. Aku pun menghambur ke pelukannya lagi, merasa bahagia karena ada makhluk kecil di dalam diriku. Sekilas aku mengingat anak lelaki yang muncul di dalam mimpiku, kemungkinan itu adalah dia dalam sana. Aku mengusap perutku yang masih rata ini.
Aku merasa perjalanan hidupku akan terasa membosankan, tetapi saat itu Tuhan memberikanku cahaya terang untuk mewarnai hidupku. Aku tahu ini terlalu berlebihan. Tetapi cinta akan membuatmu gila. Dan aku menyadari bahwa kisahku seperti di dalam novel romansa yang bertebaran di toko-toko buku, dan itu rasanya menyenangkan.
Kisahku bagaikan sebuah angan-angan dan sangat klise bisa dibilang. Aku merasakannya. Tetapi, aku menikmati kehidupanku.
Lalu menjalaninya...
.
.
.
The End.
A/N:
AKHIRNYA, ASTAGA SAYA BAHKAN MASIH BOCAH BEGINI UDAH MENULIS SEPERTI INI.
Walaupun bocah, tetapi di dalam fanfict ini merupakan hayalan saya terhadap (mantan) pasangan, bukan mantan saya! Jangan salah tangkap, saya merasa merana karena memikirkan do'i yang saya tolak disana. Tetapi pasangan yang sudah berpisah, dan saya mau mereka kembali, uhuk.
Terima kasih untuk kalian yang mendukung saya dimana saya sempat emosi pada seorang 'itu', terima kasih karena telah membaca fanfict abal-abal saya ini. Dan saya teringat awal chapter saya adalah prolog, maka akan ada epilog. Jadi, sabar saja haha.
POKOKNYA BIG HUGS UNTUK KALIAAAAN.
THANK YOU FOR YOUR REVIEW! *tebar confetti.
