Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
...
Hinata's
Jika kalian pernah mimpi yang diimpikan, maksudku mimpi di dunia mimpi, seperti terbang di angkasa, berjalan di atas pelangi, bahkan mimpi yang lebih aneh yang pernah aku alami adalah bertemu dengan anak kecil, aku tidak tahu siapa dia. Tetapi, beberapa jam setelah aku bermimpi seperti itu, kabar bahwa adanya makhluk kecil di perutku membuatku tak percaya. Terbesit dalam pikiranku, apakah itu dia?
Voila, ternyata itu benar-benar dia. Aku masih ingat bagaimana bentuk wajahnya di mimpi itu, dan dia sekarang sudah ada di dunia ini. Boruto, kami menamainya. Lucunya, kami sempat berdebat tentang nama.
"Mending namanya Sushino."
"Namanya nggak banget..."
"Orochi—"
"NGGAK!"
Gila saja jika nama anakku sama dengan nama ular jadi-jadian itu, bisa-bisa anakku menjadi bahan ledekan jika dia bersekolah. Menyangkut tentang nama, pada saat ulang tahun perusahaan sekaligus mengumumkan kelahiran putra kami, ada salah satu relasi suamiku yang berasal dari Amerika, dan dia mengeja nama anakku menjadi Bolt, seketika aku mengingat anjing pengkhayal dari Disney itu.
Boruto, dia tumbuh menjadi anak yang hiperaktif. Bahkan sudah mengalami cinta monyet, yaitu Sarada, anak dari Sasuke dan Sakura. Sayangnya ia ditolak mentah-mentah, entah kenapa.
Oh ya, Boruto juga mempunyai adik. Dan sifatnya yang Brother complex menyebabkan semua orang bergidik ngeri dengan Himawari. Errr, sebenarnya aku dan suamiku hanya berencana ingin mempunyai satu anak, tetapi ayah dan ibu mertuaku memasukkan obat perangsang ke dalam minuman pada saat makan malam. Dan dengan wajah polosnya mereka berdua mengatakan.
"KAMI INGIN CUCU PEREMPUAN!"
Karena mereka berdua terlalu rajin melihat jadwal kesuburanku, makanya yah... melakukan itu sekali dan... you know what.
BRAKKK.
"SENSEI! BORUTO SEDANG BERKELAHI!"
Aku menghentikan lamunanku karena jeritan dari salah satu siswa di depanku. Aku pun berlari bersama siswa tersebut, terlihat kerumunan dari jendela koridor yang ku lewati, kerumunan tersebut menyorak-nyorakkan nama anakku, aku pun memacu kecepatan kakiku, membawanya menuju ke lapangan. Sampai di lapangan mataku membulat karena melihat wajah Boruto dipukul.
"ASTAGA, APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
Sorakan tersebut berhenti dan menatapku dengan takut, aku pun melangkah menuju ke kerumunan itu, mereka memberikan jalan untukku. Boruto tersungkur di tanah, aku meringis melihat lebam di wajahnya. Aku melirik siswa yang memukul Boruto, seragamnya berbeda.
Aku pun berjongkok dan membantu Boruto duduk, aku mengusap lebam di pipinya, ia tampak kesakitan, Ya Tuhan. Aku pun memejamkan mataku.
"Siapapun tolong jelaskan masalahnya,"
Hening.
Aku menghembuskan napasku dengan keras. Aku marah, tentu saja. Bagaimana perasaan orang tua saat melihat anaknya terlibat dalam masalah. Aku pun menatap wajah sang pemukul tadi, wajahnya pucat.
"Kamu dari SMA Suna? Apa yang kamu lakukan disini?"
"Sa—"
"Dia menggoda Himawari, Ma."
Aku mengalihkan pandanganku menuju Boruto, pandangannya yang tajam seolah ingin menerkam siswa dari SMA Suna itu.
"Mama ingat tadi malam Himawari menangis, kan?"
Aku mengangguk. Ya, sepulang dari sekolah Himawari menangis, dan alasannya adalah karena penanya dicuri. Aku hanya mengangkat alis, tak mungkin dengan hilangnya pena ia menjadi frustasi seperti itu.
"Gara-gara orang ini, aku melihatnya saat ingin kembali menggoda Himawari saat mau ke sekolah. Dan tadi pagi di jalan Hima mengadu padaku alasan kemarin ia menangis."
Aku tersenyum dengan penjelasan Boruto. Inilah kenapa Boruto dan Himawari menyebutku sebagai ibu yang hebat, bukan bermaksud membanggakan diri dan sombong. Aku pernah membaca artikel dengan judul 'How to being good mom?', salah satu dari tips di buku tersebut adalah janganlah berprasangka buruk dengan sang anak jika sedang ada masalah, jika memang terlibat masalah janganlah memarahinya , tetapi juga jadilah menjadi ibu yang tegas. Mungkin itu adalah faktor yang membuatku menjadi good mom.
"Apakah itu benar?" tanyaku tegas pada siswa SMA Suna tersebut, ia mengangguk kaku. Aku menghembuskan napas lalu membantu Boruto untuk berdiri, aku menatap siswa Suna itu.
"Ikut saya ke ruang kepala sekolah."
...
"ADAW!"
Boruto memegang pipinya tersebut sambil meringis, aku kembali mengobati pipi yang memerah itu. Boruto kembali berjengit sambil meremas tanganku yang bebas.
"Nah, selesai. Sekarang tiduran saja disini sambil menonton atau bermain game, jangan disentuh pipi itu!"
Ia hanya mengangguk patuh dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang, aku pun berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju dapur untuk membuat coklat panas. Jepang sekarang memasuki musim dingin, jadi udara pun sudah terasa dingin walaupun berada di penghujung musim panas dengan teriknya matahari.
Tentang siswa SMA Suna itu, ia di skors selama sebulan. Aku kasihan padanya memohon kepada kepala sekola SMA Suna untuk meringankan masa skorsnya, tetapi ia berkata merasa malu dengan istri seorang pengusaha besar di Jepang karena sang siswa menghajar anaknya dan menggoda si bungsu. Aku hanya bisa menghembuskan napas dan meminta maaf atas kejadian itu.
Aku membawa dua gelas coklat panas kembali ke ruang keluarga. Boruto memainkan ponselnya, kadang ia berdecak, mungkin sedang bermain game. Aku meletakkan dua gelas coklat panas itu.
"KAKAAAAK!"
Aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru dari arah tangga. Itu Himawari, ia berlari kecil ke arahku dan Boruto. Ia lalu melompati sofa dan duduk di perut Boruto.
"A—aduh, Hima!"
Boruto menarik baju seragam Himawari, aku pun menarik Himawari dari tubuh Boruto. "Kakak, wajah kakak kenapa?" tanya Himawari.
"Tidak sengaja kena raket nyamuk." Jawab Boruto asal dengan wajah malasnya. Aku hampir saja menyemburkan tawaku kalau saja ada tangan besar yang menutupi kedua mataku.
"Ini siapa?" Suaranya yang berat membuatku tak urung tersenyum geli. Aku memukul tangannya lalu ia melepaskan tangannya dari mataku. Ia mengecup pipiku sekilas dan menatap Boruto.
"Serius ya kena raket nyamuk?" Ucapnya dengan wajah polos. Aku hanya tertawa geli, sebenarnya dia tahu Boruto berkelahi saat aku memberitahunya melalui telepon, aku pun memberitahu alasan mengapa ia berkelahi agar dia tak marah. Seorang ayah bisa emosi karena anaknya membuat masalah, apalagi berkelahi.
"Iya!" ketus Boruto. Jika saja Himawari tahu yang sebenarnya, maka ia akan menyekap Boruto di rumah seharian karena takut Boruto terluka. Sepertinya kakak sepupuku, Neji, memiliki duplikatnya versi perempuan.
"Naruto-kun, mau ini?" aku mengangkat mengangkat gelas berisi coklat panasku ke arahnya, ia tersenyum kemudian mengambil coklat panas itu dan duduk di sampingku.
"Boruto."
Boruto memandang ayahnya, aku melihat Naruto-kun tersenyum lembut dan mengacungkan jempolnya yang disambut cengiran Boruto. Aku pun menyandarkan diriku di bahunya, ia mengusap kepalaku dengan lembut, kemudian aku memejamkan mataku dan menghirup aroma tubuhnya.
Aku bersyukur memiliki keluarga yang saling menyayangi dan saling melindungi. Seperti suamiku yang melindungiku, seperti Boruto melindungi Himawari, seperti ayah melindungi ibu, seperti Konohamaru melindungi Hanabi. Dan banyak umat manusia yang aku yakini saling menyayangi. Pondasi dari sebuah keluarga adalah saling melindungi, mencintai, dan menyayangi. Aku bersyukur keluarga kecilku memiliki itu semua.
Tuhan, terima kasih karena memberikanku sebuah keluarga kecil yang akan menemaniku di masa depan dan melewati hari-hari dimana saat sedih, senang, marah dan sebagainya.
Aku bersyukur.
"BAIKLAH! WAKTUNYA PESTA!"
Suamiku dan kedua anakku pun bersorak, mereka lalu menuruni tangga menuju ke halaman belakang dimana ada ayah dan kedua mertuaku sedang memanggang daging. Aku melihat kertas kecil di atas meja, aku pun mengambil pena di kantung celanaku dan menuliskan sesuatu.
"Mama! Ayo!"
Himawari dari bawah berteriak, aku hanya menyahutinya. Aku tersnyum dan meninggalkan kertas itu di atas meja.
...
'i'm glad when my life have two angel and one guard, my key heart, my friend till the end. I'm glad with my dad, he's was my first hero in the heaven. Thanks God.'
.
.
.
END
A/N:
Setelah mendapatkan film-film baru yang di download dan karena asyik menonton sampai lupa daratan dengan epilog CC, yah... begitulah. Untuk Meet You saya masih mikirin jalan ceritanya gimana ya, soalnya endingnya jadi bercabang-cabang di otaknya, jadi lagi bimbang.
Oh ya, bagi kalian yang pernah mengcover lagu, aplikasi untuk mengcover lagu dengan simple tahu? Istilahnya kayak karaoke gitu haha, dari laptop saya rekamnya, soalnya lagi butuh.
Ok, thanks for your review guys! And see ya next time! Love yaaaa!
