"Had and Have You"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa dengan Kibum?" Hankyung menoleh ke arah Heechul yang sedang membuat kopi dengan mesin kopi miliknya. Hankyung kini sedang berada di apartemen mewah sang kekasih lelakinya. Hankyung memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya yang tersampir di sandaran sofa. Lalu ia lekas memakai jaketnya dan menyambar kopi miliknya yang sudah di buat oleh Heechul.
"Ibunya Kibum masuk rumah sakit dan kita harus segera menjenguknya." Hankyung menyeruput kopinya tanpa mengingat duduk terlebih dahulu. Kopi itu masih panas tetapi Hankyung asal meminum saja hingga membuat Heechul mengomel padanya, "Bodoh. Kopinya masih panas!" Tetapi omelan dari Heechul tidak berlangsung panjang karena Hankyung segera melumat bibir kekasihnya dengan dalam.
"Dengan begini sakit dari kopi panasnya sudah sembuh." Hankyung tersenyum manis di hadapan wajah Heechul yang memerah di perlakukan seperti ini oleh kekasihnya.
"Bodoh." Umpat Heechul malu. Hankyung malah memberikan sebuah kecupan lagi di bibir Heechul.
"Nanti saja kujelaskan." Hankyung segera meraih pinggang Heechul agar berjalan bersamanya. Mereka akan menuju rumah sakit dimana ibu dari Kibum di rawat.
.
.
.
"Lihat ini." Hankyung memberikan sebuah amplop berwarna cokelat disertai senyum tampannya. Kibum yang tengah menaikkan kardus-kardus berat ke atas tumpukkan, menghentikan pekerjaanya sejenak. Kibum menurunkan kembali kardus yang sudah di angkatnya. Hankyung masih menyodorkan amplop itu hingga beralih ke tangan Kibum.
"Apa ini hyung?" Kibum dengan ragu memandangi amplop dan wajah Hankyung yang tersenyum tenang. Ia melihat gestur tubuh Hankyung yang menyuruhnya untuk lekas membukanya. Kibum dengan rasa penasarannya segera membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat berlembar won yang entah berapa jumlahnya. Kibum beralih memandang Hankyung di hadapannya dengan raut bertanya.
"Aku pernah bilang bahwa aku akan mencari bantuan untukmu bukan, dan lihatlah aku berhasil mendapatkan satu setengah juta won dari teman-teman kita. Aku juga memintakannya pada pegawai perempuan." Hankyung menjawab rasa penasaran Kibum dan langsung di tubruk Kibum dengan pelukannya.
"Terimakasih. Terimakasih Hankyung Hyung. Jeongmal Gomawoyo. Gomawo. Gomawo." Kibum terus berucap terimakasih yang hanya bisa ia ucapkan. Entah dengan apa ia bisa membalas budi pada teman-teman seperjuangannya yang bekerja bersamanya di tempat ini.
"Sudah. Sudah. Lihat kau sampai secengeng ini. Ini, Pakailah." Hankyung melepas pelukan erat Kibum. Ia menyodorkan sebuah sapu tangan dan di terima Kibum setelah mengucapkan terimakasih sebelumnya. Kibum melepaskan sarung tangan kotornya terlebih dahulu sebelum menghapus air matanya yang keluar begitu saja dengan sapu tangan yang Hankyung berikan.
"Uang itu untukmu. Semua orang peduli padamu Kibum. Dan semuanya juga mendoakan agar ibumu cepat sembuh. Jadi kau harus kuat okay?" Kibum mengangguk kuat dan menatap Hankyung penuh terimakasih.
"Ngomong-ngomong, manajer kita yang sadis itu juga ikut membantu ahahaha." Hankyung membisikkannya pada Kibum takut orang yang mereka bicarakan mendengarnya, jika itu terjadi maka tamatlah riwayat mereka bisa di kerjai habis-habisan seharian. Kibum ikut tertawa senang melupakan tangis harunya barusan.
Di sisi lain dimana Hankyung dan Kibum tengah bercanda bersama, diam-diam pegawai wanita bahkan ibu-ibu single juga ikut mengintip dua pria tampan yang sedang bersama itu.
"Sebenarnya kita tidak boleh melihat seorang pria menangis."
"Kau benar. Mereka akan merasa harga dirinya jatuh di mata perempuan." Sahut yang lainnya.
"Aku jadi ikut menangis karena Kibum menangis hiks." Sahut yang lainnya lagi yang berada di belakang, ia mengelap tangisnya menggunakan lengan bajunya.
"Ehem." Deheman seseorang mengalihkan pandangan mereka berlima yang tadi mengintip dua pria tampan itu.
"Huwaaaa...ma-manajer!" Koor mereka berlima kaget dan gelagapan.
"Kalian sedang apa di sini! Kembali bekerja." Tegur manajer laki-laki itu galak.
"Baik." Sahut mereka berlima dan kabur terbirit-birit seperti sedang di kejar anjing. Yeah, manajer seharusnya memang bersikap tegas agar bawahannya tidak malas, tetapi ketegasannya justru membuat orang lain takut.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Seminggu lagi ibumu harus menjalani operasi. Jadi ia harus dalam kondisi baik dan siap tubuh serta mentalnya. Jadi untuk sementara ini jangan dulu membebani pikirannya dengan hal-hal yang membuatnya berpikir keras. Apalagi ibumu sangat ingin sekali kembali bekerja. Ku harap kau sebagai kerabatnya bisa menenangkannya dan bujuklah ia untuk mempersiapkan diri menjelang hari operasi." Kibum mendengarkan dengan seksama nasihat dari dokter yang bertanggung jawab menangani pengobatan ibunya. Setelah selesai dengan urusannya, Kibum keluar dari ruangan dokter dan pergi menuju ruang dimana ibunya di rawat bersama pasien lain yang satu ruangan dengan ibunya.
Kibum mengambil duduk di samping ranjang ibunya yang masih tertidur. Ia menggenggam sebelah tangan ibunya dan membawanya ke arah pipinya. Ia memandangi ibunya dengan perasaan yang berkecamuk. Banyak sekali hal yang di pikirkannya terutama mengenai biaya pengobatan ibunya.
Seorang nenek yang juga seorang pasien satu ruangan dengan ibunya, memanggilnya. Kibum mau tak mau mendekat karena ia merasa di panggil.
"Nenek memanggilku?" Kibum duduk di sebelah ranjang nenek yang sedang duduk bersandar di ranjang pesakitannya.
"Kau tampan sekali. Siapa namamu nak?" Kibum tersenyum. Sudah banyak yang memanggilnya tampan tapi nenek ini terdengar tulus memujinya.
"Kim Kibum." Kibum menggenggam tangan si nenek yang memegang pipinya. Begitulah Kibum, pintar mengambil hati orang lain.
"Apa di sana itu ibumu?" Tunjuk nenek itu ke arah ibunya yang sedang tertidur. Kibum mengikuti arah tunjuk sang nenek dan mengangguk.
"Aigoo.. sungguh beruntung sekali dia memiliki anak yang sangat tampan sepertimu." Kibum kembali tersenyum.
"Nenek pasti waktu mudanya adalah gadis yang populer." Nenek itu terlihat tersenyum malu-malu.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena kecantikan nenek masih sangat kentara meski sudah berusia lanjut."
"Aaah.. Kau bisa saja. Apa kau sudah punya kekasih?" Tanya sang nenek itu antusias. Kibum membawa genggamannya pada tangan sang nenek dan meletakkan tangan keriput itu kembali di pangkuan sang nenek.
"Belum. Buruh sepertiku pasti sulit menemukan pasangan." Kibum adalah sosok yang rendah hati seperti ibunya. Nenek itu membelai kepala Kibum dengan sayang.
"Ah, kebetulan nenek punya seorang cucu yang sangat manis. Sayangnya nenek jarang bertemu dengannya karena dia sangat sibuk. Kapan-kapan akan nenek kenalkan jika kita bertemu lagi." Hibur nenek itu pada Kibum yang dengan antusias di jawab oleh Kibum.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan sangat menantikannya." Ternyata mengobrol dengan sang nenek yang berada satu ruangan dengan ibunya cukup membuat Kibum melupakan sedikit beban pikirannya.
.
.
.
"Kau kenapa? Kau terlihat sangat gelisah seperti ini Kibum. Apa ada sesuatu?" Tanya Hankyung yang melihat Kibum tak tenang dalam diamnya. Kadang duduk, kadang berdiri. Kakinya juga tak bisa diam.
"Duduklah. Dan ceritakan. Siapa tahu aku bisa membantu." Hankyung memaksa Kibum duduk di sebelahnya.
"Sebenarnya, uang operasi ibuku masih kurang 2, 5 juta won. Maaf aku tidak memberitahumu dari awal Hyung."
"Tapi bantuan dari kalian semua sudah sangat membantuku." Sambung Kibum sebelum Hankyung berbicara sesuatu.
"Aku mengerti keadaanmu. Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu. Aku mengerti kau pasti tidak ingin merepotkan orang lain. Apa aku perlu meminjamnya dari Heechul? Dia pasti akan sangat senang membantumu." Mendengar usul Hankyung, dengan cepat Kibum menggeleng tak setuju.
"Tidak perlu. Aku tak ingin membebanimu karena kau kekasihnya dan aku adalah temanmu. Sungguh aku tak ingin membebanimu seperti itu Hyung. Aku mengerti kau pasti juga akan malu karena kekasihmu berkecukupan dan aku tidak ingin ia mengira dirimu hanya memanfaakannya. Aku tak ingin seperti itu. Meski kau adalah sahabatku." Hankyung terenyuh. Kibum meski keadaanya sedang terdesak seperti ini pun masih memikirkan orang lain. Kira-kira terbuat dari apa hati Kibum ini, pikir Hankyung.
"Aku sungguh tidak merasa seperti itu Kibum. Lalu jika kau menolak usulku, apa kau punya usul lain? Jika kau meminjamnya ke bank pasti ada jaminannya. Apa tidak apa-apa seperti itu?" Kibum menggeleng.
"Bukan. Maksudku aku tidak akan meminjamnya di bank. Aku akan meminjamnya pada orang lain."
"Siapa? Rentenir? Apa kau tahu, itu sangat berbahaya. Nyawamu menjadi taruhannya jika kau tidak bisa membayarnya Kibum. Coba pikirkan lagi." Hankyung terlihat marah tetapi ia terdiam saat Kibum menyodorkan sebuah kartu kredit yang Kibum sodorkan.
"Kenapa bisa kau memiliki benda seperti ini? Kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak bukan." Saat Kibum menjelaskan kepada Hankyung seluruh cerita bagaimana ia bisa mendapatkan kartu itu, Hankyung malah terlihat sangat senang. Seharusnya Kibum yang senang di sini.
"Itu bagus Kibum. Seharusnya kau tidak perlu khawatir lagi memikirkan soal biaya. Ini namanya adalah keberuntungan. Jadi apalagi yang kau khawatirkan? Hm?" Hankyung heran dengan pola pikir Kibum. Bukankah seharusnya Kibum senang dan memakai kartu itu dengan sesuka hati karena memang begitulah yang di ucapkan orang yang di tolong Kibum, kenapa dia malah terlihat sangat khawatir.
"Bukan seperti itu Hankyung Hyung. 2, 5 juta won adalah nominal yang sangat besar. Aku takut akan lama mengembalikannya."
"Kenapa di kembalikan? Bukankah itu sudah menjadi milikmu. Tapi terserah padamu saja. Jika kau menolak usulku meminta pinjaman dari Heechul, maka jalan satu-satunya adalah menggunakan kartu itu. Tapi ingat, jangan sekali-sekali berhubungan dengan rentenir." Kibum terdiam terlihat sedang berpikir, kemudian ia mengangguk mantap. Sudah ia putuskan akan Kibum gunakan uang di dalam kartu itu meski pada awalnya Kibum tak ingin mengambilnya satu won pun. Karena keadaan sangat mendesak, maka mau tak mau Kibum akan menggunakan uangnya.
.
.
.
.
.
Seminggu kemudian.
Kemarin, Operasi orang yang sangat Kibum sayangi berjalan dengan lancar. Kibum sangat bersyukur akan hal itu. Kini ibu dari Kibum masih di rawat di rumah sakit untuk pemulihan pasca operasi.
Hari inilah Kibum berada di sini. Di dalam gedung yang menjulang tinggi milik Cho Corp. Sesuai alamat yang tertera di dalam kartu nama yang pernah orang yang di tolong Kibum itu berikan, Kibum akan mengembalikan kartu kredit orang itu dan mengatakan padanya bahwa ia akan mengembalikan uang yang ia pinjam.
Kibum di izinkan masuk secara cuma-cuma tanpa halangan karena menyodorkan sebuah kartu nama saja. Kibum juga heran, apakah sebuah perusahaan besar seperti ini bebas bertemu dengan siapa pun seperti yang terjadi pada Kibum saat ini? Bertemu kepala manajer di tempatnya bekerja saja sangat sulit. Apakah orang yang ingin Kibum temui ini adalah orang yang jabatannya tidak seberapa atau malah sebaliknya. Pikiran Kibum terus berkecamuk hingga petugas yang mengantarnya dan menjadi penunjuk jalan ini memecah lamunannya dengan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruangan yang terlihat dari pintunya adalah ruangan orang yang berpengaruh di perusahaan ini.
"Tunggu." Cegah Kibum pada petugas yang sudah mengantarnya ini. Lelaki bertubuh kekar dan berpakaian hitam-hitam ini menoleh ke arah Kibum.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas itu ramah di balik mimik sangarnya.
"Eh, itu... siapa orang yang memiliki kartu nama ini?" Petugas itu terlihat mengernyitkan dahinya.
"Anda tidak tahu? Baiklah akan saya jelaskan singkat saja. Selebihnya Anda akan tahu setelah berada di dalam. Beliau ini hanya memberikan kartu namanya pada orang-orang yang berkedudukan tinggi. Jadi karena Anda memilikinya berarti Anda termasuk ke dalam golongan seperti itu. Ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?" Kibum terhenyak. Dirinya? Berkedudukan tinggi? Hell, sepertinya petugas ini salah orang. Dengan ragu Kibum menggeleng dan petugas itu lekas pergi dari hadapannya karena urusannya sudah selesai.
Seperginya petugas itu, Kibum melihat pantulan dirinya di dalam besi lempeng di hadapannya. Dengan jantung yang terus berdebar gugup, Kibum membuka pintu besi itu yang rupanya sangat ringan meski terlihat berat. Dan terdiamlah ia saat sudah berada di dalam ruangan yang sangat luas itu. Di sana, Kibum melihat sesorang yang sedang sibuk dengan berkas-berkas dan laptopnya.
Kibum mengetuk kaca yang menjadi pintu ruangan itu. Orang itu menoleh dan mempersilahkan masuk. Lalu kembali sibuk dengan tumpukannya kembali.
"Silahkan duduk di sana dan mohon tunggu sebentar lagi." Kibum mengikuti apa yang orang itu ucapkan dan duduk di sebuah sofa menghadap orang itu yang terlihat masih sangat sibuk mencoret-coret menggunakan penanya.
Setelah lima belas menit Kibum menunggu, orang itu menghampiri Kibum dan tersenyum padanya. Kibum berdiri dan memperkenalkan dirinya.
"Kim Kibum imnida." Kibum membungkuk hormat dan meraih tangan orang itu yang terulur kepadanya. Mereka berjabatan tangan sejenak.
"Cho Kyuhyun. Silahkan duduk kembali." Kibum kembali duduk di tempatnya semula. Orang itu mengambil telepon dan menelpon seseorang untuk mengambilkan minuman untuk tamunya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Kibum mengangguk ragu. Apa orang ini sudah melupakannya? Cepat sekali. Tapi memang mereka hanya pernah bertemu satu kali jadi wajar saja manusia cepat lupa.
"Ya. Itu-Mall-Copet-" Kibum terlihat bingung akan menjelaskan dari mana sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah potongan kata.
"Ah! Jadi kau orang itu. Maaf tidak mengingatmu. Terimakasih atas pertolonganmu waktu itu. Jadi ada maksud apa menemuiku kemari?" Sebelum Kibum menjawab pertanyaan Kyuhyun, seseorang datang dan membawa minuman. Setelah orang itu pamit pergi, mereka kembali melanjutkan pembicaraan.
Kibum menyodorkan kartu kredit yang pernah Kyuhyun berikan padanya ke hadapan Kyuhyun.
"Aku bermaksud mengembalikan ini. Maaf sebelumnya aku telah menggunakan uang yang sangat banyak dari sana. Sebenarnya awalnya aku tak akan mengambilnya tapi karena keadaanku sedang terdesak, mau tak mau kugunakan kartu itu. Tetapi aku akan segera mengembalikan uang itu meski agak lama. Sekali lagi maafkan aku." Kibum berdiri dari duduknya dan membungkuk formal ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun mengambil kopinya dan menyeruputnya sedikit. Ia menyuruh Kibum duduk kembali meski Kibum ragu, tetapi Kibum tetap di suruhnya duduk. Kyuhyun terlihat mengetikkan sesuatu di layar smartphone mewahnya. Saat menerima balasan dari sana, Kyuhyun kembali memandang Kibum. Ia menyodorkan kembali kartu itu ke hadapan Kibum.
"Ambillah lagi sesukamu. Jika perlu tidak usah di kembalikan tidak apa-apa. Pertolonganmu sangat besar bagiku. Karena di dalam dompet itu hanya ada satu-satunya foto keluargaku."
Kibum terlihat tersenyum salah tingkah yang menimbulkan desiran aneh pada Kyuhyun.
"Tidak. Terimakasih. Aku tak membutuhkannya lagi. Tetapi aku akan tetap mengembalikan uangmu." Kibum kembali menyodorkan kartu itu ke hadapan Kyuhyun. Kali ini Kibum tersenyum dengan sangat tampan dan lega karena ia pikir akan sulit berurusan dengan orang berpengaruh seperti Kyuhyun ini. Tetapi senyum Kibum itu malah berdampak bahaya bagi jantung Kyuhyun yang berdetak kencang hingga berpengaruh pada rona merah di pipinya.
Untuk menghilangkan salah tingkahnya, Kyuhyun berdehem dan memperbaiki duduknya. Kyuhyun melihat arloji di tangannya.
"Apa kau memiliki libur hari ini?" Kibum mengerutkan keningnya. Ia tidak paham apa yang baru saja Kyuhyun katakan. Bukankah pertanyaan seperti ini terlalu pribadi.
"Maaf-" Kyuhyun berdiri dari duduknya. Lalu mengambil tangan Kibum dan membawanya keluar diiringi beribu pertanyaan di kepala Kibum yang hanya diam saja dengan perlakuan Kyuhyun padanya.
"Bilang pada sekretarisku untuk mengosongkan jadwalku hari ini." Resepsionis yang di perintahkan Kyuhyun segera mengangguk patuh kepada pemilik perusahaan itu lalu membungkuk hormat. Kibum membalasnya tetapi hanya sebentar karena tangannya kembali di tarik oleh Kyuhyun seolah Kibum adalah miliknya.
Sesampainya di depan gedung, Kibum menghentikan langkah mereka.
"Kau tidak perlu menyeretku seperti ini Tuan."
"Eh?"
"Aku bisa keluar sendiri. Maaf karena telah mengganggu waktu berhargamu. Aku pasti akan segera mengembalikan uangmu. Permisi."
"Hah?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
.
.
.
.
Yah. Yah. Yah. Salah paham dah Kibum.
Kyknya ff ini bkal panjang deh soalnya kerangkanya udh dibuat muahaha.
Apdetan ini jg buat nyemangatin si Emak. Go fighto yo fighto yo mak!
Yg mau UN semangat ya!
.
.
.
Thanks To :
aqistzahwa, sur0203, bulantaurus, kyunihae, sparkyuhana, FiWonKyu0201, Hanna shinjiseok, 2emon el, imayrochdiana1, Sinta669, Yong Do Jin316, jihyunelf, Cuttiekyu94, nurkoswara23, Park Rinhyun-Uchiha
.
.
Makasih juga buat yg udh follow and favorit ff ini.
Jangan keberatan buat review lagi ya^^
