"Had and Have You"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"T-tunggu! Maaf. Yeah Aku minta maaf membuatmu salah paham. Sebaiknya kita bicarakan di dalam mobil saja." Kibum yang sebenarnya akan pergi karena merasa tersinggung dengan geretan paksa dari Kyuhyun, akhirnya memasuki mobil yang sudah berhenti di depannya bersama Kyuhyun.
Mobil mewah yang melaju santai di jalanan siang musim gugur itu, membawa suasana canggung para penghuni di dalamnya. Sopir yang hanya menjalankan tugasnya tentunya tak ikut campur dalam suasana itu. Kibum bolak-balik melihat jam yang ada di layar ponselnya.
"Bisakah aku di turunkan di sini saja Tuan?"
"Eh?"
"Kau sejak tadi tak memberitahuku arah tujuan kita. Sebaiknya aku turun di sini saja." Kyuhyun menepuk jidat mulusnya. Kenapa sih orang ini selalu salah paham? Apa dirinya yang bodoh ya?
"Kibum-ssi. Bisakah kau diam saja? Aku hanya akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Bolehkah aku mengetahui dimana itu?"
"Tidak."
"Eh? Kalau begitu aku seperti korban penculikan. Lucu sekali candaanmu Kyuhyun-ssi." Kyuhyun melonggarkan dasi yang mencekik lehernya dengan kasar. Ia frustasi.
"Sshhh... baiklah. Akan kuantar kemanapun kau pergi."
"Kalau begitu turunkan aku disini." kukuh Kibum.
"Eh?"
"Turunkan aku disini Tuan Cho." Ulang Kibum. Kyuhyun yang mendengar kekeras kepalaan Kibum semakin kencang menarik-narik dasinya.
"Tidak. Aku tidak akan menurunkanmu."
"Tidak bisa begitu. Aku bisa- mpphhhh" belum sempat Kibum menyelesaikan penolakannya, bibirnya terlebih dahulu di bungkam oleh sebuah benda kenyal sekaligus lembut dan basah milik Kyuhyun, itu bibirnya. Kyuhyun sampai menarik kerah baju hangat Kibum ke arahnya.
"Dengar Tuan Kim. Duduk dan diam saja. Kau tinggal sebutkan kemana tujuanmu." Ucap Kyuhyun di depan bibir Kibum yang basah karena telah ia nodai dengan bibir sexynya. Kibum yang masih sangat shock akibat ciuman Kyuhyun hanya menuruti apa kata Kyuhyun.
"Rumah sakit Seoul."
"Kau dengar sopir Lee?"
"Baik." Sahut sang sopir memenuhi perintah majikannya, ia memutar balik arah menuju tempat yang di maksud.
Sesampainya di rumah sakit. Kibum memandang heran ke arah Kyuhyun yang juga ikut turun dari mobil bersamanya.
"Bukankah kau hanya akan mengantarku, Tuan Cho?"
"Memangnya aku tadi bilang seperti itu?" Kibum menggeleng dan mengangguk. Ia lupa.
"Tidak."
"Ya sudah. Ayo kita masuk." Ajak Kyuhyun sambil meraih tangan Kibum, menggandengnya.
"Apa perlu sampai bergandengan seperti ini?" Tanya Kibum yang cukup risih karena perilaku Kyuhyun yang seenaknya terhadap orang asing sepertinya. Apalagi tadi ia sampai di cium olehnya.
"Tidak juga." Kyuhyun akhirnya melepaskan tangan Kibum yang tidak sadar ia gandeng. Kini ia salah tingkah sendiri di hadapan Kibum.
"Apa kau sakit Kibum-ssi?"
"Tidak." Sahut Kibum. Mereka jalan beriringan.
"Apa kau akan menjenguk seseorang?"
"Iya."
"Siapa? Bolehkah aku tahu?"
"Ibuku."
"Oh." Mereka tiba di kamar pasien yang di dalamnya ada empat ranjang. Di salah satunya terdapat Ibu dari Kibum yang masih di rawat.
"Oh Tidak...Eomma!" Pekik Kibum dari ambang pintu.
"Nenek!" Yang ini adalah pekikan kaget Kyuhyun yang mendapati neneknya adalah salah satu pasien di rumah sakit ini.
Kibum segera berlari menghampiri ibunya yang duduk tak karuan di ranjangnya. Sedangkan di atas pangkuannya berserakan kartu yang sedang di mainkan para pasien bersama ibunya itu.
"Eomma belum sembuh. Kenapa bisa suster membiarkanmu dalam kondisi seperti ini." Kibum membenarkan posisi ibunya berbaring dan membereskan kartu-kartu yang berserakan itu. Ibu Kibum malah terlihat sangat senang saat anaknya datang. Ia memeluk Kibum erat sekali seolah mereka sudah lama berpisah padahal kemarin Kibum ada bersamanya.
"Nenek. Aku cucumu!" Pekikan Kyuhyun mengalihkan fokus kedua orangtua dan anak itu ke arah Kyuhyun dan seorang nenek yang pernah berbincang dengan Kibum waktu itu.
"Bukan. Kau bukan cucuku. Jangan mengaku-ngaku."
"Nenek... Aku benar-benar cucumu." Kali ini rengekan yang terdengar di ruangan itu yang mendadak hening karena semua orang di sana berfokus pada nenek dan cucu yang sedang berusaha mendapatkan pengakuan.
"Kau bukan cucuku. Cucuku bernama Kyuhyun."
"Aku ini Kyuhyun, Nenek... Cucumu." Kyuhyun tetap bersikeras untuk mendapat pengakuan dari neneknya.
"Bukan. Kau bukan cucuku. Mungkin kau Kyuhyun yang lain." Kukuh nenek itu.
"Aku Kyuhyun nenek. Percayalah. Aku ini cucumu."
"Cucuku bermarga sama dengan marga mendiang suamiku. Kau bukan cucuku."
"Baiklah. Aku Cho Kyuhyun, nenek. Percaya padaku. Jebal."
"Bukan. Kau pasti bukan cucuku. Kau Cho Kyuhyun yang lain. Cucuku memiliki tanda lahir di paha sebelah... kiri atau kanan ya?"
"Aku Cho Kyuhyun, nenek. Cucumu. Aku juga memiliki tanda lahir di paha dalam sebelah kiriku. Apa perlu ku tunjukkan padamu? Baiklah. Jika bukti ini akan membuatmu percaya bahwa akulah cucumu, akan ku tunjukkan padamu sekarang juga." Kyuhyun melucuti ikat pinggangnya. Saat akan membuka celana kantornya, ternyata sebuah tangan lebih dahulu menghentikannya.
"Tunggu Kyuhyun-ssi. Kau ingin membuat seluruh pasien wanita di ruangan ini histeris apa? Sebaiknya jangan kau lakukan." Bujuk Kibum.
"Aku mengerti Kibum-ssi. Tapi aku harus meyakinkan nenek bahwa akulah satu-satunya cucunya. Kau tak perlu khawatir. Aku memakai boxer. Lihat." Kyuhyun memamerkan boxer pikachu yang di pakainya dengan percaya diri ke arah Kibum. Lalu ia melepaskan celananya dan menunjukkan tanda lahirnya pada sang nenek yang mungkin akan percaya dengan bukti itu.
Satu yang Kibum tangkap dari pernyataan Kyuhyun, bukan soal gambar boxer Kyuhyun, melainkan Kyuhyun adalah cucu nenek itu satu-satunya yang berarti nenek itu akan mengenalkan Kibum pada Kyuhyun yang notabene adalah laki-laki sama sepertinya. Hell No! Dengan langkah sembunyi-sembunyi, Kibum melangkah pergi dari ruangan itu. Tetapi belum sampai ambang pintu, namanya sudah di panggil ramai-ramai oleh seluruh penghuni kamar. Dengan gerakan patah-patah Kibum terpaksa memutar balik badannya.
"Kibum-ssi, inilah cucuku yang akan ku kenalkan padamu. Bagaimana? Dia manis tidak?" Bangga si nenek memamerkan Kyuhyun pada Kibum. Kibum hanya bisa mengangguk ragu dengan senyum terpaksa di wajahnya.
"Kemarilah. Kalian berdua terlihat sangat serasi. Ah, calon cucu menantuku yang tampan dan cucuku yang manis. Kau juga setuju kan Ny. Kim?" Ibu dari Kibum malah bertepuk tangan senang karena ternyata Kibum akan memiliki kekasih.
"Aku sangat setuju. Kibum sebentar lagi akan ada yang mengurusnya!" Antusiasme ibunya malah menambah buruk posisi Kibum.
"Matilah aku." Batin Kibum nelangsa.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
