.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Had and Have You"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

This is The End of the Story. Please give this more focus on it. I warned you to preparing some tissue. It might be hurt or comedy I don't really know. LoL. Lets enjoy this story^^

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara detak jarum jam tak lagi terdengar karena termakan derasnya suara hujan di luar sana. Pagi hari yang suram. Jam menunjukkan setengah tujuh pagi. Gelap di luar sana tak sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Hujan membasahi seluruh Seoul.

Seorang namja tampan yang biasanya sudah bangun pagi-pagi sekali ini tak kunjung membuka matanya. Hawa dingin yang merayap ke sela-sela kulit, membuatnya semakin merapatkan selimut tebalnya. Ia adalah Kim Kibum. Smartphonenya berdering. Itu adalah bunyi alarm yang sudah di atur dan berbunyi setiap sepuluh menit sekali setelah jam enam pagi. Kibum terbangun meski enggan. Selimut masih melilit tubuhnya hingga leher saat ia mencoba untuk duduk di ranjangnya. Matanya mengerjap berulang kali. Seperti masih ada batu besar yang menggantung di kelopak matanya, berat sekali untuk membuka. Ditambah hawa dingin yang memenuhi ruangan sempit kamarnya. Dengan berat hati, Kibum turun dari ranjangnya. Ia melepas kaos tipis yang di kenakannya saat tidur tadi dan meletakkan kaos itu menyusul pakaian kotor lainnya yang menumpuk di dalam ranjang khusus pakaian kotor itu. Entah kapan ia berniat mencucinya, untung saja ibunya jarang melihat-lihat kamarnya, jika tidak Kibum pasti akan di omeli sepanjang hari.

Kibum masuk ke dalam kamar mandi dengan malas-malasan. Setelah beberapa menit terdiam di ambang pintu kamar mandi, ia tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak boleh malas seperti ini. Sejak kapan ia menjadi seperti ini? Ia tak pernah di ajari sebagai anak yang pemalas sejak kecil. Ia harus segera bekerja dan mencari uang yang banyak. Sepulang kerja masih ada banyak tumpukan cucian kotornya yang menunggu. Bisa saja ia cuci di laundry koin yang murah di ujung jalan dekat halte nanti. Tidak tidak. Itu pekerjaan orang pemalas. Ia harus mencucinya sendiri dengan cara manual. Menggunakan tenaganya sendiri tentunya. Ah, itu urusan nanti saja. Yang terpenting saat ini adalah ia harus mandi dan berangkat kerja terlebih dahulu. Dengan semangat itu, Kibum berhasil menjauhkan rasa malasnya yang di pengaruhi oleh cuaca yang sedang hujan.

.

.

.

.

.

.

"Aku pulang." Ucap salam Kibum saat ia sudah pulang kerumahnya. Kibum merenggangkan tangannya ke atas sebelum ia mencopot sepatu kerjanya dan menatanya di rak sepatu. Kemungkinan saking lelahnya ia sampai tak melihat ada sepatu hitam mengkilat lain yang juga terletak di samping sepatunya yang mana baru saja ia letakkan.

Kibum berjalan ke arah meja makan sambil mencopot kancing jasnya yang kemudian ia lepaskan dan di sampirkan di lengannya.

"Eomma, tumben sekali kau memasak banyak. Apa sedang ada perayaan?" Tanya Kibum pada sang ibu yang sedang berkutat di dapur entah sedang mengerjakan apa. Di meja makan memang banyak sekali makanan. Saat Kibum akan mencomot udang goreng yang terlihat begitu menggiurkan di hadapannya, ucapan ibunya terlebih dahulu menghentikan niatannya.

"Ya! Berhentilah dari kebiasaan jorokmu itu Kibum. Benar-benar kau ini. Mandi dulu sana."

"Baiklah. Eommaku tercinta." Kibum tak pernah bisa membantah omelan ibunya. Sifatnya seperti Ayahnya persis. Ia tak pernah bisa melawan sang ibu. Ia selalu mengalah. Sama seperti Ayahnya. Kibum berlalu pergi ke kamarnya dengan lesu. Seharusnya tadi ia mengambil udangnya diam-diam saja, bukan berkomentar terlebih dahulu. Rasanya ia menyesal.

Kibum membuka kemeja putih kerjanya dan menaruhnya di atas tumpukan kotor bajunya. Rasa lelah tiba-tiba menggandrungi pundak dan punggungnya. Terlebih lagi saat ia bertemu lagi dengan tumpukan baju kotor. Lebih baik ia bawa saja ke laundry setelah mandi dan makan malam. Kibum hanya memakai boxer pendek ketatnya saat ia membuka pintu kamar mandi. Pintu kamar mandinya memang tak berbunyi sama sekali jika di buka. Sehingga tanpa sepengetahuan orang yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi yang sedang mandi dan full naked itu, pintu itu terbuka. Kibum mematung melihat pemandangan indah di hadapannya. Kibum melihat seseorang bertubuh putih mulus sedang membelakanginya dan mandi di bawah shower dengan sesekali bersenandung. Kibum sampai menelan ludahnya dengan susah payah di hadapi oleh cobaan begitu sexy dan menggoyahkan imannya, sehingga di balik celana boxernya yang ketat itu, perlahan miliknya mengeras dan sedikit demi sedikit menonjol ke depan. Bagaimana tidak? Punggung yang putih mulus itu terlihat sangat kokoh, pantatnya yang putih dan bulat juga besar, di aliri dengan nakal tetesan air yang membelainya. Paha dan kaki orang itu terlihat begitu menggiurkan untuk di gigit. Sial. Fantasy Kibum terlalu liar. Dengan kesadaran yang perlahan merayapi pikiran Kibum, ia menutup kembali pintu kamar mandi itu secara perlahan. Dengan sedikit kesusahan akibat miliknya yang mengeras, Kibum duduk di bangku yang ada di kamarnya sambil menopangkan kepalanya pada tangannya.

"Ya Tuhan. Cobaan apalagi ini?" Ratap Kibum di sela-sela bengongnya.

Setelah beberapa menit Kibum menunggu, akhirnya orang yang berada di dalam kamar mandinya keluar sudah. Dengan pakaian rapi dan juga kebesaran. Tunggu. Sepertinya Kibum familiar dengan pakaian yang orang itu kenakan.

"Ah. Kibum. Kau membuatku kaget. Oh iya. Maaf aku sudah memakai kamar mandimu dan meminjam bajumu tanpa seizinmu. Tapi tadi aku sudah meminta izin pada Eomma. Hehe. Tidak apa-apa kan? Aku kehujanan dan tak membawa payung sehingga pakaianku basah kuyup. Karena rumahmu dekat dengan kantorku, makanya aku mampir." Kyuhyun berbicara panjang lebar dan Kibum hanya mencerna sesuatu yang aneh.

"Kibum? Eomma?" Tanya Kibum yang mendengar sapaan sok akrab dengan dirinya dan ibunya.

"Iya. Memangnya kenapa? Kita sudah menjadi dekat bukan. Kurasa kau juga tak apa-apa menurutku." Kyuhyun melihat Kibum sedikit mengangguk.

"Ah Terimakasih Kibum. Bagaimana dengan pakaian ini? Pakaianmu tak ada yang pas di tubuhku. Hanya sweater abu ini saja yang aku suka meski kebesaran. Apa sweater ini boleh kumiliki? Hmmmm...Bau tubuhmu masih melekat disini."

"Ah. Ambillah. Tak apa-apa. Aku masih punya yang lain." Kyuhyun tersenyum. Kibum begitu baik. Kyuhyun jadi penasaran, apakah Kibum selalu seperti ini pada orang lain? Apa ia juga memperlakukan orang yang di sukai maupun di cintainya seperti ini? Memikirkan hal itu, wajah Kyuhyun yang tadi sumringah mendadak mendung.

"Kyuhyun-ssi? Apa kau baik-baik saja? Apa kau terkena demam? Mukamu memerah."

"Ah, tidak. Aku.. eh, Gomawo Kibum untuk sweaternya. Aku senang sekali bisa memilikinya. Akan kujaga baik-baik." Kibum mendekat ke arah Kyuhyun masih dengan hanya berbalut boxer ketatnya saja. Ia tiba-tiba menempelkan tangannya di dahi Kyuhyun, membuat si empunya dahi berjengit dan sedikit mundur ke belakang. Lalu tangan Kibum yang tadi memegang dahi Kyuhyun, ia pindahkan di dahinya sendiri. Kibum sedang mengukur suhu tubuh mereka. Memeriksa apakah Kyuhyun terserang demam atau tidak.

"Normal." Ucap Kibum singkat saat merasakan suhu tubuh Kyuhyun sama sepertinya. Kyuhyun menundukkan kepalanya. Ia malu. Mukanya semakin memerah. Kibum begitu perhatian padanya. Tetapi saat ia menunduk, mukanya bertambah memerah saat ia melihat gundukan di antara selangkangan Kibum yang tercetak jelas. Dengan seringai nakal, Kyuhyun menyentuh gundukan itu dan sedikit meremasnya hingga mengeluarkan erangan dari bibir tipis Kibum. Kibum yang akhirnya sadar, ia langsung mendorong Kyuhyun dan berlari secepat kilat menuju kamar mandi lalu menutup pintunya dengan keras. Kyuhyun yang melihat reaksi dari kejahilannya pada Kibum, tertawa-tawa senang.

"Aku tunggu di meja makan kedatanganmu, nae yobo. Ahahhaaha" teriak dan tawa Kyuhyun dari kamar dan berlalu dengan hati teramat senang setelah berhasil mengerjai Kibum.

Di meja makan.

"Makanlah yang banyak calon menantu. Baru kali ini kita makan bersama dengan Kibum hihihi. Lihat Kibum. Wajah malu Kyuhyun sungguh imut." Ibu Kibum tak henti-hentinya selalu menggoda Kibum dan Kyuhyun secara bergantian. Ia sangat senang dengan reaksi keduanya.

"Imut dari mananya? Setan kecil seperti itu. Hati-hati Eomma. Kau sudah tertipu dengan wajah polosnya saja." Batin Kibum dengan sesekali melirik Kyuhyun dengan pandangan tajam. Kibum dan Kyuhyun duduk bersebelahan, sedangkan ibu dari Kibum duduk di hadapan mereka.

"Eomma..." mendengar nada manja dari Kyuhyun, ibu Kibum semakin bertambah senang.

"Aigoo... Kibum. Lebih baik jangan kau sia-siakan Kyuhyun. Secepatnya nikahi dia. Benarkan? Kyuhyunie.."Kyuhyun mengangguk malu-malu kucing. Kibum salah tingkah. Ia begitu menghindari topik ini.

"Eomma. Apa Kyuhyun-ssi sering kemari saat aku tak ada di rumah?" Kibum mencoba mengalihkan pembicaraan. Ibu Kibum mengangguk.

"Waeyo?" Tanya wanita paruh baya itu sambil menyuapkan makanan kemulut Kyuhyun yang di terima Kyuhyun dengan senang hati. Kibum yang melihat itu merasa sedikit iri. Mereka ternyata sudah begitu dekat.

"Kyuhyun-ssi. Aku mau bertanya sesuatu padamu." Kyuhyun menoleh dan mengangguk dengan mulut yang masih penuh berisi makanan kearah Kibum.

"Kau berniat menjadikan rumahku hotel ya?" Kyuhyun tiba-tiba berhenti mengunyah dan cepat-cepat ia menelan makanannya.

"Jahat. Kata-katamu kasar sekali Kibum. Habisnya aku sudah jatuh cinta pada masakan Eomma yang sangat enak. Eomma juga tak keberatan dengan keberadaanku. Benarkan Eomma?" Wanita paruh baya itu mengangguk-angguk sambil mengelus tangan Kyuhyun untuk menenangkannya. Kata-kata Kibum seolah-olah ia tak menyukai keberadaan Kyuhyun di rumah ini. Kyuhyun tersenyum berterimakasih ke arah wanita paruh baya itu. Ibu Kibum kini sadar, rupanya anaknya tak menyukai Kyuhyun meski mereka tak ada hubungan apa-apa. Ibu Kibum sudah memaksakan diri agar Kyuhyun menjadi menantunya. Tetapi, walaupun Kyuhyun akan menjadi menantunya ataupun tidak nanti, wanita paruh baya itu tetap akan menyayangi Kyuhyun.

"Maaf. Itu... aku tak bermaksud-"

"Sudah-sudah. Jja. Kita lanjutkan makannya sebelum dingin." Potong sang ibu dan mengomando mereka untuk melanjutkan makan malam yang tertunda.

.

.

"Kyuhyunie, kau akan pulang sekarang? Apa tak apa-apa? Hujannya masih deras." Tanya ibunya Kibum khawatir karena Kyuhyun begitu terburu-buru untuk pulang. Apa karena perkataan Kibum tadi? Entahlah.

"Gwenchanayo Eomma. Aku sudah meminjam payungnya. Tenang saja. Aku pasti akan sampai rumah dengan selamat. Terimakasih atas makan malamnya" Kyuhyun memeluk wanita paruh baya itu dan mengelus punggungnya.

"Hati-hati menaiki busnya. Jangan duduk dengan orang yang mencurigakan ne?" Kyuhyun sedikit tertawa.

"Terimakasih Eomma. Terimakasih telah mengkhawatirkanku. Aku jadi semakin menyayangimu. Baiklah. Aku pergi. Aku pasti akan sangat merindukanmu Eomma. Sampai jumpa." Kyuhyun mengecup pipi kanan ibu Kibum dan segera melepaskan diri dari pelukan hangat itu, Kyuhyun segera keluar dari rumah Kibum dengan bahu yang turun. Ia berjalan menggunakan payung itu dengan langkah pelan. Sindiran Kibum ternyata masih terngiang di telinga dan pikirannya.

Kyuhyun memasuki bus dan duduk di deretan kursi ketiga dekat jendela. Ia menatap keluar jendela dalam diam. Rintik hujan yang mengalir karena terbentur oleh kaca jendela itu, menjadi pemandangan yang menyenangkan untuk Kyuhyun.

.

.

.

.

.

"Hhhh..." helaan napas terdengar mendominasi ruangan kecil sebuah laundry yang di dalamnya hanya ada seorang wanita yang sedang menggunakan headset dan terlihat sedang menunggu cuciannya selesai. Kibum memasukkan lima buah koin ke dalam tempatnya sebelum menyalakan mesin cuci setelah sebelumnya ia beri sabun cuci bubuk. Ia tinggal menunggu cuciannya selesai di sebuah bangku yang berseberangan dengan wanita yang sibuk mengangguk-angguk terbawa oleh lagu yang terputar di telinganya tanpa peduli dengan sekitarnya. Kibum bingung apa yang akan ia lakukan di waktu kosong itu. Akhirnya ia putuskan untuk melamun malam itu. Ia menjadi tidak enak sekali pada Kyuhyun karena ucapannya sendiri meski ia sudah meminta maaf. Kibum melarikan pandangannya ke arah halte. Tempat laundry itu memang berseberangan dengan halte bus. Dari kaca tempat laundry itu, Kibum bisa melihat Kyuhyun yang sedang memakai payung dan mulai memasuki bus yang baru sampai di pemberhentian itu. Ia bisa melihat Kyuhyun duduk di deretan bangku ketiga sebelah jendela sehingga Kibum dapat melihat sosoknya yang duduk melamun menghadap keluar. Kyuhyun merasa ada yang sedang memperhatikannya, sehingga ia mencari-cari dimana itu. Saat ia melihat jauh keluar, tanpa sengaja tatapannya bertabrakan dengan tatapan Kibum. Tatapan mereka terkunci begitu saja. Hingga bus yang membawa Kyuhyun di dalamnya, pergi meninggalkan halte. Tatapan Kibum terus mengikuti bus itu hingga tak lagi di tangkap oleh mata.

"Ada apa? Kenapa jantungku berdetak keras sekali seperti ini? Apa karena Kyuhyun?" Kibum refleks memegang dadanya dimana letak jantungnya berada.

.

.

.

.

Pagi hari yang begitu cerah kali ini, berbeda dengan hari kemarin yang sepanjang harinya hujan tanpa henti. Sehingga membuat beberapa daerah di genangi banjir akibat sungai-sungai yang meluap. Kyuhyun sampai di tempat dimana Kibum juga bekerja di sana dengan tampilan yang seperti biasa. Formal dan kaku. Hari ini ia sedang ingin mengunjungi perusahaan barunya yang sudah lama tak ia sambangi. Hanya sesekali ia terlihat disana. Itupun jika sedang ada kepentingan saja. Namun, berbeda untuk hari ini. Ia sedang ingin saja. Ia juga bisa bertemu teman masa sekolahnya disana. Namanya Lee Donghae. Ia adalah kepala divisi yang mengontrol bawahannya dari rumah. Ia tahu Donghae seperti apa, Donghae tidak suka berada lama-lama di sebuah organisasi karena ia tak suka suasana formal di sana. Sehingga banyak di antara para pekerja tidak mengenal orang itu meski hanya tahu namanya saja. Tetapi berbeda untuk hari ini. Kyuhyun mengundang Donghae untuk sebuah reuni. Meski bukan di tempat seharusnya, tetapi sepertinya Kyuhyun sedang ingin menghibur diri sendiri dengan kehadiran teman lamanya.

Kedatangan Kyuhyun di sambut oleh sapaan-sapaan formal dari beberapa pekerja yang berpapasan dengannya. Ia sudah menjadi orang penting disana kini.

Saat akan sampai di ruangannya, secara kebetulan Kyuhyun bertemu dengan Donghae di lift. Mereka kemudian berpelukan erat melepaskan kerinduan masing-masing. Terutama untuk Donghae, ia sudah sejak lama menyukai Kyuhyun meski hingga kini tak pernah ia sampaikan kepada sang penarik hatinya. Cinta dalam diam. Biarlah seperti itu, mungkin akan lebih baik untuk keduanya, itu menurut Donghae. Lagipula Donghae juga tak ingin membuat Kyuhyun memandangnya aneh dan malah menjauhinya.

"Sudah lama kita tak bertemu Kyuhyun-ah, kau masih sama seperti dulu, tak berubah" Donghae masih senang berada di pelukan mereka. "Kau masih tetap menawan."gumam Donghae dalam hati. Tak mungkin sekali ia ungkapkan secara terang-terangan.

"Iya kau benar. Sudah lama sekali kita tak bertemu. Kau malah semakin banyak berubah Donghae-ah. Semakin tampan." Donghae membeku mendengar kalimat pujian dari Kyuhyun. Tetapi Kyuhyun memang benar, Donghae yang saat ini terlihat berbeda dan lebih dewasa. Karena Donghae yang dulu adalah Donghae yang sangat aktif dan childish. Dan juga semakin tampan. Mendengar kalimat pujian itu, bolehkah Donghae masih mengharap untuk Kyuhyun? Donghae melepaskan pelukan mereka. Ia terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia salah tingkah.

"Benarkah? Apa aku setampan itu? Kau bisa saja Kyu. Aku semakin kagum padamu apalagi sekarang kau malah yang menjadi bossku hahaha. Kadang takdir tak begitu adil."

"Takdir? Kenapa?"

"Beberapa tahun yang lalu perusahaan yang sudah susah payah kubangun, runtuh sudah akibat pengkhianat dari salah satu pegawaiku. Ia menggadaikan rahasia perusahaanku ke perusahaan lain yang lebih besar. Ah, kita sudah sampai."

"Oh, kau benar. Kajja, aku ingin mendengar ceritamu lebih banyak Donghae-ah." Kyuhyun membawa Donghae keruangannya dan mereka terlibat pembicaraan seru di dalam sana.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sejak reuni pada hari itu, Kyuhyun dan Donghae semakin dekat. Kyuhyun jadi lebih sering berada di perusahaan barunya karena ada seorang teman yang membuatnya nyaman untuk di ajaknya berkeluh kesah. Donghae pun jadi semakin sering menyambangi kantornya karena alasannya hanya satu, yaitu karena Kyuhyun.

Mereka semakin sering terlihat jalan bersama di sekitar perusahaan itu. Mereka juga terkadang berbelanja bersama di mall itu. Setiap waktunya makan siang, mereka pasti akan selalu makan siang bersama. Sehingga tak heran jika dimana ada Kyuhyun, pastilah ada Donghae di sekitarnya.

Desas-desus mengenai Kyuhyun yang di kabarkan begitu dekat dengan kepala divisi mereka, sampai juga di telinga Kibum. Karena setiap hari itu-itu saja yang di gosipkan pegawai-pegawai perempuan di bawah tanggung jawabnya, Kibum menjadi semakin penasaran. Ia belum pernah melihat wajah kepala divisi mereka sebelumnya, ia hanya tahu orang itu adalah Lee Donghae, hanya namanya saja. Sehingga untuk memenuhi rasa penasarannya, saat ini Kibum tengah mengikuti pasangan itu diam-diam. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana mereka saling berangkulan. Donghae merangkul bahu Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun merangkul pinggang Donghae. Mereka sudah seperti sepasang kekasih saja. Sangat akrab dan mesra. Kibum juga bisa mendengar meskipun saat itu sedang ramai, suara tawa mereka berdua yang membuat hati Kibum semakin panas. Kyuhyun belum pernah tertawa seperti itu dengannya. Apalagi mereka tidak dekat. Lagipula terakhir kali mereka bertemu juga Kibum telah menyakiti perasaan Kyuhyun.

.

.

"Kibum-ssi. Kibum-ssi. Kibum sajangnim." Seseorang terlihat sedang melambaikan tangannya di hadapan muka Kibum.

"A-ah. Ya. Ada apa?" Kibum tersentak dari lamunannya dan menatap bingung salah satu bawahannya.

"Itu. Ramyeonmu sudah surut airnya. Jadi aku matikan kompornya karena melihatmu melamun terus." Kibum terkekeh tak enak hati karena tertangkap sedang melamun, ia menggaruk tengkuknya dan mengucapkan 'Terimakasih' pada ahjumma itu.

"Biar kutebak Kibum-ssi. Kau pasti sedang memikirkan seseorang. Siapa? Siapa? Apa orang itu sangat spesial untukmu? Hmm?" Ahjumma itu menyenggol-nyenggol lengan Kibum menggunakan lengannya untuk menggoda atasannya yang tidak pernah terdengar kabar ia sudah berpasangan.

"Ah. Ahahahha ahjumma. Kau bisa saja. Tidak ada yang kupikirkan."

"Jinjja? Jinjja? Lalu kenapa kau terlihat salah tingkah begitu? Haaa arasseo... sajangnim muda kita sedang dilanda cinta rupanya..." setelah puas menggodai Kibum, ahjumma itu bergabung dengan teman-temannya dan menggosipi Kibum kemudian. Kibum bisa mendengar helaan kecewa dari wanita-wanita yang mengagumi dirinya.

.

.

.

Tak tahan dengan rasa sakitnya yang semakin lama melihat Kyuhyun terus-menerus di sekitar Donghae, hari ini Kibum bertekad untuk menemui Kyuhyun di ruangannya. Ia ingin mempertanyakan ada hubungan apa antara Kyuhyun dan si kepala divisi itu secara langsung. Dengan keberanian itu, ia langsung membuka pintu ruangan Kyuhyun dan melihat Kyuhyun yang tertidur kursinya, kepalanya miring kesamping sehingga Donghae dengan mudah mencium bibirnya. Eh, tunggu. Apa? Mencium bibir? Benar. Kibum tak salah lihat. Ia benar melihat Donghae mencuri kesempatan mencium Kyuhyun disaat ia sedang lengah. Di saat Kyuhyun sedang tertidur.

Kibum mematung di tempatnya berdiri di ambang pintu. Tak mau mengganggu mereka, Kibum menutup kembali pintu itu untuk keluar darisana membawa perasaan yang begitu hancur. Satu kenyataan yang Kibum saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ternyata Donghae juga menyukai Kyuhyun.

.

.

.

.

.

.

Kibum tiba di rumahnya tanpa memberi salam seperti biasa. Di perjalanan pulangnya tadi tatapannya begitu kosong. Adegan Donghae mencium Kyuhyun yang sedang tidur tadi terus berputar-putar di memorinya seperti sebuah kaset rusak. Ibu Kibum sampai tak tahu bahwa anaknya itu sudah pulang kerja. Kibum langsung menuju ke kamarnya dan mengurung diri.

.

.

.

Kyuhyun terbangun saat merasakan napas hangat berhembus di depan mukanya, dalam pejamnya Kyuhyun juga merasakan gelap yang sesak, seperti ada yang menutup-nutupi. Dengan perlahan, ia membuka matanya. Ia terbelalak kaget saat mendapati wajah Donghae begitu dekat dan lebih kagetnya lagi sedang manawan bibirnya. Dengan satu dorongan kuat, tubuh Donghae menjauh dan tautan bibir itu terlepas.

"K-Kyuhyun. Maafkan aku. Mianhe. Aku..."

"Jelaskan. Apa maksudmu menciumku di saat aku sedang tidur." Jawab Kyuhyun dingin. Donghae sedikit menegang. Ia belum mengantisipasi reaksi Kyuhyun yang akan seperti ini.

"I-itu.. Aku... Itu karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu sudah sejak pertama kali kau menjadi teman sekelasku dulu. Maaf. Aku baru berani mengungkapkannya sekarang padamu. Aku takut. Jika aku mengungkapkannya kau akan menganggapku aneh dan menjauhiku. Maaf."

"Kenapa? Kenapa? Katakan kenapa Donghae-ya..." lirih Kyuhyun di akhir kalimatnya. Ia jelas kaget dengan ciuman Donghae. Apalagi setelah mendengar penjelasan Donghae.

"Aku-"

"Kenapa tidak kau katakan sejak dulu! Kenapa?! KENAPA DI SAAT AKU SUDAH MENCINTAI ORANG LAIN DAN KAU TAHU ITU KAU- Kau baru mengatakannya sekarang? KENAPA?!"

"Aku... maafkan aku Kyu. Kupikir dulu kau seorang straight, tetapi setelah aku mendengar langsung darimu bahwa kau bisa menyukai laki-laki, aku semakin ingin memilikimu tanpa peduli saat ini kau sedang dekat dengan siapa. Maafkan aku."

"Kau tahu? Kau jahat. Aku mencintainya Donghae. Aku selalu bercerita tentang dia setiap hari kepadamu. Apa kau, kau ingin aku bersamamu. Begitu?!" Donghae dengan ragu mengangguk. Ia mendekati Kyuhyun satu langkah tetapi Kyuhyun sudah berteriak terlebih dahulu untuk tetap di tempatnya.

"Tetap disana! Jangan mendekat!"

"Meskipun kau memilikiku sekarang apa bedanya jika aku tak akan mencintaimu? Apa kau menganggap hal seperti itu adalah hal yang mudah?"

"Kyu, dengar. Aku egois. Aku mengerti. Tapi, melihatmu memiliki cinta sebelah tangan seperti itu, Kupikir aku bisa mengisinya agar kau segera melupakannya."

"Aku tanya padamu. Apa melupakan seseorang yang dicintai itu segampang membalikkan telapak tangan?"

"Kita belum mencobanya. Kau tak boleh menyerah sebelum kau coba."

"Jika aku bilang padamu. Aku tak mau? Aku tak mau mencobanya. Kau akan melakukan apa? Kau ingin memaksakan cintamu? Apa hal itu hanya sebuah permainan untukmu? Apa aku bisa kau ajak main-main? Begitu?!"

"Maka aku akan menyerah. Aku tahu. Melihat reaksimu yang seperti ini aku tak akan pernah bisa membuka jalan. Aku tahu kau sangat mencintai dia. Tetapi aku-"

"Donghae-ya. Kita adalah teman. Teman lama yang di pertemukan kembali. Kau salah sangka bahwa kedekatanku denganmu karena aku juga menaruh hati padamu. Tidak. Kau tahu aku seperti apa Donghae. Jika aku memilih satu maka aku akan menjaga pilihanku sampai kapanpun. Apa kau mengerti?"

"Kau juga jahat Kyu. Kau mengatakan kita hanyalah teman meski aku telah mengungkapkan perasaanku padamu. Permisi sajangnim." Kyuhyun hanya memandang punggung kokoh Donghae hingga tak terlihat lagi.

"Maafkan aku. Donghae-ya. Kau tetaplah temanku yang berharga." Gumam Kyuhyun di sela tangisnya.

.

.

.

.

.

Tiga hari berlalu sejak kejadian dimana Kyuhyun bertengkar dengan Donghae dan Kibum melihat Donghae mencuri ciuman Kyuhyun saat sedang tidur. Tak ada lagi Donghae yang pergi ke kantor. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya di rumah. Tak ada lagi Kyuhyun yang menyambangi kantor barunya seperti biasa.

"Aku tak mau berakhir seperti Appa. Appa yang selalu mengalah akan apapun. Appa yang selalu bersabar dengan apapun. Appa yang menyia-nyiakan kesempatan hidupnya hingga matipun ia hanya bekerja serabutan. Meski Appa adalah sosok pahlawan yang selalu kukagumi, kebaikannya, kesabarannya, kejujurannya, Meski Appa telah meninggal, aku tak ingin menjadi seperti Appa. Jadi. Sudah kuputuskan." Kibum memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan berkobar. Ia tak akan melepaskan Kyuhyun begitu saja karena sosok itulah yang sudah membuat Kibum seperti mayat hidup tiga hari ini. Dengan semangat itu, Kibum bangun dari tempat tidurnya dan mencari coatnya. Ia akan mencari Kyuhyun dan berkata yang sejujurnya pada orang itu.

Tetapi baru saja Kibum akan membuka pintu rumahnya, dari arah luar pintunya terlebih dahulu di ketuk. Kibum dengan segera membuka pintunya dan mematung melihat siapa yang berkunjung kerumahnya malam-malam seperti ini. Di hadapannya, disana, berdirilah seorang Cho Kyuhyun yang baru saja akan ia cari keberadaannya. Apakah ini sebuah takdir? Atau hanya sebuah kebetulan semata? Kyuhyun juga tak menyangka jika yang akan membukakan pintunya adalah orang yang ia cintai yang tak mencintainya. Kim Kibum.

Kibum menggeser posisinya dan mempersilahkan Kyuhyun masuk.

"Apa... Eomma ada dirumah?" Kyuhyun bertanya takut-takut. Sebenarnya ia merasa sangat canggung karena sudah lama ia tak bertemu dengan Kibum setelah insiden perkataan Kibum waktu itu padanya.

"Tidak. Eomma sedang berada di rumah tetangga. Aku bisa memanggilkannya untukmu. Tunggu sebentar."

"E-eh. Tu-tunggu Kibum. Aku... aku tak ingin mengganggu ibumu jika beliau sedang sibuk. Jadi aku akan menunggu disini. Bolehkah?" Kibum tak bisa menahan senyumnya. Ia mengangguk kemudian ia duduk di hadapan Kyuhyun ikut menemani Kyuhyun.

"Aku... membawa kue. Dan juga oleh-oleh untuk ibumu. Aku sudah lama tak berkunjung kemari. Jadi kupikir sebagai permintaan maaf karena sudah lama tak kemari jadi..."

"Untukku apa tidak ada?" Kibum menatap Kyuhyun lekat tepat di matanya. Kyuhyun jadi salah tingkah di tatap sedemikian lekat seperti itu oleh Kibum.

"A-ah.. untukmu ya. Ah benar. Aku lupa. Mungkin lain kali."

"Tapi bagaimana jika kuminta sekarang?"

"I-itu.. aku... baiklah. Jika kau menginginkan sekarang, aku akan membelinya. Kau tunggulah disini. Aku akan segera kembali." Belum sempat Kyuhyun berdiri tegap, tangannya sudah di tarik dan di dudukkan di pangkuan Kibum.

"Kyuhyun. Aku minta maaf. Ternyata selama ini aku telah jatuh cinta padamu tetapi baru kusadari sekarang. Maaf. Membuatmu menunggu lama. Apakah hatimu masih untukku? Atau aku sudah terlambat?" Kibum memegang kedua pipi Kyuhyun agar Kyuhyun hanya terfokus padanya saja. Ia ingin mendengar jawaban sebenarnya dari Kyuhyun. Apakah Kyuhyun masih akan menjadi calon pasangan hidupnya atau tidak. Kibum ingin mendengar itu. Tetapi apa yang dia dapatkan? Kyuhyun malah menangis.

"Kyu? Kenapa? Apa aku menyakitimu? Apa perkataanku tadi membuatmu sakit? Aku minta maa-" Kyuhyun memotong permintaan maaf Kibum yang lagi-lagi di ucapkannya dengan meletakkan telunjuknya di bibir Kibum.

"Hiks. Kibum. Kau lama sekali. Hiks kau membuatku menunggumu begitu lama kau tahu? Rasanya mencintai satu sisi itu sangat menyakitkan hiks hiks."

"Maafkan aku. Maaf. Maaf. Maaf. Apa kau akan memafkanku?" Kibum memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat sambil mengelus punggungnya untuk menenangkannya. Kibum tersenyum sumringah ketika ia dapat merasakan kepala Kyuhyun yang mengangguk di pundaknya.

"Benarkah? Terimakasih."

.

.

.

"Kyuhyun. Apakah lamaranmu waktu itu masih berlaku? Bolehkah aku menjawabnya sekarang juga?" Kyuhyun dengan tegas menggeleng. Yang mendapat reaksi murung teramat kentara dari Kibum.

"Kau harus mengulangnya dengan cara yang lebih baik." Kibum dengan sangat kuat langsung menyesap bibir Kyuhyun hingga sang empunya bibir merintih sakit karena Kibum seperti akan memakan bibirnya. Di tengah-tengah suasana panas itu, ibu Kibum tiba-tiba langsung menjatuhkan keranjangnya begitu melihat adegan panas anaknya bersama sang calon menantu.

"Aigoo...aigoo... kamera mana kamera! Nenek Kyuhyun harus tahu tentang ini! Kyaaaaa..." Nyonya Kim langsung menutup mulutnya saat di rasa teriakannya akan menggagalkan rencananya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END.

.

.

.

.

Kog Fi malah mewek ya pas nulisnya? Padahal ini nggak ada sedih-sedihnya. Fi sedih aja. Kog bisa ya Fi nulis sampe sepanjang ini? Huaaaaaa

Ini gara2 galau karna dramanya Kyuhyun huaaaaa...Kyuuuu... no kisseu kisseu please...huaaaaaaaaa...

.

.

.

Real End.

Wow. Selamat buat yg pilih "Had and Have You" sudah dikabulkan!

Sekarang waktunya review dan menghargai kerja keras Fi dalam pembuatan FF ini. Karna tanpa kalian Fi gamau apdet lagi kalo ga ripiu. Deal ya?