Loveby EsposaMalfoy

Chapter 3

Disclamer: Semua karakter punya tante JK Rowling, aku hanya penggemar yang ingin meyalurkan ideku pada fiksi ini.

Warning: OOC

Fred dan James menatap Scorpius tajam. "Kalau kau serius pada adikku, natal nanti kau harus datang ke The Burrows. Kami tak peduli kita sudah berteman sejak kecil tetapi kau akan tetap kami seleksi." Kemudian James melengang masuk di ikuti Fred yang menutup pintu asrama.

Scorpius mendesah gugup.Akhirnya hari ini datang juga.


"Jadi—bagaimana ciuman Scorp? Luar biasa? Biasa? Atau tidak enak? Rosieee—beritahu aku!" Lily bertanya sambil melompat-lompat di atas kasur Rose penasaran.

"Lils, aku mau tidur!" Kata Rose kesal sambil buru-buru mengganti jubahnya dengan piyama. Ia langsung melompat ke atas kasurnya kemudian menarik selimutnya sampai menutupi kepala.

"Kau bohooooong!—" Lily mengguncang-guncangkan tubuh Rose. "Setelah kejadian tadi, mana mungkin kau bisa tidur!"

Rose balas menggumam tak jelas. Lily semakin bersemangat mengguncang-guncangkan tubuh Rose. Mungil-mungil begini, kalau Lily sudah penasaran, tenaganya bisa jadi kuat sekali. "Rosieee—aku tak akan berhenti sampai kau bercerita!"

"AH—baiklah, baiklah!" Rose membuka selimutnya jengkel lalu duduk bersila di atas kasurnya. Lily tersenyum menyebalkan. "Nah, apa yang ingin kau tanyakan, sepupuku sayang?"

"Bagaimana ciuman Scorp? Luar biasa? Biasa? Atau bahkan tidak enak?" Lily mengulang pertanyaannya dengan mata berbinar.

"Errr—lumayan." Rose menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

Lily mendesah kecewa. "Lumayan apa? Lumayan enak? Lumayan menyenangkan? Lumayan buruk? Lumayang mengecewakan? Atau—lumayan menggairahkan?" Lily terkikik geli dan Rose langsung menimpuk kepala Lily dengan gulingnya lalu bergumam pelan yang kedengerannya seperti Dasar cewek mesum atau entah apalah itu.

"Yah—lumayan seru."

"Hanya lumayan?" Lily memicingkan mata sambil menatap Rose intens. "Kau bilang hanya lumayan di saat kau memejamkan matamu nikmat sambil mendesah-desah berisik. Tanganmu tadi juga menjambak-jambak rambut Scorpius, kau sedang bertengkar atau apa, eh?"

Rose blushing. Lily tersenyum menggoda. Rose baru saja menyadari sifat Lily mirip dengan kakak kandungnya, Albus Potter. Sama-sama suka menggoda Rose.

"Lalu, bagaimana akhirnya? Berarti kalian sudah jadi sepasang kekasih dong sekarang? Oh, aku tak sabar melihat para cewek patah hati!" Kata Lily sambil tertawa geli. Rose menggeleng sambil menaikkan bahunya tanda tak tahu.

"Kami tidak pacaran, Lils." Jawab Rose dengan nada cuek.

"Oh, Merlin! Maafkan aku, Rose.." Katanya prihatin sambil mengelus-elus punggung Rose dengan sayang.

"Its okay, Lils. Itu hal biasa. Tak berdampak apapun padaku. Lagipula ciuman itupun hanya karena terpaksa." Lily berdecak kesal.

"Kau ini. Masih saja mau menyembunyikan padaku. Kau lupa aku sudah mengenalmu sejak lahir?" Semprot Lily sebal. Rose hanya menatap Lily dengan tatapan datar. "Terpaksa? Maksudmu bagaimana sih, Rose?"

"Entahlah. Kurasa ia hanya terbawa suasana. Yah, kau tahu lah. Cowok. Sama saja semuanya. Ia hanya yah mungkin agak er—terangsang karena awalnya ciuman kami memang terpaksa."

"Terpaksa? Maksudmu bagaimana sih? Jelaskan yang jelas dong, jangan setengah-setengah!" Rose merutuki sepupunya dalam hati. Lily jika penasaran memang tidak sabaran. Akhirnya Rose menceritakan pada Lily kisahnya dengan Scorpius dari awal sampai akhir. Selengkap-lengkapnya.

Mulut Lily membulat sempurna. "Benarkah Al punya alat seperti itu? Merlin, aku ingin membelinya."

Rose mencubit pinggang Lily gemas. "Kau ingin mencium siapa memangnya?"

"Kau tahu Jason Brooks?" Kata Lily sambil tersenyum genit. "Ia targetku selanjutnya."

"Lils!" Rose berdecak tak percaya. Ternyata Albus dan Lily memiliki sifat yang mirip lagi. Playboy dan playgirl. Selamat untuk The Potters Family.


"Hai!" Albus tersenyum lebar di depan pintu masuk asrama Slytherin.

Scorpius mendengus kesal. "Mereka marah."

Albus mengernyit heran. "Mereka?" Scorpius mengangguk malas.

"Siapa?" Tanya Albus tak mengerti. Scorpius berdecak tak sabar.

"Saudara-saudaranya. Saudara-saudaramu juga."

"Oh!" Albus baru mengerti kemudian tertawa terbahak-bahak. "Jadi bagaimana reaksi mereka?"

"Yah, begitulah. Kau pasti tahu." Kata Scorpius sambil beranjak menuju kamar tidur asramanya. "Mereka memergokiku dengannya sedang berbuat itu. Kemudian mereka marah-marah seperti babon gila dan mengatakan sesuatu semacam seleksi atau entah apapun itu."

"Lalu?" Albus tersenyum jahil.

"Yah—begitulah, aku harus datang ke The Burrows natal nanti."

"Tidak, tidak. Aku sedang tidak menanyakan soal seleksimu." Albus menggeleng-geleng dengan wajah menyebalkan. "Aku menanyakan tentang ciumannya."

Scorpius menelan ludahnya gugup. Pembahasan tentang inilah yang ia hindari sejak tadi. Scorpius mengambil piyamanya dari lemari dan berpura-pura tak mendengar pertanyaan Albus.

"Hoi!" Panggil Albus, namun Scorpius masih berpura-pura tak mendengar dan mengenakan piyamanya dengan gerakan lambat.

Albus menghempaskan bokongnya di kasur Scorpius. Matanya menerawang kosong ke langit-langit kamarnya lalu ia bertanya dengan suara melamun, "Apa kau menggunakan lidahmu?"

Scorpius tersedak ludahnya sendiri kemudian terbatuk-batuk.

"Whoa! Santai saja mate!" Albus terkikik geli. "Hm, sepertinya aku sudah tahu jawabanmu."

"Hei, itu tak seperti yang kau pikirkan! Aku tak menggunakan lidahku!" Scorpius merona, namun kentara sekali berusaha menutupi.

"Memangnya aku berpikir kalau kau berciuman menggunakan lidahmu? Mengapa kau bisa tahu? Wah, aku baru tahu kalau kau ternyata menguasai Legilimency." Kata Albus sok polos yang membuat Scorpius blushing.

"Sudahlah, Al! Kau pasti paham kan! Jangan menggodaku! Pergi sana, aku mau tidur!" Scorpius ngomel sambil mendorong Albus hingga ia terjatuh dari kasur Scorpius. Alih-alih kesakitan, Albus malah tertawa terbahak-bahak, girang melihat pertama kalinya dalam sejarah ia bersahabat dengan Scorpius, Malfoy-junior itu bisa salah tingkah.


Hugo berjalan santai menuju Hogwarts Express bersama sepupu-sepupunya. Lily dan kakak kandungnya, Rose, berjalan di depannya. Entah membicarakan apa. Mungkin girls-talk, bergosip seperti biasanya. Hugo mendengus pelan. Albus entah dimana, mungkin dengan Scorpius, mengingat mereka tinggal di asrama yang sama. Fred dan James berjalan di sampingnya, sibuk merencenakan seleksi untuk Scorpius Malfoy. Hugo terlalu malas untuk ikut membicarakannya, karena ini kan bukan kali pertama mereka melakukan seleksi. Entah sudah keberapa-kali mereka membuat para cowok yang hanya ingin memanfaatkan Rose lari pontang-panting. Jadi Hugo memasang earphone di telinga kanan dan kirinya, mendengarkan lagu-lagu Muggle yang diputarkan oleh iPod kesayangannya.

Hogsmeade Station ramai dengan siswa-siswi Hogwarts yang sudah berganti pakaian menjadi pakaian muggle. Hari ini memang sudah di jadwalkan untuk liburan Natal untuk seluruh murid Hogwarts.

Lily dan Rose sudah menaiki Hogwarts Express. Hugo hampir saja ikut naik, namun tiba-tiba lengannya di tahan oleh James. Hugo mengedikkan kepala seolah bertanya apa yang ingin James lakukan, namun Fred menarik lengan Hugo menjauhi Hogwarts Express.

"Ada apa sih?" Kata Hugo sebal. Ia sangat mengantuk (salahkan James karena iseng memasukkan Pil-Anti-Ngantuk ke Jus Labu Hugo yang membuatnya tidak tidur semalam suntuk) bayangan untuk segera tidur di kursi kompartemen Hogwarts Express sirna sudah. Fred menempelkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruh Hugo untuk segera diam.

"Stay cool, guys. Kita harus memperlihatkan wibawa kita kepadanya." Kata Fred sok tegas. Hugo mengernyitkan keningnya tidak mengerti, kemudian ia melihat sepupunya, Albus dan Scorpius berjalan menuju Hogwarts Express. Hugo baru paham. Ternyata Fred dan James sedang berusaha untuk mengintimidasi Scorpius.

"Hai!" Sapa Albus ceria. Scorpius hanya mengedikkan kepalanya sebagai salamnya. Fred dan James balas mengedikkan kepala, mengabaikan Albus yang jelas-jelas menyapanya secara verbal.

"Mereka kenapa?" Bisik Albus dengan gerakan bibir kepada Hugo.

"Rose." Jawab Hugo hanya menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara. Albus membulatkan bibirnya membentuk huruf O sambil mengangguk-angguk paham.

"Scorpius, kau harus datang ke acara Natal keluarga kami di The Burrows." Kata James dingin. "Dan jangan lupa membawa peralatan Quidditchmu."

"Whoa, mate.." Albus menatap James ngeri. "Tak perlu galak-galak, kau kan sudah kenal Scorp sejak kecil."

"Tetap saja ia harus di seleksi, Al!" Kata Fred tegas. "Jangan sampai Rosie kita terluka."

"Scorp anak yang baik, tahu! Kalian tidak perlu menyeleksinya. Aku sudah mengenalnya lebih baik daripada kalian." Kata Albus serius. "Aku menjamin, dia tidak akan menyakiti Rosie."

"Jadi kau ada di kubu Scorpius sekarang?" Balas James pedas. "Kau bisa saja bersahabat sejak lama, tetapi bukan berarti kau bisa tahu hatinya kan?"

"Sudahlah, jangan bertengkar. Tenang saja, Al. Aku tetap akan mengikuti seleksi untuk mendapatkan Rose." Kata Scorpius sambil terkekeh geli.

"Tapi seleksi itu benar-benar berat, Scorp. Fisikmu bisa—"

"Kau meragukan kemampuan fisik Kapten Quidditch Slytherin?" Potong Scorpius dengan seringaian bangga. Albus hanya mengedikkan bahunya, sedangkan James dan Fred mendengus tak suka. Hugo? Ia terlalu mengantuk untuk bereaksi, jadi ia diam saja.

"Tidak usah banyak kata-kata, Scorp. Buktikan saja pada kami. Kami tunggu di The Burrows."


Molly Weasley tergopoh-gopoh membukakan pintu. Rambut merahnya sudah tidak begitu menyala, tertutupi oleh uban-uban yang muncul berkat pertambahan usianya. Namun tetap saja tak menyurutkan keramahan khasnya.

"Draco! Astoria! Scorp!" Pekik Molly senang. "Sudah lama kalian tak mengunjungiku!"

Molly memeluk Draco yang membuat Draco mengernyit. Walaupun sudah di anggap keluarga, Draco masih merasa aneh kalau dipeluk Molly.

"Selamat Natal, Molly!" Kata Astoria riang sambil memeluk Molly. Molly tersenyum haru. Kemudian ia memeluk Scorpius yang juga mengernyit seperti ayahnya.

"Astaga, ayo masuk! Diluar dingin sekali!" Molly melebarkan pintu The Burrows agar ketiga Malfoy dapat masuk.

Scorpius merasakan kehangatan ketika melangkahkan kakinya masuk. Ia melihat ke sudut ruangan, disana keluarga Potter dan Weasley sedang berdiri berkerumun tertawa-tertawa sambil menghias pohon natal. Rose naik ke pundak Fred untuk memasang hiasan di bagian yang paling tinggi. Sedangkan James, seperti biasa mengusili Rose dengan memegang pergelangan kaki kanan Rose. Rose yang memang kulitnya sangat sensitif pada sentuhan, lantas saja memekik kegelian. James semakin bersemangat mengusilinya, ditambah lagi Albus yang ikut-ikutan memegangi kaki kirinya dan Hugo pada pinggangnya. Rose yang kegelian tentu saja melonjak-lonjak membuat Fred kehilangan keseimbangan dan oleng kesana kemari. Sementara sepupu-sepupunya yang lain tertawa geli, tak ada yang berniat untuk menolong Rose.

Terkadang Scorpius iri jika melihat kebersamaan keluarga Potter dan Weasley. Beda dengan dirinya yang anak semata wayang, rumahnya selalu sepi tanpa gelak tawa. Hubungan kekeluargaan mereka juga erat, saling melindungi satu sama lain. Itu lah mengapa Scorpius menyanggupi ketika ditantang untuk mengikuti seleksi. Ia senang dengan sikap protektif keluarga Rose, yang membuat Rose akan selalu terjaga.

"Tidak bergabung?" Scorpius menoleh dan menemukan Albus sedang nyengir menatapnya. Scorpius menggeleng. Ah, ia sudah terlalu lama melamun tadi sehingga tak menyadari kehadiran Albus.

"Aku tak mau merusak suasana. Biarkan saja." Tolak Scorpius. Albus mengangguk mengerti.

"Btw, Merry Christmas." Kata Albus sambil tersenyum.

Scorpius menyeringai. "Merry Christmas."


Dentingan sendok garpu dengan piring, alunan lagu-lagu natal dan suara obrolan gelak tawa terdengar dari ruang makan The Burrows. Di meja makan, terdapat Buche de Noël, makanan khas Natal di Prancis yang dibuatkan khusus oleh Victoire dan Dominique Weasley.

Roxanne dan Lucy Weasley-pun ikut membuat minuman khas Natal di Meksiko yaitu Champurrado, minuman cokelat panas yang tebal dan lembut dan tepung jagung dengan cokelat Meksiko sebagai bahan utamanya. Dengan kreatifitas Roxanne dan Lucy, mereka menambahkan kayu manis sebagai rasa tambahan. Hasilnya, minuman buatan Roxanne dan Lucy-pun laku keras karena rasanya yang enak dan hangat.

Tak mau kalah, Rose dan Lily membuat sebuah pie. Warnanya merah dengan gradasi peach dan dihias menyerupai kelopak bunga mawar. Semua mengernyit bingung. Belum pernah mereka melihat pie yang seperti ini.

"Apa ini?" Tanya Albus heran.

"Coba saja!" Jawab Lily sambil memotong pie menjadi beberapa bagian dan membagikan kepada seluruh anggota keluarga. Harry yang pertama kali berinisiatif mencoba dan memakannya dengan ragu-ragu.

"Bagaimana?" Tanya Rose penasaran. Harry mengernyitkan dahinya, terlihat berpikir.

"Rasanya—aneh. Manis tetapi tidak manis. Agak pahit tetapi pahit yang menyenangkan." Harry menjawab dengan dahi berlipat-lipat karena berpikir keras. "Entahlah, aku merasa déja vu ketika memakan pie ini."

Rose dan Lily bertukar pandang sambil tersenyum senang. Mereka telah berhasil.

"Uncle Harry, aku dan Lily membuat pie ini agar keluarga kita lengkap pada malam ini." Kata Rose dengan lembut. Harry mengernyitkan dahinya bingung.

"Dad, ini adalah pie dari resep buatan Grandma Lily. Aku dan Rose menemukan buku resep Grandma di gudang dan disana tertulis bahwa pie ini adalah makanan kesukaanmu dan Grandpa James. Bahan baku pie ini adalah bunga lili dan bunga mawar itulah mengapa rasanya pahit, tetapi resep Grandma sangatlah bagus sehingga menjadikannya pahit yang menyenangkan." Kata Lily menerangkan.

"Jadi kami membuat ini supaya kita semua bisa mengenang Grandma dan Grandpa, walaupun kami belum pernah sekalipun bertemu dengan mereka." Kata Rose menambahkan.

Mata Harry melembut. "Terimakasih, Nak. Kalian sangat pandai memasak, seperti ibuku."

"Oh, cucuku.." Molly memeluk Rose dan Lily kemudian menangis terharu. "Aku sangat bangga pada kalian."

Rose dan Lily tersenyum bangga. "Hei sudahlah, jangan menangis, Grandma. Kita malam ini kan akan bersenang-senang. Jangan menangis."

Scorpius memandang Rose dengan lembut. Gadisnya benar-benar hebat.


"Mum, kami ingin bermain Quidditch. Boleh ya?" Kata James meminta izin kepada ibunya setelah makan malam berakhir.

"Sudah malam, Jamie. Gelap. Lagipula diluar dingin dan bersalju." Tolak Ginny dengan tegas.

"Justru itu kami ingin menghangatkan diri dengan bermain Quidditch, Aunty. Izinkan kami ya?" Kata Fred menambahi. "Mum-ku saja sudah memberi izin. Ayolah, Aunty.."

"Iya, Mum. Fred saja boleh, masa aku tidak boleh? Aku kan bukan anak kecil lagi." Rajuk James manja.

Ginny memicingkan matanya. "Benarkah itu, Angelina? Kau mengizinkannya bermain?"

Angelina terkekeh pelan. "Benar, Gin. Sudahlah izinkan saja, Hermione juga sudah memberi Hugo izin. Mereka hanya ingin menjaga keponakanmu."

Ginny mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"

Angelina melanjutkan kekehannya. "Sudahlah, izinkan saja mereka."

"Baiklah kalau kau bilang begitu." Kata Ginny sambil mengedikkan bahunya.

"Hore!" Anak-anak bersorak riang. James mengecup pipi ibunya dengan sayang.

"Scorpius, ayo ikut bermain bersama kami! Boleh kan Aunty Tori?" Kata Fred berpura-pura ramah.

"Yah—Ginny, Hermione dan Angelina sudah mengizinkan. Aku juga akan mengizinkan kalau begitu." Kata Astoria dengan santai. Fred, James, dan Hugo bersorak gembira. Albus hanya menahan tawa sambil memandang Scorpius yang balik memandang dengan tatapan tegang.


Rose duduk di sofa dengan gelisah. Sesekali ia menatap pintu masuk yang tak kunjung membuka.

"Rosie, bisakah kau diam sebentar? Aku tidak konsen membaca majalah ini karena mendengarmu menghela napas sejak tadi." Kata Lily dengan sebal. "Tidak usah terlalu khawatir, mereka pasti tahu batasan."

"Siapa yang khawatir? Aku tidak khawatir!" Jawab Rose gelagapan sambil buru-buru mengambil majalah di atas meja dan langsung membacanya. "Kau saja yang terlalu sensitif mendengar bunyi napasku!"

Lily memutar bola matanya dengan bosan. "Ya ya ya, aku percaya padamu, Miss. Gengsi."

Rose berpura-pura sibuk membaca majalah. Lily kembali mengalihkan pandangannya kepada majalahnya.

"Lils.." Panggil Rose lirih. Lily menengok ke arah Rose. "Benarkah mereka pasti tahu batasan?"

Lily tersenyum simpul. Rose tidak akan kuat menyimpan rahasia dan menyembunyikan sesuatu lama-lama kepadanya. Lily mengangguk yakin. "Ya, Scorpius akan baik-baik saja."

Rose mengangguk pelan, berusaha meyakininya. Semoga saja, Rose berdoa dalam hati.


Author's Note: Hai, readers-readersku tersayang! Maaf baru bisa update sekarang karena fanfictionku ke blokir internet positif:( setelah browsing di internet trik buat mengelabui internet positif, akhirnya aku bisa update lagi, yeay! Maaf kalo mengecewakan kalian semua ya, aku baca semua review yang masuk ke emailku. Aku seneng banget ternyata fanfictionku di tungguin sama kalian semua. Makasih banyak ya, jangan lupa review lagi!

Nox,

Esposa Malfoy.