"...Apakah kau sudah siap, Issei?
Pada malam kali ini, Rias mendapatkan laporan dari petinggi Meikai bahwa ada seekor iblis liar yang kabur dan kemudian menetap di kawasan Kuoh. Hal ini juga memberikan kesempatan padanya untuk menunjukkan semua kemampuan peerage miliknya kepada satu remaja yang baru saja memulai hidupnya sebagai seorang iblis.
"Aku siap, Buchou!" Issei berseru lantang.
Rias tersenyum melihat semangat membara yang di miliki Issei. Dari sekian banyak iblis yang pernah ia jumpai, tak pernah sekalipun ia melihat wajah seorang iblis yang penuh semangat seperti ini, ia jadi bangga sendiri mempunyai peerage seperti Issei.
"Akeno!"
"Baik, Buchou."
Akeno Himejima yang berpangkat sebagai seorang Ratu segera menciptakan sebuah lingkaran sihir teleportasi setelah mendengar panggilan dari Rajanya. Cahaya bernuansa biru langsung mendominasi ruangan temaram klub Penilitian Makhluk Gaib, semuanya kemudian berjalan ke area lingkaran sihir itu berada.
Satu persatu wajah keluarganya Rias lihat, semuanya tampak bersemangat terkecuali Koneko yang terlihat melamun. Kepala Loli kesukaan semua orang itu sedikit menunduk, wajahnya yang biasa datar kini nampak sedikit serius. Pasti ada sesuatu.
"Koneko?" Rias memanggil, Koneko pun menoleh.
"Ya, Buchou?"
"Apakah kau sakit? Kau terlihat melamun."
Koneko menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu."
"Apakah itu sesuatu yang mengganggumu?"
Koneko menggeleng lagi, "Bukan, ini sesuatu yang berbeda."
Rias terdiam. Melihat bagaimana ekspresi Koneko yang bingung saat ini, dia tahu kalau saat ini Loli yang berkedudukan sebagai Benteng miliknya itu memang benar-benar memikirkan hal lain, bukan soal masa lalunya yang menyakitkan. Dan sebuah pertanyaan terlintas di benak Rias, apa yang sedang di pikirkan Koneko?
"Buchou, apa perbincangannya sudah selesai? Semua sudah menunggu lho."
Rias langsung menoleh ke arah Akeno yang sedang tersenyum kalem seperti biasa, gadis Gremory itu dibuat menghela nafas. "Baiklah, kita berangkat!"
Disclaim: Aku hanya minjam karakternya para [Pakar Ternama]
Peringatan: ooc, typo, Ngenes!Tsuna, Jomblo!Tsuna, dll.
Ringkasan: Tsunayoshi Sawada. Seorang calon bos mafia yang di juluki sebagai Decimo, dengan terpaksa melakukan sebuah pelatihan individu atas suruhan sang Arcoballeno, Reborn. Dan dia kini hidup sendiri di sebuah apartemen, hanya dengan bermodalkan Nekad.
~o~
Bagian 2: Akhirnya...
Lingkaran sihir berwarna kebiruan kembali muncul di halaman depan sebuah bekas bangunan pabrik. Lima sosok yang tadi berada di ruangan klub Penilitian Makhluk Gaib, kini sudah berganti tempat pijakan.
"Jadi disini tempat iblis liar itu?!" Mata coklat Issei terus memandang keseluruhan seluk beluk bangunan yang mungkin jarang sekali menarik perhatiannya selama ia hidup menjadi seorang manusia, memang apa menariknya coba memandangi bekas bangunan kotor seperti ini? Itulah yang di batinkan oleh Issei.
Sementara beberapa orang sedang memfokuskan pandangan mereka ke sekitar area bangunan bekas pabrik itu, Koneko malah sedang mengendus-endus udara seperti yang pernah ia lakukan sore harinya saat ia sedang mencari toko kue.
"Bau yang enak itu, jangan-jangan –"
DUARR!
Sebuah suara ledakan yang besar langsung dapat menarik perhatian kelima remaja yang baru saja sampai disana. Ada sebuah asap yang mengepul dari belakang bangunan bekas itu, terlihat jelas juga kalau ada sebuah api yang terpancar dari belakang bangunan itu.
"Kita harus segera memeriksa apa yang terjadi!" Rias melihat kearah Issei, "Issei, berhati-hatilah."
Keempat remaja itu langsung mengangguk setelah mendapat sebuah perintah dari Raja mereka. Mereka segera lari dan masuk ke dalam bangunan terbengkalai itu, bau anyir yang busuk langsung menyambut semua indera penciuman kelima remaja berbeda gender itu, dari kelima remaja itu hanya Issei yang langsung merasakan mual ketika mencium bau yang menurutnya paling busuk yang pernah di cium oleh hidungnya.
"Apa sesuatu yang bergerak disana!" Kiba memperingati kepada semua anggota klub lainnya. Semua mata langsung tertuju pada sisi gedung yang kini hancur di karenakan ledakan tadi, dalam pandangan mereka ada sebuah siluet yang sedang berdiri tegap di antara kobaran api yang masih membara.
Siluet yang merasakan suatu kehadiran itu segera memutar sedikit badannya ke arah kanan, dan kemudian melirik siapa pendatang baru yang keberadaannya tak jauh dari tempatnya berdiri. Dalam ruangan yang masihlah gelap gulita, sosok yang di lihatnya hanyalah terlihat samar-samar, tak lebih dari siluet hitam yang kini juga sedang balas menatapnya.
Kiba, yang menjabat sebagai Knight yang memiliki insting bertarung melebihi anggota lainnya, jiwa petarung yang di miliknya langsung tergerak saat melihat tatapan dingin dari sepasang mata berwarna orange yang entah kenapa bisa menyala dalam kegelapan. Pemuda pirang yang menjadi pujaan semua siswi di Sekolahnya itu merapatkan genggaman tangannya pada gagang pedang yang saat ini dia pegang, ada sedikit rasa gentar saat mata menyala itu terus saja mengarah kepadanya.
"Buchou, dia orang yang berbahaya!" Kiba berucap pada Rias yang tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada siluet di depannya.
Saling menyerang dengan intimidasi selama beberapa menit tak membuat siluet itu berkutik dari posisinya, Rias akhirnya bertindak. "Yuuto, maju!"
Tanpa menjawab, Kiba langsung menarik pedangnya dan kemudian bergerak sampai hampir seperti menghilang dari pandangan. Dengan kecepatan bayangan, Kiba langsung berada di depan siluet itu, ia gerakkan pedang yang di bawanya kearah leher siluet itu, yang kemudian apa yang di lihatnya selanjutnya benar-benar membuatnya terkejut.
"Kau menahan seranganku!?" Tatapan Kiba sekarang tertuju langsung pada sepasang manik orange musuhnya. Remaja berambut pirang itu terus saja mempelototi mata dingin yang menyiratkan kekuasaan itu, dan itu berhasil membuat keberaniannya menurun. "Siapa kau?"
~o~
.
"Kau, tidak akan kumaafkan."
Aku marah, aku sangat marah sampai-sampai rasanya aku ingin meledak disini. Ini adalah yang kedua kalinya aku merasakan perasaan berkecamuk yang bercampur aduk, aku sangat ingin melampiaskannya pada sesuatu.
Buhh!
Aku menatap ludahan mosnter itu, sebuah pita yang di pakai menjadi sebuah jepit rambut anak yang kucari, kini telah ternodai oleh air ludah makhuk itu. Menjijikkan.
"Apa? Kau tidak akan memaafkanku? Memangnya kau bisa apa, Manusia?"
Aku mengambil pita itu dan mulai berdiri. Ya, aku memang mendengar makhluk itu berbicara, tapi apa peduliku? Tak ada. Aku sudah muak, aku sangat ingin melenyapkan makhluk ini. Aku memasukkan pita penuh air liur itu kedalam saku celanaku, aku tak peduli meskipun jika itu menjijikkan.
Aku menatap kembali monster berbulu di depanku, dan dapat dengan jelas aku lihat kalau dia sedang meneruskan kegiatan menyantap bagian tubuh anak kecil yang kukejar secara bulat-bulat. Dia mengabaikanku. Sombong sekali.
"Operation X."
Dapat kudengar sebuah sahutan dari earphone yang terpasang di kedua telingaku. Sebuah grafik dimetris yang memiliki dua jarum pengukur muncul secara otomatis di kedua mataku, aku benar-benar akan melenyapkanmu.
[X-Burner]
ARGHH!
BLAR!
Akhirnya aku berhasil melenyapkan makhluk itu, tapi aku juga menghancurkan satu sisi gedung bekas pabrik ini. Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Apa aku harus mencari orang tua dari anak ini? Mungkin sebaiknya tidak, jika aku terlibat mungkin aku yang nantinya akan di tuduh membunuh anak itu.
Mungkin inilah takdirnya.
Maaf, aku tak bisa menyelamatkanmu.
Tap!
Ada yang datang? Aku ketahuan?
-o-
-o-
-o-
"Siapa kau?"
Kiba yang tak menerima sebuah jawaban mengulang kembali apa yang dia tanyakan pada Tsuna yang hanya menatapnya datar. Kiba tahu kalau sekarang ini yang tengah mencengkram pedangnya dengan satu tangan berlapiskan sebuah sarung tangan adalah seorang manusia, tapi instingnya tidak menelan mentah-mentah kalau hal itu benar adanya, karena dalam jarak yang tak lebih dari tiga puluh centimeter dia berdiri di depan Tsuna sambil terus beradu pandangan, ada suatu gejolak aneh yang terasa seperti sedang mencekiknya.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Siapa kau dan apa maumu?" Dengan pelan Tsuna melepaskan genggaman salah satu sisi tajam pedang yang telah terjepit di antara kelima jari tangan kirinya, tatapannya kini berfokus pada Kiba yang mundur dan kembali memasang posisi siaga.
"Aku, Kiba Yuuto. Aku kesini hanya ingin memusnahkan seekor iblis liar," Melihat remaja di hadapannya tak bereaksi sedikitpun, Kiba kini merasa yakin kalau cowok di depannya ini bukanlah seorang manusia biasa. Karena bagaimanapun jika manusia biasa diberi sebuah informasi tak masuk nalar seperti itu, pasti mereka akan berkata; Aku tidak percaya.
"Iblis liar?" Tsuna menajamkan kedua sorot matanya, pandangannya tak lepas dari Kiba yang telah mengambil satu langkah mundur. "Lalu, kau sendiri apa? Jelas-jelas kau dan teman-temanmu ini bukanlah manusia, benar?"
"Apa... maksudmu?" Kiba berpura-pura bodoh.
Tsuna mengambil satu langkah maju, Kiba mundur sekali lagi. "Jangan berpura-pura bodoh. Di negara ini seorang pelajar seharusnya tidak boleh memiliki sebuah senjata, telebih sebuah pedang, dan lagi kecepatan gerakmu sudah melebihi batas-batas kecepatan manusia, jadi sangat tidak mungkin kalau kau seorang manusia," Tsuna berhenti mengucapkan spekulasi yang baru saja dia dapat dan melirik empat remaja yang berdiri jauh di belakang Kiba, "Jadi, coba sebutkan, kau dan teman-temanmu itu termasuk makhluk apa?"
"Tunggu, Yuuto!"
Baru saja Kiba membuka mulutnya dan berniat menanggapi pertanyaan yang di lontarkan Tsuna, Rias tiba-tiba memerintahkannya untuk segera menutup mulutnya kembali secara tidak langsung. Cewek yang memiliki dada super besar itu berjalan pelan mendekati keberadaan Tsuna berada, sang Decimo sendiri tak sedikitpun bergerak dari posisinya sekarang.
"...Sebelum kami menjawab pertanyaanmu, bisakah kau terlebih dahulu menjelaskan siapa sebenarnya dirimu dan apa yang kau lakukan disini?"
'Aku merasakan sebuah aura buruk dari dia,' Tsuna mempertajam pandangannya pada Rias yang kini sudah berdiri disamping Kiba, "Tentu saja aku adalah manusia, tidak seperti kalian. Dan aku hanya kebetulan berada disini," Tsuna berkedip dua kali secara cepat, "Giliranmu!"
Rias menambahkan ketajaman pada tatapan kedua mata beriris hazel miliknya, "Kami berlima adalah penyihir yang di utus untuk melenyapkan iblis liar yang bersarang di tempat ini."
"Kau berbohong,"
Rias sedikit melebarkan matanya yang semula tajam.
"Kau menunjukan kebohonganmu." Tanpa banyak bicara lagi, Tsuna segera menyalurkan Api Harapan miliknya ke kedua sarung tangan yang di pakainya. Api yang memiliki warna merah padam meledak dari kedua telapak tangan calon bos mafia itu, membuat penggunanya dapat bergerak dengan sangat cepat sampai-sampai seperti terlihat menghilang dari pandangan.
BUG!
Sebuah suara bedebam yang menggema menjadi sebuah tanda kalau sebuah pukulan telah berhasil di daratkan pada seseorang. Hal tersebut kemudian terungkap setelah mulut dari Knight of Gremory family tiba-tiba saja mengeluarkan suara seperti tersedak, tubuh ksatria berpedang itu tertekuk setelah Tsuna berhasil menyarangkan tinjunya pada perut Kiba.
"Beraninya kau –" Rias tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat melihat kembali bahwa sosok remaja tak ia ketahui asal-usulnya itu telah menghilang dari hadapannya. Hal yang selanjutnya Rias rasakan adalah sebuah pukulan yang tak begitu bertenaga tersarang pada tengkuk lehernya yang tanpa ia sadari bahwa pukulan tersebut telah berhasil merenggut kesadarannya.
"RIAS/BUCHOU!"
Tsuna tak sedikitpun menghiraukan tubuh Rias yang jatuh ke tanah secara bebas, matanya yang dingin lebih memilih memandang tiga remaja yang dua diantaranya memiliki jenis kelamin yang berbeda dengannya.
"Tenang saja, aku tidak berniat membunuh kalian semua."
"Brengsek!" Issei yang terbakar amarah, langsung berlari ke arah Tsuna yang masih berdiri tepat disamping tubuh lemas milik Rias. Sacred Gear berwarna crimson secara otomatis keluar di tangan kirinya karena secara tidak langsung emosi yang di keluarkan Issei telah memicu kekuatan sihir yang ada pada tubuhnya, remaja yang baru saja menduduki jajaran pion dalam keluarga Gremory itu menyerang tanpa memiliki sebuah rencana. Karena itulah, saat kedua indera pengelihatannya dengan jelas melihat kalau musuh yang ingin dia serang menghilang secara tiba-tiba, tak ada hal lain yang Issei rasakan kecuali rasa kaget. Apa yang selanjutnya pemuda itu rasakan adalah sensasi menyakitkan yang menyerang langsung pada titik di ulu hatinya, Issei dapat merasakan kalau tubuhnya tak dapat digerakkan, lemas dan kemudian dengan bebas terhempas di lantai ruangan bangunan bekas pabrik itu. Dia pingsan.
"Cukup!" Setelah melihat bagaimana Akeno dan Koneko memasang posisi siaga, Tsuna dengan cepat berseru, "Apa kalian berdua belum puas setelah ketiga teman kalian sudah tak sadarkan diri? Aku tak ingin menambah korban lagi."
Akeno dan Koneko saling beradu pandang sebentar sebelum akhirnya kedua iblis bergender wanita itu saling mengangguk. Tsuna menghela nafas lega saat melihat Akeno dan Koneko menurunkan posisi bertarung mereka. Dengan pelan kedua kakinya berjalan menuju pintu keluar yang berada di belakang kedua gadis yang berdiri di hadapannya, tak ada selangkahpun rasa ragu saat dia berjalan melewati kedua gadis tersebut, karena kemampuan Chou Chokkan (Super Intuition Hyper) miliknya tak merasakan niat tersembunyi sedikitpun dari Akeno dan Koneko.
Akeno dan Koneko terus memandang punggung remaja berambut cokelat yang memiliki gaya jabrik itu. Mereka sedikit merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dua dari tiga teman mereka yang memiliki kapabalitas tinggi sebagai seorang iblis petarung, bisa dengan mudahnya dibuat tidak sadarkan diri hanya dengan sekali pukul. Mereka berdua mulai bertanya-tanya tentang teknik apa yang telah dipakai seorang manusia yang bahkan bisa sampai membuat tiga iblis yang notabenenya memiliki daya tahan fisik lebih besar daripada milik manusia bisa pingsan dengan hanya satu kali kontak fisik dengan bagian tubuh yang memang memiliki potensi untuk membuat saraf dan otot lumpuh beberapa saat, tapi meskipun begitu mereka tetap tidak percaya.
"Ugh, apa yang baru saja terjadi?"
Suara lenguhan itu langsung menarik perhatian dua gadis yang masih berdiri tegak disana, mereka langsung memanggil nama orang yang baru saja terbangun dari ketidaksadaran dirinya beberapa menit yang lalu secara bersamaan.
"Rias/Buchou!"
~o~
Krukk~
"Arrgh, aku lapar~"
Pada pukul yang hampir menunjukkan angka sebelas ini, Tsuna masih bersabar berjalan menyusuri trotoar untuk mencari alamat tempat kos yang nanti akan menjadi tempat tinggalnya, namun beginilah akhirnya, dia belum menemukan satupun petunjuk. Terlebih kali ini dia lapar, dan lagi pada jam malam seperti ini tak akan ada satupun toko makanan ringan yang masih buka.
Krukk~
"Aku lapar~"
Setelah terus merenung sambil berjalan lesu, Tsuna memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku tempat Halte Bus berada. Untuk jam yang menjelang larut malam seperti ini memang keadaan pemberhentian bus umum seperti ini sudah terlampau sepi, tak ada lagi orang yang menunggu jadwal datangnya bus pada jam seperti ini.
Rasa lelah yang terlalu membebani tubuhnya terpaksa membuat Tsuna menghela nafas. Dia tiba-tiba langsung teringat pada kejadian yang menimpanya tadi, itu membuat calon bos mafia yang usianya masih beranjak enam belas tahun tersebut mengambil kembali pita yang di ludahkan oleh makhluk yang ia lenyapkan. Ada sedikit sisa air liur yang masih belum mengering sepenuhnya pada pita itu, bau busuk otomatis tercium oleh hidung Tsuna yang terus menyetorkan oksigen ke dalam paru-parunya, namun hal itu tak sedikitpun ia hiraukan.
Pikirannya masih dapat mengingat bagaimana gambaran sosok anak kecil yang usianya sekitar empat sampai lima tahun, tewas dengan kepala yang terlebih dahulu lepas dari badannya. Bahkan yang lebih parah, kepala yang menjadi sumber yang memproses semua yang ada pada tubuh menjadi makanan pembuka sebelum kemudian tubuh kecil yang sudah berlumuran darah menjadi sebuah hidangan utama sekali telan.
Masalah selanjutnya malah membuatnya semakin pusing, masalah tentang lima remaja yang mengaku sebagai penyihir. Tsuna tidak menyangka sama sekali kalau di kota ini terdapat makhluk-makhluk supernatural yang tidak masuk di akal, pertama adalah iblis liar yang ia ketahui dari penyihir berambut merah itu, kemudian manusia yang bisa menggunakan sihir yang disebut sebagai seorang penyihir, esper, dukun, atau apalah itu yang berhubungan dengan sihir, lalu selanjutnya apa lagi?
"Hei Nak, apa yang kau lakukan disini?"
Saat Tsuna kembali mendongak, ia dapat melihat seorang pria paruh baya yang memiliki jenggot runcing dan sedang memakai setelan kimono abu-abu. Tuhan telah menjawab doanya. Dan tanpa Tsuna ketahui, orang ia tatap kini bukanlah seorang manusia melainkan Malaikat Jatuh.
[To be Continue...]
.
.
.
Bercanda :v Lolz
~o~
"Jadi, paman benar-benar tahu alamat tempat kos ini?" Kini Tsuna melanjutkan langkahnya mencari alamat yang sedari pagi tidak ia temukan tempatnya di temani oleh pria paruh baya yang beberapa menit yang lalu ia temui.
"Tentu saja, aku tidak akan berbohong padamu." Pria berjenggot itu menatap kalem Tsuna, "Ohh, dan lagi, tolong jangan panggil aku dengan sebutan paman, itu membuatku merasa menjadi tua. Panggil saja aku Azazel."
Tsuna dengan spontan mengangguk paham. Entah kenapa meskipun baru bertemu tadi, Tsuna bisa menaruh kepercayaan kepada pria bernama Azazel ini, karena selama ia berinteraksi dengan pria ini, tak pernah sekalipun ia merasakan niat jahat yang tersembunyi dari Azazel ini.
"Nah, kita sampai."
Tsuna harus di buat melongo tentang apa yang dia lihat sekarang, dia kembali melihat Azazel. "Anu, inikan sebuah apartemen, bukannya tempat kos."
Azazel tiba-tiba tergelak. "Hari sudah larut, lebih baik kau beristrahat disini dulu untuk semalam."
"Benar tidak apa-apa?" Melihat bagaimana Azazel mengangguk penuh keyakinan, Tsuna hanya bisa mendesah. "Terserah saja."
.
.
Cahaya bulan purnama malam ini terlihat begitu terang sampai-sampai sorot cahaya dari lampu jalanan kalah karenanya. Kesunyian malam ini terhiaskan oleh ribuan binta –
"Akeno, tolong jangan ulangi puisi itu lagi." Rias yang saat ini sedang berbaring di atas sofa ruangan klubnya, hanya bisa mendesah saat mendengar Ratunya sudah membaca ulang sebuah puisi yang sama sebanyak tiga kali. Dalam kondisinya saat ini, gadis yang berperan sebagai Raja itu hanya dapat berbaring dengan sebuah kompres kain yang sudah terlebih dahulu di basuh dengan air hangat, rasa sakit yang masih menjalar di kepalanya telah memaksa pewaris klan Gremory itu melupakan kejadian yang telah menimpanya tadi.
"Ara-ara," Setelah mengucapkan itu, Akeno terkikik. "Sebenarnya aku hanya ingin mencoba membantumu melupakan kejadian tadi, Rias. Tapi jujur saja, aku sendiri masih kepikiran tentang cowok tadi." Akeno kemudian duduk di sela-sela sofa yang sejejer dengan betis kaki sahabatnya itu.
"Bahkan diantara manusia, ada yang memiliki kekuatan seperti itu. Aku terlalu meremehkan sesuatu yang tidak kuketahui," Rias menaruh beban pergelangan tangan kanannya di atas kain basah yang menempel di dahinya, kemudian dia menghela nafas untuk yang kedua kalinya.
Dunia ini ternyata sangat luas.
=o=
=o=
Pagi hari menjelang, sinar mentari yang berwarna keemasan terbit menerangi langit dan seisi bumi. Sekarang adalah waktunya bagi manusia kembali terbangun dari tidurnya, bergerak dan melakukan aktivitas keseharian yang pada akhirnya bisa membuat lelah juga.
Pada momen inilah sang calon bos mafia yang di juluki sebagai Decimo, membuka matanya yang penuh belek dengan perlahan. Apa yang di lakukan remaja itu adalah menggeliat seperti kucing, tak hanya itu, mulutnya yang masih di hiasi oleh air liur menguap lebar dan menyemburkan nafas bau basin yang mungkin dapat membuat makhluk seperti Ogre pingsang karenanya.
Setelah beberapa saat mengedipkan matanya yang sendu, sebuah suara dengkuran yang memekakkan telinga menarik perhatiannya. Apa yang kemudian ia perhatikan adalah tubuh dari seonggok daging berjenggot yang tengah tidur dengan posisi tidak karuan, Tsuna berkedip beberapa kali untuk memproses apa yang tengah terjadi padanya. Kemudian, Tsuna tersadar.
"LHO! DIMANA AKU SEKARANG~!?"
Bahkan penyakit gobloknya kembali kumat setelah tidur semalaman.
To be Continued...
.
.
.
Kalo ini gak bercanda :v Lolz
A/N: Akhirnya bisa nyelesein nih fic Markotop, yess...
Oke, ini baru tahap awal dimana keJonesan Tsuna akan di uji :"v sabarlah nak, bapak selalu mendukungmu #Plakk, ahaahaha.
Sedikit ada kesulitan tentang tema mafia yang dipadukan dengan dunia supernatural, yah... tapi itu sebuah tantangan tersendiri buat saya, terlebih lagi tidak ada cerita yang bisa menjadi referensi dengan tema seperti ini, lebih repot, tapi menantang :v Lolz
Dan bagi yang mengharapkan sebuah Pairing, itu tidak akan terjadi secepat kilat :v masih ada prosesnya entar, jadi harap sabar.
Ohh, sebagai Note tambahan, Hard Disk yang berisikan file Second Life chapter 14 sedang di pinjam oleh keponakan tercinta, dan katanya hari senin baru bisa balik ke tangan saya. Jadi untuk minggu ini hanya bisa mengupdate cerita ini.
Oke sampai disini.
.
Lolicon Tamvan out.
