Suara bel masuk sekolah berbunyi, membuat semua murid langsung bergegas duduk di tempat mereka. Terkecuali Koneko yang sedari datang sudah langsung duduk di tempatnya, tak lupa camilan berasa manis yang membuat wajahnya semakin manis dimata Author, tak luput ia santap bersamaan dengan bacaan yang berada di satu tangan yang tak memegang camilan.
"Selamat pagi semuanya."
"SELAMAT PAGI SENSEI~"
Koneko tak tergerak dari kegiatannya.
"...Toujou-san, bisa kita sudahi acara makan-makannya?"
Baru saat sang guru memanggil namanya, Koneko langsung tersentak. Segera ia lahap camilan yang ia pegang ke dalam mulutnya, dengan beberapa kali kunyahan akhirnya makanan yang berasa manis itu dapat ia telan.
"Maaf, Sensei."
"Ya, tidak apa-apa." Sang Sensei kembali menatap semua muridnya, "Sebelum aku mulai pelajaran pada jam pertama ini, terlebih dahulu mari kita sambut dua murid baru pindahan dari daerah Namimori ini. Silahkan masuk, Sawada-san, Yamamoto-san."
Semua mata murid kelas itu langsung tertuju pada pintu geser yang terbuka. Dari semua tatapan yang ada, hanya Koneko yang menatap tidak peduli pada pintu masuk tersebut. Namun tatapan dingin itu hanya bertahan beberapa detik setelah sosok murid baru yang ditunggu masuk ke dalam kelas, Koneko terpaku dengan mata melebar.
Tsuna dan Takeshi berdiri tegak di depan kelas dengan senyuman paling sempurna yang bisa mereka buat.
"Nah, Sawada-san, Yamamoto-san, silahkan memperkenalkan diri."
Tsuna menggaruk belakang kepalanya sambil memamerkan senyuman gugupnya, "E-Etto, salam kenal. Namaku Tsunayoshi Sawada, panggil saja Tsuna."
Sementara Takeshi hanya bisa nyengir tanpa dosa, "Aku Takeshi Yamamoto, salam kenal."
Dan hari ini akan Koneko anggap sebagai hari yang paling sempurna, untuk menuntut balik kekesalan yang pernah Tsuna perbuat pada Ketua Klubnya.
Disclaim: Aku hanya minjam karakternya para [Pakar Ternama]
Peringatan: ooc, typo, Ngenes!Tsuna, Jomblo!Tsuna, dll.
Ringkasan: Tsunayoshi Sawada. Seorang calon bos mafia yang di juluki sebagai Decimo, dengan terpaksa melakukan sebuah pelatihan individu atas suruhan sang Arcoballeno, Reborn. Dan dia kini hidup sendiri di sebuah apartemen, hanya dengan bermodalkan Nekad.
~o~
Bagian 3: Awal!
Setelah beberapa jam masuk sekolah yang sudah Tsuna lewati, detik-detik ini adalah saat yang paling ia tunggu, jam istirahat. Tsuna menghela nafas, merasa lelah mengikuti pelajaran yang ternyata lebih rumit dari saat dia masih duduk di bangku SMP Namimori. Terlebih itu, selama ia mengikuti pelajaran dari jam pertama sampai sekarang, ada sebuah pandangan menusuk yang memaksa dirinya harus terus bersiaga. Dan sepertinya, Yamamoto juga merasakan hal yang sama.
Beberapa murid yang ingin berkenalan, terutama kebanyakan murid perempuan, langsung menuju ke arah bangku dua murid baru yang tadi pagi baru masuk ke kelas mereka. Bahkan Tsuna tak sedikitpun menyangka kalau hari pertama ini sahabatnya, Yamamoto, langsung terkenal dikalangan perempuan. Yah itu wajar, karena sebagian besar murid di kelas ini adalah perempuan, jadi Tsuna tak heran jikalau wajah semangat milik Yamamoto dapat menarik perhatian para gadis di kelas ini.
Mengingat kembali tadi pagi, Tsuna yang baru terbangun di atas kasur milik Azazel-san, langsung panik tak terbendung karena hari ini adalah hari dimana ia harus hadir sebagai murid baru. Namun kepanikan yang dirasakan Tsuna langsung pupus saat pemuda yang memegang gelar sebagai Vongola Decimo tersebut menemukan sebuah catatan yang tertindih ponselnya di atas kasur tepat disampingnya tidur semalam.
Tsuna dengan segera mengambil dan membaca kertas itu, isinya berupa permintaan maaf dari Azazel-san karena sudah lancang membaca pesan di ponselnya, dan yang selanjutnya adalah gambaran alamat tempat kos yang menjadi tujuan utama sang Decimo.
Setelah ia keluar dari apartemen milik Azazel-san, barulah Tsuna menulusuri petunjuk pada catatan itu. Dan setelah beberapa puluh menit berjalan kaki, barulah Tsuna menemukan sebuah pos polisi terdekat yang ternyata bersebelahan dengan tempat tujuan yang ia cari kemarin. Tsuna akhirnya bisa menghela nafas lega, kemudian hal yang selanjutnya ia lakukan adalah masuk ke dalam kamar kos dengan nomor yang sudah diberikan Reborn pada pesan yang ia terima kemarin.
Namun saat ia berniat membuka kunci kamar tersebut, sudah ada terlebih dahulu sebuah kunci yang menancap di lubang knop pintu. Merasa khawatir dengan adanya pencuri yang masuk, meskipun sebenarnya sangat mustahil karena sudah pasti tidak ada barang berharga di dalam sana, Tsuna dengan cepat merogoh sarung tangan wol kebanggaannya dan dengan cepat mengaktifkan api langit yang menjadi penanda bahwa ia adalah pemimpin dari organisasi mafia terbesar di Italia, dengan perlahan Tsuna memutar knop pintu dan kemudian langsung membukanya lebar-lebar.
"Siapa disana!?"
Dan di detik berikutnya, Tsuna hanya bisa terbengong dengan dua mata yang berkedip-kedip. Pasalnya apa yang ia lihat setelah pintu kamar kosnya ia buka adalah sebuah pemandangan yang muncul sekali seumur hidup, dimana disana terdapat Chrome yang sedang berganti baju.
Mata Chrome perlahan-lahan melebar, "KYYAA~!"
Tsuna dengan cepat menarik kembali pintu masuk yang masih ia pegang agar kembali tertutup, "Ma-maafkan aku!"
Cklek!
"Ada apa!?"
Perrhatian Tsuna teralihkan pada pintu kos disampingnya yang tiba-tiba terbuka, dan dari sana keluarlah orang yang paling Tsuna kenal selama berada di SMP Namimori, teman yang paling ia andalkan, teman yang paling dingin kepalanya meskipun dalam situasi terdesak, dialah Yamamoto.
"Yamamoto?"
"Tsuna?"
Mereka berdua terdiam. Kemudian pintu dibelakang Tsuna terbuka, dan Tsuna menoleh.
"Chrome?"
"Boss?"
Mereka juga terdiam.
Semuanya terdiam.
Bumi pun terdiam.
"Baiklah, ada yang bisa menjelaskan?" Akhirnya Tsuna memecah keheningan.
~o~
"Bucchou, aku ingin menyampaikan sebuah informasi."
Rias, Akeno, serta Kiba yang duduk sambil minum teh dengan tenang, dibuat menoleh karena mendengar adanya nada serius pada ucapan Koneko. Namun ekspresi di wajah Rias yang tenang seolah mengatakan dengan jelas kalau dirinya harus duduk terlebih dahulu, dan Koneko paham betul soal itu.
Setelah bokong Koneko mendarat di bantalan sofa ruangan klub itu, Akeno dengan tanggap langsung saja berdiri dan kemudian berjalan kearah dapur yang tidak lain berniat membuatkan secangkir teh panas untuk Loli pemegang bidak benteng yang sekaligus adalah Loli kesukaan Author.
"Sekarang, bisa kau katakan informasi apa yang sudah kau dapat." Setelah selesai berbicara, Rias bersandar di punggung sofa dan tak lupa bersidekap menyangga dadanya.
Sebelum Koneko menyahut kembali, Akeno yang datang dengan secangkir teh membuat Koneko menghentikan niatannya dan berterima kasih pada Senpai yang paling dipuja nomor dua di Sekolah itu.
"Begini, Bucchou. Kau ingat tentang manusia yang sudah berhasil membuatmu pingsan?"
Kiba yang semula masih tenang menyesap tehnya, langsung saja menghentikan kegiatannya itu tepat setelah Koneko berhenti berbicara.
"Kau tahu dimana dia, Koneko-chan?"
Koneko menoleh kearah Kiba yang kebetulan sedang duduk satu sofa dengannya, "Itulah hal ingin kusampaikan saat ini." Koneko kembali menatap Rias, "Manusia yang ternyata bernama Tsunayoshi Sawada yang berhasil membuat Bucchou pingsan, kini satu kelas denganku."
~o~
"Tsuna, kau tadi menyadarinya?"
Tsuna menoleh, sambil terus mengunyah roti isi kare yang tadi ia beli di Kantin bersama pemuda yang mengajaknya berbicara.
"Menyadari? Menyadari apa?"
Takeshi menghela nafas berat, "Ayolah, masa gitu aja kau gak sadar? Masa begini sih sifat dari bos kita?"
Tsuna tak langsung menyahut omongan Takeshi, remaja jabrik itu terlebih dahulu memasukkan, mengunyah, dan menelan lagi roti yang ia beli. "Yang kau maksud pandangan menusuk yang sedari terasa saat jam pelajaran?" Tsuna kembali memasukkan roti yang ia pegang ke dalam mulutnya.
Takeshi mengangguk, "Dan kau tahu siapa yang melakukannya?"
Tsuna mencubit dagunya, "Emm, kalau tidak salah gadis berambut putih yang duduk di pojokan itu 'kan?"
Takeshi kembali mengangguk, "Dan apa kau tidak mencurigainya? Dia tadi terus memandangmu dengan nafsu membunuh."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Yamamoto. Mungkin dia terus memandangku karena ingin berkenalan, siapa tahu 'kan?" Tsuna memberikan sebuah senyum lebar kearah sahabatnya itu.
Melihat hal itu, pandangan Takeshi yang tadi mengeras kembali melunak. "Yah, jika kau beranggapan seperti itu, apa boleh buat."
Tsuna tertawa ringan. Dirinya yang sedang menikmati jam istirahat di bawah pohon yang berada di pinggiran lapangan, kemudian memandang langit yang ternodai oleh beberapa gumpalan awan.
'Aku harap juga begitu, Yamamoto.'
~o~
"Kau ingin bergabung dengan klub Kendo?"
Takeshi menggaruk belakang kepalanya sambil memberikan sebuah senyuman terbaik yang bisa ia berikan, "Benar sekali. Apakah murid laki-laki tidak boleh bergabung? Karena kulihat sepertinya semua anggotanya murid perempuan."
"Ahh, tentu saja boleh, tidak ada peraturan di Sekolah yang melarang seorang murid untuk ikut ke dalam suatu klub."
Takeshi tertawa canggung, "Ahaha, terima kasih."
Dari kejauhan Tsubaki Shinra selaku ketua dari klub Kendo yang juga menjabat sebagai wakil dari ketua osis akademi Kuoh, melihat adanya gelagat aneh dari pintu masuk yang membuatnya penasaran.
"Tsayaka, apa yang terjadi di depan?" Jujur saja, meskipun dirinya seorang iblis yang notabenenya memiliki indera lebih tajam dari indera manusia, tapi tetap saja fokusnya tadi ia pakai untuk memantau para anggota klubnya yang sedang latih tanding, dan membuatnya tidak tahu tentang apa yang baru saja terjadi di pintu masuk.
Gadis yang di panggil Tsayaka itu mendekat kearah Tsubaki, "Ohh, itu murid baru dari kelas satu yang ingin bergabung, Bucchou."
Tsubaki tak lagi berkomentar, dia hanya sedikit bergumam sebagai balasan. Kedua alisnya kemudian sedikit ia angkat saat melihat Fuki berjalan kearahnya dengan murid baru yang sedang ia bicarakan tadi.
"Baiklah Bucchou, aku kembali latihan dulu ya." Tsayaka akhirnya pergi.
"Ini dia ketua klub kami." Fuki menunjukkan sosok Tsubaki pada Takeshi, kemudian dia melenggang pergi.
Alis Tsubaki berkerut melihat perawakan wajah Takeshi yang terlihat polos, otaknya mulai menilai kalau pemuda di depannya ini tidak cocok masuk ke dalam klub ini.
Takeshi menjulurkan tangan kanannya yang bebas kearah Tsubaki, "Tsubaki-senpai 'benar? Perkenalkan, aku Takeshi Yamamoto."
Tsubaki memandang sejenak uluran tangan itu, kemudian dia kembali menatap wajah Takeshi yang masih setia tersenyum padanya. Sebelum berbicara, gadis berkacamata itu bersidekap menyangga dadanya. "Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja. Apa yang kau punya?"
Takeshi beberapa kali berkedip tak mengerti, lalu dia kembali menarik uluran tangannya yang kemudian ia pakai sebagai media penggaruk belakang kepala. "Ehehe, aku hanya bisa dasar-dasarnya saja, Senpai."
Tatapan Tsubaki menajam, "Jika kau tak keberatan, aku ingin mengetes dasar-dasar apa yang kau kuasai sebagai syarat penerimaan anggota baru. Ini kulakukan supaya kau memberikan bukti, bukan hanya ucapan, bagaimana?"
"Hm! Aku setuju saja." Takeshi membuat cengiran tanpa dosa.
Mata Tsubaki sedikit melebar melihat reaksi yang seolah tak memiliki rasa takut itu, "Tsayaka!"
"Ya, Bucchou?"
"...Kosongkan lapangan."
"Siap!"
Tak sampai berselang lima menit, ruangan klub Kendo yang sebelumnya penuh dengan anggota yang sedang berlatih, kini sudah bertambah luas karena para penghuninya langsung duduk di pinggiran lapangan dan menjadi penonton.
Takeshi berdecak kagum melihat betapa luasnya ruangan klub yang di datanginya, bahkan dojo miliknya tak seluas ruangan ini.
"Sudah selesai terkagum?"
Takeshi tersentak mendengar penuturan Tsubaki. Dengan cepat kemudian pemuda itu menurunkan tas panjang yang di dalamnya berisi pedang bambu pemberian ayahnya yang bernama Shigure Soen.
Tsubaki kembali mengernyit saat melihat bagaimana Takeshi sangat berhati-hati mengeluarkan pedang bambu yang ia bawa, "Kau tidak ingin memakai armor?" Melihat bagaimana Takeshi menggeleng membuat tatapan Tsubaki semakin tajam, "Jika nanti kau sampai terluka, aku tidak akan bertanggung jawab."
Takeshi tertawa riang seolah tak mendengarkan ancaman yang Tsubaki sampaikan, "Tolong jangan menahan diri, Tsubaki-senpai." Selesai mengucapkan itu, Takeshi langsung mengambil sikap.
Tsubaki dibuat kaget dalam hati ketika melihat gestur dari Takeshi. Semua sifatnya berubah drastis, dan Tsubaki tahu dari insting bertarungnya, bahkan dia mulai menilai Takeshi dalam hati sebagai seorang petarung, bukan lagi siswa akademi Kuoh.
"Aku akan mengambil peran sebagai wasit dalam pertarungan tidak resmi ini," Tsayaka berbicara di tengah arena, "Peraturannya sederhana, siapa diantara kedua pemain yang terkena hit maka akan dinyatakan kalah. Baiklah, mulai!"
Meskipun pertandingan sudah dinyatakan mulai, tapi tak ada satupun dari kedua pemain yang sedang bertanding beranjak dari tempat mereka. Keduanya hanya saling memasang sifat dan saling bertukar pandangan, tekanan di ruangan klub itu seketika berubah, membuat para penonton sampai berhasil dibuat menelan ludah.
'Dia, aku dapat merasakan kekuatannya.' Batin Tsubaki.
"Aku mulai!"
Setelah memberikan instrupsi, Takeshi langsung berlari dengan pedang yang siap dia tebaskan.
Tak!
Tebasan lurus yang mengarah tepat ke kepala Tsubaki dapat dengan mudah di tahan oleh gadis berkacamata tersebut. Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi, Tsubaki segera menghempaskan pedang milik Takeshi yang sampai membuat pemegangnya sedikit terpental kebelakang.
Takeshi langsung mengambil sifat kembali, "Tsubaki-senpai, kau sangat kuat!" Dalam benak Takeshi mulai memperhitungkan daya tahan milik lawannya. Pasalnya tebasan yang tadi ia berikan seharusnya dapat sedikit membuat sang lawan terhuyung kebelakang, meskipun dirinya tak mengeluarkan seluruh kekuatannya pada tebasan tadi.
"Aku maju!"
Sekarang giliran Tsubaki yang menyerang, gadis berkacamata itu menyerang dengan meniru gaya serangan milik Takeshi yang meskipun itu memanglah gaya serangan biasa yang di gunakan untuk memperoleh poin dalam pertandingan.
Merasa jarak serang sudah mencukupi, Tsubaki langsung melesatkan tebasannya kearah Takeshi, Takeshi berniat menahan tebasan yang mengincar kepalanya itu seperti yang Tsubaki lakukan, tapi dalam gerak lambat Takeshi dapat melihat sebuah tekanan angin tipis disekeliling permukaan pedang Tsubaki.
Mata Takeshi melebar, 'Dia berniat memotong pedangku!' Dengan tanggap sebelum pedang milik Tsubaki dengan telak mengenai kepalanya, Takeshi memiringkan tubuhnya.
Tsubaki sedikit terkejut saat melihat lawannya lebih memilih menghindar daripada menahan serangan yang seperti ia lakukan, perhitungannya kali ini salah. 'Apakah dia tahu?'
"Tsubaki-senpai, kau melamun."
Saat Tsubaki tersadar, sebuah pedang bambu sudah berada tepat disamping leher jenjangnya berada.
"Apakah kau menyerah?"
Tsubaki menghela nafas, "Baiklah, aku menyerah. Dan aku ucapkan, selamat datang di klub Kendo Takeshi Yamamoto."
Takeshi hanya menanggapinya dengan sebuah cengiran.
~o~
"Ada apa kau datang kemari, Tsubaki?" Baru kali ini Sona melihat wakilnya datang ke ruang osis saat bel masuk jam kelima sudah berbunyi, tapi bukan hanya itu yang membuatnya terheran, yakni dari wajah mengeras yang kini di pasang oleh tangan kanannya itu.
Tsubaki menyodorkan sebuah kertas yang tertuliskan sebuah profil seorang siswa yang ternyata adalah Takeshi Yamamoto.
Sona sekilas melihat kertas itu sebelum manik ungu yang terlindungi oleh sepasang lensa kacamata itu kembali menatap Tsubaki, "Apa ini?" Tanya Sona yang belum mengerti akan maksud yang diberikan Tsubaki.
"Kaichou, perlu kau ketahui kalau siswa pindahan ini sangatlah berbakat menjadi salah satu dari kita." Setelah berbicara panjang seperti itu, Tsubaki langsung melenggang pergi.
Sona mengambil kertas yang di berikan Tsubaki, dan kemudian menatap wajah dari foto milik Takeshi. "Takeshi Yamamoto."
.
.
Di dalam kelas, Takeshi tiba-tiba saja bersin tanpa sebab, membuat Tsuna menoleh kearahnya.
"Ada apa, Yamamoto?"
Takeshi melambaikan tangannya kearah Tsuna, "Tidak ada apa-apa, mungkin ada orang yang sedang membicarakanku di luar sana."
Tsuna hanya menanggapi jawaban Takeshi dengan bibir yang di bulatkan, setelah itu dia kembali beralih kearah tugas yang baru saja diberikan oleh gurunya, sebelum kemampuan intuisinya tergerak oleh sebuah tatapan tak mengenakkan yang terus terarah kepadanya.
'Gadis itu lagi.' Diam-diam Tsuna melemparkan sebuah lirikan tajam kearah Koneko yang duduk di bagku yang bertempatkan di pojok kiri ruangan.
~o~
Sore telah menjelang, mentari berwarna kekuningan tengah mewarnai indahnya senja hari pertama sekolah.
Yang sebenarnya saat ini bukan lagi sore hari, melainkan menjelang petang. Semua murid masing-masing sudah pulang ke rumah mereka, tak ada satupun yang tersisa terkecuali dua murid baru yang baru saja keluar dari kelas mereka, dan itu semua tidak lain karena lemotnya otak dari seorang Tsunayoshi Sawada yang memang sangat lemah terhadap unsur yang berbau angka dan perhitungan.
"Hah, maafkan aku Yamamoto, karena aku kau jadi harus pulang terlambat juga."
Takeshi tertawa melihat keluhan temannya, "Tidak usah khawatir, aku tidak akan menyalahkan otakmu yang lemot itu kok."
Tsuna melirik temannya itu dengan pandangan yang penuh akan sweatdrop, 'Kau baru saja menyalahkannya Yamamoto.'
"Lagipula aku tadi ketiduran, jadi kita impas." Takeshi kembali tertawa, Tsuna semakin sweatdrop.
Mereka berdua terus berjalan dan terus saja mengobrol seperti yang mereka lakukan sebelum-sebelumnya, sampai mereka hampir sampai di gerbang masuk sekolah dan disana sudah menyambut lima remaja yang juga murid dari akademi Kuoh.
"Yamamoto."
Panggilan dengan intonasi kaku itu membuat Takeshi yang terus bercerita akhirnya berhenti, dan akhirnya Takeshi baru sadar akan adanya lima murid yang berdiri gagah tak jauh dari keberadaannya berada.
"Tsunayoshi Sawada, aku akan membalas perbuatanmu kemarin!" Rias berbicara lantang sambil menunjuk Tsuna yang hanya diam tak mengerti.
Takeshi menoleh kearah Tsuna, "Dia kenalanmu?"
Tsuna mengangkat bahu, "Enggak tuh, papasan aja enggak pernah."
Kemudian ada angin berhembus di tengah-tengah kedua kubu itu, dan terciptalah keheningan yang membuat Rias mati kutu, terlebih oleh rasa malu karena sudah berteriak yang kemudian di acuhkan begitu saja.
Takeshi mengedikkan kedua bahunya, "Kalau begitu kita tidak harus mempermasalahkan hal ini lagi."
"Kau benar," jawab Tsuna.
Lalu kedua remaja yang menjadi siswa pindahan itu berjalan hampir tiga langkah sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk kembali berhenti karena salah seorang dari lima orang yang menghadang mereka mencabut sebuah pedang. Hal itu spontan membuat kedua mafia yang belum matang keberadaannya, memasang kewaspadaan.
"Beraninya kalian mengacuhkan Bucchou!" Ucap Kiba.
"Benar, kali ini kau akan kuhajar!" Kali ini Issei yang berteriak.
Awal sebuah pertarungan akan terjadi, tak akan ada yang bisa lolos dari takdir ini.
[To be Continued...]
A/N: Sorry note kali ini gak panjang-panjang, soalnya ngetik dari hape.
.
Ramiel de Ancient.
