Jungkook dulu benci hujan, sampai ketika Jimin menariknya keluar dorm untuk bergabung dengan Taehyung; berteriak dan bernyanyi dan menari dan berkejaran tidak jelas dibawah hujan lebat dan angin kencang—Jungkook tidak begitu ingat, tapi sepertinya itu terjadi seminggu setelah mereka memenangkan bonsang. Dulu, dulu sekali.
Seokjin menggeleng-gelengkan kepala saat mereka bertiga kembali dalam keadaan basah kuyup, jejak air terbentuk dari pintu masuk hingga kamar mandi dimana Jimin tidak sengaja mencipratkan air sabun ke mata Jungkook.
Mungkin Seokjin juga akan geleng-geleng kepala jika melihat Jungkook sekarang. Berjalan dengan santai di bawah hujan, tidak begitu lebat tapi cukup untuk membuat mantel Armaninya basah di bagian bahu. Tidak apa-apa, lagipula dengan adanya hujan, tidak akan ada yang mengenali Jungkook.
Jimin dulu suka hujan, sekarang juga masih begitu—Jungkook tahu. Pria yang dua tahun lebih tua itu selalu berceloteh tentang tetesan air di ujung daun atau uap air yang mengembun di jendela. Juga tentang air yang turun sebenarnya adalah jutaan do'a yang dikirimkan seseorang untuk orang lain.
Jungkook mendongak, menatap langit New York yang sama persis dengan Seoul saat hujan begini—sama-sama kelabu. Dalam hati ia bertanya-tanya, diantara semua tetes air ini, adakah satu untuknya? Atau, adakah do'anya untuk Jimin?
Kemungkinan besar ada, mengingat jumlah do'a yang Jungkook haturkan diam-diam tidak pernah sedikit.
Ah, Jimin, Jungkook membatin, tiba-tiba merasa ingin tersenyum.
Pintu restoran itu dijaga oleh dua wanita pirang yang menawarkan senyum manis saat Jungkook baru satu langkah masuk. Tersenyum kecil demi kesopanan, Jungkook tidak sempat memandang kedua gadis itu karena matanya langsung tertuju pada helaian rambut oranye di sudut ruangan—bukan berarti ada banyak pengunjung, sekilas Jungkook hanya mendapati lima orang lain dalam interior seluas ini.
Tanpa sadar Jungkook melangkah lebih cepat, hampir terlihat terburu-buru seolah pria di sudut ruangan itu akan hilang jika Jungkook lebih lambat sedikit saja.
"Hyung mewarnai rambut lagi." Itu sapaan yang aneh, Jungkook sadar. Tapi ini Jimin yang ada di depannya dan Jimin tidak pernah butuh salam sopan jika itu Jungkook. "Tidakkah hyung sedikit terlalu tua untuk warna oranye?"
"Bilang itu pada G-Dragon." Jimin membalas cepat dengan senyum kecil di wajah. "Lagipula satu-satunya waktu kau pernah bilang aku tampan adalah saat aku punya rambut oranye."
"Itu karena aku lebih sering menyimpan pemikiran seperti itu dalam hati." Jungkook menarik kursinya, duduk dengan hati ringan.
"Oh, ya?"
Jungkook hanya tersenyum, berharap Jimin tidak akan pernah tahu seberapa sering Jungkook punya pikiran seperti itu.
.
.
.
love looks good on you
.
.
"Apa kabar si kembar?" Yang Jungkook maksud adalah kembar Jung, baru berumur dua tahun depan kalau Jungkook tidak salah ingat.
"Hmm, jarang bertemu mereka akhir-akhir ini. Terakhir kali dua bulan lalu, mereka tambah berat, bahuku rasanya mau patah menggendong mereka. Hobi, uhm, Hoseok-hyung memberi makan mereka dengan baik dan benar."
Jungkook pikir itu imut ketika Jimin berusaha menghilangkan kebiasaan menyebut nama panggilan zaman Bangtan, dan gagal. Beberapa hal memang terkadang tidak berubah.
"Tapi Hobi-hyung bilang dia baru bertemu hyung minggu lalu." Kalau Jimin tidak lagi memakai julukan itu, Jungkook yang akan melakukannya. Toh Hoseok tidak pernah keberatan. Mengingatkanku pada masa-masa kejayaan, ujarnya.
"Di akademiku. Bukan di rumahnya." Jimin menghela napas, terlihat prihatin untuk beberapa saat sebelum senyum kembali mewarnai wajahnya karena pelayan datang membawa pesanan. "Hoseok-hyung jarang di rumah akhir-akhir ini. Istrinya bolak-balik rumah sakit."
"Ah, masih menjalani kemo?"
Jimin mengangguk pelan, terlihat menyesal akan sesuatu yang bahkan bukan salahnya. Beberapa hal memang tidak pernah berubah.
Berita tentang Hoseok dan keluarga kecilnya tidak membuat Jungkook terkejut, mereka semua sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat ketika Hoseok bilang ia akan menikahi seorang gadis penderita kanker—mengisi hari-hari terakhir gadis itu dengan cinta, katanya.
Alih-alih, Jungkook malah membayangkan apartemennya yang polos dan monokrom dan helaian rambut oranye di tengah-tengah kestagnansian hidup gemerlapnya. Dan bayangan pertanyaan seperti: Apakah Jungkook juga bisa mengisi hari-harinya dengan cinta?
.
.
"Hyung, aku berpikir untuk mulai melatih bernyanyi."
"Dimana? BigHit?"
"Yeah, menjadi guru vokal para trainee dan membuat hidup mereka makin nelangsa tidak buruk juga."
Jimin mendengus lewat hidung, tahu sepenuhnya kalau Jungkook tidak akan melakukan hal semacam itu.
"Tapi bukankah itu akan mengganggu jadwalmu—konser dan segala macam?"
Jungkook diam sejenak, menimbang apakah ini saat yang tepat untuk membicarakan kontraknya. Belum, Jungkook pikir.
"Hmm… mungkin."
.
.
Tiga tahun lalu, memutuskan kontrak adalah sebuah lompatan besar bagi Jungkook—bagi mereka semua, sejujurnya. Jadi saat Jungkook diberi tiket untuk memperbarui tulisan di atas kertas dan materai, tanpa pikir panjang Jungkook mengambil pena dan menuliskan namanya disana. Tanpa Namjoon. Tanpa Seokjin, Yoongi, Hoseok, ataupun Taehyung. Tanpa Jimin.
Sekarang, memutuskan kontrak juga masih merupakan lompatan besar. Mungkin terlalu besar sampai Jungkook tidak yakin kakinya cukup panjang untuk melakukannya dengan baik. Seumur hidupnya, sejak kecil, sejak ia memutuskan menukar masa kecil dengan gemerlap panggung dan gelar 'penyanyi', yang Jungkook tahu hanya bernyanyi. Yang Jungkook bisa hanya bernyanyi.
Jungkook tidak yakin apa yang harus ia lakukan, apa yang akan ia lakukan, jika ia mengambil keputusan itu. Tidak yakin ia sanggup melepas dunianya yang sekarang, hidupnya yang sekarang. Panggung, lightstick, ear-in, cermin besar ruang latihan (dan semua skandal, paparazzi, privasi yang hilang, tuntutan untuk selalu tampil sempurna) adalah satu-satunya hal yang Jungkook pahami seluk-beluknya seperti ia memahami telapak tangannya sendiri.
Tanpa mereka, Jungkook bukan siapa-siapa.
Tapi ia kembali teringat pada lamunan siang hari di antara istirahat makan siang dan pemotretan sampul album, dimana ia membayangkan satu Park Jimin berdiri menyambutnya di ambang pintu saat ia pulang. Dan semua waktu yang ia habiskan di konser luar negeri alih-alih mewujudkan lamunannya itu menjadi nyata.
.
.
"Bicara dengan Yoongi-hyung akhir-akhir ini?"
Jimin menggeleng pelan, menusuk-nusuk bacon di piringnya sembarangan. "Tidak. Tapi aku mengunjunginya ke studio waktu itu. Aku mengirimimu fotonya, 'kan?"
"Yeah," Jungkook menangkap pergelangan Jimin dalam jemarinya, gestur agar ia berhenti bermain dengan makanan. "Bagaimana dia?"
"Aku tidak tahu, Kookie." Oh, betapa Jungkook menyukai panggilan itu. Panggilan yang tetap ada disana sekalipun Jimin berhenti memanggil yang lain dengan 'julukan Bangtan' mereka. "Yoongi-hyung terlihat… berbeda. Seperti tidak yakin akan sesuatu… Entahlah."
"Hm?"
"Maksudku, ada sesuatu yang aneh dari dia, tapi tidak juga. Bukan sesuatu yang baik, kurasa. Seperti kesedihan, tapi hanya sekilas. Kau berkedip dan itu semua hilang, entahlah, mungkin aku hanya berpikir terlalu rumit."
"Kita semua pernah sampai di titik itu, hyung." Jungkook melirik cangkir kopinya, asapnya masih mengepul, mungkin ia butuh beberapa waktu untuk bisa meminumnya tanpa menjulurkan lidah kepanasan. "Tidak yakin."
"Ya. Tapi terlepas dari semua itu, Yoongi-hyung terlihat… normal."
"Itu bagus. Normal itu bagus." Pandangan Jungkook menerawang. Lamunan itu datang lagi, impian tentang lima jemari kecil di dalam jemarinya, perjalanan ke Busan dan kencan di tempat ramai. "Aku bicara dari pengalaman."
Jimin tertawa pelan, hampir terdengar seperti kekehan. Tidak penting, Jungkook senang mendengar keduanya. Membuatnya sesaat lupa kalau ia masih punya utang konser di Tokyo besok lusa.
"Tentu saja kau bicara dari pengalaman."
Aku juga sedang tidak yakin, hyung. Aku butuh kau untuk meyakinkanku, Jungkook menelan kalimat itu bersamaan dengan berakhirnya tawa Jimin. Jungkook berharap ia punya botol untuk menyimpan suara tawa itu sebelum mereka hilang ditelan angin, mengalungkannya di dada, dekat dengan jantungnya. Tempat dimana tawa Jimin seharusnya berada, bukan di voice note yang dikirim tengah malam atau panggilan internasional yang terburu-buru diakhiri.
.
.
"Tiga dari muridku berhasil masuk ke YG."
Jimin membuka satu lagi percakapan dengan topik yang benar-benar berbeda. Terkadang Jungkook heran bagaimana mereka bisa jatuh ke rutinitas yang sama persis seperti dulu dengan begini mudah—mengobrol tentang semua hal yang bisa diobrolkan, acak; lompat-lompat; tidak menentu. Tapi lagi, semua hal tentang Jimin selalu mudah.
Menghubungi Jimin selalu mudah, pria itu tak pernah lepas dari ponselnya bahkan di jam-jam paling aneh saat dini hari. Mengajak Jimin bertemu selalu mudah, dia selalu punya waktu—untuk Jungkook, mungkin jadwal konser Jungkook yang membuatnya sulit.
Membuat Jimin tertawa selalu mudah, Jungkook sudah ahli dalam hal itu setelah bertahun-tahun melakukan lawakan di hadapan Jimin secara konstan. Tahu pasti kata apa untuk diucapkan atau ekspresi seperti apa yang akan membuat Jimin terbahak sampai kepalanya menengadah dan sudut matanya terlipat dalam keriput-keriput halus.
Membuat Jimin menangis juga selalu mudah, Jungkook hanya perlu membuat dirinya sendiri menangis.
Mencintai Jimin selalu mudah, Jungkook pikir. Semudah mengeja namamu sendiri, semudah menyunggingkan senyum palsu untuk kamera—seperti hal yang Jungkook telah diajarkan sejak kecil, yang Jungkook dengan fasih melakukannya tanpa sadar.
"Keren. Aku bahkan sudah gagal di audisi tahap pertama."
"Taruhan Yang Hyunsuk menangisi keputusannya dulu saat namamu muncul sebagai solois terbaik."
Jungkook berjengit di tempat duduknya. "Solois. Tidak terasa sebagus kedengarannya."
"Konsekuensi, Kook-ah. Kau lebih dari paham."
Konsekuensi itu tidak terasa seburuk ini saat ada kita bertujuh, Jungkook ingin bilang. Tapi ia hanya tersenyum miring, berusaha menyembunyikan semua beban yang terasa tujuh kali lipat lebih berat saat ia harus menahannya sendirian. Tapi Jimin menatapnya seolah-olah ia bisa membaca apa yang ada di pikiran Jungkook; seolah-olah Jimin tahu. Mungkin dia memang tahu, Jimin selalu tahu.
"Omong-omong, hyung," Jungkook berbicara, memutus satu momen beratmosfer berat antara mereka. "Aku bertaruh mereka bertiga akan pamer ke semua orang."
"Huh?" Jimin menelengkan kepalanya sedikit, alis hitamnya sedikit terangkat, hilang ditutupi poni oranye yang menggantung di kening. Seandainya Jungkook punya kamera di tangannya, ia ingin sekali mengabadikan ekspresi itu. Sayangnya yang Jungkook punya hanya jantung yang berdetak terlalu cepat dan memori buram yang sudah penuh oleh lirik lagu.
"Maksudku, halooo, kalau aku jadi mereka aku sudah akan berkeliling gedung YG dan meneriakkan 'Guru tariku adalah Park Jimin dari Bangtan, Pecundang, coba dan kalahkan aku' atau mungkin menyetel lagu kita menggunakan speaker tepat di depan ruangan Yang Hyunsuk."
"Tentu saja. Tentu saja kau akan melakukan itu." Jimin tertawa, jemarinya yang berbalut kain rajut sweater menutupi rupa senyumnya. Tapi Jungkook tidak butuh melihat untuk tahu gigi depan Jimin yang tidak rata tengah menggigit bibir bawahnya agar suara tawanya tidak mengganggu yang lain.
Astaga, Jungkook sangat jatuh cinta.
.
.
"Taehyung mengganti team staff-nya, apa dia sudah cerita padamu?"
Jungkook menerawang, berusaha mengingat hal terakhir yang Taehyung sms-kan padanya. Tentang premiere film yang Jungkook tidak bisa hadiri dan lawan mainnya yang super cantik, Jungkook, sepertinya aku sedang jatuh cinta.
"Belum. Mungkin dia memang tidak berniat bercerita."
"Yah," Jimin mengerutkan alis. "Atau mungkin dia lupa dia belum menceritakannya padamu, kau tahu Taehyung."
"Hmmm… kenapa tiba-tiba ganti tim?"
Jimin mengedikkan bahu. "Mana kutahu. Dia tidak cerita, aku juga tidak bertanya."
Jungkook mengangguk-angguk paham. Jika ini Jimin yang dulu, pasti Taehyung sudah dibombardir dengan ribuan pertanyaan yang tercatat rapi di kertas. Tapi sekarang mereka bukan Jimin dan Taehyung sang duo 95 yang mahadahsyat lagi, hanya sekedar teman baik semasa sekolah yang masih saling berhubungan.
"Ah, Taehyung juga bilang dia berencana mengisi soundtrack film barunya. Dia bertanya-tanya apa kau mau menyanyikannya bersama." Jimin terkekeh kecil. "Dasar, sepertinya insting penyanyi Tae belum sepenuhnya hilang."
"Kenapa Taehyung-hyung tidak bertanya padaku langsung?"
Jimin tersenyum. "Entahlah, mungkin menyampaikannya lewat aku terdengar lebih baik baginya. Lagipula aku sudah bilang kau pasti mau."
"Hm," Jungkook pikir menyumbangkan suaranya untuk film Taehyung adalah penutup yang baik dalam karirnya. "Kapan?"
Jimin tertawa lagi dan Jungkook tidak mengerti apa yang begitu lucu, tapi ia ikut tertawa juga.
"Kenapa kau terburu-buru sekali? Itu baru rencana, Kook, mungkin satu tahun lagi baru bisa digarap."
"Well, aku kurang-lebih sedang dikejar waktu."
"Hm?"
"Kontrakku habis Juni tahun depan, hyung. Aku... pikir aku tidak akan memperbaruinya."
Jimin meletakkan garpunya di meja, tiba-tiba terlihat terlalu serius untuk perbincangan ringan di restoran.
"Jungkook? Apa aku tidak salah dengar? Kau bilang-,"
"Aku tidak akan memperbarui kontrakku, hyung."
"Apa kau benar-benar yakin soal ini?"
"Well, tidak sampai saat ini."
"Pikirkan baik-baik, Jungkookie. Bernyanyi adalah mimpi yang sudah kau kejar sejak kecil. Mengapa meninggalkannya ketika kau punya kesempatan untuk tetap bernyanyi?"
Memang, Jungkook ingin bilang, 'penyanyi' adalah satu-satunya hal yang Jungkook ingin jadi. Bernyanyi adalah satu-satunya hal yang Jungkook tahu sepanjang hidupnya—semangat, tujuan, cita-cita. Tapi Jungkook ingat apa yang Jimin bilang dua tahun lalu di café kecilnya saat Jungkook berkunjung.
"Mimpi bisa berubah, hyung sendiri yang bilang." Jungkook menyesap latte panasnya sedikit—masih terlalu panas. "Mungkin mimpiku berubah di detik kita bubar. Mungkin satu-satunya hal yang kuimpikan sekarang adalah tinggal bersamamu di satu apartemen hangat, pergi ke tempat orang-orang datangi untuk berkencan tanpa harus bersembunyi dari wartawan dan blitz kamera."
"Tapi kita baik-baik saja seperti ini, Kook. Kau dan aku."
"Kita baik-baik saja, hyung, tapi tidakkah hyung memimpikan bangun di sampingku tiap hari? Karena aku iya. Aku ingin memelukmu tanpa harus khawatir akan skandal yang mengganggu penjualan album, aku ingin bisa mengajakmu pergi ke semua tempat yang ingin kaukunjungi tanpa ada telepon dari manajer yang mengingatkanku aku punya jadwal hari itu."
There, Jungkook mengatakannya. Menumpahkan semua hal yang mengganggunya tiga tahun terakhir. Ketika mereka masih tinggal di satu tempat yang sama, meluangkan waktu untuk berkunjung ke kamar Jimin dan tertidur di kasurnya terasa sangat mudah. Sekarang di antara semua jadwal konser dan bisnis Jimin, Jungkook tidak perlu menjelaskan bagaimana sulitnya. Jungkook tidak perlu menjelaskan sebesar apa rindunya.
"Jungkook, kita sudah bicara tentang ini."
Mereka memang sudah bicara tentang ini. Perdebatan panjang via telepon dan semua argumen serta ketidaksetujuan. Jungkook tidak yakin apakah publik yang belum siap, atau mereka.
"Hyung, tolonglah… aku sudah bicara dengan orang tuaku."
"Kau-apa? Kapan?"
"Bulan lalu saat aku kembali ke Busan. Ayah bilang tidak apa-apa, selama aku bahagia. Ibuku bilang, aku harus membuatmu bahagia juga, hyung. Jadi biarkan aku membahagiakanmu dengan membiarkan seluruh dunia tahu aku mencintaimu."
"Katakan sekali lagi."
"Aku mencintaimu. Sungguh."
Jimin tersenyum atas kalimat Jungkook dan tiba-tiba saja semua terasa benar. Seperti tiga tahun terakhir yang penuh kerancuan dan kegelisahan tidak pernah ada, Jungkook mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lambat menyadari apa yang sebenarnya ia inginkan.
"Aku juga mencintaimu, tapi kau sudah tahu itu."
"Ya, hyung. Aku tahu."
.
.
Hujan sudah mulai mereda saat mereka berdua keluar dari restoran. Dua gadis pirang penjaga pintu mengucapkan salam selamat tinggal yang dibalas dengan senyuman lebar dari Jimin, Jungkook jadi ikut tersenyum.
Jalan kembali ke hotel tidak begitu jauh, dan orang-orang di New York tidak se-psikopat di Korea. Tidak ada yang mengikuti mereka dengan kamera ponsel atau teriakan keras.
Kubangan air berjejer di sepanjang trotoar dan Jungkook, tiba-tiba merasa ringan dan begitu lepas, tidak tahan untuk tidak melompati genangan hujan tersebut. Ketika ia menoleh ke belakang, yang ia dapati adalah senyum penuh kasih yang terlihat begitu familiar dan Jungkook jadi merasa 18 lagi.
"Kau terlihat tampan jika kau mengenakan cinta di wajahmu, Kook."
"Aku selalu tampan." Jungkook menyahut cepat, terkekeh kecil saat mendengar Jimin mendengus. "Karena aku selalu mencintaimu, hyung."
"Such a sap." Kali ini Jimin yang menjawab cepat, tidak terlihat tersipu sedikitpun karena kalimat Jungkook, tapi senyum itu masih disana. Beberapa hal memang harus berubah, Jungkook pikir.
Tapi tidak dengan yang ini; perasaan ini, Jungkook pikir.
.
.
[end of the story]
if this can be called a proper story.
.
.
note:
entahlah, hanya bayangan saya jika jungkook harus pergi solo tanpa kakak-kakaknya. kemungkinan besar dia bakal merasa kesepian, mengingat dia selalu diperlakukan seperti adik kecil imut-imut bahkan di umurnya yang sudah 20. dan di tahun ketiga, dia sudah merasa capek. mungkin dia sudah capek sejak masa bangtan, tapi capeknya jadi terasa jauh lebih unbearable ketika dia harus berjuang sendirian. hanya imajinasi. saya yakin jeon jungkook yang asli jauh lebih kuat dari jungkook yang ada di fic ini.
dan, uh, saya membayangkan jika jikook pasca-bubar bertemu, hal yang mereka lakukan adalah ngegibahin mantan anggota yang lain. i don't know… that's what i do to my old schoolmates. hohohoho.
ini bahkan bukan fic jikook pada awalnya, hanya sebuah coretan jungkook-centric yang saya selipkan beberapa kalimat alay dan dialog picisan.
anyway! rnr, please?
