"Aaarghhh lepas! Ku mohon lepas!"
"Diam! Nyalakan mobilnya!"
"Oppa... Oppa! Lepas! Arrghh.."
"Ck! Tidak ada yang menyelamatkanmu! Jadi diam saja ya adik manis~~ ke ke ke ke"
"Yak! Awas!"
Seketika sinar sangat terang menghampiri mobil itu dan kemudian gelap diiringi isak tangis seorang gadis kecil.
Luhan langsung membuka matanya lebar-lebar. Keringat dingin di sekujur tubuhnya. Tubuhnya begertar hebat, wajahnya pucat pasi, nafasnya tersengal-sengal. Dia benar-benar ketakutan. Suara isakan itu muncul begitu saja dan air matanya begitu saja terjatuh. Luhan menekuk tubuhnya meremas selimut biru pastelnya begitu erat. Dia terus terisak menangis yang sesungguhnya tidak tahu kenapa dia menangis. Isakkan itu makin menjadi ketika sekelebat bayangan mimpinya itu terulang.
'Siapa? Kenapa?' Pertanyaan yang sama terus berulang di kepalanya. Luhan menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut menyisakan sepasang matanya. Nafas Luhan mulai teratur, sudah bisa mengendalikan dirinya. Luhan melihat jam di nakasnya, lewat tengah malam. Matanya mulai terpejam, hanya menutup. Dia berusaha untuk kembali tidur. Batin dan tubuhnya berkata lain, batinnya yang sedang kacau memaksa beristirahat. Sedangkan tubuhnya menolak untuk sekedar memejamkan mata.
Luhan menghembuskan nafas berat, dia melihat ke arah jendela. Langit malam memang indah, dia tersenyum mengingat itu. Lelah, dia putuskan untuk berbaring sejenak dan bersenandung kecil untuk sekedar menghilangkan rasa takut walau hanya sedikit.
-xx-
Chapter 3
This is genderswitch fanfiction: Luhan as girl and Sehun as boy.
RATE: M
Romance, Hurt/Comfort, semi-blood/? (Lumayan banyak ada adegan berdarahnya nanti), School-life, action, Genderswitch, AU
Chaptered, NC-17
Cast: HunHan -slight Kaisoo and chanbaek.
Other cast: SuLay, Yoona SNSD, Vernon SEVENTEEN and another OC.
All plot story is mine and please don't copy or be plagiarism without permission.
Happy Reading, and enjoy it ^-^
-xx-
.
.
.
.
.
.
-xx-
Semua Berawal
-xx-
"Lu... kau baik-baik saja?" Kyungsoo melambai-lambai tangannya didepan muka Luhan. Hah.. gadis itu bengong lagi.
"Lu?" Tanya Baekhyun kemudian dan Luhan tetap dengan wajah kosongnya.
Baekhyun menatap Kyungsoo dengan tatapan cemas. Dia merasa ada sedikit masalah dengan Luhan dan lagi keadaan Luhan cukup membuat dia sedikit 'ngeri', dasi tidak tersimpul dengan rapih, rambut acak-acakan, mata makin menghitam tiap harinya, ditambah lagi Luhan makin sering termenung tak jelas dan tatapan kosongnya yang makin memperparah keadaannya. Baekhyun melihat Kyungsoo yang hanya diberi tatapan 'aku tidak tahu harus apa'. Keduanya menghela nafas.
Ada yang tidak beres dengan Luhan, pikir mereka. Sejak tadi pagi Luhan bahkan saat bertemu di gerbang sekolah, keadaannya sudah seperti itu. Jika di tanya hanya bilang 'hmm... tak apa' lalu pergi begitu saja dan kembali dengan pikiran kosongnya. Kedua sahabat Luhan hanya bisa memandanginya dengan prihatin. Semenjak kematian sahabat sekaligus dianggap keluarga baginya, Luhan menjadi seperti ini. Termenung tidak jelas atau terlihat sering murung tidak jelas. Sebagai teman, Baekhyun dan Kyungsoo tentu sangat khawatir dengan keadaan Luhan yang seperti setengah manusia hidup itu. Begitu juga dengan Chanyeol yang sudah berteman dengan Luhan sejak lama jauh sebelum Baekhyun dan Chanyeol pacaran. Chanyeol juga tidak tahu harus apa, dia hanya bilang "Untuk saat ini terus mengobrol dan mengingatkan dia. Hanya itu yang bisa kita lakukan" hanya itu jawaban yang mereka dapat.
"Lu.. kami tau kau ada masalah, kau bisa bercerita kepada kami. Tapi kalau kau tidak mau tak apa tidak usah dipaksakan" ucap Baekhyun seraya mengusap rambut Luhan dengan pelan.
"Benar Lu, kami disini. Jika kau ada sesuatu ceritakan saja pada kami siapa tau kami bisa bantu" ujar Kyungsoo dengan lembut.
Luhan mendengar semuanya. Sebegitukah lemahkah dia? Sebegitu kasihan dirinya? Dia tidak tahu. Yah... kalau dipikir tingkahnya sudah tidak beres. Tidak seharusnya begini, teman-temannya mengkhawatirkan dirinya. Sedangkan dia hanya menanggapinya dengan sekenannya saja. Tapi, dia sendiri butuh ketenangan sekarang, tapi juga tak seharusnya dia memendamkan semua. Benar kata Kyungsoo, seharusnya dia bercerita tapi dia hanya takut, takut menambah beban teman-temannya dengan masalah yang ada di hidupnya. Luhan menghembuskan nafas sejenak, dan menegakkan tubuhnya. "Baek, Kyung... aku tak apa sungguh" seraya tersenyum kecil kepada teman dan sudah dianggap sahabat barunya itu.
Baekhyun dan Kyungsoo lantas tersenyum kecil melihat Luhan yang tersenyum walau mereka itu hanya sebuah topeng, tak apa setidaknya dia tersenyum bukan?
"Kami tahu kau ada masalah, lain kali cerita pada kami ya tembaaaamm" ucap Baekhyun sambil menarik pipi tembam Luhan dengan gemas. Kemudia mereka tertawa.
"Yes miss!" Ucap lantang Luhan seketika sambil bergaya hormat ala tentara dan mereka kembali tertawa setidaknya mereka sedikit lega dengan keadaan Luhan sekarang untuk saat ini. Tapi kita tidak tahu yang akan terjadi berikutnya bukan?
-xx-
Sudah tiga hari ini aku berada disekolah orang targetku. Kim Luhan. Gadis yang sering murung akhir-akhir ini. Dan sudah tiga hari ini aku duduk disebelahnya. Juga sudah tiga hari ini dia terus salah menyebut namaku bahkan kadang lupa.
Pertama saat di ruang kelas, dia baru bangun tidur dan langsung menanyai namaku.
"Baehun? Namamu kan?"
Kedua, saat dia disuruh memanggilku untuk ke ruang guru. Dan dia salah total dalam menyebut namaku!
"Ah.. hyun.. siapa namamu? Jihyun? Heon? Ah aku lupa. Kau dipanggil ke ruang guru"
Berikutnya, saat di mading. Dia seenaknya saja mengganti namaku seperti nama perempuan!
"Seohyun kan? Bisa tolong geser sedikit aku tidak kelihatan"
Apa susahnya mengingat namaku! Jaehun! Apa susahnya menyebut itu aku sedikit kesal sendiri mendengarnya yang tidak pernah hapal namaku, walaupun nama samaran.
Sudah tiga hari ini juga aku memikirkan bagaiman cara mengambil CD itu. Mengingat Ketua (Siwon) terus menegurku "bagimana ada perkembangan?" atau yang sampai sangat mengohok hatiku "kau ini bagaimana! Tidak bisa berdekatan dengan gadis?!" aku langsung terdiam mengingat itu.
Benar, aku akui diriku tak pandai dalam urusan mendekati para gadis. Aku tidak pandai seperti Kai yang suka sekali gonta- ganti pasangan. Makanya aku sampai sekarang masih ekhm-melajang karena yah... tadi yang kusebutkan.
Hari ini benar-benar sepi. Aura dalam kelas menjadi sangat bosan. Beberapa dari pada murid mulai menyibukkan diri dalam diam, bahkan ada yang tidur. Seperti gadis di samping ku ini, dia sangat terlelap dalam tidurnya. Aku memandang depan kemudian menengok lagi kearah gadis itu.
Bagaimana caranya mendekatimu?
Aku menundukkan kepala yang terasa sangat berat.
Semua tidak akan serumit ini jika saja diriku lebih berhati-hati. Satu orang terlibat masalah ini. Seorang gadis lugu, tidak tahu apa-apa menjadi seperti bahan taruhan. Seperti yang kuduga pergerakan musuh makin cepat. Dengan begitu sama saja artinya keadaan gadis ini semakin terancam. Apa dia akan dibunuh?
Aku memejamkan mataku. Tak kusangaka seberat ini jika sudah mempermasalahkan tentang seorang gadis. Lihatlah dia, tertidur dengan pulasnya seperti tidak ada beban. Wajah sangat damai hingga tidak ada yang berani mengganggunya, siapa yang tega sampai membunuhnya kalau begitu? Tidak ada! Yah.. kecuali pisikopat tua itu. Dia malah sangat tergiur dengan makhluk seperti ini, pisikopatnya akan keluar begitu melihat mangsanya sangat menawan.
Sial! Benar juga aku melupakan dia. Dia berbahaya. Sekali kau terlibat masalah dengannya, sangat susah menyelesaikan masalahnya kalau tidak dengan persyaratan gila. Aku tidak begitu tahu tentang apa persyaratannya, banyak rekan-rekan korbannya kutanya, mereka bilang hanya ada persyaratan gila. Tapi yang kutahu setelah melakukan persyaratan, orang yang bersangkutan akan menghilang. Itu juga masih misteri.
KRIING KRIIIIIING
Bel istirahat berbunyi. Seluruh murid menghela nafas lega dan beberapa langsung menuju kantin. Ku lihat gadis ini masih saja tidur dengan nyenyak. Apa aku harus membangunkannya? Tapi dia terlihat sangat nyaman seperti itu.
Kemudian dua temannya datang, mereka menyuruhku diam dengan meletakan jari telunjuk mereka di bibir mereka dan salah satu bermata seperti puppy menyuruhku untuk menyingkir dan aku menyingkir dari tempat duduk ku dan melihat kedua teman Luhan itu. Kemudian mereka terkikik sebentar dan yang bermata owl itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, menaruhnya di atas tangan Luhan yang masih asik tertidur.
Dengan perlahan dia menaruhnya dan melihat terbangun atau tidak. Serasa tidak ada pergerakan mereka mulai bernafas lega dan kembali terkikik dan kemudian sedikit menjauh mulai menghitung mundur. "1... 2... 3..." hitung mereka dalam diam dan "LUHAN ADA LABA-LABA!" Seru keduanya mengejutkan diriku dan Luhan langsung terlonjak bangun begitu saja, "Hwaaa mana laba-laba?! UWAA LABA-LABA!" teriaknya histeris saat menemukan laba-laba mainan di atas tangannya. Langsung dia tepis laba-laba itu. Kedua temannya tertawa puas melihat reaksi Luhan, sedangkan Luhan memasang wajah masamnya. Tanpa sadar aku menahan senyumku.
"Yak kalian! Bisakah kalian tidak menggangguku?!" Bentak Luhan begitu saja melihat dua temannya berhasil menjahilinya.
Bukannya berhenti mereka malah makin keras tertawa, "Ya tuhan Luhan kami hanya ingin membangunkanmu" jawab si mata puppy dengan kekehan dia di akhirnya.
"Membangunkanku apanya!" Sembur Luhan begitu saja dan itu malah makin membuat mereka berdua tertawa geli. Aku hanya bisa tersenyum dalam diam. Lucu sekali melihat wajah Luhan yang masam itu. Beribu-ribu lebih gemas dari sebelumnya, rasanya ingin sekali ikut menjahilinya.
"Wah.. sepertinya ada yang sedang kesal" ucap seseorang siswa berjalan kearah kami. ck, dia lagi.
"Hai Hansol, mau bersama Luhan lagi?" Goda si mata puppy. Kemudian mereka terkekeh kecuali Luhan yang memasang wajah mendelik tidak suka pada temannya itu. Entah mengapa aku menjadi tidak suka.
"Well, seperti itu lah. Boleh pinjam Luhan sebentar? Kami ada janji" ucap siswa bernama Hansol itu. Si pupuy dan owl itu ber'o' ria dan kemudian mengangguk seraya tersenyum mengoda Luhan.
"Hei berhentilah senyum seperti itu. Menggelikan tahu!" Ucap Luhan sudah berdiri dan berjalan mendekati Hansol. Aku semakin tidak suka.
"Ok ok baiklah... kami pergi dulu. Lagi pula kami tidak akan mengganggu pasangan baru..." ucap si mata owl membuat dia dan temannya satu lagi terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri. Pasangan baru katanya?
Luhan memutar bola matanya jengah. Lagi-lagi mereka menggodanya. Itu yang tergambar dia wajah Luhan sekarang. "Hei! Jangan bicara tidak-tidak tahu!" Ujar Luhan benar-benar datar. Kemudian dua temannya pergi masih dengan kekehan gelinya. Setelah pergi, kemudian Hansol angkat bicara, "jadi?" Tanyanya dan di jawab Luhan dengan anggukkan kepala dan pergi begitu saja, berjalan berdua entah kemana.
Semenjak pertama masuk sini, Luhan begitu dekat dengan siswa tadi. Seperti sudah berkenal lama. Dan sudah tiga hari ini, Luhan makin dekat dengannya dan itu benar-benar membuatku tidak suka. Seperti ada sesuatu yang menjanggal di hati ku dan aku harus memastikannya sendiri.
-xox-
02:36 p.m.
Keadaan cuaca hari cukup cerah apa lagi memasuki musim gugur yang baru datang beberapa hari ini. Cuaca juga mendukung untuk beraktivitas diluar rumah. Seperti sekarang ini sepasang suami-istri sedang sibuk merapihkan toko kecil didepan rumahnya. Keduanya begitu sibuk membersihkan barang-barang di toko itu sesekali tersenyum jika saling pandang.
Setelah sekian lama, akhirnya mereka membuka tokonya kembali. Sudah tiga hari ini berjalan dan banyak pengunjung membeli barang-barang di toko mereka kembali. Sang suami membersihkan bagian dalam toko dan juga sekaligus menjadi kasir dan sang istri membersihkan beberapa jenis sayuran dan buah di bagian luar toko.
Toko itu kecil jadi tidak sulit membereskannya. Terlihat beberapa stok buah apel dan beberapa kaleng minuman di pojok luar toko itu. "Yeobo, ini belum ditaruh?" Ucap sang istri melihat beberapa dus apel dan minuman kaleng. Sang suami yang mendengar itu langsung keluar melihat apa yang diucapkan istrinya. Benar, masih ada beberapa dus lagi dan dia melupakannya. "Ah.. kau benar.. baiklah biar aku taruh ini dulu," ucap sang suami dan ditahan oleh istrinya. "Lebih baik aku saja dan kau disini melayani pengunjung, biar aku bawa ke gudang. Lagi pula di mesin pendingin sudah tidak muat lagi." Ucap sang istri seraya mengangkat sebuah dus kaleng minuman. "Kau yakin? Apa tidak berat?" Ucap sang suami untuk meyakinkan. Lagi pula, tidak bagus kalau seorang perempuan mengangkat beban berat, pamali katanya.
"Iya, chagi~ aku bisa -sang istri mengangkat dus minuman kaleng- aku taruh ini dulu, kau bereskan yang tadi" ucap si istri pergi kebelakang rumah menaruh dus minuman kaleng. Si suami tersenyum kemudian berjalan ke dalam toko melanjutkan pekerjaan bersih-bersih barang yang tertunda.
Toko kecil itu berada di sebuah gang kecil berada di sebuah perkomplekan. Orang-orang sudah tahu dipertigaan ke dua di perkomplekan pasti ada toko kecil sekaligus rumah diatasnya. Orang-orang juga tahu bahwa pemilik toko itu juga sangat ramah kepada orang lain. Beberapa pengunjung berdatangan untuk membeli keperluan mereka dan di layani dengan baik oleh si suami. Mereka juga menyukai sepasang suami istri ini, menurut mereka sepasang suami istri itu sangat baik dan itu membuat mereka nyaman berbelanja di toko itu.
Terlepas dari itu, saat sang suami sibuk mengurusi beberapa pelanggannya, sang istri disibukkan dengan gudang yang tidak tertata rapih. Beberapa kali ia mengeluh karena tidak memerhatikan tata letak dan banyak debu, mengingat mereka sudah berbulan-bulan tidak membuka toko dan baru sekarang tiga hari terakhir ini mereka memutuskan membuka toko kembali. Tiba-tiba pintu gudang terbuka, sang suami ternyata.
"Kau tak apa?" Tanya sang suami khawatir begitu melihat istrinya sudah tidak kuat lagi. Sang istri sedikit terbatuk dan berdehem kecil, "tak apa, kau tidak melayani pembeli?" Tanyanya dan kembali menata kardus-kardus yang berserakan. "Di luar hanya sedikit pelanggan. ah iya, bawa satu kardus mie cup kita kehabisan itu di toko"
"Kardus mie dimana ya? Ah ini dia!" Seru sang istri mengambil kardus mie cup di atas rak bagian ke dua. "Berdebu sekali" ucap sang suami mengambil serbet dan mengelap kardus itu. "Ugh.. kita harus membersihkan ini segera, berdebu sekali" ucap sang istri mengkibas-kibaskan tangannya di udara. "Tapi aku tak yakin kita kuat, bagaimana meminta bantuan Luhan? Kurasa anak itu mau membantu" saran sang suami. "Aku akan beritahu dia"
02:36 p.m.
"Biar saya bantu" ucap seorang lelaki tua tersenyum ramah kepada seorang nenek yang membawa kantung sampah. Si nenek hanya tersenyum menolaknya dengan halus, "tak apa saya bisa sendiri". Tapi lelaki tua itu menghiraukannya dengan lembut dia mrngmbil kantung sampah dan ternyata lumayan berat isinya. "Ah nenek ini berat mana bisa kau mengangkatnya sendiri"
Si nenek hanya tersenyum, orang ini bukan keluarganya atau tetangganya. Orang ini hanya sering berjalan menuju kantor dengan jas mahalnya yang dia sampirkan di tangan kanannya dan sering tersenyum bahkan membantu orang-orang disekitar, seperti sekarang ini. "Sangat disayangkan jas mu akan kotor kalau membantuku seperti ini,"
Lelaki tua itu tersenyum. Dan sedikit membersihkan tangannya, "tak apa nak, saya permisi dulu ya" tersenyum ramah dan pergi meninggalkan tempat itu berjalan menuju kantornya. Tiba-tiba suara deringan SMS masuk di ponselnya.
PLAN B. BLOK H, NO.12.
Di SMS tersebut di lampirkan sebuah gambar, seorang gadis yang tersenyum.
Lelaki tua itu melihat SMS tadi, seketika kerutan di wajahnya berubah.
Matanya membesar terobsesi, senyum yang berubah menjadi cengiran menakutkan. Raut mukanya berubah drastis secara diam-diam, kemudian dia terkikik pelan menundukkan wajahnya. Merasa puas yang akan dicapai, di makin memperlebar senyum menakutkannya. Kemudian dia mendongak saat itu juga raut wajahnya berubah drastis seperti semula dan melanjutkan perjalanannya.
Bukan kantor, dia akan bersenang-senang.
02:45 p.m.
"Kerjakan tugas kalian, selamat sore." Guru Nam pergi begitu saja dengan langkah lebarnya. Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Seluruh siswa mulai tergesah-gesah menuju gerbang sekolah.
Luhan melangkah keluar diikuti kyungsoo dan Baekhyun kemudian membicarakan hal lain dalam perjalanan. Di depan gerbang mereka terpisah. Baekhyun yang di antar oleh Chanyeol dan Kyungsoo di jemput oleh supir pribadinya. Luhan menghela napas. Dia bergeser sedikit ke kanan dan menyandarkan punggungnya ke tembok gerbang. Dia sedang menunggu seseorang. Luhan mengecek ponselnya, ada beberapa SMS dan Missed Call dari bibi. Katanya minta bantuan sebentar di toko nya. Luhan membalas SMS tadi. Tak apa membantu sebentar nanti bisa di bicarakan ini.
"Kau menunggu lama?" Tanya seorang laki-laki yang sudah ditunggu Luhan dari tadi. "Tidak juga, ayo... " Luhan tampak berpikir sebentar. "Jaehun. Oh Jaehun ingat namaku Luhan" potong Sehun dengan tegas. Luhan mengerjap, dia selalu lupa nama orang ini padahal teman sebangkunya, sedikit menyesal dia menunduk "maafkan aku, tapi aku memang tidak bagus soal ingat-mengingat"
"Ya sudah tak apa, ayo" ajak Sehun kemudian disusul oleh Luhan disampingnya.
Hari ini mereka mau mengerjakan tugas kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari dua orang. Guru Nam memberikannya tadi, membuat tugas essai dan analisis tentang tumbuhan tropis. Guru biologi itu membuat semua murid mendesah kecewa pasalnya kelompok yang diberikan ditentukan oleh dirinya sendiri dan itu harus teman sebangkunya. Jadilah seperti ini Luhan dan Jaehun—maksudku Sehun berjalan berdua dengan sedikit—canggung.
Luhan berkali-kali membuka dan menutup mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu. Sehun yang tahu akan hal itu langsung menanyai Luhan. "Ada yang ingin dibicarakan?" Ucapnya masih melihat kedepan. Luhan langsung diam, orang ini tahu saja. "Sebenarnya, bisa tidak kita tunda dulu sebentar belajarnya?" Ucap Luhan hati-hati.
"Eoh.. kenapa?"
"Bibiku meminta bantuan di tokonya, jadi mungkin kita tunda dulu sebentar belajarnya sampai aku selesai membantu bibi" Sehun mengangkat alisnya. "Tak apa tenang saja lagi pula waktunya masih lama"
Luhan mendesah lega, Jaehun tidak keberatan. Dia menjadi tenang sekarang. Mereka sudah sampai di halte, tinggal menunggu bis datang. Dan selama itu mereka diam sampai bis datang hingga turun di halte berikutnya, dan berjalan menuju perkomplekkan tempat tinggal Luhan.
Dan mereka diam lagi. "Kau tinggal dimana?" Tanya Luhan tiba-tiba sekedar memcah keheningan di antara mereka.
Sehun mengalihkan pandangannya ke Luhan, "hmm.. tidak jauh dari halte yang kita turun tadi hanya saja tempat tinggalku harus menaiki bis lagi dan turun di halte berikutnya" jelas Sehun.
"Bibimu... punya toko? Apa setiap hari kau membantu Bibimu?" Tanya Sehun yang sebenarnya dari tadi penasaran sekali. Bibi? Setahu dia Luhan tidak punya bibi.
"Oh.. itu iya. Dia bukan bibiku sih.. tapi aku selalu memanggilnya begitu. Dia punya toko kecil di gang kecil. Tak jauh dari sini hanya jalan beberapa menit lagi sampai. Dan untuk masalah membantu, terkadang kalau tidak ada kegiatan aku akan kesana membantu." Jawab Luhan semangat.
Sehun bersorak dalam hati. Tak sia-sia juga, makin lama makin bagus dengan begitu dia bisa bersama Luhan lebih lama bukan?
"Ah Jaehun kau mau kan membantuku? Bantu-bantu di toko, sekalian makin cepat selesai makin cepat kita selesaikan tugasnya bukan?" Luhan sangat semangat hari ini, Sehun jadi tidak tega menolaknya.
"Baiklah, hanya sebentar. Lagi pula ini makin malam" ucap Sehun melihat ke langit. Sudah tampak kejingga-jinggan langitnya.
"Ngomong-omong seperti apa pemilik toko itu?" Tanya Sehun sedikit penasaran soal ini. Luhan melihat Sehun dengan tatapan heran. "Umm.. aku hanya penasaran , tak apa bukan?"
Luhan menjawab, "Well, bibi orang yang baik dan ramah di juga sangat penyayang dan paman orang yang sangat bijaksana juga sangat lucu" Luhan terkekeh dengan ucapannya. "Mereka punya seorang putri yang cantik dan sangat ceria namanya Hyun Sohee" nadanya berubah menjadi lirih. "Aku bersahabat dengannya, makanya itu aku bisa kenal dengan paman dan bibi."
Hyun Sohee... rasanya pernah dengar tapi kalau tidak salah yang korban siswi pembunuhan itu bukan. Mataku membulat terkejut, "Hyun Sohee itu kan..."
"Ya dia korban pembunuhan itu" ucap Luhan lirih. "Ah.. maafkan aku aku tidak bermaksud, kau tak apa?" Ucap Sehun pelan-pelan. Dia sudah menyinggung sesuatu tak menyenangkan.
Luhan menggeleng menunduk, "Tidak apa, tapi paman... paman sangat terpukul oleh kejadian itu dan sangat sedih tentunya. Dia sangat syok mendapat berita itu" Luhan menghela nafas, "Bibi juga, dia menangis berhari-hari setelah kejadian itu. Bibi sempat tidak mau makan dan hanya melihat kendi abu jenazah anaknya. Bahkan paman tidak tahu lagi harus apa, istrinya sering pingsan karena kelelahan"
"Padahal Sohee gadis yang baik, tapi kenapa dia dibunuh" Sehun hanya mendengar Luhan yang hampir menangis. Hatinya terasa nyeri mendengar suara Luhan berubah menjadi lirih begitu. Dia mulai mengelus kepala Luhan sayang, "Semua akan baik-baik saja" entah kalimat itu keluar begitu saja. Luhan mendongak melihat Sehun. Kemudian dia sedikit mengusap matanya yang mulai berair. "Maafkan aku, tidak seharusnya begini"
Sehun menarik tangannya sedikit ragu. Dia tidak tahu kalau akan seperti ini. Semoga bisa terkendali, Sehun sangat berharap akan hal itu.
"Baiklah ayo" ucap Luhan langsung mengagetkan tangan Sehun mengajaknya sedikit lebih cepat. Luhan menyentuh tangannya. Itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Mereka sampai di toko kecil itu. Toko itu tidak sedang ramai, wajar baru beberapa hari dibuka dan masih berantakkan pula keadaannya. Beberapa pengunjung tersebar di area toko itu. Seorang wanita setengah baya masuk kedalam toko dari belakang membawa sebuah kardus makanan. "Bibi!" Seru Luhan berjalan mendekati wanita yang dibilang bibi itu.
Bibi itu tersenyum dan meletakan kardus di sampingnya. "Ah.. Luhan sudah datang," ucapan Bibi terpotong melihat Sehun dibelakang, "siapa?" Bisik bibi. Luhan yang lupa kalau ada temannya pergi bersamanya tadi segera menghampiri Sehun dan menariknya ke arah Bibi, "Bibi ini Jaehun dia temanku, Jaehun ini Bibi yang tadi kubilang" ucapnya penuh riang.
Sehun hanya melongo diam kemudian dia sadar begitu saja,"Ah, A-annyeong Bibi, saya Jaehun teman Luhan" Sehun menyerit dengan ucapannya, sedikit tidak suka saat memperkenalkan dirinya dengan nama palsunya.
"Kami akan membantu Bibi, jadi mana yang akan kami kerjakan?"
•
Sehun tidak tahu kalau yang dimaksud membantu di toko seperti ini. Dia kira membantu berjaga di kasir atau menyusun barang-barang di rak barang. Tapi malah dia surih membersihkan gudang yang berdebu dan berantakan nya minta ampun dan lagi, hanya seorang diri.
Luhan berjaga dan melayani pembeli di kasir, Bibi menata dan membersihkan area toko, sedangkan Paman mengambil susu botol di rumah tetangga yang jaraknya beberapa blok dari toko. Sehun tidak tahu kalau gudangnya seperti ini. Membersihkan seorang diri mustahil selesai cepat, kalau begini tadi seharusnya minta bantuan paman juga. Keluhnya.
Sementara di luar, Luhan sibuk melayani pembeli, "Semuanya 10.000 won. Terimakasih, datang ke toko kami lagi ya" tidak lupa senyuman manis selalu dia curahkan jika melayani pembeli. "Kau kelihatan bahagia sekali, Luhan" ucap Bibi yang dari tadi melihat Luhan terus tersenyum. Luhan tertawa pelan, "Bukankah kita harus terus tersenyumkan, Bi?" Bibi tertawa, "Kau ini mengingatkanku pada seseorang saja" canda Bibi. Luhan terdiam hanya memberikan senyum kecut. Suasana diam sejenak.
"Yah.. kau benar kita harus terua tersenyum apapun yang terjadi bukan?" Ucap Bibi lirih setangah berbisik. Luhan hanya memberikan senyum tumpul dan kembali menunduk. Dia tidak sengaja mengucap kata-kata itu. "Ah, Luhan kau menyusun alat tulis di pojok sana, aku lupa menyusunnya." Luhan melihat ke rak kaca berisi alat-alat tulis itu, sedikit berantakan memang. "Baik Bi" Luhan melangkah ke rak kaca itu. Kemudian dia berjongkok mulai membersihkan rak kaca itu dari bawah.
Tak lama kemudian masuk dua orang lelaki, satu masih muda dan yang satu sudah tua. Bibi melihat ada orang yang masuk langsung menyapa nya, "Selamat datang, ada yang saya bisa bantu?" Kedua lelaki itu mengangguk. "Kami ingin membeli bahan makanan dan beberapa buah" ucap salah satu dari mereka yang sudah paruh baya tapi tetap sehat memakai baju kantornya. "Oh.. baiklah saya akan menunjukkan letak dan sayuran dan buah" Bibi mempersilahkan mereka mengikutinya keluar toko ke arah rak sayuran dan buah.
Sementara di tempat lain, tepat dia atas sebuah rumah bertingkat tidak jauh dari toko kecil. Lebih tepatnya di rooftop. Seseorang baru duduk di tepi memerhatikan segalanya dari teropong kecil canggih miliknya. Matanya terus bekerja memeriksa keadaan dan di rasa aman dia menghubungi seseorang.
"Hyung, semua sudah terkendali. Tidak ada siapa-siapa. Digudang hanya ada seseorang laki-laki dan selebihnya hanya Boss dan Joshua hyung di toko." Ucapnya sambil terus mengunyah permen kacang favoritenya.
"Sungguh? Kau tidak salah kan? Aku akan kesana. Tunggu aku, akan kuberitahu si tua brengsek itu" Pria itu hanya bisa tertawa menjawab pernyataan hyungnya satu ini.
"Baiklah, cepatlah kesini. Pertunjukkan akan segera dimulai" ucapnya berniat bercanda dan malah tertawa sendiri dengan ucapannya. Disebrang sana hanya berdecih dan segera menutup telponnya. Pria itu kembali memakai teropong kecilnya. Keadaan sepi, tidak ada pembeli lainnya. Keadaan belakang toko, gudang toko tersebut juga aman hanya seorang —entah siapa sedang membersihkannya— dan lantai atas itu juga sepi, hordeng setengah terbuka, dengan keadaan seperti itu dia bisa melihat keadaan lantai atas itu. Sedikit remang-reamang, tapi dia melihat sesuatu dia sana. Sebuah guci kecil. Pria itu hanya membuang nafas beratnya.
Didalam toko lelaki muda sibuk menanyakan sesuatu kepada Bibi sedangkan lelaki tua mengelilingi toko melihat-lihat sekeliling toko yang sebenarnya tanpa ada minat. Minatnya bukan datang ke toko ini apa lagi membeli, tetapi sesuatu yang lebih bagus lagi. Dia terkekeh dalam diam. Gadisnya ada disini dan segera dia mendapatkannya. Itu membuat dia tersenyum geli.
Tiba-tiba sebuah getaran ponselnya menyadarkannya.
Aku tidak melihat Luhan, tapi ku yakin dia disana. Coba cari keliling toko. Dia datang bersama temannya.
Pria tua itu menggeram marah. Anak buahnya satu ini sangat menyebalkan. Bagaimana bisa dia tidak melihat Luhan di toko ini. Darahnya tiba-tiba mendidih, mukanya merah padam menahan amarah. Kemudian matanya menyalang kesegala arah, kakinya dengan tenang berkeliling toko dengan pelan. Tapi sayang tidak menemukannya. Coba dia periksa ke arah pojok toko itu, belum sampai disana teriakkan dari anak buahnya membuat dia berhenti. "Paman!" Dia menoleh kebelakang melihat anak buahnya tersenyum cerah dan si Bibi sibuk memasuki buah dan sayuran ke keranjang belanjaan. Seketika wajahnya berubah mengingat semua akan rencananya. Dengan tenang dan sesekali melirik ke belakang dia terus berjalan kedepan, tanpa menaruh sedikitpun di pojok toko itu. Tidak ada Luhan.
Dua orang itu sekarang sudah ada didepan kasir dan sang Bibi sedang memeriksa sambil menyebutkan harga tiap barangnya. Dua lelaki itu hanya diam. Yang satu benar-benar diam dengan wajah datarnya menahan geliat tak nyamannya dan yang satu sibuk mencari keadaan gadisnya. Sampai suara sang Bibi medesah kesal karena kehabisan kantong plastik ukuran besar. Bibi minta mereka menunggu sebentar dan Bibi pergi ke gudang mengambil kantung plastik.
Tinggallah mereka berdua. Lelaki tua itu bergerak kedalam toko dan berhenti disebuah pintu yang tadi Bibi masuk. Dia tidak bisa menahannya lagi dia harus menemukan gadisnya. Tapi kemudian matanya menuju ke arah tangga. Dia menaiki tangga itu.
Lelaki yang lebih muda hanya bersikap biasa dan mulai mengetikkan sesuatu. Boss keatas, sebenarnya dimana targetnya? Kau tahu disini suasana tidak nyaman.
Sementara di atas suatu rumah bertambah satu orang lagi disana, seorang pria dengan tubuh sedikit lebih tinggi dari pada sebelumnya. Mereka melihat dari atas semuanya. Mereka masih memakai teropong dan tiba-tiba suara getaran dari ponsel salah satu mereka berbunyi. Dia melihat ponselnya, "Boss ada diatas?"
"Uh? Untuk apa dia keatas?" Ucap yang satu masih sibuk dengan pemantauannya.
"Sebelumnya tadi kubilang ke Boss aku tidak melihat Luhan maka aku suruh dia mencari disekitar toko. Aku tak tahu kalau dia sampai keatas." Ucapnya acuh dan kembali keteropongnya. "Kau tidak melihatnya dari tadi?"
"Tidak, tokonya lumayan sepi, aku hanya melihat laki-laki di gudang," Ucap lelaki yang terus makanan permen kacangnya.
Ku harap dia tidak menemukan Luhan, ucap lirih pria disebelahnya dalam hati. Kemudian dia tersadar, ah.. apa yang kupikirkan. Dia menggeleng dan mulai fokus kembali.
"Hyung, hyung itu bos" ucapnya menunjuk kearah jendela. Segera lelaki yang disebelahnya memakai teropong melihat ke jendela. Benar, Bossnya sedang melihat kearahnya dengan tatapan tajam, lalu berbalik turun.
•
03:40 p.m.
Didalam gudang Bibi dan Sehun sedang mencari sebuah kardus kecil berisi satu pack kantung plastik. Bibi lupa menaruh dimana makanya sampai sekarang mereka terus mencari. "Apa paman tahu kardus plastik nya Bi?" Tanya Sehun yang dari tadi sebenarnya sudah geregetan melihat tingkah Bibi. Bukan mencari malah makin memberantakin. Benar juga apa perkataan anak muda ini, kenapa tidak dari tadi saja dia menanyakan suaminya?
"Benar, kau temui suamiku di rumah tetangga. Tidak jauh dari sini beberapa blok kearah kanan disitu ada pagar berwarna putih. Suamiku ada di sana panggil saja, tolong tanyakan ya Jaehun dimana kantung plastik nya." Pinta Bibi sangat memohon. Sehun hanya mengangguk dan pergi melalui pintu lain digudang itu. Tinggal sendiri Bibi disana.
Bibi mulai mencari lagi, dia melihat ke sekitar gudang. Kemudian medesah lelah. Tadi anak muda itu sudah mebereskanya tapi malah dia berantakin lagi hanya mencari kantung plastik. Kalau begini kerja anak muda tadi hanya sia-sia kalau begitu. Kemudian dia memutuskan membereskan nya lagi. Tetapi sesaat kemudian, suara pintu sedang berusaha dibuka terdengar. Tetapi Bibi menghiraukannya. Palingan suaminya.
"Ah yeobo.. kau tahu dimana kantung plastik ukuran besar? Aku tidak menemukannya disini" Bibi masih memunggungi pintu dan suara pintu tertutup mulai terdengar. "Ada pembeli membeli banyak barang, mereka butuh banyak kantung plastik besar. Tapi kau tahu dimana..." ucapan Bibi memelan saat melihat siapa yang ada dibelakangnya.
"Oh.. apa anda tidak sabar menunggu? Maaf menunggu lama akan kucarikan kantung plastik nya" Bibi terkejut melihat didepannya tadi adalah lelaki tua pembeli di tokonya. Dia tersenyum memaklumi, yah setidaknya itu yang ditangkap dimata Bibi di wajah lelaki tua itu. Kemudian Bibi melanjutkan kembali membereskan kekacauan yang sempat tertunda tadi.
"Tak perlu, seharusnya aku tanya begitu padamu" ujar lelaki tua yang masih memasang senyum ramahnya. Bibi berhenti melakukan kegiatannya. Tiba-tiba suara pintu terkunci menggema di dalam gudang. Suasan berubah menjadi tidak nyaman.
"Apa maksud anda? Kenapa pintunya dikunci?" Tanya Bibi entah sejak kapan suaranya terdengar gemetar. Ada apa ini?
Senyum lelaki tua itu memudar dan kemudia tertawa cekikikan, "Lihatlah wajah takutmu. Sangat indah hehehe" ucapnya sambil menahan geli. Bibi hanya bisa diam ditempat. Lelaki tua berjas ini berubah drastis dari yang ia lihat beberapa waktu lalu saat melayaninya.
"Aku ingin bertanya sesuatu, ku harap kau memberikan jawaban yang memuaskan. Karena aku tidak suka setengah-setengah" Bibi terkejut melihat apa yang ada didepannya, sebuah pisau kecil berkilauan didepan matanya. Sungguh pria ini sangat menyeramkan.
"A..apa maksudnya i-ini?" Hanya Bibi terputus-putus saat pisau itu menelusuri wajahnya. Dia melihat wajah pria tua itu, berubah drastis. Senyum ramah hilang malah hanya ada senyum aneh yang mengerikan. Pria itu terkekeh, "Tentu saja ini pisau, seperti yang kau jual di tokomu" ujarnya enteng.
Bibi sangat ketakutan, seringai itu sangat menusuk matanya. Aura membunuh begitu menguara disekitar dirinya. "A-apa... m-mau?" Bibi tidak mampu berkata lagi saat pisau itu menyentuh lehernya.
"Jawab pertanyaanku, aku tidak akan mengulangi dan menerima pertanyaan balik. Dimana gadisku?" Kata pria itu dengan penuh penekanan.
Gadis? Gadis mana? Dia tidak tahu gadis pria ini? Bagaimana bisa dia menjawab sedangkan dia tidak mengetahui maksud pria ini. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan. Dia ingin menangis sekarang. "Jawab. Atau ini akan masuk kedalam tubuhmu" Bibi diam menegang. Dia tidak tahu harus menjawab apa, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. "S-si..siapa?" Setengah keberanian mengucapkan kata itu pelan. Pria tua itu mendengus, "Luhan"
Bibi terdiam, tubuhnya menegang mendengar nama itu. Luhan? Kenapa harus Luhan? "Ck, kau terlalu lama," ucapnya dingin segera mendekati Bibi. Bibi yang panik langsung mundur ketakutan, "tenang akan ku buat ini cepat" segera dia bungkam mulut Bibi dan mengeluarkan pistolnya menembak begitu saja dada kanan Bibi, tanpa ada suara.
Seketika itu juga, darah mengalir deras di dada kananya. Matanya terbuka sangat lebar, seketika itu juga tubuhnya langsung tergeletak begitu saja. Pria itu menatap tubuh mayat Bibi dengan dingin. Kemudian dia berdecih, tidak berguna. Segera dia pergi ke gudang dengan pintu yang lain. Melangkah sangat tenang seolah tidak terjadi apa-apa membiarkan mayat itu tergeletak dengan darah yang mulai menggenangi lantai gudang.
•
"Boss sudah keluar. Hanya seperti itu?" Tanya pria masih dengan kacang di tangan nya. Mereka masih melihat di rooftop. Tumben sekali Boss nya tidak menyiksa korbannya dulu.
Yang satunya lagi menghela nafas. Perasaannya tidak menentu, antar resah dan... lega. Lega karena bukan Luhan yang terkapar di gudang itu. "Ya sudah ayo kita harus segera pergi, suruh Joshua pergi secepatnya. Jangan sampai meninggalkan jejak." Ucap pria itu langsung berbalik kebelakang.
"Vee hyung," panggil pria yang lebih pendek. "Kau itu kenapa sih?" Tanyanya spontan.
Pria itu -Vee hanya mengedikkan bahu dan melanjutkan jalannya. Yang lebih pendek hanya menyerit heran. Sejak kapan hyungnya jadi begitu resah setelah menyaksikan pembunuhan ini? Tidak seperti biasanya. Pria pendek tadi hanya diam dan kemudian menyusul hyungnya.
•
03:47 p.m.
Luhan telah selesai membereskan rak bagian bawah, terasa pegal dia berdiri sekedar merenggangkan otot-otot tubuhnya yang nyeri karena berjongkok terus. Disaat yang bersamaan masuk paman dan Sehun membawa keranjang susu. Segera Luhan menghampiri dan membantu paman membawa keranjang susu itu.
"Mana Bibi? Katanya dia kesulitan mencari kantung plastik?" Ucap paman tiba-tiba. Luhan berpikir. Tadi dia dengan ada orang masuk dan membeli dan tak lama kemudia Bibi menyuruh mereka menunggu untuk mengambil kantung plastik di gudang, "Di gudang tadi" ucap Luhan.
Sehun melihat sekitar, dimana pembelinya? Dia heran tidak ada tanda-tanda pembeli disini. Tampak masih sama saat dia datang. Baru ingin menanyai perihal tersebut, ucapannya terpotong begitu paman memnyuruhnya menaruh sebagian susu di lemari pendingin dan sisanya di lemari es berada diatas. Sehun lagi-lagi harus menurut dan mengambil satu keranjang susu, padahal dia sudah penasaran menanyakan kepada Luhan.
"Ah kau Luhan, tolong liat kegudang suruh Bibi keluar sepertinya pembelinya sudah pergi." Ucap paman dan diangguki oleh Luhan. Luhan berjalan kedalam dan sampai didepan pintu gudang. Luhan membukanya sedikit susah. Tidak bisa dibuka, dia menyerit heran. Dia mencoba lagi dan hanya terdengan suara benturan pengunci pintu dan gagang pintu. Luhan memutuskan untuk mencoba pintu satunya, terbuka. Dia langsung membuka dan masuk.
Dia terdiam melihat apa yang ada dibawahnya, apa ini yang berwarna merah? Kemudian dia mengikuti aliran merah pekat itu dan berujung kepada sebuah tubuh yang tak bernafas lagi. Luhan terdiam, dadanya terasa terhimpit, matanya terbuka sangat lebar dan rasa mual begitu terasa ditubuhnya. Tidak tahan lagi, dia menjerit sangat kencang. "BIBIIIIII!"
Suara sirine mobil ambulans terdengar begitu nyaring di tempat itu. Dan disana ada 2 mobil polisi yang berjaga. Garis kuning membentang keseluruh toko itu. Para warga yang dikejutkan dengan adanya suara-suara itu, berdatangan ke lokasi kejadian. Banyak yang penasaran dengan apa yang terjadi, banyak bisik-bisik terdengar. Bahkan disana tak sedikit ada reporter yang meliput kejadian berlangsung sangat cepat ini.
Keluar dua orang petugas ambulans membawa sebuah kantong jenazah berwarna kuning dan membawanya masuk kedalam ambulans untuk segera diotopsi. Tak jauh dari situ, Paman, Sehun dan Luhan berkumpul di dalam mobil polisi. Paman berada pojok dan Luhan berada di hadapannya bersama Sehun. Luhan masih syok dengan apa yang terjadi, dia terus menangis tidak berkata apa-apa. Sedangkan paman hanya diam dengan tatapan sedih dan kosongnya.
Sehun tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat menemukan mayat Bibi dia langsung menutup mata Luhan dan memeluknya erat. Paman tampak begitu kaget langsung menghampiri jenazah istrinya dengan keadaan dingin dan bolong bagian dada. Seketika itu juga Sehun menelpon bawahannya segera datang.
Polisi dan ambulans segera datang memeriksa dan mengamankan lokasi kejadian. Tak butuh waktu lama, semua berdatangan segera membereskan semua. Para saksi diamankan dan para petugas ambulans segera mengangkut mayat yang telah diperiksa polisi. Sehun tidak tahu ini akan terjadi. Bahkan dia tidak menduganya. Korban sekarang Bibi Luhan, Hyun Shin Ah. Dia melihat Luhan yang masih menangis tanpa suara, dia menelan ludahnya.
Seketika dia beranjak, "kau tunggu disini sebentar" ucapnya pada Luhan segera keluar melihat keadaan diluar. Luhan hanya terdiam, dan pintu tertutup. Sayup-sayup dia mendengar suara sirine ambulns yang memakan telinga dan banyak suara orang berbicara, tapi dia tidak peduli itu. Matanya mengalihkan pada paman yang ada dipojok. Dia pasti lebih sedih lagi, istrinya terbunuh begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kemudian dia tenggelam pada pikirannya kembali. Mengingat semua yang terjadi dan membuatnya terhanyut dalam kenangan lama.
Sementara itu, paman hanya diam. Ya dia diam. Hatinya begitu sakit melihat istri kesayangannya terbunuh, pikirannya kalut tentang dosa apa yang dia perbuat hingga istrinya bisa mengalami ini? Anaknya suda tidak ada, sekarang istrinya. Hatinya berdenyut merasakan ini semua. Dia ingin menangis dan menjerit tapi dia tidak bisa, kenyataan yang membungkamnya.
Siapapun pembunuhnya harus bertanggung jawab! Tanpa terkecuali. Dia mengepalkan tangan kuat. Pembunuh itu harus dia temukan. Matanya mulai memerah menahan tangis dan dendam, ekspresinya tidak bisa terbaca. Dalam hatinya dia bertekad akan membalas balik apa yang telah diperbuat kepada keluarganya. Dia harus membunuh balik pembunuh itu, dengan cara apapun.
TBC
Terlalu terbelit-belit yah? Wkwk
Chap ini panjang banget ya ampe 5.7k lebih :3 pasti pada pegel bacanya ya :3 maaf ya :3
Tapi yah mau gimana lagi, bagian ini harus diceritakan karena menyangkut chapter didepannya.
Maaf ya ga memuaskan, dan ga jelas ceritanya.
Chapter depan niatnya mau buat yang smut smut gitu tapi lagi puasa jadi ga bisa wkwk :v
Oh iya makasih juga yang udah sempet ripyu tapi maaf aku ga bales ya tuhan aku lagi sibuk persiapan lomba, pensi ama mbs disekolah aku T-T maaf banget ya,
Dan terimakasih yang udah sempet baca, ripyu, fav and follow. Tolong bantuannya ya biar ff ini makin berkembang :D
Saran dan kritik?
Love,
HunHan1204
