Pagi hari ini, sekitar pukul 08:30 tidak biasanya. Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Luhan masih belum pulih benar menyangkut kondisinya. Dia masih merasa syok dengan kejadian beberapa waktu lalu.
Polisi sudah membebaskannya. Dia sebagai saksi mengatakan apa yang dia tahu. Tapi itu sepertinya tidak membantu menuntaskan kasus ini. Polisi masih terus memeriksa ulang tempat kejadian perkara, masih menggabungkan, membuat kesimpulan alibi dari masing-masing saksi. Dan sampai sekarang belum ada penjelasan secara rinci atau hanya hipotesis berasal dari kepolisian.
Luhan masih termangu diam di tempatnya. Diatas kasur berukuran sedang dan keadaan berantakan habis menangis. Dirinya masih mengalami tekanan yang begitu susah di artikan. Dia jadi teringat akan Sohee anak dari Bibi. Ini berbeda, tetapi masih dasar yang sama.
Dia kembali berbaring dan menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut, menghela nafas panjang.
Tiba-tiba suara getaran ponselnya berbunyi. Luhan melirik kesamping, ke arah nakas. Dia mendesah kesal, dirinya tidak mau diganggu. Dengan perasaan enggan dia mengambil ponselnya, dengan meraba alas meja nakas. Dia berhasil mendapatkannya tapi tangannya menyenggol sesuatu hingga menimbulkan suara nyaring begitu saja.
Luhan sontak melihat kebawah. Tas coklat kecilnya jatuh sedikit terbuka memperlihatkan buku kecil dan... sebuah CD. Dia tidak ingat kalau dia menyimpan CD di dalam tas itu. Luhan mengabaikan getaran ponsel tanda ada telpon masuk dan menjulurkan tangannya meraih tas coklat kecilnya itu.
Dia membuka tas kecilnya dan mengambil CD itu. Benda itu mengkilap di bungkus dengan plastik polos bening. Tidak ada tanda pemilik ataupun judul, isi dalam CD itu. Ponselnya terus bergetar, sudah 3 kali panggilan tak terjawab tetapi belum Luhan angkat juga. Fokusnya hanya di sebuah CD itu.
Dengan rasa penasaran yang besar, dia membuka CD itu dan beranjak dari tempat tidurnya, memasukkannya kedalam DVD Player di kamarnya.
Luhan sedikit menjauh menunggu tampilan layar biru berubah menjadi hitam. Dia menyerit, kenapa hanya warna hitam yang ditampilkan. Layar berubah menjadi layar semut, cukup bising Luhan makin menyatukan alisnya -aneh.
Ting Tong
Bel dirumahnya berbunyi, dia melihat ke arah pintu kamarnya dan menengok ke layar TV nya, masih belum ada perbuhan hanya suara bising orang mengoceh dengan bahasa asing.
Ting Tong
Bel berbunyi lagi. Luhan akhirnya berdiri dan sedikit merapihkan penampilannya, menghapus jejak air mata dan menata rambutnya. Kemudian dia berjalan membuka pintu kamar. "Iya tunggu sebentar!" Serunya meninggalkan kamar, dan menutup pintu kamar.
Layar semut itu terus bergoyang, suara bahasa asing makin terdengar. Tak lama kemudian berganti pada sebuah tampilan layar CCTV disebuah gudang bekas pompa air. Terlihat dua orang perempuan dan laki-laki masing-masing ditodongkan senjata. Muka sang pelaku terlihat jelas dan tak lama kemudian suara jeritan perempuan yang beradu dengan suara lepasnya pelatuk pistol menggelegar seluruh ruang. Lagi, suara tembakan berulang kali dilepas. Sang pelaku puas apa yang telah dia perbuat membuatnya tidak bisa menahan rasa kepuasannya.
Dia tertawa begitu keras dan meninggalkan tempat itu begitu saja. Kemudian layar berubah menjadi layar semut kembali.
-xox-
Chapter 4
WARNING!
This is Genderswitch Fanfiction
RATE: M, NC-17
Typos everywhere
CAST: Luhan as girl, Sehun as boy
OTHER CAST: Chanbaek, Kaisoo, Vernoon, Yoona, others
GENRE: Romance — Hurt — School life — Crime
Disclaimer: cast bukan punya saya hanya pinjam nama, tapi alur cerita murni dari pikiran saya.
-xox-
•
•
•
•
•
-xox-
Secret Admirer
-xox-
Sudah seminggu lebih sejak kejadian waktu itu. Juga sudah seminggu lebih Paman hilang entah kemana. Luhan melihat toko kecil yang ada didepannya. Masih ada garis polisi didepannya. Keadaan jendela, pintu, juga toko sudah ditutup rapat. Biasanya dia kalau lewat toko kecil ini akan disapa oleh Bibi dari atas jendela yang menyirami tanaman kecil kesayangan dan Paman tersenyum jenaka yang membuatnya makin ceria. Atau Sohee yang meneriakinya untuk menunggu sebentar lagi jika ingin berangkat bersama.
Tapi rumah itu sepi sekarang. Malah terkesan dingin, tidak ada suasana hangat lagi. Luhan menundukkan kepalanya dan mulai melangkah lagi.
Sepanjang perjalan dia hanya diam melihat kebawah yang sama sekali tidak menarik. Tarikan nafas begitu kentara dirasakan. Luhan malas kesekolah, dia masih ingin dirumah. Terlalu enggan melakukan sesuatu, hanya ingin meringkuk meratapi nasibnya. Tetapi, itu tak bertahan lama sebab ibunya -yixing tiba-tiba datang kerumah memeriksa keadaannya.
Nyonya Kim begitu terkejut mendapati anak kesayangannya dalam keadaan tidak terurus. Dan semenjak itu Nyonya Kim tinggal meninggalkan sang suami yang biasa dia dampingi dalam perjalanan bisnisnya. Mulai merawat Luhan, menemaninya, menasehati, memberi semangat pada Luhan. Luhan sedikit demi sedikit mulai melakukan aktifitas seperti biasa (tidak termengu di kasur lagi) setiap harinya.
Dan hari ini setelah bujukkan dari ibunya dia berangkat sekolah. Dengan setengah hati, tidak seperti biasa. Bahkan dia tidak terburu-buru lagi atau dibangunkan dengan weker bebek kuning sialan seperti hari-hari sebelumnya. Malah dia dibangunkan suara lembut ibunya mulai sekarang.
Luhan setengah hati berjalan ke halte untuk menunggu bis mengantarkannya kesekolah. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sepatu hitam didepannya. Luhan mendongak melihat siapa yang menghalanginya.
"Mau berangkat bersama?" Luhan mengangkat alisnya sebelah.
••
Kali ini dia berbeda, sungguh!
Aku tidak tahu dengan dirinya. Dia selalu datang tiba-tiba, terlebih dia datang saat rasanya aku membutuhkan seseorang. Aku melihat dirinya didepan diriku. Saat berjalan tadi aku menemuinya -lebih tepatnya dia datang padaku. Masih sama seperti penampilan biasanya, rambut hitam legam dengan kacamata yang bersandar di hidung mancung nya jangan lupa dengan baju yang rapih ala anak jenius namun tetap keren seperti model papan atas.
"Mau berangkat bersama?" Tanya dia, Jaehun. Aku mengangkat sebelah alisku. Ada apa ini?
"Kita searah bukan?" Tawar dia lagi. aku mengangguk sebagai jawaban. Jeahun sepertinya tersenyum puas.
Kami berjalan bersama, dan aku tidak terbiasa untuk ini. Jaehun terus tersenyum tipis seperti biasa. Aku hanya menunduk enggan untuk membuka percakapan. Tapi aku nyaman dengan semua ini.
Cukup lama kami diam hingga keluar dari perkomplekan menuju halte dia berbicara, "Bagaimana kabarmu?" Pertanyaan klise.
"Yah... seperti biasa baik" jawabku seperti orang berbisik. Jaehun mendehem pelan.
"Tugas dari guru Nam sudah kukerjakan tapi karena dia tahu aku yang mengerjakan tugas itu hanya aku jadi—"
"Kenapa kau tidak bilang?"
"Hah?"
"Kau mengerjakannya sendirian, kenapa tidak bilang aku kalau kau mau mengerjakan tugas itu. Itu kan kerja kelompok, pasti disuruh buat tugas lagi, iya kan?"
"Emm... ya seperti itulah. Tapi tak apa dia beri ke ringanan untuk kita jadi tugasnya tidak susah amat-amat" sergahnya.
Aku hanya menghembuskan nafas dan kembali berjalan. Tak lama kemudian kami sampai. Penumpang hari ini lebih ramai, terlihat halte sudah penuh tidak menyisakan ruang untuk berteduh di bawah atap halte. "Kita kerjakan tugasnya di rumah ku, bagaimana?" Tanyaku sedikit ada nada pemaksaan. Menunda-nunda tugas bukan gayaku.
"Baiklah, nanti pulang sekolah?" Dia masih bisa sabar walau berulang kali aku menjawab dengan enggan. Aku tersenyum lemah sebagai jawaban.
•••
Sehun dan Luhan masih menunggu di halte, tepatnya di pinggir halte menunggu bis yang belum datang juga. Mereka kembali dengan pikiran masing-masing. Setelah pembicaraan yang belum ada dua menit lalu terputus mereka kembali seperti tidak kenal satu sama lain. Luhan sedang memikirkan ngelantur kemana entah dan Sehun sedari melirik memikirkan keadaan Luhan yag makin kacau tiap harinya.
Mata tajam dibalik kaca matanya menangkap pergerakan aneh tak jauh dari samping Luhan. Ekspresinya sulit dibaca, karena dia memakai kacamata dan topi hitam menutupi separuh wajahnya. Sehun makin mempertajam pengelihatannya, seketika matanya bertubrukkan dengan kacamata si topi hitam. Karena merasa terintimidasi si topi hitam memalingkan kepalanya. Berhenti menatap gadis di samping Sehun.
Bis datang kemudian suara desisan rem dan mesin samar terdengar. Para calon penumpang mulai naik secara teratur dan sebagian dari penumpang bis sebelumnya turun dari bis. Sehun langsung menjaga jarak agar tetap dekat dengan Luhan, dia mengambil posisi dibelakang Luhan. Berjaga-jaga.
Luhan yang tidak peka malah tidak peduli dengan santai berjalan mendekati bis dan mulai berdiri di pertengahan dengan memegang alat pegangan yang tersedia di atas bis. Sempat berdesakan kini mereka terpisah beberapa jarak, Sehun mendesah kecewa.
Tubuhnya yang tinggi, masih bisa melihat keseliling bis walau dia terpisah dengan Luhan yang mungil. Bis mulai berjalan, semua penumpang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dalam diam. Sehun masih sibuk dengan memerhatikan Luhan dari jarak aga jauh ini. Dirinya sedikit mencemasi keadaan Luhan yang cuek disekitar.
Luhan berdiri di bis dengan tenang, dia tidak merasa apapun atau yang lain. Tiba-tiba ada yang menubruk bahunya, "maaf.." ucapnya berbisik tapi masih ke dengar sekitar. Penumpang lain menatapnya tidak suka dan kembali seperti semula lagi. Luhan hanya diam, dan sekarang orang yang menubruk tadi berada didepannya.
Tampang memang tidak terlihat, hanya terlihat bagian sekitar mulut. Dia seperti menatap Luhan dalam. Luhan merasakannya itu tapi dia tidak pedulikan. Lagi, waktu berselang beberapa dia masih merasa tidak nyaman dengan seseorang yang berada didepannya.
Luhan bergerak gelisah. Sebisa mungkin untuk tidak menatap pria yang ada didepannya. Selintas di pikirannya mengharapkan Jaehun —Sehun datang segera. Tanpa disadari pria itu sudah sangat dekat bahkan ujung sepatu mereka sudah menempel.
Luhan meneguk ludahnya bulat-bulat, pria ini sungguh mencurigakan. Tiba-tiba dia merasa sengatan luar biasa saat pria itu mengelus pahanya dengan pelan. Luhan melotot menatap pria didepannya dengan bengis. Segera dia tepis tapi malah tangannya dikunci.
Penumpang lain tidak menyadari sama sekali kejadian itu. Saat Luhan ingin berteriak malah dia menutup mulut Luhan dengan tangannya. "Diam saja" bisiknya didepan wajah Luhan kemudian menodongkan sebuah pisau kecil didepan wajahnya dari balik kaos lengan panjangnya.
Luhan ketakutan berharap ada yang menolongnya, sempat berpikir dimana Jaehun. Dia membutuhkan laki-laki itu sekarang. Pria didepannya makin gencar melakukan aksinya, bahkan tangannya mulai merambat ke paha dalam.
Luhan ingin menangis, dia dilecehkan. Tanpa seorang yang sadar bahwa kini dirinya sedang terancam. Pria melakukan aksinya dengan tenang dan halus itu yang membuat Luhan merinding. Luhan terus berdoa agar seseorang menolongnya. Jaehun...
BUGH!
"Brengsek! Apa yang kau lakukan pada kekasihku hah?!" Bentak Sehun mengejutkan pria tadi, Luhan dan semua penumpang yang ada di bis itu.
Luhan menatap Sehun. Sehun menyadarinya segera menarik tubuh Luhan yang sudah dingin ketakutan, di peluknya Luhan dengan lembut. "Kau melakukan pelecehan tuan, ku laporkan kau ke polisi!" Pria tadi tertawa keras.
"Kau? Melaporkanku? Laporkan saja, memangnya kau punya bukti?" Sehun diam. "Lagi pula salahkan kekasihmu yang memakai rok terlalu pendek," Sehun mengeraskan rahangnya. Benar-benar orang ini!
Luhan meremas pergelangan Sehun, menatap matanya yang memerah menahan tangis. Dalam diam seolah tahu apa yang dikatakan Luhan, tak apa.. berhenti perkelahian nya. Sehun menggeleng.
"Aku memang tidak punya bukti, tuan. Tapi ku peringatkan, aku tahu wajahmu, aku tahu yang kau lakukan dan ku jebloskan kau ke penjara dengan sikap kurang ajar mu itu!" Ucap Sehun segera menggandeng pergi Luhan turun dari bis. Menghiraukan segala bisikan yang tertuju pada mereka.
Luhan masih setia memegang erat tangan Sehun. Tubuhnya masih bergetar ketakutan, mulutnya dari tadi mengeluarkan isakan. Sehun yang geram dengan pria tadi menarik Luhan menjauh dari keramaian, sampailah mereka disebuah gang sempit yang gelap. Jauh didalam mereka berdiri berhadapan.
Sehun nafasnya terasa berat saat isakan kecil itu berubah menjadi tangisan lemah. "Tak apa aku disini" ucapnya mengelus kepala Luhan.
"Hiks.. hiks.. jae..jaehun-ahh" Sehun makin mendekatkan dirinya dengan Luhan. Entah dorongan dari mana dia memeluk Luhan dengan erat. Dirinya benar-benar kesal dengan kejadian tadi, dengan bodohnya dia lalai menjaga Luhan hingga lengah sedikit dia sudah menemukan Luhan sedang dilecehkan.
"Maafkan aku.. sungguh maafkan aku" bisiknya berusaha menenangkan Luhan dipelukkannya. Ini pertama kalinya dia semarah ini jika menyangkut perempuan. Luhan bukan siapa-siapa dia, tapi dia tidak suka ketika Luhan berdekatan dengan siswa lain apa lagi disentuh sembarang seperti tadi. Rasanya ia ingin sekali menghajar pria tadi sampai babak belur mematahkan tangannya sampai tidak bisa digunakan lagi.
Bahu Luhan mulai tenang, tidak bergetar lagi seperti sebelumnya. Tangisannya juga mulai mengecil. Dia longgarkan pelukkannya agar bisa melihat wajah Luhan. Mukanya penuh bekas air mata, matanya memerah begitu juga mukanya mulai merah padam. Sehun mengambil saputangannya, mulai menghilangkan keringat didahi Luhan, hingga jejak sungai kecil dipipi dan tumpukkan air mata di mata Luhan. Secara perlahan itu membuat Luhan tenang.
Sehun menatap mata Luhan. Masih ada kilatan ketakutan diantara ketenangan dirinya. Seketika keadaan menjadi aga canggung dan gugup.
Luhan terlalu menunduk menyulitkan Sehun melihat keadaan Luhan. Luhan meremas roknya ketika Sehun mengangkat dagunya dengan jari-jarinya, memaksa menatap laki-laki yang ada didepannya.
Luhan gugup setengah mati saat didepannya terlihat sorotan tajam milik temannya. Debaran jantunganya makin menggila saat Sehun mulai mendekatinya, menghilangan dinding pembatas diantara keduanya. Luhan tidak bisa lepas dari mata Sehun yang sangat menghipnotisnya, dia merasa memejamkan matanya menahan kegugupan dan perasaan yang membucah dari dalam dirinya.
Terasa sapuan lembut dari bibir hangat Sehun di keningnya. Membuat perasaan nyaman dan kasih sayang, membuat Luhan tidak mengerti dengan lelaki didepannya —begitu juga dengan perasaannya. Keduanya terhanyut dalam keheningan yang mereka buat, Sehun mengakhiri. Memandang sendu wajah Luhan yang merona, dia tersenyum lembut.
"Maafkan aku" dia menggenggam tangan Luhan begitu erat. Luhan membalasnya dengan anggukkan. Sebenarnya bukan salah temannya ini, tapi dia terus menerus mengucapkan maaf yang membuat Luhan tidak enak hati. Keadaan mulai hening kembali.
"Kajja, kita kesekolah" ajaknya, menarik lembut tangan Luhan keluar dari gang kecil menuju kesekolah dalam diam.
•••
Terkadang Sehun sendiri tidak mengerti apa yang ia rasakan dan lakukan.
Ini sangat berdampak serius ketika dia bersama Luhan. Sejak kejadian tadi pagi dirinya tidak bisa berhenti berpikir. Ada apa yang di pikirannya membuat gelisa tak karuan.
Saat itu dia tidak tahu apa yang rasakan. Hanya perasaan marah begitu meluap melihat paha Luhan disentuh oleh lelaki busuk tadi. Refleks dia langsung menghajar lelaki itu dan saat disekolah -lebih tepatnya di toilet langsung dia hubungi bawahannya menangkap lelaki busuk itu. Masalah di gang itu, dia tidak tahu mendapat dorongan dari mana.
Melihat Luhan sangat ketakutan, membuat dirinya tak tega hingga ia memutuskan untuk menghimburnya. Yah, menghibur dengan cara memeluk dan mencium kening termasuk menghibur. Malah dia sempat terpikir untuk mencium bibir merah Luhan. Sehun mengusak rambutnya frustasi, kelakuannya tak lebih seperti lelaki busuk tadi. Dia seperti maniak sekarang, memikirkan bibir Luhan terus menerus. Bibirnya saja sudah indah apa lagi tubuhnya.
Sehun menampar dirinya, bodoh! Masih sempatnya berpikir jorok seperti itu. Heol~ hormon kelakiannnya memang membahayakan. Padahal dia bukan remaja SMA lagi yang masih belum bisa mengatur hormonnya. Segera dia mengalihkan pikirannya ke mana saja asal bukan kejadian tadi dan Luhan, dia tidak mau ereksi pagi-pagi dan berakhir di kamar mandi pojok paling atas gedung sekolah.
Kalau sampai itu terjadi dia seperti tidak ada bedanya dengan lelaki busuk tadi. Ewh...
KRING... KRING.. KRING...
Bel berbunyi, tanda pulang sekolah sudah waktunya. Guru Han -guru bahasa Korea sudah pamit undur diri dari kelas. Sehun menghela nafas lega. Matanya sempat mengantuk mendengar celotehan guru tadi lebih mirip seperti seorang ibu membacakan dongeng sebelum tidur. Dia melepas kaca matanya, mengucek pelan sebelah matanya yang lelah.
"Jadikan ke rumah ku?" Tanya Luhan yang sudah bersiap.
Sehun menghentikan aktifitasnya, dan menoleh. "Ah. Ne.. tapi aku akan terlambat sedikit. Tak apa kan?" Sebuah senyuman manis yang berhasil membuat rona dipipi Luhan.
Luhan menggeleng pelan, "a-ah ne.. kalau begitu aku duluan ya" Sehun membalasnya dengan senyuman, memerhatikan Luhan hingga keluar kelas. Mata tajamnya kembali di lapisi kacamata persegi nya kembali. Memandang keseluruh kelas, berakhir di samping lewat beberapa meja darinya pada seorang siswa blesteran menatapnya tajam. Sehun tak kalah menatapnya tajam dalam diam. Kemudian siswa itu beranjak dengan sedikit aga kasar keluar kelas. Sehun mengedikkan bahunya, tapi sesaat kemudian dia melihat ke pintu keluar kelas lagi
Aneh.
•••
Hari yang sibuk terlihat dari kantor pusat kepolisian Seoul. Hari ini makin sibuk dengan banyaknya kasus-kasus baru yang menyeruak dia sekitar kota. Membuat makin stress keadaan yang berada disana tapi tidak dengan namja tan ini. Dengan santainya dia menyeruput kopi gula kesukaannya dan menyenderkan punggungnya di kursi empuk sambil membaca sebuah kasus baru akhir- akhir ini.
BRAKK!
BYURR!
"Akh.. ya tuhan! Sehun! Bisakah tenang sedikit?!" Pekik namja tan itu dengan jengkel membersihkan muncratan kopi akibat terkejut dengan ulah sahabatnya.
Sehun nampak acuh tak acuh memasuki ruang itu dengan santai. Dia mendekati sahabatnya itu dengan membawa sebuah map dan dia masih memakai seragam sekolah. "Kau yang menyelidiki kasus Bibi?"
Kai atau bernama asli Kim Jong in mengerutkan dahinya. Sehun lupa Kai tidak mengenal Bibi, "Hyun Shin Ah, pembunuhan itu"
Kai langsung mengerti, menjentikkan jarinya. "Ya, memang kenapa?"
"Ada perkembangan?"
"Sejauh ini sih belum, masih banyak yang kurang. Memang kenapa?" Ucap Kai kembali menyeruput kopinya.
Sehun menghela nafas, dia duduk sejenak. "Menurutmu, apa yang harus kuberikan jika.. em.. kita berbuat salah?" Ujar Sehun tiba-tiba.
Kai berhenti sejenak, "maksudmu? Kau ada masalah?"
"Tidak juga, kau tahulah..." Sehun mengusap belakang lehernya.
"maksudmu tentang gadis itu? Ya tuhan Sehun! Sudah ku bilang kau itu hanya perlu mengambilnya. Sedikit pendekatan, habis itu kau bermain kerumahnya, cari CD nya selesai bukan? Yah.. mungkin kau juga bisa bermain dengan gadis itu" ucap Kai terkekeh
Sehun menatap sahabatnya dengan datar, pikiran sahabatnya itu tidak jauh-jauh dari berbau mesum. "Serius Kai, itu tidak mudah kau tahu. Lagi pula sangat tidak sopan kalau bertamu hanya ada seorang anak gadis"
"Masalah sopan apa masalah tidak bisa mengontrol diri?" Ledek Kai.
Uhuk! Sehun tersedak sendiri mendengarnya, menatap sengit Kai yang tertawa puas. "Aishh! Serius Kai!" Sehun mulai jengkel.
"Ara ara," Kai meredakan tawanya, "Baiklah, kau bisa memeberinya bunga dan mengucapkan maaf memberitahu segalanya. Tapi kalau tidak berani kau cukup pakai kertas saja." Kai meletakkan kopinya dan berkasnya. "Dan untuk pendekatan, pertama kau harus bersikap baik, yang paling penting datanglah saat dia membutuhkan seseorang."
•••
Kini tiga sekawan —Luhan, Baekhyun dan Kyungsoo sedang berkutat di meja belajar bundar yang berada di lantai. Mata dan pikiran mereka terus fokus mengamati soal di sebuah kertas. Luhan yang berada ditengah dan kedua temannya disamping kanan-kiri mengamati satu soal yang belum selesai juga.
Yah, mata mereka memang ke soal tetapi pikiran mereka sekalipun memikirkan jawaban cara yang benar tetapi sesungguhnya pikiran mereka tidak berada ditempat. Mulai jengah Luhan melemper kertas itu dengan kesal.
"Aku tak mengerti apapun," katanya langsung mendesah membenturkan kepalanya di meja. Kedua temannya juga ikut-ikutan.
"Hahh.. bagaimana ini? Dikumpulkan besok lagi" keluh Baekhyun sambil membenturkan penghapus ke meja berulang kali.
"Pikiranku tidak bisa bekerja hah!" Pekik Kyungsoo langsung merebahkan dirinya di karpet beludru Luhan.
Mereka menghela nafas. Memang mereka bertiga sangat stuck soal Fisika. Sejak pulang sekolah tadi mereka bertiga langsung kerumah Luhan sekalian menjenguk dan menghibur Luhan yang sedang di landa gundah.
"Lu... kudengar Jaehun akan kesini?" Tanya Kyungsoo.
"Yah, kita akan mengerjakan tugas dari guru Nam. Kami diberi tugas tambahan" jawab Luhan.
"Aigoo, si tampan mau kesini" ucap Baekhyun sumringah.
"Kau suka Jaehun?" Tanya Luhan.
"Uh, siapa yang tidak suka dengan murid satu itu, dia benar-benar tampan" ucap Kyungsoo sambil mengangkat tangannya seolah-olah menerawang.
"Ya Lu! Kau sangat beruntung bisa duduk sebangku dengannya" imbuh Baekhyun menurut Luhan melebih-lebihkan.
"Ingat Chanyeol, Baek" kekeh Luhan. Baekhyun langsung merengut dan mereka tertawa tertawa melihat reaksi Baekhyun.
Tok Tok Tok
Pintu terbuka, memperlihatkan Nyonya Kim memasuki kamar Luhan dengan sebuah nampan berisi gelas sirup. "Wah, lagi ngobrol apa? Seru betul, masalah pria hm?' Goda Yixing.
"Hm.. begitulah bi," kekeh Baekhyun. "Orang tampan yang Luhan suka" sambung Baekhyun dengan nada bisik dibuat-buat.
"Ekhm.." dehem Kyungsoo malah ikut-ikutan. Luhan memutar bola matanya jengah.
"Aigoo, siapa dia?" Nyonya Kim sepertinya tidak mau ketinggalan.
"Ada dua loh bi!" Seru Kyungsoo tiba-tiba membuat Luhan mendelik tajam tapi dihiraukan Kyungsoo.
"Iya bi! Yang satu berkacamata wajahnya seperti tokoh komik dan yang satu blesteran dengan mata warna biru" tambah Baekhyun. Heol, sejak kapan dia menyukai dua namja sekaligus? Yah mungkin.
"Tidak eomma. Mereka berbohong" telak Luhan ditambah ekspresi datarnya tapi sedikit semu rona merah di pipinya.
Nyonya Kim hanya terkekh melihat kelakuan putri dan teman-temannya itu. Dia tahu Luhan sedang menyembunyikan sesuatu. "Iya iya. Baiklah kalau tidak mau kasih tahu," Nyonya Kim mengambil nampaknya, "well, yang berkacamata wajahnya seperti tokoh komik itu barusan datang. Eomma lupa memberi tahu kalian. Apa suruh dia kesini?"
Luhan segera menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudia Sehun sudah masuk ke kamar Luhan. Sehun cukup terkejut dengan kehadiran teman-teman Luhan. Dikira dia hanya berdua dengan Luhan. Kalau begitu dia tidak bisa melancarkan aksinya.
Mereka mulai sibuk dengan kerjaan semula. Tiga perempuan yang masih betah dengan soal fisika walaupun mereka tahu otak mereka sangat kolot di pelajaran itu dan Sehun dengan tenang mengerjakan essai yang diberikan oleh guru-guru sebelumnya dengan tenang.
Dan ketenangan nya terganggu dimulai saat tiga perempuan itu mulai merengek meminta bantuan pada otaknya. Dan sekarang entah sudah berapa lama dan sudah berapa kali Sehun menghembuskan nafas lelah. Mengajarkan otak mereka yang benar-benar sangat lemah di fisika sangat menguras tenaga.
"Kau hanya perlu memindahkan ruasnya dan menjadi negatif. Setelah itu baru kau jumlahkan sesuai dengan ruas masing-masing, baru nanti kau bagi dan setelah itu kau kuadratkan baru ketemu hasilnya. Sehabis itu baru kau gabungkan dengan perhitungan sebelumnya lakukan menggunakan rumus ini agar mudah. Ikuti saja cara yang ada di catatan itu lebih mudah dengan begitu kau sudah menemukan jawabannya sebenarnya. Kalian mengerti?"
Baekhyun, Luhan, Kyungsoo yang ada di depan nya menatap Sehun dengan pandangan yang sudah diduga. Dua detik kemudian, sesuai dengan perkiraan mereka menggeleng kompak tanda tidak mengerti. Membuat Sehun frustasi setengah mati. Ini sudah 5 kali Sehun membaritahu caranya dan mereka tetap tidak mengerti. Sehun jadi gerah sendiri.
"Baiklah biarkan aku mengerjakan soal ini dan kalian kerjakan essai sejarahku, nanti kalau fisika ini sudah selesai aku berikan kepada kalian bagaimana?" Akhirnya Sehun memilih bernegosiasi. Walaupun itu bukan disebut negosiasi lebih tepatnya tawaran tidak menguntungkan. Jelas-jelas Sehun sudah selesai semua essainya, tinggal mengerjakan makalah tugas guru Nam saja. Malah sekarang dia mengerjakan tugas fisika lagi yang dikerjakannya kemarin. Bekerja dua kali itu sangat menjengkelkan.
Mata ketiga perempuan itu langsung berbinar, mereka langsung mengangguk senang segera mengerjakan essai sejarah yang merupakan keahlian mereka. Baekhyun dan Kyungsoo sibuk dengan essai sejarah dan Luhan sudah berpindah kini disamping Sehun mengetik makalah kelompok mereka dan beberapa diskusi tentang tugas tambahan lain.
"Bagimana dengan pertanyaan ini? Ini belum terjawab" ujar Luhan menyerahkan buku Sehun yang penuh dengan catatan dan soal. Sehun melihatnya, "oh.. yah aku lupa. Kemarikan bukunya," Sehun menulis jawabannya dan menerangkan sedikit tentang penjelasan jawaban itu. Jarak mereka cuku dekat bahkan hanya tersisa satu jengkal jarak masing-masing dari mereka.
"Baiklah aku mengerti," matanya kembali fokus ke laptop dan mengambil buku Sehun yang alangkah terkejutnya bukanya buku yang dia pegang malah tangan Sehun yang terasa. Membuat masing-masing menoleh menyadari sengatan tiba-tiba itu terlalu mengejutkan saat kulit yang halus bertemu dengan yang sedikit kasar. Membuat muka Luhan memerah seketika dan sama halnya dengan Sehun. Segera mereka menyingkirkan tangan mereka melihat, memfokuskan kearah lain.
Padahal hanya bersentuhan tangan tapi kenapa efeknya sampai seperti ini?!
Debaran di dada mereka tidak bisa berhenti, membuat tingkah mereka makin aneh. Keduanya berusaha menutupi rona merah yang ada diwajah mereka. Luhan yang menceritakan dahinya —tanda ia serius dengan menggigit bibir dalamnya menahan gugup dan Sehun menunduk bersikap sesantai mungkin mengerjakan soal fisika yang bahkan tanpa sadar dia sudah kerjakan sebelumnya.
Gelegat keduanya terendus oleh dua orang di depan nya. Mereka memerhatikan satu sama lain dengan pandangan bertanya. Aneh saja, tadi mereka sibuk berdiskusi, sedikit berdebat malah sekarang menjadi adem-senyap begini. "Kalian habis ngapain?" Tanya Kyungsoo tiba-tiba dan itu mengejutkan dua orang di depan nya, Luhan dan Sehun.
Sontak keduanya menengok kearah Kyungsoo. Luhan dengan muka merahnya tidak bisa menahan lagi dan Sehun dengan santainya menengok kearah Kyungsoo mengangkat alisnya, tetapi sungguh debaran di jantungnya sangat menggila. "Perasaan tadi kalian sangat sibuk kenapa jadi sibuk sendiri. Kalian melakukan sesuatu?" Tambah Baekhyun membuat mereka salah tingkah. Seperti ketahuan melakukan tindakan sesuatu.
Tok Tok Tok
"Luhan... ada kiriman untukmu" Nyonya Kim masuk memecah suasana tegang tadi setidaknya menurut Luhan dan Sehun. Mereka sedikit lega bisa terhindar dari pertanyaan Baekhyun dan Kyungsoo. Nyonya Kim membawa dua buah bucket bunga yang berbeda. Membuat heran seluruh yanga ada di ruangan itu apalagi Luhan.
"Ada kiriman bunga, eomma temukan didepan tadi. Sepertinya untukmu" Nyonya Kim memberikan kedua bucket sederhana bunga itu. "Kau punya penggemar rahasia ternyata!" Ujar Nyonya Kim semangat.
"Wah, kau punya penggemar Lu!" Ujar Kyungsoo
"Ada tanda pengirimnya tidak? Apa dia penggemar rahasia mu Lu?" Ujar Baekhyun. Luhan mengangkat alisnya, dia tidak yakin soal dia punya penggemar rahasia. Luhan memperhatikan kedua bucket itu dengan seksama.
Bucket pertama, berisi bunga tulip dengan warna merah berisi sekitar 20 tangkai dengan kertas coklat sebagai pembungkus nya, tidak ada apa-apa, tidak ada surat ataupun tanda pengirim.
Yang kedua, bunga ini Luhan tidak tahu apa namanya hanya 3 tangkai bunga yang ia kenal di bucket itu, bunga mawar dan yang lebih mendominasi di bucket itu dia tidak tahu apa namanya. Warnanya putih dan bentuknya seperti bintang dengan garis merah di masing 6 kelopaknya di tengahnya tumbuh putik putih. Ada 15 tangkai —Luhan menghitungnya— dan ada sebuah kertas disalipkan disana. Luhan membuka kertas berwarna biru langit itu. Dan menyerit heran.
Maaf untuk segalanya.
Hanya kata itu. Dia menaruh kedua bunga itu, lebih memilih kearah kertas itu. Tidak ada tulisan lain selain itu. Begitu juga tidak ada tanda pengirimnya. Luhan teringat sesuatu,
"Baek, bunga yang satu itu bunga apa?"
"Tidak salah lagi, bunga tulip ini sepertinya benar-benar dari penggemar rahasiamu. Bunga tulip melambangkan rasa cinta yang begitu besar. Dan untuk yang ini... seseorang sedang meminta maaf padamu secara tulus Lu, ini bunga Asphodel melambangkan permohonan maaf, rasa menyesal yang amat dalam dan untuk mawarnya, dia mengatakan kalau dia menyukaimu" jelas Baekhyun melihat bucket bunga Asphodel di tangannya dengan tataan begitu rapih dan indah.
"Kira-kira siapa yang mengirim ini ya?" Ujar Kyungsoo entah pada siapa. Luhan hanya melihat bunga-bunga itu dengan perasaan bimbang.
Dipikiran Luhan sempat terpikir ada yang menyukainya malah, tetapi dia segera menepis itu. Memikirkan alasan lebih logis lagi, kenapa bisa ada yang meninggalkan bucket bunga didepan rumahnya secara tiba-tiba.
"Mungkin itu cuman kebetulan, atau bisa saja salah kirim" ujar Luhan enteng dan kembali fokus ke laptop. Nyonya Kim mendelik tak suka dengan sikap Luhan acuh tak acuh-nya. "Yasudah eomma simpa ini. Siapa tahu nanti kau mau melihat ini lagi" ujar Nyonya Kim melangkah keluar membawa kedua bucket bunga itu dan ditanggapi diam oleh Luhan.
"Mana ada yang begitu bodoh!" Baekhyun melemparinya dengan pensil kearah Luhan yang akhirnya meleset.
"Sudah kerjakan tugas masing-masing!" Pekik Luhan dan kembali seperti semula seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sedangakan, orang yang disebelah Luhan hanya memandang sendu wajah Luhan dalam diam. Dia tahu apa yang dipikaran Luhan. Sedikit mengganjal memang. Tapi sekarang hanya itu yang bisa dilakukan.
•
TBC
•
Yoohoo~~akhirnya update~~
Makin ga jelas nih ff kkkk :v yah, kaga ada smut smutnya :v Mian Chingu saya php. Kalau menurut aku sendiri sih ini emang belum saatnya smut gitu apa lagi nc soalnya alur yang aku gunain emang lambat.
Btw, adegan di bis itu kuno banget plus drama banget ya wkwk :v Sehun jadi posesif banget ama Luhan tapi ~_~
and last, Makasih nya untuk reviewnya, apa lagi yang fav ama follow makasih banget loh *-*
Aku selalu membaca review kalian dan maaf ga bisa balas aku on di hape bukan di pc jadi ga bisa *mian
Oh iya, saran dan kritik diperlukan loh untuk membangun ff ini juga untuk bahan pengoreksi dengan gaya penulisan ku yang masih awam ini: 3
so Mind to Review?
Love,
HunHan1204
