Biasanya rutinitas bertemu teman-temanya merupakan hal yang bisa menyenangkan hati Sakura. Apalagi bertemu dengan teman-teman dulu saat se-SMA denganya. Namun lain ceritanya kalau yang dibicarakan adalah masalah keluarga. Lihatlah Ino dengan senyum yang tak henti-hentinya dia tunjukan ketika menggendong Inojin dan menjadi pusat perhatian, Temari yang memiliki bayi, atau bahkan Tenten yang sedang mengandung. Dan lagi Hinata yang belum lama ini sudah menikah denga Sasuke. Semuanya nampak bahagia dengan pasangan masing-masing terlebih kalau membicarakan soal anak.
"Inojin kalau tengah malam dia suka terbangun dan menangis, aku sampai kerepotan menenangkanya. Untung ada Sai"
"anakku Shikadai sudah mulai belajar duduk lho.."
"kalau anaku nanti mau laki-laki atau perempuan gak masalah yang penting sehat"
Beberapa celetukan keluar dari mulut teman-temanya.
"Sakura kapan nyusul dengan Naruto..?"
"wah kalian bisa kebalap tuh dengan Hinata. Bulan madu apa mendapat oleh-oleh dari Sasuke? Oleh-oleh momongan maksudku"
Sakura yang awalnya tersenyum datar menjadi dingin. Pertanyaan yang tidak ingin didengarnya sungguh. Anak? tentu saja dia dan Naruto sangat menginginkan kehadiran seorang anak.
"Sakura.."
Seolah mengerti posisi Sakura Hinata memanggilnya
"a-ano aku mau ketoilet dulu"
Sakura beranjak pergi menuju belakang caffe. Diwastafel Sakura melihat dirinya seolah diperolok oleh teman-temanya. Bagaiman tidak? Pernikahnnya dan Naruto sudah berjalan bertahun-tahun, Namun belum ada kehadiran anak. Sakura depresi karena keguguran, hal itu membuat kejiwaanya terganggu
"Sakura.."
Sakura melihat bayangan Hinata dari cermin, merasa iba Hinata mendekat dan mendekap Sakura.
"semua akan baik-baik saja"
"bagaimana hiks.. bagaiman bisa semuanya baik-baik saja Hinata? Akupun ingin mempunyai seorang bayi, akupun ingin membahagiakan keluargaku terutama suamiku. Dan saat kebahagiaan itu datang aku malah keguguran"
"sssttt.. anak itu adalah titipan dari tuhan. Kau tidak bisa menyalahkan siapapun karena ini kan?"
Hinata mencoba menguatkan Sakura
"bagaimana kalau kau coba terapi?"
"aku pernah mencobanya dengan Naruto Hinata, kau tau rahimku lemah"
Hinata mendesah, begitu iba mendengar keadaan Sakura.
"kau tau Sakura? Kau.. begitu beruntung bisa mendapatkan suami seperti Naruto"
".."
"apa pernah Naruto menuntutmu untuk cepat hamil dan memiliki anak?"
Sakura menggeleng, tidak. Tentu saja tidak, Naruto bahkan hampir tak pernah membicarakan keinginanya untuk memiliki seorang anak. Sakuralah yang selama ini memulai pembicaraan seorang anak
"kalau begitu, jangan singgung Naruto lagi soal memiliki keturunan. Naruto tulus mencintaimu, diapun tidak pernah mempermasalahkan kondisimu"
"kau benar"
Hinata tersenyum
"baiklah, mulai sekarang bahagiakan Naruto. Buat dia bangga memiliki istri sepertimu"
Ada secercah harapan yang datang, mendengar apa yang dikatakan Hinata membuat Sakura sadar selama ini dia kurang memperhatikan Naruto.
Maka sepulang dari caffe Sakura menuju supermarket. Hari ini dia akan memasak masakan spesial kesukaan suaminya. Ramen dengan kuah kari yang gurih dan beberapa lauk serta sayur tambahan sebagai pelengkap. 'Naruto pasti suka' gumamnya dalam hati. Dan sebagai permintaan maaf Sakura membuatkan kastela untuknya.
.
.
.
Naruto menatap enggan kearah setumpuk berkas yang adaa dimejanya, sesekali dia membaca dan mempelajarinya namun kemudian berkas itu kembali ditutupnya. Naruto bangkit dari tempat duduknya, fikiranya campur aduk karena perkataan Sakura. Narutopun ingin mempunyai keturunan, sungguh dia sangat ingin ada pewaris kelak dikeluarganya. Tapi tentu saja yang Naruto inginkan adalah anak dari rahim Sakura istrinya, bukan dari wanita lain. Fikiran yang sangat bodoh bila Naruto mau saja menuruti perkataan Sakura yang tentu saja tidak difikirkan dengan matang. Tentu ada cara untuk mereka bisa memiliki keturunan bukan?. Zaman sudah begitu maju, Naruto bisa saja mengambil tindakan seperti vertilasi buatan misalnya. Dan Naruto sedang melakukan itu, mensurvei dan mencari informasi agar dia dan Sakura bisa segera memiliki keturunan. Naruto sedikit ragu, baa-chanya belum pulang ke jepang karena kunjunganya ke negara Amerika. Naruto telah membaca beberapa dokument yang berkaitan dengan program untuk melakukan vertilasi buatan. Dia telah membaca dan mempelajarinya tapi entah kenapa Naruto merasa tidak yakin dengan informasi yang telah dia peroleh. Belum lagi bila selama program itu terdapat resiko yang bisa membahayakan, dan sejumlah obat-obatan penyubur. Pastinya itu tidak akan berhasil karena Sakura sudah mencobanya namun gagal. Obat-obatan tidak dapat membantu banyak menurutnya, saat ini Naruto menunggu kabar dari baa-channya yang berada diluar negeri itu.
.
.
Datanglah ke RS Tokyo,
Ada salah satu cara agar kalian
Bisa segera memiliki keturunan
Naruto tersenyum mendapat pesan dari baa-chanya yang sudah pulang dari luar negeri. tanpa membuang waktu diapun bergegas pergi menuju RS dan langsung memasuki ruanga dokter yang mengiriminya sms.
"ohayou baa-chan"
"ohayou..duduklah"
Wanita yang berusia lebih dari setengah abad dan berpakaian rapi dan nampak awet muda itu menyambut kedatangan Naruto.
"jadi bagaimana caranya?"
Seolah tidak ingin berbasa-basi terlebih dahulu Naruto langsung membicarakn keinti permasalahan, dr. Tsunadepun mengambil berkas dari laci ruang kerjanya dan menyerahkanya kepada Naruto
"ini baca dan pelajarilah terlebih dahulu"
Naruto menurut, apa yang ada ditanganya adalah berkas prosedur bayi tabung.
"bayi tabung?"
"ya apa kau setuju? Kau tinggal tanda tangan saja dan memberitahukanya kepada Sakura"
"baik aku setuju baa-chan"
Narutopun langsung menandatangani berkas tanpa ada keraguan sama sekali, ini adalah satu-satunya cara agar dia dan Sakura bisa segera memiliki seorang anak. adalah dokter yang ahli dibidangnya, terlebih mereka memiliki kekerabatan yang dekat sehingga Naruto mengaggapnya sebagai baa-channya
"bagaimana persentase keberhasilanya?"
"sangat akurat, dan untuk khasus seperti Sakura aku rasa kau harus lebih extra menjaganya kalau dia sudah siap nanti. Jangan membuatnya stres apa lagi sampai keletihan seperti kehamilan yang sebelumnya, aku yakin kalian bisa segera menggendong bayi"
"ya baa-chan aku mengerti.. aku akan memberitahu pada istriku"
Senyum Narutopun mengembang, segera dia bergegas pulang dan menemui istrinya, sakura pasti akan sangat senang. Naruto membelikan sebuket mawar berwarna biru muda untuk istrinya, dan juga sebungkus cokelat mahal yang dibungkus dengan elegant dan cantik nampak lezat.
Narutopun bergegas pulang menemui istrinya.
.
.
Sudah pukul 10 malam lebih suaminya belum juga pulang, Sakura nampak khawatir duduk diruang tamu. Nenek Chiyou bahkan sudah mengingatkan majikanya untuk tidur, namun Sakura menolak. Mana mungkin dia bisa tidur kalau Naruto masih menjauhi bahkan membencinya? Hari ini Sakura bertekad untuk meminta maaf pada suaminya. Dan berjanji akan memperlakukan Naruto lebih baik lagi. Makanan yang tersajipun sudah dingin, ramen yanng telah dia siapkan sudah dingin. Raut wajah Sakura tambah khawatir. Ponsel suaminya tidak aktif, Sakura menunggu cemas diruang tamu
"Naruto.."
Setetes air matapu terjatuh dari emerald Sakura, hampir saja Sakura tertidur karena rasa lelah yang melanda. Kini jam sudah menunjukan pukul 11 lebih. Dan Sakura masih menunggu suaminya datang.
.
.
Yang Naruto lihat pertama kali saat memasuki rumahnya adalah.. Sakura tertidur diruang tamu dan nampak begitu letih. Naruto bisa melihat bekas tangisan istrinya, dan kini Naruto merasa bersalah telah bersikap dingin pada Sakura.
"maafkan aku Sakura-chan.."
Naruto membelai lembut surai merah muda istrinya dan mengecup keningnya, baru saja Naruto hendak menggendong Sakura menuju lantai atas. Sakura membuka emeraldnya perlahan
"ngggh anatah.."
Naruto tersenyum
"ya sayang..?"
Dan detik berikutnya Sakura menghambur kepelukan suaminya.
"maaf.. maafkan aku yang sudah membuatmu tertekan sayang. Maaf maafkan aku telah menyinggungmu, membuatmu marah dan berbicara yang tidak-tidak"
"sssttt.. itu bukan sepenuhnya salahmu"
Naruto mengelus sayang punggung istrinya, kemudian menatap wajah Sakura dan menghapus air matanya.
"hei, kau ingat tanggal apa sekarang?"
".."
Narutopun menyodorkan bunga yang sudah dibelinya.
"aniversary kita yang ke-4"
Sakura kembali menangis, bukan karena air mata kepedihan. Tapi karena Naruto mengingatnya
"kau belum makan sayang? Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Biar aku hangatkan yah!"
Sakura beranjak menuju dapur, hatinya bahagia hari ini hari spesial untuknya dan juga Naruto.
"dan ada satu lagi kejutan untukmu.."
"?"
Naruto beranjak dari tempat duduknya kemudian memeluk Sakura yang tengah menghangatkan makanan. Naruto menyesap wangi leher istrinya sambil menyodorkan sesuatu.
"ini untukmu Sakura-chan.."
Sakura mengernyit, selesai memanaskan makanan Sakurapun membaca dokumen yang diberikan suaminya. Membaca lembar demi lembar dokumen yang diberikan suaminya. Lagi... suaminya berhasil membuat Sakura tidak sanggup berkata-kata
"ini.."
"ya impian kita akan terwujud"
"Narutoo.."
Sakura memeluk suaminya dan malam ini mereka merasakan kebahagiaan yang mereka impikan akan terwujud.
.
.
.
Sakura menggandeng erat lengan suaminya saat berada diruanga RS.
"sayang.."
"semua akan baik-baik saja sayang"
"uhm.. aku hanya.. sedikit gugup"
Setelah dokter melihat perkembangan sel ovum dan sperma yang melebur dan berkembang didalam tabung. Calon janin itupun dimasukan kedalam rahim Sakura, Sakura masih menggenggam erat lengan Naruto yang begitu setia mendampinginya.
"impian kita akan terwujud"
Senyum dari wajah Sakurapun mengembang. Akhirnya setelah menanti selama empat tahun mereka akan memiliki bayi lewat prosedur bayi tabung. Dan Naruto begitu bahagia akhirnya dia bisa melihat istrinya kembali ceria dan tersenyum, cahaya dan semangat hidupnya telah kembali.
Mereka pulang dari rumah sakit dengan perasaan yang begitu ringan dan bahagia yang masih mengelilingi. Setelah berkonsultasi dengan dan menebus beberapa resep obat untuk Sakura mereka pulang. Senyum Sakura terus mengembang, terlihat Sakura berada dalam mobil dan mengusap pelan perutnya yang masih rata. Naruto tersenyum kemudian mengecup dahi lebar istrinya.
"jaga anak kita baik-baik"
Sakura mengangguk, sepanjang perjalanan Sakura tak henti-hentinya membicarakan persiapan untuk kelahiran anak mereka kelak. Sesekali Naruto menanggapi dengan cengiran khasnya, dan sesekali Naruto meledek istrinya. Setelah menjalani hari-hari yang berat pasca keguguran Sakura akhirnya bisa bangkit dengan semangat baru dihidupnya. Sakura begitu bahagia menjalani hari-hari kehamilanya, saat trimester pertama tak jarang Sakura merasakan mual seperti kebanyakan wanita hamil lainya.
"halo Hinata?"
"ya Sakura ada apa"
"aku ehm.. aku hamil lagi Hinata! Aku akan menjadi seorang ibu!"
Sakura tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya, dan langsung menelpon kepada sahabatnya.
"waah selamat Sakura akhirnya kau akan menjadi seorang ibu juga"
Sakura tersenyum
"iya Hinata terima kasih.. salamkan salamku pada suamimu juga yah jaaa.."
"jaa Sakura"
Sambungan telepon terputus, dikediaman Uchiha Hinata ikut bahagia mendengar kabar kehamilan Sakura. Namun bersamaan dengan itu juga Hinata terdiam melihat surat hasil pemeriksaan dari dokter. Hinata mengalami penyumbatan dinding rahim.
.
.
"Naru.. aku ingin makan ramen"
Naruto yang sedang menyelesaikan pekerjaanya melirik kearah Sakura
"tapi Sakura-chan kau sudah memakan sampai 3 cup lebih ramen"
"ya tapi aku lapar tolong buatkan yah!"
Dengan terpaksa Narutopun menuju dapur dan membuatkan ramen untuk istrinya, tak lupa Naruto membuatkan susu untuknya. Saat Sakura hamil kini dia menjadi lebih manja, bahkan Narutopun harus bulak-balik kantor dan rumahnya saat ada keluhan tentang kondisi kehamilan Sakura. Kandungan Sakura rawan, karena itulah Naruto siaga menyiapkan berbagai kebutuhan istrinya. Mulai dari vitamin dan obat penguat janin yang harus Sakura minum, susu, makanan untuk ibu hamil bahkan mangga muda yang harus dia cari dipasar. Semua demi istrinya, Naruto tidak ingin Sakura kembali mengalami keguguran. Sudah cukup dia melihat Sakura terpuruk dengan depresi pasca keguguran. Mulai hari ini dia berjanji akan menjaga Sakura dengan sebaik mungkin.
"anata.."
Sakura menatapnya dengan senyuman sambil memegang perutnya yang sudah nampak membuncit
"ya sayang?"
"coba kau pegang.."
Narutopun mengikuti perintah istrinya, tangan kekar Naruto menyentuh perut Sakura dan merasakan sensasi yang baru pertama kali dia rasakan.
"dia..?"
"dia menendang Naru!"
"anak kita menendang.."
Narutopun menempelkan telinganya keperut Sakura. Dan tangan kiri Naruto menggenggam erat jemari lentik istrinya, menciumnya dengan penuh cinta. Dan tak lupa Naruto juga mencium perut Sakura yag mulai membuncit. Sambil meraba penuh kasih sayag Naruto berkata
"aku janji akan menjagamu dan calon anak kita.."
Sakura tersenyum, lalu mengecup bibir suaminya
"aku tau, aku mencintaimu.."
"dan akupun sangat mencintaimu juga anak kita"
.
.
.
TBC
.
.
A/N :
maaf sebelumnya ficnya lama gak diupdate karena ceritanya author revisi ulang. yosh semoga gak megecewakan readers yah sama fic yang ini. hargai usaha author, reviews kalian adalah semangatku
hountoni arigatou gozaimats ^_^
