Tengah malam saat Naruto tertidur Naruto merasakan jemari Sakura yang dipegangnya bergerak.

"Sa-sakura?"

Naruto yang mengantuk membuka kelopaknya dan melihat Sakura sudah membuka emeralnya

"Sakura-chan?! Kau sudah sadar sayang?"

Narutopun langsung memeluk istrinya dalam dekapanya, bersyukur setelah beberapa hari koma akhirnya Sakura sadar.

Siangnya seorang perawat membawakan Shinaciku keruangan Sakura, Naruto menggendong puteranya antusias

"sayang, kau lihat? Ini anak kita"

Naruto mendekat kearah ranjang dan memberikan Shinaciku hati-hati kepada istrinya. Dan melihat Shinaciku menyusu pada istrinya. Namun Sakura hanya menatap kosong kearah bayi yang sedang menyusu padanya

"Sakura-chan.. ini anak kita"

Naruto mengamati istri dan juga anaknya, seolah tak ada reaksi atau ekspresi apa-apa Sakura hanya menatap datar kearah Naruto dan juga puteranya.

Perkembangan kesehatan Sakura baik, dan akan diperbolehkan pulang dalam waktu yang cepat. Namun ada sesuatu yang dirasa ganjil pada istrinya, Sakura tak bereaksi apapun saat melihat bahkan menyusui Shinaciku.

Minggu depan saat kepulangan Sakura serta anak mereka Shinaciku tiba Naruto menyiapkan semuanya menyambut kehadiran baru anggota keluarga serta istrinya tercinta. Naruto bahkan sudah merenovasi kamar yang dia siapkan khusus untuk puteranya yang telah lahir kedunia. Kamar bayi yang didominasi warna biru muda serta pernak pernik bayi lainya yang dia beli juga hadiah dari teman-teman yang sudah mengunjungi dan melihat anak mereka.

Naruto menggendong hangat puteranya dan berniat memberikanya kepada Sakura

"Sakura-chan.. sekarang waktunya Shinaciku untuk menyusu"

Sakura tidak bergeming dari posisinya, dibantu Naruto Sakura menyusui putera mereka. Shinaciku seperti kehausan dalam dekapan Sakura. Sakura sedikit meringis Sakit merasakan hisapan Shina yang begitu kencang

"hei sayang, jangan kencang-kencang.. mamah nanti kesakitan nak"

Naruto berujar lembut sambil mengelus kepala anaknya. Narutopun melihat Sakura, tapi entah kenapa Sakura tak menunjukan apapun usai kepulanganya dari rumah sakit. Jarangkan tersenyum, berbicara saja tidak. Sakura hanya menatap kosong kearah Shina, tak menunjukan reaksi apapun.

.

.

Tengah malam saat Naruto tertidur Naruto dikejutkan dengan jeritan istrinya

"Sakura-chan?! Ada apa?"

Sakura meringkuk, berteriak dan memegangi lututnya. Dia mimpi buruk, Narutopun mencoba untuk menenangkan Sakura, memeluknya dan mengecup sayang kening istrinya. Sakura gemetar, Naruto khawatir

"sayang.. itu hanya mimpi buruk. Tenanglah.. ada aku disini. Kau tidur lagi yah? Biar aku yang menjagamu oke?"

Sakura tak menjawab, tubuhnya mengigil ketakutan. Khawatir, Naruto menenangkan Sakura. Membuatkan Sakura segelas susu hangat, dan menungguinya sampai Sakura kembali tertidur. Jam tiga dinihari barulah istrinya terpejam, Naruto memastikan apakah Sakura benar-benar tertidur atau tidak. Dipandanginya lekat wajah istrinya, sambil menyibakan surai istrinya yang menutupi wajahnya. Naruto mengecup kening Sakura dan lantas menyusul istrinya untuk tidur. Naruto kurang istirahat malam itu.

Siang hari Naruto dibuat bingung dengan sikap istrinya, saat Shinaciku menangis karena lapar Sakurapun ikut menangis. Naruto bingung dengan keadaan istrinya

"Sakura-chan.. ini anak kita"

Tapi Sakura ketakutan, dia bahkan enggan menatap puteranya sendiri. Sakura sering melamun, dan menangis tanpa sebab. Belum lagi dia seperti depresi saat mengahadapi Shinaciku yang tiba-tiba menangis, Naruto kebingungan disamping bekerja seluruh perhatianya terpecah antara pekerjaan kantor, puteranya dan terutama istrinya. Fikiran Naruto kacau, Naruto yang merasa khawatirpun menelpon dokter

"mungkin Sakura terkena baby bluess syndrom, kau tak usah khawatir gejala itu muncul untuk ibu muda yang baru melahirkan seperti Sakura. Dampingi dan terus awasi Sakura, beri motivasi agar Sakura semangat serta mampu menstabilkan emosinya pasca melahirkan"

Narutopun paham, mungkin benar yang dikatakan dokter Sakura mengalami baby bluess syndrom. Naruto berdoa, semoga psikologis istrinya cepat stabil. Naruto yang merasa kerepotan mengurus Shinacikupun menyewa seorang baby sisiter.

"Tayuya tolong jaga Sakura dan juga Shinaciku"

"baik tuan"

Narutopun bergegas pergi bekerja menuju kantornya. Dia sedikit terbantu dengan adanya baby sister. Setidaknya ada yang mengurus puteranya, sedangkan Naruto tentu harus bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya

.

.

.

sebulan saat kepulangan Sakura dari RS Sakura belum bisa sama sekali mengurus Shinaciku secara mandiri. Tayuya bahkan kerepotan bila Shinaciku menangis sementara Sakura enggan menyusuinya. Beruntung dikulkas ada persediaan ASI yang tuanya sudah pompakan.

Sakura sering sekali melamun, menyendiri bahkan menangis tanpa sebab. Kantung matanyapun menghitam. Dan puncaknya bahkan Sakura pernah melakukan tindakan nekat akan bunuh diri!

"tuan.. cepatlah datang! Nyonya bertindak nekat!"

Tayuya merasa gentar, saat ini dia sedang menggendong Shina. Takut kalau nyonyanya sendiri berbuat yang tidak-tidak. Sakura bahkan memegang pisau, menngacung-acungkanya kepada setiap orang yang berusaha melindunginya. Tayuya takut dan berharap tuanya bergegas untuk pulang. Shinaciku menangis keras, Tayuya kerepotan disatu sisi dia ketakutan dengan nyonyanya yang tiba-tiba bertindak nekat.

Naruto yang berada dikantorpun beranjak pulang. Bergegas menuju basement tempat parkiran mobil, dan secepat kilat mengendarai mobil pulang menuju rumah. Kalut, sepanjang perjalanan fikiran Naruto kacau. Apa yang hendak dilakukan istrinya? Tidakah dia bahagia dengan kehadiran darah dagingnya sendiri? Shinaciku yang selama ini didambakan dan lahir kedunia sebagai pelita hatinya?

Sampai dirumah Naruto langsung membuka pintu kasar. Dan mencari keberadaan istrinya

"Sakura-chan.. kau dimana sayang?"

"tuan!.."

Tayuya lari tergopoh-gopoh sambil menggendong Shinaciku yang masih menangis

"nyonya tuan! Nyonya!"

"bicaralah yang jelas Tayuya, aku tak mengerti.."

"nyonya didapur sedang-"

"AAARRGGGHH!"

Mendengar geraman Sakura Narutopun langsung menuju dapur meninggalkan Tayuya yang masih dengan raut wajah cemasnya. Naruto dikejutkan dengan apa yang dilakukan Sakura, saphire bluenya membulat sempurna

"Sakura! Apa yang kau lakukan!"

Sakura memegang pisau, Naruto dengan cekatan merebut kemudian memeluk Sakura, Sakura meronta-ronta dalam pelukan Naruto. Naruto meredam pergerakan Sakura, lalu Sakura menangis histeris, dan hal lain yang lebih mengkhawatirkan adalah Sakura pernah mencoba mencelakai Shinaciku!.

Beruntung Naruto mengawasi dan menyelematkan puteranya. Khawatir dengan kondisi istrinya yang memburuk, Narutopun kembali membawa Sakura ke psikolog

"istri Tuan mengalami gejala depresi post partum, ini berbeda dengan syndrom baby bluess. Nyonya Namikaze harus mendapatkan terapi kognitip dan juga konseling. Saya sarankan untuk sementara ini demi keselamatan anak anda istri anda dijauhkan dari puteranya"

Mendengar penuturan dari psikolog Narutopun tertegun, bayi yang selama ini didambakan hadir dalam keluarga kecilnya malah harus dijauhkan dari ibunya. Naruto mengambil keputusan berat dalam hidupnya, Naruto membawa Shina untuk dia titipkan kepada seseorang

"Naruto.."

Kini Naruto sudah berdiri didepan Sasuke dan juga Hinata

"aku titip Shinaciku untuk sementara waktu Hinata.."

Mata Hinata berkaca-kaca saat menerima bayi Shinaciku yang lucu dan menggemaskan. Mata emeraldnya yang jernih memandanginya, mengerjap-ngerjap lucu dan menggemaskan

"semoga Sakura cepat sembuh dobe"

Naruto tersenyum tipis

"kalau ada apa-apa soal Shina tolong hubungi aku ya"

"pasti"

"kami akan merawat dan menjaga Shina seperti anak kami sendiri Naruto-kun"

"terima kasih Sasuke Hinata"

Dengan berat hati Narutopun melepaskan Shinaciku dan mempercayakanya kepada sahabat dekatnya.

Usai menitipkan Shina Naruto langsung pergi tak kuasa harus berpisah sementara waktu dengan puteranya tercinta. Ini demi kebaikan mereka, Naruto harus mengendalikan hati dan emosinya yang sedang kacau. Meskipun seribu pisau menghunus tepat didadanya, meskipun seribu pelurus menembus dan mengoyak hatinya. Naruto harus tetap tegar, dia tidak boleh goyah atau bahkan gentar. Mereka berdua, Shinaciku dan juga Sakura membutuhkanya. Naruto harus kuat demi mereka berdua.

Naruto mendampingi masa pemulihan istrinya, membagi waktunya untuk bekerja dan juga untuk istrinya tercinta. Sakura sudah bisa tidur sekarang, setelah insomnianya yang menyebabkan kantung matanya menghitam. Meskipun kondisi Sakura belum stabil seutuhnya namun Naruto berharap psikologis istrinya bisa sembuh agar mereka bisa merawat serta membesarkan anak mereka Shinaciku. Sungguh Naruto tidak rela harus hidup berjauhan dengan puteranya. Namun saat ini tak ada pilihan lain, inilah yang terbaik. Untuk sementara waktu Sakura harus dijauhkan dari Shinaciku, sebelum sesuatu buruk yang terjadi. Sebelum Sakura menjadi lebih depresi lagi.. ini adalah keputusan yang berat yang harus dia ambil demi kebaikan keduanya.

.

.

.

Ditempat lain, Hinata begitu bahagia saat merawat Shinaciku. Shinaciku seolah malaikat kecil yang diturunkan untuknya dan juga Sasuke. Saat ini Hinata sedang menidurkan Shina dalam gendonganya, Shinaciku begitu menggemaskan.

Seolah memberi semangat baru Hinata bisa sejenak melupakan sakit yang dideritanya. Sementara Sasukepun ikut bahagia melihat betapa telatenya Hinata dalam hal mengurus anak. Shinaciku sudah seperti anak kandung mereka, dan kehadiran Shinacikupun seolah menjadi anugerah dalam keluarganya.

Betapa tidak? Beberapa bulan semenjak mereka mengasuh Shina Sasuke naik jabatan. Hal itu membuat Hinata bersyukur, kondisi keuangan yang semula pas-pasan kini serba berkecukupan. Bahkan Sasuke membawa Hinata untuk pindah dirumah yang jauh lebih besar, dan semua itu tak lepas dari kehadiran Shina.

"anaku.."

Hinata mencium Shina seolah puteranya sendiri. Saat ini Shina sedang tertidur lelap dalam dekapanya. Sasuke tersenyum, istrinya pintar dalam hal mengurus anak. beruntung Sasuke memiliki istri seperti Hinata. Yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka.

.

.

Kondisi Sakura sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Sakura mau makan meskipun masih harus diawasi dan didampingi, bahkan kini dia telah bisa tertidur lelap meskipun belum sepenuhnya lancar diajak berkomunikasi.

Saat ini Sakura tertidur, Naruto membelai wajah cantik istrinya. Menatap ponsel yang berwallpaperkan puteranya membuat dia sangat merindukan malaikat kecilnya itu. Sasuke dan Hinata mengirimnya melalui via BBM. Kini Shinaciu sudah bisa duduk, dan mulai berlatih merangkak. Apa kabar puteranya itu? Naruto sangat merindukan Shina, Naruto membelai istrinya dan menatapnya penuh cinta

"cepat sembuh sayangku.."

Naruto mengecup bibir istrinya. Duduk didekat Sakura dan mendengarkan voice note atau video puteranya menggunakan earphone agar tak mengganggu tidur istrinya. Naruto tersenyum, anaknya mulai tumbuh dan berkembang. Akan tetapi dia tidak bisa menjadi saksi atau ada disisinya saat Shina sedang tumbuh dan berkembang seperti halnya anak-anak lain. Shina ceria, dia tak pernah rewel begitulah yang disampaikan Sasuke-teme. Naruto memejamkan matanya, seolah merasakan saat ini Shina berada disisinya. Saat ini Shina sedang tidur denganya, suara tangisan dan tawa bayi mewarnai rumah mereka. Namun kenyataanya berbeda, dan Naruto tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat mereka bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh. Bahwa Sakura akan segera sembuh dan memberikan kasih sayangnya kepada putera mereka tercinta.

Esoknya, Naruto sarapan bersama istrinya tercinta. Sakura masih sering melamun, dengan sabar Narutopun mengajak istrinya berbicara meskipun tak ada respon yang dia dapat dari istrinya.

"tsuma.. aku berangkat dulu yah?"

Naruto beranjak dari tempat duduknya menghampiri Sakura dan mengecup lembut bibir istrinya. Sakura diam, Narutopun melambaikan tangan.

Hari ini jadwalnya tidak padat. Saat jam kerjanya usai Naruto mengunjungi toko mainan anak-anak. membelikan puteranya beberapa mainan, Narutopun bergegas menuju kediaman Hinata juga Sasuke.

Pemandangan yang membuat dirinya cemburu adalah.. Shina tertawa amat menggemaskan saat bermain dengan Sasuke juga Hinata. Shina sedang memegang mainan, dan Sasuke menggodanya dengan membuat ekspresi wajah lucu sehingga puteranya tertawa

"ehem.."

Merasa kehadiranya diabaikan Naruto berdeham pelan

"Naruto.. silakan masuk"

Hinata menyambut Naruto ramah dan menuju dapur untuk menyiapkan minuman

"bagaimana kabarmu dan juga istrimu dobe?"

"baik.."

Narutopun mendekat

"kau ingin menggendongnya?"

"tentu saja.. diakan anaku"

Naruto menggendong Shinaciku dengan kasih sayang. Naluri keayahanya terbit, Naruto mengajak Shinaciku berkeliling sebentar, mengajaknya bermain dan bercengkraman. Dan setelah puas melepas rindu Shinapun tertidur dalam dekapan Naruto

"sini Naruto.. biar aku pindahkan dia kekamar"

"eh, tak usah Hinata tidak apa-apa.. lagi pula aku merindukan puteraku"

"bagaimana perkembangan Sakura?"

"tinggal terapi kognitip secara rutin, konseling dan rajin meminum obat dia akan segera sembuh"

"begitu.. syukurlah"

Hinata tersenyum tipis

"aku pulang dulu"

Dengan hati-hati Naruto menyerahkan Shinaciku pada Hinata

"maaf sudah merepotkan kalian"

"tentu tidak. Shinaciku sama sekali tak merepotkan, malah dia seperti anugerah bagi keluarga kami"

Jawab Sasuke

"titip Shina ya"

"yah kau tak usah sungkan dobe"

Narutopun pergi, sementara itu Hinata yang menggendong Shina mencium pipi chuby Shina yang sedang tertidur.

Tunggu papa nak, papa pasti akan segera menjemputmu pulang..

batin Naruto ketika melihat Hinata yang menggendong Shina dan juga Sasuke yang beridir disamping istrinya mengantar Naruto didepan rumah

.

.

.

"Hime.."

Sasuke memeluk Hinata dari belakang, Hinata sedang menatap teduh Shinaciku yang tertidur dalam box bayi

"dia sangat lucukan? Anata.."

Hinata membelai Shinaciku lembut

"ya dia sangat menggemaskan"

Hinata memperhatikan Shina dan membelai lembut pipinya. Dalam hatinya berharap Shinaciku bisa selamanya dia urus dan dia rawat layaknya anak kandungnya sendiri.

Esoknya, dengan kereta bayi Hinata mengajak Shina untuk berbelanja. Shina sedang memegang mainanya dalam kereta. Hinata tersenyum simpul menunduk dan memandanginya

"sudah tidak sabar untuk pergi yah sayang?"

Seolah mengerti apa yang dikatakan Hinata Shina tersenyum lucu dan menjatuhkan mainanya

"anak pintar.."

Hinata pergi ke pasar swalayan membeli beberapa bahan makanan dan tak lupa membelikan Shina susu formula

"Hinata?"

Ino yang melihat Hinta dibagian rak samping mendekat

"hai Ino"

"kau sudah punya anak?"

Ino melihat seolah tak percaya Hinata membawa kereta bayi

"bisa dibilang begitu.."

"wah lucu sekali... tapi kok dia berambut pirang?"

Inopun mendekat dan mengamati Shinaciku dalam kereta bayi

"jangan bilang kau.."

Sebelum Ino berfikiran negatif, Hinata terlebih dahulu memotongnya berbicara

"sebenarnya dia anak Naruto dan Sakura"

"eh?"

Setelah selesai berbelanja Ino dan Hinatapun mampir ke sebuah caffe dekat dengan mini market yang mereka kunjungi. Dan cerita itupun mengalir bagaimana Sakura mengalami syndrom baby bluess dan merajuk pada gejala post partum depression, bagaimana Naruto yang kebingungan merawat Shina setelah insiden Sakura hampir melukai bayi mereka, dan bagaimana Naruto yang dengan terpaksa menitipkan Shina kepada Hinata dan juga Sasuke.

"astaga.."

Ino menutupi bibirnya yang menganga setelah mendengar apa yang diceritakan Hinata

"aku tak menyangka Sakura bisa mengalami depresi post partum, saat melahirkan Inojinpun aku pernah mengalami baby bluess syndrom tapi tak separah Sakura yang sampai terkena depresi post partum.."

"ya begitulah Ino makanya aku merawat Shina.."

Shina yang sedang tertidur didalam kereta bayi tiba-tiba saja terusik dari tidurnya dan menangis. Hinata mengambil dan menimangnya dalam dekapanya

"ssstt.. jangan menangis Shina-kun"

Ino yang menatap Hinata dibuat takjub, tangisan Shinaciku yang semula nyaring mereda setelah ditenangkan oleh Hinata

"aku tak menyangka kau pintar merawat bayi"

Dan beberapa saat setelah Hinata menggendong Shina, Shina menjadi tenang dan tidur kembali.

"bagaimana cara melakukanya? Shina langsung tenang kembali dan tidur, seolah kalian berdua memiliki ikatan"

"Shinaciku adalah anugerah bagiku dan juga Sasuke"

Hinata tersenyum, bola mata amethys-nya masih menatap kearah Shinaciku yang tertidur dalam gendonganya.

"kau tau Ino.. semenjak Shina hadir dalam kehidupan kami dia membawa keberuntungan. Aku seperti mendapatkan semangat baru untuk hidup Ino. Dan juga suamiku, dia naik jabatan dan kehidupan kami menjadi lebih baik lagi"

"kau seperti ibu kandungnya saja.."

"Shinaciku, sudah seperti anak kami sendiri"

Hinata tersenyum

"aku harap aku bisa terus merawatnya.."

"oh ya ngomong-ngomong bagaimana kabar Sakura? Kalau Sakura sudah sembuh tentu Naruto akan kembali mengambil anaknya-kan? Lagi pula Shina anak kandung mereka"

"soal itu.. eh... Sakura masih menjalani terapi kognitifnya"

"oh begitu, aku harap Sakura bisa segera sembuh. Kasihan dia"

Hinata tersenyum tipis.

"yah aku harap begitu"

.

.

.

TBC

.

.

A/N :

Dear God : iya mereka sudah punya anak sekarang, jangan lupa reviews lagi yah

Ae Hatake : Sakura gak author buat mati kok, dan Narutolah yang meminta bantuan Sasuke, jangan lupa reviews lagi yah

Geki Uzumaki : siapin tisu yah kak xD, jangan lupa reviews lagi

Paijo payah : aku gak buat yang aneh-aneh ko, cuman bikin bumbu buat story doank xD. jangan lupa reviews lagi yah

Aion Sun Rise : oke, jangan lupa reviews lagi yah

Lora29 Alus : ini sudah lanjut ko, jangan lupa reviews lagi yah

Uchiha Cullen738 : aku juga berharap begitu, kan genrenya juga gak angst. tapi mungkin main-stream juga sih. jangan lupa reviews lagi yah

Seajes : iya ini udah up ko, arigatou udah nyemangati author #senengpkebgt. setiap chapnya author usahain buat nambahin words ko biar gak ngecewain readears. cuman kalau emang dikit sih mungkin author harus lebih banyak latihan lagi. jangan lupa reviews lagi yah

untuk Guest : iya masalah baru emang dateng sebagai bumbu cerita xD. InsyAllah gak ada chara yang author buat mati ko. jangan lupa reviews lagi yah

yosh, chap5 akhirnya update juga setelah mengalami beberapa kendala, dan entah kenapa author suka terjangkit virus wb (?). tapi author usahain buat tetep lanjutin ko. arigatou buat yang udah berkenan membaca, favs dan follow fic gaje ini. dan terutama yang udah mau REVIEWS author ucapkan hontouni arigatou.

tetep ikutin terus kelanjutan Mybeloved Son's yah.

bye bye.. xD