"Sakura-chan ayo makan sayang"

Sakura tak bergeming, masih dengan posisinya memeluk lutut dengan pandangan mata yang kosong. Naruto menghela nafas panjang, dengan kesabaran dan penuh rasa kasih sayang dia terus meminta istrinya agar mau makan.

"buka mulutmu tsuma, lima suap sajah kau harus makan"

Naruto menyendok bubur dimangkuk dan mencoba menyuapi Sakura

"aaa..."

Naruto menganga membulatkan bibirnya agar Sakura menuruti apa yang dia katakan. Namun Sakura tetap diam, dia memalingkan wajah dan bersedih. Tangisnya yang semula diam kini menjadi terisak

"Sakura-chan.. kenapa sayang? Kenapa kau bersedih?"

"hikss...hikss.."

Narutopun meletakan mangkuk bubur dan mendekap Sakura dalam pelukanya

"kenapa? Kau merasa sakit sayang?"

"hikkss..hikss"

Sakura menggeleng, Naruto tersenyum tipis Sakura meresponya. Narutopun menatap lekat Sakura, meghapus air mata istrinya dengan jemarinya

"sayang.. kau harus makan"

Sakura menurut, diapun membuka mulutnya. Naruto dengan telaten mengurus Sakura, Sakura makan hanya beberapa suap bubur saja. Setelah memberikan obat Sakurapun tertidur. Naruto memandangi Sakura, memandangi istrinya yang tengah tertidur dengan posisi seperti janin. Narutopun menarik selimut sampai didada Sakura.

Sudah lima bulan lebih Semenjak Naruto menitipkan Shinaciku kepada Hinata agar merawatnya. Naruto tidak pernah berhenti berharap kalau istrinya akan segera sembuh dari post partum depression . yang perlu Naruto lakukan adalah terus mendampingi dan menjaga Sakura agar tidak lepas kendali. Dan selalu mengontrol perkembangan buah hatinya yang kini dia titipkan.

Naruto mengantuk, dia tertidur dengan memeluk istrinya tersayang. Seperti apapun keadaan Sakura Naruto tetap akan selalu mendampinginya.

"Shina.."

"Shina.."

Naruto yang tertidur tiba-tiba terjaga mendengar suara rintihan istrinya

"Shina-kun..hiks.."

"Sa..Sakura-chan?"

Naruto menyalakan lampu dan melihat Sakura menangis sambil menutupi wajahnya

"kau.. kau menyebut Shina sayang? Kau mengingatnya? Mengingat anak kita Shinaciku?"

"Narutoohh.."

Sakura menghambur kedalam pelukan Naruto

"Sakura-chan kau mengingat Shina sayang?"

Sakura mengangguk dalam pelukan Naruto

"Sakura.."

Naruto memanggil istrinya dengan suara dalam, tiba-tiba sajah air matanya meleleh terharu. Sakura mengingat Shinaciku, Sakura mengingat buah hati mereka.

"kita akan bertemu denganya sayang, kita akan menjemputnya dan merawatnya"

Esoknya usai sarapan Sakura dan Naruto pergi menuju kediaman Sasuke. Naruto tak henti-hentinya tersenyum dan melirik kearah istrinya.

Tangan kananya meraih jemari Sakura dan memegangnya, tersenyum dengan senyuman yang penuh artian cinta juga rindu. Dalam perjalanan Sakura hanya diam, diam menatap jalanan dan diam tanpa berbicara.

"kita sudah sampai sayang"

Dengan penuh perhatian Naruto turun, membukakan pintu untuk Sakura dan melepaskan sabuk pengaman yang Sakura gunakan. Naruto menggenggam jemari Sakura dan mengajaknya untuk masuk.

Rumah Sasuke nampak sepi, Narutopun memencet bel rumah dan seorang pembantu membukakan pintu

"nyonya ada didalam tuan"

Naruto bersama Sakura memasuki ruang tamu, nampak sepi. Narutopun berjalan menuju halaman belakang rumah dan terlihat Hinata tengah bermain bersama Shinaciku. Shinaciku banyak tertawa, sambil bermain mainanya Shinaciku menggenggam dan Hinata membuat wajah lucu sehingga gelak tawa Shina riuh terdengar

"Hinata.."

Hinata yang asik bermain bersama Shina menoleh

"Naruto dan juga... Sakura?"

Sakura sedikit malu-malu berdiri disamping suaminya dan menatap Shina

"kami ingin menjemput Shinaciku"

Yang Hinata rasakan adalah.. seribu jarum menghujami jantungnya, kebahagiaan yang dia rasakan seolah direnggut paksa. Narutopun mendekat kearah Shina, Shina menoleh dan masih dengan wajah lucunya memberikan mainanya pada Naruto

"Shina.. kita pulang nak"

Narutopun menggendong Shina dan menunjukanya pada Sakura

"ini anak kita sayang, lihat dia mewarisi irish emerald indahmu"

Sakura menatap Shina, lalu dengan hati-hati diserahkanya Shinaciku pada Sakura untuk dia gendong. Emerald Sakura membulat memandangi bayi lucu yang sedang dia gendong.

Sementara Hinata seolah kehilangan kata-kata dan entah kenapa hatinya begitu sakit dan seolah tidak rela melepaskan Shinaciku sekalipun Shina adalah darah daging Naruto dan Sakura.

"terima kasih sudah merawat Shinaciku dengan baik.. kami pamit Hinata salam untuk teme yah"

Naruto mengajak istrinya untuk keluar, dan seketika itu Shina menangis

"Na-naruto.."

Hinata yang mendengar tangisan Shinacikupun sontak memanggil Naruto

"bolehkah aku mengunjungi Shina?"

"tentu saja.. mampirlah kerumah kami jangan sungkan-sungkan"

Setelah Naruto dan Sakura pergi membawa Shinaciku air mata Hinatapun meleleh tertahankan. Dipeluknya mainan Shinaciku dengan erat. Hinata merasa kehilangan, sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.

.

.

Naruto amat bahagia. Lengkap sudah kehidupanya kini dengan kehadiran Shinaciku ditengah-tengan mereka. Sakura menatap Shina, kini Shina tertidur dalam gendonganya usai menangis.

Naruto membawa Sakura masuk kekamar yang selama ini dia kunci dan tutup rapat. Kamar bayi dengan dekorasi lucu, dengan warna didominasi biru muda. Sakurapun meletakan Shina dalam box bayi

"sayang.."

Naruto mendekap Sakura dari belakang, kini mereka bersama-sama meihat putera mereka tengah tertidur lelap. Suatu hal yang Naruto sangat impikan menjadi kenyataan, jemari Sakura dengan sedikit bergetar menyentuh pipi chuby puteranya yang sedang tertidur, saat jemari Sakura menyentuh Shina, Shina seolah terusik dari tidurnya Sakurapun menarik kembali jemarinya dari wajah Shina.

"tak apa sayang, dia sedang tertidur.."

Sakurapun menatap Naruto masih dengan posisi badan Sakura membelakangi Naruto yang tepat berada dibelakangnya sambil mendekapnya dan menempelkan dagunya dileher Sakura.

"Naru.."

Sakurapun menyandarkan kepalanya pada dada Naruto kemudian membalikan badan. Mereka berpelukan, Naruto tersenyum menatap Shina. Malaikat kecilnya kini berada dirumahnya

.

.

.

Biasanya ketika Sasuke datang kerumah Hinata langsung menyambutnya dengan senyuman hangatnya sambil menggendong Shina dengan wajah berseri. Namun yang Sasuke dapati sepi, dimana Hinata? Dan dimana Shina?

Sasukepun menuju lantai atas kamarnya dan melihat istrinya yang memeluk boneka dengan mata yang sembab

"Hime..."

Khawatir dengan keadaan Hinata, Sasuke mendekat meletakan tas kerjanya dan lengsung memeluk Hinata

"ada apa sayang? Kau sakit?"

".."

Hinata hanya menangis dalam pelukan Sasuke, Sasukepun membelai surai indigo istrinya

"sayang.. kau kenapa? Kalau kau hanya menangis seperti ini aku tidak mengerti.."

"Shina-kun.. hiks.. Shina"

Sasuke menghela nafas, mengetahui arah pembicaraan istrinya

"dobe memberitahuku dia menjemput Shina, kau sedih karena tidak ada Shina?"

Hinata mengangguk dalam pelukan suaminya

"wajar jika dobe menjemput Shina.. Shina anak dobe dan juga Sakura"

"tapi Sasuke-kun.. aku hiks.. aku menyayangi Shina. Dia sudah seperti anak kandungku sendiri"

"aku tau kau menyayangi Shina, akupun menyayangi Shina Hime.. tapi Shina bukan anak kandung kita.. dia anak kandung Naruto juga Sakura"

Hinata mendongakan wajahnya dan menatap onyx suaminya

"tak bisakah kita meminta kepada Naruto agar Shina dirawat saja oleh kita Sasuke-kun?"

Hinata menatap suaminya penuh harap. Permintaan itu jelas tidak mungkin, sekalipun mereka menyayangi Shina. Jelas tidak mungkin Naruto akan begitu saja menyerahkan putera kandungnya, Naruto dan Sakura telah menikah selama empat tahun dan kini mereka baru dikarunia anak. sementara Sasuke dan Hinata belum lama menikah

"kau tau Hime.. permintaanmu sangat tidak mungkin dobe kabulkan"

"..."

Hinata menunduk lemah

"meskipun Shina tidak tinggal lagi dengan kita, tapi kita masih bisa untuk menjenguknyakan?"

Sasuke membingkai wajah Hinata dan menghapus air matanya

"anak itu titipan tuhan sayang.. kalau suatu saat nanti kita dipercaya, kitapun pasti akan dititipkan anak juga.. kau tau dobe dan Sakura sudah lama menikah, Sakura pernah keguguran dan kini tuhan mempercayakan kembali dengan ditititpkanya Shina pada mereka.. kalau tuhan sudah berkehendak pasti.. suatu saat nanti kitapun akan dititipkan anak juga hime"

Perkataan Sasuke seolah menohok hatinya begitu dalam dan begitu tajam. Bagaiman mungkin dia akan hamil sementara rahimnya bermasalah? Dan kehadiran Shinacikulah yang membuat Hinata lupa akan penyakitnya. Tangisan Hinata pecah, sementara Sasuke tidak mengetahui arti tangisan Hinata yang sebenarnya hanya memeluknya erat, mengelus punggungnya dan menjadi sandaran bagi istrinya

.

.

Pagi yang cerah dan indah dikediaman Namikaze dengan diwarnai tangisan bayi yang tak lain adalah tangisan Shinaciku. Narutopun bangun dan mendapati istrinya sudah tidak ada dikasur, Naruto tersenyum lalu bangkit dan berjalan menuju ruangan kamar tempat anaknya berada.

"Sakura-chan.."

Yang Naruto lihat adalah Sakura termenung sambil melihat Shina yang berada dalam box bayi.

Deg

Wajah itu, ekspresi itu, tatapan itu...

"Sakura-chan.. kau.. tak apa sayang?"

Sakura menoleh pelan dan menatap datar suaminya, Kemudian mengangguk perlahan.

"aku akan berangkat ke kantor, Tayuya akan bekerja kembali dirumah ini membantumu merawat Shina. Tsuma ayo kita sarapan"

Sakura menurut, dia mengikuti langkah Naruto menuju dapur. Naruto menyuruh Tayuya untuk menjaga Shina, Shina masih menangis saat digendong oleh Tayuya.

Naruto cemas, namun untunglah kecemasanya tak berarti apa-apa. Sakura meresponya, Sakura mendengarkan dan bisa diajak untuk berkomunikasi walaupun hanya berupa isyarat atau anggukan kecil. Ketakutan itu semula menjalar melihat ekspresi istrinya yang menatap Shina dengan tatapan kosong. Takut kalau istrinya sampai hilang kendali lagi, takut kalau Sakura akan berbuat hal yang berbahaya kalau dia masih dalam keadaan depresi.

Mereka duduk berdua dimeja makan, Naruto menyantap makananya sambil sesekali menatap Sakura yang menyeruput tehnya pelan.

Naruto bangkit dari tempat duduknya menghampiri Sakura dan mencium kening istrinya menjadi kebiasaanya sebelum berangkat bekerja.

"aku berangkat sayang, kalau ada apa-apa hubungi aku yah?"

Sakura mengangguk, Naruto pergi dan baru sampai dipintu depan Naruto berbalik dan menatap istrinya. Kekhawatiran masih meliputi hatinya, Sakura masih duduk dan menyeruput teh hangatnya. Naruto tersenyum, semoga kekhawatiranya tidak berarti apa-apa.

Naruto mengendarai mobilnya pelan menuju kantor. Bertemu dengan beberapa client perusahaan, menghadiri meeting pagi ini dan memeriksa berkas dokument yang baru saja datang. Disela-sela kesibukanya terselip Sakura dan juga Shinaciku dalam fikiranya, ingin rasanya Naruto segera bergegas pulang untuk menemui istri dan juga anaknya. Jam sudah menunjukan pukul tiga sore lebih, biasanya kalau tak ada pekerjaan yang menumpuk menyita waktunya Naruto langsung bergegas pulang untuk menemui istri dan anaknya.

Namun sore ini Naruto ada janji dengan teman lamanya sekaligus psikologis yang menangani Sakura. Naruto memasuki ke sebuah restaurant pinggir jalan, dan mencari-cari temanya. Matanya tertuju pada wanita bersurai pirang platina dengan irish mata violetnya menggunakan kacamata menawan yang tengah duduk memandangi laptop.

Naruto menuju ketempat wanita itu lalu duduk didepan psikolog yang diketahui bernama Aihara Shion

"lama tak berjumpa Naruto.."

Shion menyeruput vanila latte yang telah dipesanya, dan menutup laptopnya saat Naruto sudah datang

"apa aku datang terlambat?"

"tidak, hari ini pasiensku tak terlalu banyak. Bagaimana dengan Sakura?"

Naruto tersenyum saat Shion menanyakan istrinya

"dia sudah mengingat Shina.."

Shion membenarkan letak kaca mata yang bertengger dihidung mancungnya, dan mendengarkan penuturan Naruto dengan seksama tentang istrinya yang sekaligus menjadi pasienya

"dan aku menjemput Shina bersama istriku, beberapa hari dirumah Sakura nampak stabil"

"kau membawa kembali anakmu?"

"ya, aku rasa Sakura sudah sembuh dari depresinya"

"kau tau apa yang kau lakukan berbahaya Naruto.. kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu untuk membawa kembali puteramu ke rumah?"

"maafkan aku, tapi aku begitu merindukan puteraku.. dan Sakura menerima kehadiranya dirumah"

"apa sejauh ini tidak ada yang janggal dengan Sakura?"

Naruto menunduk

"saat aku hendak pergi ke kantor.. Sakura sudah berada dikamar Shina ehm.. dia menatap Shina dengan tatapan kosong. Tapi dia sudah bisa meresponku, bahkan dia mengenaliku sebagai suaminya"

Shion meletakan kembali cangkir kopi yang diminumnya dengan pelan

"aku bisa menarik kesimpulan sejauh ini dari ceritamu Sakura bisa mengenali lingkunganya"

Naruto bernafas lega...

"akan tetapi.."

".."

"aku rasa kau terlalu dini membawa Shina kerumah, aku tak bermaksud untuk menyalahkan tindakanmu membawa Shina karena sebagai orang tua tentu berat harus terpisah dari anaknya. Apa lagi Shina masih bayi dan memerlukan kasih sayang dari orang tuanya. Tapi Naruto... kalau sampai Sakura kembali kalap atau dia menjadi tak terkendali kembali aku sarankan kau membawanya ke pusat rehabilitasi kejiwaan. Aku memang bukan ahli spesialis dalam kejiwaan yang mendalam. Aku hanya psikologis, setidaknya kau membutuhkan seorang terapis psikiater atau dokter spesialis kejiwaan. Sakura membutuhkan penangan khusus untuk itu. Hal yang ditakutkan adalah Sakura tak bisa membedakan lagi mana yang asli atau yang palsu"

Deg

Apa yang dikatakan Shion seolah menghujam jantungnya dengan dentuman yang keras. Naruto menggeleng, tidak.. itu tidak mungkin terjadi. Sakura sembuh, meski belum seutuhnya pulih dari depression post partum. Buktinya Sakura mengenali puteranya, buktinya Sakura bisa menggendong puteranya, buktinya Sakura datang dengan sendirinya kekamar anak mereka saat mendengar tangisan Shina. Naruto menghibur dirinya sendiri, tidak Sakura pasti tidak akan lepas kendali atau sampai kalap lagi. Istrinya sembuh, istrinya sudah kembali. Naruto sebisa mungkin menenangkan hatinya yang gundah, dan seolah meyakinkan diri bahwa Sakura akan segera sembuh. Dan keluarganyapun akan kembali utuh.

"aku mengerti.. terima kasih atas bantuanya Shion"

"tak perlu sungkan, kau dan Sakura adalah teman baiku"

"ngomong-ngomong bagaimana tentang hubunganmu dengan Sasori?"

Seolah tak ingin larut dalam percakapanya menyangkut Sakura, Narutopun mengalihkan topik pembicaraan mereka

"kami akan segera bertunangan"

.

.

Ditaman belakang sambil menatap kosong kolam renang Hinata termenung, memegangi mainan Shina. Apa kabar Shinaciku? Hinata terbiasa mendengar tangis, gelak tawa dan ocehan dari bibir mungil Shina. Meskipun Shina bukan anak kandungnya, tetap saja naluri keibuan Hinata muncul saat merawat dan menjaga Shinaciku. Kini Shinaciku telah pulang ke rumahnya, Hinata merasa kesepian. Saat-saat dirinya merasa rindu dengan malaikat kecil itu, Hinata hanya bisa mengelus mainan Shina sambil merenung atau menatap ponsel melihat beberapa gambar saat Shina bermain. Video Shina dengan ocehanya yang menggemaskan, melihat tingkah lakunya yang membuat Hinata tertawa, atau foto-foto dirinya saat bersama Shina.

Hinata memejamkan mata dan membayangkan dirinya masih bermain bersama Shina. Saat itu Shina sedang asik bermain dengan robot yang diberikan oleh Sasuke. Jemari mungilnya mengacung-acungkan mainan yang tengah dipegangnya kepada Hinata. Sambil tersenyum seolah menunjak bahwa Shina senang mendapat mainan baru. Atau saat dimana Shina sedang makan, ketika itu Shina digendong oleh Sasuke dan Hinata menyuapinya dengan bubur bayi. Shina selalu riang berada ditengah mereka, Shina bahkan jarang menangis atau rewel saat bersamanya.

Hinata menuju lantai atas dan memasuki ruangan yang dulunya ditempati Shina. Boneka-boneka lucu yang berbaris rapi, miniatur mainan, beberapa figura foto yang terpasang masih nampak rapi menghiasi ruangan. Hinata dan Sasuke sengaja membuatkan kamar khusus bukan hanya untuk Shina, tapi untuk kelak calon anak mereka yang Sasuke harapkan suatu saat nanti akan lahir ke dunia. Hinata membuka lemari tempat dimana pakaian Shina masih tertata rapi. Naruto tidak sempat membawanya, pandangan Hinata meredup saat menuju box bayi yang kosong tanpa ada bayi didalamnya. Hanya terdapat bantal kecil bermotifkan karakter kartun lucu, selimut, bantal serta gantungan lucu berhiaskan binatang yang akan berputar dan mengeluarkan suara menenangkan untuk bayi tidur.

Hinata bisa merasakan seolah-olah Shina masih ada dikamar. Dan saat ini dia sedang tertidur pulas dan Hinata menjaganya, namun kenyataan yang Hinata dapatkan adalah. Ruangan itu kosong, seolah mati ditinggal pemiliknya.

Sudah Sasuke duga pasti Hinata seperti ini. Diam-diam saat pulang kerja Sasuke memperhatikan istrinya, saat ditaman belakang bahwa mengikuti istrinya sampai dikamar yang dulunya ditempati Shina. Sasuke menghela nafas panjang..

"hime.."

Hinata diam ditempat tak menjawab panggilan suaminya. Kalau sudah begini Sasuke menjadi bingung harus berbuat apa. Istrinya begitu menyayangi Shina, dan seolah kehilangan semangatnya untuk hidup semenjak Shina pergi.

"nanti kita kerumah dobe yah? Menengok Shina.."

Bujuk Sasuke

.

.

.

TBC

.

.

A/N :

Uchiha cullen738 : insyAllah author usahakan updaye, tapi tenang sasuhina gak akan selamanya sedih ko. jangan lupa reviews lagi xD

28 : jangan lupa reviews lagi yah

paijo payah : ini cuman untuk bumbu cerita ko hehe meskipun author akuin sedikit mainstream juga. jangan lupa reviews laagi yah

Ae Hatake : ini cuman buat bumbu cerita ko biar romance narusakunya lumeer xD, jangan lupa reviews lagi yah

Aion Sun Rise : sepertinya di chap sekarang ada momentnya, jangan lupa reviews lagi yah

Sasorikun's wife : yosh author usahakan ko, namanya juga bumbu cerita hehe. jangan lupa reviews lagi yah

Loray 29Alus : jangan lupa reviews lagi yah

guest : argatou reviewsnya, memang jalan ceritanya author buat seperti itu bukan tanpa karena alasan ko. makasih juga untuk infonya tentang psychosis post partum. author cuman baca sekilas artikelnya jadi mungkin fic ini memang banyak kekuranganya. yosh.. jangan lupa reviews lagi yah.

.

.

akhirnya setelah sekian lama fakum bisa up juga. yah meskipun tau wordsnya kurang banyak kan -_- .. berhubung author udah mulai kuliah jadi buat nulis fic sedikit ngaret, tergantung tugas kuliahnya juga sih ntar. wkwk. oke arigatou buat yang masih setia ngikutin fic Shionna ini. jangan lupa revews, karena reviews kalian adalah semangat author :) ..

jaa_nee...