A/N : saya pribadi belum pernah terlibat di upacara minum teh khas Jepang. apa yang saya tuliskan di bawah ini berdasarkan artikel dan video yang saya lihat di internet. apabila terjadi kesalahan urutan upacaranya, saya mohon maaf dan plis jangan bully saya. dan di chapter ini, saya masukkan OTP saya motochika/masamune. yg gak suka, jangan baca! utk yg lain, selamat membaca...


Shogun Ashikaga Yoshiteru mengajak semua daimyo undangannya ke bangsal kecil di tengah taman yang berdekatan dengan ruang minum teh. Semuanya mengenakan kimono musim semi khas wilayah masing-masing, termasuk Shogun sendiri. Dia duduk paling depan, dekat dengan Masamune sebagai penyaji minum teh. Duduk di sampingnya, Kojuuro dan 2 orang pengawal pribadi Shogun. Sebagai tamu, turut hadir para daimyo besar seperti Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan 3 orang jenderal kepercayaannya yaitu Takenaka Hanbei, Tokugawa Ieyasu, dan Ishida Mitsunari, Takeda Shingen dan jenderal mudanya yaitu Sanada Yukimura, Uesugi Kenshin, para penguasa lautan barat yaitu Chosokabe Motochika, Mouri Motonari, dan masih banyak lagi.

Shogun bermata cokelat itu lalu membuka pertemuan, "Selamat datang para daimyo besar negeri ini. Aku sebagai Shogun sangat bahagia menerima kedatangan kalian di istana Muromachi ini. Festival Musim Semi ini akan berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Aku sangat berharap kalian sudi kiranya bermalam di istana ini demi ikut memeriahkan festival ini. Aku ingin menjadikan festival ini sebagai wujud perdamaian di antara para daimyo di Jepang. Tidak ada pembicaraan tentang peperangan dan isu politik apa pun di istana ini. Nah, di hari yang istimewa ini, aku mengadakan upacara minum teh. Sebagai penyaji, aku mengundang sahabatku dari timur, daimyo besar Oshuu, Date Masamune."

Begitu namanya disebut, Masamune membungkuk dan memberi hormat kepada semua tamu. Sekali ini saja dia bersikap tidak sesuai dengan perangai aslinya. Upacara minum teh adalah ritual yang sangat khidmat, tidak boleh dilakukan asal-asalan dan sembarangan. Sebagai orang yang menjunjung tinggi nilai kebudayaan, Masamune harus memberikan contoh yang baik kepada para tamu yang hadir di sini.

"Sahabatku Dokuganryu, mari kita mulai," perintah Shogun kepadanya.

"Alright," jawab Masamune singkat.

Beberapa detik Masamune memejamkan mata, dia menarik nafas panjang demi menenangkan hatinya. Sebisa mungkin dia menyingkirkan perasaan tegang supaya tidak melakukan kesalahan. Yang pertama kali dilakukan olehnya adalah membersihkan semua peralatan penyajian minum teh. Mulai dari mangkuk teh, wadah bubuk teh, sendok bubuk teh, dan pengaduknya yang terbuat dari bambu. Setelah semua piranti dibersihkan, Masamune membungkuk dan berkata, "Saya akan memulai membuat tehnya."

Mangkuk teh yang terbuat dari keramik itu dikeringkan dengan saputangan berwarna merah. Setelah kering, dia memasukkan 3 sendok bubuk teh dan menuang air panas. Setelahnya dia mengaduk beberapa kali sampai bubuk tehnya larut. Mangkuk berisi teh hijau itu diputar 2 kali dan diberikan kepada Shogun sebagai orang pertama. Pria berkumis tipis itu mengangkat mangkuktehnya dan menghirupnya lebih dulu. Dia sangat suka aromanya. Kemudian dia meminumnya sedikit dan berkata, "Aku tidak percaya! Enak sekali!"

Masamune membungkuk mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Ashikaga meminum sekali lagi tehnya sebelum kemudian berkata, "Teh yang sangat lezat itu tidak hanya tergantung dari bahan dasarnya. Tetapi juga dari cara penyajiannya. Kau, Sahabatku, sangatlah terampil dalam menyajikannya."

"Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia," jawab Masamune. "Saya hanya sekedar mempraktekkan apa yang telah diajarkan leluhur Date kepada saya."

"Maukah kau membuatkan satu mangkuk lagi untukku, Sahabatku?"

"Sure," dan Masamune pun melakukannya. Setelah Shogun selesai meminum teh keduanya, dia membuat 1 mangkuk lagi yang kemudian diserahkan kepada Kojuuro. Mata Kanan Naga itu terkesima melihat kepiawaian tuannya menjadi penyaji. Ini pertama kalinya setelah beberapa tahun Masamune absen menjadi penyaji di upacara khidmat ini. Apalagi Shogun telah memuji hasil tehnya, dia yakin lidahnya akan dimanjakan dengan rasa lezat teh buatan tuannya.

"Anda benar, Yang Mulia Shogun. Teh ini enak sekali," kata Kojuuro setelah meneguk sekali teh dari mangkuk keramiknya.

Masamune membuat teh di mangkuk ketiga dan diberikan kepada Oda Nobunaga. Dari daimyo Owari itu, mangkuk teh berpindah tangan ke beberapa daimyo sampai ke orang terakhir. Semuanya sepakat mengatakan bahwa teh buatan daimyo Oshuu itu enak sekali. Senyum kepuasan tergambar di wajah Masamune. Dia membungkuk dan mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Dia kemudian memberi perintah kepada para pelayan istana untuk menyajikan teh di beberapa mangkuk dengan kadar kekentalan yang rendah. Camilan manis dan gurih juga disajikan untuk para tamu.

Selagi semuanya sedang larut dalam percakapan santai, Shogun Ashikaga berbicara kepada Masamune, "Kapan nanti aku bertandang ke Oshuu, aku ingin menikmati teh buatanmu lagi, Sahabatku."

"My pleasure, Your Highness," jawab Masamune sopan.

Upacara minum teh hari itu selesai tepat saat matahari terbenam. Masuk pada tahap terakhir, Masamune mulai membersihkan semua peralatan minum teh dan disaksikan oleh semua tamu. Sendok bubuk teh, pengaduk dari bambu, mangkuk minum teh, semua dicuci dengan air panas dan dikeringkan dengan sapu tangan berwarna merah. Semua peralatan itu dipajang lebih dulu dan Masamune mengizinkan semua tamu memeriksanya. Selesai itu, Masamune membungkuk dan mengucapkan terima kasih sudah hadir dan menikmati teh sajiannya. Para tamu keluar dari ruang minum teh untuk kembali ke bangsal istana.

"Sahabatku Dokuganryu," panggil Ashikaga dari balik pintu keluar. Masamune menghampirinya dan berlutut di belakang pintu. Dia mendengarkan Shogun itu berkata, "Arena tanding akan segera disiapkan. Kita akan bertanding besok pagi, bagaimana menurutmu?"

"Saya pun siap kapan saja, Yang Mulia. Malam ini juga Anda siap, saya pun demikian," jawab Masamune.

"Karena matahari sudah terbenam, kita makan malam dan beristirahat dulu di sini."

Masamune mendengus tertawa dan berkata, "Anda tidak melarikan diri kan, Yang Mulia?"

"Tenang saja, Sahabatku. Aku tidak akan ke mana-mana. Besok pagi adalah waktu yang sangat tepat untuk bertanding. Kau juga lelah, bukan? Perjalanan jauh dari Oshuu pasti sangat menyita tenagamu. Istirahatlah, nikmati sajian makan malam dari juru masak istana. Kau harus mencoba arak terbaik istana ini."

-000-

Malam itu, selesai acara makan malam di bangsal istana, Masamune didampingi Kojuuro kembali ke kamar mereka menginap. Dia senang mendapat kamar dengan pemandangan terbaik. Dia melepas semua atribut kimono musim semi dan berganti dengan yukata yang ringan. Dia duduk di dekat jendela, sementara Kojuuro menuangkan arak di dekatnya.

"Silakan, Masamune-sama," kata Kojuuro menyajikan gelas keramik berisi arak.

Sejenak Masamune enggan meminumnya, dia hanya memegang gelasnya dan memandang keluar jendela. Angin sejuk musim semi menerpa wajahnya. Dia berkata, "Kojuuro, bagaimana menurutmu penampilanku hari ini?"

"Anda menampilkan yang terbaik, Masamune-sama. Bahkan Yang Mulia Shogun sangat terkesan."

"Apakah aku melakukan kesalahan saat menjadi penyaji tadi?"

"Saya tidak menemukan satu pun kesalahan. Anda melakukan dengan baik."

Masamune meneguk araknya, lalu berkata, "To be honest, aku sangat gugup saat itu. Aku sengaja menghindari banyak pembicaraan dengan siapa pun, termasuk Shogun, supaya tidak menambah gugup."

"Yang penting, Anda telah menunjukkan keahlian sebagai penyaji di upacara minum teh dengan baik. Saya yakin para daimyo pun terkesan dengan penampilan Anda."

Sekali lagi Masamune meneguk araknya sampai habis. Dia menyerahkan gelas keramik itu kepada Kojuuro lalu berdiri, masih menghadap jendela kamar. Dia berkata, "Besok akan ada pesta yang sangat meriah, sangat dinanti oleh para tamu."

"Perihal Anda menantang Shogun beradu pedang, Masamune-sama?" tanya Kojuuro.

"Aku tidak sabar ingin mengayunkan 6 cakarku di depan mata Shogun itu. Aku ingin membuatnya bertambah terkesan dengan kehebatanku dalam bermain pedang. Aku sudah berjanji akan menjadi lawan yang setimpal untuknya."

"Tetapi Anda tidak mempersiapkan apa pun saat hendak berangkat ke sini, Masamune-sama. Kita datang kemari bukan untuk berperang, melainkan hanya menjadi tamu."

"Jangan khawatir, Kojuuro. Aku sudah beberapa minggu absen dari peperangan, bukan berarti tubuhku lantas menjadi kaku saat harus beradu tanding dengannya. Aku hanya sekedar mencoba kekuatannya. Jika dia lebih kuat dariku, maka dia layak menjadi Shogun. Tetapi jika dia tidak bisa mengalahkanku di pertandingan besok, aku akan menyuruhnya menulis namaku di urutan pertama pada daftar penggantinya menjadi Shogun di kemudian hari."

Kojuuro menghela nafas dan berkata, "Anda benar-benar nekad, Tuanku."

"Relax, Kojuuro. Kau hanya perlu duduk diam menjadi penonton di pertandingan besok. Aku tidak akan mengizinkanmu memberikan bantuan jika aku mengalami kesulitan."

Ketika Masamune hendak melangkah keluar dari kamar, Kojuuro memanggilnya, "Ini sudah malam, Masamune-sama. Tamu yang lain mungkin juga sudah tidur. Anda pun harus beristirahat."

"Kau tidur saja duluan, Kojuuro. Aku mau jalan-jalan sebentar."

"Berjanjilah untuk tidak mencari kekacauan lain, Tuanku."

Masamune mendengus tertawa dan berkata, "Aku bukan anak kecil. Aku tahu apa yang aku lakukan. Jya, good night!"

Keluar dari kamarnya, Masamune berjalan menyusuri koridor panjang dan memandang ke luar balkon istana. Dia membawa pipa tembakau yang sudah dibakar sebelum dia keluar kamar tadi. Bulan purnama bersinar terang, langit malam itu bertabur bintang. Dari kejauhan, dia mendengar suara musik dan riuh rendah orang-orang yang sedang berpesta. Festival Musim Semi tampaknya tidak akan berhenti sampai nanti fajar menyingsing. Karena dia berada di lantai 2 bangunan istana, dia memandang ke bawah dan mendapati pohon-pohon sakura yang sedang bermekaran. Sinar bulan malam itu menambah indah warnanya.

Naga Bermata Satu itu berhenti berjalan dan berdiri bersandar pada balkon. Dia menghisap pipa tembakaunya, mengepulkan asap ke udara lewat mulutnya. Ketenangan mengalir dalam tubuhnya seketika. Kemudian lamunannya buyar ketika seseorang menyapanya, "Penyajian yang luar biasa, Dokuganryu. Kau begitu terampil membuat dan menyajikan teh di acara siang tadi. Aku sungguh terkesan!"

Masamune menoleh dan mendapati sosok tinggi tegap berambut perak melangkah mendekatinya. Pria itu mengenakan yukata berwarna ungu dan menampilkan dada bidangnya yang dibalut perban. Dia melanjutkan, "Bukankah seharusnya kau beristirahat untuk acara besok?"

"Aku terlalu bersemangat untuk menyambut hari esok, Saikai No Oni," jawab Masamune sambil menyeringai.

Chosokabe Motochika mengangkat botol arak dan menawarkan kepada Masamune. Namun Naga Bermata Satu itu menolak dan lebih memilih menghisap tembakau daripada minum arak. Keduanya kini berdiri bersandar pada balkon, memandang langit berbintang di atas sana.

"Aku pikir kau akan menghabiskan waktumu dengan tetanggamu dari Aki," kata Masamune.

"Keh! Aku bosan hampir setiap hari berseteru dengannya," jawab Motochika ketus. "Kami bersitegang tidak selamanya soal Setouchi. Ada hal-hal administratif yang kadang kami perdebatkan dan aku sampai bosan mengurusnya."

"Oh, ini pertama kalinya aku mendengar Tuan Bajak Laut dari Barat bercerita tentang urusan administrasi negaranya. Apa yang terjadi?"

"Intinya, dia itu sangat pelit! 3 tahun yang lalu, Shogun memberlakukan pajak perairan. Kami sudah sepakat untuk membagi beban pajak sama rata supaya tidak terlalu berat membayarnya. Tetapi Mouri malah membebankan semua pajak itu padaku dengan alasan dia bermukim di daratan. Tidak masuk akal, bukan? Dia kan penguasa Setouchi juga!"

"Harusnya memang bisa dibagi rata dan dia tidak boleh mangkir dari kewajibannya. Apa kau sudah membicarakan hal ini kepada Shogun?"

"Pajak perairan tetap berlaku dan Shogun mewajibkan semua penguasa perairan Jepang membayarnya. Tanpa terkecuali, termasuk Mouri. Hah! Biar tahu rasa dia! Tidak rugi kok membayar pajak! Yang menikmati hasilnya juga kita. Tidak semata-mata untuk kepentingan negara saja."

"Kau benar. Oshuu tadinya sedikit keberatan dengan beban pajak yang ditetapkan negara. Tapi lambat laun, kami pun memperoleh hasilnya. Kami mendapat banyak bantuan dari negara untuk keperluan pertanian rakyat."

Motochika tertawa dan berkata, "Jarang sekali kita berbicara mengenai hal-hal kenegaraan macam ini, bukan? Biasanya berbicara soal angkatan perang, persenjataan, strategi, perjanjian persekutuan, perjanjian damai. Sedikit membosankan untukku. Bagaimana menurutmu, Dokuganryu?"

"Same with me. Aku sampai meliburkan prajuritku dari tugas berperang karena aku ingin Oshuu dalam keadaan tenang sampai lewat musim semi. Mungkin aku akan melakukan ekspansi lagi setelah ini. Dan tentunya, aku akan ekspansi sampai ke wilayahmu, Saikai no Oni."

"Aku tunggu kedatanganmu, Dokuganryu. Jika nanti kau tiba di Setouchi, aku akan mengajakmu menikmati pesta di kapalku. Ngomong-ngomong katakan padaku, apa yang mendorongmu menantang Shogun beradu pedang?"

Setelah menghisap tembakaunya, Masamune menjawab, "Aku hanya ingin mencari kesenangan di festival yang membosankan ini, Motochika. Yah, itu alasan pribadi saja sebenarnya. Tapi yang pasti, aku ingin menjajal kekuatannya. Aku ingin tahu seberapa hebat dan kuat dia sehingga bisa diangkat menjadi Shogun."

"Bicara soal kekuatannya, aku perlu mengingatkanmu satu hal, Masamune."

Bajak Laut dari Barat itu lalu merapatkan posisi berdirinya kepada Masamune. Kedua bahu mereka bersentuhan. Dia melanjutkan, "Kita tidak tahu jurus-jurus macam apa yang dia simpan di bawah lengan bajunya. Tetapi aku bisa merasakan bahwa dia akan mengalahkan kita dengan cara lain."

"Bagaimana dia akan mengalahkanku?" tanya Masamune.

"Dia akan membuatmu bersemangat bertarung melawannya. Kau akan melihat pertarungan itu seperti sebuah pertarungan yang amat serius. Begitu semangatmu berada dalam genggamannya, kau tidak akan bisa keluar dari permainannya. Dia akan menjadikan itu sebagai kelemahanmu, dan dia akan dengan mudah mengalahkanmu."

"Semacam memanipulasi emosi, begitu?"

"Intinya kau harus tetap terjaga selama bertanding melawannya. Kau boleh bersemangat, tapi jangan berlebihan. Terkadang orang begitu bernafsu berperang setelah menemukan lawan yang setimpal. Sekalinya bertarung, dia tidak akan berhenti sampai lawannya mati."

"Bernafsu…dalam berperang…" gumam Masamune sambil menghisap pipanya. Dia menghembuskan asap cukup banyak ke udara. Pandangannya masih tertuju pada langit hitam berbintang di atasnya. "Mengerikan, tapi aku tertarik. Apa yang terjadi jika aku larut dalam pertandingannya?"

"Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu dari sana, Dokuganryu. Bahkan aku, atau Katakura-dono sekali pun. Shogun itu akan memancing emosimu, membakar semangatmu, sampai kau dibutakan oleh keinginan terbesarmu. Yaitu mengalahkannya."

"Mengapa itu sangat berbahaya? Dengan semangat yang menggelora, aku bisa mengalahkannya. Sekuat apa pun dia, aku pasti bisa mengalahkannya. Tehnik pedangku jauh lebih baik darinya."

"Ini bukan masalah tehnik pedang, Sayang," Motochika kemudian merangkul pundak Masamune dan menariknya mendekat kepadanya. Dia merasakan kepala Masamune bersandar pada lehernya. Dia melanjutkan, "Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak. Bersabarlah sampai hari esok tiba. Kau akan membuktikan sendiri apa yang kuceritakan barusan."

"I understand…" balas Masamune sambil menghela nafas panjang. Dia hendak menghisap pipa tembakaunya. Namun sebelum ujung pipa itu menyentuh bibirnya, Motochika menariknya dari tangannya. Pria berambut perak itu mendekatkan wajahnya kepada Masamune. Mata birunya bertemu dengan mata kelabu laki-laki di rangkulannya. Masamune menengadah, sedikit berharap akan sesuatu. Motochika pun mengharapkan sesuatu yang mungkin sama dengan yang dia harapkan. Yang terjadi kemudian adalah pria berkulit gelap itu mendenguskan hidungnya di rambutnya yang lebat.

"Na, Dokuganryu," katanya kemudian. "Berjanjilah untuk tidak berbuat kekacauan lebih dari ini."

Naga Bermata Satu itu tertawa pelan dan berkata, "Kau dan Kojuuro mengatakan hal yang sama. Menurutmu, kekacauan apa yang sudah kubuat? Aku bahkan belum melakukan apa pun."

"Tetapi tindakanmu sungguh berani. Kau membuat daimyo lain terkejut, termasuk aku."

"Kau khawatir padaku, hm?" Masamune menengadah, menyeringai dan menatap dalam mata biru Motochika.

"Tidak juga sih. Karena aku yakin kau bisa mengatasi semuanya sendiri. Tapi, hey! Aku serius! Jangan berbuat kekacauan lebih dari ini!" Motochika gemas dan langsung mendekap erat Masamune.

"Kalau tidak begini, festival di istana Muromachi akan sangat membosankan, you see? Aku akan baik-baik saja. Besok duduklah di baris depan bersama Kojuuro dan lihat bagaimana aku akan membuat Shogun itu bertekuk lutut di depanku."

Motochika tertawa dan melepaskan dekapannya dari Masamune. Dia mengembalikan pipa tembakau itu kepadanya dan berkata, "Kembalilah ke kamarmu sekarang."

"Sebentar lagi. Tembakaunya masih banyak," balas Masamune sambil menghisap pipanya.

"Mau kutemani?"

"Tidak usah, kau duluan saja."

Hembusan asap dari mulut Masamune setelah menghisap pipa tembakau membumbung ke udara, mengaburkan pandangan matanya yang kembali terarah ke langit berbintang. Dia tidak tegang sama sekali, dia malah terlihat tenang. Seakan besok tidak akan terjadi apa-apa. Yang dia harapkan malam ini adalah dia bisa tidur nyenyak, bisa bangun pagi dalam keadaan segar bugar, dan siap bertanding melawan Shogun.

Festival Musim Semi tahun ini tidak akan membosankan sepertinya…

-to be continue-


Chapter 3 coming up next!