A/N : battle scene antara Ashikaga vs Masamune saya ambil gambarannya dari game Basara 4 Sumeragi. saya berusaha sebisa mungkin meringkas detail adegan mereka biar gak terlalu panjang. silakan lilat gameplay mereka berdua di Basara 4 Sumeragi utk lebih jelasnya.
Pagi itu, para pekerja istana sibuk mempersiapkan sebidang tanah lapang yang luas untuk dijadikan arena tanding Shogun Ashikaga Yoshiteru melawan Date Masamune. Sebuah panggung kecil didirikan untuk tempat duduk para daimyo yang ingin melihat. Arena berbentuk lingkaran besar itu dipagari pembatas dari kain panjang. Rakyat pun diperbolehkan menonton pertandingan ini, dengan catatan tidak boleh melewati kain pembatas tersebut. Bendera berwarna warni dipasang hampir di setiap sisi arena, termasuk bendera klan Date dan bendera lambang kebesaran Shogun. Sekelompok pria berseragam pemain Taiko sedang membersihkan peralatan mereka di dekat arena. Atas perintah Shogun, supaya pertandingan ini lebih bersemangat, pukulan kuat di alat musik berbahan kulit lembu itu sangat diperlukan.
Arena tanding telah siap tepat setelah Shogun dan para daimyo menyelesaikan sarapan pagi di bangsal istana. Date Masamune didampingi oleh Katakura Kojuuro bergegas menuju ruang persiapan di dekat arena tanding. Dia melepas semua atribut kimono musim semi dan berganti dengan pakaian berperang. Hampir sebulan lebih dia absen dari peperangan, dia sedikit merindukan pelindung besi di seluruh tubuhnya, rompi biru khas miliknya, pelindung kepala dengan lambang bulan sabit, dan 6 pedangnya.
"Persiapan sudah selesai, Masamune-sama. Sudah saatnya Anda keluar ke arena tanding," kata Kojuuro sambil mengencangkan ikat pinggang tuannya.
"Kojuuro, kau mau tahu apa yang kurasakan sekarang?" tanya Masamune kemudian berbalik menghadap Kojuuro. Dia menghela nafas dan melanjutkan, "Aku sangat tegang, aku sangat gugup. Bukan karena aku takut, tetapi karena aku sangat bersemangat. Aku sudah tidak sabar ingin mengayun pedang-pedangku melawan Yang Mulia Shogun."
"Masamune-sama…"
"Kau mungkin masih bertanya, untuk apa aku mengajaknya bertanding pedang. Sekedar mencoba kekuatannya? Tidak hanya itu, Kojuuro. Mencari kesenangan? Tidak juga. Apakah ini menguntungkan bagiku? Ya, aku bisa bilang ini sangat menguntungkan. Jika dia adalah lawan yang sangat kuat, aku akan mencoba untuk bisa lebih kuat darinya."
"Saya hanya bisa mendoakan semoga kemenangan berpihak kepada Anda, Masamune-sama. Saya ingin Anda tetap berhati-hati."
"Don't worry, duduklah dengan tenang di bangku penonton bersama para daimyo. Perhatikan bagaimana aku akan mengalahkan Shogun. Aku akan mengeluarkan semua kemampuanku."
Sejenak Masamune hendak keluar dari ruang ganti. Namun kemudian dia menghentikan langkahnya dan berkata kepada Kojuuro, "Aku ingin kau melakukan sesuatu, Kojuuro."
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?" tanya Kojuuro, memandang cemas ke punggung tuannya.
"Jika di pertandingan nanti mendadak aku tidak bisa mendengar suara siapa pun yang memanggil namaku, aku ingin kau masuk ke arena tanding dan memukul kepalaku dengan kuat sampai aku pingsan."
"A-apa maksud Anda, Masamune-sama? Mengapa harus-"
"Lakukan saja, Kojuuro!" tukas Masamune cepat. "Lakukan saja, jangan membantah. Ini perintah. Tidak usah banyak bertanya, OK?"
"Setidaknya jelaskan kepada saya mengapa Anda memberi perintah itu!"
"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya! Aku tidak ingin membuat Yang Mulia Shogun menunggu kehadiranku di arena tanding. Pokoknya lakukan sajalah, tidak usah banyak tanya!"
Membuang segala keraguan dan ketegangan dalam dirinya, Masamune melangkah keluar dari ruang ganti. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Ketika dia tiba di pintu masuk arena, dia bertemu Sanada Yukimura. Jenderal Muda dari Kai itu menyapanya, "Masamune-dono! Aku salut akan keberanianmu menantang Shogun bertanding pedang. Bahkan Oyakata-sama mengakui sikapmu yang sungguh berani itu."
"Sampaikan salamku kepada Takeda-ossan. Perhatikan baik-baik bagaimana daimyo terkuat di negeri ini mengalahkan pemimpin nomer 1 di Jepang. Duduklah di barisan depan, Sanada! Supaya kau bisa jelas melihatku bertanding," kata Masamune bersemangat.
"Tentu! Semoga berhasil, Masamune-dono!"
Pintu masuk arena dibuka, terdengar suara tabuhan Taiko berirama menyemangati pertandingan hari ini. Para penonton, termasuk para daimyo, begitu antusias menyaksikannya. Matahari pagi begitu hangat menyinari arena berbentuk lingkaran besar ini. Rakyat yang menonton sangat bersemangat. Mereka mengelu-elukan nama Masamune dan Shogun. Kedua belah pihak kini sudah masuk ke Ashikaga Yoshiteru menggenggam baton berwarna merah hitam di tangan kanannya. Baton itu diangkat ke udara, seketika itu suara riuh rendah penonton berubah menjadi senyap.
"Selamat datang di arena tanding Istana Muromachi," sambut Ashikaga kepada semua oang yang hadir di sini. "Selamat datang pula kuucapkan kepada sahabatku Dokuganryu, Date Masamune. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh semua orang. Aku menjadikan pertandingan kita ini bagian dari kemeriahan Festival Musim Semi. Tak kusangka, orang sehebat dan sekuat dirimu mau menantangku bertanding pedang. Aku sangat berharap ini akan menjadi pertandingan yang sangat menghibur. Apakah kau setuju denganku, Dokuganryu?"
"Certainly!" sahut Masamune bersemangat. Dia menghunus satu pedangnya dan diarahkan kepada Shogun. Dia melanjutkan, "Pertandingan ini akan menjadi party yang sangat menarik dan menghibur. Tidak hanya untuk saya, untuk Anda, tapi untuk semua orang yang menonton di sini."
Ashikaga menyeringai dan berkata, "Aku bisa melihat sorot matamu yang sangat haus akan peperangan. Aku bisa merasakan semangatmu yang membakar jiwamu."
Masamune pun balas menyeringai dan berkata, "Anda menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini, tentunya bukan sebatas karena Anda adalah keturunan dari Shogun sebelumnya. Saya ingin membuktikan kekuatan Anda, kehebatan Anda, apa pun yang membuat Anda kuat berdiri di kedua kaki Anda saat ini."
Tawa Shogun bermata cokelat itu meledak. Kedua tangannya bertelak di pinggang dan dia berkata, "Aku sangat terkesan! Benar-benar menarik! Baiklah, kita mulai pertandingannya sekarang!"
Pada posisi siapnya, Masamune menghunus tidak lagi 1 pedangnya. Pertandingan ini adalah sesuatu yang sangat serius, maka itu dia ingin mengeluarkan semua kekuatannya. Dia menghunus 3 pedangnya, menjadi cakar di tangan kanannya. Di hadapannya, Ashikaga berdiri siaga dengan baton merah hitam di genggamannya. Baton itu berputar cepat di telapak tangannya. Masamune masih tidak tahu senjata apa yang dimiliki Shogun sekarang. Baton itukah senjatanya? Sehebat apa jika dibandingkan 6 cakarnya?
"Bersiaplah…Ashikaga!" tanpa ragu, Masamune melesat cepat ke arah Ashikaga dan menyerangnya dengan 3 pedangnya. Dia dibuat terkejut setengah mati mengetahui serangannya dihentikan dengan cara yang sama pula. Ashikaga juga menghunus 3 pedang dan digenggam dengan cara yang sama sepertinya.
"Shit!" Masamune melompat menjauh dan bersiap menyerang lagi.
"Hahaha…benar, seperti itu! Serang aku lagi, Dokuganryu!" tantang Ashikaga.
Pada pertandingan awal, Masamune dibuat sibuk menyerang karena Ashikaga sukses menahan semua tehnik 3 cakarnya. Segala macam jurus dikeluarkannya, dan Shogun itu dengan mudah menangkisnya. Seakan semua serangannya dianggap enteng dan tidak serius.
"Serang aku, Ashikaga!" seru Masamune sambil menghantam 3 pedangnya yang kemudian ditangkis oleh baton Ashikaga. Dia tidak lagi menggunakan bahasa sopan seperti waktu dia sedang menyajikan teh.
"Bagaimana aku akan menyerang jika kau menghantamku bertubi-tubi seperti ini, hm?" balas Ashikaga sambil menyeringai.
"Jangan bohong! Aku tahu kau sedang mengamatiku! Hell Dragon!"
Jurus yang dikeluarkan Masamune mampu memukul mundur Ashikaga. Namun Shogun itu masih bisa berdiri di kedua kakinya. Batonnya terhunus siaga, kini dia yang melesat menyerang Masamune. "Hyah!" dari sisi warna hitam batonnya, terlipat keluar sebilah pedang. Dia memutar badannya dan langsung menghunus pedangnya ke arah Masamune. Bilah besi tajam mereka beradu cepat, dentingnya terdengar sangat berusaha sekuat tenaga bertahan pada posisinya, namun tak disangkanya jika Ashikaga demikian kuatnya.
Keduanya kini berjarak, mengatur nafas mereka yang tersengal. Masamune melihat baton Ashikaga kembali ke bentuk semula. Dia sudah menduga, baton itulah senjatanya. Dia masih berpikir dari mana Shogun itu mendapat 3 pedang sekaligus dan langsung menghilang dalam hitungan detik. Masih ada senjata lainnya yang belum dikeluarkan, ini semakin menambah penasaran Masamune. Dia tidak lagi menggunakan 3 pedangnya. Sekarang 6 pedangnya dikeluarkan dan dia bersiap menyerang.
"Kau bisa melakukan ini, Ossan? Hyah!" secepat kilat, Masamune menyerang Ashikaga dengan 6 pedangnya.
Seperti sudah bisa membaca pergerakkan lawan, Ashikaga dengan mudah menangkis 6 pedang Masamune. Sisi merah batonnya mengeluarkan trisula. Dia memuntir keenam pedang Masamune sehingga bilah-bilah pedang itu tidak lagi berada di genggaman tangannya. Ini sontak membuat semua daimyo berdiri dan heran. Ashikaga benar-benar melumpuhkan daimyo besar dari Oshuu itu tanpa kesulitan.
"Damn it!" gerutu Masamune kesal. Secepatnya dia berlari dan mengumpulkan 6 pedangnya. Dia melesat menyerang Ashikaga yang sekarang menangkis setiap hantamannya dengan trisula itu. Gerak tangan pria berambut cokelat terang itu cepat dan cekatan. Serangan Masamune bisa dibacanya dengan mudah.
"Tunjukkan lagi jurus-jurusmu, Dokuganryu! Aku yakin kau masih punya banyak cara untuk mengalahkanku!" kata Ashikaga menantangnya.
"Kau juga, Ossan! Batonmu bukan satu-satunya kekuatan yang kau punya kan?" balas Masamune bersemangat.
"Mari kita buktikan! Hyah!" Ashikaga memukul mundur Masamune. Batonnya lalu dilempar ke udara. Entah dari mana munculnya, tiba-tiba ribuan pedang jatuh menghujam tanah dan mengelilingnya. Pedang-pedang itu siap dipakai untuk menyerang.
"Amazing! Kau keren sekali, Ashikaga!"
Mereka pun akhirnya beradu masih menggunakan 6 pedangnya dan dia menyerang tanpa ampun. Ashikaga bertahan dengan 2 pedang di kedua tangannya. Dia sama sekali tidak kesulitan menangkis setiap serangan Naga Bermata Satu itu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan yang ini?" tiba-tiba Ashikaga menghunus 6 pedang dan dipegang dengan cara yang sama seperti Masamune. Dengan segenap kekuatannya, dia memukul mundur Masamune menjauh. "Uwah!" sekali lagi, 6 cakar naganya terlepas dari genggamannya. Laki-laki bermata satu itu jatuh tersungkur di tanah saking tidak kuatnya menahan serangan Ashikaga.
"Berdiri, Dokuganryu," kata Ashikaga sambil menyeringai.
"Diam, Ossan! Tanpa kau suruh, aku juga bisa berdiri sendiri!" bantah Masamune. Kedua tangannya gemetar ketika memungut 6 pedangnya. Sekali lagi dia dibuat tidak berdaya. Bagaimana Shogun itu bisa meniru jurus pedangnya? Gelarnya sebagai ahli pedang terbaik di negeri ini nampaknya bukan sekedar gelar. Dia telah membuktikannya, di arena tanding yang menegangkan ini.
"Kau itu apa sebenarnya, Ashikaga?" tanya Masamune, sorot matanya tajam menatap Shogun yang berdiri di depannya.
"Sei-i Taishogun, Ashikaga Yoshiteru," jawab Ashikaga tenang.
"Aku tidak mengerti. Kita bahkan tidak pernah berhadapan sebelumnya. Tapi kau bisa menghunus 6 pedang seperti aku. Bagaimana kau melakukannya?"
"Semua pemain pedang seharusnya bisa melakukan hal yang sama, benar?"
"Tidak ada yang bisa mengunus 6 pedang sekaligus kecuali aku! Daimyo besar Oshuu, Date Masamune! Lawan aku dengan kekuatanmu yang sesungguhnya! Jangan meniru jurus orang lain!"
Ashikaga tertawa dan berkata, "Apakah itu sama dengan kau tidak mau mengakui kehebatanku bisa meniru semua jurusmu? Apa kau melihat pantulanmu pada diriku, hm? Mengalahkanmu dengan cara seperti ini seharusnya lebih mudah, benar?"
"Shut up! Tunjukkan kekuatanmu, Ossan!"
Sekali lagi Shogun itu tertawa. Dia tampak puas bisa memanas-manasi Naga Biru itu. "Baiklah, pemanasanku sudah cukup. Sekarang bagian intinya…" gumamnya. Dia membuka kedua tangannya. Pedang-pedang yang sangat banyak itu lalu menghilang dalam hitungan detik. Baton miliknya kembali dalam genggaman tangannya.
"Dari mana aku akan menyerangmu sekarang? Hmm…kita coba dengan yang ini!" Batonnya lalu berubah menjadi busur panah yang sangat besar. Secara ajaib, Ashikaga menarik 1 anak panah dan diarahkan kepada Masamune. "Bersiaplah, Dokuganryu!" serunya kemudian melepas anak panah itu dengan cepat.
Masamune sudah bersiap menangkis serangannya. Namun yang terjadi kemudian tiba-tiba pemandangan di arena tanding berubah menjadi arena yang bersalju tebal. Udara di sekelilingnya kemudian menjadi sangat dingin. Tubuhnya mendadak kaku, tidak bisa melawan udara dingin yang menyelimutinya. "Uuukh…apa yang terjadi?" suaranya gemetar, mulutnya menghembuskan kabut tipis.
"Hahaha…ayo lawan aku, Dokuganryu!" Ashikaga melesat maju dan menghujamkan batonnya yang sudah mempunyai pedang di sisi merahnya ke arah Masamune. Meski Naga Bermata Satu itu cukup cekatan, dia masih tidak bisa melawan udara dinginnya. Dia hanya bisa bertahan, tidak bisa menyerang seperti sebelumnya.
"Lawan aku, serang aku, kalahkan aku!" seru Shogun itu sambil mengayun pedangnya.
"Ugh! Kenapa-"
"Kekuatanmu tidak sampai di sini kan? Kita coba yang lain," Ashikaga mengubah sisi hitam batonnya menjadi trisula dan dihujam ke tanah dengan kuat. Seketika dimensi es yang sangat dingin itu pecah dan Masamune bisa melihat pemandangan arena tanding seperti biasa. Tanah yang ditancap trisula tadi retak dan menimbulkan celah yang cukup panjang. Ada percikan api keluar dari setiap celahnya.
Ashikaga memutar batonnya dan menancap trisulanya ke tanah sekali lagi. Celah yang tadi sudah terlihat besar kini semakin besar dan memanjang. Masamune tidak punya pilihan kecuali berlari secepat mungkin menghindarinya. Dia tidak diberi kesempatan sedikit pun menyerang, yang bisa dilakukannya hanyalah berlari sampai retakan itu berhenti memanjang dan mengejarnya.
"Rasanya aku salah mengeluarkan jurus. Bagaimana kalau yang ini?" trisula yang dihujam ke tanah kemudian dilepas. Baton Ashikaga kembali berubah menjadi busur panah yang besar. Dia melepaskan kurang lebih 5 anak panah ke udara. Yang terjadi kemudian adalah ribuan pedang jatuh menghujani Masamune. Masih berusaha melawan kekakuan otot-otot tubuhnya dari udara dingin yang sangat ekstrem, Masamune berlari menghindari hujan pedang itu. Sesekali menangkisnya dengan 6 pedangnya. Di seberang sana, Ashikaga mengarahkan busur panahnya ke mana Masamune berlari. Ribuan pedang itu langsung mengejar dan menghujaninya tanpa ampun.
"Shit! Aku harus melakukan sesuatu!" Masamune melompat berguling keluar dari hujan pedang itu. "Phantom Dive!" 6 cakarnya dihujam ke tanah dan seketika itu jurus yang dikeluarkan Ashikaga berhenti. Tidak ada lagi hujan pedang di sekitarnya. Suasana arena tanding kembali tenang. Tetapi hanya berlangsung sebentar karena di hadapan Masamune, Ashikaga bersiap dengan 10 tombak yang melayang di sekitarnya. Ujung tombak yang runcing itu mengarah kepada Masamune. Dengan sekali lambaian tangan, 10 tombak itu melesat cepat menyerang Masamune.
"Hahaha…! Luar biasa! Kau benar-benar kuat!" Ashikaga mengirim 10 tombak lagi melesat ke arah Naga Bermata Satu yang baru selesai menangkis serangannya.
"Cih! Tidak adil! Mendekatlah, Ashikaga! Lawan aku dari jarak dekat!" seru Masamune sambil berusaha bergerak mendekat ke arah Ashikaga. Langkahnya selalu tertahan dengan munculnya tombak yang menghujam ke tanah dan dekat ke kakinya secara Ashikaga melarangnya menyerang dari jarak dekat.
"Tunggulah di sana. Aku akan mendekat…" Shogun bermata cokelat itu lalu meletakkan batonnya di belakang pinggangnya. Dia membuka kedua tangannya. Kabut tipis berwarna kelabu mengelilingi Masamune dan menyebabkan Naga Biru itu kesulitan tidak berada di depannya, dia menghilang dan tak terlihat di mana pun. Kecuali suaranya yang terdengar tepat di belakang punggungnya, "Aku sudah cukup dekat, bukan?"
"Masamune-sama!" percuma Kojuuro berteriak dari area penonton, karena Ashikaga sudah keburu mengayun pedangnya ke punggung Masamune. Untungnya laki-laki bermata kelabu itu langsung sigap, serangannya bisa dihindari walau tetap harus mengenai pundak dan lengan kirinya.
"Aaaargh!" rintih Masamune sambil bergerak menjauh dari Ashikaga. Darah mengucur deras dari lengan kirinya yang terluka. Selagi dia mengatur nafasnya yang tersengal karena menahan sakit dan amarah, dia mendengarkan Ashikaga berkata, "Aku sudah menuruti permintaanmu. Aku menyerangmu dari dekat. Seharusnya kau tahu apa yang akan kulakukan. Mengapa kau tidak melawanku, Dokuganryu?"
"Bagaimana aku bisa tahu…urgh!"
"Aku yakin kekuatanmu tidak hanya sebatas ini, Sahabatku. Siap untuk yang lainnya?"
"Aku akan membalasmu, sungguh akan membalasmu!"
Ashikaga tertawa mendengar kata-kata Masamune melanjutkan, "Aku sangat senang bertarung denganmu. Benar-benar menarik! Tapi aku belum melihatmu sebagai lawan yang setimpal. Tunjukkan padaku kekuatanmu, Dokuganryu!"
Kali ini keduanya benar-benar bertarung adu pedang seperti semula. Ashikaga belum mengeluarkan jurus lain karena dia ingin memberi kesempatan kepada Masamune untuk bisa membalas luka di lengan kirinya. Dia kagum dengan kesungguhan daimyo Oshuu ini. Meski sudah terluka, dia masih bisa menghunus 6 pedangnya seakan tidak ada rasa sakit sama sekali.
"Kau bukan satu-satunya yang bisa membuat celah dan retakan di tanah, aku juga bisa!" Masamune melompat menjauh demi mendapat ruang yang cukup luas. 6 pedangnya lalu dihujam ke tanah. Cahaya biru mengalir dari kedua tangan ke ujung pedang-pedangnya. "Mad Drive!" ketika 6 pedangnya dicabut, kilatan cahaya biru merambat mengikuti retakan yang disebabkannya. Ashikaga mencoba mengelak, namun salah satu retakan mengejarnya dan melukai kakinya. Shogun itu jatuh tersungkur dengan luka yang cukup serius di betisnya.
"Satu lagi, Shogun! Heart bolt!" Masamune membuat celah dan retakan sangat besar di tanah, diikuti kilatan cahaya biru yang menyerupai seekor naga. Namun yang terjadi kemudian kilatan naga milik Masamune ditelan habis oleh kilatan naga berwarna ungu milik Ashikaga. Dari posisi berdirinya, Masamune melihat Shogun itu sudah berdiri di kedua kakinya. Dia memegang batonnya yang berubah menjadi busur panah. Dia melakukan sesuatu yang cukup cepat di luar penglihatan Masamune.
"Kau punya elemen naga juga, Shogun," kata Masamune dingin.
Ashikaga tertawa dan membalas, "Tidak hanya itu, aku masih punya yang lain. Tapi karena kau mempunyai elemen naga, maka aku akan mengalahkanmu dengan elemen yang sama juga."
"Tetapi yang punya gelar Dokuganryu adalah aku seorang! Date Masamune!"
"Aku mulai kesulitan menjinakkanmu sekarang. Aku harus mencoba cara lain yang lebih ampuh. Bersiaplah, Dokuganryu!" Ashikaga mengubah batonnya menjadi tombak bermata 3. Dia menghujam tombak itu ke tanah, dan keajaiban terjadi.
Yang dilihat mata kelabu Masamune saat ini adalah dia berada di sebuah dimensi lain. Ruang yang dipijaknya serba putih tak berujung. Yang paling mengerikan lagi adalah dia tidak bisa menggerakkan badannya. Kedua tangannya terentang memegang 6 pedangnya, namun tetap saja dia tidak bisa menggerakkan barang seujung jari pun. Sekujur badannya kaku, rasa sakit mengalir dari ujung kaki ke ujung kepalanya.
"A-apa yang terjadi…" sengalnya mulai panik.
"Lawan aku, Dokuganryu," suara Ashikaga terdengar di dekatnya. Namun dia tidak melihat sosoknya.
"Kau di mana, Ashikaga? Keluarlah!"
"Aku di sini. Aku tidak jauh darimu. Kau ingin kita bertarung jarak dekat, benar?"
"Aku tidak bisa melihatmu! Di mana kau?!"
Masamune terkejut mengetahui tangan kanannya dipuntir kuat ke belakang punggungnya. 3 pedang di genggamannya terlepas dan dia merintih kesakitan. Dia mendengar Ashikaga berkata, "Kau bisa merasakannya? Aku di sini, di dekatmu."
"Aaargh! Lepaskan tanganku, Ossan!"
"Tetapi aku bisa memuntir tanganmu. Itu berarti tidak ada yang salah dengan tubuhmu. Ayo lawan aku, tunjukkan semangatmu yang berapi-api. Kau ingin mengalahkanku kan?"
"Aku sungguh akan mengalahkanmu, Ashikaga!"
"Masih banyak keraguan yang kulihat di sorot matamu, Dokuganryu. Para daimyo yang pernah berhadapan denganmu mengatakan kau adalah lawan yang sangat kuat. Namun aku belum melihat seberapa besar kekuatanmu untuk mengalahkanku."
Kata-kata Ashikaga terdengar seperti merendahkannya. Namun Masamune tahu bahwa dia sedang memancing semangatnya. Dia kembali teringat dengan pesan Motochika untuk selalu terjaga selama bertanding. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana dia bisa melawan Ashikaga jika dia tidak bisa bergerak seperti ini? Jika dia tidak melakukan sesuatu, dia akan kalah di sini. Dia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya di hadapan semua orang. Sebagai daimyo terkuat di negeri ini, dia harus membuktikan kekuatannya.
"You asshole…" gerutu Masamune selagi masih berjuang melepaskan diri dari Shogun. Rasa sakit di tangan kanannya bertambah. Dia berusaha melawannya dengan memejamkan matanya sejenak dan mengatur nafasnya. "Kau benar-benar kuat. Rasanya kau masih punya banyak jurus untuk ditunjukkan padaku. Sesuatu yang lebih kuat dari ini."
"Kau sangat berambisi mengalahkanku. Aku bisa merasakannya. Jika kau buang segala keraguanmu, kau bisa melangkah lebih maju lagi untuk mengalahkanku, Dokuganryu," kata Ashikaga.
"Keh! Aku sama sekali tidak ragu! Akan kubuktikan kalau aku bisa lebih kuat darimu, Shogun! Kau…akan selesai di sini!"
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Masamune berhasil lepas dari Ashikaga dan dia melompat menjauh darinya. Dimensi serba putih itu lalu pecah dan menampilkan kembali suasana arena tanding yang tegang. Para penonton, terutama para daimyo, ikut merasakan ketegangan di antara keduanya. Kojuuro bahkan tidak bisa duduk tenang melihat tuannya terus menerus dipukul mundur. Di depan matanya sekarang, tuannya sedang memikirkan sesuatu. 5 pedangnya dibuang, dan hanya menyisakan 1 pedang di tangan kanannya. Di hadapannya, Ashikaga sudah bersiap dengan batonnya yang sudah kembali ke bentuk semula. Namun tak lama lagi, dia akan mengubahnya menjadi senjata lain ketika Masamune menyerang.
Naga Bermata Satu itu mengacungkan pedangnya ke udara dan berteriak, "No Limit!" Seketika itu, kumpulan awan hitam memenuhi langit. Hanya menyisakan celah untuk sinar matahari yang menyorot kepada Masamune saja. Pedang yang diacungnya itu mengeluarkan kilau cahaya yang berwarna biru terang. Seperti sedang mengisi energi penuh ke tubuhnya. Dia berkata, "Yang Mulia Shogun, aku, Date Masamune, adalah lawan yang setimpal untukmu. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku. Tak peduli seberapa kuatnya dirimu, aku akan menjadi lebih kuat darimu. Bersiaplah untuk merasakan hebatnya kekuatan Naga Bermata Satu dari Oshuu!"
Cahaya biru terang itu memenuhi tubuh Masamune. Kilat matanya berubah menjadi berwarna biru. Orang mungkin melihat ada sekelebatan sosok naga di belakang punggungnya. Dia menggeram, suaranya menggetarkan bumi. Ashikaga melempar batonnya ke udara dan menghujani dirinya dengan pedang sangat banyak. Dia bersiap dengan 6 pedang di kedua tangannya. Dia menyeringai, seakan sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Kau pemuda tangguh, Sahabatku," gumamnya mengagumi kekuatan Masamune yang bersiap menyerangnya. "Kau layak menjadi pemimpin yang disegani semua orang. Kau membuktikannya, di arena tanding yang besar ini…"
Entah apa yang terjadi, cahaya biru terang itu melesat mendekati Ashikaga dengan cepat. Shogun itu dibuat terkejut setengah mati mengetahui Masamune menyeruak dari cahaya itu dengan pedang terhunus ke depan. Ashikaga dengan sigap langsung menahan serangannya. Namun karena sangat kuat, dia akhirnya jatuh terlentang ke tanah. 6 pedangnya terlontar jauh darinya. Masamune menduduki tubuhnya, pedangnya kini terhunus ke lehernya.
"Luar biasa…" kata Ashikaga sambil tersenyum lebar. "Aku kagum padamu, Sahabatku."
"Aku ingin kau mati, Ashikaga…Matilah dengan tenang..." kata Masamune lirih. Matanya yang berkilat berwarna biru menatap mata cokelat terang Ashikaga dengan tajam. Dia belum menggerakkan pedangnya. Padahal dia bisa saja langsung menancapkan mata pedangnya yang tajam itu ke leher Shogun. Namun dia berhenti di sana, seperti ada yang menahannya.
Sesuatu menahannya…
Tatapan mata Shogun menahannya…
"Mengapa kau begitu berambisi mengalahkanku, Dokuganryu?" tanya Ashikaga.
"Aku membencimu," jawab Masamune singkat.
"Mengapa kau membenciku?"
"Karena kau lebih kuat dariku."
Tidak ada jawaban dari Masamune, dia terdiam selagi mengatur nafasnya yang tersengal. Ashikaga menyeringai sambil mengulurkan tangannya meraih wajah Masamune. Nafas Naga Biru itu semakin memburu, jantungnya berdegup kencang, tangannya yang menghunus pedang mendadak gemetar dan tidak bisa digerakkan.
"Tunggu apa lagi, Dokuganryu?"
-to be continue-
Chapter 4 coming up next! Sorry for making this chapter too long
