Suara kicauan burung membangunkan Date Masamune dari tidurnya. Perlahan dia membuka matanya dan menoleh ke arah jendela kamar. Kilau jingga sinar matahari berangsur menghilang, hari akan segera berganti malam. Dengan tenaga seadanya, Masamune mencoba bangkit dan duduk di tempat tidur. Kepalanya mendadak pusing, mungkin karena tidur terlalu lama.
"Tidurlah kembali, Masamune-sama. Anda belum cukup kuat untuk bangun," suara seseorang kemudian menyadarkan Masamune.
Katakura Kojuuro duduk bersimpuh menghadap tuannya. Dia sangat menanti saat Masamune membuka matanya. Dia sempat cemas karena cukup lama juga Masamune tidur.
"Di mana aku, Kojuuro?" tanya Masamune lesu.
"Di kamar, di istana Shogun."
"Mengapa aku bisa berada di sini?"
"Pertandingan sudah selesai, Masamune-sama."
"Aku tidak ingat. Ceritakan padaku semuanya, Kojuuro."
"Izinkan saya menyeduh teh untuk Anda minum sambil saya bercerita."
Kojuuro beranjak ke meja dekat tempat tidur Masamune dan menyeduh secangkir teh. Setelahnya, dia menyuguhkan teh hangat itu kepada tuannya. Dia kembali pada posisi duduknya dan mulai bercerita, "Seperti yang saya bilang tadi, bahwa pertandingan sudah selesai. Shogun sendiri yang menyatakan demikian. Pertandingan berakhir dengan sangat baik. Tidak ada yang perlu disesali, Masamune-sama."
"Siapa yang menang? Siapa yang kalah?" tanya Masamune.
"Shogun menyatakan dirinya kalah bertanding dari Anda. Namun itu dilakukannya karena Anda sudah tidak sadarkan diri saat itu."
"Aku…tidak sadarkan diri?"
Kojuuro membungkuk dan berkata, "Anda hampir membunuh Shogun di depan semua orang, Masamune-sama. Pedang Anda hanya berjarak 3 helai rambut dari lehernya. Saya terpaksa turun ke arena tanding, didampingi Sanada dan Chosokabe. Perlahan saya mencoba menjauhkan Anda darinya. Namun Anda bersikeras untuk membunuhnya. Anda sempat memberontak sampai harus dipegangi oleh Sanada dan Chosokabe. Saya ingat perintah Anda sebelum masuk ke arena tanding. Saya berusaha menyadarkan Anda dengan memanggil nama Anda cukup keras di dekat telinga."
"Aku tidak tahu…aku tidak mendengarmu, Kojuuro."
"Karena itu, saya terpaksa memukul kepala Anda dengan kuat sampai Anda pingsan. Sanada dan Chosokabe membawa Anda keluar dari pertandingan, sementara saya bernegosiasi dengan Shogun soal hasil pertandingan ini. Saya meminta agar hasil pertandingan ini menjadi seri. Namun Shogun menyatakan bahwa dia kalah telak. Tidak ada perdebatan lebih lanjut setelah itu."
Mendengar cerita Kojuuro, kepala Masamune semakin bertambah pusing. Dia mencoba mengumpulkan segenap ingatannya tentang pertandingan beberapa jam yang lalu. Dia sungguh tidak ingat bagaimana pertandingan itu harus berakhir. Dia mengangkat kedua tangannya, kemudian mengepalnya kuat di depan dada. Keningnya berkerut karena sedang berusaha berpikir keras.
"Aku seperti tertelan dalam pertandingan itu, Kojuuro," ucap Masamune di tengah kebingungannya. "Seperti ada tali sangat panjang dan kuat membelit tubuhku. Kemudian aku ditarik ke lautan sangat luas, hingga ke kedalaman yang tak berhingga. Ashikaga memancing gairahku, membakar semangatku, agar aku bertahan di pertandingan itu tanpa ragu sedikit pun. Tetapi dia menangkap keraguanku. Aku menyerangnya dengan begitu banyak pertanyaan dalam hatiku."
"Bukankah Anda sudah membuang segala keraguan itu saat masuk ke arena tanding? Anda sudah sangat yakin saat itu, Masamune-sama. Lalu mengapa…?"
"Kau mungkin akan mengerti ketika kau berhadapan dengannya. Setiap jurus yang kukeluarkan, pasti ditangkis kembali olehnya. Lebih kuat pula. Dia tidak hanya bisa membaca gerakanku, melainkan juga perasaan dan pikiranku. Dia tahu betapa aku nyaris kehabisan akal saat itu. Jujur kuakui, aku terkesan dengan shoku baton yang dia punya. Dia bisa merubahnya menjadi berbagai macam senjata, bisa mendatangkan ribuan pedang dan jurus lainnya hanya dari 1 senjata itu."
Kemudian pandangan Masamune berpindah pada tangan kirinya yang diperban. Dia melanjutkan, "Aku masih ingat bagaimana dia hampir melukai punggungku. Aku berhasil mengelak ketika aku mendengarmu memanggil namaku, Kojuuro. Tapi luka ini tidak bisa dihindari."
"Anda sangat khusyuk bertanding. Seakan mengabaikan semua pasang mata yang sedang menyaksikan pertandingan Anda," ucap Kojuuro sambil menatap tuannya sedikit cemas. Dia lalu bertanya, "Jelaskan kepada saya, Masamune-sama. Mengapa saat itu Anda ingin membunuhnya? Mengapa Anda bersikeras ingin menebas pedang ke lehernya?"
"Shogun juga menanyakan hal yang sama padaku, Kojuuro. Aku sedang mencoba mengingat apa jawabanku."
Di antara jutaan ingatan dalam otaknya, akhirnya Masamune menemukan yang ingin diingatnya kembali. Pertanyaan Kojuuro tadi membantunya menemukan alur cerita yang sesaat hilang dari ingatannya. "Mengapa aku ingin membunuhnya?" gumamnya lirih. "Karena aku membencinya."
"Mengapa Anda membencinya, Masamune-sama?"
"Karena dia sangat kuat, bahkan lebih kuat dariku."
"Mengapa Anda berhenti saat itu? Keinginan Anda untuk membunuhnya begitu besar, sampai Sanada dan Chosokabe kuwalahan menahan Anda. Apakah ada sesuatu yang menahan Anda, Tuanku?"
"Aku tidak ingat apa yang menahanku. Semuanya mendadak menjadi gelap. Aku seperti diselimuti kabut tebal yang mengaburkan pandanganku. Seketika itu aku mendadak merasa kosong. Ashikaga seperti mengambil sesuatu dariku dalam diriku. Aku mungkin memberontak karena ingin mengambil kembali apa yang direbutnya."
Melihat tuannya kebingungan dan berpikir keras, Kojuuro memutuskan untuk tidak melanjutkan ceritanya. Hanya tuannya yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Yang dilihat olehnya belum tentu sama dengan yang dialami Masamune. Tidak ingin membuat tuannya bertambah bingung, Kojuuro kemudian berkata, "Apakah Anda mengizinkan saya untuk keluar dari menemui Yang Mulia Shogun, Masamune-sama? Saya sudah berjanji kepadanya jika nanti Anda sudah bangun, saya harus melaporkan keadaan Anda padanya."
"Ya, pergilah. Dan bilang padanya aku minta maaf sudah mengacaukan pestanya," jawab Masamune sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Anda tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang perlu disalahkan, tidak ada yang perlu disesalkan. Shogun tampaknya puas dengan pertandingan ini, Masamune-sama. Anda kembalilah beristirahat."
"Selagi kau berbicara padanya, panggilkan aku Sanada dan Motochika. Aku ingin berterima kasih pada mereka karena telah membantuku keluar dari masa sulit itu."
"Baik, Masamune-sama."
Sambil menunggu kedua orang itu datang, Masamune kembali mengingat apa yang terjadi di pertandingan itu. Dia memaksa otaknya memutar semua ingatan yang berkecamuk, dia tidak ingin menyesali apa pun sepulangnya dari Kyoto. Dia seharusnya bisa bergembira di festival tahunan ini. Pertandingan duel antara dia dan Shogun adalah sesuatu yang bisa membuatnya bersemangat, bukan malah terus kehilangan semangat seperti ini.
"Apa yang menahanku saat itu?" gumam Masamune, kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Pintu kamarnya terbuka, masuklah Sanada Yukimura dan Chosokabe Motochika. Masamune bangkit dan duduk di tempat tidur. Kedua tamunya duduk menghadap padanya. Motochika masih mengenakan setelan yukata dan hakama, sedangkan Yukimura sudah berganti ke pakaian kebesarannya.
"Masamune-dono, kau sudah membaik sepertinya. Bagaimana luka-lukanya?" tanya Sanada.
"Semuanya sudah mulai pulih. Aku hanya perlu istirahat sebentar untuk mengumpulkan kembali tenagaku," jawab Masamune sambil tersenyum.
"Aku senang mendengar kau sudah kembali pulih. Pertandingan yang sangat luar biasa. Kau membuat kami, para daimyo dan jenderal, terkesan dengan kehebatanmu. Kami pun salut pada Shogun Ashikaga Yoshiteru yang bisa menahan kekuatanmu."
"Aku masih belum merasa maksimal bertarung melawannya. Mungkin ini akan menjadi batu loncatan bagiku sebelum menjadi lawannya di sebuah peperangan."
"Rasanya dia tidak akan muncul di peperangan mana pun," sambung Motochika. "Dia hanya akan duduk di istananya dan menyaksikan bagaimana para daimyo berperang."
"Kita hanyalah pion-pion caturnya," Yukimura ikut menimpali. "Jika dia ikut dalam peperangan, tujuannya bukan untuk memperluas lahan. Melainkan untuk membesarkan namanya."
"Aku setuju denganmu, Sanada," kata Masamune.
"Jika kau berkenan, Masamune-dono, sebentar lagi aku dan rombongan dari Kai akan bertolak dari istana Muromachi. Oyakata-sama ingin cepat kembali ke sana karena banyak hal yang harus diselesaikan."
"Really? Kita bahkan belum berbicara banyak di sini. Pertemuan kita sangat singkat, Sanada. Festival Musim Semi masih berlangsung sampai besok."
"Aku yakin suatu hari nanti kita akan bertemu kembali. Entah di sebuah pertemuan resmi, atau di sebuah peperangan. Aku dan kedua tombakku akan menantimu, Masamune-dono."
Masamune mendengus tertawa dan berkata, "Kau satu-satunya orang yang bisa memancing gairahku untuk bertarung, Sanada. Save trip! Sampaikan salamku untuk Takeda-ossan. Setelah aku mengalahkanmu, selanjutkan dialah yang menjadi targetku."
"Semoga lekas sembuh, Masamune-dono. Aku mohon pamit dulu. Chosokabe-dono, sampai ketemu lain waktu."
"Tentu! Hati-hati di perjalanan kembali ke Kai, Sanada," balas Motochika bersemangat.
Jenderal Muda dari Kai itu akhirnya memohon diri untuk keluar dari kamar dan bersiap pulang ke Kai. Kini tinggallah Masamune dan Motochika. Keduanya terdiam sejenak, berusaha mengusir kekakuan lidah mereka. Banyak hal yang ingin disampaikan oleh Bajak Laut dari Barat itu kepada Masamune, begitu pula sebaliknya.
"Aku harap Katakura-dono sudah merawat luka-lukamu dengan baik, Dokuganryu," katanya kemudian memecah keheningan. "Aku buru-buru kemari setelah mendengar kabar kau sudah bangun. Tadinya aku ingin ikut menjagamu di sini. Sayang sekali Mata Kananmu tidak mengizinkanku."
"Sekarang dia sedang menemui Shogun untuk melaporkan keadaanku," jawab Masamune. "Haah…rasanya ingin cepat pulang juga ke Oshuu. Aku tidak ingin berlama-lama di sini."
"Tidak nyaman?"
Masamune mengangguk. Dia lalu menarik kedua lututnya dan didekap. Dia berkata, "Aku ingin pulang. Aku ingin kembali ke kamarku dan beristirahat di sana."
Mata kiri Masamune melirik kepada Motochika yang masih duduk bersila di dekatnya. Pria berambut perak itu mengerti apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan olehnya. Dia mengulurkan tangannya yang kemudian langsung diraih oleh Masamune. Mereka berpegangan tangan seperti itu cukup lama, tanpa ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Kegelisahan itu mengalir dari tangan Naga Bermata Satu itu ke tangan Motochika. Kepala daimyo besar Oshuu itu kini terkulai lemas di kedua lututnya yang sedang didekap.
"Bicaralah, aku akan mendengarkanmu," kata Motochika menenangkannya.
"Aku sedang mencoba mengingat sesuatu," ucap Naga Biru itu lesu. "Di pertandingan itu, ada sesuatu yang menggangguku. Jika aku tidak tahu penyebabnya, aku tidak akan bisa tidur tenang saat kembali ke Oshuu nanti."
"Mengenai Ashikaga dan jurus-jurusnya?"
"Tidak hanya itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di saat terakhir tadi. Kojuuro bilang, aku hampir saja membunuh Shogun di depan semua orang. Aku ingat ketika itu Shogun bertanya padaku, mengapa aku ingin mengalahkannya. Mengapa aku ingin membunuhnya? Aku menjawab, karena aku membencinya. Karena dia lebih kuat dariku."
"Kau memberontak sangat kuat ketika akan dijauhkan dari Shogun. Aku ingat kau berseru kepadanya, bahwa kau ingin memenggal kepalanya. Kau ingin melenyapkannya dari muka bumi. Kau ingin menggeser kedudukannya menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini."
Masamune mengangkat sedikit kepalanya dan berkata, "Oh, aku berteriak seperti itu, Saikai no Oni?"
"Apa kau lupa akan pesanku, Dokuganryu? Bahwa kau harus tetap terjaga selama bertarung melawannya. Jangan sampai dia menangkap semangatmu, jangan sampai dia mempengaruhimu dengan hal-hal yang bisa mengacaukan semangatmu. Kau begitu berambisi mengalahkannya, bahkan sorot matamu mengatakan kau sungguh ingin membunuhnya."
Mata biru Motochika menatap dalam mata kelabu Masamune. Tangan mereka masih bertautan. Sorot mata Masamune tidak lagi sama dengan yang dilihatnya saat di sedang bertanding melawan Shogun. Masamune menatapnya balik dengan tatapan redup. Ada perasaan menyesal tersembunyi di balik lingkar kelabu iris matanya.
"Apa yang kau lihat saat itu, Dokuganryu?" tanya Motochika.
"Apa maksudmu?" tanya Masamune balik karena dia tidak mengerti.
"Ketika kau hendak membunuhnya, kau berhenti. Apa yang kau lihat? Apa yang menahanmu saat itu?"
Pertanyaan ini kembali dilontarkan kepada Masamune, dan dia masih tidak tahu apa jawabannya. Dia masih berusaha memutar otak untuk menemukan kata-kata yang tepat. Apa yang menahannya? Apa yang dilihatnya? Dia tidak ingat, dia bahkan tidak mengerti kondisinya saat itu.
"Sesuatu…diambil dariku," gumam Masamune ragu-ragu.
"Sesuatu, katamu?" tanya Motochika.
"Dia menahanku dengan tatapan matanya. Tapi tidak hanya itu. Dia melakukan sesuatu, dia mengambil sesuatu dariku. Aku protes karena aku ingin dia mengembalikannya."
"Apa yang dia ambil darimu, Masamune?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku marah sekali saat itu," kini suara Masamune terdengar lirih.
"Apa rasanya saat dia mengambil sesuatu itu darimu?"
"Aku tidak suka. Dan…oh…Motochika!" tiba-tiba Naga Bermata Satu itu mengubah posisi duduknya menghadap Motochika dengan cepat. Kedua tangannya kini mencengkeram lengan pria berambut perak di depannya. "Aku ingat, aku ingat! Aku ingat sekarang!"
"Apa yang kau ingat, Masamune?"
Otak Masamune berputar cepat dan menemukan sesuatu yang diingatnya. Suaranya lirih ketika dia menjawab, "Ribuan pedang…"
"Hah? Apa kau bilang?"
"Ribuan pedang itu…aku ingat sekarang! Di belakangnya terdapat ribuan pedang yang diarahkan…padaku…bukan! Pedang-pedang itu diarahkan…"
"Ke mana? Diarahkan ke mana?" Motochika ikut penasaran.
"Padaku…padaku…padaku…pada mata kiriku! Oh tidak! Mata kiriku!"
"Hey, Masamune! Tenangkan dirimu!"
Sebelum Masamune memberontak lebih kuat, Motochika menariknya dan langsung mendekapnya. Satu telapak tangannya menutup mata Masamune, kepalanya disandarkan di bahunya. Dia berkata, "Bernafas denganku, Dokuganryu. Mencobalah untuk tenang."
Naga Biru itu bernafas berat beberapa saat. Dia mencengkeram kuat tangan Motochika yang menutup matanya dan menahan kepalanya. Dia masih mencoba memberontak, kakinya bahkan bergerak tidak tenang. Motochika berkali-kali berbisik di telinganya, menyuruhnya menarik dan menghembuskan nafas perlahan dan teratur. Sesuatu mengganggunya, merasuki dan mengacaukan pikirannya. Mata kirinya melihat sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang dia ingat saat berperang melawan Ashikaga. Namun apa yang dilihatnya kemudian berangsur menghilang. Nafasnya tidak lagi memburu, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Motochika pun mengendur.
"Motochika…" katanya lirih sambil menurunkan tangan Motochika. Dia bergerak lepas dari pria berambut perak itu dan duduk membelakanginya. "Bisakah kau tinggalkan aku?"
"Kau baik-baik saja, Dokuganryu?" tanya Motochika cemas.
"Ya, aku baik-baik saja. Tapi aku rasa kau tidak ingin melihatku seperti ini. Lupakan apa yang baru saja kau lihat dariku."
"Aku ingin berada di dekatmu sampai kau merasa lebih baik."
Masamune menggeleng dan berkata, "Pergilah, aku baik-baik saja. Panggilkan Kojuuro kemari."
"Dia mungkin masih berbicara dengan Shogun. Aku akan berada di sini sampai dia kembali."
"Tapi aku ingin kau meninggalkanku, Saikai no Oni. Pergilah, kita bicara nanti saja."
"Kau yakin, Dokuganryu?"
Anggukan kepala Masamune adalah jawaban terakhir yang diterima oleh Motochika. Dia tidak punya pilihan kecuali menurutinya. Sebelum dia pergi, dia mendekati Masamune dan memeluknya. "Berbaringlah," bisiknya kemudian menyuruh Naga Bermata Satu itu berbaring di tempat tidur. Tidak ada perlawanan, Motochika lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Masamune.
"Jika kau membutuhkanku, pintu kamarku selalu terbuka. Aku akan menunggumu di sana," kata Motochika sebelum kemudian keluar dari kamar Masamune.
-to be continue-
Chapter 5 coming up next! Aaaaargh I don't know how to end this story DX
