Pohon bunga Sakura di halaman pelataran istana bermekaran begitu indah. Hembusan angin menggoyang dahan-dahan panjang dan menerbangkan kelopaknya. Pemandangan indah ini begitu berkesan untuk Date Masamune sebelum dia meninggalkan Istana Muromachi.
Duduk di pelataran istana, Masamune mengenakan kembali yukata musim seminya. Dia sedang menunggu Shogun keluar ke pelataran untuk berpamitan sebelum pulang ke Oshuu. Luka-lukanya sudah membaik, dia sudah bisa bergerak leluasa sekarang. Dia sangat menanti kepulangannya ke wilayahnya di timur. Namun di saat yang bersamaan, dia ingin berlama-lama di pelataran ini. Pohon bunga Sakura yang dilihatnya di halaman tampak menyuruhnya tetap pada tempatnya.
"Masamune-sama, perbekalan kita sudah siap. Para prajurit juga sudah selesai berkemas. Sebentar lagi kita akan berangkat," Kojuuro kemudian menghampirinya di pelataran, melaporkan persiapan rombongannya untuk pulang.
"Sebentar lagi, Kojuuro," ucap Masamune.
"Beberapa tamu tampaknya akan pulang sore dan malam hari, bersamaan dengan penutupan festival di sini. Anda yakin tidak ingin menonton pertunjukan kembang apinya?"
"Kita akan buat sendiri pesta kembang api di Oshuu. Akan kubuat lebih menarik dari ini. Bagaimana menurutmu, Kojuuro?"
"Tentunya, rakyat pun akan sangat bergembira melihat pesta kembang api rancangan Anda, Masamune-sama. Kepulangan Anda sangat dinanti oleh mereka."
Tak lama mereka berbicara, Shogun Ashikaga Yoshiteru keluar menemuinya di pelataran. Dia mengenakan pakaian kebesarannya, membawa baton merah hitam di tangan kanannya. Masamune dan Kojuuro berlutut memberi hormat. Shogun lalu menyuruh mereka berdiri dan berkata, "Aku sangat berharap kau mau tinggal lebih lama lagi di sini, Sahabatku."
"Saya pun demikian, Yang Mulia," jawab Masamune dengan bahasa halusnya. "Saya sangat suka pemandangan di taman istana ini. Saya berencana akan datang kemari di musim panas nanti."
"Aku akan menunggu kedatanganmu di Festival Musim Panas nanti, Dokuganryu."
"Apakah Anda akan mengadakan upacara minum teh lagi?" tanya Daimyo Oshuu itu sambil menyeringai.
Ashikaga tertawa dan menjawab, "Kalau aku mengadakannya, aku akan memintamu menjadi penyaji."
"Saya akan memenuhinya dengan syarat, Yang Mulia. Jika Anda tidak keberatan."
"Tentu saja! Kejutkan aku dengan persyaratan yang kau mau. Akan kupenuhi selagi aku mampu. Satu pertandingan lagi, mungkin?"
"Saya harap Anda terpuaskan dengan pertandingan kemarin."
"Aku sangat puas, Dokuganryu! Kau telah menunjukkan kekuatanmu. Meski kita belum mengeluarkan kemampuan seutuhnya, aku sudah yakin kau akan menjadi lawan terberatku dalam sebuah pertandingan."
"Yang Mulia, sebelum saya pulang, saya ingin bertanya kepada Anda."
"Silakan."
Sesaat Masamune menghela nafas sebelum kemudian berkata, "Anda mengawasi peperangan para tuan tanah di negeri ini. Apakah Anda tidak khawatir jika suatu hari nanti ada satu tuan tanah yang berhasil menguasai semua wilayah dan mendesak Anda mundur dari kepemimpinan tertinggi?"
Senyum lebar tergambar di wajah Shogun itu. Dia menjawab, "Akan ada masanya aku lengser dari singgasanaku dan digantikan oleh seseorang yang lebih layak dariku. Demi mengetahui seberapa layak dia menggantikanku, aku bersedia ditantang berperang olehnya. Aku ingin mati dalam sebuah peperangan, bukan terbaring lemah di tempat tidur karena sakit."
"Anda seorang petarung hebat. Saya rasa tidak pantas jika Anda harus mati karena usia yang tua. Mengapa Anda tidak berkeinginan untuk ikut berperang bersama salah satu tuan tanah, Yang Mulia?"
"Aku merasa jaman ini adalah milik kalian, Sahabatku. Peperangan kalian tidak boleh berhenti, sampai nanti menyisakan satu orang terkuat untuk menggantikanku."
"Saya bisa yakinkan Anda kalau orang itu adalah saya. Tunggulah sampai nanti tiba saatnya saya datang kemari dan bertanding pedang lagi dengan Anda," balas Masamune sambil tersenyum.
"Hahaha…semangatmu itu tidak bisa dikalahkan oleh ribuan pedangku, Dokuganryu! Kau benar-benar menarik! Aku ucapkan selamat jalan dan selamat sampai tujuan. Terima kasih sudah hadir di acara Festival Musim Semi di istanaku."
Masamune membungkuk memberi hormat dan berkata, "Terima kasih juga atas segala pelayanan yang diberikan istana ini untuk saya dan rombongan Oshuu. Sampai bertemu di Festival Musim Panas nanti, Your Highness…"
Setelah berpamitan dengan Shogun, Masamune dan Kojuuro mengendarai kuda menuju pintu gerbang istana. Mereka dan rombongan bertolak ke Oshuu. Cahaya matahari pagi begitu hangat, udara musim semi terasa sejuk. Masamune sengaja memperlambat perjalanannya demi menikmati suasana ini.
"Kojuuro, berapa jauh jarak pelabuhan kota dari sini?" tanya Masamune kepada Kojuuro yang berkendara kuda di sampingnya.
"Lihatlah ke sebelah kiri Anda, Masamune-sama. Tiang layar kapal Chosokabe terlihat dari sini," jawab Kojuuro sambil menunjuk ke arah yang dia sebut tadi.
"Aku akan ke sana sebentar. Kau bawa rombongan kita ke pintu gerbang kota. Tunggu aku di sana, OK?"
Tanpa menunggu persetujuan dari Kojuuro, Masamune langsung memutar haluan kudanya ke arah pelabuhan kota. Menyusuri perumahan warga dan pusat perdagangan kota, akhirnya dia tiba di pelabuhan kota Kyoto. Kesibukan di sana tak kalah dengan yang berdagang di kota. Masamune turun dari kudanya dan menuntunnya berjalan kaki. Dia pergi ke satu-satunya kapal paling besar di pelabuhan itu. Bendera berwarna ungu dengan lambang klan Chosokabe tengah dikibarkan di tiang tertinggi di kapal itu.
Kedatangan Masamune di pinggir pelabuhan diketahui oleh Chosokabe Motochika yang ketika itu sedang memeriksa kesiapan anak buahnya berkemas di kapal. Dia tidak lagi memakai kimono atau yukata, melainkan pakaian khas bajak lautnya. Mata kanannya menatap jauh sosok laki-laki berpakaian kimono musim semi yang berdiri tepat di jembatan penghubung daratan ke kapalnya. Sambil membawa jangkar besarnya, dia berjalan dan menemui Masamune di sana.
"Mana rombonganmu?" tanya Motochika.
"Mereka di gerbang kota. Mereka menungguku di sana," jawab Masamune.
"Anak buahku baru memanaskan batu baranya, mungkin perlu waktu sampai benar-benar panas dan siap menggerakkan mesin kapalku."
"I see…"
"Naiklah sebentar, aku ajak kau berkeliling kapalku."
"Aku tidak akan lama, Saikai no Oni. Kojuuro bisa memarahiku jika terlalu lama membuatnya menunggu. Dia akan menyusulku kemari jika aku tidak kembali secepatnya."
Pria berambut perak itu tertawa dan berkata, "Pengawal pribadimu itu sangat merepotkan, eh? Kau sudah menjadi pemimpin besar di Oshuu. Namun dia masih memperlakukanmu layaknya anak-anak rumahan yang tidak boleh keluar rumah untuk bermain."
"Ha! Dia memang seperti itu. Selamanya akan seperti itu sampai ajal menjemputnya. Mau bagaimana lagi? Dia merawatku dari kecil setelah aku dicampakkan oleh ibuku. Aku bisa menjadi daimyo besar di Oshuu berkat jasa-jasanya."
"Dan dia berhasil membentuk sosok yang sangat kupuja sampai detik ini," Motochika mengulurkan tangan dan memegang satu sisi wajah Masamune. "Apa yang dikatakan Shogun saat kau berpamitan dengannya?"
Masamune meraih tangan Motochika dari wajahnya dan dipegangnya erat. Keduanya berdiri menghadap laut lepas. Dia menjawab, "Not much, intinya dia ingin aku kembali lagi ke istananya di musim panas nanti."
"Aku tidak janji akan datang ke sana di musim panas. Musim panas ini para nelayanku memanen ikan sangat banyak. Sebagai ungkapan rasa syukur, kami akan mengadakan perayaan di sana."
"Ah, sepertinya menarik. Apa aku datang ke sana saja di musim panas nanti?"
"Datanglah! Aku akan menyiapkan hasil laut terbaik untuk kau bawa pulang ke Oshuu. Berharap bisa menjadi barang komoditas yang akan kutukar dengan hasil perkebunanmu."
"Why not? Aku senang punya rekan kerja sama perdagangan sepertimu. Tunggu aku di Shikoku, Saikai no Oni. Kupastikan kedatanganku dengan membawa hasil bumi terbaik untuk dinikmati di sana."
Motochika menarik Masamune dan merangkul pundaknya. Dia berkata, "Berjanjilah satu hal padaku, Dokuganryu."
"Kau ingin aku berjanji apa, Saikai no Oni?"
"Jagalah dirimu baik-baik. Jangan berbuat kekacauan lagi, mengerti?"
Masamune menoleh dan menatap Motochika. Dia berkata, "Menurutmu aku ini pembuat onar atau bagaimana, hah?"
"Dengarkan aku dulu, Dokuganryu. Kau sudah menyakiti dirimu di pertandingan kemarin. Sudah cukup bagimu terluka demikian dalamnya. Butuh waktu bagimu untuk bisa pulih seperti ini."
"Aku baik-baik saja. Kau lihat bagaimana aku sekarang, hm? Aku sudah siap untuk peperangan berikutnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tapi jika kau berada pada situasi seperti kemarin lagi, aku adalah orang yang paling khawatir setelah Katakura-dono. Tak akan ada orang yang bisa menyelamatkanmu jika kau kembali mengalami kejadian itu."
"Bagaimana jika aku berbuat kekacauan bersamamu, Saikai no Oni?"
Sorot mata Motochika berubah menjadi tegas, seakan ingin memberi peringatan kepada Masamune. Dia menjawab, "Aku akan mengendalikanmu."
"Aku adalah Naga. Kau tidak bisa mengendalikanku."
"Tapi kau bukan sekedar Naga. Aku akan mengendalikanmu dengan kekuatanku."
"Aku janji tidak akan berbuat kekacauan lagi, dengan catatan kau juga berjanji padaku satu hal yang sangat penting, Motochika."
"Katakan."
Keduanya kini berdiri berhadapan. Jarak mereka cukup dekat. Masamune menengadah menatap pria tinggi tegap di depannya. Satu tangannya mencengkeram kerah baju Motochika. Dia berkata, "Kau akan berada di sana ketika aku terluka."
Sebagai tanda perpisahan, Motochika mendekap erat Masamune. Rasanya tidak ingin dilepasnya cepat-cepat. Suara desing uap dari pipa cerobong asap kapalnya memberitahu bahwa sekarang sudah saatnya untuk berlayar. Tidak ingin pergi begitu saja, Bajak Laut dari Barat itu mencium kening dan punggung tangan Masamune. Keduanya sudah siap melepas kepergian masing-masing.
"Sampai jumpa di peperangan berikutnya, Dokuganryu!" kata Motochika bersemangat. Senyum lebar tergambar di wajahnya. "Tetaplah hidup. Kita akan berpesta di lautan!"
"I'll be waiting! Aku akan bertambah kuat saat kita bertemu nanti, Saikai no Oni!" sahut Masamune juga bersemangat.
Motochika melompat ke kapalnya. Dia memberi perintah kepada anak buahnya untuk menjalankan kapalnya. Ketika sudah mulai bergerak, dia melambaikan tangan kepada Masamune yang masih menatapnya dari pelabuhan. Naga Bermata Satu itu membalas lambaian tangannya. Dia melompat naik ke kudanya dan pergi menyusul rombongannya di gerbang kota.
Negeri ini akan bergolak kembali dalam peperangan…
-the end-
A/N : minna-san, apa kabar? Dengan saya Rie di sini. Uuuukh…akhirnya selesai juga ini cerita. Asli ngarang banget lah! Saya gak ngerti kenapa tiba2 saya pengen nulis cerita macam ini. Saya pengen ngangkat sosok Shogun Ashikaga Yoshiteru sebagai pemimpin tertinggi di Jepang, dan disegani semua daimyo. Lagi ngefans berat sama om2 tampan satu ini hahaha~
Well, terima kasih buat yang udah baca. Panjang banget ya? Semoga gak bosenin ya ceritanya. Kesannya terlalu serius. Dan mohon maaf kalo semua penggambaran karakternya kebanyakan OOC, terutama Masamune-sama. Kalo di game sih, dia gak mungkin ngomong pake bahasa sopan gitu. Tapi karena posisi Ashikaga itu pemimpin tertinggi, saya pengen munculin sisi lain Masamune yang bisa ngomong pake bahasa sopan di depan Shogun.
Silakan mampir ke kolom review utk komentar dan saran. Dan please, jangan kirim flame ya. Terutama buat kalian yang gak demen sama slight pair yang saya masukin di cerita ini. Kebetulan saya mau bikin side story Motochika/Masamune based on this story's timeline. Mana nih shipper ChikaDate? Ditunggu ya side story-nya XDDD
