YAOI/Typo(s)/DLDR

It's DaeLo Fanfiction

cerita ini punya Dhabum

B.A.P member belong to them self

Dhabum pinjem nama doang .-.v

.

.

please enjoy

.

.

"Aku,, apa kau bahagia bersamaku?" tanya Daehyun sambil mengeratkan pelukannya pada Junhong. Bibir tebalnya menghujani pelipis Junhong dengan kecupan-kecupan riangan yang sarat akan kasih sayang.

"Tentu saja, aku bahagia,, sangat malah. Daehyun hyung itu kan tampan.." celoteh Junhong, yang justru membuat dada Daehyun semakin sesak,"perhatian,,"

'hen,,ti,,kan,,' batin Daehyu lemah, tidak kuat mendengar pujian Junhong padanya.

"dan ba-" kata-katanya terputus saat Daehyun menempelkan bibir tebalnya di atas bibir Junhong.

'cukup' batin Daehyun. Tidak sanggup lagi mendengar berbagai sebutan positif untuknya yang terlontar dari bibir Junhong. Dengan perlahan Daehyun mulai melumat bibir Junhong, menekan dagu lancip pemudanya. Meminta akses lebih untuk menjelajahi bibir yang sudah berkali-kali dilumatnya namun bukannya bosan, Daehyun malah semakin menginginkan Junhong lagi dan lagi.

Junhong menutup matanya, menikmati perlakuan Daehyun atas dirinya. Melewatkan begitu saja lelehan air mata yang membasahi wajah Daehyun.

'Sebenarnya, aku bukan orang yang baik,,' batin Daehyun perih.

.

.

It's all Lies

by Dhabum

2nd slice

(don't go)

.

.

Jungong mengerutkan keningnya, terusik saat merasakan sinar matahari yang menerobos masuk dari celah tirai yang masih menutup itu seolah menusuk-nusuk wajahnya meminta perhatian. Namun meski begitu, sepertinya Junhong masih enggan membuka matanya.

Daehyun yang sudah bangun -entah sejak kapan- dengan usil menusuk-nusuk pipi putih Junhong. Membuat garis lurus menuju kening Junhong yang masih mengerut, mengelusnya perlahan hingga kerutan tak nyaman itu menghilang. Setelahnya Daehyun membuat garis lurus lainnya, kali ini menuju bibir tipis Junhong. Mengelus bibir bawah Junhong yang sedikit terbuka. Daehyun menelan ludahnya susah saat wajahnya sudah bergerak mendekati Junhong yang masih terpejam.

Tapi gerakannya berhenti saat mengingat percakapannya dengan Himchan semalam.

"Dia ada di Seoul, ku harap kau bisa pergi sebelum dia menemukanmu.." Itulah kata-kata Himchan yang paling mengusiknya. Haruskah dia melarikan diri?

"Hyunghh.." Suara Junhong berhasil menyadarkan Daehyun dari lamunannya.

"Apa sayang.." Jawab Daehyun lembut sambil menyingkap beberapa rambut Junhong yang menutupi wajah sempurnanya.

"Aku dingiinn.." Jawab Junhong manja. Membuat Daehyun terkekeh lalu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Junhong. Junhong tersenyum menang, semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Daehyun, kepalanya menempel di dada Daehyun membuat Junhong mampu mendengar dentuman samar yang membuatnya merasa sangat nyaman.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Junhong yang masih menikmati dentuman jantung Daehyun dengan mata yang terpejam nyaman.

"Sembilan.." Jawab Daehyun enteng sambil memainkan rambut pirang Junhong.

"Apaa?" Panik Junhong. Buru-buru Junhong bangun dari tidurnya. "Bersiaplah hyung, akan kubuatkan sarapan" Junhong bangkit, namun tangan nya yang ditarik oleh Daehyun membuat Junhong yang sudah berdiri dengan sempurna mendadak limbung karena tidak siap dengan gerakan tiba-tiba Daehyun.

"Aku mengambil cuti sayang.. Kurasa aku memerlukan liburan beberapa hari ini.." Daehyun menarik tubuh Junhong ke dalam pelukannya. "Jadi.. Biarkan aku malas-malasan hari ini yaaaa"

Junhong tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dalam dekapan Daehyun, yaa sepertinya Daehyun memang harus mengistirahatkan tubuh dan fikirannya.

Hari ini rencana Daehyun untuk bermalas-malasan sukses besar rupanya. Jam menunjukkan pukul sebelas siang, namun Daehyun dan Junhong masih terlihat bergelung nyaman di atas kasur.

"Hyung tidak lapar?" Tanya Junhong. Daehyu menggeleng.

"I have my own breakfast" lirih Dahyun sambil mengecup ringan bibir Junhong.

"Yyaaaaaa..." Ujar Junhong malu-malu sambil membalikkan badannya. "menyebalkan.." Gerutu Junhong.

"Aku mendengarnyaaa.." Ucap Daehyun sambil mendekap pinggang Junhong dari belakang. "Aku masih menginginkan sarapanku babe.." Lirih Daehyun sambil menggesek-gesekkan hidung bangirnya pada ceruk leher Junhong.

"Ngg.." Junhong tidak menolak, sebenarnya dia juga sangat menginginkan Daehyun. Matanya terpejam saat merasakan lidah basah Daehyun mulai menyapu bagian tengkuknya.

Dengan lembut Daehyun membalikkan tubuh Junhong, mengubah posisinya hingga sekarang dia menindih tubuh pemuda di bawahnya. Saat mata coklatnya memandang lurus ke dalam kelam mata Junhong, Daehyun sudah menyadari jika hasrat mulai mengambil alih tubuh dan pikirannya.


"Junhong ah.. Bisakah kau membawakanku sebuah handuk?" Teriak Daehyun dari dalam kamar mandi.

"Tunggu sebentar.." Jawab Junhong, dengan tertatih dia melangkah menuju sebuah lemari besar dengan selimut yang melilit tubuh polosnya.

Dengan sedikit terpincang Junhong menyerahkan handuk tadi pada Daehyun yang masih sibuk di kamar mandi. Tak berselang lama Daehyun keluar, terlihat sangat segar dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melilit pinggangnya. Tangannya sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan sepotong handuk putih yang dibawakan Junhong tadi.

Daehyun tersenyum lembut saat melihat Junhong yang terlihat sangat berantakan dengan selimut tebal yang melilit tubuhnya sedang berjalan terpincang-pincang menuju ke kamar mandi.

"Mau ku bantu?" Tawar Daehyun, iba melihat Junhong meringis menahan sakit. Padahal Daehyun yakin dia bermain sangat lembut tadi.

"Tidak.." Junhong menggeleng sambil tersenyum simpul, "aku lapar hyunngg.."

"Baiklah.. Akan kubuatkan sarapan spesial untukmu.." Daehyun mengacak rambut pirang Junhong dengan sayang. "Aku sudah menyiapkan air panas.. Berendamlah.. Kalau butuh apa-apa panggil aku,,"

Junhong mengangguk sambil tersenyum tipis. Bagian bawahnya benar-benar sangat sakit sekarang.

Daehyun sudah berkutat dengan sarapan spesialnya selama empat puluh menit terakhir. Di atas meja makan yang didesain menyerupai counter itu sudah tersaji dua piring berisi pancake dengan saus madu kental di atasnya, samngkuk besar sallad kesukaan Junhong. Junhong keluar dari kamar mereka, -masih- berjalan dengan terpincang-pincang menuju tempat Daehyun.

"Duduklah di sofa.. Akan kubawa ke sana.."

Junhong menuruti Daehyun, perlahan dia mendudukkan tubuhnya di sofa. Mengeryit pelan saat bagian bawah tubuhnya bersentuhan langsung dengan permukaan sofa yang empuk.

"Apa sakit sekali?" Tanya Daehyun sambil meletakkan sarapannya di atas meja.

"Umm.." Junhong mengangguk pelan. Daehyun membantunya untuk duduk dengan nyaman di sofa.

"Maafkan aku.." Ucap Daehyun lembut sambil mengelus pipi Junhong. "Nah.. Ini makanlaahhh.."

Junhong mengangguk, menerima satu suapan pancake dari Daehyun dengan senang.

"Euuummmhh enaakk..." Seru Junhong.

"Benarkah?" Daehyun senang. "Junhong ah.. Bagaimana kalau kita pergi berlibur?"

"Berlibur?" Mata Junhong berbinar bahagia.

"Iya.. Kurasa pulau Jeju atau pulau Nami.. Bagaimana?"

"Boleh sekali Hyuuunngg.. Aku sungguh merasa bosan selalu tinggal di rumah.." Oceh Junhong dengan semangat.

"Baiklah,, kita berangkat malam ini ke Jeju, Bagaimana?"


Daehyun memandangi dua lembar tiket pesawat di tangannya. Ini pemberian Himchan, Himchan memang menyuruhnya berlibur, atau lebih tepatnya melarikan diri. Daehyun tidak tahu dia melakukan hal yang benar atau tidak. Yang ia ketahui hanyalah Junhong, Junhong tidak boleh bertemu dengan mantan bosnya.

"Hyung,, apa yang harus dibawa untuk nanti malam?" tanya Junhong sambil memasukkan beberapa baju ke dalam koper hitam besar.

"Apapun yang kau perlukan sayang,,"

"Hmm,, hyung perlu apa?"

"Aku hanya memerlukanmu,,"

dan 'tuk' Junhong melemparkan bonekanya yang akan dimasukkan ke dalam koper.

"Yaa,, aku serius,," protes Daehyun sambil mengerucutkan bibir tebalnya.

Junhong diam, kepalanya mendadak pusing membuatnya memejamkan matanya erat. Daehyun menyadari yang terjadi pada Junhong, dengan sigap menahan tubuhnya yang hampir jatuh.

"Hyunghh ukhh,, sakithh,," racau Junhong, sebutir air mata menetes dari matanya yang masih terpejam.

Dengan panik Daehyun merogoh botol obat yang selalu di bawanya, "Minum ini,," setelah membantu Junhong untuk menenggak beberapa pil tadi, Daehyun merebahkan tubuh Junhong yang sudah tidak sadar di atas kasur.

"Maafkan aku Junhong-ah,," Daehyun menggenggam tangan Junhong erat sambil mengecupinya berkali-kali, "Maafkan aku,," air matanya jatuh.


"Kedinginan?" tanya Daehyun perhatian. Junhong menggeleng pelan sebagai jawaban, tapi tanganya sebenarnya sedikit membeku. Untung saja Daehyun dengan setia menggenggam tangan Junhong yang rasanya membeku. "Tunggulah di sini,,"

"Hyung mau ke mana?" tanya Junhong tak rela karena Daehyun tidak menggenggam tangannya lagi.

"Pokoknya tunggu saja,, hanya sebentar,," jawab Daehyun sambil memakaikan sarung tangannya pada Junhong. Setelahnya Daehyun berlari kecil, menjauhi deretan bangku tunggu di bandara. Ah iya, mereka sedang di bandara menunggu jadwal take off pesawat menuju Jeju.

Daehyun berlari kecil menuju ke salah satu counter penjual minuman, "Coklat panas satu," sambil menunggu pesanannya, Daehyun berniat mengecek email lewat smartphone hitam mahalnya, namun saat merogoh kantung mantelnya Daehyun malah mendapati sebotol obat yang sudah sangat dikenalinya.

"Jung Daehyun,,"

Daehyun menolehkan wajahnya saat merasa namanya di sebut. Dan dia, Kim Hinchan di sana. Sedang berjalan dengan santai ke tempat Daehyun berada. Sedikit panik, Daehyun buru-buru memasukkan botol tadi ke dalam mantelnya, namun sial botol itu malah menggelinding jatuh, tepat di samping kaki himchan yang dilapisi sepasang sepatu hitam yang mengkilap mahal.

Himchan menunduk, menggapai botol yang tepat berada di kakinya. Matanya melebar saat mengetahui obat apa yang ada di dalam botol itu.

"Kau masih memberikan ini pada Junhong?" tanya Himchan sedikit terkejut. Daehyun diam, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi dari diamnya Daehyun, Himchan dengan cepat mengetahui jawabannya. "Kau pasti gila, Junhong bisa mati jika seperti ini,," desis Himchan marah.

"Bukan urusanmu,," tanpa memperdulikan pesanannya, Daehyun langsung meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Himchan sendiri yang masih bergelud dengan pikirannya.

Dengan nafas yang tersengal, Daehyun kembali ke tempat Junhong menunggunya. Tapi begitu sampai di sana Junhong tidak ada. Daehyun seketika panik. Dia menolehkan kepalanya kesana kemari, namun nihil. Junhong tidak ada. Firasat buruk seketika memenuhi dadanya.

'Choi Junhong, di mana kau?' batin Daehyun panik.

.

.

.

To be Continue

Wuahhhhh maaf banget kalau chapter ini krik-krik Y.Y

Dhabum udah ada ide, tapi nulisnya itu lohhh susah Y.Y

Mind to review?

:3