WARNING!

YAOI/BL/Shounen Ai

typos/noeyd/bad plot

DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo/DaeLo

Daehyun X Zelo

i don't own any chara

this story absolutely mine :)

.

.

DhaBum, proudly present

It's all lies, chapt 3

the Truth

.

.

enjoy

.

.

Daehyun tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sudah lebih dari tiga jam dia di sini, berharap Junhong akan kembali dengan senyum lebarnya sambil berkata kalau dia baru saja dari toilet. Tapi nyatanya tidak, Junhong tidak kembali. Bahkan pesawatnya sudah take off lebih dari dua jam yang lalu.

"Kenapa harus sekarang,," batinnya. Menatap nanar sebotol obat di genggamannya yang tadi dia temukan tergeletak begitu saja. Botol itu adalah salah satu obat yang dibawa Junhong, yang disebut Himchan sebagai racun tadi.

"Junhong-ah,, Junhong ah,, aku mohon kembalilah.. " mohon Junhong entah pada siapa.

Daehyun tahu orang-orang di bandara ini menatapnya dengan aneh. Tentu saja, dia sedang meringkuk dengan wajah yang sedikit basah dan rambut yang acak-acakan. Justru akan lebih aneh lagi kalau orang-orang di sana tidak menganggapnya aneh. Biarkan saja, apa pedulinya? Sekarang dia tidak ada dalam kondisi untuk memikirkan pendapat orang lain. Junhong,,, iya Junhong, dia harus menemukan pemuda itu.

Tidak meperdulikan kopernya yang tergeletak begitu saja karena Daehyun hanya memerlukan ponsel dan dompetnya saja. Sambil mendial nomor dari daftar kontaknya, Daehyun lalu pergi meninggalkan tempatnya.

"Jongup-ah,, di mana kau?"


Jongup enggan membuka suaranya, melirik prihatin pada penampilan kacau Daehyun yang sedang duduk di sampingnya, sedang dia sendiri duduk di bangku kemudi. Cukup penasaran apa yang sebenarnya membuat 'mantan sunbae' yang dia hormati itu sampai menghubunginya pagi-pagi buta seperti ini.

"Bang Yongguk,,"

Jongup rasanya membeku saat Daehyun menyebutkan nama itu. Fokusnya kembali sadar saat Daehyun meneriakinya kala sebuah truk besar lewat tepat di depan mobil yang mereka tumpangi.

"Sial!" umpat Jongup di batinnya saat tubuhnya tersentak kedepan saat dia menekan pedal gas tiba-tiba membuat mobil mereka kini benar-benar berhenti.

"Dia,, di Korea,," tambah Daehyun. Jongup tidak merespon sedikitpu, dia hanya menatap lurus pada jalanan lenggang di depannya. Bahkan saat lampu rambu sudah menyala hijau, Jongup sepertinya masih enggan untuk menjalankan mobil jaguar putih kesayangannya itu.

"Dan Junhong menghilang,," tambah Daehyun.

"Apa?!"

"Aku bertemu Himchan Hyung,, Dia memintaku membawa Junhong pergi,," terang Daehyun dengan suara bergetar. "Dia,, tidak tahu soal Junhong kan?"

Jongup ingin sekali menghibur Daehyun dengan kata-kata yang menenangkan seperti 'tentu dia tidak tahu..' dan kata-kata semacamnya, namun sulit baginya untuk mengatakan semua itu. Karena dia tahu benar, orang seperti apa Bang Yongguk itu.

"Hyung,," lirih Jongup.

"Apa? Apa kau tahu apa yang harus kulakukan Jongup-ah?"

Hanya ada dua cara untuk menghadapi Bang Yongguk. Pertama, menyerahkan diri yang berarti itu mati, dan yang kedua adalah menyerah. Namun lidahnya terasa kelu untuk menyampaikan pikirannya pada Daehyun.

"Apapun, apapun akan kulakukan untuk membantumu hyung,," Jongup sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi. Meskipun dia tahu, jika dirinya tidak akan banyak membantu.


Daehyun tidak tahu dia di mana sekarang, semuanya gelap. Tidak ada satu peneranganpun di tempatnya berdiri saat ini. Gelap, apa dia yang sudah buta? Entah, Daehyun tidak bisa membedakan apa dia sudah buta, atau tempat ini ang memang gelap. Jadi dia memutuskan untuk berjalan saja, tanggannya mencoba untuk menggapai-gapai apapun yang mungkin ada di depannya. Tapi nihil, tidak ada apapun di tempat ini.

'Krieet..'

Daehyun menoleh saat mendengar suara deritan pintu yang terbuka. Pintu yang terbuka secara perlahan membuat cahaya masuk-sedikit demi sedikit. Ah,, jadi matanya tidak buta, hanya saja tempat ini yang gelap. Dan saat pintu itu terbuka semakin lebar, Daehyun bisa melihat dengan jelas siluet seseorang yang berdiri di depan sana.

"Daehyun hyung,," panggil suara itu.

"Ju-junhong-ah.." meski tidak bisa meihat dengan jelas sosok tadi karena cahayanya berad tepat di belakan sosok itu, Daehyun tahu benar kalau itu suara Junhong.

"Hyungh.." lirih Junhong dengan isak tangis.

"Kenapa sayang? Siapa yang menyakitimu?" Daehyun buru-buru melangkah menuju tempat Jungong berdiri, tidak jauh mungkin hanya sepuluh meter. Namun entah kenapa Daehyun merasa jarak diantara mereka sama sekali tidak terkikis meski Daehyun sudah merasa berjalan cukup jauh.

"Wae? Kenapa kau melakukannya?" tanya Junhong. Membuat lutut Daehyun melemas seketika.

"A-aku,,-"

"Waeeee?! Kenapa kau membunuh keluargaku?" Junhong menjerit keras.

"Jun,, Junhong,," Daehyun masih berlari, berusaha menggapapai Junhong. Dia akan memohon ampun pada pemuda itu, berlutut merendah sampai Junhong bisa memaafkannya, meskipun sebenarnya Daehyun yakin kalau Junhong tidak akan pernah memaafkannya. Karena memang dia tidak pantas dimaafkan.

"Kau bahkan memberiku obat agar aku tidak bisa mengingat semuanya? Kau dasar brengsek.." maki Junhong sambil melempar kasar pada Daehyun sebotol obt yang benar-benar dikenali Daehyun. Itu adalah Benzodiazepin, obat yang bisa menyebabkan amnesia sementara. Obat yang seharusnya digunakan untuk mengobati kecemasan dan insomnia itu malah Daehyun berikan kepada Junhong setiap Daehyun merasa kalau Junhong mulai mendapat ingatannya. Daehyun benar-benar brengsek.

Daehyun berlutut, menggapai sebotol Benzodiazepin yang menyentuh ujung kaki telanjangnya, "A-aku.. Aku,," dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada Junhong. Karena semua yang dikatakan pemuda itu memang benar. "Maafkan aku.." lirih Daehyun yang sudah tidak perduli lagi kalau wajahnya sudah basah oleh air mata, bahkan saat mengambil nafaspun rasanya sangat susah.

"Maaf katamu?! Kau kira dengan maafmu keluargaku akan kembali?! Dasar brengsek.. Aku membencimu sial!" Junhong meluapkan semua emosi dan kekecewaannya pada Daehyun, bahkan suaranya bergetar karena tangis.

"Tidak,, tidak,, Junhong ah! Kau boleh membunuhku,, kau boleh melakukan apapun untuk membalas kematian keluargamu,, tapi kumohon,, jangan benci aku,," iba Daehyun.

"Terlambat Jung Daehyun,, " lirih Junhong sambil mengacungkan ujung revolver tepat ke arah kepala Daehyun. "Aku,, benar-benar membencimu.." Bisik Junhong tepat sebelum dia menarik pelatuk benda hitam itu.

'DOR!'

.

.

to be Continue

160916

Pendek? Banget DX

Masih adalah DaeLover di sini? Semoga masih ada ya DX

Maaf lamaaaaaaaaaaaaaa banget updatenya, -kalo ada yang baca sihhh..

Hehheeehhh sudah ah..

Siapapun yang baca,, wajib review,, awas saja kalo ngga review :p