Flower, Harmony, and Nunbucheo

Chapter 4

KIM MINGYU X JEON WONWOO (MEANIE)

SEVENTEEN PLEDIS

WARNING! Genderswitch!Uke

Happy Reading ^^

Disinilah Mingyu mendudukkan dirinya, di restaurant milik sepupu sekaligus sahabatnya yang gemar menari itu. Ia terdiam beberapa saat lalu merogoh smartphone miliknya dan menelpon seseorang dengan ekspresi datar.

"Ne, Kim sajang-"

"Cepat cari semua informasi terkait yeoja bernama Jeon Wonwoo, semua tanpa bersisa. Dan aku ingin berkas itu sudah ada di depanku tidak lebih dari limabelas menit." Potong Mingyu mengeluarkan perintahnya pada namja yang sepertinya adalah asisten nya. Tanpa menunggu balasan dari seberang sana, Mingyu langsung mematikan panggilannya sepihak.

Ia lalu memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir espresso yang disambut dengan senyuman ramah sang pelayan tanda hormat pada pelanggannya.

Saat espresso pesanannya datang, saat itu juga datang seorang namja ber jas mendatangi Mingyu dan membawa sebuah amplop besar dan tebal berwarna coklat. Namja ber jas itu membungkuk dan menyerahkan amplop tersebut pada Mingyu.

"Ini adalah semua data berisi informasi berkaitan dengan Jeon Wonwoo, sajangnim."

"Bisa kau jelaskan isinya? Aku tidak berminat membacanya." Ujar Mingyu santai.

"Ne? N-ne, dia bernama Jeon Wonwoo, lahir 17 Juni 1997. Sedang melanjutkan kuliah di-"

"Aku tidak peduli tentang latar belakangnya! Berikan aku informasi yang lebih penting." Perintah Mingyu kasar membuat namja ber jas didepannya sedikit takut.

"Dia hanya tinggal bersama ibu nya yang bernama Shin Minhui, orang tua nya bercerai saat ia kecil dan ayahnya sekarang merupakan Jendral Manager di Sian Corporation. Keluarga nya terlilit hutang dengan beberapa perusahaan rentenir kecil di kota Seoul, dan menurut informasi yang saya dapat ibu Wonwoo terkena Kanker otak stadium tiga. Tapi mereka tidak pernah berkunjung ke rumah sakit karena alasan biaya." Jelas sang namja ber jas yang hanya dibalas anggukan Mingyu.

"Bagaimana dengan saudaranya?" tanya Mingyu.

"Dia merupakan anak tunggal, sajangnim. Oleh karena itu, Wonwoo bekerja dari umurnya yang masih muda untuk membiayai ibu nya dan dirinya. Dan dari hasil bekerja nya ia dapat melanjutkan pendidikan nya sampai ke Pledis University jurusan seni dan menyewa sebuah flat." Jelas namja ber jas itu lagi.

"Geurae, kerja bagus. Kau bisa kembali," ujar Mingyu yang dibalas bungkukan namja didepannya.

"Ah, dan bawa berkas ini ke ruang kerjaku." Perintah Mingyu lagi.

"Ne, sajangnim." ucap namja ber jas itu lalu pergi.

Mingyu menyesap espresso miliknya dalam diam.

'Jeon Wonwoo.' Batin Mingyu menyeringai, ia mengambil smartphone miliknya dan menghubungi seseorang.

"Aku punya lima puluh juta won tunai untukmu, dengan syarat.." Mingyu terdiam sebentar melihat sesosok yeoja berambut hitam masuk di pintu restaurant.

"Tangkap Shin Minhui dalam waktu limabelas menit." Mingyu memutuskan sambugan teleponnya

-Flower, Harmony, and Nunbucheo-

Ditengah perjalanan Wonwoo menuju Star Restaurant, yeoja tinggi itu mendapat sebuah panggilan dari handphone miliknya. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut saat melihat nama orang yang menelponnya.

"Eonni?" sapa suara diseberang sana.

"Ne, Seungkwannie." Balas Wonwoo.

"Eonni, kau sedang dalam perjalanan ke florist?" tanya Seungkwan.

"Aniya Seungkwan-ah, eonni ada keperluan mendadak saat ini. Bisakah kau menyampaikan izinku pada ahjumma?"

"Kebetulan eonni, ahjumma berniat menutup florist lebih awal hari ini. Keluarga kami mengadakan acara malam ini, jadi ahjumma harus menyiapkan banyak hal." Jelas Seungkwan yang membuat Wonwoo berbinar.

"Jinjja?! Baguslah kalau begitu, eonni jadi tidak absen bekerja hehe. Baiklah sampaikan salamku pada ahjumma ya Seungkwannie, selamat bersenang-senang."

"Tentu eonni." Ucap Seungkwan mengakhiri percakapannya dengan Wonwoo.

Wonwoo menghela nafas lega, ia pikir ia harus merelakan pekerjaannya yang berharga demi menemui namja bernama Mingyu tanpa alasan yang jelas. Dan beruntung lah berkat berita baik dari Seungkwan membuat Wonwoo melangkahkan kakinya dengan riang.

Setelah sampai di Star Restaurant, Wonwoo mengedarkan pandangannya mencari namja yang tak cukup asing lagi di ingatannya. Dan yeoja itu menemukan Mingyu sedang duduk dengan tangannya yang terlipat. Ia segera melangkah mendekati Mingyu dan menyapa namja berkulit tan tersebut.

"Annyeonghaseyo Mingyu-ssi." Sapa Wonwoo yang membuat Mingyu menengadah menatap dirinya.

"Kau harusnya bersyukur masih kutunggu saat kau sudah telat hampir satu jam." Ujar Mingyu dingin

"Mianhaeyo Mingyu-ssi, aku-"

"Aku tidak butuh alasan tidak pentingmu itu nona. Sekarang dengarkan aku baik-baik, kau harus membantuku hari ini dan seterusnya dengan menjadi kekasihku."

Wonwoo yang awalnya kesal karena perkataannya dipotong berubah menjadi kaget atas ucapan Mingyu.

"Mwo?! Kekasih?!" Wonwoo berdiri dari duduknya membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.

"Aku tidak mau! Aku memang ingin membantumu, tapi menjadi kekasihmu? Haha, tidak!" ujar Wonwoo sarkatis, Mingyu hanya tersenyum meremehkan. Ia menatap smartphonenya yang berbunyi menandakan panggilan masuk dan mengangkatnya. Mingyu terdiam mendengarkan orang di seberang sana lalu mengangguk tanda puas.

"Kerja bagus, aku akan menghubungimu lagi." Mingyu menutup teleponnya lalu menatap Wonwoo.

"Kau pikir aku mau jadi kekasihmu? Tentu tidak, tapi kali ini kau harus menjadi kekasihku. Tenang saja, itu hanya untuk hari ini dan kau cukup berpura-pura menjadi kekasihku didepan appaku." Ujar Mingyu.

Wonwoo membelalakkan matanya, berpura-pura menjadi kekasih? Heol! Dan juga Mingyu menyuruhnya untuk berbohong pada orang tua? Hell NO! Wonwoo tidak mau melakukannya.

"Oh, jangan lupa jika kau yang memaksaku untuk meminta bantuanmu nona Jeon, dan lagipula aku berniat membayarmu dengan bantuanmu kali ini."

Perkataan Mingyu yang seakan merendahkannya membuat emosi Wonwoo naik, yeoja itu menunjuk hidung Mingyu dengan telunjuknya.

"Kau! Kau pikir aku serendah itu hah?! Aku memang membutuhkan uang tapi tidak dengan cara keji apalagi membohongi orang tua!" teriak Wonwoo penuh emosi, ia tidak peduli pusat perhatian pengunjung restaurant tertuju padanya, beruntung saat itu restaurant sedang cukup sunyi. Mingyu yang merasa suasana makin memanas hanya mendehem pelan dan memperbaiki posisi duduknya.

"Baiklah, terserah padamu. Tapi, aku tidak bertanggung jawab jika kau akan dikeluarkan dari pekerjaanmu juga dari Pledis university besok. Oh, dan apa kau tidak kasihan dengan eommamu? Dia terkena kanker dan kau masih menolak bantuanku? Heol! Yang benar saja." Mingyu tertawa meremehkan.

"Maaf, Tuan Kim yang terhormat! Tapi aku tidak peduli apapun yang akan kau lakukan, dan aku tidak akan membantumu meskipun kau memberiku uang sebanyak apapun." Wonwoo membawa dirinya meninggalkan Mingyu sampai Mingyu bersuara dibelakangnya.

"Jeon Wonwoo."

"Kau cukup sulit dinegosiasi rupanya, tapi tidak apa.. aku tak akan memaksamu," Mingyu melanjutkan kalimatnya.

"Aku akan memberimu penawaran terakhir, Kau membantuku dan eommamu kembali padamu atau kau tetap menolak dan kau tidak akan melihat eommamu lagi." Ujar Mingyu tenang, namun perkataannya membuat Wonwoo membalikkan badannya.

"Mwo?! Kau! Beraninya kau berkata seperti itu!"

"Tentu saja, aku Kim Mingyu dan aku akan selalu mendapatkan yang aku inginkan." Wonwoo menggeram marah.

"Aku tau itu hanya bualanmu semata tuan Kim, tapi maaf aku tidak akan percaya pada orang brengsek macam kau."

"Kau tidak percaya? Baiklah, akan kubuktikan." Mingyu menelpon seseorang dan saat panggilan telah tersambung, ia menyerahkannya pada Wonwoo. Wonwoo ragu untuk mengambilnya, dan memutuskan untuk mengambil smartphone Mingyu dan mendekatkannya ke telinganya.

"Eomma?" panggil Wonwoo.

"Wonnie-ya! Wonwoo, tolong eomma!" suara tangisan terdengar dari seberang sana.

"Eomma?! Eomma eodiya?! Tunggu aku eomma, aku akan menjemputmu!" Wonwoo panik mendapati sang eomma menangis meminta tolong padanya. Mingyu langsung merebut smartphone nya dan mematikan sambungannya. Wonwoo menatap Mingyu dengan mata berair.

"Teganya kau Kim Mingyu!"

"Itu pilihanmu Jeon Wonwoo, aku memberimu waktu satu jam dari sekarang. Jika kau tidak menghubungiku, katakan selamat tinggal untuk eomma tersayangmu." Mingyu beranjak melewati Wonwoo, meninggalkan yeoja itu dengan tangisannya.

Wonwoo tidak menyangka namja bernama Kim Mingyu akan berbuat sejahat itu padanya hanya demi membuat dirinya menjadi kekasih satu hari Mingyu. Seumur hidupnya baru kali ini ia menemui namja sebrengsek Mingyu. Bahkan sang eomma dijadikan sandera oleh Mingyu, ia tidak bisa membayangkan Mingyu membunuh eomma yang juga merupakan anggota keluarga satu-satunya.

Wonwoo menghapus air matanya dan melangkah dengan lesu keluar restaurant, ia hanya melangkah tanpa arah mengikuti kakinya yang membawanya ke sebuah taman bunga. Wonwoo memutuskan untuk duduk di salah satu bangku di taman tersebut.

Yeoja manis itu terdiam menatap kearah depan dengan pandangan kosong. Perlahan air matanya jatuh dan lelehan air mata itu semakin deras dan berubah menjadi tangis. Wonwoo menunduk untuk menyembunyikan tangisnya dan sebuah lengan menyodorkan sapu tangan berwarna pink padanya membuat kepalanya terangkat dan ia melihat seorang yeoja berkuncir membawa beragam jenis bunga di keranjang yang tergantung di lengannya.

"Eonni, jangan menangis.. Hari ini hari yang cerah, seharusnya eonni tersenyum. Apa eonni tidak malu pada bunga-bunga disekitar eonni? Mereka akan ikut sedih." Celoteh yeoja kecil dihadapan Wonwoo masih dengan tangannya yang menyodorkan sapu tangan. Wonwoo menerima sapu tangan itu dan mengusapkannya ke wajahnya, lalu ia tersenyum pada yeoja kecil didepannya.

"Eonni cantik saat tersenyum." Puji sang yeoja kecil.

"Gomawo, kau juga sangat manis adik kecil, siapa namamu?" tanya Wonwoo.

"Haerin, eonni."

"Nah, Haerin yang manis, terima kasih telah meminjamkan sapu tanganmu. Dan eonni tadi hanya sedih, eonni terjatuh saat di jalan tadi dan melukai kaki eonni." Ujar Wonwoo mengusap surai yeoja kecil dihadapannya.

"Tidak masalah, eonni. Oh, aku punya sesuatu untukmu eonni." Haerin terlihat mencari sesuatu di keranjangnya dan mengeluarkan setangkai Lily kuning dan memberikannya pada Wonwoo. Wonwoo terkejut lalu menghela nafasnya dan menerima bunga itu.

"Haerin-ah, apa kau mengerti makna bunga?" tanya Wonwoo dibalas anggukan Haerin. Wonwoo melihat sekitar taman, mencari bunga yang pas untuk mengungkapkan isi hatinya. Dan matanya tertuju pada kumpulan tulip yang tumbuh dibagian taman sebelah kiri.

"Tunggu sebentar ya, Haerin." Wonwoo mendatangi tulip itu dan memetik setangkai tulip berwarna putih, lalu berlari kecil kearah tempatnya tadi dan memberikan tulip itu disertai dengan senyuman tulus. Yeoja kecil dihadapannya mengangguk kecil dan menerima tulip yang diberi Wonwoo.

"Tidak apa eonni, lain kali kau harus berani mengatakan yang sebenarnya sesulit apapun itu. Aku yakin eonni pasti bisa. Kalau begitu, aku pergi dulu ya eonni. Eomma pasti mencariku." Ucap Haerin melambaikan tangannya pada Wonwoo yang dibalas anggukan serta lambaian tangannya.

"Ah! Eonni! Permintaan maaf diterima, sampai jumpa lagi." Seru Haerin dengan tangannya yang mengangkat tulip putih pemberian Wonwoo membuat Wonwoo tertawa kecil melihat tingkah manis Haerin.

Wonwoo duduk kembali dan menghela nafasnya, ia berterima kasih pada Haerin yang secara tidak langsung telah membuatnya berhenti menangis sekaligus menyadarkannya atas perilakunya. Memang Haerin tidak mendapatinya melakukan sesuatu yang sangat buruk, tapi ia tetap merasa malu karena Haerin menegurnya.

Pandangannya tertuju pada Lily ditangannya dan sesekali tangannya memutar batang Lily tersebut memainkannya. Wonwoo merasa dirinya bersalah dengan yeoja kecil bernama Haerin yang ditemuinya beberapa saat lalu. Pikirannya menerawang,

'Lily kuning, kebohongan dan kepalsuan.'

Wonwoo mengalihkan pandangannya lagi saat mendengar teriakan anak kecil yang terjatuh membuat Wonwoo reflek berdiri dan berniat mendatangi anak itu. Tangisan anak itu mulai mengeras dan beberapa saat kemudian yeoja muda yang diyakini Wonwoo adalah ibunya membantu anak itu berdiri dan memeluk anak tersebut. Hal itu membuat Wonwoo membatalkan niatnya untuk mendatangi anak tersebut.

"Junmi-ya, gwaenchana? Aigoo, sini eomma lihat lukamu." Ujar sang eomma sesaat setelah melepaskan pelukannya

"Eomma, ap-appo! Hiks.."

"Gwaenchana, eomma disini sayang. Kajja, kita obati lukamu dulu." Ujar sang eomma dan membawa anaknya ke bangku didekat Wonwoo berdiri. Lalu sang eomma menepuk pundak Wonwoo.

"Chogi, apa agasshi punya air?" tanya sang eomma, Wonwoo lalu merogoh tas nya dan mengeluarkan botol minum kecil miliknya.

"Sisa setengah, tapi kurasa cukup untuk membersihkan lukanya." Ujar Wonwoo.

"Kamsahamnida, agasshi." Ucap sang eomma.

"Aniyo, tidak masalah." Wonwoo mendekati anak kecil itu dan mengamati eommanya yang membersihkan luka di lutut anaknya dengan telaten dan hati-hati. Wonwoo tersenyum dan memetik mawar kuning disebelahnya.

Sesaat setelah sang eomma selesai menempelkan plester bergambar pororo, Wonwoo menyodorkan mawar digenggamannya. Sang anak bingung akan perilaku Wonwoo yang tiba-tiba memberinya bunga.

"Noona memberiku bunga? Noona, aku adalah laki-laki dan laki-laki tidak menerima bunga." Protes anak kecil tersebut masih dengan senggukannya. Wonwoo terkekeh kecil lalu merendahkan badannya sejajar denga anak tersebut.

"Siapa bilang? Bunga tidak hanya untuk perempuan, laki-laki juga bisa menerima bunga. Karena bunga memiliki banyak arti dan boleh ditujukan untuk semua orang." Jelas Wonwoo.

"Lalu, apa arti bunga yang noona pegang?" tanya anak kecil itu.

"Mawar kuning bisa berarti doa cepat sembuh." Ujar Wonwoo, anak kecil tersebut mengangguk lalu mengambil mawar kuning ditangan Wonwoo.

"Lalu, apa bunga yang berarti sayang?" tanya sang anak lagi. Wonwoo menunjuk mawar merah dan anak tersebut memetiknya lalu memberikannya pada eommanya.

"Ja, ini untuk eomma. Terima kasih telah mengobatiku, eomma. Aku sayang padamu." Ujar sang anak yang dibalas pelukan oleh sang eomma.

"Eomma juga sayang padamu, selamanya akan begitu sayang." Balas sang eomma membuat Wonwoo tersenyum, seketika ia mengingat eommanya yang masih terancam bahaya.

Yeoja bersurai hitam itu berdiri dan pamit pada pasangan ibu-anak tersebut dan melangkahkan kakinya keluar taman. Ia melihat jam ditangan kirinya menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit, sudah hampir satu jam sejak Mingyu meninggalkannya di restaurant. Pikirannya makin kalut dan Wonwoo langsung mengambil handphone miliknya dan mencari panggilan terakhirnya. Ia menghubungi nomor tersebut dengan tergesa-gesa.

"Kau berubah pikiran?" sambut suara diseberang sana.

"Kembalikan eomma ku, kau brengsek!" bentak Wonwoo.

"Wow, santai. Aku akan kembalikan eommamu asalkan kau setuju dengan penawaranku tadi."

"Baik, baik, lakukan sesukamu asalkan eommaku selamat." Wonwoo berucap pasrah.

"Good girl! Datang lah ke gedung tua di dekat rumahmu dan temui aku disana." Perintah Mingyu.

"Lalu bagaimana dengan eommaku?"

"Eomma mu akan berada disana bersamaku." Mingyu memutuskan teleponnya.

Wonwoo mendesah frustasi lalu berlari mencari taksi untuk menemui eommanya secepat mungkin.

'Maafkan aku, Haerin. Tapi kurasa kebohonganku tidak akan berakhir sampai disini saja.'

-TBC-

HI! Aku balik, bawa update-an baru! Hahaha, gaes jangan lupa review, like, and follow. Gomawo *bow and hug*

Ohiya, aku kadang suka sedih pas orang-orang nelpon Mingyu pasti diputus sepihak mulu wakakakak. Pesanku kalian hati-hati dan siap sakit hati aja kkalo nelpon Mingyu. #Lohh