Flower, Harmony, and Nunbucheo
Chapter 5
KIM MINGYU X JEON WONWOO (MEANIE)
SEVENTEEN PLEDIS
WARNING! Genderswitch!Uke
Happy reading^^
Wonwoo mencari gedung yang sekiranya sudah tua dan tidak terpakai lagi, dan matanya tertuju pada gedung kecil tak bercat dan terdapat dua buah mobil. Ia sangat mengingat mobil sport berwarna merah itu adalah milik Mingyu, mobil yang hampir menabraknya dan eommanya tempo hari. Ia langsung masuk kedalam gedung tersebut dan mencari keberadaan eommanya walaupun telapak tangannya sudah basah oleh keringat dan badannya merinding.
"Eomma?! Eodiya?!" seruan Wonwoo menggema membuat bulu kuduknya berdiri. Wonwoo berjalan makin menjelajah kedalam gedung tersebut dan dikagetkan oleh sesosok namja berbadan kekar berdiri tiba-tiba dihadapannya.
"Nuguya?!"
"Ikut aku kedalam." Perintah namja itu, Wonwoo memutuskan untuk mengikuti langkah namja itu dan berhenti saat dilihatnya sang eomma tertidur atau lebih tepatnya tak sadarkan diri di sebuah kursi. Wonwoo berlari mendatangi eommanya dan memeluknya erat.
"Jeon Wonwoo." Panggil suara dibelakangnya, Wonwoo menoleh dan mendapati Mingyu yang sedang menatapnya.
"Apa yang kau lakukan pada eommaku?!" seru Wonwoo.
"Aku tidak menyakitinya, karena kita sudah sepakat bukan?"
"Bagaimana bisa aku percaya kau tidak menyakitinya?" tantang Wonwoo. Mingyu mendecih dan mengarahkan dagunya pada Wonwoo, salah satu namja berbadan kekar mengangguk dan melempar selembar kertas serta tiga bungkus obat yang diambil oleh Wonwoo.
Wonwoo membaca kertas yang diambilnya. Kertas itu berisi surat pengobatan rumah sakit dengan nama eommanya dan juga obat sementara untuk mengurangi sakit yang disebabkan oleh kanker eommanya.
"Aku tidak ingin seseorang meninggal dihadapanku. Dan karena aku sudah membantu pengobatan eommamu, bagaimana jika kau ikut aku sekarang untuk bersiap-siap. Kau banyak membuang waktuku." Ujar Mingyu dingin.
"Geurae, tapi pertama biarkan aku memastikan eommaku sampai ke rumah dengan selamat. Dan aku akan mengikutimu setelah itu." Wonwoo menatap Mingyu tajam.
"Fine, kau bisa ikut denganku. Aku akan mengantar kalian." Ucap Mingyu berlalu keluar gedung itu. Wonwoo mengikuti Mingyu dengan membopong sang eomma yang tak sadarkan diri karena pengaruh obat.
-Flower, Harmony, and Nunbucheo-
Setelah Wonwoo membawa eommanya ke flat milik mereka dan menidurkan sang eomma di tempat tidurnya, Wonwoo segera kembali ke mobil dan Mingyu langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat Wonwoo bergidik ngeri karena takut akan terjadi kecelakaan.
"Kim Mingyu-ssi, bisakah kau memelankan lajunya eoh? Kita bisa saja kecelakaan!" seru Wonwoo yang tidak digubris oleh Mingyu. Wonwoo beberapa kali mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil dengan laju diatas rata-rata tapi tidak dihiraukan Mingyu, sesekali ia dibalas dengan tatapan tajam Mingyu yang membuat Wonwoo takut dan memutuskan untuk memanjatkan doa berkali-kali agar hari ini ia masih diberikan keselamatan oleh Tuhan.
Dan disinilah Mingyu dan Wonwoo sekarang, di pusat perbelanjaan Gangnam. Mingyu keluar dengan kacamata hitam yang tersampir di hidungnya dan Wonwoo yang keluar dengan muka pucat dan badan yang lemas. Sepanjang perjalanan, Mingyu benar-benar membuatnya pusing karena menyalip mobil-mobil lain di jalanan dan juga mengerem tiba-tiba. Hal itu membuat perutnya seperti diaduk dan sekarang ia mual.
Setelah Wonwoo berjalan beberapa langkah, ia merasakan isi perutnya akan keluar dan menunduk saat mulutnya mengeluarkan muntahan. Mingyu yang melihat Wonwoo muntah terkejut dan lagi muntahan Wonwoo mengenai mobilnya.
"Mwoya! Kau yeoja kampung, bisa tidak kau tidak muntah di mobilku eoh?!" teriak Mingyu pada Wonwoo yang baru menyelesaikan muntahnya.
"YA! Ini salahmu, bodoh! Kau mengendarai mobilmu dengan kecepatan diatas rata-rata dan itu membuatku mual!" Wonwoo balas berteriak walaupun badannya masih terasa lemas. Mingyu hanya membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa kau bilang?! Beraninya kau menyalahkanku eoh?! Ya cepat bersihkan mobilku sekarang." Perintah Mingyu menunjuk bekas muntahan Wonwoo.
"Shirheo! Kau saja sana yang membersihkannya!" Ujar Wonwoo lalu berjalan mencari toilet. Mingyu menarik rambutnya dari belakang membuatnya berteriak kesakitan.
"Yeoja kampung, kau benar-benar berani eoh?! Kau ingin eomma mu diculik lagi?!" Mingyu merasakan tangannya dihempas oleh Wonwoo.
"Dasar tukang ancam! Kalau saja bukan karena membantu eomma sudah kubunuh kau dari dulu." Ujar Wonwoo sarkatis, tangannya beralih ke tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar tisu basah dan mengelapnya ke mobil Mingyu yang terdapat bekas muntahannya.
"Bunuh saja jika kau ingin seluruh dunia membencimu karena telah membunuh direktur utama Pledis Corporation." Ujar Mingyu sombong.
Wonwoo heran, mengapa namja dibelakangnya itu memiliki sifat yang sangat sangat buruk, beberapa waktu lalu ia seperti penjahat sadis yang berani membunuh orang. Dan sekarang lihatlah namja itu seperti seorang raja yang menyombongkan semua hartanya. Cih, Wonwoo benar-benar tidak akan mau berurusan lagi dengan namja bernama Kim Mingyu setelah ini.
"Masa bodoh, aku tidak peduli." Ucap Wonwoo cuek, rasa takutnya akan Mingyu beberapa waktu lalu hilang dan berubah menjadi rasa benci dan kesal karena sikap namja itu.
"Kau benar-benar berani eoh?! Awas saja kau yeoja kampung, jika kau berani macam-macam padaku aku tidak akan segan menghancurkan hidupmu." Ancam Mingyu.
"Terserahmu sajalah, dasar tukang ancam. Untuk apa aku macam-macam denganmu, membuang waktu saja." Mingyu benar-benar tidak percaya ada yeoja yang berani mengatainya seperti itu. Biasanya yeoja akan mendekatinya dengan cara apapun, tapi tidak dengan Wonwoo. Yeoja itu berani mengatainya bahkan melawannya, dan sering membuat emosinya mendidih dalam satu detik.
"Kau! Jika saja aku tidak membutuhkanmu, aku akan menyingkirkanmu secepat mungkin."
"Coba saja, aku juga akan menyingkirkanmu dengan mudah. Tinggal bilang kau membuat aksi kriminal didepan para wartawan dan headline berita akan terukir namamu." Wonwoo membuang tisu basah terakhirnya dan menatap Mingyu dengan pandangan sebal. Mingyu berniat membalas perkataan Wonwoo lagi sebelum yeoja itu memotong.
"Daripada kau repot memikirkan cara menyingkirkanku, lebih baik kau memikirkan apa yang harus dilakukan disini. Kau sendiri yang membuang waktu, Tuan Kim yang terhormat. Ini sudah hampir senja kau tau?" Wonwoo melipat kedua lengannya di dada.
Mingyu mengangkat tangannya hendak memukul Wonwoo kalau saja tidak banyak orang yang melihat kearah mereka berdua. Akhirnya Mingyu meninggalkan Wonwoo dengan langkah cepat dan wajah memerah menahan amarah. Wonwoo tersenyum merasa menang lalu mengikuti Mingyu dari belakang.
Mereka menuju kearah sebuah butik ternama dan memasukinya, Wonwoo berdecak kagum melihat banyaknya dress yang mewah dan indah. Melihat reaksi Wonwoo, Mingyu merespon dengan decihan tak suka.
"Dasar yeoja kampung." Ejek Mingyu pelan, namun Wonwoo mendengarnya.
"Daripada kau, iblis sadis." Ejek Wonwoo balik dengan memeletkan lidahnya membuat emosi Mingyu kembali mendidih, Wonwoo yang merasa Mingyu akan meledak melarikan diri ke bagian mini-dress dalam butik itu. Mingyu menghela nafasnya dengan berat. Seorang pegawai yang melihat hal itu tersenyum penuh arti padanya membuat Mingyu risih.
"Wae?!" bentak Mingyu.
"Animnida tuan, hanya saja kalian pasangan yang unik." Puji pegawai tersebut yang lebih terlihat seperti hinaan untuk Mingyu.
"Bicara sekali lagi dan aku pastikan kau menjadi pengangguran besok." Ujar Mingyu dan berlalu melewati pegawai tersebut. Pegawai tersebut terkejut dan langsung membungkukkan badannya.
Mingyu mendatangi Wonwoo yang terpaku pada dress selutut berwarna ungu dihadapannya, dress itu memiliki bunga mawar dibagian bahu sebelah kiri membuat dress itu semakin terlihat indah. Mingyu menatap malas pada Wonwoo.
"Cepatlah memilih, yeoja kampung. Waktuku tidak banyak lagi." Ujar Mingyu.
"Bolehkah aku memilih dress ini Mingyu-ssi?" tanya Wonwoo penuh harap, Mingyu menatap dress ungu tersebut.
"Pilihan yang buruk, memang tipe-tipe yeoja kampung." Sindir Mingyu membuat Wonwoo mengepalkan tangannya. Ia merasa sakit hati atas ucapan Mingyu, namun Wonwoo hanya memendam emosi nya tidak ingin berdebat dengan namja tak punya hati disampingnya.
"Aku pilih itu, dan tolong pilihkan sepatu yang cocok dengan dress itu." Ujar Mingyu menunjuk dress putih yang terdapat disebelah dress ungu pilihan Wonwoo tadi. Wonwoo yang hampir meneteskan air matanya hanya memilih untuk pergi keluar butik meninggalkan Mingyu yang terheran dibuatnya.
Setelah Mingyu membayar dress dan sepatu milik Wonwoo, ia menyusul Wonwoo diluar butik dan melempar tas berisi dress dan sepatu itu kearah Wonwoo yang ditangkap dengan setengah hati oleh Wonwoo. Mingyu lalu membawa-lebih tepatnya ia berjalan dan diikuti Wonwoo- menuju ke salon, mereka disambut ramah oleh pegawai disana.
"Tolong rias dia, jangan terlalu menor." Perintah Mingyu lalu menatap Wonwoo yang sedang menatapnya balik dengan pandangan tajam.
"Mwo? Ada masalah?" tanya Mingyu dingin. Wonwoo membuka mulutnya berniat untuk berteriak, namun akhirnya ia berdehem pelan lalu berbicara dengan dingin pada Mingyu.
"Aku mengerti jika kau tidak suka dengan selera orang, tapi setidaknya kau tidak perlu menjelekkan orang lain di hadapan umum seperti itu. Inilah yang membuat aku tidak menyukaimu, kau tidak pernah menghargai orang dan tidak tau sopan santun." Sindir Wonwoo tajam.
"Memang apa urusanmu? Dasar yeoja kampung." Balas Mingyu. Wonwoo yang merasa kesabarannya habis mendekati Mingyu dan mencubit pinggang namja itu dengan keras. Mingyu berteriak kesakitan dan menghempas tangan Wonwoo.
"Mwoya?!" Mingyu mengusap pinggangnya yang terasa ngilu.
"Itu balasan untuk kau yang tidak sopan." Wonwoo meninggalkan Mingyu dan mengikuti pegawai didepannya.
Mingyu lagi-lagi menatap tidak percaya pada yeoja ajaib bernama Wonwoo itu. Baru pertama kali dirinya menemui yeoja seberani Wonwoo, bahkan yeoja itu berani mengancamnya balik. Harga dirinya sebagai Kim Mingyu benar-benar terasa diinjak oleh yeoja keras kepala bernama Jeon Wonwoo itu.
Mingyu mendudukkan dirinya diatas bangku pelanggan di salon itu dan meringis saat pinggangnya terasa ngilu.
'Sial! Kekuatan yeoja kampung itu memang tidak bisa diremehkan.'
Mingyu sibuk mengusap pinggangnya yang sakit saat smartphone nya berdering, Mingyu hanya menatap malas melihat nama kontak orang yang menelponnya lalu menolak panggilan tersebut. Tak berapa lama kemudian, deringan telepon kembali terdengar dan Mingyu menggeram pelan lalu mengangkatnya.
"Wae?" tanya Mingyu malas.
"Kau tidak melupakan janjimu malam ini, bukan?"
"Hah, tentu tidak. Aku akan membawanya malam ini." Jawab Mingyu.
"Baguslah, aku akan menunggumu." Balas sang penelpon lalu memutus sambungan teleponnya.
Mingyu kembali menaruh smartphone nya, ia menggerutu kenapa Wonwoo berias dengan waktu yang lama. Tidak menyadari bahwa ia hanya baru menunggu yeoja itu selama beberapa belas menit. Mingyu memutuskan untuk menghubungi Soonyoung lewat sosial media.
MingyuKim : 'Hoi, Kwon!'
MingyuKim : 'Aku tau kau selalu on. Balas pesanku.'
KwonHoshi : 'Cih, mencariku setelah meninggalkanku dirumah sakit, kau benar-benar brengsek Kim.'
MingyuKim : 'Hehe, maafkan aku Kwon. Aku berjanji akan mentraktirmu.'
KwonHoshi : 'Kebiasaanmu menyogokku harus dihilangkan babo!'
MingyuKim : 'Aku akan membelikanmu sepatu nike limited edition Kwon.'
KwonHoshi : 'Sogokan yang basi-_-'
MingyuKim : 'Arrasseo kau boleh memilikinya.'
KwonHoshi : 'Mwo? Memiliki apa?'
MingyuKim : 'Studio Dance milikmu sendiri.'
KwonHoshi : 'Jinjja?! Kim Mingyu kau bercanda?!'
MingyuKim : 'Yasudah kalau tidak mau.'
KwonHoshi : 'Eiy, jangan begitu dong, sepupuku Mingyu yang tampan.'
MingyuKim : 'Tidak usah modus, cepat katakan dimana kau ingin membangun studio mu.'
KwonHoshi : 'Assa! Baiklah aku akan mencari lokasi yang tepat terlebih dulu, aku akan menelponmu nanti.
MingyuKim : 'Ya, terserahmu sajalah.'
Seseorang berdehem cukup keras membuat Mingyu mengalihkan perhatiannya.
Didepannya berdiri sosok Jeon Wonwoo dengan balutan dress pilihan Mingyu, tinggi badannya yang sudah menjulang dibuat lebih tinggi lagi dengan high heels putih yang elegan saat dikenakan Wonwoo. Make up natural di wajahnya yang pas dengan kulit putih mulusnya serta rambut yang tergerai bergelombang dan dijepit pita berwarna silver dibagian kanan rambutnya. Sosok yang benar-benar sempurna dimata seluruh pegawai di salon tersebut.
Mingyu sedikit tercengang dengan penampilan Wonwoo saat ini, namun ia berhasil mempertahankan wajah datarnya dihadapan Wonwoo. Lalu ia mengedipkan matanya beberapa kali dan berdehem pelan, ia mendirikan badannya dan beranjak menuju kearah kasir.
Wonwoo yang merasa dicueki hanya mendengus kesal,
'Setidaknya beri sedikit komentar kan bisa, dasar namja triplek.' Batin Wonwoo.
Wonwoo menyusul Mingyu kearah kasir dan sempat terkaget saat salah satu pegawai dikasir itu menyebutkan nominal harga beriasnya beberapa saat yang lalu. Berbeda dengan Mingyu, namja itu hanya mengeuarkan sebuah kartu dari dompetnya lalu memberikannya pada pegawai tersebut. Setelah membayarnya Mingyu berjalan kembali ke mobil diikuti Wonwoo yang masih kesal dengan Mingyu.
Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi antara Wonwoo dan Mingyu. Kali ini Mingyu mengendarai mobilnya dengan lumayan santai tidak seperti sebelumnya. Wonwoo maupun Mingyu tidak ada berniat untuk memulai pembicaraan satu sama lain. Hingga sebuah suara ering dari telepon Wonwoo memecahkan keheningan tersebut.
"Yoboseyo eomma?" Wonwoo menyapa.
"Wonwoo-ya?! Kau dimana, sayang? Eomma khawatir padamu-hiks." suara senggukan terdengar dari seberang telepon.
"Aku baik-baik saja, eomma. Eomma uljimayo, aku akan segera pulang setelah menyelesaikan urusanku selesai, ne? jangan khawatirkan aku. Eomma beristirahatlah."
"Kau benar-benar tidak apa-apa, Wonnie-ya?" tanya sang eomma.
"Ne, eomma. Nan gwaenchanayo." Balas Wonwoo.
"Ah, iya. Wonwoo-ya, eomma tadi merasa seperti dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang berbaju hitam. Entahlah eomma sangat takut, dan setelah dirumah sakit eomma pikir eomma akan dibawa kemana-mana, tapi eomma sudah berada dikamar saat eomma bangun. Apa itu hanya mimpi eomma saja, Wonnie-ya?"
"Ne, eomma. Itu.. eum, hanya mimpi eomma saja mungkin. Eomma beristirahatlah dan jangan lupa minum obat diatas meja, ne?" ujar Wonwoo sedikit tergagap.
"Obat? Kau membelinya?" tanya sang eomma lagi.
"Ne, eomma tadi aku membelinya sebelum pulang, dan ternyata eomma tidur. Jadi aku taruh saja di atas meja."
"Kau punya uang, Wonnie-ya?"
"Ne, eomma. Aku mendapatkan uang tambahan dari ahjumma di florist dan aku langsung membeli obat untuk eomma." Bohong Wonwoo.
"Seharusnya kau tabung saja uangmu, Wonnie-ya. Eomma tidak perlu obat-obat itu."
"Aniya eomma! Eomma memerlukannya, eomma harus sembuh. Aku akan berusaha untukmu, jadi sekarang eomma istirahat ya?" bantah Wonwoo.
"Haaah, baiklah. Berhati-hatilah dijalan Wonwoo-ya, jangan pulang larut, arra?"
"Ne, eomma. Aku tutup, ne?"
Wonwoo memutus sambungan telepon dengan eomma nya dan menyimpan kembali telepon miliknya. Mingyu yang mendengar seluruh percakapan Wonwoo dengan eommanya tertawa sinis.
"Mimpi, ya? Mimpi yang lumayan buruk kurasa. Dan kau membeli obat itu? Woah, woah Jeon Wonwoo, kupikir kau adalah yeoja yang selalu berkata jujur. Tapi ternyata kau juga berbohong ya pada eomma mu?" sindir Mingyu yang dibalas tatapan tajam Wonwoo.
"Apa urusanmu? Memangnya kau tau rasanya jika ibumu dalam bahaya dan kau ingin menyelamatkannya tapi tidak bisa? Kurasa tidak! Bukannya Kim Mingyu adalah tuan raja yang selalu diikuti kemauannya oleh kedua orang tuanya? Yang selalu dimanja dan dielu-elukan ibu dan ayahnya? Tipe-tipe anak yang akan melapor pada ibunya saat ada temannya yang mengejeknya, Bukan begitu?"
Mingyu menggeram marah dan menginjak tiba-tiba rem mobilnya yang menyebabkan keduanya terdorong kedepan. Wonwoo membelalakkan matanya kaget dan amarahnya mendidih bersiap untuk teriak pada Mingyu saat Mingyu memotong,
"KAU! Yeoja kampungan tidak tau apa-apa tentang hidupku! Jika kau masih ingin melihat ibumu hidup, tutup mulut busukmu itu! Jangan pernah sekali-kali mengungkit tentang hidupku, terutama ibuku! Kau tau apa tentang keluargaku, HAH?!" Mingyu membentak Wonwoo dengan emosi menggebu-gebu.
Wonwoo merasakan air matanya menetes saat dibentak Mingyu. Ia terkejut dengan respon Mingyu yang diluar dugaannya. Ia takut sekaligus merasa sakit hati pada Mingyu, ia benar-benar merasa benci seketika pada Mingyu yang berani-beraninya mempermainkan hidup eommanya.
Mingyu memejamkan matanya saat melihat wajah Wonwoo yang penuh air mata, ia merasa amarahnya benar-benar terkuras saat Wonwoo menyinggung tentang eommanya. Mingyu menghirup dan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan lalu mulai menjalankan mobilnya kembali.
Suasana didalam mobil mewah itu semakin dingin dan mencekam, bahkan hingga saat mereka sampai di mansion milik keluarga Kim. Wonwoo sempat bingung dengan tempat tujuan mereka karena ia tidak sempat bertanya pada Mingyu. Tapi, karena ia masih sakit hati atas perkataan Mingyu beberapa saat lalu, ia hanya diam saja mengikuti Mingyu masuk kedalam mansion megah tersebut.
Mingyu tanpa peringatan sebelumnya menggandeng Wonwoo sesaat setelah mereka berdua masuk kedalam ruang tamu dirumah itu. Wonwoo yang terkejut atas perlakuan Mingyu meronta-ronta dan menarik tangannya hingga terlepas.
"Kumohon, bekerja samalah denganku setidaknya untuk malam ini saja. Kau akan bertemu dengan ayahku dengan status sebagai pacarku, aku harus meyakinkannya agar aku tidak lagi harus mengikuti kemauannya yang seenak jidatnya menjodoh-jodohkanku. Jadi, sekali lagi kumohon padamu bantu aku."
Mingyu berkata dengan suara lemah membuat Wonwoo bengong. Baru kali ini ia mendengar Mingyu bmemohon padanya tidak dengan nada angkuh, bahkan terkesan putus asa.
Sesaat Wonwoo merasa senang karena ia berpikir Mingyu kalah untuk kembali berdebat dengannya. Tapi Wonwoo jadi merasa sedikit kasihan, jadi ia menganggukkan kepalanya pelan lalu kembali berjalan dengan Mingyu dan kali ini membiarkan tangan besar Mingyu yang menggenggam tangannya.
Mereka masuk ke ruangan makan keluarga Kim, Wonwoo sekali lagi tercengang dengan kemegahan ruang makan dihadapannya. Lalu ia menatap ketiga orang yang telah mengisi 3 kursi di meja makan.
Diujung meja terdapat namja paruh baya dengan rambut yang sedikit memutih, sepertinya ia adalah ayah Mingyu. Lalu dua kursi disebelahnya duduk kedua orang lainnya yang Wonwoo pikir tidak asing melihatnya. Dan sepertinya memang tidak asing karena kedua pemuda itu terkejut melihat Wonwoo.
"Jeonghan eonni?! Seungcheol oppa?!" Pekik Wonwoo.
-TBC-
Hayoooo! Junghan sama Seungcheol itu siapanya Mingyu yoook? Hehe maaf ya readers-deul aku baru update setelah beberapa bulan.. maaf kalo hasilnya agak mengecewakan. Tetep support Meanie yaaa~ oiya kalo ada mau request adegan atau ff bisa PM atau review aku aja. Aku ngerespon kok
So wait for the next chap ya, makasih yang udah nungguin ff ini, yang sering ingetin aku buat post next chap juga.. love you readers-deul! *Bow*
And Sorry for Human-Error aku yang ke sekian kalinya huhuhu~ maaf ya readers-deul aku lagi gak fokus kayanya jadi salah ngetik gitu hehe, tapi udah aku post ulang kok chap 5 nya okay? Sekali lagi maafin aku ya..
