Lovepedia :

(Snow Be Witness)

.

.

.

Pair :

Yuta x Ten

Warning!

Oneshoot, Boys Love,

Typo's, OOC, Rated-T

Enjoy!

.

.

.

Semester berakhir tepat pada musim dingin, libur panjang sebelum menjadi siswa tingkat tiga, kali ini Ten tidak tahu harus menghabiskan harinya kemana. Semester sebelumnya ia sudah mengunjungi Bangkok, bertemu keluarga.

Ia pemuda asal Thailand yang bersekolah di Seoul, karna itu dia memiliki nama Ten Chittaphon Leechaiyapornkul. Perutnya yang lapar terasa semakin buruk ketika Yuta—sahabatnya, merebut begitu saja roti Choco Chip yang nyaris ia gigit.

Kalau tidak ingat Yuta sama-sama seorang perantauan, mungkin Ten akan memukul kepalanya keras-keras. Tapi pemuda asli Jepang ini menyantap roti dengan lahap, seolah kelaparan. Ten tidak akan tega bersikap kasar pada orang yang jauh dari keluarga dan rumah.

Terutama Yuta adalah orang pertama yang Ten temui ketika dia menginjakkan kaki di Seoul. Yuta yang menolongnya meski saat itu mereka sulit berkomunikasi karna kendala bahasa. Tahu-tahu akan satu sekolah, keduanya mencari flat sederhana bersama-sama. Mereka bertetangga di gedung yang sama agar mempermudah berbagi ilmu pelajaran.

Ten bersyukur bertemu Yuta karna pemuda itulah yang mengajarinya bahasa negeri gingseng ini. Meski merantau ke Seoul, tapi Yuta sangat pintar, bahasa koreanya begitu baik dan fasih. Tidak dipungkiri bahwa bukan hanya sekedar sahabat, tapi Yuta benar-benar teman serba ada. Meski suka bercanda dan jahil.

Tapi Yuta adalah pengalihannya ketika Ten rindu orang tua, adik, dan neneknya di Bangkok sana. Yuta adalah penghiburnya ketika Ten sedang mengalami hari buruk. Yuta adalah sandarannya ketika Ten menangis. Yuta adalah seseorang yang membuat Ten jatuh cinta untuk pertama kali.

"Aku belum sarapan dan kau merebut rotiku." Ten tetap menggerutu meski dia rela rotinya hampir habis dimakan Yuta.

"Aku juga belum sarapan." Katanya, membuka botol minuman milik Ten dan meneguknya hingga setengah. "Sudah dua hari aku belum sarapan. Belum makan lebih tepatnya."

Ten membulatkan mata kesal dan berujar marah. "Bodoh! Kau bisa kurus. Di kamarku banyak stok ramen. Kenapa tidak bilang kalau belum makan?" Tapi Yuta tahu itu sebuah bentuk perhatian Ten padanya.

"Uangku habis, Chitta. Besok aku akan pulang ke Osaka. Tapi sebelumnya aku liburan dulu di Tokyo. Kau tahu 'kan aku ini san namja."

"Katanya uangmu habis, kenapa pergi liburan? Dan aku bosan mendengar kata 'san namja', rasanya aku ingin menikahkanmu dengan gunung." Teman-teman memanggil dia Ten, kecuali pemuda pecinta gunung itu. Yuta satu-satunya orang yang memanggil Ten dengan sebutan 'Chitta', meski terdengar menyebalkan tapi Ten menyukainya.

Yuta hanya terkekeh, gemas melihat Ten yang cemberut. "Sebenarnya aku masih punya uang sisa."

"Tega sekali. Liburan kali ini aku tetap tinggal, tapi kau malah pulang ke Jepang."

"Kau pikir semester kemarin aku tidak kesepian? Aku juga di tinggal sendirian olehmu ke Bangkok."

"Tapi kau bilang pergi camping bersama Johnny dan Jaehyun."

"Tetap saja sepi karna Chitta-ku tidak ada."

Ten tiba-tiba merasa panas menjalari wajahnya, Yuta selalu bisa membuat pipinya memerah seperti ini, merona begini. Bahkan semakin terasa ketika Yuta meraih sebelah tangan Ten, menggenggamnya. Ia bersyukur karna keadaan kantin sekolah mulai sepi, jadi tidak terlalu malu.

"Kalau begitu ikut aku ke Jepang."


Lovepedia : (Snow Be Witness)

a NCT's fanfiction

Yuta x Ten

Oneshoot, Boys Love, Typo's, OOC, Rated-T!


Ten pikir di Tokyo sedang musim panas, atau setidaknya salju tidak turun. Tapi Seoul dan Tokyo sama-sama sedang musim dingin. Tapi Ten tidak merasa begitu, atau karna Yuta yang sedang menggenggam tangannya, semacam ada kekuatan.

Salju mulai menirai tipis, berjatuhan dari langit. Setelah turun dari bus, Yuta baru melepaskan genggaman tangannya sesaat mereka sampai di salah satu kafe di Omotesando. Ten memutuskan untuk ikut liburan ke Jepang, membiarkan dirinya di bawa kemana Yuta pergi.

Seperti saat ini mereka tengah menikmati ramen yang menurut Yuta paling terbaik, Ten juga tidak bohong kalau makanan disini benar-benar enak. Dan minuman teh yang kafe sajikan cukup membuat suhu tubuhnya hangat.

Beberapa pemikiran mulai muncul setelah berjam-jam belum cukup sadar bahwa hanya ada dia dan Yuta. Bagi Ten, berdua bersama Yuta untuk liburan rasanya seperti mimpi. Dan ia baru tersadar penuh sekarang. Mereka hanya berdua. Ya, berdua.

Mengapa Yuta mengajak Ten seorang diri? Padahal Ten dengar Jaehyun sangat ingin pergi kesini bersama Taeyong, untuk kencan katanya. Dan apa tadi? Setelah mereka berpijak di kota Tokyo, bahkan Yuta tidak pernah melepaskan genggaman tangan Ten.

Ia tidak tahu pasti apa sebenarnya, bagaimana perasaan Yuta, atau apa yang Yuta inginkan. Tapi pikiran Ten terus seputar tingkah laku Yuta saat ini, tidak seperti biasanya—uhm, maksudnya terkesan mereka seperti sepasang kekasih. Ia malu menganggapnya begitu tapi Yuta benar-benar romantis hari ini.

Sebelum terbang ke Jepang, Yuta sempat bicara ingin mengajak Ten mendaki, namun pemuda itu hanya membawanya berjalan-jalan keliling Tokyo sebelum besok harus pergi ke Osaka. Membuat pikiran Ten kembali menganggap kalau hal ini semacam kencan.

Wajah Ten memerah ketika mereka keluar kafe, tangannya di genggam lagi. Suasananya sangat hening, tapi Ten tidak tahu apa yang Yuta pikirkan, saat ia melirik wajah pemuda itu yang tidak berhenti tersenyum sampai mereka tiba di tempat tujuan.

Di depan sudah ada sungai yang terpantul cahaya dari keindahan Rainbow Brigde, membuat Ten terpana. Sesaat sebelum Yuta membuat tubuh mereka berhadapan. Pemuda itu tersenyum lagi, membuat Ten jauh lebih terpana.

"Aku bahagia hari ini."

"Oh ya?" Ten hanya berani menatap mata Yuta sebentar, "Kenapa?"

"Karna sedang liburan bersama Chitta-ku."

Ten masih mau menundukkan kepala, tapi Yuta sudah meraih dagunya agar saling bertatapan. "Maksudmu apa 'sih? Jangan menggodaku, Nakamoto." Ia bertanya sebal, menepis tangan pemuda itu. Ini yang Ten benci, Yuta sangat suka bercanda dan mengerjainya.

"Tidak apa-apa. Hanya saja aku bahagia." Yuta terkekeh, menertawakan suara Ten yang gugup. "Disini indah sekali."

"Ya, aku tahu." Ten sadar kalau Yuta tengah memerhatikannya yang mengamati pemandangan di hadapan mereka. Tapi itu tidak lama, sebab Yuta sudah kembali membuat mereka berhadapan.

"Chitta, aku ingin bicara sesuatu."

Ten tidak bohong kalau jantungnya berdebar cepat, takut-takut kalau suara detak itu terdengar di telinga Yuta, ia akan malu. "B-bicara apa?"

"SESUATU. Hehe."

Tangan Ten kali ini tepat memukul kepala pemuda Nakamoto Yuta itu hingga meringis. Dia tahu Yuta suka bercanda dan tidak akan pernah serius kalau sedang begini. Kekesalan Ten bertambah ketika sempat kesakitan, Yuta bahkan tertawa tebahak.

"Sudah kubilang aku ingin bicara 'sesuatu'. Dan aku sudah mengatakan kata 'sesuatu', bukan? Kenapa kau memukulku? Apa yang salah."

Ten menghentakkan kaki sambil cemberut, ia melangkah berbalik, membuat Yuta mengerjarnya sambil masih tertawa. "Maaf. Aku hanya bercanda."

"Kau menyebalkan!"

Yuta meraih sebelah tangan Ten, membawa mereka duduk di kursi taman itu, berusaha agar Chitta-nya tidak ngambek lagi. Tapi Ten belum mau mengatakan apapun sampai Yuta mengajak bicara. "Ngomong-ngomong, apa alasanmu sekolah di Seoul?"

"Aku suka Korea."

"Hanya itu?"

"Hm." Ten menoleh, membalas tatapan Yuta yang sedari tadi mengarah padanya. "Kalau kau?"

"Ingin punya pacar."

Tawa Ten meledak sesaat, "Kau jauh-jauh sekolah ke Seoul hanya untuk mencari pacar? Bodoh sekali."

Yuta tersenyum melihat Ten masih tertawa tekekeh-kekeh. "Orang Jepang banyak yang imut, tapi kupikir orang Korea boleh juga, nyatanya orang Thailand jauh lebih manis."

"A-apa maksudmu?"

"Chitta, aku suka padamu."

Bukan bahagia yang Ten rasakan mendengar ucapan itu, ia malah takut. Takut kalau ini semata-mata hanya lelucon yang Yuta buat. Seperti beberapa menit yang lalu pemuda itu mengerjainya setelah membuat Ten gugup setengah mati. Dugaan kejahilan semacam itu membuat Ten sedih, hingga air matanya turun tanpa terhalang. Ini akan menjadi liburan yang terburuk.

"Chitta?" Yuta terlihat cemas, jemarinya menyeka air mata Ten namun segera di tepis. Semakin heran ketika Ten berdiri memunggungi, tapi Yuta segera kembali membuat tubuh mereka berhadapan. "Kenapa menangis?"

"Berhenti main-main. Aku tidak suka! Sampai kapan kau mau menjahiliku?!"

"Aku tidak mengerti." Yuta berani mendekat, memaksa pergerakannya untuk mengusap wajah Ten yang basah.

"Ya, kau tidak akan mengerti. Kau pikir aku senang saat kau membuat lelucon seperti ini? Kau sedang mengerjaiku 'kan? Itu tidak lucu!" Ten berujar marah. Tapi Yuta malah tersenyum, sambil meraih pinggang Ten agar lebih dekat satu sama lain.

"Dengar..," Yuta berbisik, membuat Ten ingin sekali memejamkan mata karna malu ketika wajah mereka teramat dekat, "Aku tidak sedang menjahilimu. Aku serius dengan ucapanku barusan. Aku suka padamu, Chitta."

Ten masih bungkam, memberanikan diri menatap mata Yuta, berusaha mencari keseriusan pemuda itu. Tapi ia tidak menemukan kebohongan disana. Sampai saat itu ia merasa bibirnya ditekan lembut dengan mata Yuta yang terpejam. Ten tersadar, segera membalas ciuman itu sebisa mungkin hingga hatinya tiba-tiba menghangat.

"Kau harus percaya padaku kali ini." Yuta berbisik setelah melepas tautan mereka, tersenyum mendapati wajah Ten yang memerah manis. "Aku suka padamu. Itu serius."

"Aku juga suka padamu."

"Apa? Aku tidak dengar."

"Kau menyebalkan, Nakamoto Yuta!"

Saat itu Yuta hanya bisa tertawa menerima pukulan Ten di dadanya, tidak terasa sakit. Ia tidak tahu apa yang Ten ucapkan setelah itu, intinya seperti kata-kata protes bahasa Thailand. Salju yang turun seolah bukan tandingan mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Osaka esok pagi, sekaligus mengenalkan Ten kepada keluarga disana.

FIN

.

.

.

Spesial thanks to : , jyxx, ChiminChim, PrincessDoyoung, maya han, peachpetals, Reta, JLuna Yoolie99, nuperlan, anggiyunho, casperjung, capungterbang, Peach Prince, mybestbaetae, Samuel903, Park Rinhyun-Uchiha, 7flawjae, restiana, ayahana73

Maaf nggak sempet bales, tapi komentar kalian menambah semangatku, gumawo~
Terima kasih sudah baca ^^

.

.

.

wini