Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari menulis fanfic ini

Warning: AU, OOC, OC, Slash, violence, typo, etc

Rating: T

Genre: Fantasy, Supernatural


LILY

By

Sky


Lily adalah bunga yang sangat indah, terutama ketika mereka sudah mekar dan menyemarakkan suasana dengan warna-warni mahkota bunga yang mereka tawarkan, menyajikan sebuah pemandangan yang tidak biasa terutama ketika sekolompok bunga lily dalam jumlah yang besar berada dalam satu tempat. Dalam artian lain mereka sangat menakjubkan, bahkan tak sedikit orang mengatakan kalau mereka ingin sekali memelihara bunga lily di dalam pekarangan mereka. Lily sendiri adalah bunga yang indah, namun di satu sisi bunga tersebut sangat rentan serta begitu lemah, sebuah keindahan dibalik kerapuhan yang disajikan dan membalutnya menjadi satu, seperti seorang bayi yang baru terlahir di dunia dari dalam rahim sang ibu.

Lily bukanlah bunga biasa, mereka adalah bunga kehidupan yang melahirkan jiwa-jiwa yang begitu murni. Legenda mengatakan kalau jiwa mereka berasal dari bunga lily surga maka bisa dipastikan mereka akan memiliki seorang malaikat penjaga yang akan terus menemanimu sampai kau menjadi dewasa, dan legenda yang dulu pernah dipercayai oleh manusia yang tinggal di bumi pun kini sudah tak lebih dari sebuah cerita karangan yang sangat mirip dengan cerita picisan dalam novel percintaan. Tetsuya menemukan kenyataan ini sebagai ironi yang sangat disayangkan karena kenyataan adalah apa yang membentang di hadapan mereka. Legenda bunga lily yang melahirkan jiwa murni serta seorang malaikat penjaga yang terus tinggal di samping anak yang terlahir dari jiwa bunga lily adalah benar adanya.

Manusia adalah makhluk yang selalu berubah seiring perkembangan zaman, mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan sangat menakjubkan untuk diamati. Mereka memiliki sebuah kesempurnaan di dalam ketidaksempurnaan yang ada di dalam diri mereka, sebuah hal yang sukar untuk dijelaskan mengingat dua kata tersebut memiliki makna yang bertolak belakang.

Mengamati manusia adalah apa yang sering Tetsuya lakukan ketika ia memiliki waktu senggang, Momoi mengatakan kalau hobi yang Tetsuya miliki tersebut sangat aneh dan tidak pantas untuk dilakukan oleh malaikat agung seperti dirinya. Seorang Archangel yang merupakan malaikat agung dari surga tak sepantasnya menengok ke arah dunia manusia yang ada di bumi, urusan mereka adalah melayani para dewa serta menjaga kedamaian di dunia ini dari gangguan iblis, sehingga urusan manusia yang begitu rumit namun sederhana itu bukanlah menjadi urusan para malaikat agung seperti Archangel. Meski Momoi mengatakan kalau hobi Tetsuya yang mengamati manusia di waktu senggangnya sangat aneh, ia rasa Momoi harus berhutang maaf padanya dan mengakui kalau hobi Tetsuya yang pernah ia bilang aneh akan sangat berguna untuk saat-saat seperti ini. Tugas yang mereka terima dari para dewa kali ini sangat erat kaitannya dengan para manusia, karena pada intinya menjadi seorang malaikat penjaga membuat mereka harus tinggal di bumi untuk sementara waktu. Bila mereka tak mampu berbaur atau beradaptasi di bumi, maka artinya mereka tak bisa memanusiawikan jiwa murni yang menjadi tugas mereka, dan itu berarti mereka gagal dalam tugas, sebuah hal yang sebisa mungkin harus dihindari oleh para malaikat ketika mereka mendapatkan tugas. Oleh karena itu hobi Tetsuya yang selalu mengamati manusia tentu akan sangat berguna di saat-saat seperti ini. Mungkin inilah apa yang dinamakan sebagai ironi, para malaikat yang dulu pernah mencemooh hobi dari malaikat agung ini tentu akan tertegun akan bergunanya pengetahuan yang Tetsuya dapatkan dari hobi aneh yang sering ia lakukan.

Meski demikian Tetsuya masih ragu apakah hobinya itu bisa berguna kepada dirinya? Ia adalah Archangel termuda yang dicap tak bisa melakukan apapun kecuali menjadi peliharaan dari Nijimura, sebuah julukan kasar yang pernah diucapkan beberapa malaikat dari belakangnya ketika mereka merasa Tetsuya tak berada di dekat mereka. Ia bukanlah malaikat yang memiliki kemampuan untuk bersosialisasi seperti lainnya, sehingga berbaur dengan manusia rasanya sangat aneh meski ia dulunya pernah menjadi seperti mereka, dulu sekali sebelum Tetsuya menerima sepasang sayap pada punggungnya.

Sesungguhnya Tetsuya masih ragu dengan tugas yang diberikan para dewa, terutama Nijimura, kepadanya. Ia adalah satu dari beberapa calon dewa yang terpilih, harusnya ia merasa bangga seperti kelima kandidat lainnya, hanya saja bukannya perasaan bangga maupun senang yang hati kecilnya rasakan namun kebimbangan serta keraguan lah yang menaungi jiwanya. Tetsuya menghela nafas untuk kesekian kalinya pada hari itu, ia pun membenamkan wajahnya pada kedua lutut yang ia tempelkan pada dadanya. Ia tak tahu harus melakukan apa, baik Momoi dan Nijimura mengharapkan sesuatu yang lebih dari dirinya. Ia tak ingin mengecewakan kedua orang itu, tetapi di satu sisi lain Tetsuya masih merasa bimbang. Mengambil tawaran yang Nijimura berikan itu kelihatannya bukan hal yang bijak ia lakukan kala itu, andaikata Tetsuya menolaknya waktu itu pasti ia tak akan berada dalam situasi seperti sekarang ini, duduk menyendiri di dalam taman teropong yang biasanya dihuni oleh malaikat pengawas untuk mengawasi para manusia.

Setangkai bunga lily yang ada di tangan kanannya itu terasa berkali-kali lipat beratnya saat ia sadar kalau ia tengah memegangnya sedari tadi. Tetsuya menatap bunga itu. Warna mahkota bunga yang masih menguncup tersebut tak lagi berwarna putih bersih seperti saat Nijimura menyerahkannya padanya, kuncup bunga itu kini sudah berubah warna menjadi merah darah. Ketika bibir Tetsuya bertemu dengan kuncup lily yang berwarna putih tersebut, sang Archangel mentransferkan kekuatannya kepada bunga tersebut dan meniupkan jiwa padanya, membuat kuncup putih yang terlihat begitu bersih berubah warna menjadi merah darah. Perubahan warna yang sangat mencolok tersebut membuat Tetsuya tercengang, ia tak pernah tahu kalau ia bisa melakukan itu meski dirinya sudah melihat bagaimana Momoi dan yang lainnya melakukan hal yang sama sebelum dirinya. Walaupun Tetsuya merasa menyayangkan kepergian warna putih dari kuncup lily miliknya, warna merah darah yang menggantikan warna putih tersebut terlihat sangat indah dan mempesona bagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali bagi Tetsuya sendiri yang tanpa sadar telah mengubah warna kuncup putih tersebut menjadi seperti sekarang. Tak pernah ia melihat warna merah terang seperti itu selama dirinya hidup, dan warna darah yang sering ia lihat ketika membantai para iblis dan malaikat pengkhianat pun tak termasuk ke dalam hitungan.

Warna merah ini kadang mengingatkan Tetsuya pada merahnya darah serta horizon langit ketika aurora menyelimutinya. Begitu agung serta menakjubkan, itulah yang Tetsuya pikirkan akan warna merah yang menyelimuti kuncup lily miliknya. Tanpa perlu memiliki kemampuan untuk melihat ke masa depan Tetsuya bisa merasakan kalau jiwa yang akan terlahir dari kuncup lily miliknya akan tumbuh menjadi orang yang hebat di masa depan, dan Tetsuya tak akan ragu kalau mereka yang terlahir dari bunganya ini akan mampu menjadi seorang Archangel seperti Tetsuya, bahkan lebih cepat dari sang peniup jiwa sendiri. Tetsuya menemukan kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan dirinya, ia yang tak memiliki hawa kehadiran dan merupakan malaikat terlemah yang pernah ada mampu melahirkan jenis jiwa yang sangat kuat.

"Mungkin ini hanya sebuah kebetulan," gumam Tetsuya dalam deru nafasnya untuk yang pertama kali pada hari ini. Mulutnya terbuka sedikit sebelum suara tawa lembut yang menertawakan ironi keluar dari mulutnya. "Sepertinya tak mungkin hal seperti itu akan terjadi."

Tetsuya masih ingat bagaimana kuncup putih tersebut berubah warna saat bibirnya menyentuh permukaan yang lembut kuncup bunga lily, sebuah hal yang menurut Tetsuya sangat menakjubkan untuk dilihat meski yang bersangkutan tidak tahu bagaimana mekanisme perubahan warna tersebut bisa terjadi. Nijimura mengatakan padanya kalau Tetsuya telah mentransferkan energinya kepada kuncup lily tersebut, dan sihir yang berada dalam tubuh Tetsuya membuat kuncup bunga tersebut diselimuti oleh jiwa murni dan mengambil wujud sebagai warna merah. Kelihatannya semua ini tak lebih dari ironi, seorang Archangel yang tugasnya membantai kaum iblis dan berlumuran darah tiap harinya pun tak akan bisa jauh dari warna merah. Entah Tetsuya harus tertawa karena humor aneh yang para dewa berikan padanya atau tidak, ia tak pernah tahu jawabannya.

"Apa ini artinya akan membuatmu menjadi anakku?" Tanya Tetsuya pada kuncup lily yang ada di tangan kanannya. Dilihatnya kuncup tersebut, dan Tetsuya berani bersumpah kalau ia merasakan sebuah getaran ringan yang hampir tak terasa ketika ia menyelesaikan pertanyaannya. "Aku menganggapnya sebagai iya, bagaimana pun juga kau terlahir dari diriku. Rasanya aneh kalau menganggap diriku sebagai seorang ibu, mungkin aku bisa menjadi ayah bagimu, little one, seperti apa yang Ayah lakukan padaku bertahun-tahun yang lalu."

Sang Archangel tersebut mengeluarkan tawa ringan ketika ia merasakan kuncup lily merah tersebut bergetar kecil di dalam dekapan tangan kanannya, seperti bunga tersebut mengerti apa yang tengah ia katakan tadi dan mengiyakan setiap kata yang keluar dari mulut Tetsuya. Tetsuya sendiri tak tahu apakah mereka yang belum terlahir bisa melakukan ini meski mereka tidak memiliki tubuh, dan pertanyaannya tersebut kini berkembang apakah dulu dirinya juga mirip seperti kuncup lily merah yang ia pegang ini ketika jiwanya masih berada dalam kuncup lily saat sang Ayah mengajaknya berinteraksi. Rasanya Tetsuya ingin bertanya kepada sang Ayah, meski yang bersangkutan sangat mustahil untuk mau menjawab pertanyaannya.

Hening yang terjadi di antara Tetsuya dan kuncup lily merahnya tersebut tidak bertahan lama, konsetrasi sang malaikat pecah saat ia merasakan sebuah kehadiran dari seseorang yang mulai memasuki tempat di mana ia berada. Tetsuya masih diam bergeming di sana, serasa seperti tak terganggu melihat orang yang memasuki areanya tersebut tidak terganggu untuk tidak menyembunyikan aura yang terpancar dari tubuhnya. Helaan nafas pun terdengar dari mulutnya ketika Tetsuya merasakan aura yang sangat ia kenali itu membungkusnya dengan erat, mencoba memberikan sinyal bagi Tetsuya untuk mengangkat kepalanya dan bertemu mata dengan si pemilik aura tersebut. Hanya saja Tetsuya yang sedari tadi menginginkan kesendirian untuk berpikir menjadi keras kepala, ia mengabaikan sang pemilik aura dan memilih untuk bertahan pada posisinya, duduk di samping mata air yang memperlihatkan kehidupan manusia di Bumi seraya memeluk kedua lututnya sendiri sementara kedua matanya masih sibuk memandangi kuncup lily berwarna merah darah tersebut.

Sebuah dengusan kecil pun Tetsuya dengar, dan sebelum Tetsuya mampu mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah orang itu ia merasakan sepasang lengan kekar melingkar pada tubuhnya dan menyeretnya masuk ke dalam pelukan hangat nan erat milik orang tersebut yang membuat malaikat berambut biru langit tersebut kini terduduk di antara kedua kaki milik orang itu. Sang Archangel mampu merasakan pipinya memanas, namun sebelum kedua pipinya dapat memunculkan semu merah ia pun sudah dulu berhasil mengendalikan dirinya dan baru kemudian ia menoleh ke belakang untuk melihat orang yang secara impulsif memeluknya dari belakang tersebut. Ketika kedua mata biru langitnya bertemu dengan warna hitam layaknya batu onix tersebut kembali menatapnya, Tetsuya kembali menemukan dirinya tertegun, segala protes yang sudah ia persiapkan pun tak mampu keluar dari bibirnya. Otaknya serasa macet sementara darahnya berdesir kencang.

"Sudah kuduga kalau kau akan merajuk di tempat ini dan dengan keras kepalanya kau menghiraukan panggilanku," suara baritone dari pria yang masih mendekapnya itu terdengar begitu terhibur dengan tingkah yang Tetsuya lakukan tersebut, bahkan dari nada bicaranya tersebut ia sama sekali tidak terganggu dengan kelakuan kekanak-kanakan Tetsuya pada saat itu.

Tetsuya yang masih membisu di tempat dan di dalam dekapan pria tersebut kembali melihat ke depan, terlihat tak terganggu sama sekali oleh dirinya yang tak lagi sendirian di sana maupun suara tawa renyah yang pria itu keluarkan. Sang Archangel memejamkan kedua matanya ketika ia merasakan belaian tangan halus mengacak rambut birunya, membuat helaian tersebut semakin berantakan.

"Masih betah dengan adegan membisu rupanya."

Kedua mata biru langit miliknya yang selama beberapa detik tersembunyi di balik kedua kelopak matanya pun kini muncul kembali seraya dirinya menggeleng kepalanya. "Aku tidak sedang dalam fase membisu saat ini, Nijimura-san."

"Entah kenapa aku susah sekali mempercayai ucapanmu itu, Tetsuya," bibir Nijimura membentuk sebuah seringai, kelihatannya ia tengah menggoda Archangel yang berada dalam asuhannya tersebut. "Kalau memang kau tidak berada dalam fase kekanakanmu seperti membisu ini, lalu apa yang kau lakukan di tempat seperti ini seorang diri? Biasanya Satsuki selalu menempel padamu layaknya induk pada anaknya, namun kau malah sendirian di sini saat aku menemukanmu."

"Aku percaya kalau Nijimura-san tidak bersungguh-sungguh mengatakan kalau ia menemukanku secara tak sengaja, sebab aku yakin kalau Nijimura-san sudah pasti tahu aku akan ada di sini," Tetsuya menekankan kata 'pasti' di dalam kalimat sanggahan yang ia lontarkan tersebut, sebab bila ada orang yang mampu mengenalnya dengan baik sampai tahu di mana Tetsuya akan bersembunyi saat berada di tanah suci surga, maka orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Nijimura Shuuzo sendiri.

Nijimura tertawa lagi, dari suaranya saja Tetsuya bisa menduga kalau sang dewa perang tersebut merasa terhibur dengan ucapan monoton serta lugas milik Tetsuya. "Kau benar sekali, Tetsuya. Kurasa selama bertahun-tahun mengenalmu dan menjadi baby sitter-mu, aku bisa tahu ke mana kau pergi bersembunyi."

Sang Archangel berambut biru muda itu ingin sekali protes kalau ia bukan bayi lagi ketika Nijimura menyebut dirinya sendiri sebagai pengasuh Tetsuya, namun ungkapan protesnya tersebut tak kunjung keluar dari mulutnya karena ia lebih dahulu disibukkan dengan perlakukan Nijimura lainnya, yaitu mengacak rambut biru muda Tetsuya dengan gemas.

Tetsuya mencoba untuk melepaskan dirinya dari dekapan yang diberikan oleh Nijimura, namun seberapa keras usaha yang ia lakukan tersebut ia tak mampu melakukannya karena Nijimura sendiri terlihat masih tak ingin melepaskannya, bahkan untuk membuat Tetsuya semakin kesal ia malah mengeratkan pelukannya tersebut. Melihat usahanya tak membuahkan hasil yang positif, sang Archangel berambut biru langit tersebut akhirnya pasrah dan membiarkan dewa perang tersebut mendekap Tetsuya sesuai keinginannya.

"Momoi-san sudah melewati gerbang utara untuk menuju bumi, Nijimura-san. Dan meskipun aku tidak masalah dengan Momoi-san yang selalu menemaniku, kali ini aku ingin sendirian untuk beberapa saat," sahut Tetsuya dengan jujur, kedua matanya kembali menatap gambaran dunia manusia yang tersaji di atas kolam yang memperlihatkan semuanya tersebut.

"Oh?" hanya itu yang Nijimura ucapkan sebagai balasan, namun bukan berarti pembicaraan di antara keduanya berhenti sampai di situ saja. "Dan kenapa kau tidak segera mengikuti jejak Satsuki dan yang lainnya? Gerbang utara yang akan mengantarkanmu ke dunia manusia akan ditutup satu jam lagi. Jangan bilang kalau kau sengaja melakukan ini sehingga kau tidak akan pergi ke dunia manusia untuk melakukan tugasmu sebagai malaikat penjaga."

Tetsuya menegakkan badannya untuk sementara waktu, merasa tak terima dengan tuduhan yang Nijimura berikan padanya meski sesungguhnya ada sedikit pikiran yang mengarah ke sana. Kalau gerbang utara yang mengantarkan para malaikat menuju dunia manusia tertutup sama artinya Tetsuya akan mendapatkan waktu lebih lama untuk tidak pergi ke dunia manusia dan melaksanakan tugasnya sebagai malaikat penjaga, namun pikiran yang merujuk pada dirinya menelantarkan pekerjaan yang telah ia ambil itu pun langsung Tetsuya tepis begitu semua itu muncul. Sejak dulu Tetsuya selalu memiliki impian untuk mengunjungi dunia manusia lagi, dan kesempatan yang diberikan oleh dewan tertinggi ini tentu merupakan hal yang tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Hanya saja pikiran-pikiran nakal yang mengatakan kalau kesempatan yang membuatnya untuk mengunjungi dunia manusia harus dibarengi oleh tugas yang membuatnya menjadi kandidat dewa, sebuah hal yang jawabannya saja masih dipertanyakan berulang kali oleh Tetsuya.

Ia tahu kalau pertanyaan yang Nijimura utarakan padanya tadi tidak lebih dari sebuah kelakar pendek saja, namun di satu sisi keduanya tahu kalau pertanyaan tersebut adalah hal tepat yang menggambarkan apa yang Tetsuya rasakan.

"Tetsuya, kau berpikiran seperti itu bukan?" Tanya Nijimura dengan suara lembut setelah beberapa detik kemudian Tetsuya tidak memberinya jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Tetsuya tahu kalau Nijimura tak perlu menduganya lagi, sang dewa perang itu sangat tahu sosok dari Kuroko Tetsuya.

Lagi-lagi Tetsuya tak menjawab, tubuhnya sedikit menegang di dalam pelukan Nijimura meski yang bersangkutan tak melakukan apapun untuk keluar dari cengkeraman sang dewa. Sang Archangel menoleh singkat ke arah Nijimura, tatapan yang tak bisa dibaca apa artinya tersebut mengarah pada sang dewa perang untuk beberapa saat lamanya sebelum helaan nafas kecil pun terjadi.

"Kalau aku berpikir demikian, apa Nijimura-san akan membiarkanku untuk mengambil jalan balik dan mengembalikan lily ini?" pertanyaan dari Nijimura dibalas oleh pertanyaan balik dari Tetsuya, membuat Nijimura merasa gemas sebelum ia menjitak kepala biru muda milik sang Archangel.

"Aku tak tahu kalau kau ini sebenarnya bercanda apa tidak dengan ucapanmu itu, Tetsuya, wajahmu benar-benar tak menunjukkan apapun di sini," sang dewa perang memutar bola matanya, bosan melanda tetapi hal itu tak bertahan lama karena perhatiannya sedari tadi terus tertuju pada Tetsuya. "Kau tahu kalau apa yang sudah diambil itu tak bisa dikembalikan lagi. Kau sudah mengambil lily yang menjadi simbol akan kehidupan, dan kau juga sudah meniupkan jiwa ke dalam bunga itu untuk kau bawa ke dunia manusia yang artinya kau sudah menyanggupi untuk melakukan tugas ini serta bersedia untuk menjadi kandidat dewa tertinggi. Aku tak tahu kau ini bodoh atau memang tengah bercanda, namun kau tak bisa mengambil lagi keputusanmu."

Jawaban tegas dari Nijimura tersebut sudah Tetsuya prediksikan akan terjadi, ia sudah mengambil sebuah keputusan beberapa saat yang lalu untuk menyanggupi permintaan para dewa tertinggi dengan meniupkan jiwa ke bunga lily yang sudah ia pegang, artinya ia tak bisa mengubah jalannya lagi meski artinya Tetsuya ingin sekali untuk menjadi Archangel saja dan kembali ke dalam kehidupannya yang bosan itu. Tetsuya memiliki beberapa alasan mengapa ia tak ingin menjadi kandidat dewa tertinggi, namun bukan berarti ia tak ingin menjadi dewa suatu saat lagi, hanya saja semua ini terlalu cepat baginya yang baru hidup sebagai malaikat kurang dari 200 tahun dan itu pun berada di bawah pengasuhan Nijimura. Lagi-lagi sang Archangel menghela nafas berat, sepertinya ia akan menambah beban hidupnya kalau ia tak segera membuang pemikiran-pemikiran yang memberatkan dirinya. Semua ada di dalam dirinya.

"Aku tahu itu, Nijimura-san," sahut Tetsuya dengan suara lirih, kedua mata biru langitnya menatap Nijimura dengan lekat. "Aku hanya berpikiran apakah menjadi dewa tertinggi itu tak terlalu cepat bagiku? Aku masih belum berpengalaman seperti Momoi-san dan yang lainnya."

Tetsuya melihat Nijimura menggelengkan kepalanya sendiri, tanda kalau ia mulai mengerti akan apa yang dipikirkan oleh Tetsuya meski itu tidak semuanya.

"Tidak ada yang namanya terlalu cepat maupun terlalu lambat untuk menjadi seorang dewa tertinggi sepertiku. Meski kau baru 200 tahun berada di sini dan para dewa lainnya menyarankan dirimu untuk menjadi dewa, itu artinya kau menarik perhatian mereka, Tetsuya," kata Nijimura, ia memberikan perintah tanpa menggunakan ucapan kepada Tetsuya untuk segera berdiri dari sana, dan Tetsuya pun mematuhinya. Dengan dibantu oleh Nijimura ia pun langsung berdiri di atas kedua kakinya lagi, kedua matanya masih belum lepas dari menatap sang dewa perang dan penjaga. "Kau memiliki sebuah kemampuan dan kesempatan langka, tak semua malaikat memiliki keberuntungan seperti dirimu. Terlebih, bukankah kau ingin melihat bagaimana jiwa manusia yang kau tiupkan kepada bunga lily merah itu akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang manusia yang mampu membuatmu bangga, Tetsuya? Kita tak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi orangtua karena siapa kita, namun dengan tugas ini sekiranya kau bisa menikmati untuk menjadi seorang orangtua bagi mereka."

Kalimat yang terlontar dari mulut sang dewa itu sungguh membuat Tetsuya tercengang, bahkan karena itu ia tak mampu untuk mengungkapkan kalimat balasan maupun sebuah sanggahan yang sebenarnya sudah ia persiapkan sejak tadi. Nijimura benar, sebagai seorang malaikat dan dewa rasanya sangat mustahil bagi mereka untuk memiliki anak dari tubuh mereka sendiri, dan kesempatan sebagai malaikat pelindung adalah satu-satunya yang bisa mereka dapatkan untuk merasakan sebagai seorang orangtua dan membesarkan jiwa yang mereka bawa ke bumi. Rasanya Tetsuya ingin sekali menampar dirinya sendiri karena sudah berpikiran negatif selama ini, bagaimana ia bisa melupakan sebuah fakta yang sangat penting dan malah terjerumus ke dalam pikiran negatif yang mengatakan ia tak mampu dan lain sebagainya.

Perkataan Nijimura ini mirip sekali sebagai alarm jam weker yang membuatnya terbangun dari dalam delusi, membuat Tetsuya tersadar akan sebuah kesempatan yang ada di dalam genggamannya tersebut. Mungkin Tetsuya masih ragu untuk menjadi dewa tertinggi, namun ia tak akan pernah menolak untuk mengamati perkembangan manusia yang jiwanya ia bawa dari surga ke bumi. Dengan begini mungkin Tetsuya akan semakin dekat dengan sang ayah yang sudah membawa jiwanya ke bumi, dan dengan begitu keduanya bisa mendapatkan sebuah hal yang bisa dikatakan sebuah kemiripan serta membuat Tetsuya semakin dengan dengan ayahnya.

Kedua mata biru langitnya tersebut kembali beranjak dari sosok sang dewa yang masih menatapnya dengan lekat untuk menuju ke arah lily merah yang ada di dalam genggamannya. Jiwa yang bersemayam dalam bunga lily ini adalah milik Tetsuya, dan dalam artian lain ia adalah ayah dari jiwa yang telah ia tiupkan ke dalam wadah berupa bunga lily tersebut. Mendapati dirinya menjadi seorang orangtua dari sebuah jiwa suci membuat Tetsuya tersenyum tipis, ia sama seperti ayahnya.

"Aku mengerti, Nijimura-san," kata Tetsuya dengan lembut, ia pun mendongak sedikit agar kedua matanya mampu bertemu dengan milik Nijimura yang masih mengamatinya. "Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah para dewa berikan padaku. Aku mungkin masih kurang yakin akan keputusanku untuk menjadi seorang dewa, namun bila aku mampu menjadi orangtua bagi jiwa yang terlahir dalam bunga ini maka aku pun akan menerima tugas ini. Menjadi malaikat penjaga, rasanya akan sangat menantang meski hasilnya tak terlalu membuatku suka."

Anggukan kecil pun Tetsuya terima dari Nijimura yang membalas ucapannya dengan gerakan, bahkan tak jarang ia mendapati dewa perang tersebut melembutkan tatapannya kala kedua mata mereka bertemu kala itu. Sebuah belaian lembut di rambut pun Tetsuya terima, membuat sang Archangel memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat sebelum ia kembali membuka kedua matanya.

"Melihat semua ini, kurasa jawabanku ini bisa Nijimura-san terima untuk saat ini," kata Tetsuya lagi, tangan kirinya pun mulai merapikan rambutnya yang berantakan tersebut.

Gelak tawa yang keluar dari mulut Nijimura membuat Tetsuya mau tak mau mengulaskan sebuah senyum tipis sebelum ia menggelengkan kepalanya sendiri, rasanya ia semakin bisa membaca apa yang dipikirkan oleh bos-nya tersebut.

"Kau tak sepenuhnya salah, Tetsuya. Meski aku tak mengharapkan adanya keraguan yang masih tersisa dalam dirimu, aku rasa melihat kau berminat untuk menjadi malaikat penjaga pun sudah cukup untuk saat ini. Mungkin waktu bisa menunjukkan jalanmu nanti," jawab Nijimura.

"Aku harap demikian."

Sang Archangel membiarkan kedua kelopak matanya terpejam lagi untuk beberapa saat lamanya, menikmati alunan desiran angin yang membelai wajah dan rambutnya untuk beberapa saat lamanya seraya mendengarkan Nijimura yang masih memberinya nasihat. Tetsuya tak perlu menjadi orang jenius maupun harus mendengar semua ungkapan tersebut, sebab bagaimana pun juga Tetsuya sudah mampu menebak apa saja yang Nijimura ucapkan padanya. Sang dewa yang telah mengasuhnya sejak menjadi malaikat kecil pun terus mengatakan kalau Tetsuya harus berhati-hati ketika berada di dunia manusia karena dunia manusia itu sangat berbahaya, berbeda dari apa yang mereka semua pikirkan selama ini. Tetsuya bukanlah malaikat yang naif dan menatap semuanya dari lembaran hitam dan putih, ia tahu betapa berbahayanya dunia manusia karena sebagai Archangel ia sudah sering turun ke bumi dan mengeliminasi beberapa musuh di sana serta mengamati manusia dari tempat ini. Namun melihat serta mengamati itu sangat berbeda dengan bertindak secara nyata, sehingga Tetsuya tahu benar mengapa Nijimura khawatir kalau ia turun ke bumi dan berinteraksi dengan manusia.

Bibir sang Archangel berambut biru muda tersebut melengkung membentuk sebuah senyuman kecil, ia masih setia mendengarkan ceramah serta petuah yang Nijimura berikan padanya. Dan Tetsuya rasa sang dewa perang tersebut akan terus mengoceh dan memberiny petuah saat itu juga bila ia tidak melakukan sesuatu. Tanpa mengucap sepatah kata apapun Tetsuya meraih tangan kanan Nijimura menggunakan tangan kirinya, meremasnya pelan untuk menarik perhatian sang dewa perang.

"Gerbang utara akan tertutup bila kita tidak segera pergi menuju ke sana, Nijimura, dalam hitungan waktu aku sudah telat dan rasanya tak akan pantas kalau aku datang ketika gerbang sudah ditutup bukan?" ujar Tetsuya, ia pun memberikan seulas senyuman yang jarang terpampang di bibirnya, dan semua itu ditujukan kepada seorang dewa yang sedari tadi setia telah menemaninya di taman tersebut serta memberinya beberapa nasihat untuk menyadarkan sosoknya.

Setelah mendapatkan anggukan kecil dari Nijimura, keduanya pun berjalan beriringan untuk keluar dari taman tersebut dan beriringan menuju gerbang utara yang memisakan surga dengan dunia manusia. Kedua tangan keduanya masih bergandengan, begitu erat serta saling memberikan dukungan kepada satu sama lain. Tetsuya rasa ia sangat beruntung bisa memiliki Nijimura yang begitu pengertian seperti ini, setidaknya sang dewa yang selalu mengasuhnya tersebut tidak terlalu keras orangnya dan ia selalu memberinya perhatian lebih. Meski terkadang hal itu membuat Tetsuya risih karena ia merasa seperti diperlakukan layaknya anak kecil, namun di sisi lain Tetsuya merasa senang karena ada orang yang mau memberinya perhatian seperti ini, tidak menelantarkannya begitu saja ketika ia menapakkan kaki ke dalam tanah suci surga. Pernah sekali Tetsuya mengharap ayahnya yang memberikan perhatian seperti ini, namun sayangnya harapan yang ia miliki tersebut harus hancur saat mendapati orang yang seharusnya menjadi pembimbingnya tersebut meninggalkannya seorang diri, tidak peduli dengan sosok kecilnya yang sebatang kara itu.

Tetsuya berhutang budi kepada Nijimura, tak heran kalau Nijimura menjadi orang yang ia favoritkan dalam buku baiknya sebelum Momoi, sang dewa selalu berada di sampingnya ketika ia membutuhkan apapun. Keduanya terus berjalan beriringan, menghiraukan penghormatan yang para malaikat lainnya berikan kepada Nijimura ketika mereka melihat sang dewa berjalan menyusuri kota bersama Tetsuya, maupun tatapan penuh iri yang mereka tunjukkan kepada sang Archangel karena ia bisa menggenggam tangan dari salah satu dewa tertinggi. Tetsuya tahu dirinya tidak terlalu suka dengan perhatian yang para malaikat ini berikan padanya, namun demi sampai ke gerbang utara secepat mungkin maka dirinya pun menghiraukan hal itu.

Seraya berjalan bersama dengan tangan yang masih bertautan, keduanya sama sekali tak mengutarakan sepatah kata apapun, menghargai perasaan damai yang diakibatkan oleh sunyi yang menghadang tanpa ada keinginan untuk mengotori hal itu. Tetsuya rasa Nijimura ingin memberinya waktu untuk berpikir meski keduanya tengah berjalan menuju gerbang utara, sang sang Archangel itu pun menghargai apa yang Nijimura lakukan untuk membuatnya nyaman. Tanpa menunggu waktu lama, ia sudah bisa melihat sebuah gerbang raksasa yang terbentang dari arah utara, sebuah gerbang yang membentang dengan kokohnya dan telah mengukir sejarah sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Kiyoshi Teppei adalah nama dari malaikat penjaga gerbang yang sering Tetsuya temui ketika ia melewati gerbang utara untuk menunaikan tugasnya, dan sekiranya ia bisa bertemu dengan Kiyoshi lebih dari sekali dalam waktu yang begitu singkat sejak terakhir kali mereka bertemu. Begitu Tetsuya melewati gerbang utara dan turun dari langit, itu artinya ia akan segera menuju ke bumi untuk mencari wadah yang cocok dari jiwa yang ia bawa, dan dalam hati kecilnya Tetsuya masih berpikir kalau hal ini masih terlalu cepat.

"Kita akan sampai sebentar lagi, Tetsuya," suara dari Nijimura yang mengucapkan hal itu pun membuat Tetsuya menoleh padanya dan ia pun merasa sedikit tertegun karena mendapati sang dewa tengah memberinya tatapan yang mengisyaratkan kalau ia mengerti.

"Iya, Nijimura-san," hanya itu yang bisa Tetsuya berikan sebagai jawaban.

"Ayolah, kau tidak perlu merasa sedih seperti itu. Anggap saja sebagai hal yang menyenangkan. Kau tinggal turun ke bumi dan mencari wadah untuk jiwa yang kau bawa lalu menjaganya sampai dewasa, sebuah pekerjaan yang sangat mudah bukan?"

Entah Tetsuya tak tahu di mana rasa mudahnya melakukan tugas itu. Kelihatannya membicarakannya terdengar jauh lebih mudah daripada melakukannya secara nyata, pikir Tetsuya yang sedikit jengah.

"Aku tak tahu apakah harus setuju dengan kalimat Nijimura-san apa tidak. Mengatakannya terdengar jauh lebih mudah daripada melakukannya secara langsung, dan aku rasa mencari kandidat sebagai wadah dari jiwa yang aku bawa pun rasanya jauh lebih sulit dibandingkan yang Nijimura-san ucapkan," kata Tetsuya yang tak sependapat dengan Nijimura. Meski ia mengucapkan penyanggahan, ekspresi yang tergambar pada wajah sang Archangel tersebut masih tak bisa terbaca, ia masih datar seperti biasanya.

Tetsuya tahu kalau Nijimura mengatakan hal itu karena ia ingin memberikan semangat serta dukungan kepada Tetsuya, entah kenapa ia merasa seperti Nijimura itu pilih kasih mentang-mentang Tetsuya berada di dalam asuhan Nijimura, namun ia tak akan membiarkan hal itu meracunia pikirannya dan mendominasi perasaannya. Ia menyukai dewa perang ini, namun ia cukup rasional untuk tidak mengambil kesempatan di sini. Tetsuya bukan orang seperti itu.

Nijimura yang tak mengetahui dilema Tetsuya pun hanya mengendikkan kedua bahunya dengan santai, ia masih membimbing Tetsuya untuk menuju arah gerbang utara.

"Aku tahu kalau bisa melakukannya, kurasa dari beberapa kandidat yang terpilih aku akan memasang taruhanku padamu, Tetsuya," jawab Nijimura, sama sekali tidak merasa tersinggung meski yang bersangkutan menyanggah perkataannya tadi, dan tentu saja mengabaikan tatapan penuh protes yang Tetsuya berikan padanya satu detik kemudian. "Kau itu malaikat termuda yang pernah aku temui. Seharusnya malaikat yang berusia kurang dari 500 tahun masih berada di akademi dan mempelajari seluk belum menjadi malaikat serta kekuatan mereka, namun kau yang masih berusia 200 tahun tak hanya sudah keluar dari akademi tetapi kau juga sudah mampu mendapatkan tiga pasang sayap lainnya yang menjadikanmu sebagai Archangel. Perkembanganmu sangat pesat sampai para dewa lain menganggapmu sebagai malaikat yang jenius, Tetsuya.

"Kalau ada malaikat yang mampu melakukan tugas ini, kurasa kau adalah orang yang dimaksud."

Betapa besarnya kepercayaan yang Nijimura berikan padanya, rasanya sang Archangel berambut biru langit tersebut hampir tak mempercayai dirinya telah mendengarkan lontaran perkataan itu dari Nijimura. Ia tahu kalau sang dewa perang tersebut selalu memberinya perhatian lebih dan kepercayaan, namun ia tak pernah menduga kalau kepercayaan yang diberikan kepadanya itu sebesar ini. Rasanya Tetsuya jadi ingin memeluk dewa berambut hitam ini dan tak pernah melepaskannya, namun sebagai seorang Archangel yang memiliki harga diri serta orang yang tak mudah untuk mengekspresikan dirinya maka Tetsuya pun memilih untuk tidak melakukan itu. Meski demikian yang terjadi, bukan berarti Tetsuya hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa. Sang Archangel berambut biru langit tersebut menujukkan rasa terima kasihnya dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Nijimura, dan sebuah senyuman samar yang hampir tak terlihat di bibirnya itu merupakan bukti kalau ia sangat berterimakasih atas apa yang Nijimura lakukan padanya.

Kedua hal yang Tetsuya tunjukkan itu tentu saja tak luput dari perhatian Nijimura, namun sang dewa hanya menggelengkan kepalanya sebelum mereka melanjutkan perjalanan untuk menuju gerbang utara. Tetsuya dan Nijimura pun akhirnya sampai di hadapan gerbang utara yang setengah terbuka itu lima belas menit kemudian, dan pemandangan betapa kokohnya gerbang tersebut tak luput dari perhatian Tetsuya.

"Wah, jarang sekali aku mendapatkan seorang dewa berkunjung ke sini," sahut seorang malaikat yang begitu familiar. Senyuman ramah serta kerlingan yang begitu familiar pada kedua mata Kiyoshi membuat Tetsuya merasa lebih nyaman.

"Heh, kalau bukan anak ini aku mungkin tak akan berada di sini," ujar Nijimura, kedua matanya mengarah pada Tetsuya dan membuat Kiyoshi terkejut karena sebelumnya tak menyadari keberadaannya.

"Jadi kau mengantar Kuroko-kun ke sini untuk melihat kepergiannya, Nijimura-sama? Wah-wah... sepertinya kau benar-benar perhatian pada malaikat mungil kita yang satu ini," sahut Kiyoshi yang sudah mampu mengendalikan dirinya dari rasa keterkejutannya akibat keberadaan Tetsuya yang menurutnya begitu tiba-tiba itu.

Di samping lain Tetsuya merasa dirinya merengut tak suka karena Kiyoshi mengucapkan kata 'mungil' dan ditunjukkan padanya. Tetsuya merasa ukurannya ini ukuran normal, tidak mungil maupun pendek, ia hanya terlihat pendek karena orang-orang yang berinteraksi dengannya semua memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata sehingga membuatnya seperti seorang kurcaci bila berdiri di samping mereka.

Tatapan yang kelihatannya akan menjadi tatapan permanen di wajah Tetsuya itu membuat Kiyoshi dan Nijimura mendengus geli, mereka tentu tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Tetsuya saat ini meski ekspresi wajah dari sang Archangel sangat sulit untuk dibaca, namun mengenal Tetsuya selama bertahun-tahun lamanya membuat keduanya tahu kalau Tetsuya tak suka orang-orang mengaitkannya dengan tinggi tubuhnya tersebut.

"Iya, karena Tetsuya itu adalah tanggung jawabku maka aku mengantarkan dia sampai ke gerbang utara di sini. Siapa tahu ia merasa takut dan kemudian mengganti pikirannya untuk tidak melakukan tugas, aku di sini untuk menendangnya keluar dari gerbang utara," kata Nijimura lagi, ungkapannya itu membuat dirinya mendapatkan tatapan tak suka dari Tetsuya.

Baik Kiyoshi dan Nijimura langsung tertawa karena itu, namun tawa yang keluar dari Nijimura hanya bertahan singkat sebelum ia meringis kesakitan karena Tetsuya menggenggam tangannya dengan begitu erat, membuat tangannya sedikit membiru.

"Tolong berhentilah berbicara seolah-olah aku tak ada di sini, Nijimura-san, Kiyoshi-san," kata Tetsuya dengan sopan meskipun alis kirinya sedikit berkedut karena kesal. Sang Archangel melepas genggamannya dari tangan Nijimura sebelum memberikan anggukan singkat kepada Kiyoshi untuk memberikan sapaan sopan seperti biasanya. "Senang bertemu denganmu lagi, Kiyoshi-san."

Kiyoshi memberikan anggukan dan senyuman seperti biasanya untuk membalas sapaan itu, sudah bukan berita rahasia lagi kalau sang Archangel berambut biru langit ini adalah orang yang terkenal sangat sopan meski ia tengah marah maupun memiliki mood yang sangat buruk pada waktu itu. Terkadang personalitas Tetsuya yang sangat sopan itu mampu membuat orang bahagia meski di satu sisi membuat yang lainnya merasa tak nyaman, ia terlalu formal meski tengah bersama dengan orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Itulah Kuroko Tetsuya, malaikat paling sopan yang pernah mereka kenal, entah siapa orangtuanya dulu namun mereka semua berterima kasih telah mendidik sang malaikat menjadi orang yang memiliki moral serta kesopanan seperti ini.

Melihat waktu yang Tetsuya miliki tak terlalu banyak dan gerbang utara akan ditutup sebentar lagi, Nijimura pun segera menuntun Tetsuya untuk mendekati gerbang yang setengah terbuka itu setelah memberikan Kiyoshi anggukan lagi untuk berjalan mendekati gerbang utara.

Menatap gerbang itu untuk yang kesekian kalinya membuat Tetsuya merasa dirinya seperti digiring menuju gerbang kematiannya, dengan Nijimura yang berperan sebagai eksekutor dan Kiyoshi bertindak sebagai saksi mata. Ia tahu kalau pikirannya ini kembali menimbulkan skenario-skenario yang mirip seperti drama picisan, namun Tetsuya tak mampu membendung hal itu seraya berjalan mendekat gerbang yang hampir tertutup tersebut.

"Ingat perkataanku, jangan terlalu percaya dengan manusia dan jangan sampai mereka mengetahui jati dirimu yang sebenarnya sebagai malaikat maupun Archangel, Tetsuya. Kalau kau ada kesulitan, kau bisa kembali ke surga dan meminta bantuanku," ujar Nijimura saat dirinya masih berjalan di samping Tetsuya.

Dengan kedua matanya masih menatap gerbang raksasa itu, Tetsuya pun mulai membuka mulutnya untuk bertanya. "Bagaimana dengan tugasku sebagai Archangel, Nijimura-san? Tak mungkin para dewa akan menarik tugas itu meski aku mulai berperan ganda sebagai malaikat penjaga."

Kedua kaki mereka berdua pun mulai berhenti saat mereka tiba tepat di depan gerbang utara yang masih setengah terbuka, dan Nijimura pun memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memberikan beberapa petuah yang ingin ia sampaikan kepada Tetsuya sebelum sang Archangel turun ke bumi.

"Para dewa tak akan menangguhkan tugasmu, Tetsuya, namun mereka akan meringankannya sedikit melihat kau juga berperan sebagai malaikat penjaga. Kau harus ingat kalau jiwa yang terlahir dari bunga lily akan menjadi sasaran empuk bagi para iblis, kau tak boleh menurunkan penjagaanmu," jawab Nijimura, kedua tangannya menggenggam kedua bahu Tetsuya saat mereka berdiri berhadapan. "Ingat, kau diberi kewenangan untuk membunuh manusia yang berdosa beserta para iblis yang ada di dunia, namun kau harus tahu kalau kau bisa melakukannya bila mereka mengancam keselamatan jiwa yang kau jaga. Aku percaya kalau kau bisa melakukan tugas ini dengan baik, dan jangan sungkan untuk menghubungiku bila ada kesusahan saat melakukan tugasmu."

Senyuman yang bertengger di bibir Nijimura itu sudah cukup untuk membuat menghela nafas lega, serasa beban yang ia panggul terlepas untuk beberapa saat lamanya. Ia tahu kalau dirinya bisa mempercayai Nijimura.

"Aku akan mengingatnya, Nijimura-san," ujar Tetsuya dengan lembut, dirinya pun kembali memejamkan kedua matanya saat merasakan Nijimura mengacak rambutnya dengan penuh kasih sayang.

"Bagus, aku tahu kalau aku bisa mengandalkanmu. Dan satu lagi, berhati-hatilah di dunia manusia," kata Nijimura untuk yang terakhir. Sang dewa pun memperpendek jarak di antara keduanya, dan detik berikutnya yang bisa Tetsuya rasakan adalah sepasang bibir hangat menyentuh keningnya, memberikan kecupan lembut serta restu untuk Tetsuya yang akan pergi.

Perpisahan yang terjadi di antara keduanya bukanlah perpisahan yang permanen, mereka akan bertemu lagi suatu saat nanti setelah Tetsuya menyelesaikan tugasnya, atau mungkin saat Tetsuya memutuskan untuk mengunjungi Nijimura lagi. Senyuman hangat yang terulas di bibir Nijimura itu adalah bukti kalau ia percaya pada Tetsuya, membuat sang Archangel merasakan perasaan hangat yang berasal dari dalam hatinya. Mendapatkan kepercayaan besar seperti ini tentu membuat Tetsuya bahagia, dan andai saja ayahnya ada di sini pasti kebahagiaan ini akan menjadi berkali-kali lipat banyaknya. Tapi Tetsuya tak boleh menjadi malaikat yang serakah, ia harus menerima apa yang Nijimura berikan padanya, terlebih lagi dewa perang tersebut sudah begitu baik padanya.

Menoleh ke arah gerbang yang hampir tertutup itu, sang Archangel pun mulai berjalan menjauhi sosok Nijimura yang masih berdiri di sana. Cahaya yang begitu kemilau itu menyelimuti tubuhnya, dan enam buah sayap besar berwarna putih pun muncul di punggung Tetsuya saat kedua kaki mungilnya masih menuntunnya untuk menuju ke arah gerbang utara yang mulai tertutup. Ia melangkah maju dan berjalan melewati gerbang tersebut.

Ketika gerbang raksasa tersebut hampir tertutup, Tetsuya pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk melihat sosok Nijimura yang masih berdiri di sana, menatapnya dengan penuh sabar serta sosok Kiyoshi yang berdiri tidak jauh dari Nijimura dengan tangan kanannya memberikan lambaian untuk Tetsuya, membuat sang Archangel menyunggingkan senyuman kecil melihat dua orang tersebut. Senyuman yang tersungging di bibir itu pun membeku sesaat, dan dirinya pun merasakan kedua matanya membelalak tidak percaya kala mendapati sepasang mata berwarna kelabu dari sosok seseorang yang bersandar pada sebuah pohon tak jauh dari tempat Kiyoshi berdiri menatap ke arahnya. Dan pemandangan terakhir yang bisa Tetsuya lihat sebelum gerbang raksasa tersebut tertutup dan memisahkannya dari tanah suci surga adalah pemilik mata itu terus-terusan menatapnya, membuat sang Archangel secara tak sadar memeluk dirinya sendiri dengan erat.

"Aku berangkat dulu, Nijimura-san, Kiyoshi-san, dan... Ayah," gumam Tetsuya pelan. Desiran angin yang menyelimuti tubuhnya itu membuat sosok mungil sang Archangel menggigil untuk beberapa saat sebelum keenam sayapnya mengepak dan membawanya pergi dari sana.


Alunan musik yang begitu keras itu membuat dentuman yang selaras dan memekakkan, meskipun begitu namun ia menemukan musik yang berasal dari lantai dansa sangat cocok dengan tempat ini. Beberapa tubuh dari laki-laki dan perempuan terlihat saling berdansa di sana, begitu erotis serta tak ada jeda sedikit pun. Semuanya begitu terlarut dalam apa yang mereka kerjakan, saling menggoda serta menggunakan kesempatan untuk menemukan pasangan yang cocok untuk tidur malam ini, hal yang menurutnya sangat rendahan untuk dilakukan oleh orang sepertinya itu ternyata mampu mengusir hantu masa lalu yang menghantuinya saat ini.

Ia tak peduli kalau ada orang yang mengenalinya meski ia sudah menggunakan penyamaran yang sangat bagus, baju modern serta topi besar yang menutupi rambutnya, ia tak akan mempedulikan hal itu karena apa yang ingin ia lakukan sekarang tak lebih dari sebuah pelampiasan untuk melupakan rasa sakit dari masalah yang tengah ia miliki. Laki-laki yang tak lebih berusia 30an tahun tersebut mengangkat botol tequila-nya yang telah diletakkan bartender yang melayaninya lagi dan menuangkan isinya hingga tandas ke dalam gelas bening yang tersaji di hadapannya. Ini adalah minuman beralkohol yang kesekian kalinya ia konsumsi malam ini, sudah berapa banyak ia tidak terlalu peduli melihat dirinya sudah kehilangan jumlah yang telah ia konsumsi. Kalau orang-orang yang mengenalnya tahu akan apa yang ia lakukan ini, pasti mereka semua akan mendapatkan serangan jantung di tempat, dan tentu saja leluluhurnya yang telah berada dalam lubang kubur itu akan berkelit di dalamnya serta menyumpahinya karena kelakuan buruk yang ia lakukan malam itu.

Apa yang ia lakukan malam ini tak lebih dari sebuah pelampiasan belaka, ia ingin semua beban yang ada di kedua bahunya menghilang untuk beberapa saat lamanya meski itu artinya ia harus bertindak bodoh layaknya rakyat jelata yang sering ia pandang sebelah mata tersebut. Terlebih, mereka semua tak akan pernah sadar kalau Kaisar Teiko yang ke-104 akan melakukan hal rendahan seperti ini, duduk di atas kursi di dalam klub malam dan menenggak minuman keras dengan para rakyat jelata yang ia pimpin. Ia adalah Akashi Masaomi, Kaisar Teiko yang terkenal karena keadigdayaannya.

Masaomi mengambil gelasnya yang sudah terisi penuh akan minuman beralkohol yang ia tuangkan tadi, dan tanpa ada keraguan sedikit pun ia langsung menenggak isinya sampai tandas, menghiraukan tenggorokannya yang serasa terbakar akibat minuman beralkohol tersebut masuk ke dalamnya dan mengambil alih kesadarannya. Untuk malam ini, biarkan saja dirinya berada dalam minuman beralkohol dan melupakan segalanya. Melupakan kalau ia adalah seorang Kaisar yang seharusnya tengah berada di istana, melupakan kalau Ratu-nya masih belum dingin di atas pembaringan setelah ia menghembuskan nafas terakhir, dan melupakan bayi laki-laki mereka terlihat seperti orang mati meski ia masih hidup. Beban yang telah diberikan padanya semenjak ia masih kecil pun rasanya menjadi berkali-kali lipat karena kematian sang Ratu, dan semuanya itu ditambah dengan bayi yang menjadi penyebab kematian istrinya tersebut tak memberikan banyak reaksi setelah ia datang dari dalah rahim istrinya. Seperti benda mati yang kehabisan baterai kehidupan, hanya sosok tubuh hidup tanpa jiwa.

Sudah berjam-jam lamanya Masaomi mencoba untuk menghilangkan eksistensi 'benda' yang menjadi penyebab kematian istri tercintanya, namun ia tak pernah sampai hati untuk melakukannya meski ia ingin melakukan itu, bagaimana pun bayi tak bernama itu adalah pemberian Shiori untuk yang terakhir kalinya.

Seperti sebuah kutukan akibat keangkuhanku, pikir Masaomi yang mengamini sebuah ironi yang terjadi dalam hidupnya. Ia adalah seorang Kaisar yang diagung-agungkan layaknya para dewa, dan untuk membayar keangkuhan serta kekejaman yang pernah ia lakukan di masa lalu pun para dewa mengambil Ratu-nya dari sisi Masaomi. Andai saja Masaomi lebih dari seorang laki-laki biasa seperti sekarang, mungkin ia akan melakukan pemberontakan besar-besaran kepada para dewa yang telah berlaku tak adil seperti ini padanya. Ia ingin Shiori kembali ke sisi-nya, dan bahkan karena itu ia pun rela untuk melakukan pertukaran antara istri dan benda yang dilahirkan oleh istrinya tersebut. Ia tak butuh penerus yang tak berguna seperti bayi itu, tak hanya benda itu tak mampu berfungsi layaknya manusia, namun benda itu juga menjadi penyebab utama kematian istri tercintanya.

Kedua mata keemasan milik laki-laki itu terlihat kurang fokus, semuanya menjadi kabur dalam pandangan sesaat sementara alunan musik keras yang ada di lantai dansa semakin membuatnya pening. Setelah Masaomi membayar minumannya, ia pun berjalan sempoyongan dan keluar dalam klub malam tersebut. Ia tak ingin orang-orang mengenalinya saat itu juga, oleh karena itu ia pun semakin mengeratkan topi besar yang ia pakai di kepalanya dan berjalan keluar dari tempat itu.

Masaomi tahu dirinya mabuk berat karena minuman beralkohol yang ia konsumsi malam itu, dan karena itu ia pun mengalami sedikit kesulitan untuk berjalan serta melihat ke sekelilingnya, namun meski demikian ia tidaklah bodoh untuk tidak menutupi dirinya dengan baju tebal maupun topi lebar. Bagaimana pun juga ia taka akan membiarkan tahu kalau Kaisar Teiko yang ke-104 menghabiskan malam di sebuah klub malam milik rakyat jelata hanya karena ia ingin menghilangkan kesedihan yang menggerogoti dirinya yang disebabkan oleh kematian sang Ratu serta kelahiran benda yang ia anggap tidak berguna tersebut.

Langit malam yang membentang luas di sana terlihat begitu gelap karena awan mendung yang menggantung, dan baju yang Masaomi kenakan tersebut terasa berat karena menyerap air hujan yang jatuh dari langit. Karena hujan deras yang terjadi di sana Masaomi pun langsung menemukan dirinya basah kuyup akibatnya, namun ia tak peduli lagi dan terus berjalan untuk kembali ke istananya. Dalam hati sang Kaisar mengutuk dirinya sendiri karena ia sudah menyuruh sopir pribadinya untuk kembali ke istana imperial dengan mobilnya itu sehingga ia mengalami kesulitan seperti sekarang ini, namun di sisi lain Masaomi merasa senang telah melakukannya karena ia tak ingin siapapun mengetahui kalau Kaisar yang seharusnya bersikap kuat terlihat menyedihkan seperti sekarang ini. Pemuda itu berjalan sempoyongan menerjang hujan, beberapa orang yang berlarian mencari tempat berteduh pun terlihat tak menghiraukannya seperti ia bukan orang penting saja atau mereka tak menyadari kalau orang nomor satu di Teiko ada di antara mereka dengan keadaan yang sangat menyedihkan, bahkan mereka pun tak sadar kalau salah satu dari mereka menyenggol bahu Masaomi dan membuat sang Kaisar jatuh terjungkal ke depan dengan berlutut di atas tanah lembek dan basah tersebut.

Seluruh bajunya basah kuyup dan badannya terasa sakit akibat tindakan bodoh orang-orang itu. Ia ingin sekali memerintahkan prajuritnya untuk mencari siapa yang kurang ajar menyenggol dirinya dan membuatnya jatuh terpuruk layaknya orang menyedihkan seperti ini, tetapi perintah itu tak bisa ia lakukan melihat di mana ia sekarang ini dan ia juga tak akan melakukannya karena tak ingin mereka mengetahui kalau Akashi Masaomi bertindak bodoh seperti ini. Mengepalkan kedua tangannya yang masih menempel di atas tanah lembek itu, Masaomi mengutuk apapun yang ada di sampingnya, tak terlalu peduli dengan hujan deras yang mengguyur tubuhnya maupun lumpur pekat yang menyelimut celana serta mantel yang ia kenakan. Mungkin dengan berlutut di bawah guyuran hujan deras akan membuatnya merasa baikan, atau mungkin akan mengantarkannya ke tempat Shiori berada saat ini. Kedua matanya semakin kabur dalam melihat, ia sudah tak bisa fokus lagi dalam melihat dan rasanya cepat atau lambat ia akan kehilangan kesadaran di tempat itu. Rasanya menyedihkan mengetahui seorang Kaisar yang memiliki harga diri tinggi terkapar di tempat ini, mungkin ini adalah karma yang harus ia terima dari pada dewa. Ia yakin sekali dirinya akan mati di tempat ini dan malaikat mau akan menyambutnya, namun sesuatu yang tidak tidak ia prediksikan sebelumnya adalah melihat sepasang kaki berlaskan genta dan seseorang yang mengenakan yukata berwarna biru muda berdiri di hadapannya, kesadarannya semakin menipus dan sebelum ia kehilangan semua itu ia melihat sosok yang begitu indah tengah melindungi tubuhnya dari guyuran hujan menggunakan payung tradisional yang orang itu bawa sedari tadi. Seorang malaikat biru muda tak bersayap tengah melindunginya. Dan detik berikutnya Masaomi pun kehilangan kesadarannya.


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca serial ini. Dan aku ucapkan terima kasih lagi buat teman-teman yang sudah memberikan review, favorite, dan memfollow Lily

Author: Sky