Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari menulis fanfic ini
Warning: AU, OOC, OC, Slash, violence, typo, etc
Rating: T
Genre: Fantasy, Supernatural
LILY
By
Sky
Hal pertama yang Masaomi rasakan ketika ia membuka kedua matanya adalah rasa sakit yang berkepanjangan pada kepalanya, ia merasakan sakit kepala yang luar biasa sampai setitik cahaya yang jatuh pada sosoknya langsung membuat kepalanya bertambah sakit. Oleh karena itu sang Kaisar Teiko langsung memejamkan kedua matanya lagi dan meletakkan tangan kanannya pada kedua matanya yang tertutup, dengan harapan apa yang ia lakukan itu mampu menghalau cahaya yang masuk ke dalam kamar yang ia tinggali itu. Dirinya merasa seperti habis ditabrak oleh truk dengan muatan besar, sakit kepala yang ia derita itu membuatnya berpikir kalau ia tak akan lagi meminum minuman beralkohol di masa depan, namun secepat pikiran itu muncul dan secepat pula berlalunya. Siapa yang ingin ia bohongi dengan mengatakan hal itu? Tak ada yang jelas. Mungkin meminum minuman beralkohol adalah hal yang tak terpuji serta tak pantas dilakukan oleh Kaisar terhormat seperti dirinya, namun Masaomi juga seorang laki-laki yang memiliki banyak beban, bukan hanya dirinya namun negara besar yang bernama Teiko juga ada dalam pikulan bebannya, dan satu-satunya hal yang mampu membuatnya lupa akan hal itu secara sementara adalah minuman beralkohol. Kandungan alkohol dalam minuman itu mampu membuatnya melupakan masalahnya, meski tidak permanen namun cukup efektif untuk menghilangkan depresi, hanya saja masalah ketika ia tersadar dari kondisi mabuk itu adalah hal yang tidak ingin ia rasakan lagi.
Meski Masaomi memiliki migrain yang sangat menyiksa, sebagai seorang Kaisar Teiko dan juga seorang Akashi dirinya tak boleh bermalas-malasan di atas futon hangatnya-
Tunggu, ini bukan futon yang sering aku gunakan untuk tidur, dan sepertinya aku juga tidak berada dalam kamarku di istana utama, pikir Masaomi setelah dirinya menyadari satu hal. Dengan cepat ia langsung menyingkirkan tangannya serta membuka matanya sebelum beralih posisi menjadi duduk di atas futon tersebut, membiarkan selimut yang memberinya kehangatan jatuh dengan mulus di atas pangkuannya maupun sakit kepalanya yang bertambah dua kali lipat akibat gerakan tiba-tiba yang ia lakukan tersebut. Ia melihat ruangan kecil yang minim akan perabotan di sana dengan sangat teliti, tak ada bagian dari ruangan itu yang luput dari penglihatannya. Dalam hati kecilnya Masaomi bertanya-tanya siapa yang sudah membawanya ke tempat ini tanpa seijinnya dan kenapa tidak membawanya ke istana saja.
Kedua mata keemasan tersebut menyipit tidak suka, ia merasa perbuatannya dengan mengonsumsi alkohol semalam itu adalah hal yang salah sehingga mengakibatkan dirinya berada dalam situasi sekarang ini, sebuah hal yang tak terduga. Bisa saja orang yang membantunya semalam itu adalah musuh yang menginginkan sesuatu dari Masaomi, sebagai orang yang nyawanya sering diincar karena posisinya sebagai Kaisar Teiko itu membuat Masaomi menjadi paranoid.
Andaikata Masaomi menjadi tawanan oleh mereka yang telah membantunya semalam, ia heran kenapa kedua tangannya maupun kakinya tak diikat sehingga ia tidak kabur dari sekapan mereka, atau mungkin orang itu terlalu percaya diri akan kemampuannya untuk menawan Masaomi di dalam kamar kecil ini.
Jalan pikiran yang Masaomi miliki tersebut langsung tersendat tatkala pintu shoji yang ada di sana terbuka dengan pelan, membuat sang Kaisar langsung menoleh untuk menatap siapa yang telah memasuki ruangan itu, mungkin orang yang memasuki ruangan tersebut mampu memberikan jawaban yang ia inginkan. Kedua mata itu menangkap sosok seorang remaja laki-laki yang terlihat berusia tak lebih dari 18 tahunan memasuki ruangan tersebut, tubuh remaja tersebut dibalut oleh sebuah yukata elegan dengan warna senada dengan rambutnya, biru langit yang sangat cemerlang. Remaja itu terlihat begitu rapuh dan tak mampu untuk melawan Masaomi andaikata sang Kaisar mencoba untuk melakukan perlawanan, namun sang Kaisar Teiko tahu benar untuk tidak meremehkan lawannya hanya karena penampilan sang lawan terlihat tidak meyakinkan. Ia sudah pernah melihat seorang anak kecil yang tak lebih berusia 10 tahun telah dididik untuk menjadi seorang pembunuh di masa depan sebelumnya, sehingga penampilan remaja tersebut tak akan membuatnya gentar.
Kedua mata milik Masaomi tak lepas dari sosok sang remaja yang mulai memasuki kamar tersebut dengan memegang sebuah nampan yang di atasnya terdapat semangkok sup serta teh hangat, yang Masaomi rasa diberikan untuknya. Ia tak henti-hentinya menatap remaja itu, dan di saat yang sama Masaomi juga tidak menurunkan penjagaannya barang sedikit pun untuk tamu yang tak diundang tersebut. Ia menunggu sang remaja untuk mengutarakan sepatah kata, menyapanya atau mungkin memberitahunya kalau Masaomi tengah ia tawan dan tak akan dilepas sampai Masaomi mau melakukan sesuatu karena ia seorang Kaisar Teiko. Semua pemikiran tersebut berkecamuk menjadi satu di dalam kepalanya, namun sayangnya hanya kesunyian yang ia dapatkan karena sang remaja tak sekali pun mengucapkan sepatah kata maupun membuat gerakan tiba-tiba yang berindikasi akan menyerang Masaomi yang masih memperhatikannya tersebut. Tidak, sang remaja malah terlihat begitu tenang sembari berlutut di samping Masaomi dan meletakkan senampan makanan di sana, membuat Masaomi sedikit bingung meski ia masih was-was.
"Apa tak ada yang ingin kau katakan?" Tanya Masaomi pada akhirnya, ia tak tahan akan kesunyian yang terjadi di antara mereka berdua, membuat sang remaja yang terlihat sibuk meletakkan makanan sang Kaisar langsung menatap ke arahnya.
Nafas Masaomi terasa tercekat di dalam tenggorokannya saat kedua mata besar yang berwarna biru langit tersebut di arahkan kepadanya, menatapnya tanpa ada rasa takut yang tercermin dalam kedua mata tersebut. Mereka begitu datar dan tak ada emosi yang terdeteksi di dalamnya, meskipun begitu tetapi sang Kaisar merasakan dirinya mampu kehilangan pikiran hanya karena menatap kedua mata itu, mereka begitu menghipnotis serta meredamkan emosi maupun amarah yang Masaomi miliki. Orang-orang sering mengatakan kalau mata seseorang adalah jendela maupun cermin emosi, dan kali ini Masaomi mampu mengakui kalau kedua mata berwarna biru langit itu lebih mirip seperti jendela dari jiwanya serta mampu melihat Masaomi yang sesungguhnya tanpa ada topeng yang terpasang di sana. Satu hal yang bisa sang Kaisar ucapkan, orang ini sangat berbahaya meskipun postur tubuhnya sama sekali tidak mengisyaratkan apapun selain keanggunan.
"Tiduran di jalan ketika hujan deras itu tak bagus untuk kesehatan Anda, mungkin kalau Anda ingin tidur lebih bagus segeralah pulang ke rumah daripada menganggap jalanan kasar sebagai tempat tidur," sahut remaja yang memberikan semangkuk sup hangat kepada Masaomi.
Masaomi tidak memperhitungkan kalau kalimat itu akan menjadi jawaban yang terlontar dari bibir sang remaja, sama sekali tak bisa diprediksi sehingga ia tak bisa disalahkan kalau dirinya tercengang begitu saja. Tidak pernah sekalipun seseorang mampu mengucapkan hal yang begitu kurang ajar dengan nada sopan seperti itu kepadanya, bahkan kedua orangtua Masaomi yang notabene adalah Akashi dengan kepribadian keras pun tak bisa memmbuat dirinya tercengang seperti ini. Masaomi tahu kalau remaja ini mengetahui dirinya tidak sengaja tiduran di jalanan yang keras dengan hujan yang mengguyur kemarin malam, namun ucapannya itu sungguh diluar nalar yang ia miliki. Sang Kaisar Teiko tersebut berpikir kalau remaja itu akan memberikan hormat layaknya rakyat jelata ketika menghadap seorang raja serta menjilatnya agar mendapatkan keuntungan yang besar, namun sungguh mengejutkan jawaban dari sang remaja beberapa saat yang lalu. Bila Masaomi tidak tahu maka ia akan menganggap remaja ini tidak peduli akan siapa dirinya, yang tentu saja sangat mustahil 'kan? Masaomi tidak terlalu yakin akan pemikirannya itu.
Sang Kaisar berambut hitam tersebut mengambil semangkuk sup hangat yang ditawarkan oleh tuan rumahnya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Kedua matanya terus menatap sosok ringkih yang menyajikan segelas teh hangat di sana sebelum mengambil nampan yang digunakan tadi serta meletakkannya di atas pelukannya. Kedua entitas yang berbeda itu saling berpandangan lagi ketika sang remaja mengangkat dagunya, dan tanpa ada rasa takut di sana ia menatap sosok sang Kaisar dengan kalem.
"Setelah menyelesaikan sarapan, Anda bisa beristirahat lagi atau mandi. Saya akan menyiapkan pakaian untuk Anda sebelum memanggil pihak istana untuk menjemput Anda," kata sang remaja lagi seraya berdiri dari posisi duduknya di samping Masaomi. Kedua mata biru langit tersebut masih menatap sosok sang Kaisar dengan kalem dan tanpa emosi, namun sorot mata yang lembut tersebut membingkai Masaomi dan membuatnya tak mampu mengucapkan apapun lagi. Bahkan ketika remaja itu keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Masaomi sendiri, ia masih tak mampu mengucapkan apapun untuk beberapa saat kemudian.
Identitas dari remaja misterius tersebut membuatnya bertanya-tanya, dan entah kenapa Masaomi memiliki perasaan kalau remaja tersebut tak peduli kalau seorang Kaisar lah yang telah ia selamatkan kemarin malam.
"Benar-benar orang yang menarik," gumam Masaomi dengan pelan sebelum ia memakan sup hangat yang telah dipersiapkan untuknya oleh remaja misterius tersebut.
Sang Kaisar tak sadar kalau dirinya merasa lapar sebelum memakan sup ayam tersebut, dan barulah perutnya memberikan isyarat protes untuk diisi saat suapan pertama masuk ke dalam mulut serta perutnya. Masakan hangat yang sedap itu membangkitkan selera makan sang Kaisar, membuatnya semakin lahap untuk menghabiskan sup ayam sederhana yang disajikan untuknya. Mungkin karena ini adalah makanan pertama yang masuk ke dalam perutnya sejak kemarin sehingga rasanya menjadi semakin nikmat, dan tanpa sadar pun isi dari mangkuk tersebut telah tandas ia makan. Perutnya sudah terisi, kenyang. Setelah meletakkan mangkuk sup yang kosong tersebut di samping secangkir teh hangat yang telah disediakan, Masaomi pun mengambil cangkir tersebut dan langsung menengguk isinya sedikit demi sedikit sampai cangkir teh tersebut kosong. Rasa lapar serta lemasnya sudah teratasi oleh masakan sederhana yang dipersiapkan, ia hanya berharap remaja misterius tersebut tak memasukkan racun ke dalamnya, yang tentu saja ia ragu kalau sang remaja punya niat untuk meracuninya. Tak ada kecurigaan dalam benaknya kalau sup serta teh yang disajikan untuk Masaomi tersebut diracuni, entah ini karena ia lapar atau karena ucapan remaja misterius tadi membuatnya yakin kalau sang remaja tak akan berbuat jahat padanya.
Laki-laki paruh baya yang bernama lengkap Akashi Masaomi tersebut tak mampu membuat dirinya tertidur lagi, sehingga opsi terakhir yang ia miliki adalah mengganti pakaiannya dan segera pergi dari tempat ini. Sebagai seorang Kaisar Teiko artinya ia adalah orang yang sangat sibuk, sehingga hal-hal yang tak berguna seperti ini akan menghambatnya. Namun, sebelum ia pergi ia ingin menginterogasi remaja yang telah membawanya ke tempat ini. Ada dua pertanyaan utama yang ia miliki dan ingin ia tanyakan kepada remaja tadi, yang pertama adalah identitas remaja itu serta mengapa ia membawa Masaomi ke sini bila ia tahu siapa Masaomi sebenarnya. Masaomi bukanlah orang bodoh yang tak bisa mengambil kesimpulan dari ucapan singkat sang remaja, terlebih bila ia mengatakan akan memanggil pihak istana untuk menjemput Masaomi. Jalan pemikiran Masaomi terhenti untuk sementara ketika pintu shoji tersebut terbuka lagi dan memperlihatkan remaja yang sama memasuki ruangan itu dengan membawa pakaian miliknya yang terlipat dengan rapi, Masaomi memiliki firasat kalau itu adalah pakaian yang ia kenakan semalam namun sudah dicuci dengan bersih.
"Pihak istana sudah datang untuk menjemput Anda, Yang Mulia, saat ini mereka sudah menunggu di ruang tamu," kata remaja itu seraya meletakkan pakaian bersih di samping futon tempat Masaomi tengah duduk dan bersiap untuk mengambil mangkuk serta gelas yang sudah kosong itu.
Namun, belum juga sang remaja akan beranjak pergi tangan sang Kaisar langsung menangkap lengannya dan memaksanya untuk tinggal di sana.
"Katakan, siapa kau sebenarnya, anak muda?" tanya Masaomi, nadanya terdengar begitu berat namun mengintimidasi pada saat yang sama, membuat sang remaja tetap bergeming di tempat tanpa menggerakkan anggota badannya maupun menyahut untuk menjawab pertanyaan sang Kaisar. "Aku menemukan semua ini sangat janggal, terutama ketika kau mengetahui identitasku yang sebenarnya. Kau tidak memanggil pihak istana semalam dan malah membawaku ke tempat ini."
Remaja yang mengenakan kimono senada dengan warna rambutnya, yaitu biru langit tersebut menoleh ke belakang untuk melihat sosok sang Kaisar untuk beberapa saat lamanya.
"Saya rasa Anda pasti tidak ingin pihak istana melihat keadaan Anda yang mabuk seperti kemarin malam bila saya memanggil mereka, bukankah itu yang Anda inginkan sampai tidak memiliki seorang penjaga pun bersama Anda tadi malam? Anda adalah seorang Kaisar Teiko, Akashi Masaomi-sama, sehingga bila Anda menginginkan seorang pengawal bersama Anda pasti Anda membiarkan seseorang bersama dengan Anda semalam, namun kenyataannya saya hanya menemukan Anda seorang diri di jalan dan tergeletak dengan tidak berdaya," jawab sang remaja dengan begitu lugas dan tanpa ada rasa takut sedikit pun, seperti ia tak peduli kalau orang yang ia ajak bicara tersebut adalah orang nomor satu di dalam kerajaan imperial Teiko, atau mungkin dalam kasus ini remaja itu memang tidak peduli pada status Masaomi, sungguh hal yang mengejutkan bagi sang Kaisar. "Nama saya adalah Kuroko Tetsuya, Yang Mulia Kaisar."
Kuroko adalah nama dari remaja ini, entah kenapa Masaomi menemukan nama yang jarang digunakan oleh penduduk kerajaan Teiko tersebut sangat cocok untuk remaja yang hawa keberadaannya sangat tipis serta cara berbicaranya tidak mengenal rasa takut ini. Masaomi menemukan sosok seorang Kuroko Tetsuya ini sangat menarik.
"Aku ucapkan terima kasih atas bantuanmu semalam, Kuroko-san, namun kurasa aku harus menanyakan padamu imbalan apa yang ingin kau dapatkan karena telah menolongku semalam serta memberikan pelayanan yang memuaskan seperti ini," ucapan itu lebih mirip sebuah pernyataan ketimbang pertanyaan yang Masaomi lontarkan kepada Kuroko. Meski sang Kaisar menemukan hal ini tidak biasa, namun ia tidak bisa menyanggah kalau dirinya tidak menyukai berhutang budi pada remaja ini.
Untuk beberapa saat lamanya baik Kuroko maupun Masaomi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, keduanya memilih untuk diam dan menunggu satu sama lainnya untuk mengeluarkan ungkapan pertama yang lainnya, atau lebih mirip yang terakhir ini ditujukan kepada Masaomi yang kala itu menunggu Kuroko untuk memberikan jawaban atas pernyataannya tadi. Ia ingin Kuroko untuk memberi tahu apa yang remaja itu inginkan sebagai imbalan karena telah menolongnya semalam, namun tiga puluh detik berlalu tidak sepata kata pun keluar dari bibir remaja itu maupun Kuroko mengelak dari sentuhan yang Masaomi berikan.
Ia mulai lelah menunggu jawaban yang Kuroko keluarkan, dan Masaomi bukanlah laki-laki yang sabar.
"Yang Mulia Kaisar tidak perlu repot-repot memberi imbalan kepada saya. Menolong sesama bukan berarti kita mengharap sebuah imbalan 'kan? Saya murni menolong Anda karena saya tak ingin melihat Anda tergeletak di jalanan seperti semalam atau ada orang yang berniat jahat kepada Anda menemukan Anda dalam posisi itu," jawab Kuroko setelah satu menit berlalu di antara mereka, tak ada ekspresi yang berarti terlintas di wajah datar milik remaja itu, membuat Masaomi merasa alis kirinya berkedut karena kesal. "Dan sebagai warga negara yang baik, sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong Kaisar Teiko dalam situasi apapun."
"Aku rasa di sini ada kesalahpahaman di antara kita, Kuroko-san. Aku tidak menerima sebuah penolakan darimu, kalau aku menawarkan sesuatu maka kau harus menerimanya dengan senang hati," cengkeraman tangan Masaomi pada lengan ringkih milik Kuroko semakin mengerat, meski sangat erat cengkeraman tangan itu serta keduanya yakin hal itu akan menimbulkan bekas, Kuroko sama sekali tidak berjengit karena rasa sakit. Yang ada remaja laki-laki berambut biru langit tersebut masih terlihat tenang seperti ia tidak terpengaruh oleh apapun. "Aku memaksa di sini."
"Kalau Anda memaksa, maka saya rasa tidak ada hal yang bisa saya lakukan untuk menolaknya," kata Tetsuya yang ketenangannya masih tidak buyar, kedua matanya menatap milik Masaomi tanpa ada rasa takut di sana. "Mungkin Yang Mulia Kaisar bisa memberikan saya sedikit waktu untuk berpikir, saya rasa tawaran yang Anda berikan terlalu tiba-tiba sehingga saya merasa terkejut dan sukar untuk memberikan keputusan secara cepat untuk imbalan yang Anda maksud itu."
Melihat ekspresi yang Kuroko berikan itu Masaomi tak tahu apakah ia berkata yang sebenarnya apa tidak, tak ada emosi sedikit pun yang diberikan oleh Kuroko sehingga jalan pikiran remaja itu susah untuk diterka. Di samping lain Masaomi juga menemukan kalau ucapan dari Kuroko sangat masuk akal, dirinya telah memberikan sebuah keputusan yang tiba-tiba dan tak menerima sebuah penolakan dari anak ini, dan akan lebih adil kalau ia memberi Kuroko sedikit waktu untuk berpikir. Mungkin dengan sedikit waktu ini ia bisa meminta mereka yang menjemput dirinya untuk melakukan pencarian identitas terhadap seorang anak yang bernama Kuroko Tetsuya ini.
Cengkeraman yang ia berikan pada lengan Kuroko langsung Masaomi lepas, dan di saat yang sama ia pun menghiraukan bekas tangan yang berwarna kemerahan di lengan putih tersebut. Bukan salahnya kalau Kuroko memiliki tubuh yang ringkih sehingga dicengkeram sedikit akan langsung menimbulkan bekas seperti itu.
"Baiklah kalau itu menjadi keputusanmu, Kuroko-san, aku akan mengabulkan permintaanmu dengan memberimu sedikit waktu untuk berpikir," kedua mata keemasan sang Kaisar tak beralih dari sosok sang remaja yang masih dengan setia dan sabar menanti dirinya berada di sana. "Aku memberimu waktu sampai aku selesai mengganti pakaianku. Akan aku tungguh kau di ruang tamu lima belas menit dari ini."
Rasanya Masaomi ini sedikit tidak sopan karena telah menyuruh serta meminta tuan rumah yang telah menolongnya secara seenaknya ini, namun tak ada yang menyalahkan sikapnya yang seenaknya tersebut melihat statusnya sebagai seorang Kaisar Teiko, dan sepertinya Kuroko sendiri terlihat tidak keberatan dengan perintah yang Masaomi berikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada Kuroko, sang Kaisar pun langsung menyuruh pemilik rumah kecil ini untuk meninggalkannya sendirian. Kuroko yang membawa nampan berisi mangkuk serta gelas kosong itu hanya memberikan anggukan kecil kepada sang Kaisar sebelum ia undur diri dan pergi dari dalam ruangan itu, memberi Masaomi waktu pribadi untuk mengganti pakaiannya.
Benar-benar bocah yang menarik, pikir sang Kaisar seraya melihat pintu shoji tersebut tertutup dan menyisakan dirinya sendiri berada di ruangan itu. Kepalanya menoleh ke sisi lain, ia pun menemukan sebuah smartphone miliknya tergeletak dengan apik di samping futon tempatnya tidur semalam. Diambilnya telepon pintar tersebut dan ditekannya sebuah nomor yang sangat ia kenal sebelum meletakkan benda itu di telinganya.
"Ini aku. Aku ingin kau mencarikan sebuah informasi untukku mengenai seorang penduduk yang bernama Kuroko Tetsuya. Aku tunggu sampai 10 menit, kirim informasi itu ke emailku," kata Masaomi kepada orang yang ia panggil melalui telepon itu. Setelah urusannya selesai ia pun langsung mematikan panggilan yang ia buat dan melempar teleponnya ke atas futon.
Melihat ia tak memiliki banyak waktu yang tersisa dan harus segera kembali ke istana, ia pun segera mengganti pakaiannya dengan miliknya yang sudah Kuroko persiapkan sebelumnya. Seraya melakukan kegiatan yang sering ia lakukan itu, pikiran Masaomi berputar lagi ke dalam masalah keluarga yang ia miliki sampai membuatnya mabuk-mabukkan semalam untuk melupakannya. Tanpa di bawah pengaruh minuman beralkohol, pikirannya jauh lebih jernih dan membuatnya mampu untuk berpikir dengan baik.
Pemakaman untuk mendiang istrinya akan dilakukan hari ini, dan mengingat akan istrinya tersebut membuat tenggorokan Masaomi terasa tercekat untuk yang kesekian kalinya. Ia masih tidak percaya dirinya harus kehilangan seorang ratu yang mampu membuatnya hampir membelah kerajaannya sendiri, dan kehilangan itu hanya dikarenakan seorang bayi cacat yang sampai sekarang tak mampu membuka kedua matanya maupun mengeluarkan terbangun sejak ia dilahirkan. Masaomi tak tahu harus memandang bayi yang dilahirkan Shiori seperti apa, rasanya bayi itu tak lebih dari sebuah kutukan yang dijatuhkan kepadanya, dan sesungguhnya ia tak segan untuk menyingkirkan bayi tak bernama tersebut agar memori buruk serta kegagalannya itu tak lagi menghantuinya. Hanya saja kedua tangan Masaomi selalu bergetar saat rencana yang ia susun untuk membuang bayi itu, ia seorang Kaisar dan sebagai seorang Kaisar membunuh anaknya sendiri adalah hal yang begitu rendah untuk dilakukan. Mungkin Masaomi bisa mengirim bayi itu ke tempat yang jauh dan membiarkan para pelayannya untuk merawat bayi itu.
Aku akan sangat berterimakasih bila bayi itu mati dan tak bisa membuka kedua matanya, pikir Masaomi. Dirinya melipat yukata tidur yang ia kenakan tadi di atas futon setelah selesai mengganti pakaiannya. Tak terasa kegiatannya mengganti pakaian sudah selesai, dan teleponnya yang berbunyi tersebut menarik perhatiannya untuk mendekat. Sebuah email yang berisikan informasi mengenai Kuroko Tetsuya pun ia terima dari sekretaris kerajaannya. Dan tanpa ragu lagi Masaomi pun membuka file yang dikirimkan padanya dan membaca isinya.
Nama : Kuroko Tetsuya
Usia : 18 tahun
Pekerjaan : asisten guru TK Teiko
Informasi : Kuroko Tetsuya tinggal bersama almarhumah Kuroko Tetsumi (57 tahun) sampai ia berusia 15 tahun. Ia seorang yatim piatu dan merupakan imigran dari negara Jepang. Setelah pindah ke Teiko, Kuroko Tetsuya menyelesaikan pendidikannya di SMA Teiko sebelum mengambil pekerjaan sebagai asisten pengajar di TK Teiko. Tidak terlalu banyak yang diketahui mengenai Kuroko Tetsuya selain ia memiliki hawa keberadaan yang begitu tipis. Rekan kerja Kuroko Tetsuya mengatakan ia adalah individual yang sopan dan memiliki tata krama baik, ia juga tak pernah mendapatkan catatan hitam dari pihak kepolisian.
Masaomi bisa merasakan keningnya berkerut semakin dalam ketika membaca file yang bawahannya kirimkan padanya, sebuah informasi mengenai orang yang telah menyelamatkannya semalam. Bila ia merasa kecewa atas informasi yang bawahannya kirimkan itu rasanya sangat wajar, informasi yang dikirimkan padanya sangat singkat dan sama sekali tak menjawab tanda tanya yang ia miliki mengenai Kuroko. Tak ada background kehidupan Kuroko maupun hal yang mendetail tertulis di sini, hanya sebuah hal-hal umum yang begitu biasa. Rasanya sangat misterius dan membuat Masaomi semakin tertarik.
Sesungguhnya Masaomi bukanlah individu yang mudah tertarik pada suatu hal, namun misteri dibalik individual yang bernama Kuroko Tetsuya ini sungguh menarik perhatiannya.
Warna matahari yang terbit di sisi timur bumi adalah hal yang begitu menarik untuk dilihat, ia berwarna kuning terang dengan cahayanya mulai mengendurkan warna gelap yang langit bawa dari suasana malam. Memudarnya gelap dan menggantikan posisinya itu adalah satu dari beberapa hal terindah yang pernah ia lihat, dan sekiranya pemandangan matahari terbit di ufuk timur terlihat sangat berbeda di bumi dari apa yang ia lihat di langit. Tetsuya mampu mengakui kalau pemandangan matahari terbit dari bumi terlihat jauh lebih indah, dan tak pernah sekalipun sang Archangel melewatkan kesempatan untuk melihat terbitnya sang surya dari ufuk timur setelah ia turun ke bumi. Kehangatan yang ditawarkan bukan main-main, tak heran kalau beberapa masyarakat yang mendiami wilayah ini memuja matahari dan menganggapnya sebagai Tuhan, sebuah kepercayaan yang Tetsuya temui sangat menarik.
Duduk di salah satu kursi yang ada di dapur rumah kecilnya, Kuroko Tetsuya secara terang-terangan mandi sinar matahari yang masuk melalui jendela kecil yang tersedia di tempat itu. Sang malaikat yang menyamar menjadi manusia tersebut membiarkan cahaya matahari menyentuhnya secara langsung, membuat kulitnya yang berwarna putih pucat sedikit bercahaya ketika sang surya menimpanya dan membiarkan kehangatan itu menjalar. Memiliki tubuh seorang manusia adalah pengalaman baru yang Tetsuya rasakan, meski tubuh manusia memiliki banyak kekuarangan dari tubuh aslinya dan ia lupa bagaimana rasanya menjadi seorang manusia setelah ratusan tahun lamanya namun Tetsuya harus mengakui kalau rasanya ditimpa kehangatan oleh matahari di pagi hari itu sangat nikmat.
Menyamar menjadi seorang manusia itu sangat merepotkan, tidak heran kalau para malaikat lainnya tak ingin melakukan pekerjaan ini dan beberapa dari mereka yang terpaksa turun ke bumi pasti sering ditemukan berada di dalam bar serta mengoceh layaknya orang gila untuk menghilangkan kefrustrasian mereka. Tetsuya bisa merasakan dirinya mulai lelah akan sandiwara sederhana yang ia ciptakan sendiri untuk menunaikan tugasnya sebagai malaikat penjaga.
Tak pernah sekali pun Tetsuya menduga kalau tubuh dari jiwa yang ia pegang adalah seorang bayi yang menjadi seorang pangeran mahkota di kerajaan sebesar Teiko. Rasanya ini seperti lelucon, atau yang seperti Tetsuya duga para dewa tertinggi memang benar-benar tengah mempermainkannya. Yang ia inginkan adalah wadah jiwa yang sederhana dan terlahir dalam keluarga biasa, namun memang nasibnya yang tidak terlalu bagus dengan mendapatkan sosok penting dari sebuah kerajaan besar. Andai saja penjaga wilayah Shutoku ada di samping Tetsuya, mungkin Archangel dari Shutoku tersebut akan menertawai nasib Tetsuya habis-habisan.
Aku menyalahkan Nijimura-san karena ini, pikir Tetsuya yang lagi-lagi menambahkan sebuah hal ke dalam catatan 'Hal yang perlu dicatat dan disalahkan kepada Nijimura Shuuzo-san' untuk yang kesekian kalinya.
Menciptakan sebuah background saat menyamar menjadi manusia adalah hal yang susah, dan Tetsuya tak mau tahu bagaimana bisa Nijimura bisa melakukan itu ketika ia masih menjadi Archangel seperti Tetsuya. Tetsuya harap Akashi Masaomi yang tengah melakukan inspeksi kepada background kehidupannya sebagai manusia tidak menemukan hal yang janggal. Tetsuya adalah seorang Archangel yang tugasnya adalah mengeliminasi para iblis serta malaikat pengkhianat, setiap hari ia selalu bermandikan darah para pengkhianat yang ia bunuh dan bukannya duduk di depan layar serta menciptkan background untuk dirinya bila ia menyamar menjadi manusia serta tinggal di bumi untuk sementara waktu. Sebagai seorang pemula, rasanya akan sangat wajar bila ada beberapa hal yang janggal dalam penciptaannya, dan meskipun Tetsuya merasa puas akan pekerjaan yang telah ia lakukan beberapa saat yang lalu namun ia akan jauh lebih berterima kasih bila para dewa tertinggi sudah memberikan identitas palsu padanya atau mungkin menetapkan peraturan kalau ia boleh tetap menjadi makhluk tak tampak kepada manusia lainnya kecuali jiwa yang ia lindungi. Menjadi malaikat penjaga mungkin adalah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan, sekarang Tetsuya menyadari kalau rasa hormatnya kepada malaikat penjaga lainnya menjadi semakin tinggi.
Bertemu dengan Akashi Masaomi kemarin malam dan membawa sang Kaisar Teiko itu ke dalam rumahnya bukanlah hal yang tak disengaja olehnya. Kuroko Tetsuya berbohong kepada Masaomi kalau ia membawa sang Kaisar ke dalam kediamannya karena hatinya membimbingnya seperti itu, bertindak sebagai rakyat Teiko yang baik serta berusaha untuk menolong keluarga kerajaan bila mereka membutuhkannya. Tetsuya mengarang kebohongan sebagai alasan dengan wajah datar, membuat ucapannya mau tak mau dipercayai oleh Masaomi dan membuatnya dianggap sebagai seorang manusia yang naif serta terlalu baik. Kata siapa seorang malaikat tak boleh berbohong maupun melakukan hal yang dilarang oleh para dewa? Terkadang Tetsuya menemukan penggambaran manusia mengenai makhluk sejenis Tetsuya itu terlalu berlebihan. Ia mungkin memiliki sayap yang indah dan melayani para dewa dengan sangat patuh, namun Tetsuya adalah Tetsuya dan ia bukanlah seorang Saint.
Tetsuya mengarang sebuah alasan yang tak lebih dari kebohongan itu untuk mendapatkan kepercayaan dari sang Kaisar agar dirinya diijinkan untuk mendekat pada keluarga kerajaan, mungkin Tetsuya tak suka mengarang sebuah kebohongan seperti itu namun ia terpaksa melakukannya demi masalah pekerjaan. Jiwa yang ia pegang saat ini adalah jiwa dari seorang pangeran mahkota, dan sampai Tetsuya meniupkan jiwa dalam bunga lily miliknya maka tubuh sang Pangeran tak akan bereaksi layaknya bayi pada umumnya.
"Betapa tak beruntungnya dirimu karena telah dilahirkan di dalam keluarga problematik seperti keluarga kerajaan, little one," gumam Tetsuya dengan pelan, dagunya bersandar pada telapak tangannya yang terbuka. Ia menatap sosok mentari yang berpijar di ufuk timur bumi tersebut dengan datar. "Kau tak perlu khawatir lagi, aku akan datang padamu."
Sejak tubuh dari jiwa yang ia lindungi terlahir di dunia, Tetsuya telah melakukan berbagai pencarian informasi mengenai keluarga sang bayi serta situasi yang ada di negara ini, bahkan dengan mudahnya ia juga memata-matai wilayah istana menggunakan kekuatannya sebagai seorang Archangel. Rasanya Tetsuya ingin membiarkan Masaomi tewas di jalanan karena alkohol kemarin malam setelah melihat perlakuan sang Kaisar terhadap bayi mungil yang istrinya bawa ke dunia ini. Seorang orangtua yang baik pasti menganggap kelahiran seorang bayi dalam keluarganya itu sebagai berkah dari para dewa, namun sayangnya semua itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada karena jangankan Masaomi memiliki perasaan cinta kepada anaknya sendiri tetapi ia malah menganggap kelahiran sang bayi sebagai kutukan. Tak hanya kelahiran tersebut merenggut nyawa dari sang Ratu Imperial, namun kondisi sang bayi sendiri juga semakin memperburuk keadaan. Tubuh manusia tanpa jiwa dari bunga lily akan mengakibatkannya mengalami tidur panjang, bisa dikatakan tubuh itu hanya sebuah wadah tanpa isi, dan tentu saja hal yang terakhir ini bisa disalahkan kepada Tetsuya karena ia telat untuk datang pada waktu kelahiran sang bayi. Bibirnya melengkung sedikit, menandakan ketidaksukaannya pada situasi yang ia miliki sekarang ini.
Sepertinya Tetsuya sudah membuat sebuah keputusan yang akan ia ambil. Masaomi menawarisnya akan memberinya imbalan apapun yang Tetsuya sukai, dan sang Archangel pun sudah menemukan apa yang ingin ia minta pada sang Kaisar Teiko tersebut. Ada seorang manusia yang membutuhkan perlindungannya, dan Tetsuya tak ingin mengecewakan 'anaknya' itu demi sebuah urusan pribadi yang merupakan egonya sendiri. 15 menit yang diberikan Masaomi kepadanya sudah berakhir, dan ia pun dengan segera beranjak dari posisi duduknya sebelum berjalan menuju ruang tamu dimana beberapa pengawal istana serta sang Kaisar dari kerajaan imperial Teiko sudah menunggunya. Dan dugaan Tetsuya pun tepat, begitu ia memasuki ruangan kecil tersebut ia melihat sang Kaisar sudah duduk di sana, menantinya.
"Yang Mulia Kaisar," sapa Tetsuya dengan sopan sebelum dirinya membungkuk untuk memberi penghormatan formal kepada sang pemimpin di kerajaan ini.
Masaomi sudah terlihat jauh lebih sehat dari apa yang Tetsuya temukan kemarin malam. Mungkin alkohol yang berada dalam sistem tubuhnya sudah pergi, dan istirahat semalaman serta sarapan yang bergizi sudah mampu membuatnya jauh lebih baik. Begitu Masaomi memberinya isyarat untuk Tetsuya agar ia mengambil tempat duduk di hadapan sang Kaisar, ia pun melakukan itu tanpa perlu disuruh untuk yang kedua kalinya.
"15 menit yang kuberikan padamu sudah habis, Kuroko-san, kurasa sekarang saat kau memberitahuku apa yang kau inginkan sebagai imbalan. Aku bisa memberimu harta kekayaan serta kejayaan kalau kau mau itu," ujar Masaomi yang memulai percakapan di antara mereka.
Betapa arogannya Kaisar Teiko yang duduk di hadapan Tetsuya ini, begitu percaya diri kalau ia tahu apa yang Tetsuya inginkan. Tetsuya tak akan ragu bila ia meminta apa yang diucapkan Masaomi tersebut akan menjadi kenyataan, sayangnya bukan harta kekayaan maupun status tinggi yang sangat ia inginkan sekarang ini, keduanya tidak berguna untuk seorang Archangel seperti Tetsuya sehingga ia tak membutuhkan hal itu. Terlebih Tetsuya tidak boleh tergiur pada keserakahan yang merupakan salah satu dari ketujuh dosa terbesar manusia, sehingga ia pun akan menolak untuk mengambil keputusan yang berhubungan akan harta kekayaan maupun status tinggi yang Masaomi tawarkan. Apa yang Tetsuya inginkan adalah hal yang berbeda, sesuatu yang akan membuatnya semakin dekat dengan sosok manusia yang harus ia lindungi di bumi ini.
"Terima kasih atas tawaran yang Yang Mulia Kaisar berikan pada saya, namun dengan berat hati saya harus menolak tawaran tersebut," jawab Tetsuya dengan kalem.
Sebuah penolakan yang jarang dilontarkan kepada sang Kaisar itu tentu membuat kedua mata keemasan milik Masaomi berkilat tajam, memberikan tatapan ganasnya kepada Tetsuya yang tentu saja tak memiliki efek apapun untuk sang Archangel. Ia tak memiliki alasan untuk merasa takut kepada seorang manusia. Melihat Masaomi ingin memberikan lontaran kalimat tajam yang menegaskan kalau dirinya tak suka dibantah, sang Archangel pun lebih dahulu menyelanya.
"Saya memiliki permintaan lain, Yang Mulia, karena saya rasa harta benda dan status sosial tersebut tak akan berguna untuk saya," sahut Tetsuya lagi, memotong kemarahan yang mulai terkumpul dalam benak Masaomi.
"Oh... bisa kau katakan apa itu, Kuroko-san?" Tanya Masaomi yang sudah mampu menguasai amarahnya.
Bibir Tetsuya berkedut sedikit begitu dirinya mendengar pertanyaan ini. Ia ingin tahu bagaimana reaksi dari Kaisar Teiko ini bila Masaomi tahu akan permintaan yang akan Tetsuya lontarkan tersebut. Mungkin reaksi yang akan Masaomi keluarkan tersebut akan menjadi sangat menarik, dan Tetsuya ingin melihatnya dengan kedua mata kepalanya sendiri.
"Apabila Anda memperbolehkan, saya ingin tinggal di istana dan bekerja di sana. Saya ingin menjadi pengasuh dari anak-anak yang akan Anda miliki, Yang Mulia Kaisar," jawab Tetsuya dengan kalem, namun sekalem apapun nada yang ia miliki saat mengucapkan kalimat itu rasa kepuasaan pun menyelimuti dirinya, terlebih akan pemandangan yang terjadi di hadapannya.
Dan sesuai yang Tetsuya prediksikan sebelumnya, reaksi yang Akashi Masaomi perlihatkan itu sangat menarik, begitu menghibur sang Archangel berambut biru langit tersebut.
AN: Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir, membaca, memfollow, memfavoritkan, serta memberi review untuk serial ini.
Author: Sky
