Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari menulis fanfic ini
Warning: AU, OOC, OC, Slash, violence, blood, typo, etc
Rating: T
Genre: Fantasy, Supernatural
"bla bla"- kalimat dialog biasa
bla bla- kalimat dialog dalam hati
"bla bla"- kalimat dialog dalam flashback
"bla bla" - kalimat yang diucapkan dalam bahasa kuno malaikat
["bla bla"]- Kalimat dialog melalui telepon dsb.
LILY
By
Sky
Sebuah dongeng adalah cerita fiksi yang dibuat oleh seseorang dengan tujuan menghibur. Mereka biasanya diawali dengan kalimat 'pada suatu hari', 'pada zaman dahulu kala hiduplah...', serta 'tersebutlah di sebuah tempat...' dimana pada akhiran cerita yang dibuat selalu berakhir dengan bahagia, semua orang yang menjadi protagonis di dalam cerita tersebut akan hidup dengan bahagia untuk selamanya serta mereka yang berperan sebagai antagonis akan menderita dan sirna dalam cerita dongeng tersebut. Apakah semua itu adil? Meski perbuatan para antagonis bisa dikatakan tidak terpuji bukan berarti mereka pantas untuk menghilang dan dicap sebagai orang yang tidak penting setelahnya, meski itu artinya cerita dalam dongeng akan berubah menjadi hal yang aneh untuk dibaca.
Cerita dalam dongeng selalu mencangkup seorang putri maupun seorang perempuan yang tak memiliki apapun tiba-tiba menginjakkan kakinya di istana sebelum dipersunting oleh seorang pangeran tampan dan pada akhirnya menjadi ratu dari istana tersebut. Sebuah dongeng yang begitu menarik untuk dibacakan kepada anak-anak saat menjelang tidur meski keaslian serta kenyataannya masih dipertanyakan. Entah apa yang Tetsuya pikirkan, namun kehidupannya ini bisa dikatakan sebagai ironi dimana ia melangkahkan kakinya memasuki istana besar yang sebelumnya tidak pernah ia masuki. Tetsuya bukanlah tokoh utama dari sebuah dongeng maupun fiksi belaka hanya karena ia melangkah masuk ke dalam istana besar seperti istana utama Teiko. Tidak, ia berada di sini karena sebuah alasan yang berhubungan akan janji serta imbalan yang pantas ia terima atas apa yang ia lakukan.
Kuroko Tetsuya mungkin seorang Archangel yang terhormat dengan status yang membuatnya disegani oleh malaikat lain, bahkan tanpa mendapatkan tambahan status sebagai kandidat dewa ia pun sangat dihormati oleh penduduk tanah suci surga, tapi sebagai manusia biasa yang menjadi penyamarannya status Tetsuya tidak lebih dari seorang rakyat jelata yang tidak memiliki apapun dalam hidupnya. Sebelum Tetsuya menjadi seorang malaikat ia adalah seorang manusia yang terakhir dari jiwa yang ditiupkan oleh sang Ayah ke dalam tubuhnya, ia adalah manusia yang tak memiliki status sosial di mata masyarakat, sehingga status itu pun akan tetap dibawa oleh Tetsuya selama ia hidup menjadi seorang manusia, bahkan sampai saat ini pun statusnya sebagai rakyat jelata yang tak memiliki kedudukan pun masih melekat padanya. Sebuah ironi yang Tetsuya temukan mengingat betapa berbedanya Kuroko Tetsuya yang menjadi manusia dan Kuroko Tetsuya yang menjadi malaikat.
Oleh karena itu Tetsuya bisa mengatakan posisinya mirip seperti karakter utama yang ditulis di dalam sebuah dongeng picisan yang berfungsi untuk menghibur, tidak nyata meski terjadi di dunia nyata, dan mampu untuk menarik tawa yang ditujukan kepadanya. Dalam hati Tetsuya meringis pelan saat dirinya berjalan memasuki istana utama yang ada di ibukota negara Teiko, dengan Masaomi yang tak sekalipun menoleh maupun mengajaknya bicara setelah mereka keluar dari kediaman Tetsuya beberapa menit yang lalu.
Sang Archangel tahu betul apa yang terjadi di dalam kepala sang Kaisar. Mungkin selama ini Masaomi menganggap dirinya begitu mutlak dan mampu memanipulasi siapa saja untuk melakukan apa yang ia inginkan serta memiliki poker face yang begitu tebal, namun Masaomi sepertinya belum pernah berhadapan dengan seorang malaikat yang selalu digadang-gadang sebagai raja dari poker face serta memiliki kemampuan untuk mengobservasi orang yang baik seperti Kuroko Tetsuya, oleh karena itu bukan hal yang mengejutkan lagi kalau Masaomi akan merasakan kejut yang luar biasa kala dirinya mendengarkan permintaan aneh yang Tetsuya lontarkan beberapa saat yang lalu.
"Apabila Anda memperbolehkan, saya ingin tinggal di istana dan bekerja di sana. Saya ingin menjadi pengasuh dari anak-anak yang akan Anda miliki, Yang Mulia Kaisar" adalah apa yang Tetsuya lontarkan sebagai permintaan, memukul mental Masaomi yang hanya menebak kalau sang Archangel akan menginginkan sebuah harta kekayaan atau status sosial tinggi yang berupa penghargaan dari sang Kaisar. Emosi yang Masaomi miliki akibat dirinya tertangkap basah merasa terkejut atas permintaan Tetsuya itu sungguh manusiawi, Tetsuya tidak akan menyalahkannya maupun akan menertawakannya meski yang bersangkutan sendiri sudah memprediksikan hal itu akan terjadi. Tidak ada yang salah, Tetsuya mengucapkan hal itu lagi di dalam benaknya untuk yang kesekian kalinya seraya mengikuti langkah Masaomi yang membimbingnya masuk ke dalam istana.
Meski Tetsuya adalah malaikat yang memiliki tingkat observasi tinggi, bukan berarti ia mampu membaca pikiran dari seorang manusia, ia bukanlah seorang pembaca pikiran seperti tokoh utama dalam sebuah novel yang pernah ia baca sebelumnya. Untuk itu Tetsuya hanya bisa menunggu dengan sabar untuk mendapatkan komentar selanjutnya dari Masaomi.
Mungkin Akashi-san merasa terkejut atas permintaanku, sebuah hal yang begitu dekat dengan apa yang terjadi padanya belakangan ini. Dengan kelahiran sang Pangeran Mahkota dan kematian Ratu Imperial yang bukan lagi menjadi rahasia, ujar Tetsuya pada dirinya sendiri. Tak jarang kedua mata biru langit milik Tetsuya menatap punggung dari sang Kaisar dengan jeli, ia ingin tahu apa yang tengah sang Kaisar pikirkan saat ini serta rencananya untuk sang Pangeran Mahkota yang notabene adalah manusia yang berada di bawah perlindungan Tetsuya tersebut.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan istana kalau sang Kaisar tidak menghendaki kelahiran putra pertamanya yang mengakibatkan kematian Akashi Shiori, mendiang Ratu Imperial Teiko yang juga isteri dari Masaomi. Dan keadaan yang tengah diderita oleh sang Pangeran Mahkota pun juga memicu reaksi dingin dari sang Kaisar meski emosi yang terdalam tidaklah dikeluarkannya secara vulgar, kecuali ketika Tetsuya membawa sang Kaisar ke dalam kediamannya dimana waktu itu secara tak sadar Masaomi membeberkan segalanya.
"Shiori-ku yang cantik, kenapa kau harus pergi dan meninggalkanku bersama dengan anak terkutuk itu. Kenapa?!" Raungan dari sang Kaisar yang tengah mabuk dan dilanda oleh perasaan sedih itu terlontar begitu saja saat Tetsuya memapahnya untuk menuju ke kediamannya. Dan Tetsuya tidak perlu menjadi orang yang jenius untuk menyimpulkan perasaan sebenarnya yang Masaomi miliki untuk sang bayi yang merupakan pewaris kerajaan imperial Teiko di masa depan.
Hidup bukanlah sebuah fatamorgana maupun dongeng belaka, pikir Tetsuya yang mengulang kalimat milik Nijimura yang pernah diucapkan padanya ketika sang dewa perang mengambil Tetsuya untuk berada di bawah asuhannya. Saat itu Tetsuya yang baru saja ditolak oleh sang Ayah tidak mengerti apa maksud perkataan Nijimura, namun setelah waktu berlalu dan dirinya memiliki banyak pengalaman yang bisa dikatakan manis-pahit itu pun pada akhirnya ia mengerti. Kaca kehidupan yang sebenarnya tidak berdasarkan pada warna hitam maupun putih, dan cerita yang sebenarnya pun terefleksi begitu jelas pada kehidupan sang bayi yang menjadi anak asuh Tetsuya ini.
"Kita sudah sampai," perkataan yang keluar dari mulut Masaomi membuat Tetsuya menghentikan monolognya sendiri.
Sang Archangel pun memberikan anggukan singkat, dan ia pun mengamati ruangan tempatnya berada saat ini. Nuansa biru muda mendominasi dinding ruangan tersebut, dan sebuah kotak besar berpagar yang memuat tempat tidur bayi pun menjadi pusat dan daya tarik tersendiri di sana, tanpa sadar Tetsuya menemukan dirinya mengambil beberapa langkah untuk mendekati tempat tidur mungil yang ia yakini adalah milik sang Pangeran kecil. Melihat sang Kaisar tak memberikan instruksi lain dan membiarkan Tetsuya untuk berbuat sesukanya, sang Archangel pun terus mendekat sampai ia berdiri tepat di samping ranjang mungil yang dikelilingi oleh pagar kecil untuk menghalau bayi yang ada di dalamnya agar tidak jatuh. Dan di dalam kotak mungil itu Tetsuya merasakan hatinya melumer dan menjadi hangat, nafasnya pun tercekat seraya kedua matanya melebar kala dirinya menemukan sosok yang begitu memikat di dalamnya.
Tidur dengan kedua mata mungilnya tertutup adalah bayi tanpa nama yang dilahirkan oleh mendiang Ratu Imperial Teiko, seorang bayi yang sejak keluar dari rahim ibunya sama sekali tidak menampakkan gelagat normal maupun membuka matanya. Orang-orang menjuluki bayi ini sebagai pangeran tidur, mirip seperti tokoh utama dalam dongeng puteri tidur beda versi kelamin yang Tetsuya temukan menarik dan pernah ia baca. Bila sebelumnya Tetsuya menemukan seorang bayi yang lahir ke dunia ini adalah sebuah anugerah dari para dewa kepada manusia, maka ia menemukan dirinya sekarang ini bersyukur telah menerima keputusan yang Nijimura buat untuk menjadikannya sebagai kandidat dewa tertinggi. Dengan begini Tetsuya pun memiliki kesempatan untuk melihat pertumbuhan seorang manusia dari dekat dan mampu bersentuhan langsung dengannya, sebuah hal yang sangat langka untuk terjadi pada diri seorang malaikat kecuali bila mereka adalah seorang malaikat penjaga.
"Ia sangat manis," Tetsuya menemukan dirinya menggumamkan kalimat itu untuk beberapa saat lamanya, merasa kagum pada anugerah para dewa yang mampu ia saksikan secara langsung. Kedua matanya tak beranjak sama sekali dari sosok sang bayi yang masih terlelap dalam tidur panjangnya tersebut, bahkan dengan kehadiran Tetsuya pun sang bayi masih tak beranjak dari tidur panjangnya itu. Seperti sebuah boneka porselain, imbuh Tetsuya dalam hati kala menatap sosok menawan sang bayi bertubuh mungil itu.
Senyuman maklum pun muncul pada bibir Tetsuya kala dirinya masih menatap makhluk mungil yang tak berdosa itu, rasanya ia tak mampu untuk menolak kehadiran sang bayi di dunia ini, dan entah kenapa perasaan ragu yang beberapa saat lalu menyelimuti sang Archangel mengenai tugas yang Nijimura berikan kini langsung sirna begitu saja ketika dirinya bertemu langsung dengan objek yang akan berada di bawah asuhan dan perlindungannya. Secara tak langsung sang Archangel pun memberikan terima kasih kepada para dewa yang telah memilihnya sebagai kandidat dewa.
"Anda beruntung sekali telah diberkati dengan seorang putera yang sehat dan manis seperti ini, Akashi-sama," ujar Tetsuya dengan lembut tanpa melepas pandang pada sosok mungil yang masih tertidur di dalam tempat tidur mungilnya tersebut.
Hanya orang bodoh yang menolak hadiah dari pada dewa, dan Tetsuya rasa sang Kaisar Teiko ini adalah satu dari beberapa orang bodoh yang akan Tetsuya temui di dunia ini. Sang malaikat sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perlakuan Ayah baru itu kepada anaknya, Masaomi tidak memperlakukan bayi yang mendiang isterinya lahirkan ini sebagai seorang manusia, namun sang Kaisar menganggapnya sebagai benda pembawa kutukan, sebuah sebutan yang menyedihkan bila orang-orang boleh bertanya pada Tetsuya. Bayi yang terlahir di dunia ini adalah hal yang sangat suci dan membahagiakan, tak sepantasnya seseorang menganggap sebuah kelahiran dari jiwa yang berasal dari surga sebagai sebuah kutukan atau pembawa malapetaka, Tetsuya menganggap orang-orang yang berpikiran pendek seperti Akashi Masaomi yang menyalahkan bayinya tersebut sebagai pembawa sial hanya karena Ratu Imperial meninggal setelah melahirkan sebagai orang yang tak tahu terima kasih. Andaikata Akashi Shiori masih hidup mungkin sang Ratu Imperial akan menampar suaminya sendiri dan memarahinya karena tidak mengakui keberadaan sang bayi yang telah dilahirkannya.
Bibir Tetsuya berkedut kecil ketika dirinya memikirkan ironi yang terjadi di depan matanya. Manusia sangat mudah menyalahkan sesuatu ketika dirinya merasakan kesedihan yang luar biasa seperti ditinggalkan oleh orang yang mereka kasihi, bahkan mereka tak peduli bila yang mereka salahkan adalah sebuah jiwa yang tak berdosa dan merupakan darah daging mereka sendiri. Rasanya manusia itu jauh lebih menakutkan dibandingkan iblis, bahkan makhluk yang dibenci oleh pihak surga itu masih mengetahui kalau kelahiran adalah hal yang dinanti-nanti serta merupakan sebuah berkah ketimbang kutukan. Terkadang manusia bisa menjadi baik layaknya malaikat, dan tak jarang pula manusia juga bisa menjadi buruk sampai melebihi seorang iblis, Tetsuya tak tahu harus menilai apa mengenai ini semua melihat ia sendiri juga pernah menjadi seorang manusia di bawah asuhan sang Ayah.
Ungkapan yang Tetsuya lontarkan mengenai paras sang bayi tersebut menemui sebuah keganjilan yang bernama kesunyian di antara dirinya dan sang Kaisar, Masaomi tidak memberinya komentar balik maupun melampiaskan kemarahan karena sang Archangel sudah mengucapkan sesuatu tanpa seizin darinya. Meski keduanya tak saling beradu kata, Tetsuya dapat merasakan betapa menegangkannya suasana ruangan yang disebut-sebut sebagai kamar sang Pangeran Mahkota tersebut. Andai saja Tetsuya tak memiliki pengendalian yang baik pada dirinya sendiri mungkin ia akan merasa tak nyaman dengan perlakuan dingin yang Masaomi berikan, namun melihat tak ada alasan baginya untuk merasa takut maupun terintimidasi oleh seorang manusia maka Tetsuya pun bersikap seolah-olah tak terjadi apapun di sana dan di antara mereka.
"Terima kasih," ujar Masaomi dengan singkat, kedua lengannya terlihat begitu kaku saat berada di kedua sisi tubuhnya. Tetsuya merasakan tatapan dari sang Kaisar tersebut menggali lubang pada bagian belakang kepalanya. "Aku belum memberinya nama, dan kurasa aku akan memikirkannya nanti saat ia membuka matanya. Bayi ini tak sekalipun menunjukkan reaksi apapun setelah istriku melahirkannya ke dunia, kurasa ada yang salah dengannya."
Ucapan 'dan karena itu ia tak pantas disebut sebagai anakku karena ketidaksempurnaannya' menggantung di udara meski Masaomi tak mengucapkannya secara langsung, namun disini Tetsuya mampu menangkapnya dengan jelas. Sang malaikat bersayap enam yang menyamar menjadi seorang manusia tersebut tak memberikan tanggapan mengenai kalimat yang menggantung itu, ia berpura-pura menjadi orang bodoh di sini.
"Mungkin Anda hanya perlu memberikan waktu sampai Yang Mulia Pangeran membuka matanya sendiri," jawab Tetsuya dengan kalem, untuk yang pertama kali setelah keduanya tiba di dalam ruangan itu dan ia memberikan tatapan pada sang Pangeran tidur, Tetsuya pun menoleh sebentar untuk menatap sang Kaisar. "Sesuai perjanjian kita, saya akan merawat pangeran dengan baik."
Tak ada perjanjian di antara keduanya yang terucap secara langsung, namun kedua orang itu tahu benar kalau Masaomi sendiri tidak akan menarik kata-katanya sendiri ketika ia menawari Tetsuya untuk mengucapkan apa permintaannya, sehingga ketika ia tahu permintaan apa yang Tetsuya minta maka mau tidak mau pun Masaomi harus mengabulkannya.
"Aku tidak tahu permainan apa yang tengah kau mainkan, Kuroko-san, namun aku tidak suka dipermainkan di sini," kata sang Kaisar dengan lugas dan tiba-tiba.
"Saya tidak sedang mempermainkan Anda, Yang Mulia Kaisar."
Kedua mata keemasan milik Masaomi berkilat tajam sebelum mereka menyipit, menatap sosok sang Archangel dengan lantang serta penuh akan ketidakpercayaan yang tercipta di sana.
"Aku bukanlah orang bodoh yang mudah kau tipu. Kelahiran bayi ini, aku tidak pernah mengumumkannya kepada masyarakat, dan berita akan kematian Permaisuri pun baru menyebar pagi ini. Kau tahu aku memiliki seorang bayi di sini dan secara tegas kau mengumumkan kau ingin menjadi pengasuh bayi ini, aku rasa kau mengetahui berita yang bahkan orang lain tak mengetahuinya."
Tetsuya mengakui kalau Masaomi adalah orang tajam, ia mampu membaca kebohongan yang Tetsuya buat dalam waktu yang singkat meskipun apa yang ia simpulkan tadi tidak sepenuhnya benar maupun semua yang Tetsuya rencanakan. Sepertinya mereka yang terlahir di dalam keluarga Akashi memang terkenal sangat tajam seperti rumor yang memberitakan mereka, atau mungkin ketajaman ini hanya berlaku pada Akashi Masaomi saja, Tetsuya tidak mengetahuinya secara pasti.
"Menjadi pengasuh dari putera-puteri yang terlahir di dalam keluarga kerajaan adalah impian saya sejak dulu. Katakan saja saya orang yang serakah karena menginginkan hal yang sangat tidak masuk akal ini bagi mereka yang terlahir dalam kasta keluarga saya," kali ini Tetsuya pun memutar tubuhnya sampai ia berhadapan dengan Masaomi. Waktu yang terhenti pun kini mulai berjalan lagi saat Tetsuya kembali membuka mulutnya, meneruskan ucapan yang terpotong tadi. "Dan ketika Anda menawari saya sebuah imbalan yang bisa saya minta dalam bentuk apapun, saya rasa tidak ada salahnya untuk mengambil kesempatan ini untuk mewujudkan impian saya, bukan? Anda sendiri yang mengatakan itu, Yang Mulia Kaisar."
Penjelasan yang Tetsuya katakan tersebut tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Sebagai seorang malaikat Tetsuya sangat menyukai anak-anak dan tidak keberatan untuk mengasuh maupun merawat mereka sampai mereka tumbuh dewasa, tak heran kalau sang Archangel sering sekali menatap para malaikat penjaga yang akan turun ke bumi dengan tatapan penuh iri di kedua matanya. Namun, cita-cita menjadi pengasuh anak-anak dari keluarga kerajaan bukanlah pilihan yang menggiurkan maupun pernah ia bayangkan untuknya.
Tetsuya tahu kalau ucapannya itu sangat ganjil, tak bisa dipercaya begitu saja melihat dirinya tak lebih dari orang asing yang mencoba untuk mengaku-ngaku sebagai manusia. Dan melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Akashi Masaomi pun Tetsuya bisa menyimpulkan kalau sang Kaisar Teiko memiliki pemikiran yang tak jauh beda darinya, sang Kaisar tidak mempercayai ucapan Tetsuya sedikit pun. Tetsuya tak keberatan dengan perlakuan itu, setidaknya ia tidak merasa bersalah karena telah berbohong dimana lawan yang ia bohongi tak mengetahui kebenarannya, Akashi Masaomi jauh lebih pandai untuk tidak mempercayai semua ucapan yang Tetsuya lontarkan.
Mereka berdua tahu betapa dustanya kalimat tadi, namun sepertinya sang Kaisar membiarkannya begitu saja dan memilih untuk menganggukkan kepalanya, entah karena percaya dengan penjelasan yang Tetsuya berikan atau terlihat pura-pura setuju agar ia tak berlama-lama berada di dalam ruangan tersebut.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, Kuroko-san. Seperti perjanjian kita, kau akan menjadi pengasuh untuk bayi itu. Tapi kau harus ingat, sedikit saja kau melakukan kesalahan maka nyawamu yang akan menjadi taruhannya, aku masih belum mempercayaimu seratus persen di sini. Aku akan mengawasimu," kata Masaomi setelah beberapa detik berlalu di antara mereka berdua. "Aku telah mempersiapkan sebuah istana yang akan bayi ini huni beserta beberapa pelayan dan pengawal yang akan melayaninya. Seperti tradisi kerajaan Teiko, para Pangeran dan Putri imperial akan tinggal dalam istana terpisah dari istana utama, dan kau yang bertindak sebagai pengasuh bayi ini maka kau akan ikut bersamanya ke sana. Semua urusan mengenai bayi ini aku serahkan padamu, akan ada pelayan yang akan membantumu nanti untuk mengurus bayi ini. Apakah ada pertanyaan yang ingin kau tanyakan sebelum aku meninggalkan ruangan ini?"
"Tidak ada."
Anggukan singkat dari Masaomi pun diberikan untuk sang Archangel, "Baiklah kalau begitu. Aku akan memerintahkan seorang pelayan untuk mengurus semua kepindahanmu, salah satu pengawal akan mengantarkanmu bersama bayi ini."
Hanya kalimat lugas dan tanpa basa-basilah yang Tetsuya terima setelah itu sebelum Masaomi meninggalkan Tetsuya bersama dengan bayi tanpa nama yang masih tertidur dengan lelap di dalam tempat tidurnya sendiri. Menurut Tetsuya, laki-laki yang bernama Akashi Masaomi ini adalah orang yang sangat dingin, bahkan ia tak merasa khawatir melihat puteranya ditinggalkan sendirian bersama orang yang baru ia kenal pada hari yang sama. Kalimat yang terlontar dari mulut Masaomi mengenai ancaman akan keselamatan sang bayi mungkin terdengar begitu meyakinkan, namun Tetsuya menangkap sesuatu yang ia yakini seperti kelegaan. Kelihatannya sang Kaisar tak mau tahu akan urusan ini, bahkan bila terjadi sesuatu dengan pangeran tanpa nama ini Tetsuya berani bertaruh hal ini tak akan mempengaruhi sang Kaisar sedikit pun, bahkan mungkin kelegaan lah yang akan muncul di sana. Entah kenapa pemikiran yang terakhir ini membuat Tetsuya sedikit kesal.
Tetsuya kembali menatap sosok mungil yang masih tertidur di dalam kotak yang berupa tempat tidur tersebut, rasa iba pun mulai menyelimutinya. Ditinggalkan Ibunda pada usia yang begitu dini dan sang Ayah tak peduli padanya adalah nasib yang menyedihkan untuk bayi ini, oleh karena itu Tetsuya yang berperan sebagai malaikat penjaganya akan melakukan apapun untuk memberikan kebahagiaan kepada bayi tanpa nama ini.
Sudah saatnya kau bangun, Little one, pikir Tetsuya sebelum dirinya menghadap ke arah ranjang milik sang bayi. Tetsuya mengangkat tangan kanannya setinggi dada, ia pun mempertemukan jari tengah dan ibu jari tangan kanannya dalam sebuah jentikan jari yang mengeluarkan bunyi 'tik' secara pelan. Sihir yang menyelimuti tubuh Tetsuya pun muncul, mereka membuat ruangan itu menjadi lebih sunyi dari sebelumnya dan membuat jarum jam yang tergantung di atas dinding pun berhenti berdetak. Waktu yang tercipta pun berhenti, menyisakan Tetsuya dan sang bayi yang ada dalam ruangan itu bisa bergerak secara bebas, dengan begini kamera pengawas yang terpasang di ruangan itu tak akan bisa bekerja secara sementara maupun para manusia yang nantinya akan masuk dan menginterupsi pekerjaannya. Semua terhenti oleh waktu yang berhenti, sihir Tetsuya sebagai seorang malaikat pun mengijinkan semua itu terjadi, memberinya waktu sedikit lebih panjang untuk melakukan tugasnya sebagai pembawa jiwa lily yang ia dapat dari para dewa.
Menggunakan kekuatannya, Tetsuya melihat aura yang berwarna biru muda pun menyelimuti tubuh sang bayi dan mengangkatnya ke udara, tepat di hadapan Tetsuya tanpa membuat sang Archangel harus menunduk seperti tadi. Untuk beberapa saat lamanya sang Archangel melihat sosok bayi mungil itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan, tak ada emosi yang keluar dari sosoknya meski dalam benak ia membayangkan apa yang terjadi di masa depan. Dalam pikirannya tersebut Tetsuya melihat sosok bayi mungil yang masih memejamkan kedua matanya ini tumbuh menjadi seorang pemuda tampan yang memiliki helaian rambut berwarna merah darah, seorang Kaisar muda yang sangat berkarisma meski memiliki kehidupan yang sangat sulit, namun dibalik semua itu sang Kaisar muda memiliki beberapa orang terpercaya yang bisa ia andalkan serta mampu ia sebut sebagai teman. Senyum kecil kini tersungging di bibir sang malaikat ketika bayangan masa depan pun mulai ia lihat meski itu sangat sedikit, walaupun sesungguhnya Tetsuya ingin melihat lebih dari itu tapi kepingan kecil pun untuk saat ini sudah lebih dari cukup.
"Saatnya kau terbangung dari mimpi indahmu dan menyongsong kehidupan nyata, Pangeran kecil," gumam Tetsuya dengan lembut.
Sebuah cincin dengan permata berwarna merah ruby pun tiba-tiba muncul dan melingkar pada ibu jari tangan kirinya. Tanpa memberikan tatapan pada cincin tersebut Tetsuya langsung mencium batu permata pada cincin yang melingkar itu, ia pun lalu memejamkan kedua matanya saat cincin yang melingkar pada ibu jari tangan kirinya sirna dan setangkai bunga lily merah darah yang masih menguncup pun muncul di sana, Tetsuya menggenggam bunga tersebut dengan hati-hati seraya membuka kedua matanya. Bunga yang muncul itu adalah bunga sama yang ia terima dari Nijimura dan ia rubah warnanya menjadi merah darah, sebuah wadah sementara yang Tetsuya tiupkan, menjadikannya simbol kalau sang Archangel benar-benar menerima tugasnya dari para dewa untuk menjadi kandidat dewa.
"Jiwa murni yang tersimpan dalam wadah suci, aku memanggilmu untuk keluar dan muncul di hadapanku. Atas nama Kuroko Tetsuya, malaikat penjaga yang telah mengikat kontrak, aku memerintahkanmu untuk memperlihatkan wujud aslimu. Bersatulah dengan wadah yang telah terlahir dan meleburkan menjadi satu. Lepaskan!"Tetsuya mengucapkan kalimat tersebut dalam bahasa kuno yang hanya dimengerti oleh para malaikat, sebuah bahasa yang terdengar sangat aneh dan tak bisa ditilik dari mana asalnya.
Kuncup bunga lily yang berada dalam genggaman Tetsuya pun bersinar, warna merah darah pun mengelilingi bunga lily itu sebelum beberapa rangkaian huruf yang berbentuk seperti petir muncul dan menyentuh pucuk dari kuncup tersebut. Tetsuya melihat bagaimana kuncup yang tertutup itu tiba-tiba terbuka sedikit demi sedikit sampai bunga lily merah tersebut mekar secara sempurna. Dari dalam bunga lily yang masih diselubungi oleh aura merah itu, sebuah bola cahaya berwarna putih terang dengan inti berwarna merah darah pun terlihat secara jelas, bola cahaya tersebut adalah cahaya jiwa yang Tetsuya tiupkan beberapa saat lalu sebelum dirinya turun ke bumi.
Sang Archangel terlihat terkejut atas pemandangan bola jiwa yang tersaji di hadapannya itu terlihat begitu indah dan menawan, dalam hati ia pun bertanya-tanya apakah sewaktu sang Ayah melakukan ritual untuk menanamkan jiwa pada tubuhnya di masa lalu ia melihat Tetsuya dengan takjub yang tercuat dalam kedua matanya seperti apa yang Tetsuya lakukan saat ini. Jujur Tetsuya akui kalau ia begitu terpana akan pemandangan indah tersebut.
Tak ingin dirinya terlena dalam lamunan, sang Archangel pun kembali memfokuskan pandangannya pada tugas yang ada di hadapannya. Saat ia melepaskan genggamannya pada tangkai bunga lily tersebut, ia melihat bagaimana bunga lily tersebut melayang di udara dengan bola jiwa yang masih berada di dalamnya berada di atasnya. Mahkota bunga lily yang diselimuti oleh aura berwarna merah darah pun perlahan terputus dari tangkainya, dan setelah Tetsuya menyentuhkan aura miliknya dengan milik sang bunga ia pun membuat bunga lily merah itu terbang ke arah sang bayi yang masih mengambang di udara sebelum sang bunya tersebut masuk ke dalam raga sang bayi, membuat aura yang berwarna merah darah dari bunga lily tadi menyelimuti raga mungil milik sang bayi.
"Penyatuan sukses," kata Tetsuya dengan lembut. Dirinya tak mampu menahan sebuah senyuman lembut untuk tidak muncul di sana, ia merasa senang saat melihat kedua kelopak mata mungil dari sang Pangeran tidur kini mulai terbuka dan menampakkan sepasang mata hetrokromatik yang merupakan perpaduan antara warna merah ruby untuk mata kanan serta warna keemasan untuk mata kiri. Perpaduan warna mata tersebut membuat Tetsuya jatuh hati untuk yang kedua kalinya pada bayi mungil tersebut, mereka terlihat begitu regal dan Tetsuya pun mampu membayangkan betapa hebatnya kekuatan kedua mata itu dimasa depan. Ia tak sabar untuk melihat sang bayi tumbuh menjadi dewasa, Tetsuya harap dirinya masih ada di samping sang Pangeran sampai ia tumbuh menjadi dewasa.
Untuk pertama kalinya setelah proses kelahirannya, sang bayi pun menangis dan tampak seperti seorang bayi sehat pada umumnya. Ia tak lagi menjadi sebuah boneka tanpa jiwa setelah bunga lily yang Tetsuya terima sebelumnya menyatu dengan tubuh sang bayi, dengan begini Tetsuya harap Masaomi akan mampu menerima sang Pangeran meski kemungkinan tersebut sangatlah kecil. Membayangkan hal itu cukup membuat sang Archangel menggelengkan kepalanya, ia akan memikirkan hal itu nanti setelah semuanya berakhir.
Ketika kedua mata hetrokromatik milik sang bayi bertemu dengan mata biru langit milik Tetsuya, tangisan yang pecah dari sosok mungil itu mulai meredup sebelum pada akhirnya tangisan itu berhenti. Setidaknya sang bayi menyadari siapa Tetsuya pada saat ini, ia merasa hangat akibat perlindungan yang sang Archangel berikan. Sang Pangeran menyadari kalau Tetsuya adalah orang yang bisa ia percaya untuk menjaga dan melindunginya, oleh karena itu tangisnya yang pecah beberapa saat lalu kini berhenti.
Menggendong tubuh mungil sang bayi menggunakan lengan kirinya, Tetsuya pun memudarkan senyumnya dan membuat ekspresi wajahnya terlihat netral seperti semula tatkala senjata Archangel miliknya yang berupa sebuah pedang Murasame muncul dan langsung Tetsuya genggam menggunakan tangan kanannya, ia pun dengan cepat memutar tubuhnya untuk menyongsong tekanan yang diperlihatkan oleh sebuah hal ganjil di ruangan itu padanya. Sebuah tekanan tak terduga yang ia lewatkan tadi kini bertambah begitu kuat seiring bertambahnya waktu, dalam hati Tetsuya mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa mendeteksi aura demonic yang menyelimuti ruangan tersebut beberapa saat lalu sampai ia menyelesaikan transfer jiwa kepada sosok sang Pangeran. Dan pada saat itulah sebuah cambuk yang berasal dari lukisan teddy bear yang tergantung di ruangan itu muncul dan mengikat lengan kanan Tetsuya yang masih menggenggam senjatanya itu, membuat sang Archangel tak mampu bergerak untuk beberapa saat.
Sang Archangel mendesis pelan saat cambuk panas tersebut mengenai kulitnya di balik lengan panjang yukata yang ia kenakan, ia yakin ikatan cambukan pada lengannya itu akan meninggalkan bekas nantinya. Tak ingin berdebat terlalu lama dengan pikirannya sendiri, Tetsuya pun berharap sang bayi yang kini sudah ia tiupkan jiwa tidak akan menangis lagi atau lebih parahnya merasakan trauma karena kejadian ini. Sebisa mungkin Tetsuya akan melindunginya dari serangan iblis yang bersembunyi di balik lukisan teddy bear yang dipajang di ruangan itu. Cambuk yang disemati oleh duri itu berubah warnanya dari hitam menjadi merah, meninggalkan rasa panas seperti api neraka di kulit sang malaikat, meski demikian ia masih bergeming di tempat seolah-olah rasa sakit yang Tetsuya rasakan itu tak lebih dari sebuah fatamorgana yang ia terima. Menyipitkan kedua matanya, Tetsuya pun menarik lengan kanannya dengan kuat sementara tubuhnya condong ke samping untuk beberapa saat, ia menarik si iblis yang menjeratnya tersebut sebelum aura yang ia miliki bertambah kuat.
Tetsuya menggumamkan sesuatu dalam bahasa kuno malaikat, ia melihat bagaimana Murasame yang ia pegang tadi kini metalnya diselimuti oleh aura berwarna keemasan sebelum dirinya memutar pedang panjang tersebut sehingga ujung tajamnya berada di bawah. Tanpa banyak kata yang terucap ia pun langsung memotong jeratan cambuk yang mengikat lengan kanannya dalam sekali ayun, membuat cambuk berduri yang berwarna merah itu terpotong secara telak. Sisa cambuk berduri yang mengikat lengan Tetsuya langsung berubah menjadi abu sebelum benda itu menghilang dengan sempurna, sang Archangel kembali mengayunkan Murasame sampai benda itu berada di sisi kanan tubuhnya dan masih tergenggam oleh tangan mungil sang malaikat. Meski dirinya tak lagi terjerat, bukan berarti Tetsuya bisa menurunkan penjagaannya karena apapun yang memanggil benda itu untuk menyerang Tetsuya masih berada di sana, tepat di hadapan Tetsuya meski sosok aslinya masih bersembunyi. Bila Tetsuya ingin mengeliminasi sosok itu, maka satu-satunya adalah memaksa si penyerang untuk muncul dan sang Archangel pun memiliki sebuah rencana untuk mewujudkannya.
"Angin panas yang berhembus dari surga, patuhi perintahku untuk muncul di hadapanku. Selenity Blast!"Tetsuya mengucapkan kalimat itu yang diselingi oleh aura perak yang berupa kekuatannya tersebut. Halilintar pun muncul dari ujung pedang milik Tetsuya dan langsung bergerak dengan cepat menuju ke arah lukisan yang ujung cambuknya masih berada di sana. Menghancurkan lukisan itu dalam sekali serang dan memaksa apapun yang bersembunyi di sana untuk muncul.
Bunyi bedebum pun terdengar dengan sangat keras, dalam hati Tetsuya merasa bersyukur ia belum menurunkan sihir ruang dan waktu miliknya sehingga para manusia yang menghuni istana utama ini tak akan menghambur masuk untuk melihat apa yang terjadi di sini. Satu-satunya yang bisa bergerak bebas adalah Tetsuya, bayi yang ada di dalam gendongannya, serta apapun itu yang ia serang barusan.
Asap yang diakibatkan oleh hantaman Selenity Blast yang dipanggil oleh Tetsuya dengan dinding dan lukisan yang ada di sana pun semakin menipis saat waktu berputar dalam ruangan kedap waktu tersebut. Sang Archangel tak menurunkan penjagaannya sedikit pun, apa yang ia lakukan tadi tak lebih dari serangan gertakan untuk memancing musuhnya keluar, tak lebih dari itu sehingga Tetsuya pun harus mempersiapkan dirinya bila serangan selanjutnya akan muncul. Sebuah tembakan bola cahaya berwarna hijau yang berasal dari kepulan asap tadi muncul dan mengarah pada Tetsuya, mengetahui kalau dirinya terkena cahaya itu akan sirna maka Tetsuya pun langsung melompat ke belakang seraya menyiapkan Murasame. Ia menghunuskan pedangnya dan memotong serangan itu dalam sekali tebas, membelokkan sisanya sebelum sang Archangel mendarat dengan mulus dengan satu lututnya tertekuk di atas lantai. Kelihatannya waktu istirahat pun tak akan Tetsuya dapatkan karena secara tiba-tiba setelah bola cahaya hijau yang ditembakkan berhasil Tetsuya halau ia pun mendapatkan serangan lainnya, kali ini berupa serangan langsung saat si pemilik cambuk tadi melesat dari kepulan asap dan langsung mengarah pada sosok Tetsuya.
"Serahkan bayi itu padaku, malaikat rendahan!" Perintah seorang laki-laki yang mengenakan setelan formal lengkap dengan dasi ketat yang terikat di lehernya melesat ke arahnya, sebuah belati yang tergenggam di tangan kanannya pun langsung di arahkan pada Tetsuya seiring dengan perpindahan yang dilakukan oleh laki-laki tersebut.
Iblis, gumam Tetsuya pada dirinya sendiri setelah mengenali jenis dari makhluk yang berpakaian formal tersebut, dugaannya jarang meleset sepertinya namun bukan berarti Tetsuya merasa senang mendapatkan tamu tak diundang seperti ini. Melihat serangan akan datang padanya, dengan cepat sang Archangel berdiri dari posisinya barusan sebelum ia mengelak dari serangan tersebut dengan cara menghindarinya dan kemudian dengan cepat pula ia menghantamkan ujung tumpul Murasame yang tengah Tetsuya pegang pada kepala bagian belakang sang iblis ketika makhluk tersebut mencoba untuk menyerangnya, membuat sang iblis tersungkur setelah teriakan yang mengisyaratkan kesakitan terdengar dari mulutnya.
Melihat betapa mudahnya Tetsuya menghindari semua serangan demi serangan serta mampu menyerangnya dengan gerakan sederhana, sang Archangel mampu menyimpulkan kalau iblis ini berada dalam kelas bawah atau mungkin sang Archangel sendiri yang terlampau kuat, apapun itu Tetsuya tak tahu dan tak mau menyimpulkannya terutama dalam keadaan seperti ini.
"Sialan, jangan besar kepala karena kau bisa menghindari semua seranganku, rendahan. Akan aku dapatkan jiwa lily itu dan aku pun bisa naik level setelahnya, tak akan kubiarkan malaikat rendahan seperti dirimu menghalangi jalanku untuk mendapatkan kekuatan dan keabadian!" sang iblis terlihat frustrasi setelah waktu bergulir dan melihat betapa mudahnya Tetsuya menghindari semua serangan yang ia lancarkan.
Darah yang merembes dari pelipis sang iblis akibat hantaman yang Tetsuya berikan itu turun ke bawah sampai tulang pipi, membuat ekspresi murka dari laki-laki yang berspesies sebagai iblis tersebut terlihat sangat menyeramkan untuk ukuran seorang pengecut yang bisanya menyerang dari belakang. Bibir Tetsuya berkedut melihat pemandangan itu, mungkin pemandangan ini bisa dikatakan lebih dari menghibur dibandingkan disebut menakutkan, dirinya kembali menyalahkan Nijimura karena pengaruhnya tersebut. Meski lawannya terlihat sangat mudah untuk dihabisi, sang Archangel tidak sekalipun menurunkan penjagaannya, ia tak ingin mengambil risiko yang besar karena ia mengerti benar sebuah filosofi 'mereka yang merasakan frustrasi ingin menang akan melakukan apa saja untuk meraih tujuannya' yang sering Tetsuya baca dari sebuah novel yang ia temukan di dalam perpustakaan. Dan contoh nyata dari istilah tersebut tak lain dan tak bukan adalah iblis yang kelihatan semakin frustrasi di hadapannya tersebut.
Melihat aura yang dipancarkan dari lawannya, Tetsuya bisa menilai kalau sang iblis sudah hampir kehabisan energinya, dan sepertinya Tetsuya harus segera mengakhiri semua ini sebelum bayi yang ada dalam gendongannya tersebut menangis karena ia tak mendapatkan perhatian lebih. Entah kenapa Tetsuya menemukan pemandangan sosok seorang bayi mungil yang barusan terbangun tersebut sangat menghibur ketika sang bayi tersebut terus memperhatikan pertarungan satu sisi yang Tetsuya lakukan dengan sang iblis. Ia sama sekali tak berjengit maupun rewel layaknya bayi pada umumnya, namun sang Pangeran kecil tersebut terlihat begitu kalem dan melihat semua itu dalam diam, seolah-olah ia sangat menikmati pemandangan yang disajikan di hadapannya.
Dan Nijimura-san memanggilku aneh ketika masih kecil, kurasa aku harus memperkenalkan Nijimura-san dengan Pangeran kecil ini suatu hari ini, kata Tetsuya dalam hati.
"Kurasa sudah saatnya kita mengakhiri permainan ini, iblis-san, aku harus segera membuatkan susu formula untuk Pangeran kecil melihat dia belum makan sejak tadi pagi," kata Tetsuya dengan pelan dan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya. Ia mengayunkan pedang Murasame yang ia pegang untuk beberapa saat sebelum memfokuskan tatapannya kepada iblis yang terlihat semakin frustrasi tersebut. "Entah apa tujuanmu menginginkan bunga lily Pangeran kecil, kurasa sebagai malaikat penjaganya aku tak akan membiarkanmu untuk melakukan itu."
"Cih, kau itu hanya malaikat rendahan yang banyak omong dan juga sombong. LEBIH BAIK KAU TUTUP MULUTMU DAN SERAHKAN MAKHLUK SIALAN ITU PADAKU SEBELUM KUHABISI KAU DI TEMPAT, BEDEBAH!" Semakin sopan ucapan Tetsuya ternyata semakin marah iblis itu, sampai kalimat yang bernada hinaan serta diselingi oleh kemarahan pun terlontar dari mulutnya begitu saja, membuat sang Archangel menghela nafas lelah.
Tetsuya menggeleng kepalanya sebentar, merasa bingung apakah ia harus merasa kesal, kasihan, atau netral atas hinaan yang iblis itu berikan padanya. Namun karena Tetsuya itu adalah Kuroko Tetsuya yang tak merasakan apapun akibat hinaan maupun lontaran pedas yang orang lain berikan padanya, sang Archangel pun memilih opsi terakhir untuk diterapkan. Setelah ia membunuh sang iblis ia akan segera memanggil Hyuuga untuk membersihkan semua kekacauan yang terjadi di sini, persis seperti apa yang ia lakukan setelah menyelesaikan misi-misi sebelumnya.
Bersiap untuk menyerang, Tetsuya pun menggunakan teknik andalannya, Misdirection, sebuah teknikyang membuatnya seolah-olah menghilang di tempat itu. Sosok Tetsuya yang menghilang dalam ruangan itu sontak membuat sang iblis kesal, ia terlihat frustrasi dan berteriak layaknya orang gila yang kehilangan akal sehat. Sang iblis tahu kalau sang Archangel tengah menggunakan sebuah triknya dan akan menyerangnya secara tiba-tiba, melihat Tetsuya menghilang setelah sang malaikat mengambil dua langkah ke depan dan mengesampingkan Murasame. Karena tak ingin diserang secara tiba-tiba maupun tewas sebelum mendapatkan jiwa lily, sang iblis pun menggunakan sihirnya dan menembakkan beberapa bola cahaya berwarna hijau ke penjuru arah, membuat debaman keras dan beberapa lubang di dinding. Bahkan serangan yang sang iblis keluarkan tadi menimbulkan percikan api, membakar tempat tidur milik sang Pangeran kecil dan juga beberapa hiasan dinding yang ada di sana.
"PENGECUT! KELUARLAH DARI PERSEMBUNYIANMU DAN HADAPI AKU SECARA JANTAN!" Teriak sang iblis yang masih menyerang secara membabi buta.
Serangan yang iblis itu keluarkan tiba-tiba saja terhenti. Ia terhuyung ke depan dan kedua matanya terbuka secara melebar saat sesosok malaikat yang sangat ia kenal muncul dalam jarak kurang dari satu meter di hadapannya. Ekspresi malaikat berambut biru langit tersebut sangat netral, dengan tangan kanannya yang menggenggam pedang surga Murasame terayun ke samping sebelum pedang itu menyambut sosoknya dengan suka cita. Emosi yang sedari tadi diselimuti oleh amarah pun kini berganti dengan apa yang bernama ketakutan, dan tanpa ia duga gelap pun menyelimuti pemandangan sebelum warna merah darah menyusulnya. Tetsuya menebas leher dari sang iblis tanpa emosi, memisahkan tubuh dan kepalanya serta melihat bagaimana tubuh sang iblis yang tadi menggila kini jatuh ke belakang, membentur lantai yang kini bersimbah darah. Metal perak yang merupakan Murasame tersebut masih diselimuti oleh merahnya darah, dan tak jarang beberapa tetes dari rembetan darah yang tertinggal pada metal tersebut jatuh ke lantai layaknya hujan darah. Bukan untuk yang pertama kali dan tentu saja tidak untuk yang terakhir kali Kuroko Tetsuya membunuh seseorang karena misi, namun entah kenapa kali ini Tetsuya merasa penyesalan yang teramat sangat kala menatap tubuh tanpa kepala yang tergelepar di hadapannya, di atas sungai darah yang Tetsuya ciptakan itu. Semua itu berasal dari pikirannya sendiri karena ia telah memperlihatkan sebuah adegan yang tak pantas untuk ditonton oleh manusia di hadapan seorang bayi yang bahkan usianya belum genap tiga hari itu.
"Semoga para dewa mengampuni dosamu, iblis-san. Amin," gumam Tetsuya lirih, kedua matanya yang sedari tadi menatap sosok tak berkepala itu pun kini beranjak pada sosok bayi yang masih terlihat tenang di dalam gendongannya. "Maafkan aku karena membuatmu melihat pemandangan ini, Pangeran kecil."
Hanya kedipan kecil dari kedua kelopak mata mungil sang bayi lah yang menjadi jawaban bagi ucapan permintamaafan yang Tetsuya berikan, dan dari itulah Tetsuya mendapatkan firasat kalau sang Pangeran memafkannya meski itu terdengar begitu absurd.
"Terima kasih," kata Tetsuya lagi, bibirnya yang sedari tadi tak mengeluarkan sebuah senyum pun kini mulai mengukir sebuah senyum tipis yang hangat, dan semua itu pun kini ditunjukkan untuk sang Pangeran yang masih berada dalam gendongannya.
Sihir waktu dan ruang yang Tetsuya gunakan untuk membekukan waktu tak akan bertahan lama, itu artinya sang Archangel harus segera memanggil Hyuuga untuk membenahi semua kekacauan yang telah ia dan sang iblis lakukan. Tetsuya harap Hyuuga tidak sedang sibuk atau dalam mood yang buruk. Setelah menyimpan pedang Murasame sebagai cincinnya lagi, Tetsuya pun mengeluarkan sebuah ponsel flip berwarna biru langit dari dalam sakunya. Ia membuka ponsel tersebut dan menekan nomor milik Hyuuga sebelum meletakkannya pada telinga kanannya. Benda yang Tetsuya pegang itu mungkin kelihatan seperti ponsel flip keluaran jadul di dunia manusia, namun benda itu adalah alat komunikasi yang diberikan oleh para dewa untuk berkomunikasi antara sesama malaikat. Dan Tetsuya pun menggunakan benda itu untuk menghubungi Hyuuga, seorang malaikat yang bertugas untuk membersihkan kekacauan yang para malaikat lainnya buat.
["Kuroko, aku harap kali ini kau memanggilku dengan alasan yang baik. Bukan untuk membersihkan kekacauan yang kau buat atau sebagainya, aku lelah membersihkan tubuh para iblis yang kau tebas secara tak rasional tersebut!"] suara lantang yang terdengar dari seberang itu merupakan suara Hyuuga, dan jelas sekali kalau sang malaikat yang bersangkutan terdengar tidak terlalu bahagia karena mendapatkan panggilan dari Tetsuya.
Bayi yang ada dalam gendongan Tetsuya menatap sang malaikat penjaga dengan penuh tanda tanya, membuat Tetsuya merasa sedikit terhibur baik dengan tatapan itu maupun mendengar ungkapan yang Hyuuga lontarkan padanya. Hyuuga terlihat tidak senang, namun sebagai malaikat yang membersihkan kekacauan maka mau tak mau ia harus melakukan itu. Dalam lubuk hati yang terdalam Tetsuya merasa sedikit bersalah karena dirinya sering sekali membuat pekerjaan Hyuuga bertambah.
"Selamat siang untukmu juga, Hyuuga-san," sapa Tetsuya dengan sopan, sama sekali tidak menyinggung pertanyaan yang Hyuuga berikan padanya tersebut.
Dalam benaknya Tetsuya bisa melihat alis kiri Hyuuga berkedut secara kesal, namun suara helaan nafas yang terdengar dari seberang pun menandakan kalau sang malaikat yang bertugas untuk membersihkan kekacauan pun menyerah.
["Melihat siapa kau, kurasa aku tahu apa masalahmu dengan memanggilku, Kuroko. Katakan, apa yang harus aku bersihkan saat ini,"] singkat, padat, dan jelas adalah balasan yang Hyuuga berikan.
"Sebuah ruang bayi yang berantakan, tempat tidur bayi yang terbakar, dan juga sebuah tubuh iblis yang bersimbah darah di lantai. Aku harap semua ini tidak merepotkan Hyuuga-san," balas Tetsuya dengan kalem. Kedua kaki milik sang Archangel pun beranjak menjauh dari tempatnya berdiri tadi, ia berjalan menuju sisi ruangan yang tak hancur sehingga dirinya tak memberikan pemandangan mengerikan kepada bayi mungil itu lagi. Rasanya ia sudah menjadi pengasuh yang buruk. Ketika Tetsuya menemukan sebuah bantal duduk berwarna ungu yang tak ikut terbakar dan masih dalam keadaan bagus di sana, sang Archangel pun menggunakan benda tersebut untuk duduk.
["Sudah setiap saat kau selalu merepotkanku dengan bekas misimu yang luar biasa merepotkannya, Kuroko,"] helaan nafas pun terdengar untuk yang kedua kalinya dari seberang, membuat Tetsuya mau tak mau hampir mengulaskan sebuah senyuman penuh kesan di sana. ["Baiklah, aku akan segera datang ke tempatmu berada untuk membersihkan kekacauan yang kau buat. Entah kenapa para Archangel yang merepotkan seperti dirimu akhir-akhir ini terus memintaku untuk datang dan membersihkan sampah yang tersisa."]
Tetsuya merasa penasaran dengan ucapan terakhir yang Hyuuga utarakan padanya, namun sebelum sang Archangel berambut biru langit tersebut mampu mengutarakan pertanyaan yang berkecamuk tersebut, Hyuuga sudah terlebih dahulu menutup sambungan komunikasi di antara mereka dan meninggalkan Tetsuya bersama sang Pangeran kecil sendirian.
"Sepertinya bukan aku saja yang mengalami masalah seperti ini, Pangeran kecil," gumam sang Archangel kepada bayi bermata heterokromatik tersebut seraya menutup ponsel flip yang ia pegang. Kelihatannya mengutarakan sesuatu kepada bayi tak bernama yang masih berada dalam gendongannya tersebut menjadi sebuah kebiasaan baru yang Tetsuya peroleh kurang dari satu jam yang lalu setelah ia meniupkan jiwa ke dalam tubuh mungil ini.
Penantian Tetsuya untuk Hyuuga pun tak berlangsung lama setelah sambungan komunikasi keduanya terputus beberapa saat yang lalu. Hanya kurang dari lima menit setelah Hyuuga memutus sambungan, sebuah cahaya yang terang pun muncul di tengah ruangan sebelum dua buah gerbang besar terbentuk dan terbuka. Berbeda dengan kemunculan cambuk yang mengikat Tetsuya beberapa saat yang lalu, sang Archangel terlihat begitu tenang saat ia melihat kemunculan gerbang tersebut. Ia tahu siapa yang datang karena aura yang dipancarkan serta yang Tetsuya rasakan tersebut sangat familiar, dan benar adanya dugaan sang Archangel mengenai tamu yang berjalan dari balik gerbang yang terbuka tersebut, seorang laki-laki berbadan tegap dan tinggi dengan potongan rambut pendek berwarna hitam pun berjalan dari dalam gerbang tersebut sebelum sang gerbang menghilang secara otomatis. Paras tamu baru yang muncul di sana sangat tegas, dengan kacamata oval membingkai kedua matanya dan sepasang sayap besar berwarna putih berada di punggung laki-laki itu. Dia adalah Hyuuga Junpei, seorang malaikat yang bertugas membersihkan bekas misi dari para Archangel yang ia sebut sebagai anak-anak nakal tersebut. Dan Tetsuya sering sekali berurusan dengan Hyuuga karena statusnya yang sebagai Archangel.
"Selamat siang, Hyuuga-san," sapa Tetsuya dengan sopan seraya berdiri dari bantalan duduk yang ia gunakan di sudut ruangan.
Melihat reaksi Hyuuga yang terlonjak kaget serta ekspresinya yang penuh kejut saat mendapati sosok Tetsuya berada dalam satu ruangan dengannya itu sudah cukup untuk memberitahu sang Archangel kalau Hyuuga tak menyadari keberadaan Tetsuya sebelumnya.
"Kuroko, sejak kapan kau berada di sini!" Tanya Hyuuga yang setengah berteriak, ia terlihat kesal karena kemunculan tiba-tiba dari seorang Kuroko Tetsuya.
Dengan ekspresi yang sukar diartikan oleh Hyuuga, sang Archangel berambut biru langit tersebut beranjak dari tempatnya berdiri untuk menghampiri sosok tinggi milik Hyuuga sebelum ia berdiri tepat di hadapan sang malaikat bersayap dua tersebut. Alis kiri Hyuuga berkedut sebentar, rasanya skenario dimana ia terlonjak kaget oleh kehadiran Tetsuya yang tiba-tiba itu sudah pernah terjadi, berkali-kali lebih tepatnya. Hawa keberadaan Tetsuya yang sangat tipis itu membuat semua orang susah untuk melihatnya sampai malaikat yang bersangkutan mengatakan kalau ia berada di sana, cukup untuk membuat semuanya terkejut. Andaikata malaikat mampu memiliki penyakit jantung layaknya manusia maka bisa dipastikan korban yang ditimbulkan oleh hawa keberadaan tipis yang Tetsuya miliki tersebut akan terus bertambah. Bukan salah Tetsuya kalau orang-orang tak bisa menyadari keberadaannya yang hampir tak nyata itu, ia sudah dilahirkan ke dunia dengan keadaan seperti ini. Meski terkadang mengesalkan, namun Tetsuya sudah menerima kondisinya itu sejak lama, bahkan tak jarang sang Archangel merasa terhibur dengan reaksi yang orang-orang perlihatkan ketika mereka mengetahui ia berada dalam ruangan yang sama dengan mereka, sama seperti sekarang ini.
Dan jangan lupakan kalau keberadaanku yang hampir tak nyata ini sangat membantu untuk menyelesaikan misi yang Nijimura-san berikan, imbuh Tetsuya dalam hati.
"Aku sudah berada di sini sejak tadi, Hyuuga-san," jawab Tetsuya dengan kalem serta ekspresinya yang begitu datar, dalam hati ia sangat menikmati ini semua meski ia tak memperlihatkan apa yang ia pikirkan tersebut. "Hyuuga-san, lama tak bertemu."
Tetsuya bisa melihat kalau malaikat yang berusia lebih tua darinya tersebut terlihat akan marah karena keterkejutannya itu sebelum helaan nafas pelan pun keluar dari sosoknya, sepertinya Hyuuga memilih untuk menahan amarahnya ketika ia tengah melakukan pekerjaannya sebagai seorang malaikat.
"Sepertinya kau harus membuat keberadaanmu itu jauh lebih nyata sehingga aku tak akan terkena penyakit jantung karena candaanmu yang tak lucu itu," gerutu Hyuuga sebelum sang malaikat menaikkan kacamata yang ia kenakan. Ia pun mengamati ruangan yang mereka tempati saat ini untuk beberapa saat lamanya, dan tanpa perlu Tetsuya ucapkan apa yang terjadi sekarang ini rasanya Hyuuga sudah mampu menebaknya dengan jitu. "Kelihatannya kau juga mendapatkan masalah yang sama dengan yang lainnya huh? Sepertinya para iblis mulai bersikap agresif saat kalian selesai meniupkan jiwa lily ke dalam wadahnya."
Tetsuya yang baru saja akan mengucapkan kalau ia terlahir dalam keadaan seperti ini (hawa keberadaan yang hampir tak nyata) serta dirinya tak memiliki rasa humor pun langsung menutup mulutnya kala Hyuuga mengucapkan kalimatnya yang terakhir, secara langsung memberitahunya kalau Tetsuya bukan satu-satunya Archangel yang mengalami hal seperti ini.
"Aku bukan satu-satunya, Hyuuga-san?" Tanya Tetsuya, ia penasaran dengan apa yang Hyuuga ucapkan tadi. Dan kelihatannya ia bisa mendapatkan jawaban yang pasti mengenai berita yang baru saja ia dengar tersebut.
Malaikat berkacamata tersebut menganggukkan kepalanya. "Benar, Kuroko, kau bukan satu-satunya yang mengalami masalah seperti ini. Hampir semua Archangelyang menjadi kandidat dewa mendapatkan masalah yang sama setelah mereka meniupkan lily ke dalam tubuh wadah jiwa yang mereka pilih kali ini, para iblis langsung menyerang mereka dan mencoba untuk mencuri lily dari wadah yang ada," di sini Hyuuga menoleh ke samping untuk mendapati pemandangan berdarah dari korban terakhir yang Tetsuya habisi sebelum lagi-lagi menghembuskan nafas pelan. "Namun setidaknya kau cukup cerdas untuk menggunakan sihir ruang dan waktu sehingga waktu manusia benar-benar beku, tidak seperti Takao yang dengan kurang ajarnya lupa untuk menggunakan sihir tersebut. Masalah yang Archangel nakal itu berikan padaku sungguh sangat besar, namun untungnya baik aku dan si mata rubah itu mampu menyelesaikannya dengan baik."
Tetsuya tak mengucapkan apapun sebagai balasan, ia memilih untuk menimang sang bayi yang berada dalam gendongannya seraya memikirkan berita yang Hyuuga bawa dengannya. Sepertinya ia memang bukan satu-satunya Archangel yang mengalami masalah ini, dimana para iblis langsung menyerang setelah malaikat penjaga yang juga merupakan kandidat dewa tersebut selesai meniupkan jiwa ke dalam tubuh wadahnya. Makanan utama para iblis adalah jiwa manusia, dan jiwa yang terbuat dari lily adalah makanan level tinggi mereka yang mampu memberikan kekuatan tak terbatas. Meski mereka sering sekali mengincar manusia yang memiliki jiwa lily, namun mencoba untuk memakan jiwa lily setelah kurang dari satu menit jiwa tersebut masuk ke dalam tubuh manusia adalah hal yang sangat jarang terjadi, terlebih malaikat penjaga yang terpilih kali ini adalah para Archangel sebagai kandidat dewa. Apa yang terjadi di sini sepertinya bukan kebetulan belaka, terlebih bila kejadian yang Tetsuya alami ini juga menimpa kandidat dewa lainnya. Ia harap Momoi dan yang lainnya mampu menjaga diri mereka, namun secepat pikiran itu muncul maka cepat pula mereka berlalu. Momoi dan yang lainnya adalah Archangel seperti Tetsuya, bahkan mereka lebih lama menjadi Archangel ketimbang Tetsuya sendiri, sehingga rasanya tak akan ada gunanya merasa cemas melihat mereka jauh lebih kuat dari Tetsuya.
"Entah apa yang membuat semua ini berbeda, kurasa kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang ini, Kuroko. Aku mencium ada hal yang jauh lebih besar dibalik semua kejadian ini," kata Hyuuga lagi.
Bahkan Hyuuga sendiri menyadari ada sesuatu yang ganjil, dan ini cukup membuat Tetsuya merasa cemas. Sang Archangel berambut biru langit tersebut menundukkan kepalanya untuk melihat ekspresi lugu yang bayi dalam gendongannya itu berikan padanya, dan tanpa ia sadari Tetsuya pun mulai menyunggingkan sebuah senyum kecil di bibirnya. Bayi ini adalah manusia yang sangat lugu, begitu murni baik dari luar dan dalam, dengan begini Tetsuya tak boleh menurunkan penjagaannya sehingga ia tak akan mendapati iblis memangsa anak dalam asuhannya. Mungkin Tetsuya tak memiliki keinginan untuk menjadi dewa ketika ia mengikuti kompetisi yang menurutnya sangat bodoh ini, namun bukan berarti ia akan menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang membuatnya mampu berinteraksi dengan anak-anak. Dan menjadi seorang malaikat penjaga itu artinya ia telah bersumpah untuk melindungi jiwa murni yang berada dalam asuhannya, ia tak akan membiarkan marabahaya merenggut jiwa tersebut sampai manusia dalam asuhannya beranjak dewasa.
Sang Archangel itu pun memberikan anggukan kecil setelah dirinya mendapatkan peringatan dari Hyuuga, mulai sekarang ia tak boleh menurunkan penjagaannya.
"Iya, Hyuuga-san. Aku ucapkan terima kasih atas peringatan yang kau berikan padaku," kata Tetsuya. Ucapan yang ia lontarkan memang terlihat begitu datar seperti biasa, namun untuk Hyuuga yang sudah lama bekerja sama dengan sang Archangel ia langsung menangkap nada keseriusan yang tersemat di dalamnya.
Upacara pemakaman untuk mendiang Ratu Imperial Teiko, Akashi Shiori, adalah sebuah event yang sangat mengharukan dengan kesedihan dan tangisan melanda istana. Mendiang Ratu Teiko adalah seorang pribadi yang sangat baik dan lembut, ia mampu menyeimbangkan pribadi Masaomi yang terbilang keras sehingga keduanya pun mampu disebut-sebut sebagai pasangan emas yang tak ada bandingannya. Sehingga semua orang tak akan heran betapa terpukulnya sang Kaisar ketika ia mendapati isterinya yang tercinta dan yang selalu berada di sampingnya tersebut meninggalkannya dalam usia yang masih sangat muda. Soulmate, itulah yang sering orang-orang lontarkan ketika mereka melihat pasangan kerajaan tersebut. Bila yang satu pergi, maka yang lainnya akan hidup dalam kekosongan sampai ajal menjemputnya suatu saat nanti dengan harapan ia bisa berkumpul dengan orang yang ia sebut sebagai soulmate tersebut.
Mereka yang terlahir di dunia ini maka suatu saat harus kembali ke asalnya, meninggalkan orang-orang yang menyayangi mereka bergelimpang dalam kesedihan. Semua itu adalah misteri kehidupan yang tak mampu Tetsuya mengerti, tambahan serta kehilangan adalah hal umum yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia sejak bertahun-tahun lamanya.
"Bahkan langit pun ikut berkabung atas meninggalnya sang Permaisuri," gumam Tetsuya dengan pelan seraya menatap langit kelabu yang menitikkan hujan gerimis dari sana, membuat bumi menjadi basah akibat rintikan air yang berasal dari awan mendung tersebut. Rasanya seolah-olah langit ikut menangis atas kepergian sang Permaisuri.
Yukata hitam yang membalut tubuh sang Archangel tersebut menandakan kepada dunia kalau dirinya ikut berkabung atas kepergian Akashi Shiori, ibu dari Pangeran Mahkota yang bernama Akashi Seijuurou ini. Meski Tetsuya tak pernah bertemu langsung dengan mendiang Akashi Shiori maupun berbicara langsung dengannya, wanita itu adalah orang yang telah melahirkan anak asuhnya ke dunia ini, sehingga hal yang bisa ia lakukan untuk Akashi Shiori adalah ikut berkabung bersama orang-orang yang mencintainya sebagai bentuk penghormatan atas jasa yang wanita itu berikan. Kedua mata yang berwarna layaknya langit cerah di musim panas tersebut beranjak dari sosok langit kelabu yang ada di atas sana ke arah bayi mungil yang terlelap dalam pangkuannya itu, tak jarang ia pun membelai helai tipis pada kepala sang bayi dengan lembut.
"Namanya adalah Akashi Seijuurou, meski aku tak tahu apa yang harus aku perbuat untuk anak ini karena setiap kali aku melihatnya pasti mengingatkanku pada Shiori, aku akan tetap mengangkatnya sebagai Pangeran Mahkota. Untuk melengkapi perjanjian yang telah kita buat, aku akan menyerahkan anak ini ke dalam asuhanmu, Kuroko-san."
Tetsuya mengingat persis apa yang Masaomi ucapkan padanya ketika sang Archangel memberikan berita baik kalau bayi kecilnya itu sudah mampu membuka kedua matanya, sebuah keajaiban yang terjadi semenjak kematian mendiang permaisuri dalam proses persalinan tersebut. Ekspresi yang Masaomi miliki, Tetsuya tak mampu membacanya dengan jelas waktu itu. Semuanya terasa campur aduk antara sedih, marah, penyesalan, kegembiraan, serta kebencian di wajah Masaomi, namun Tetsuya masih bersyukur karena sang Kaisar masih memberi bayi Akashi Seijuurou sebuah kesempatan untuk menjadi pewaris meski pada akhirnya sang Pangeran harus hidup terisolasi sampai ia siap untuk menjadi Kaisar Teiko di masa depan. Kelihatannya masih ada harapan untuk Masaomi, sebenci-bencinya ia pada Seijuurou karena kelahiran bayi itu menjadi penyebab kematian Akashi Shiori, sang Kaisar masih memiliki belas kasih untuk tidak membunuh Seijuurou pada waktu itu dan memberinya kesempatan untuk hidup. Hati Masaomi mulai melunak sedikit saat bayi mungil yang mendiang isterinya lahirkan itu akhirnya mampu membuka kedua matanya dan bertingkah layaknya bayi pada umumnya.
Menjadi seorang Pangeran Imperial adalah hal yang tidak mudah, terlebih dengan kemarahan sang Kaisar yang masih berada di sana. Meski demikian Tetsuya telah bersumpah untuk membantu pangeran kecil ini, Akashi Seijuurou adalah tanggung jawabnya dan sampai ia menjadi dewasa maka Kuroko Tetsuya akan terus berada di sampingnya untuk melindunginya. Itulah esensi menjadi seorang malaikat penjaga. Mereka menjaga jiwa yang mereka bawa ke bumi dan mengasuhnya layaknya orangtua kedua setelah orangtua pertama, namun mengingat kasus yang Tetsuya miliki saat ini rasanya ia akan menjadi orangtua pertama bagi seorang Akashi Seijuurou ketimbang menjadi orangtua kedua baginya.
"Entah apa yang membuat semua ini berbeda, kurasa kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang ini, Kuroko. Aku mencium ada hal yang jauh lebih besar dibalik semua kejadian ini."
Peringatan yang Hyuuga bawa untuknya kemarin itu membuat ekspresi Tetsuya mengeras. Penyerangan yang dilakukan oleh iblis kemarin itu bukanlah satu-satunya yang terjadi di sini, menurut berita yang Hyuuga bawa hal ini juga terjadi pada semua Archangel yang terpilih sebagai kandidat dewa ketika mereka berhasil meniupkan jiwa lily ke dalam tubuh seorang bayi. Tetsuya tak perlu menjadi seorang yang jenius untuk merasakan sebuah ketegangan yang ada di udara, sebuah hal yang begitu tipis dan hampir tak bisa dirasakan, namun di satu sisi ketegangan ini mampu memicu perkobaran api perang antara bangsa iblis dan malaikat yang tak pernah padam sejak penciptaan pertama kali terjadi. Apapun plot yang tersaji di sana, Tetsuya tidak akan menurunkan penjagaannya. Tak hanya ia berperan sebagai Archangel yang membawa tugas dari dewa untuk mengeliminasi para iblis dan malaikat pengkhianat, ia juga ditunjuk sebagai seorang malaikat penjaga untuk bayi mungil bernama Akashi Seijuurou. Dalam pengasuhannya, Tetsuya akan berperan aktif untuk menjaga keselamatan anak asuhnya.
Sebuah ketukan pelan yang berasal dari luar membuyarkan lamunan sang Archangel, membuatnya menoleh singkat ke belakang bertepatan dengan sebuah suara dari seorang pelayan perempuan berseru padanya.
"Kuroko-san, ini sudah saatnya," ujar sang pelayan sebelum ia pergi menjauh dari sana, kembali meninggalkan Tetsuya bersama bayi Akashi Seijuurou dalam ketenangan.
Meski Tetsuya tahu sang pelayan tak mampu melihatnya, namun ia tetap memberikan anggukan singkat sebelum dirinya berdiri dari tempat duduknya di atas bantalan duduk pada tatami ruangan tempatnya berada. Dengan hati-hati ia pun menggendong sosok Pangeran Mahkota Teiko dalam pelukannya sebelum keduanya meninggalkan ruangan itu.
AN: terima kasih bagi kalian yang sudah mau mampir dan membaca serial ini, begitu juga dengan kalian yang sudah mamfollow, memfavoritkan, serta memberikan review.
Author: Sky
