Langit senja berwarna jingga menjadi latar yang indah pertemuan para sahabat lama Shogun Tokugawa Ieyasu. Hampir setengah tahun dia dilantik sebagai shogun, dia sedikit merindukan teman-temannya yang dulu pernah berjuang bersama di medan perang. Di teras balkon istana, dia tengah duduk bersama dengan Maeda Keiji dan Chosokabe Motochika. 3 cangkir teh disajikan bersama camilan manis khas Edo.
"Sudah setengah tahun kepemimpinanmu, Jepang mengalami perubahan dan kemajuan yang sangat pesat. Aku tidak henti-hentinya ingin berterima kasih kepadamu, Ieyasu. Sebagai teman, aku bangga atas pencapaianmu," kata Keiji.
"Bagaimana keadaan wilayah Kaga dan sekitarnya? Bagaimana pula kabar kakakmu dan istrinya?" tanya Ieyasu.
"Berkat kebijakanmu menghentikan peperangan antar daimyo, hidup mereka menjadi lebih damai sekarang. Anak-anak mereka sudah besar, bahkan salah satunya akan meneruskan klan Maeda di Kaga."
"Kabar yang sangat bagus, Keiji. Salamku untuk mereka sekeluarga. Kapan nanti ada waktu, aku sempatkan berkunjung ke sana."
"Kau sangat murah hati, Ieyasu. Aku tahu sedari dulu kau membawa misi perdamaian untuk negeri ini. Memang tidak mudah menjadi orang baik. Ada saja halangannya."
"Tanpa bantuan kalian, aku tidak bisa menjadi yang seperti sekarang. Ah, bagaimana denganmu, Motochika? Aku harap pajak perairan yang kuberlakukan sudah bisa memperbaiki kondisi wilayahmu di Shikoku."
Bajak Laut dari Barat itu tertawa dan menjawab, "Kau harus tahu hal yang sangat penting, Ieyasu. Perekonomian Jepang paling banyak bersumber dari laut. Pajak perairan yang kau berlakukan menunjang kehidupan para nelayan. Kapal-kapal mereka diperbaharui, peralatan mereka pun juga lebih modern sekarang. Makanya aku tidak segan-segan membawa banyak hasil laut ke istanamu."
"Aku sangat berterima kasih padamu, Saikai no Oni. Berapa lama sudah kau berada di daratan? Kau tidak ingin buru-buru kembali ke lautan kan?"
"Aku malah ingin berlama-lama di daratan, Ieyasu. Wilayahmu ini termasuk salah satu yang ingin aku kunjungi. Musim semi memang enak dinikmati di daratan. Sayang rasanya jika harus buru-buru kembali ke lautan."
"Ke mana kau akan pergi setelah ini, Motochika?"
"Hmm…coba kupikirkan. Mungkin setelah ini aku akan ke Oshuu. Jujur kukatakan, aku rindu dengan Naga Bermata Satu itu. Beberapa kali aku menjanjikan pesta yang menarik di lautan."
"Hanya mengajak Dokuganryu? Kau tidak asyik, Motochika! Aku juga mau ikut!" protes Keiji.
"Tentu saja aku akan mengundangmu, Keiji!" balas Motochika terkekeh. "Aku pun ingin mengajakmu berlayar sekali lagi, Shogun-san. Barang kali masih tersisa dalam jiwamu semangat untuk bertarung denganku."
Ieyasu tertawa dan berkata, "Boleh juga. Setengah tahun aku menjabat sebagai Shogun, aku jarang terlibat dalam pertempuran seperti dulu. Oh, aku tahu! Motochika, singgahlah ke Kai dan temui Sanada Yukimura."
"Ah, kau benar. Si Anak Harimau dari Kai itu sekarang sudah dewasa. Melihat dia bertarung dengan 2 tombak apinya seperti memancingku untuk menantangnya. Selesai kunjunganku ke Oshuu, aku akan mampir ke Kai. Kusampaikan pesanmu padanya nanti, Ieyasu."
Pertemuan sore itu berakhir ketika matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Ieyasu tadinya hendak mengajak 2 sahabatnya ini makan malam bersamanya. Namun Keiji sudah ada janji dengan keluarga kakaknya untuk pulang sore ke Kaga. Motochika juga akan melanjutkan perjalanan ke wilayah Timur Jepang. Jarak dari Edo ke Oshuu cukup jauh, dia memilih melakukan perjalanan malam hari supaya bisa melihat pemandangan matahari terbit dari Oshuu.
"Ieyasu, aku ingin bertanya padamu sesuatu," kata Motochika ketika dia sedang bersiap keluar dari pintu istana. "Orang itu, bagaimana kabarnya?"
"Hm? Siapa yang kau maksud?" tanya Ieyasu tidak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Perang Sekigahara adalah bentuk keseriusan dari konflik kecil kalian. Isu yang kudengar, dia masih hidup. Karena yang kutahu, kau sudah melenyapkan klan Toyotomi dan pengikutnya. Juga sisa-sisa pasukan yang pernah tergabung di kubu barat. Untung saja saat itu aku memutuskan untuk memisahkan diri darinya sebelum peperangan di mulai, jadi aku selamat dari hukumanmu. Hahaha…"
Ieyasu mendengus tertawa mendengar kata-kata Motochika barusan. Dia menepuk bahu kekar pria berambut perak itu dan berkata, "Aku tahu kau tidak dendam padaku, Motochika. Aku hanya menyingkirkan orang-orang yang menghiasi hidupnya dengan dendam dan kebencian. Aku tidak butuh orang-orang macam itu di pemerintahanku, di angkatan perangku, di istanaku, dan di sektor perekonomian negeri ini."
"Jadi, bagaimana dengan dia, Ieyasu? Benarkah dia masih hidup?"
"Ya, dia masih hidup. Aku mengurungnya di penjara bawah tanah istanaku."
"Untuk apa kau membiarkannya hidup jika tetap mengurungnya seperti itu? Mengapa pula kau menyembunyikannya dari khalayak ramai?"
"Bisa dibilang ini adalah alasan pribadiku. Aku ingin memberinya pelajaran, Motochika."
"Berilah dia pelajaran dengan perbuatan. Tidak dengan mengurungnya terus menerus. Dia bisa mati bosan nanti."
"Biarkan saja dia mati seperti itu. Aku tidak berniat memberikan penghormatan apa pun jika nanti dia mati."
Motochika tertawa dan berkata, "Kau bicara begitu seperti bukan Tokugawa Ieyasu yang kukenal. Apa kau sengaja mendinginkan hatimu jika sudah menyangkut soal dia?"
"Benarkah? Hahaha…aku sudah tidak lagi punya hati untuknya. Karena semasa hidup, dia tidak memberikan hatinya padaku…"
-000-
Suara langkah kaki yang menggema di penjara bawah tanah itu membangunkan Ishida Mitsunari dari tidurnya. Tubuhnya tidak lagi kuat menarik rantai yang membelenggu tangan, kaki, dan lehernya. Langkah kaki yang didengarnya itu berhenti di depan pintu ruangannya. Dia sudah tidak mengenakan penutup mata. Cahaya obor yang remang membantunya melihat sosok Tokugawa Ieyasu masuk dan menghampirinya.
"Sipir penjaraku bilang kau hanya menghabiskan jatah makan 1 kali. Padahal aku sudah menyuruh pekerja dapurku mengirimmu jatah makan 4 kali. Kau tidak sayang pada tubuhmu yang semakin kurus, Mitsunari?" kata Ieyasu.
"Peduli apa kau dengan keadaanku, Ieyasu? Biarkan aku sendiri, pergilah dan uruslah negeri ini sesukamu," balas Mitsunari tanpa melihat padanya.
"Tentu saja aku peduli padamu. Bagaimana aku memberimu pelajaran jika kau mati sekarang? Aku ingin kau mati membawa bekal yang cukup untuk dibawa ke akhirat. Paling tidak, aku bisa memberikan sebuah pembelajaran berharga atas segala perbuatan jahatmu di muka bumi."
"Kau bicara begitu seakan kau bukanlah orang jahat!"
"Namun kau perlu tahu, Mitsunari. Aku telah membuang sisi jahatku jauh-jauh sejak aku memutuskan untuk menarik diri dari barisan Toyotomi. Kusisakan sifat jahatku sedikit untuk membalas perlakuanmu terhadapku."
Mitsunari menggeram marah dan bergerak maju. Rantai panjang dan berat itu menahan tubuh ringkihnya untuk menyerang Ieyasu. Shogun bermata cokelat itu melanjutkan, "Aku punya hadiah untukmu, Mitsunari. Bulan lalu aku pergi ke Osaka untuk mengosongkan istananya. Tak kusangka aku menemukan ini."
Ieyasu membawa kantung berbahan goni dan mengeluarkan 2 benda dari dalamnya. Benda yang pertama adalah sarung tangan besi milik Toyotomi Hideyoshi. Benda yang kedua adalah pedang milik Takenaka Hanbei. Melihat 2 benda itu dijatuhkan tepat di depan mata, Mitsunari mendadak histeris dan menjerit sejadi-jadinya. Tidak peduli rasa sakit di sekujur tubuhnya, tidak peduli kuatnya rantai yang membelenggunya, dia berusaha menggapai 2 benda kenangan itu dengan tangannya. Suara raungannya memekakkan telinga. Ieyasu bahkan sedikit terlonjak mendengar tiba-tiba Mitsunari berteriak seperti itu.
"Hideyoshi-sama….! Hanbei-sama…! Huaaaa…!" tangan kecilnya berhasil menggapai sarung tangan besi milik Hideyoshi. Sarung tangan itu dipeluknya erat sambil terus meraung dalam tangisnya. Setiap tetes air matanya terselingi permintaan maaf dan penyesalan. Mendadak dia kembali teringat dengan kejayaan Toyotomi, di mana dia menjadi orang yang sangat dipercaya oleh Hideyoshi. Tangan besar pemimpin klan Toyotomi itu pernah menepuk pundaknya, meletakkan sejumlah amanah untuk dia pikul sampai mati. Kemudian pedang milik Takenaka Hanbei diraihnya dan dicium beberapa kali. Dengan pedang ini, ahli strategi perang Toyotomi itu memberikan perintah dan arahan. Mitsunari tidak pernah kehilangan petunjuk selama menjabat sebagai pemimpin pasukan.
"Aku tidak mengerti…" gumam Ieyasu sambil melihat pemandangan menyedihkan di depan matanya. Dengan kasar, dia menarik pedang Hanbei yang dipegang oleh Mitsunari. Satu tangan lainnya kemudian menarik rantai yang mengikat leher Mitsunari. Dia menyeret paksa tubuh Mitsunari dan dibenturkan ke dinding penjara. Kedua tangannya yang diborgol dan diangkat ke atas kepalanya. Tanpa basa-basi, pedang Hanbei itu ditancapkan ke dua telapak tangannya hingga tembus ke dinding. Rasa sakit itu menguasainya dari kepala hingga ujung kaki. Dia meronta dan merintih kesakitan. Tangannya yang ditusuk di dinding tidak lagi bisa digerakkan. Darah segar mengalir melewati pergelangan tangan sampai menetes ke kepala dan wajahnya.
"Aku sungguh tidak mengerti…" ucap Ieyasu sekali lagi sambil berjongkok di depan Mitsunari. Dia mencengkeram dagu lancip laki-laki itu dan memaksanya melihat padanya. Dia melanjutkan, "Kau bisa menangis juga rupanya, Mitsunari. Kau manis sekali jika sedang mengisak seperti ini. Bahkan mengalahkan manisnya seorang wanita yang sedang tersenyum. Ah, aku jadi terhibur! Coba menangis lagi yang kencang!"
Ieyasu menekan semakin dalam pedang Hanbei di telapak tangan Mitsunari. Rasa sakit itu sudah tidak lagi bisa ditahan, Mitsunari hanya bisa menjerit. Dia berusaha menendang Ieyasu jauh dengan kakinya, namun pemberat borgol kakinya menyulitkan pergerakkannya.
Suara teriakan Mitsunari seperti membangkitkan hasrat di dalam diri Ieyasu. Hasrat ingin terus menyiksanya, membuatnya menderita, mengosongkan jiwanya sampai ke relung tulangnya. Keinginannya untuk mempermalukan Mitsunari begitu kuat, hingga tidak lagi bisa merasa peka. Tidak berhenti sampai di situ, dia membuka paksa yukata lusuh Mitsunari. Seketika tubuhnya telanjangnya dilihat, Mitsunari merasa darahnya naik semua ke wajahnya. Dia membuang muka karena malu dan marah.
"Sialan! Kau jahat, Ieyasu! Penjahat macam kau tidak layak—"
BUAGH!
Pukulan keras mengenai wajah Mitsunari. Ieyasu memukulnya tidak dengan tinjunya, melainkan dengan sarung tangan besi Hideyoshi. Dia berkata, "Siapa yang menyuruhmu bicara, hm? Aku tidak memberikan perintah apa pun padam kecuali membuatku terhibur."
"Tidak ada yang boleh memberiku perintah kecuali Hideyoshi-sama dan Hanbei-sama!" protes Mitsunari. Dia menatap galak Ieyasu dengan mata hijau kekuningannya.
"Mereka sudah mati, Mitsunari! Kau itu sudah tidak punya tuan! Yang sekarang berkuasa adalah aku, maka kau akan mendengarkan perintahku!"
BUAGH!
Sekali lagi Ieyasu memukul Mitsunari, kali ini diarahkan pada perutnya. Mitsunari terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya yang kering. Ieyasu mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kepada Mitsunari. Dia juga mendekatkan sarung tangan Hideyoshi kepadanya dan berkata, "Buat aku terhibur, Mitsunari. Shogun butuh hiburan supaya tidak bosan memerintah negeri ini. Kau satu-satunya hiburanku."
Bagian jari telunjuk sarung tangan besi itu diludahi 2 kali. Dengan kasar, dia mendorong masuk bagian itu ke mulut Mitsunari hingga laki-laki itu tersedak. "Jilat! Gunakan air liurmu untuk membasahinya!" perintah Ieyasu. "Bagaimana rasanya, hm? Menjilat bekas sarung tangan tuanmu yang sangat kau cintai itu. Kau tidak pernah membayangkan Hideyoshi-kou melakukan ini padamu kan?"
Ieyasu mendorong bagian jari sarung tangan itu terlalu dalam, Mitsunari tidak bisa melawan. Dia tersedak beberapa kali sampai memuntahkan cairan bening dan darah dari mulutnya. Ieyasu menarik sarung tangan besi itu keluar. Sejenak dia memperhatikan wajah Mitsunari yang memerah, sedikit pucat karena menahan sakit dan lelah. Dia lalu bergerak turun sampai ke pinggangnya. Masih memegang sarung tangan itu, dia menggunakan satu tangannya yang terbebas untuk membuka fundoshi Mitsunari.
"Ieyasu! Ieyasu, apa yang—"
Tidak sempat memprotes, Ieyasu keburu membuka paksa kedua kakinya sampai memperlihatkan 'milik' dan 'bagian belakang'nya. Dia tidak bisa melawan, rasa sakit di tangannya yang ditusuk di dinding semakin melemahkannya.
Ini sudah kelewatan, demikian katanya dalam hati…
Pemberat di kakinya menguntungkan Ieyasu. Shogun itu menyeringai melihat sebuah pemandangan indah di depan matanya. Tubuh Mitsunari kini terbuka untuknya. Sarung tangan yang sudah dibasahi dengan air liur Mitsunari kini diposisikan di depan 'bagian belakang'nya. Dia mendorong pelan, menekan-nekan ke lingkar dindingnya yang berdenyut. Antara ingin membiarkan benda besi itu masuk atau menolaknya.
"Ja—jauhkan dariku, Ieyasu! Kau mau apa?!" protes Mitsunari. Dia berusaha bergerak menjauh dari Ieyasu.
"Bukankah kau ingin segala hal yang berhubungan dengan Hideyoshi-kou itu tertanam baik-baik dalam dirimu? Aku sedang membantumu melakukannya. Coba tenangkan dirimu supaya ini bisa masuk."
"Tidak seperti ini! Hentikan, Ieyasu!"
"Jangan melawan, Mitsunari!"
"Hentikan—ah! Aah!"
Sedikit demi sedikit, ujung jari sarung tangan besi itu mulai masuk. Karena Mitsunari tidak bisa tenang, dia merasakan sakit luar biasa. Merasa sudah masuk sebagian, Ieyasu mendorongnya dengan paksa sampai menyentuh bagian terdalam Mitsunari. Laki-laki berambut perak itu terlonjak kaget, nafasnya tertahan dan dibuang tersengal. Kedua matanya terbuka lebar.
"Ie—yasu...!" sengalnya lirih.
"Aku memasukkannya cukup dalam. Bagaimana rasanya, Mitsunari?" tanya Ieyasu.
"Hnngh! Sakit…! Sakit, Ieyasu!"
"Bukankah aku menyuruhmu untuk membasahinya dengan baik? Kupikir karena sudah cukup basah, jadi aku bisa memasukkannya dengan mudah."
"Keluarkan! Keluarkan dariku, Ieyasu! Sakit!"
"Mengapa aku harus mengeluarkannya? Harusnya kau senang kan?"
Tidak ingin menunggu sampai Mitsunari tenang, Ieyasu menggerakkan sarung tangan itu maju dan mundur berkali-kali. Mitsunari berusaha merapatkan kedua kakinya, sekali lagi pemberat di borgolnya menyulitkan pergerakkannya. Dia semakin gelisah, teriakan dan rintihannya diselingi desahan. 'Milik'nya mulai berdenyut menegang, terlihat mencoba tegak berdiri. Cairan bening keluar dari sana sedikit demi sedikit.
"Sakit…sakit! Ieyasu! Kau iblis—ah!" desahan dan rintihan itu memenuhi kepala Ieyasu, dia semakin bersemangat dan terhibur.
"Benar, seperti itu, Mitsunari," katanya. "Jangan tahan suaramu. Biarkan rintihanmu menggema di dinding penjara yang gelap ini."
Mitsunari hanya bisa mendesah dan merintih. Ibu jari Ieyasu mengganjal di antara bibir tipisnya yang pucat. Ieyasu pun tampaknya tidak keberatan jika Mitsunari menggigit ibu jarinya. Dia tidak akan kesakitan, karena rasa sakitnya tidak melebihi apa yang dirasa oleh Mitsunari. Isak tangisnya terselip di sela desah dan rintihannya.
"Bagaimana rasanya, Mitsunari? Apakah kau menikmatinya? Coba bayangkan jika ini benar-benar tangan Hideyoshi-kou. Kira-kira apa yang akan dikatakannya padamu? Bagaimana tanggapannya melihatmu seperti ini?"
"Uuurgh…hnnngh…! Sial…!" desah Mitsunari sambil menggerutu.
"Aku senang melihatmu tak berdaya seperti ini. Jauh berbeda dengan yang kulihat saat di medan perang. Apa yang membuatmu begitu kuat saat bertarung, Mitsunari? Besar tubuhmu bahkan tidak melebihiku. Katakan padaku, apa yang membuatmu begitu kuat?"
Tak ada jawaban yang jelas keluar dari mulut Mitsunari. Ieyasu melanjutkan, "Aku tahu! Karena kau punya rasa dendam dan benci padaku, itulah yang membuatmu kuat. Iya kan? Luar biasa! Jika aku membencimu, jika aku mendendam padamu, apa mungkin aku bisa jauh lebih kuat darimu?"
"Ah! Aargh! Ieyasu! Sakit! Lepaskan!"
"Menangislah, Mitsunari. Menangislah sampai kau tidak bisa lagi menangis, kuraslah air matamu sampai kering tak bersisa. Buat aku terhibur, buat Hideyoshi-kou dan Hanbei-donno terhibur."
"Oh tidak! Ieyasu! Pedangnya! Pedangnya mau lepas!"
Benar saja, pedang yang ditancap di telapak tangan Mitsunari tiba-tiba mengendur. Bilah besi itu bergoyang dan siap jatuh, namun Ieyasu seperti tidak mempedulikannya. Sorot mata Mitsunari menatapnya seperti memohon. "Berhenti, Ieyasu. Pedangnya mau lepas…!" katanya memelas.
Ieyasu berhenti bergerak. Dia menatap balik Mitsunari yang masih memohon padanya. Air matanya menggenang dan menetes dari mata hijau kekuningannya. Hidungnya berair, mulutnya kering karena terlalu banyak mendesah dan merintih. Dia lalu melihat ke pedang yang ditancap ke telapak tangan Mitsunari, lalu berpindah ke 'milik' Mitsunari yang berdenyut menegang. "Hmph…" dengusnya kemudian menarik lepas sarung tangan besi itu dari Mitsunari.
Shogun berbadan tegap itu berdiri dan menatap rendah kepada laki-laki yang terkapar di bawah sana. Dia mengangkat sarung tangan itu dan ditunjukkan kepadanya. "Ieyasu…" ucap Mitsunari lemah. "Berikan padaku, berikan sarung tangan itu padaku…"
PRAK!
Dengan satu genggaman kuat, sarung tangan besi itu hancur di tangan Ieyasu. Retakannya dibuang ke tanah. Sebelum Mitsunari protes lagi, Ieyasu kemudian menarik lepas pedang dari telapak tangannya. Pedang itu dipatahkan di pahanya dan dibuang jauh. Mitsunari kembali mengisak, hatinya hancur sebagaimana sarung tangan dan pedang yang dihancurkan Ieyasu. Tanpa berbicara apa pun, Shogun itu tiba-tiba menginjak pelan 'milik'nya yang menegang.
"Ah! Aah! Sakit, Ieyasu! Sakit!" pekiknya. Dia kembali menjerit ketika kaki Ieyasu menekan-nekan 'milik'nya. Rasa sakit itu menguasai tubuhnya. Suara desah dan rintihannya tidak bisa ditahan. Tak lama kemudian cairan putih kental keluar dari sana, terlontar sampai ke dada dan wajahnya. Nafasnya berat dan tersengal, wajahnya merona dan tidak bisa disembunyikan. Kedua tangannya sakit tidak bisa digunakan untuk menopang tubuhnya yang lemah.
"Bunuh…" ucap Mitsunari lirih. "Bunuh aku, Ieyasu," kemudian dia mencoba merangkak mendekati kaki Shogun itu. Dengan kekuatan seadanya, melawan sakit yang merajainya, dia bergerak naik dan mencengkeram pelindung besi di paha Ieyasu sambil berkata memelas, "Bunuh aku, Ieyasu. Jika kematianku bisa memuaskanmu, maka bunuhlah aku! Tebas aku dengan pedangmu! Hantam kepalaku dengan tinjumu!"
Kesal mendengar kata-kata itu, Ieyasu menarik kasar borgol di leher Mitsunari hingga wajah mereka berdekatan. Dia berseru marah, "Mati katamu, hah?! Bagaimana kau akan menebus kesalahanmu dengan kematian?"
"Lebih baik aku mati daripada harus hidup dipermalukan seperti ini!"
"Sepanjang hidupmu kau habiskan dengan terus membenciku dan memperlakukanku layaknya orang jahat! Kau tidak tahu betapa lelahnya aku hidup seperti itu, Mitsunari!"
"Jika kau tidak mencuri satu-satunya cahaya dalam hidupku, aku pun tidak akan—"
"Diam! Jangan bicara apa-apa lagi soal tuan-tuanmu di masa lalu! Mereka sudah mati, mereka tidak akan ada lagi untukmu. Percuma kau menangis dan meraung padaku, mereka tidak akan kembali padamu, Mitsunari!"
Dikuasai amarahnya, Ieyasu membanting tubuh Mitsunari ke tanah. Dia melangkah keluar dari penjara dan menatapnya dari balik teralis besi. Dia berkata sebelum kemudian pergi meninggalkannya, "Kau bukan siapa-siapa sekarang. Kau bukan lagi seorang jenderal. Kau bukan lagi komandan perang. Kau bukan lagi seorang prajurit. Kau bukan lagi seorang samurai. Kau tidak punya pengikut. Kau tidak punya istana. Kau tidak punya jabatan. Kau bukan siapa-siapa, bahkan kau bukan Ishida Mitsunari."
-to be continue-
