Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari menulis fanfic ini

Warning: AU, OOC, OC, Slash, violence, blood, typo, etc

Rating: T

Genre: Fantasy, Supernatural


"bla bla"- kalimat dialog biasa

bla bla- kalimat dialog dalam hati

"bla bla"- kalimat dialog dalam flashback

"bla bla" - kalimat yang diucapkan dalam bahasa kuno malaikat

["bla bla"]- Kalimat dialog melalui telepon dsb.


LILY

By

Sky


Butiran putih yang terasa sangat dingin itu akhirnya telah turun dari langit kelabu dengan awan gelap yang telah menggantung sejak tadi, membuat warna hijau yang merupakan bumi kini terlukiskan dengan warna putih yang begitu monoton. Salju yang ada di bumi benar-benar berbeda dengan apa yang pernah ia lihat selama ini, sama halnya dengan warna mentari serta gerimis hujan yang ia lihat setelah dirinya turun ke dunia ini untuk menunaikan tugas yang para dewa berikan padanya. Satu hal yang tak pernah berubah dari salju di penghujung bulan Desember adalah warna putih yang begitu suci serta perasaan dingin yang menyertainya, namun mengesankan pada saat yang sama ketika melihatnya, dan untuk yang kesekian kalinya setelah dirinya turun ke bumi Tetsuya begitu menikmati butiran putih yang ia tangkap dengan tangan terbukanya tersebut.

Ini sudah kesekian kalinya salju turun pada bulan Desember, menandakan kalau sang Archangel sudah berada di di Bumi dalam waktu yang cukup lama sejak musim panas lima tahun yang lalu. Banyak hal yang telah berlalu sejak pertama kali Tetsuya menjadi malaikat penjaga dan pelindung untuk seorang anak yang terlahir dari jiwa bunga lily yang ia bawa dari surga, dan ia sangat yakin semakin lama ia berada di sini maka apa yang akan ia lihat serta alami pun akan bertambah tanpa perlu ia perhitungkan. Sang Archangel menghela nafas pelan seraya menggenggam beberapa butiran putih salju yang jatuh di atas telapak tangannya, selama itu ia menghiraukan betapa dinginnya sensasi yang ia rasakan ketika menangkap salju maupun betapa tidak menyenangkannya ketika tubuhnya yang hanya dibalut oleh kimono berwarna biru laut tersebut diterpa angin dingin berulang kali. Meski tubuhnya sedikit menggigil, ia tak beranjak dari tempatnya duduk di teras kamar tradisional milik sang Pangeran Mahkota. Rasa basah yang diakibatkan oleh salju yang mencair itu ia hiraukan, ia terus menatap butiran putih tersebut tanpa rasa bosan yang menggantung dalam hatinya.

Dalam lima tahun terakhir ini Tetsuya bisa mengatakan dirinya merasa bangga atas apa yang ia lakukan sebagai orangtua dari seorang balita bernama Akashi Seijuurou, Putra Mahkota kerajaan imperial Teiko serta calon Kaisar di masa mendatang. Merawat seorang bayi hanya dengan bantuan para pelayan itu tidak lah mudah, terlebih bila bayi yang dimaksud terlahir dari jiwa bunga lily yang Tetsuya bawa dari surga, itu artinya akan ada banyak iblis yang mengincar nyawa anak tersebut.

Serangan yang diberikan oleh para iblis sejak kelahiran sang Pangeran Mahkota itu bisa dikatakan tidak jarang terjadi, seperti ada sebuah hal yang mendasari hal ini untuk terjadi. Tetsuya bisa mengatakan hal ini karena dirinya juga merupakan jiwa yang terlahir dari bunga Lily 200 tahun yang lalu, dan jumlah serangan yang ia dapatkan dari kaum iblis ketika dirinya masih berada di bawah asuhan sang Ayah bisa dihitung dalam hitungan jari, kurang dari sepuluh penyerangan sampai Tetsuya sendiri memutuskan untuk menjadi seorang malaikat. Apa yang membuat tugas mengasuh Akashi Seijuurou begitu istimewa di mata para iblis masih menjadi misteri bagi Tetsuya, dan sang Archangel pun sangat yakin kalau posisi Seijuurou sebagai penerus tahta Teiko bukan menjadi salah satu alasan penyerangan ini. Apapun itu, Tetsuya merasa dirinya harus menyelidikinya mulai dari akar permasalahannya, hanya saja baik dirinya maupun para Archangel lainnya sama-sama tak memiliki ide mengapa hal ini bisa terjadi.

Baik iblis maupun malaikat tidak peduli akan status duniawi yang manusia miliki, bahkan bila orang tersebut adalah seorang pemimpin dunia yang dianggap penting oleh manusia lain pun kalau mereka tidak memiliki keistimewaan lain seperti jiwa Lily dalam sosoknya, maka mereka tak akan menarik perhatian kedua makhluk berbeda ras tersebut. Hal yang terjadi belakangan ini benar-benar menarik perhatiannya, sebuah hal yang sangat jarang untuk terjadi mengingat Tetsuya adalah tipe malaikat yang mampu menghiraukan apapun yang terjadi di sekitarnya.

Apa yang membuat Seijuurou-kun dan yang lainnya istimewa sehingga para iblis selalu melakukan penyerangan? Pikir Tetsuya dalam hati, ia menggigit ujung kuku ibu jarinya seraya pikirannya melanglang buana jauh di luar sana. Hyuuga-san mengatakan kalau jiwa yang aku lindungi bukanlah satu-satunya yang mendapatkan serangan konstan dari para iblis yang mengincar bunga Lily jiwa tersebut, kemungkinan besar yang lainnya juga mendapatkan masalah yang sama. Kelihatannya aku harus menghubungi para Archangel yang lain, atau mungkin Nijimura-san untuk menanyakan hal ini.

Hembusan angin dingin yang mengarah pada sosok Tetsuya pun membuatnya bergidik pelan, memutus jalan pikirannya yang berakar pada penyerangan serta masalah yang para iblis berikan padanya. Rasanya ingin sekali Tetsuya pergi melewati gerbang dunia kedua dan mengunjungi neraka untuk bertanya mengapa para iblis menargetkan anak angkatnya tersebut. Andai saja Akashi Seijuurou mewarisi hawa keberadaan yang tipis seperti Tetsuya pasti masalah yang ditimbulkan oleh pihak iblis bisa dihindari dengan baik, tanpa harus membuat sang malaikat bersayap enam itu bertarung. Memang keberuntungan Tetsuya saja yang mendapatkan seorang anak dengan hawa keberadaan serta karisma yang begitu kuat, seolah-olah anak itu memang magnet untuk menarik perhatian dari semua orang dengan karismanya. Oleh karena itu para iblis tak merasa kesulitan untuk menemukannya.

Untuk kesekian kalinya pada hari itu, Tetsuya pun menghela nafas panjang.

"Kau menghela nafas terus, Tetsuya-san, tidak seperti biasanya," sebuah suara anak kecil yang begitu Tetsuya kenal pun bersuara, memberinya komentar akan kebiasaan baru yang Tetsuya tunjukan pada hari itu.

Bibir sang Archangel berkedut sebentar setelahnya, ia menunjukkan ekspresi netral meski jiwanya tergerak akan suara anak kecil yang ditujukan padanya untuk beberapa saat lamanya. Sang malaikat tidak lah bergerak dari posisi duduknya, tetap berada di sana sambil menatap rintikan putih dari salju dan membiarkan udara dingin menerpanya.

"Kalau kau terus-terusan mendesah seperti itu, nanti kau bisa berubah cepat tua seperti apa yang dikatakan Miyuki," suara yang sama pun melontarkan kalimatnya yang kedua, dan tak lama setelah itu Tetsuya mendengar sebuah suara langkah kaki pelan mendekat ke arahnya sebelum sepasang lengan kecil melingkar pada leher sang Archangel, memeluknya dari belakang. "Aku pulang, Tetsuya-san."

Tetsuya terus bergeming di tempat duduknya, tak mengindahkan dinginnya salju maupun sepasang lengan kecil yang hangat tengah memeluknya dari belakang. Ia menatap bagaimana kolam kecil yang ada di tempat itu masih membeku akibat suhu dingin yang mendekati minus, dan sudah sewajarnya ia segera pergi dari sana untuk menghangatkan badannya. Namun, pelukan yang tengah ia rasakan itu membuatnya terus terdiam dan mendengarkan celoteh ringan dari seorang pangeran berambut merah darah yang merupakan anak asuhnya tersebut membuatnya hangat dari dalam. Dialah Akashi Seijuurou, seorang anak laki-laki yang baru akan menginjakkan usia pada tahun kelima pada tanggal 20 Desember nanti, dan kepada Akashi Seijuurou lah Tetsuya menanamkan bunga Lily yang ia peroleh dari surga untuk ia lindungi sampai anak itu menjadi dewasa. Seijuurou adalah tanggung jawabnya, orang yang ia berikan sumpah untuk dilindungi.

"Selamat datang, Seijuurou-kun, bagaimana acara jamuan makan siangnya dengan Yang Mulia Kaisar?" Tanya Tetsuya dengan lembut, sang Archangel pun pada akhirnya menolehkan kepalanya untuk bertemu langsung dengan sosok mungil berambut merah tersebut.

"Tersuya-san pasti sudah tahu sendiri bagaimana suasana makan bersama dengan Ayahanda di istana utama, rasanya sangat canggung dan tidak nyaman," jawab Seijuurou kecil dengan cemberut mungil bertengger di bibirnya. Guratan emosi tersebut langsung berubah menjadi senyuman saat kedua matanya melihat Tetsuya menepuk pangkuannya sendiri, mengundang Seijuurou untuk datang mendekat. "Aku lebih memilih berada di istana utara ini bersama dengan Tetsuya-san dan makan siang bersama denganmu ketimbang harus bersama dengan Ayahanda."

Tetsuya tersenyum maklum atas pengakuan yang Seijuurou berikan padanya. Ia tahu betul bagaimana sifat seorang Akashi Masaomi, melihat dirinya sering sekali beradu argumen dengan sang Kaisar Teiko dimulai dari pertemuan pertama mereka, dimana Tetsuya mengajukan hal yang ia inginkan sebagai bayaran telah menolongnya sampai persoalan sepele mengenai tuntutan Tetsuya agar sang Kaisar menyempatkan diri untuk bertemu dengan Seijuurou. Masaomi selalu keras pada Seijuurou, tidak hanya laki-laki itu selalu merasa kurang puas akan usaha yang Seijuurou lakukan namun juga karena Seijuurou itu sangat mirip dengan mendiang Ratu Imperial Shiori. Bila Masaomi melihat Seijuurou, rasanya ia seperti melihat mendiang sang istri yang tentu saja akan menimbulkan perasaa sakit.

Sang Archangel tahu benar akan hal itu, dan selain karena tradisi kuno kerajaan akan mengirim sang penerus untuk tinggal di istana utara (sebuah istana yang sangat jauh dari ibukota negara dan istana utama) Masaomi pun melakukan itu untuk menghindari bertemu dengan putra sulungnya setiap saat. Mungkin menurut Masaomi hal itu adalah hal terbaik untuk menghindarkannya dari apa yang bernama sakit hati, namun di saat yang sama hal itu bisa dikatakan hal yang bodoh dan akan menimbulkan kesenjangan. Tetsuya jadi berpikir apa yang akan terjadi pada Seijuurou bila dirinya tak berada di sampingnya, bila ia tidak mengambil kesempatan yang Masaomi tawarkan lima tahun yang lalu hingga dirinya tak berada di tempat ini. Tidak, Tetsuya tak bisa membayangkannya karena ia tahu jawaban akan pengandaian yang ia pikirkan tadi adalah hal buruk yang harus dihindarkan.

Bibir sang Archangel berdecak singkat, begitu pelan sampai tak ada seorang pun yang mendengarnya kala pikirannya mengarah pada masa lalu, namun semua itu terpatahkan ketika ia mendapati Seijuurou kecil menjawab panggilannya tadi dan memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di lantai kayu dengan kepalanya beralaskan pangkuan Tetsuya. Secara tak sadar atau karena kebiasaannya, Tetsuya pun langsung membelai rambut halus berwarna merah darah milik anak asuhnya tersebut.

"Sebentar lagi Seijuurou-kun akan menginjakkan usia pada angka lima, kalau boleh aku tahu apa yang Seijuurou-kun inginkan untuk sebuah hadiah?" Tanya sang Archangel dengan lembut, belaian jemarinya pada rambut sang pangeran kecil tidak pernah berhenti.

Tetsuya merasakan Seijuurou menggeliat pelan di atas pangkuannya, memindahkan posisinya hingga dirinya berbaring terlentang dengan kedua mata heterokromatik miliknya mampu menatap milik Tetsuya secara langsung. Keluguan lah yang pertama kali Tetsuya lihat pada sepasang mata indah itu, begitu murni dan masih belum tertutup oleh apa yang namanya emosi negatif yang sering Tetsuya temukan pada milik orang dewasa. Secara tidak langsung Tetsuya merasa bangga pada dirinya sendiri, ia mampu melindungi jiwa murni dari seorang Akashi Seijuurou sampai sekarang ini sehingga pengaruh-pengaruh buruk dari pihak luar serta kehidupan istana yang kejam belum mampu menjangkau sang Pangeran Mahkota, dan untuk seterusnya Tetsuya ingin terus melindungi keluguan dari Seijuurou meski hal tersebut akan mustahil untuk ia lanjutkan ketika sang Pangeran Mahkota mulai beranjak dewasa, dimana tekanan politik dalam strata sosialnya akan memaksanya untuk tumbuh lebih cepat dari apa yang Tetsuya harapkan.

Lagi-lagi sang Archangel melamun di hadapan anak asuhnya, tak heran kalau suara Seijuurou yang menyuarakan keinginannya atas pertanyaan Tetsuya sebelumnya membuat sang Archangel sedikit terkejut meski yang bersangkutan mencoba untuk tidak berjengit lagi. Hanya saja gerakan yang Tetsuya lakukan dalam membelai rambut Seijuurou terhenti untuk sementara waktu sebelum ia lanjutkan lagi, cukup mampu untuk memberitahu kalau Tetsuya lagi-lagi tak mendengarkan ucapannya.

"Tetsuya-san melamun lagi," ujar Seijuurou dengan pelan.

"Maaf, Seijuurou-kun," dengan reflek Tetsuya mengatakan hal itu. "Udara dingin dalam bulan Desember ini membuat pikiranku sedikit melayang. Kalau Seijuurou-kun tidak keberatan, aku ingin mendengar keinginan Seijuurou-kun sekali lagi untuk hadiah ulang tahunnya."

Permintaan yang lucu, tidak heran kalau sang anak lelaki yang akan menginjakkan kaki pada usia lima tahun tersebut tersenyum simpul sebelum ia menenggelamkan wajahnya pada pangkuan Tetsuya. Kedua lengan mungil tersebut memeluk perut sang Archangel dengan erat, seperti ia tak ingin melepaskan Tetsuya begitu saja, sebelum dirinya menggumamkan sesuatu. Tetsuya sendiri yang merasakan gelagat tak biasa dari sang anak asuh hanya mengerjapkan matanya saja, tak mengambil tindakan apapun kecuali menerima kelakuan manja dari Seijuurou. Ia tentu mendengar apa yang digumamkan oleh Seijuurou, hanya saja dirinya tak begitu jelas akan permintaan sang Pangeran yang telah disampaikan tersebut.

"Seijuurou-kun, kau bisa mengatakannya lebih keras lagi? Aku tak mendengarnya," pinta Tetsuya dengan lembut, sang malaikat tersenyum kecil melihat gelagat tak nyaman serta rona merah yang muncul di cuping telinga sang Pangeran Mahkota. Jarang sekali ia melihat sang Pangeran seperti ini, begitu terbuka menampakkan emosinya. Apapun ekspresi yang dikeluarkan oleh Seijuurou, Tetsuya selalu menatapnya dengan suka cita karena sang Pangeran Mahkota adalah putra angkatnya. Orang yang mulai merambah ke dalam hatinya serta mulai ia cintai dengan segenap jiwa raga.

Tetsuya merasa Seijuurou semakin mengeratkan pelukannya, kelihatannya apapun yang diinginkan oleh Seijuurou sudah cukup untuk membuat anak itu malu akan keinginannya sendiri. Tetsuya penasaran apa itu.

"Seijuurou-kun..." pada akhirnya sang Archangel pun memanggil nama Seijuurou untuk sekali lagi.

"Aku ingin... aku ingin Tetsuya-san terus berada di sisiku untuk selamanya," gumam Seijuurou dengan suara kecil, sedikit mencicit karena wajahnya terbenam pada perut Tetsuya sementara ia sendiri terlalu malu untuk menatap sang pengasuh.

Kata selamanya yang terlontar dari bibir mungil sang anak asuh membuat Tetsuya tertegun. Seijuurou itu terlahir dari jiwa bunga lily yang Tetsuya tiupkan ke dalam raga seorang manusia, sebuah tugas yang diberikan Nijimura dan para dewa lainnya untuk ia asuh sampai batasan waktu yang ditentukan. Ia tak tahu apakah kata selamanya pantas terlontar untuk menggambarkan apa yang terjadi sebenarnya, sepertinya tidak... melihat status Tetsuya sebagai seorang malaikat saat ini. Jemari milik Tetsuya kembali membelai rambut sang Pangeran dengan lembut.

"Apa itu yang Seijuurou-kun inginkan untuk ulangtahunnya yang kelima?" Tanya Tetsuya, memastikan meski nada bicaranya serta ekspresi datar yang terpatri pada wajahnya tersebut begitu berbeda.

Ia melihat bagaimana Seijuurou mulai mengangkat wajahnya dari tempat persembunyian sementaranya, dan dengan kedua mata heterokromatik tersebut ia menatap Tetsuya dengan lekat.

"Tetsuya-san, aku ingin selalu bersama dengan Tetsuya-san untuk selamanya," ulang Seijuurou dengan mempertegas maksud yang ia ucap beberapa saat yang lalu. Kali ini wajahnya terkesan lebih serius ketimbang dengan wajah berhiaskan rona merah yang merekah tadi. "Aku selalu merasa nyaman dan begitu dekat dengan Tetsuya-san. Hanya dirimu yang mengerti diriku, bahkan bila disuruh untuk memilih antara Ayahanda dengan Tetsuya-san, maka aku tidak akan tanggung-tanggung lagi untuk memilihmu, Tetsuya-san. Tetsuya-san adalah orang yang penting untukku, jadi... berjanjilah kalau kau akan selalu ada untukku dan berada di sampingku, Tetsuya-san."

Pertegasanan kalimat yang keluar dari seorang bocah yang bahkan usianya belum genap lima tahun itu tentu akan membuat siapapun yang mendengarnya menjadi tertegun. Tak pernah hal seperti ini terjadi sebelumnya, seorang anak dengan usia yang begitu muda terdengar begitu serius dan bersungguh-sungguh layaknya ia adalah orang dewasa yang penuh akan komitmen. Bagaimana Tetsuya harus menjawab ini? Ia mungkin adalah malaikat penjaga untuk Seijuurou dan akan terus berada di samping anak itu, namun waktu yang ia miliki bukannya tak terbatas, ada batasan yang mengikatnya dengan Seijuurou.

Ia tak bisa bohong kepada anak kecil yang tengah bermanja-manja di pangkuannya ini, Seijuurou sudah kehilangan lebih dari apapun. Mulai dari ibu yang melahirkannya sampai kebebasan yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak yang belum cukup untuk menginjak usia 10 tahun. Tetsuya tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Seijuurou bila ia mengatakan yang sebenarnya dan mengakhiri harapan sang Pangeran Mahkota, hanya saja ia juga tak bisa berbohong begitu saja.

Tetsuya memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya sebelum ia membukanya lagi, ditatapnya Seijuurou dengan lembut dan ia pun mulai membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu sebagai balasan darinya.

"Aku akan berada di sampingmu sampai kau beranjak dewasa, Seijuurou-kun. Aku akan melihat bagaimana Seijuurou-kun tumbuh menjadi seorang laki-laki bijak dan pantas untuk disebut sebagai Kaisar Teiko di masa depan. Sampai saat itu tiba, aku akan terus bersamamu," ujar Tetsuya dengan lembut.

Jawaban yang sedikit ambigu dikeluarkan oleh Tetsuya, setidaknya jawaban tersebut mendekati kebenaran namun tak akan membuat harapan Seijuurou melambung tinggi. Dilihatnya anak laki-laki yang belum genap berusia lima tahun tersebut tengah berpikir, menimang-nimang jawaban yang tadi diucapkan oleh Tetsuya dengan mimik muka yang begitu serius. Tetsuya penasaran akan apa yang tengah Seijuurou pikirkan tersebut, ia harap sang Pangeran Mahkota tidak berpikir terlalu serius sampai membuat yang bersangkutan terkena sakit kepala, memikirkan hal itu saja sudah mampu membuat sang Archangel tersenyum simpul. Dan untuk kesekian kalinya dalam waktu itu, ia pun membelai rambut merah darah milik putra angkatnya tersebut.

Hanya saja ketika Tetsuya akan membelai helaian halus di kepala Seijuurou, si pemilik rambut merah darah tersebut langsung menangkap tangan kanan milik Tetsuya, menggenggamnya dan membuat Tetsuya mau tak mau menatap si tersangka penangkapan tersebut.

"Tetsuya-san tidak menjawab permintaanku dengan benar. Jawaban yang Tetsuya-san keluarkan tersebut lebih mirip dengan Tetsuya-san ragu apakah ia bisa menerima permintaanku apa tidak," sang Putra Mahkota kerajaan imperial Teiko tersebut menghela nafas berat, ia terlihat lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya. "Biasanya aku akan memerintahmu untuk menerima permintaanku saat ini juga dan tak akan menerima penolakan, namun melihat ekspresi sayu yang terlukis di wajah Tetsuya-san aku tak ingin membuatnya semakin sedih dengan keegoisanku ini."

Di sini Tetsuya bisa merasakan kedua matanya melebar untuk beberapa saat lamanya setelah mendengar ucapan yang keluar dari Seijuurou, bahkan saking terkejutnya Tetsuya tak mampu berkata apapun saat Pangeran imperial Teiko tersebut naik ke atas pangkuannya dan duduk di sana dengan mantap. Kedua mata heterokromatik milik bocah yang belum genap berusia lima tahun itu mengisyaratkan kalau ia sepertinya tahu dan paham akan sesuatu yang bahkan Tetsuya sendiri tak mengerti, pertanyaan bagaimana bisa itu terjadi terus berdengung di dalam kepala sang Archangel.

Tetsuya memejamkan kedua matanya ketika ia merasakan sepasang tangan kecil menyentuh kedua pipinya dengan lembut sebelum hembusan nafas pelan dari sosok mungil yang duduk di atas pangkuannya itu menyentuh wajahnya. Ketika sang Archangel membuka kedua matanya ia mendapat sepasang mata heterokromatik yang terlihat begitu dewasa dari usia sang empunya balik menatap dirinya dengan serius. Tak banyak ungkapan yang terucap melalui kata-kata, namun dalam balik diam yang tersaji baik keduanya mampu mengetahui apa maksud yang ingin diucapkan yang lainnya.

"Terima kasih," gumam Tetsuya dengan lembut, kedua lengannya kini beranjak dan memeluk pinggang kecil sang Putra Mahkota, mendekap tubuh mungil itu dalam diam yang nyaman.

"Tidak," sahut Seijuurou dengan suara kecil, dirinya pun membiarkan dipeluk oleh sang pengasuh. "Akulah yang harus berterima kasih kepadamu, Tetsuya. Memilikimu saja sudah cukup untukku."

Panggilan tanpa embel-embel –san seperti yang sering Seijuurou gunakan untuk memanggil nama Tetsuya tersebut membuatnya tersentak, namun Tetsuya tak ambil pusing mengenai hal itu karena ia mengira dirinya lah yang salah dengar. Tak mungkin Seijuurou memanggil namanya begitu intim seperti dugaannya itu. Dibalik kepolosan pikiran yang Tetsuya miliki, ia sama sekali tak mengetahui kalau dewi penjaga takdir akan memberikannya sebuah kejutan yang tak pernah ia kira untuk terjadi beberapa tahun ke depan.


Pesta ulang tahun yang kelima untuk Akashi Seijuurou berjalan dengan begitu mewah dan meriah. Semua orang mengakuinya, dan bahkan para rakyat kerajaan imperial Teiko yang tinggal di wilayah ibukota pun bisa merasakan kalau hari kelahiran sang Putra Mahkota tersebut dirayakan dengan begitu meriah dan tak jarang beberapa rakyat menikmati pesta rakyat yang digelar oleh pihak kerajaan untuk menyemarakkan hari kelahiran Akashi Seijuurou tersebut.

Meski hari ulang tahun Akashi Seijuurou berjalan dengan penuh semarak, beberapa orang juga tak menampik fakta bahwa hari kelahiran sang Pangeran adalah hari dimana mereka kehilangan sang Ratu Imperial, Akashi Shiori. Pesta yang digelar pun juga memiliki atmosfer duka cita yang begitu kontras dengan tujuan semula. Bahkan tak sedikit pula yang tak menikmati pesta tersebut, salah satunya adalah sang Kaisar Teiko itu sendiri. Tetsuya tak akan terkejut bila sang Kaisar lebih memilih untuk tak muncul di acara pesta ulang tahun Putranya sendiri, bahkan selama lima tahun terakhir ini Tetsuya jarang sekali melihat ayah dan anak tersebut berjalan beriringan maupun berbagi tawa layaknya keluarga normal pada umumnya. Sang Archangel tentunya akan merasa terkejut bila apa yang ada dalam benaknya itu benar-benar tidak terjadi, satu hal yang ia pelajari semenjak tinggal di tempat ini adalah keluarga Akashi adalah keluarga yang aneh.

Sama seperti lima tahun yang lalu dimana Seijuurou dilahirkan di dunia dan juga ketika jiwa dari bunga lily yang dibawa oleh Tetsuya dari surga ditiupkan ke dalam tubuhnya, malam ini pun hujan salju lagi-lagi melanda kawasan istana utama dan sekitarnya. Tetsuya tak habis pikir akan hal ini, mungkin saja dewa cuaca yang mengontrol pergantian cuaca benar-benar menikmati salju diberikannya sebagai hadiah untuk sang Pangeran. Mungkin kalau Tetsuya punya kesempatan untuk bertemu dengan dewa cuaca, ia akan mengobrol sebentar dengan sang dewa dan menanyakan akan hal itu, atau mungkin ia bisa bertanya langsung kepada Nijimura melihat sang dewa perang tersebut dekat dengan dewa cuaca. Berpikir mengenai Nijimura, rasanya sang Archangel benar-benar merindukan sosok sang dewa perang, sudah lima tahun keduanya tak bertemu karena pekerjaan keduanya terhadapan dunia tak memberi mereka waktu untuk bertemu.

Tetsuya menoleh ke samping, suasana pesta yang ada di ruangan ini benar-benar semarak, begitu ramai dan dipenuhi oleh para tamu undangan yang diundang secara khusus oleh pihak istana. Melihat hal ini saja membuat Tetsuya merasa sedikit tak nyaman, namun demi Seijuurou yang sejak kemarin terus memaksanya untuk mendampinginya maka Tetsuya pun memaksakan diri untuk hadir. Meski demikian sang malaikat mengambil tempat yang tak terlalu ramai untuk berdiri di lantai dua, dan berharap sang Pangeran maupun tamu undangan lainnya tak menemukan kehadirannya meskipun ia berada di dalam satu gedung dengan mereka. Hembusan nafas pelan pun ia hembuskan, uap air yang keluar bersama dengan nafasnya itu membuat kaca jendela besar yang ada di hadapannya berembun dan memperburam refleksi bayangan yang tercipta dari sana untuk beberapa saat lamanya.

"Pengamanan di sekitar istana sudah diperketat, Kuroko-sama, bahkan seekor tikus pun akan mendapatkan kesulitan untuk menjebol pertahanan istana saat pesta untuk Akashi Seijuurou-sama dilakukan sekarang ini," seorang jenderal yang berperan sebagai kepala keamanan istana memberitahu Tetsuya akan hal ini. Sudah tugas Tetsuya untuk mengetahui keamanan istana utama dimana anak asuhnya mengadakan pesta ulang tahun. "Saya harap pesta ulang tahun Yang Mulia Pangeran berjalan dengan baik, tak ada kendala apapun yang tak bisa saya tangani."

Sang Archangel yang sedari tadi diam dan mendengarkan laporan dari pihak keamanan tersebut hanya memberikan anggukan singkat, kedua matanya tak beralih dari pemandangan luar istana yang tersaji dari balik jendela besar di mana ia berdiri saat ini, dengan seorang jenderal istana berpakaian lengkap berdiri di belakangnya.

Meski Tetsuya itu berstatus sebagai seorang tamu undangan spesial dari pihak Seijuurou, sang Arnchangel sendiri juga bertanggung jawab atas keselamatan Seijuurou dalam pesta ulangtahunnya sendiri. Untuk itu meskipun ia tak nyaman hadir di tempat ini, keberadaan sang jendral yang bertugas mengamankan istana utama tempat pesta berlanjut pun membuatnya sedikit nyaman, setidaknya ia tak berinteraksi dengan mereka semua secara langsung.

Dari refleksi kaca jendela yang membatasi sosok Tetsuya dengan dunia luar, ia melihat gambar sang jendral yang membawa sebuah papan kecil dengan beberapa kertas di sana, memberi Tetsuya laporan yang berhubungan dengan keamanan tempat dan sang Pangeran yang menjadi tanggung jawabnya.

"Saya sudah mengecek daftar tamu dan menyuruh beberapa prajurit khusus untuk memeriksa tamu undangan ketika mereka memasuki istana. Kita harus berhati-hati karena saat ini ada banyak teroris yang berkeliaran, dan pesta sebesar ini tentu tidak akan dilewatkan oleh mereka," kata sang kepala keamanan istana lagi, memberikan opini. "Pengamanan istana sudah diperketat tiga kali lebih banyak daripada biasanya. Saat ini tim Beta yang diketuai oleh Kolonel Mitsuhide tengah berpatroli di sekitar istana, Kuroko-sama."

Sang Archangel pun memberikan anggukan singkat lagi sebelum ia memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan sang jendral. Kimono tradisionalnya yang berwarna biru tua dan dilapisi oleh haori panjang warna putih itu mungkin kelihatan kontras bila dibandingkan dengan pakaian mewah yang dikenakan oleh para tamu undangan, begitu pula dengan para prajurit serta jendral yang ada di hadapannya saat ini. Meski kelihatannya tidak cocok untuk digunakan dalam pesta kerajaan seperti ini, namun penampilan Tetsuya ini bisa dikatakan sangat menarik, begitu cocok dengan sosoknya yang anggun tersebut, sang jendral yang menjadi teman berbicaranya sejak tadi mengakui akan hal itu. Kuroko Tetsuya memang selalu terlihat berbeda dengan orang-orang sekitarnya, tetapi dalam artian yang positif dan begitu menarik mata untuk mengarah pada sang entitas biru muda tersebut.

"Terima kasih atas kerja kerasnya untuk hari ini, Aomine-san," kata Tetsuya sebelum dirinya membungkuk dengan sopan di hadapan Jendral Aomine tersebut. Aomine Suzuki adalah satu dari beberapa orang yang Tetsuya dapat percaya untuk keselamatan Seijuurou, oleh karena itu ia pun memberikan tugas khusus untuk mengamankan istana demi Seijuurou saat pesta berlangsung. Bila Masaomi tak mau berurusan dengan semua ini, maka sebagai gantinya Tetsuya lah yang akan mengurusnya.

Jendral Aomine hanya tersenyum kecil melihat Tetsuya memberinya penghormatan, ia pun meletakkan tangan kanannya di atas dadanya sebelum memberikan penghormatan ala militer kepada Tetsuya.

"Sudah menjadi tugas saya untuk melindungi Pangeran Imperial, Kuroko-sama, Anda bisa mempercayakan semuanya kepada saya dan tim yang sudah saya bentuk untuk pengamanan," jawab sang jendral dengan anggukan mantap. "Anda tak perlu khawatir lagi. Lebih baik Anda nikmati pesta ulangtahun Pangeran dan serahkan semuanya pada kami, Kuroko-sama. Saya rasa Yang Mulia Pangeran akan senang bila Anda bisa berada di sampingnya daripada menemani orang tua seperti diriku."

Dari lantai dua tempat pesta berlangsung, Tetsuya bisa melihat sosok sang Pangeran yang tengah berbincang dengan seorang anak berbadan lebih tinggi darinya, berkacamata dan berambut warna hijau emerald. Kelihatannya sang Pangeran mulai menyukai pesta yang tersaji untuknya, bahkan dari sudut matanya Tetsuya bisa melihat guratan emosi itu secara jelas, meski beberapa jam yang lalu sang Pangeran masih merengek pada Tetsuya kalau mereka tidak harus menghadiri pesta ini. Bibir Tetsuya berkedut sedikit untuk menahan senyum, mungkin kehadiran anak laki-laki berambut hijau tersebut mampu membuat mood sang Pangeran menjadi baik, kelihatannya Seijuurou menemukan teman yang cocok untuk diajak berbincang meski anak berambut hijau terang tersebut terlihat sedikit tidak nyaman. Baik Tetsuya dan Jendral Aomine yang menyaksikan pemandangan itu saling bertukar senyum singkat, merasa geli dengan interaksi dari Pangeran Akashi itu.

"Saya akan kembali pada pos saya, Kuroko-sama, bila ada yang Anda inginkan dari saya maka silakan Anda menghubungi nomor saya," dengan mengucapkan hal itu sang jendral pun langsung beranjak dari hadapan Tetsuya, meninggalkan sosok sang Archangel berdiri di samping tangga sendirian.

Mungkin sudah saatnya aku menghampiri Seijuurou-kun, ujar Tetsuya dalam hati. Ia sudah puas menenangkan diri dan bersembunyi dari keramaian, sekarang waktunya ia harus menunaikan kewajibannya sebagai malaikat penjaga untuk Seijuurou. Oleh karena itu ia pun mematuhi nasihat yang diberikan oleh Jendral Aomine tadi, ia harus bergabung dengan sosok mungil sang Pangeran Mahkota dan menikmati pesta yang tersaji ini.

Mantap dengan pikirannya tersebut, Tetsuya pun beranjak dari tempatnya berdiri untuk menuju ke lantai pertama dimana Seijuurou dan teman barunya tengah berbincang. Langkah hati-hati pun Tetsuya ambil saat dirinya menuruni anak tangga, hanya saja langkah kakinya itu terhenti di tengah jalan dan kedua tangannya langsung erat berpegangan pada pegangan tangga yang ada di sampingnya, menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh saat sebuah tubuh menabraknya dari arah yang berlawanan

"Ah... maafkan saya, saya tidak melihat Anda tadi... Maafkan saja," seorang laki-laki yang mengenakan pakaian pelayan dan membawa sebuah nampan berisi satu gelas pun mengucapkan permintaan maaf. Dan tatapan sang pelayan tambah bersalah ketika ia sadar kalau dirinya telah menumpahkan isi dari gelas yang ia bawa tadi pada haori yang dikenakan oleh Tetsuya. "Maafkan saya, maafkan saya!"

Ucapan berulang yang penuh akan permintaan maafan itu keluar dari mulut sang pelayan. Tetsuya tentu merasa terkejut, bukan karena dirinya ditabrak oleh seseorang yang sesungguhnya bukan pengalaman baru lagi melihat ia memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, namun karena pelayan itu terus menerus meminta maaf seperti kaset rusak yang diputar secara berulang-ulang. Tak pernah ia menemukan seorang manusia yang bisa mengucapkan beribu kata maaf dalam sekali nafas, kelihatannya sang pelayan memang merasa menyesal atas apa yang telah ia perbuat dan karena Tetsuya tak tega melihatnya terus meminta maaf seperti itu maka sang Archangel pun hanya memberikan anggukan singkat.

"Tak apa, pelayan-san. Lebih baik kau segera layani tamu yang lain, anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi," kata sang Archangel dengan lembut. Tanpa menunggu balasan dari sang pelayan Tetsuya pun segera beranjak dari tempatnya, menuju lantai pertama secepat mungkin.

Sesaat setelah berlalu dari tempat barusan, ia bisa merasakan sepasang mata terus menatap punggungnya seirama dengan langkah yang ia ambil ke depan. Tetsuya menghiraukan tatapan yang mengarah padanya tersebut dan menganggapnya itu semua hanya perasaannya saja, melihat sang Archangel tersebut memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis dan tak sembarang orang bisa menyadarinya begitu saja, oleh karena itu Tetsuya hanya menganggap tatapan itu sebagai angin lalu saja, dan ia pun terus melangkah ke depan untuk menuruni tangga sebelum sosoknya menghampiri sang Pangeran dan teman barunya. Meski Tetsuya yang mencoba untuk menghiraukan tatapan menusuk tersebut, lama kelamaan tatapan itu terasa semakin intens dan membuat Tetsuya sendiri semakin penasaran siapa yang tengah menatapnya tersebut. Tatapan itu terkesan begitu berbahaya, seperti siapa pemiliknya itu ingin melenyapkan Tetsuya dari tempat itu. Karena itulah tak heran insting Tetsuya pun memberitahunya ada bahaya yang mendekat, ia benar-benar merasa tak nyaman berada di sana.

Ketika sang Archangel menoleh ke belakang untuk mencari siapa pelakunya, ia tak menemukan siapapun yang menatapnya dengan intens tadi, dan anehnya lagi tatapan yang mengarah padanya sejak tadi langsung menghilang begitu saja seolah-olah tak pernah ada di tempat pertama. Aneh, itulah yang tercetak jelas di pikiran Tetsuya. Banyak orang yang tengah berbicara dengan rekan mereka di sana, dan tak jarang ia juga menemukan beberapa pelayan berjalan hilir mudik di sana untuk mengirimkan minuman maupun makanan kepada para tamu yang hadir. Kedua mata cerah milik sang malaikat menyipit untuk beberapa saat lamanya seraya tangan kanannya berpegangan pada sisi tangga yang menjulang di sana. Rasanya akan kurang kerjaan sekali bagi mereka untuk menatap sosok sang Archangel secara diam-diam. Untuk itu Tetsuya pun menganggap semuanya sebagai imajinasi belaka.

"Di situ kau rupanya, Tetsuya-san," suara lembut yang begitu Tetsuya dengar pun dalam kesehariannya pun menghampirinya, membuat sang Archangel berpaling dari mencari pelaku yang menatapnya sejak tadi untuk bertemu langsung dengan sang pemilik suara mungil tadi.

Kedua mata milik Tetsuya pun bertemu dengan iris heterokromatik merah-keemasan milik anak yang berulangtahun malam ini, dan senyuman kecil pun mampu ia tangkap terayun pelan di bibir Seijuurou.

"Seijuurou-kun," gumam Tetsuya sebelum memberinya anggukan singkat.

Sang malaikat pelindung Seijuurou itu pun langsung menghampiri sang Pangeran dan mengambil tempat berdiri di samping sang Pangeran ketika Seijuurou menarik tangannya untuk mendekat, dekapan pada tangannya itu terasa begitu erat, begitu posesif untuk ukuran seorang bocah yang baru genap berusia lima tahun itu.

"Aku sudah mencari-carimu sejak tadi, namun kelihatannya hawa keberadaanmu yang tipis itu membuatku sedikit kesusahan untuk menemukanmu, Tetsuya-san," ujar Seijuurou dengan tenang, kedua mata hetrokromatiknya tersebut menatap sosok sang pengasuh dengan tajam. Tatapan itu ditambah dengan perilakunya tersebut membuat Tetsuya memiliki perasaan kalau Seijuurou tak akan melepaskannya untuk pergi begitu saja. "Tapi itu tak masalah sekarang ini karena aku sudah bisa menemukanmu."

"Begitukah, Seijuurou-kun? Aku senang mendengarnya," ujar sang malaikat dengan senyum tipis terukir di wajahnya. "Apa kau menyukai pesta ulangtahunnya?"

Dengan tarikan singkat dari sosok sang Pangeran, ia memerintahkan Tetsuya untuk berjalan bersama dengan dirinya yang tentu saja dipatuhi oleh sosok sang malaikat. Mereka berjalan beriringan berdua, menciptakan sebuah pemandangan yang sedikit aneh melihat seorang anak kecil menarik-narik lengan seorang yang dewasa. Dan karena hawa keberadaan Seijuurou yang begitu kuat, pada akhirnya Tetsuya pun mengalah yang membuat orang lain mampu melihat tepat ke arahnya. Ia bisa merasakan berpuluh-puluh pasang mata, bahkan bisa sampai ratusan pasang mata menatap ke arah mereka berdua. Tak menanggapi tatapan dari tamu di sekitarnya, Tetsuya pun memfokuskan perhatiannya pada Seijuurou yang masih sibuk menggandengnya tersebut.

"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, Tetsuya-san," jawab Seijuurou, keduanya pun menghentikan langkah kaki saat sang Pangeran menoleh padanya. "Kau menghilang dari sisiku lebih dari setengah jam lamanya, dan kau tak perlu berbohong padaku kalau kau merasa tak nyaman dengan atmosfer ini, Tetsuya-san. 'Aku tak ingin mendapatkan tatapan dari mereka, rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini namun aku tak bisa melakukannya karena Seijuurou-kun' adalah apa yang ada dalam kepalamu."

Sang Pangeran yang berusia lima tahun tersebut benar-benar memiliki pemikiran yang tajam seperti orang dewasa, bahkan kemungkinan besar Seijuurou jauh lebih unggul daripada mereka semua. Tetsuya tak lagi terkejut akan hal ini, sehingga ia pun bisa mempertahankan ekspresi tenang miliknya kala mata yang tahu akan semuanya milik sang Pangeran itu mengarah padanya. Senyuman tipis pun terpetak di bibir sang Pangeran untuk sesaat berikutnya.

"Tetsuya-san, aku tak akan memaksamu untuk berada di tempat ini kalau kau merasa tak nyaman. Aku tidak lah sekejam itu untuk memaksa Tetsuya-san di sini," kata Seijuurou lagi.

Dan entah kenapa sang Archangel merasakan nada manis yang terucap dari bibir Seijuurou itu tidak wajar, lebih mirip akan kebohongan umum yang disamarkan menjadi kebenaran. Tetsuya tidak lah bodoh untuk menangkap ucapan tulus dari Seijuurou, karena ucapan yang terdengar tulus itu sesungguhnya tidak tulus sama sekali. Tak mungkin Seijuurou akan membiarkan Tetsuya pergi meninggalkannya sendirian di tempat itu, bahkan kalau bisa Seijuurou sendiri yang akan merantai sosok sang pengasuh pada dirinya sampai Tetsuya tak akan bisa meninggalkan sosok Seijuurou. Entah dari mana sifat yang seperti ini muncul pada diri Seijuurou, ia tak tahu akan hal itu. Mungkin sang Pangeran mulai menangkap sikap milik sang Kaisar saat keduanya bertemu beberapa saat yang lalu.

Meletakkan tangan satunya di atas kepala Seijuurou, Tetsuya pun membelai helaian halus tersebut untuk beberapa saat lamanya.

"Seijuurou-kun tak perlu khawatir mengenai diriku. Aku cukup menikmati pestanya," kata Tetsuya dengan lembut. Kedua mata biru langitnya tersebut menangkap sosok sang anak asuh seperti yang bersangkutan adalah orang paling berarti dalam hidupnya, tatapan itu membuat degup jantung sang Pangeran bertambah dua kali lipat. "Daripada mengkhawatirkanku yang sesungguhnya tak perlu dikhawatirkan, bagaimana kalau kita menikmati pestanya bersama-sama?"

Pertanyaan yang dilontarkan dari bibir mungil milik sang malaikat itu menangkap seluruh perhatian Seijuurou, membuatnya terfokus pada sosok pengasuh yang masih menatapnya dengan lembut, seolah-olah Tetsuya adalah seorang Ibu yang tengah menatap sang anak dengan lembut. Ia tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu selain dari Tetsuya, tatapan itu membuatnya malu namun senang pada saat yang sama, dan harus ia akui kalau Seijuurou sangat mendambakan sang pengasuh untuk memfokuskan perhatiannya pada diri Seijuurou.

Untuk sekali lagi jantung Seijuurou berdegup dengan keras dan rona merah yang tipis pun muncul di kedua pipinya. Meski ia tahu ekspresinya sangat menggelikan untuk dilihat, tak sekali pun sang Pangeran mengalihkan pandangannya dari sosok Tetsuya.

"Tentu, Tetsuya-san. Aku akan sangat senang bila kau mau menghabiskan malam ini denganku, menikmati pesta ini bersama," jawab sang Pangeran dengan mantap dan penuh wibawa pada sosok mungilnya. Jemarinya pun ia tautkan dengan milik Tetsuya yang mengijinkannya.

Sang malaikat tak habis pikir bagaimana mood sang anak asuh bisa berubah secepat ini, namun Tetsuya tak akan mempermasalahkan hal itu melihat ia sendiri merasa senang mendapati Seijuurou menikmati suasana di sekitarnya. Tetsuya pun memberikan anggukan atas ungkapan yang keluar dari bibir Seijuurou pun, hanya saja ucapan yang ingin ia keluarkan pun tak bisa keluar ketika mereka mendengarkan sebuah suara langkah kaki mendekat sebelum seorang anak laki-laki berkacamata dengan rambut pendek berwarna hijau emerald datang mendekati mereka.

"Akashi, kau pergi begitu saja –nodayo," sahut anak laki-laki berkacamata itu dengan nada kesal yang terpetak jelas di dalam suaranya. Sorot mata tajam yang tersembunyi di balik kacamata bening tersebut terlihat bertanya dan membutuhkan jawaban untuk pertanyaannya.

Kelihatannya anak laki-laki itu tak menyadari keberadaan Tetsuya yang tengah berdiri di samping Seijuurou.

"Shintarou, apa kau tidak tahu kalau aku tengah membicarakan sesuatu yang penting dengan seseorang?" Mata kiri Seijuurou berkilat tajam, membuat rona ngeri yang begitu ingin di sembunyikan oleh anak berambut hijau tersebut gagal untuk tidak muncul di wajahnya. Namun sang anak laki-laki itu mengontrol dirinya lagi agar dirinya tak terlihat sebagai orang bodoh.

"Orang siapa -nanodayo? Aku tak melihatmu berbicara dengan orang lain, Akashi. Kau seperti orang gila yang berbicara pada angin -nanodayo," jawab anak laki-laki berkacamata itu dengan ketus, ia pun mengalihkat tatapan matanya dari sosok Seijuurou sebelum rona merah yang tipis muncul di kedua wajahnya. "Aku mengatakan itu bukan berarti aku peduli padamu –nanodayo! Aku hanya tak ingin dikaitkan dengan Pangeran yang gila dan bicara pada angin –nanodayo."

"Hoo... kelihatannya hawa keberadaan Tetsuya-san benar-benar bekerja dengan baik," ujar Seijuurou pada dirinya sendiri sebelum ia menarik sosok Tetsuya untuk membuat anak laki-laki berkacamata yang ada di depannya itu sadar kalau mereka tidak lah sendirian.

Dan benar adanya, serta untuk kedua kalinya Tetsuya tak mampu membendung perasaan terhiburnya ketika ia menemukan anak laki-laki berambut hijau itu tersentak dari posisinya kala dirinya menyadari ada Tetsuya yang berdiri di sana. Kacamata yang dikenakan oleh anak itu melorot dan tanpa ada malu pada sosoknya seperti tadi ia pun menatap Tetsuya tanpa ada jeda, dengan keterkejutan masih terulas secara jelas pada wajahnya.

"Sejak kapan kau berada di sana –nanodayo?" Pertanyaan klasik anak itu mulai terdengar, dan Tetsuya pun hanya mengerjapkan kedua matanya sebelum ia memberikan anggukan kecil.

"Aku sudah berdiri di sini sejak tadi, temannya Seijuurou-kun," jawab Tetsuya. Dari sudut matanya ia bisa melihat Seijuurou menyeringai kecil melihat tingkah lawan bicaranya tengah berinteraksi. "Aku tidak tahu kalau ada teman dekat Seijuurou-kun ada di sini. Senang bertemu denganmu."

Anak laki-laki berkacamata itu ingin sekali menyanggah ucapan Seijuurou meski niatnya tersebut urung untuk dijalankan melihat sang Pangeran memberinya tatapan ganas dalam balutan es. Secara bijak, ia pun mengambil tindakan untuk mengunci bibirnya sendiri dan tak mengucap komentar apapun.

"Tetsuya-san, aku ingin memperkenalkanmu dengan Putra pertama dari Midorima Ryuujie, Menteri urusan luar negeri saat ini," ujar Seijuurou dengan senyum kecil. "Dia adalah Midorima Shin-"

"SHIINNN-CCHAAAN!" Suara yang sudah lama Tetsuya tak dengar pun bergaung di sana, dan ia pun melihat si pemilik suara langsung menerjang anak laki-laki berambut hijau yang baru ia ketahui bernama Midorima Shintarou tersebut dari belakang. "Tega sekali kau meninggalkanku sendirian di rumah, Shin-chan. Untung sekali Ibumu memberitahuku ke mana kau pergi sehingga aku dapat mencarimu. Kau ini, bagaimana kalau ada iblis yang ingin memakanmu ketika aku tak ada di sampingmu? Jangan bertindah gegabah, Shin-chan!"

Rengekan yang terkesan kekanakan serta pinta yang rasional pada saat yang sama pun membuat Tetsuya semakin tercengang, meski ekspresi sang Archangel saat inimasih tak berubah sedikit pun. Sudah lama ia tak melihat orang ini. Tetsuya tahu kalau Seijuurou merasa kesal karena ucapannya disela untuk yang pertama kalinya di sini maupun Midorima yang terlihat kesal juga namun dengan alasan yang berbeda. Sang malaikat menghiraukan kedua fakta tersbut demi memfokuskan perhatiannya pada sosok orang yang masih memeluk Midorima dari belakang. Sosok seorang teman lama yang baru muncul pada saat ini, dan ketika tatapan milik Tetsuya bertemu langsung dengan tatapan tajam milik sang teman, pada saat itu keheningan yang berbalut dengan sedikit ketegangan pun tak bisa dibendung.


AN: Archangel memiliki enam sayap berwarna putih. Terima kasih pada kalian yang sudah membaca fanfic ini, juga kepada kalian yang memfollow, memfavoritkan, serta memberikan review di sini.

Author: Sky