Tidak sekali itu saja Tokugawa Ieyasu menyiksa dan mempermalukan Ishida Mitsunari di penjara bawah tanah. Shogun itu butuh hiburan, dia bisa mati bosan jika di istana ini tidak ada hiburan. Namun demikian, dia sama sekali tidak menyentuh tubuh kurus berkulit pucat itu dengan tangannya. Dia tahu, Mitsunari tidak haus akan sentuhan tangannya. Mitsunari tidak butuh cinta, tidak butuh kasih sayang, tidak butuh belaian sensual di kulitnya. Percuma saja, karena hatinya sudah penuh dengan dendam dan benci. Dihapus dengan kebaikan sedikit sekali pun, tidak akan ada habisnya.
Ieyasu tidak peduli apakah Mitsunari akan menampik atau menikmatinya. Hingga jiwa temaram itu berpisah dari raganya, Ieyasu akan terus mempermalukannya…
Penjara bawah tanah itu menjadi tempat paling tersembunyi di komplek Istana Edo. Mitsunari tidak lagi bisa membedakan siang dan malam. Jarak pandang matanya tidak bisa menembus kegelapannya. Dia hanya diberi makan dan minum, dimandikan, dan digantikan pakaian. Shogun hanya mengunjunginya jika dia sedang bosan dan ingin dihibur. Mitsunari sudah lelah menerima perlakuan ini. Tenaganya terkuras habis, suaranya semakin parau, matanya terlihat bengkak karena sering menangis dan kurang tidur.
"Hideyoshi-sama…Hanbei-sama...uuurgh…"
Suara derap langkah kaki terdengar dari luar penjara. Mitsunari mengangkat kepalanya yang sedang diistirahatkan di atas kedua lututnya. Terlihat cahaya obor yang bergerak mendekati ruangannya. Bayangan seseorang memanggul senjata besar di pundaknya terpantul di dinding. Dia tidak perlu diberitahu siapa orangnya. Ketika cahaya obor mulai menerangi sekelilingnya, dia bisa melihat jelas pria berambut perak yang masuk ke penjara dan mendekatinya.
"Selamat siang, komandan perang kubu barat. Apa kabarmu?"
Mitsunari terperangah dan menjawab, "Chosokabe…"
Obor itu diangkat tinggi oleh Chosokabe Motochika supaya dia bisa melihat jelas laki-laki di depannya. Dia berkata, "Oh tidak, kau terlihat menyedihkan sekali, Komandan! Hey, Ieyasu. Kau sangat kasar memperlakukannya seperti ini."
Menyusul di belakangnya, Ieyasu datang juga membawa obor. Dia menatap dingin Mitsunari dan berkata, "Aku hanya memberinya pelajaran, Motochika. Di samping itu, aku butuh hiburan."
"Hiburan, eh? Lihatlah, Ieyasu. Wajah tampannya terkoyak. Tubuhnya semakin kurus. Aku berharap bisa bertemu dia dalam keadaan segar bugar. Dia kan pernah menjadi komandan pasukan kubu barat. Tampilannya seharusnya bisa lebih baik dari ini."
Ketika Motochika mengulurkan tangan hendak memegang wajah Mitsunari, laki-laki berambut perak itu menggeram dan menjauhkan dirinya dari Motochika. Bajak Laut itu tertawa dan berkata, "Aku tidak mengerti. Pelajaran macam apa yang sudah kau berikan padanya, Ieyasu? Kau terlalu kejam, kurasa. Apa kau berencana untuk mengurungnya terus sampai dia mati? Dia bisa berguna untukmu kan?"
Ieyasu ikut berdiri di samping Motochika dan berkata, "Aku hanya perlu orang berhati bersih untuk kujadikan bagian dari pemerintahanku."
Motochika tidak menyerah meraih dagu Mitsunari dalam cengkeramannya. Sekali dapat, dia langsung memaksa laki-laki berkulit pucat itu menatapnya. Gigi Mitsunari gemeretak menahan marah, tatapannya tajam dan galak. Melihatnya seperti ini, Motochika malah senang. Dia menyeringai dan berkata, "Malang sekali nasibmu, Komandan. Aku tidak sampai hati melihatmu seperti ini. Ieyasu kejam sekali ya? Kau pasti kesakitan karena disiksa terus olehnya."
"Diam! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" tukas Mitsunari marah.
Bajak Laut itu tertawa dan berkata, "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku rindu dengan sorot matamu yang bersih, Ishida. Sayang sekali konflik kecil di antara pasukan kubu barat menyebabkan aku memutuskan keluar dari barisanmu."
Dagu Mitsunari ditarik semakin dekat kepadanya dan dia melanjutkan, "Tidak asyik, bukan? Dikurung dalam kegelapan seperti ini dan disiksa sepanjang hidupmu. Oh, Shogun-san. Bisakah kau lebih berbaik hati padanya?"
"Percuma aku berbaik hati padanya. Dia tidak pernah menghargai apa yang kuberikan padanya. Makan, minum, tempat tinggal, pakaian, dan perlakuan baik dari para penjaga penjara, semuanya kuberikan. Tapi hatinya sudah keruh oleh rasa benci dan dendam. Sedikit pun ruang tak diberikannya untuk rasa cinta dan kasih," jawab Ieyasu.
"Kau dengar dia, Ishida? Ieyasu masih mencintaimu. Kau dibiarkan hidup supaya kau menyadarinya. Bukankah lebih baik kalian hidup berdamai? Perang sudah selesai. Kau mau apa lagi, hah?"
"Grr…! Kematian Hideyoshi-sama dan Hanbei-sama tidak akan bisa dibayar dengan kekalahanku atau matinya prajuritku di Sekigahara!" geram Mitsunari.
"Dendam ya? Aku sungguh tidak mengerti mengapa kau begitu dibutakan oleh rasa dendam, Ishida. Apa yang kau harapkan dengan membalaskan dendammu? Jika kau bunuh Ieyasu di medan perang, apa itu bisa memuaskan hatimu? Bahkan jika kau mengorbankan jutaan orang, tuanmu tidak akan hidup kembali."
"Kau—!"
Motochika melepas cengkeramannya dari dagu Mitsunari dan mendorong tubuhnya menjauh darinya. Dia lalu berbicara kepada Ieyasu, "Shogun-san, daripada kau mengurungnya seperti ini terus menerus, aku akan membawanya bersamaku."
Ieyasu terkejut mendengar Motochika mengatakan ini. Dia nyaris kehilangan kata-kata saat mendengarnya melanjutkan, "Kau bilang ingin memberinya pelajaran kan? Aku tahu bagaimana perasaanmu, Ieyasu. Izinkan aku, sebagai sahabatmu, memberimu nasehat yang mungkin bisa kau pertimbangkan mengenai Ishida."
"Katakan," jawab Shogun itu sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Jika kau ingin memberikan pelajaran, keluarkan dia dari sini. Suruh dia lihat bagaimana keadaan negeri yang kau pimpin sekarang. Karena tuannya gagal menyatukan Jepang di masa lalu, maka kau harus menunjukkan padanya keberhasilanmu. Dia perlu melihatnya, bahwa Jepang sekarang sedang masuk masa kejayaan yang baru. Era yang sekarang jauh lebih baik dari dulu. Inilah yang dimaksud pembelajaran, yaitu bagaimana dia menerima perubahan."
"Menerima…perubahan…" gumam Ieyasu sambil berpikir.
"Alasan pribadimu sebenarnya bukanlah ingin memberikan pelajaran. Tapi kau tidak ingin Ishida jauh-jauh darimu. Iya kan, Ieyasu?"
"Apa menurutmu dia mau menerima perubahan yang terjadi di luar sana, Motochika? Sampai sekarang dia masih terus meratapi kematian Hideyoshi-kou dan Hanbei-donno. Penjara yang gelap ini tidak bisa menyentaknya keluar dari kenyataan pahit. Apa lagi yang harus aku lakukan?"
"Berikan dia padaku, akan kubawa dia ke Shikoku."
"Kau yakin, Saikai no Oni? Mitsunari itu—"
"Kau percaya padaku kan, Ieyasu? Sebagai teman, aku yakin kau percaya padaku. Jika kau mengurungnya dalam kegelapan, hatinya akan semakin gelap. Jika kau memberinya cahaya, hatinya akan terang. Begitupula dengan pikirannya, akan terbuka semakin lebar."
Ieyasu melempar pandangan bertanya kepada Motochika. Usahanya menyadarkan Mitsunari tidak pernah berhasil sampai detik ini. Sejak mereka tergabung di dengan Toyotomi, Mitsunari selalu berseberangan dengannya. Namun demikian, ada kalanya mereka bisa satu jalan pemikiran. Ieyasu sebenarnya merindukan masa kebersamaannya dengan Mitsunari. Dia berharap setelah perang Sekigahara bisa membujuk orang terkasihnya itu kembali berdamai padanya.
Mitsunari menolaknya, menolak kebaikan hatinya, menolak cinta dan kasihnya…
Dendam dan benci itu mengeruhkan hatinya yang bersih…
Demikian pula dengan sorot matanya…
Setelah menimbang cukup lama, Ieyasu kemudian berkata, "Aku percaya padamu, Motochika."
"Bagus!" balas Motochika bersemangat. "Itu artinya kau setuju jika Ishida kubawa bersamaku ke Shikoku. Ingatlah, Ieyasu. Sekarang kau telah menjadi Shogun. Banyak tugas yang harus dikerjakan. Pikiranmu tidak boleh terpecah hanya karena persoalan sepele macam ini."
Iblis Penguasa Lautan itu mengayun jangkar besarnya dan diarahkan ke rantai-rantai yang membelenggu tubuh Mitsunari. Sekali ayun, rantai-rantai itu terlepas dari dinding. Mitsunari sekarang terbebas. Tubuh ringkihnya dicoba digerakkan. Dia menatap kedua tangannya yang terluka, dia meraba lehernya yang sakit karena diborgol cukup lama. Bola besi pemberat di kakinya juga dilepas oleh Motochika dengan jangkarnya. Pria bermata satu itu berlutut satu kaki mendekatinya. Dia mengulurkan tangan dan berkata, "Ikutlah denganku, Ishida. Dunia di luar sana begitu indah. Kau harus melihatnya dengan mata kepalamu sendiri."
"Mengapa kau melakukan ini padaku?" tanya Mitsunari. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, aku tidak butuh pertolongan siapa pun! Lebih baik aku mati di sini!"
"Menurutmu kematianmu bisa membahagiakan tuanmu yang sudah mendahuluimu, hah? Nyawa barang seorang pun tidak akan bisa membangkitkannya lagi. Kematianmu tidak akan berarti apa-apa, Ishida. Kau bisa membuat segalanya lebih baik dengan tetap hidup."
"Cih! Semua orang bicara seperti itu padaku! Tidak terkecuali kau, dan Shogun sombong yang berdiri di belakangmu!"
"Atau mungkin kau juga sudah menaruh perasaan terlalu dalam kepada Shogun sombong itu?"
"Aku membencinya! Aku sungguh—"
"Ya ya, aku tahu itu," kata Motochika sambil membelai kepala Mitsunari. "Tanpa kau berteriak, aku tahu bagaimana perasaanmu. Ieyasu juga mengetahuinya."
"Tapi dia tidak pernah mau mengerti!" balas Mitsunari sambil bergerak menjauhinya. Dia mencengkeram kepalanya, tubuhnya gemetar hebat. Dia melanjutkan, "Dia tidak mau mengerti perasaanku. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Aku dipermalukan, dilecehkan, disiksa sampai tak ada lagi tenaga tersisa di tubuhku. Aku tidak lagi utuh, Chosokabe! Percuma kau bawa aku dengan kapal besarmu, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu!"
"Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya, Ishida. Mulai sekarang, kau sudah bebas. Kau akan meninggalkan penjara ini dan ikut denganku berlayar."
Mitsunari sudah tidak bisa lagi melawan. Dia menggerutu kesal karena tidak ada lagi pilihan yang bisa diambilnya. Ieyasu pun kembali menegaskan padanya, "Jika kau tidak mau tinggal di sini, ikutlah dengan Motochika. Karena aku tidak akan memberikan pilihan apa pun lagi padamu, Mitsunari."
Motochika melepas jaket ungunya dan dipakaikan ke tubuh Mitsunari. Dia dan Ieyasu kemudian melangkah keluar dari penjara. Ieyasu melempar pandangan dingin padanya, menyuruhnya untuk mengikuti mereka keluar. Dipenuhi rasa bimbang, Mitsunari masih enggan melangkahkah kakinya. Dia sudah terlalu lelah, tenaganya tidak ada yang tersisa. Dia harus mengambil keputusan dalam kondisi menyedihkan seperti ini.
"Hideyoshi-sama…izinkan saya…" gumamnya kemudian sambil melangkah keluar dari balik penjara yang gelap itu. Tanah yang ditapakinya terasa dingin di telapak kakinya. Dia berjalan di belakang Ieyasu dan Motochika. Mereka menapaki tangga naik ke permukaan. Cahaya matahari yang terang mulai terlihat, Mitsunari menghalau silau cahayanya dengan satu tangannya.
Untuk pertama kalinya, Mitsunari kembali menghirup udara segar dan merasakan terik sinar matahari mengenai kulitnya. Matanya sakit karena tidak kuat menahan silau sinar matahari. Dia kemudian melihat Ieyasu dan Motochika membalik badan menghadap padanya. Mereka tengah menanti keputusan yang diambil olehnya. Sekali lagi dia menimbang dalam pikirannya. Dia sendiri tidak tahu apakan pilihannya sudah tepat. Terus terang dia tidak berani memilih karena dia terbiasa diarahkan. Kedua tangannya bertautan di depan perutnya. Sorot matanya meredup dan terlihat bimbang.
"Mitsunari, ini adalah hari kebebasanmu. Aku sudah tidak lagi bertanggung jawab atas kehidupanmu," kata Ieyasu menegaskan. "Motochika akan menjadi tuanmu selanjutnya. Dia adalah sahabatku, orang yang sangat baik dan banyak membantuku dalam pemerintahanku."
Motochika lalu mendekatinya dan meletakkan tangan di bahunya. Dia menengadah, mata hijau kekuningannya bertemu dengan mata biru Bajak Laut itu. "Shogun sudah menyatakan demikian, itu artinya dia mengizinkanmu untuk ikut denganku."
Mitsunari menunduk dan mendengus marah. Dia membuang pandangannya ke arah lain selagi mendengarkan Motochika melanjutkan, "Tapi akan menjadi masalah jika suatu hari kalian dipertemukan kembali. Aku perlu melakukan sesuatu sebelum membawamu pergi. Na, Ieyasu. Aku punya permintaan istimewa padamu."
Ieyasu menjawab, "Sebutkan permintaanmu, Saikai no Oni."
"Aku akan menghapus identitas Ishida Mitsunari selamanya. Dia akan memulai hidupnya dari awal. Jika suatu hari nanti dia bertemu lagi denganmu, dia bukanlah Ishida Mitsunari yang kau kenal."
"Mengapa kau melakukan ini, Motochika?"
"Kau harus melupakannya, aku pun akan menyuruhnya melupakanmu. Yang belajar bukan hanya Ishida, tapi juga kau, Shogun-san."
Shogun bermata cokelat itu seperti mendapat hantaman keras di kepala dan dadanya. Dia tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Dia akan benar-benar berpisah dengan Mitsunari seutuhnya. Entah kapan lagi mereka akan dipertemukan. Jika waktunya tiba, mereka tidak akan saling kenal lagi. Motochika akan mengubah identitas Mitsunari. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya dan dia menjawab, "Aku izinkan, Motochika. Ini lebih baik."
"Siapkan dirimu untuk tidak lagi mengenal dia sebagai Ishida Mitsunari, sebagai orang yang pernah berjuang bersama-sama denganmu, sebagai orang yang telah menoreh luka di hatimu, sebagai orang yang pernah kau cintai," kata Motochika menegaskan. "Aku tahu ini berat untukmu. Perlahan tapi pasti, kalian berdua bisa melakukannya."
Ieyasu tertawa getir dan berkata, "Kau sahabatku, juga memperlakukanku sangat kejam, Motochika."
"Cukup adil, bukan? Karena kau sudah memperlakukan Ishida dengan tidak adil. Ini pembelajaran untuk kalian berdua. Tak akan ada lagi ikatan di antara kalian. Na, Ishida. Saatnya kita pergi. Ucapkan selamat tinggal pada Shogun."
Motochika merangkul pundak Ishida dan mengajaknya membalik badan membelakangi Ieyasu. Shogun itu meredupkan sorot matanya, memandang sahabat dan mantan sahabatnya bersiap pergi meninggalkannya. Dadanya terasa sesak, perasaannya bergejolak. Dia tidak berani mengangkat wajahnya, melihat kedua orang itu melangkah menjauhinya.
"Motochika!" serunya kemudian. Dia mengumpulkan segenap keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Motochika membalik badan, tapi tidak dengan Mitsunari yang masih memunggunginya. Selagi Bajak Laut itu menatap dan mendengarnya, dia meneruskan, "Jika kau berniat mengganti namanya, panggillah dia dengan nama Sakichi."
"Sakichi? Mengapa harus nama itu?" tanya Motochika tidak mengerti.
"Dia yang akan menjelaskannya padamu, Saikai no Oni. Pesanku padamu, jaga dia baik-baik. Aku sudah tidak bisa lagi memberikan apa pun padanya. Aku tidak akan tahu masa depannya nanti seperti apa. Aku sudah memberikan apa yang kupunya untuknya. Aku harap kau bisa memenuhi apa yang kurang dariku. Kedua tanganku takkan bisa menjangkaunya lagi, suaraku tidak akan mencapai telinganya lagi, hatiku tidak akan bisa memberinya cinta dan kasih."
"Ieyasu…"
"Aku tidak akan melihatnya lagi. Maka itu jaga dia baik-baik. Sampai nanti kita bertemu lagi, aku berharap bisa melihatnya tampil sebagai manusia yang baru…"
Tak disangka ada sekumpulan air mata memenuhi kelopak mata Ieyasu. Dia bersusah payah menahannya supaya tidak menetes keluar dari sudut matanya. Dia lantas membalik badan dan bersiap kembali ke istananya.
"Na, Ishida. Ada yang ingin kau sampaikan sebelum kau berpisah dengan Ieyasu?" tanya Motochika kepada Mitsunari. "Katakan sesuatu selagi kau masih bisa mendengar suaranya. Ungkapkan apa yang ingin kau ungkapkan. Setelah ini, kalian tidak akan terhubung lagi."
Laki-laki berambut perak itu hanya menunduk, dia menarik jaket ungu milik Motochika dan merapatkannya di depan dada. Bibir tipisnya dikulum, seakan ingin mengucapkan sesuatu yang tertahan. "Ieyasu…" katanya kemudian terdengar lirih. "Aku telah menerima segala perlakuanmu padaku. Segala yang baik akan kusyukuri, segala yang buruk kujadikan pelajaran. Aku akan menjadi orang yang baru dan menjalani kehidupanku yang baru. Namun kau harus tahu satu hal. Meski kita tidak lagi bertatap muka, meski suara kita tidak saling memanggil, meski hubungan kita telah terputus, perasaanku tidak akan pernah berubah padamu."
Badan kecil laki-laki berambut perak itu berbalik dan melihat Ieyasu memunggunginya. Air matanya tak terbendung, emosinya memuncak, dadanya terasa mau pecah. Bibir tipisnya yang gemetar itu mengucapkan kalimat yang akan terus diingat oleh Ieyasu meski nanti mereka tidak lagi saling kenal.
Sebagai akhir dari hubungan mereka…
Sebagai akhir dari cerita mereka…
"Bahwa aku masih mencintaimu…"
-the end-
A/N : terima kasih sudah mampir di fanfic ini. shipper ieyasu/mitsunari, mari merapat dan silakan membaca. Boleh banget lho mampir ke kolom review untuk komentar, saran, dan kritik.
Oia, ini fanfic punya rating R21 ya. Banyak adegan rape dan violence. Kalo gak kuat, saya sarankan untuk tidak membaca. Dan yang gak suka, plis jangan kirim flame. Terima kasih ya…
