I'M BAAAAAAACKKKK! Ngek. Habis gedubrukan gara-gara tadi kena INTERNET POSITIF, dan makasih buat Author kichikuri61 yang udah ngasihtau aku tentang zenmate. MAKASIH KAK!
Welcome back to Mea Fiction my Readers this is Mea here. MMAPGaming, copas kata-katanya ya. MUAHAHA
Balesin review para pembaca dulu~
Putri sofiany : Thanks bro~ A, a, a, ada beberapa alasan kenapa aku nggak bikin fic yaoinya. Satu, ini genderbender fic. Jadi para uke dibuat cewe dan jadi istri para seme. Dua, aku masih dua belas tahun. Aku say no buat bikin fic yaoi. Tapi kapan-kapan aku bakal bikin deh XD mau belajar bikin fic rated M HUEHEHEHEHEHEHE *ditampar* (All chara : INGET UMUR LUUUU!)
L w bunga : Iya itu gara-gara DBD. Ah ya.. ShinKen.. Oke, aku akan masukkan pair mereka, Insya Allah, kalo inget. Makasih banget usulnya! Jadi inget Author Purunyaa aku. Dulu dia mau bikin fic tentang maen keluarga-keluargaan di Basara, tapi katanya gak jadi. Kalo gasalah, ada dialog begini
Masamune : "Yak! Kita maen keluarga-keluargaan jadinya ya! Gue jadi bapak, Yuki jadi emak, Sasuke jadi anak, terus—"
Kojuro : "GUE JADI ANJINGNYA! YEEEEY! JADI ANJING!"
Masamune : *ngelempar negi* "GAK ADA ANJING-ANJINGAN DISINI!"
Makasih banget sekali lagi~~~
Dissa-CHAlovers : Emang udah nasib mereka begitu.. huwee aku kasian sebenarnya sama kak Alen. Tapi dia rela aja kok Keiji dibuat sedih XD ah, lu mo fangirling pas baca bagian para anak-anak maen? KYAAAAH! (Readers : Dih, malah elu yang FG!) Kalo ada Shirayuki tambah seru lagi tuh mainnya XD Secara, Shirayuki itu kan... terlalu polos dan ceplas-ceplos ngomongnya kyaaaah XD
lulu no ryuucute : Makasih! :) Yee kita sama-sama kelas 7.. Mea ada temennya sesama kelas 7 yee XD oh, fic request itu.. WAKAKAK! Iyee makasih reviewnya yee
Guztianyzic : Bah.. bukannya dari dulu ada ya.. ._. oke ini sudah dilanjut..
Sip dah. Persoalan cerai itu masih DI-RA-HA-SI-A-KAN! YEEEY! Oke, gue gak jadi masukin school activity. Iya maap, gue baru selesai UAS Sabtu siang tadi, terus gitu ngeblank semua otak gue. Jadi sebulan dua bulan terakhir gue emang suka ngilang-ngilangan di FFN. Hehe. Udah update nya lama banget lagi. Moodku langsung down begitu diputusin pacar *ehem*. Aku serius. Habis diputusin kisaran dua minggu yang lalu dan.. ah, sudahlah. Jan cerita disini ntar atutnya dia baca.
BETEWE KENAPA DISINI PAIR PEMBUKANYA HARUS IEYASU x MITSUNARI SEH? Kalo di RL.. Ieyasu itu dia dan Mitsunari itu cewek yang pernah ngerangkul Ieyasu di sekolah. Cewek yang udah bikin gua cemburu luar biasa. Mitsunari.. tingkah dia tuh kek ngerasa gak ada siapapun yang suka Ieyasu, taunya ada, ya see? Greget gue. Sekarang gua benci lagi sama Mitsunari itu, padahal tadinya udah baikan argh sialan
Selamat baca minna-san!
Mitsunari menitikkan air matanya melihat anaknya terbaring lemah di ranjang tidur. Rasa khawatir dan menyesal terus mendesakki dirinya, memenuhi pikirannya. Ia sudah keluar banyak uang untuk pengobatan rumah sakit. Mengingat keluarganya yang memang bukanlah keluarga berada, ia terus meminta Tuhan untuk memberikan yang terbaik baginya, suaminya, dan anaknya.
Saat ini sudah mendekati Ujian Akhir Semester, Mitsunari tentunya tidak ingin membuat anaknya itu stress karena disaat baru sembuh, dia harus langsung mulai belajar, belajar, dan belajar untuk menempuh ujian tahun ini.
"Mitsuki sayang..," bisik Mitsunari pelan sambil mengelus dahi anaknya yang sedang tertidur pulas setelah merengek minta pulang. Ia merapikan rambut anaknya lembut. "Jangan sakit lagi habis ini, ya."
Jari jemarinya memainkan rambut Mitsuki yang warnanya serupa dengan rambutnya. Ekspresi wajah dari Mitsuki yang sedang tertidur membuat Mitsunari gemas dan membuatnya ingin sekali menyubit pipi anaknya yang mungil itu.
Terdengar ketukan pintu kamar. "Konnichiwa, Mitsunari- chan, aku membawakanmu sushi kesukaanmu," sahut Ieyasu pelan seraya membuka pintu.
"Ap—apa? Sejak kapan Ieyasu-sama keluar kamar?" tanya Mitsunari sambil mengambil plastik berisi bungkusan sushi itu.
"Sejak kapan apa? Aku sudah minta izin padamu tadi," ujar Ieyasu sambil melangkah ke ranjang Mitsuki. "Bagaimana keadaannya?"
"Dia sehabis menangis merengek minta pulang." Mitsunari menghela napas sedih. Semewah apapun kamar rawat yang ia dan keluarganya tempati ini, tetap saja Mitsunari merasa tidak nyaman.
"Ya, aku tahu itu." Ieyasu mengelus paha Mitsuki. "Maksudku, perkembangannya."
Mitsunari terdiam sebentar. "Tidak banyak, tadi suster hanya masuk sebentar untuk mengganti infusnya—"
"Aku bertanya apa, kau jawab apa, gimana sih?"
"Susternya bilang sebentar lagi darah Mitsuki akan diambil untuk dites."
Ieyasu tersentak. "Ck. Kasihan Mitsuki. Berapa kali ia merengek ketika darahnya diambil? Jarinya sampai banyak bekasnya."
"Memang begitu, Ieyasu-sama. Semakin rendah trombositnya, maka semakin sering juga tes darah."
Ieyasu lemas. "Andai saja dia tidak sakit, tentunya dia tidak akan merasa bosan seharian. Dia kan.. Pecicilan."
Mitsunari mengangguk, kemudian ia membuka bungkusan sushi yang dibelikan Ieyasu. "Aku makan dulu, ya."
"Iya."
Dengan cekatan, Mitsunari mengambil sumpit dan mematahkannya menjadi dua. Kemudian ia menjepit satu sushi di antara kedua sumpit itu.
"Permisi—" seorang dara cantik berpakaian perawat membuka pintu kamar sambil membawa kotak peralatan. Rambut pirangnya yang panjang setiap bagian kanan dan kiri dibiarkan terurai panjang, sementara rambut belakangnya yang dipotong pendek.
Mitsunari kaget. Ia tidak jadi makan. "Dites darah.. lagi..?"
"Tentu saja, Mitsunari-san," jawab perawat itu ramah. "Oh ya, nama saya Kasuga. Mitsunari-san bisa memanggil saya kapanpun bila anda perlu saya." Kasuga tersenyum manis.
"Eh—hai.." angguk Mitsunari.
Kasuga melangkah menuju ranjang Mitsuki dan mengamatinya sebentar. Ia menghela napas, kemudian membuka tutup kotak perawatan itu. Dengan cepat ia mengambil kain kasa dan jarum—untuk mengambil darah Mitsuki.
Brand new morning.
Kini Shinju dan Raito telah wangi dan rapi. Mereka siap untuk berangkat menuju sekolah. Dua anak kembar ini berlomba memakai kaus kaki dan sepatu. Hal yang konyol, tapi bukankah wajar untuk dilakukan oleh anak-anak seusia mereka? Hahaha.
"Ayo! Aku sudah selesai satu kaki, lho!" ejek Raito kepada saudarinya.
"Tidaak~" seru Shinju cemas, kemudian mempercepat gerak tangannya.
"Shinju, Raito, jangan main-main. Cepat, atau kalian akan telat!" perintah Motonari kesal dengan anak-anaknya yang menurutnya terlalu gemar bermain. Motonari menginginkan anaknya bisa serius dalam segala hal yang tidak ada istilah bercanda atau main-main. Sadis.
"Yaah, okaa-san, kan cuma balapan pake sepatu doang!" gerutu Shinju.
Motonari menarik kedua baju anaknya kasar. "Tidak main-main. Cepat."
"Aah—! I—Iya!" balas Shinju dan Raito cepat, kemudian segera menyelesaikan pemakaian sepatu mereka masing-masing.
Begitu selesai memakai sepatu, kedua anak kembar ini langsung mencium tangan ibunya seraya pamit pergi ke sekolah.
"Di sekolah jangan nakal, ya," nasihat Motonari. Emosinya labih, ih.
"Iya, okaa-san." Shinju dan Raito pun segera berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Iyalah, di Jepang kan kagak boleh dianter kalo ke sekolah ntu. Pake sepeda aja cuma boleh buat kelas 12. Bersyukur tinggal di Indonesia gue.. soalnya SMP gue jauh. Ada 1,5 km lebih kali. Kalo gue jalan kaki yang ada besoknya pincang gue. Hehehe. Soalnya angkot D.09 (arah ke rumah gue) susah dicari di Depok ntu. Bukan susah dicari sih, tapi tau gak, sekota itu tuh cuma ada 55 unit angkot D.09. jadi jalannya tuh bisa 20 menit sekali atau sejam sekali malah. Sekali dapet, angkotnya full. Udah gitu yang arahnya ke rumah gue juga banyak, sekitar 6 orang lebih. Belom lagi kalo jalanan pada dicor. Eh, gak deng. Malah kalo jalan dicor, banyak angkot mangkal. PFFFTT—MALAH MELENCENG.
"Hahh, anak-anak memang susah sekali diatur," keluh Motonari sambil merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Mouri?"
Motonari menengok.
"Anak-anak sudah berangkat?"
Oh, rupanya itu adalah suaminya, Chousokabe Motochika, yang dulu sempat tenar di sosial media karena ketampanannya dan kekayaannya, yang dulunya dipopulerkan oleh Ieyasu. Oke abaikan yang barusan XD
"Sudah, Chousokabe-sama," jawab Motonari sedikit jutek, kemudian ia duduk dan memberi ruang untuk Motochika agar dia bisa duduk.
"Ya sudah." Motochika mengambil segelas air yang ada di meja dan langsung meminumnya sampai habis. "Aku langsung berangkat kerja ya, sayang."
"Hei! Itu minumku!" seru Motonari kesal sambil merebut kembali gelasnya.
"Maaf—"
"Sudah, lupakan."
Motochika mendekati istrinya itu. "Kamu nggak apa-apa 'kan?"
"—ngh." Motonari menundukkan kepalanya.
'Ada apa dengan Mouri?' batin Motochika heran. Ia duduk di sebelah Motonari seraya mengelus kepala istrinya lembut, kemudian mencium pipinya.
"A—Aku menarik baju Shinju dan Raito dengan kasar tadi pagi." Motonari memberanikan diri angkat bicara. "Maaf—"
"Sudah berkali-kali kuperingatkan padamu, mengapa kamu tetap melakukannya juga? Jangan melakukan kekerasan kepada anak sekecil apapun itu. Kau bisa merusak mental mereka berdua."
Motonari terdiam sesaat. "Aku tidak peduli."
"Kau tahu, Mouri? Date memberitahuku tadi pagi bahwa Raito sering mengejek Masaryuu di sekolah. Raito pernah memukul Masaryuu di sekolah. Selain itu, Masaryuu pernah dibully seharian oleh Raito. Apa kau tak pernah berfikir sampai kesana?"
"Oh." Motonari berbicara seperti ia tidak peduli akan apa yang dikatakan Motochika seluruhnya ditambah dengan ekspresi malasnya.
"MOURI! Aku bicara serius!" bentak Motochika mulai kesal. Motonari tidak menunjukkan ekspresi kaget atau takut—bahkan sedih. "Kau harus mengajarkan anak-anakmu kebaikan, Mouri! Bukan dengan main fisik!"
Motonari menatap mata suaminya itu. "Lalu?"
Emosi Motochika sudah meluap. Ia mengangkat tangan kanannya seraya mengayunkannya kencang menuju pipi kiri Motonari. "KETERLALUAN! IBU MACAM APA KAU INI?! MENGAJARKAN ANAK SAJA TAK BISA!"
Pak!
"C—Chousokabe..," lirih Motonari sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan keras dari Motochika itu.
"Sudahlah! Buat apa juga aku disini! Lebih baik aku pergi bekerja!" seru Motochika sambil mengambil tas kerjanya dan langsung keluar rumah—tanpa ciuman tangan dari istri tersayangnya itu.
'Mengapa aku harus memiliki istri seperti Mouri? Yang keras kepalanya luar biasa itu?'
... To Be Continued ...
Oke…. Udah dilanjutinnya lama, PENDEK banget lagi. Cuma 1,072 kata. Dan.. OMG.. KDRT.. gak nyangka gue bisa kejam banget sama Motonari tersayang..
Betewe, gue kembali, nih. ADA YANG KANGEN GAK? MUAHAHAHA—ohok. Jadi ceritanya gue pengen balik aktif FFN lagi dan aktif ngetik lagi, sayangnya sinyal nggak mendukung. Bayangin gue sampe diomelin ortu gara gara buka pintu lebar lebar biar dapet sinyal curian dari tetangga. *evil laugh* taunya kan Internet Positif. kan ngeselin huhuu makasih banyak buat kichikuri61 pokoknya deh :')
Pas Mea ngetik bagian tamparan Motochika itu, dada Mea langsung sesek entah kenapa. Lebay ah paru-paru gue. Mungkin karena gue keinget sama dia—ARGH! Sudahlah gue gak mau nginget-nginget itu dulu sekarang. Gue masa disorakin sama dia waktu gue deket-deket sama cowok yang dulu bikin dia cemburu. Mana kemaren (Kamis malem(?)) gua mimpi pipi gue hampir dicium sama cowok itu! IIH! KAMPRET! NAJIS TRALALA!
Gue langsung hate banget pair IeyasuxMitsunari hih. Jadi benci juga IeyasuxMagoichi. Benci juga MagoichixKeiji. Mending gue balik ke MasamunexYukimura—pair kedua yang paling gue suka setelah YukimuraxOichi(?)
Oke. Jadi setiap chapter akan tersirat sebuah atau lebih amanat (?) agar fic ini menjadi TAMVAN DAN BERANI. Wkwkw.
Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or click follow me or stand by in my profile to wait for reading my future fiction. Good bye!
(Readers : PLAGELATO MMAPGAMING LU!)
*kabur nonton video MMAPGaming lagi*
