SECRET ADMIRER

.

.

.

Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun (ChanHun), Kim Jongin (little bit KaiHun), and other cast.

Rated : M

Genre : Romance, School life, yaoi

.

.

Chapter 3 (Second Clue : Azalea)

.

.

"Astaga Baekhyun, lihatlah!" Pekik Sehun.

"Ada apa Hun?" Baekhyun mendekati Sehun.

"Kemari, lihatlah!" Sehun menarik Baekhyun untuk melihat isi lokernya.

"Omonaaa, cantik sekali, Hun"

"Hei, yang benar saja, siapa orang yang berani-beraninya mengirimiku seperti ini?" Dengus Sehun.

"Lihat, ada sticky note di pot nya" ucap Baekhyun sambil mengambil sticky note itu.

Ternyata isi dari loker Sehun adalah sebuah pot kecil bunga Azalea berwarna merah muda yang cantik. Di pot nya tertempel sebuah sticky note.

Baekhyun membaca sticky note tersebut.

.

Seperti arti bunga Azalea ini, you are my first love, and now you still be my first love. I love you, Oh Sehun.

-pengagum rahasiamu-

.

"Cih, picisan sekali" decih Baekhyun.

"Orang gila mana lagi yang mengirimiku seperti ini? Entahlah aku lelah, aku tak peduli, lebih baik kubawa saja bunga ini dan ku pajang di jendela apartemen ku, lumayan untuk mencerahkan mata disaat keadaan apartemen ku seperti kapal pecah, haha" Sehun tertawa renyah.

"Lebih baik kita segera menuju rumah Kai, Jongdae juga sudah menunggu di depan gerbang"

"Baiklah, ayo"

.

.

.

Toktoktok

"Kai, kami datang" ucap Jongdae.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci" sahut Kai dari dalam.

Mereka bertiga masuk kedalam kamar Kai.

"Astaga, kenapa kakimu?" Tanya Baekhyun.

"Aku terjatuh dari motor saat pulang sekolah kemarin"

"Cih, sekarang siapa yang merepotkan?" Desis Sehun.

"Diam kau Sehun. Apa itu? Bunga untukku? Wah terimakasih banyak Sehun" ucap Kai saat melihat Sehun membawa pot bunga Azalea.

"Bukan untukmu" sahut Sehun datar.

"Lantas untuk siapa?" Tanya Kai

"Ya untukku lah. Aku menemukannya di dalam lokerku"

"Siapa yang menaruhnya?"

"Mana ku tahu, kalau ku tahu sudah ku hajar orangnya!"

"Lemah seperti itu mau menghajar orang, wajah mu itu tidak cocok sekali menjadi seorang preman, terlalu manis"

Baekhyun dan Jongdae tertawa keras mendengar ucapan Kai.

"Sialan kau Kai" dengus Sehun.

"Kapan kau bisa masuk sekolah lagi?" Tanya Jongdae

"Mungkin besok sudah bisa, tapi harus pakai tongkat dulu"

"Cepat sembuh ya Kai" ucap Baekhyun.

"Thanks , Baek"

"Kalau begitu aku pamit duluan ya, sudah mau masuk jam kerjaku. Cepat sembuh Kai"

"Terimakasih, Hun. Selamat bekerja" ucap Kai.

"Hati-hati dijalan Sehun, jangan kelelahan!" Sahut Baekhyun.

"Bye, Hun" ucap Jongdae.

Sehun keluar dari kamar Jongdae setelah melambaikan tangannya pada 3 orang sahabat dan temannya.

.

.

.

.

"Sehun!"

Seseorang memanggilnya saat ia sedang melamun di meja kasir.

"Ah iya ada yang bisa ku bantu?"

Sehun langsung tersadar dari lamunannya dan tak sadar siapa yang tadi memanggilnya.

"E-eh, Chanyeol sunbae, ada yang bisa ku bantu?"

"Tolong hitung belanjaanku"

Chanyeol menyerahkan keranjang belanjaannya kepada Sehun.

"Kau rajin sekali berbelanja kemari, kau sudah selesai les tambahannya, sunbae ? Cepat sekali, padahal aku saja baru meninggalkan sekolah 30 menit yang lalu, lalu pergi ke rumah Kai untuk menjenguknya dan baru sampai ke sini"

"Aku membolos les. Kai sakit?"

"Iya sunbae , dia kecelakaan kemarin. A-ah iya total belanjaanmu 5000 won, sunbae "

Chanyeol terdiam sebentar lalu menyerahkan uang pada Sehun.

"Jangan panggil sunbae , panggil namaku saja"

Sehun menerima uang dari Chanyeol lalu menyerahkan kantong belanjaan milik Chanyeol.

"A-ah kalau begitu Chanyeol hyung , ini belanjaanmu. Terimakasih telah berbelanja disini, semoga menikmati pelayanan kami"

"Sama-sama. Ah iya, ku dengar kau pintar ya? Kata teman-temanmu kau juara kelas, benarkah?"

"Ah tidak seperti itu, Kyungsoo lebih pintar daripada aku" elak Sehun.

"Bisakah kau mengajari ku belajar, Sehun?"

"Uumm, a-ah aku, maaf aku tidak bisa hyung , bukannya aku tak mau mengajarimu, hanya saja aku sibuk bekerja dan tak pernah punya waktu luang, maafkan aku"

"Tidak apa, tak usah dipaksakan. Kalau begitu aku pulang dulu Sehun" ucap Chanyeol dengan seulas senyum kecil (yang Sehun yakini dan yang ia lihat) lalu berjalan keluar minimarket.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sehun sudah menutup minimarket nya dan berjalan pulang. Dari minimarket ia menaiki bus sampai halte depan kompleks. Dari depan kompleks Sehun berjalan melewati jalanan kompleks yang sangat gelap dan sepi menuju apartemennya.

.

Bruk

.

Sehun merasakan seseorang telah menubruk tubuhnya dari belakang. Sontak Sehun menghadap ke belakang dan siap-siap memukul orang itu.

"Eh? Chanyeol hyung? Kau kenapa?"

Sehun terkejut orang yang telah menubruknya itu Chanyeol. Melihat Chanyeol yang berjalan sempoyongan Sehun langsung merangkulnya. Sepertinya ia mabuk (dugaan Sehun), bahkan ia masih mengenakan seragam sekolah.

"Bolehkah aku menginap dirumahmu?" Tanya Chanyeol, entah dalam keadaan sadar atau tidak.

Tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol Sehun langsung merangkul Chanyeol menuju apartemennya.

.

Sehun membuka mengambil kunci apartemen dari saku celana nya lalu membuka pintunya. Sehun membopong Chanyeol masuk ke dalam apartemennya dan mendudukannya di sofa.

"Sebentar ya hyung, aku buatkan teh madu hangat untukmu"

Sehun menuju ke dapur untuk segera membuatkan Chanyeol teh madu hangat untuk mengurangi mabuknya. Setelah jadi Sehun langsung berlari kembali ke sofa untuk memberikan teh nya pada Chanyeol.

"Hyung diminum dulu, biar mabukmu hilang"

Sehun meminumkan teh nya ke mulut Chanyeol, Sehun yakin Chanyeol belum sepenuhnya sadar untuk memegang cangkir dan meminumnya sendiri.

Sehun meletakkan cangkir kosong nya diatas meja.

"Sehun"

Wajah Chanyeol menoleh ke arah Sehun. Mendengar Chanyeol memanggilnya Sehun menoleh kearah wajahnya.

"Ya hyung?"

.

Chup.

.

Sehun membelalakkan matanya. Chanyeol menciumnya. Bukan di pipi. Tapi di bibir. Sehun hanya bisa terdiam karena terlalu shock. Chanyeol... dia mengambil first kiss nya.

Chanyeol masih menempelkan bibirnya pada Sehun. 3 detik. Chanyeol mulai berani melumat bibir Sehun. Pelan dan lembut. Sementara Sehun masih diam terpaku, sulit untuk membalas ciuman Chanyeol.

Chanyeol terus memperdalam ciumannya. Ia mulai menggigit kecil bibir Sehun, namun Sehun tetap diam. Chanyeol melumatmu lagi dengan lembut sambil mengelus-elus tengkuk Sehun.

Akhirnya Chanyeol melepaskan ciumannya.

"Sehun" panggil Chanyeol, kali ini agak melemah.

.

Bruk.

.

Belum sempat Sehun menyahuti panggilan Chanyeol, Chanyeol sudah ambruk di pundak Sehun. Sehun yang panik setengah mati lalu menidurkan Chanyeol di sofa.

"H-hyung.. hyung kau kenapa? Astagaa"

Sehun mengambil bantal dan selimut dari dalam kamarnya, lalu kembali ke sofa. Sehun meletakkan bantal diatas kepala Chanyeol dan menyelimuti nya dengan selimut.

"Hyung, kau pingsan atau hanya tidur? Ku harap kau hanya tertidur karena kelelahan saja hyung" lirih Sehun.

Sehun yang memang polos dan tidak tahu apa-apa soal minuman memabukkan dan orang-orang yang mabuk hanya bisa diam saja.

Sehun menunggu Chanyeol, ia duduk di lantai di depan sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, beruntung besok hari minggu jadi ia bisa menyantai walaupun jam 12 siang ia harus masuk kerja. Lama kelamaan Sehun tertidur, kepalanya menyender di lengan Chanyeol.

.

.

.

"Bisa-bisa nya ya kau membolos les! Mau jadi anak berandalan, huh! Ingat ya, kau itu harus menggantikan ibu mengurus semua bisnis-bisnis ibu, kau dipersiapkan untuk menjadi presdir Park Cooperation peninggalan ayahmu! Mau jadi apa kau kalau les saja sudah berani membolos! Ibu tak segan-segan memindahkanmu ke rumah grandma kalau kelakuanmu terus menerus seperti ini!"

.

.

.

Chanyeol terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, lalu mengernyitkan dahinya.

'Dimana aku?'

Chanyeol melihat dirinya diselimuti dan tidur di sebuah sofa. Ia merasakan lengan kanannya terasa berat, seperti ada yang menindih. Lantas Chanyeol menoleh kearah samping.

"Sehun?"

Chanyeol berusaha bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pening sekali saat ia mendudukan dirinya.

"Eh? Chanyeol hyung , sudah sadar?"

Sehun terbangun tiba-tiba, lalu mengucek-ngucek matanya.

'Manis sekali'

"Aaww" Chanyeol memegangi kepalanya yang terasa pening sekali.

"Hyung kenapa? Kepalamu sakit ya? Tunggu sebentar ya, ku ambilkan obat dan ku buatkan teh hangat untuk menghilangkan sakit di kepalamu"

"Tidak usah Sehun, aku tidak apa-apa"

"Tidak apa-apa, hyung. Tunggu sebentar"

.

Sehun kembali ke sofa dengan membawa nampan berisi teh hangat dan obat pereda sakit kepala.

"Diminum dulu hyung, teh dan obatnya"

Chanyeol mengambil obat, lalu menenggaknya. Kemudian ia mengambil teh, menghirup aroma melati dari teh nya sebentar lalu meminumnya.

"Bagaimana hyung ? Apa sudah baikan?"

"Terimakasih banyak ya Sehun, kau sudah menolong dan merawatku. Aku tak apa, sudah baikan"

"Ah syukurlah kalau begitu, aku senang menolongmu hyung. Kalau begitu dihabiskan ya tehnya" Sehun tersenyum.

'Yaampun dia manis sekali, aku tidak tahan'

Chanyeol terus memandangi Sehun lekat-lekat. Senang sekali ia bisa melihat pemandangan langka, melihat Sehun tersenyum manis sekali dari jarak dekat.

Sehun yang merasa dirinya terus ditatapi seperti itu langsung mengalihkan pandangannya.

"A-ah, s-sepertinya aku harus ke dapur, kau lapar kan? Aku akan membuatkan sarapan dulu" ucap Sehun kikuk lalu segera pergi ke dapur.

Chanyeol hanya terkekeh melihat Sehun yang salah tingkah itu.

"Menggemaskan sekali" gumamnya.

.

"Gosh , apa dia sudah tidak waras? Semalam menciumku lalu sekarang memandangku seperti orang kesurupan. Tak tahukah dia membuatku hampir mati karena aku selalu menahan napasku dan membuat jantungku berdetak cepat? Mengerikan lama-lama" ucap Sehun ketika ia sudah berada di dapur.

"Apa yang harus kumasak untuknya?" Tanya Sehun saat melihat isi kulkasnya.

Akhirnya Sehun membuat omelet sayur untuk sarapan Chanyeol. Praktis, cepat, sederhana namun bergizi. Setelah matang Sehun meletakkan omelet itu di piring, lalu mengambil sepiring nasi untuk Chanyeol.

"Hyung , dimakan dulu sarapannya"

"Kau memasak sendiri?" Tanya Chanyeol yang melihat Sehun menaruh nampan berisi makanan dan air putih di meja di depannya.

"Iya, walaupun ku yakin tak seenak makanan di restoran, setidaknya ini layak dimakan"

Chanyeol terkekeh mendengar perkataan Sehun.

"Akan ku makan. Kau membuat apa?"

"Hanya omelet sayur, maaf ya hanya ini yang bisa ku buat, aku lupa mengisi kulkasku"

"Sayur? Aku tak terlalu suka sayur"

"Eh? Kau tak suka sayur? Yasudah, biar ku buat kan lagi"

"Tak perlu, aku akan memakannya, terimakasih ya" Chanyeol tersenyum, lalu mengusap-usap kepala Sehun.

'Astaga, dia selalu berhasil membuatku jantungan'

Chanyeol menyendokkan satu suap nasi beserta omelet ke mulutnya, lalu menguyahnya dengan perlahan.

"Enak. Ini enak sekali, sungguh"

Sehun tersenyum mendengar ucapan Chanyeol yang menyukai masakannya.

"Kalau begitu habiskan ya"

"Kau sudah makan?"

"Ya, aku sudah makan tadi"

"Kapan? Aku tak melihatmu"

"Sudah kok aku sudah makan"

"Jangan berbohong. Sini makan bersamaku"

"Tidak usah hyung , kau habiskan saja makananmu. Aku bisa nanti saja makannya"

"Diam dan makanlah. Buka mulutmu"

Chanyeol menyuapkan satu sendok makan ke mulut Sehun. Mau tak mau Sehun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Chanyeol.

"Nah, kalau begitu kan enak, kita sama-sama kenyang" Chanyeol terkekeh, sementara Sehun hanya tersenyum kecil saja.

.

.

.

"Sehun" panggil Chanyeol.

Entah sudah berapa kali Chanyeol memanggil namanya.

"Ya hyung , ada apa?"

"Kau suka bunga Azalea?"

Chanyeol melihat ke arah jendela tempat bunga Azalea itu berada.

"Tidak juga sih, hyung. Aku menemukannya di loker ku, sayang saja kalau bunga secantik ini di buang begitu saja, makanya ku bawa pulang"

Chanyeol tersenyum.

"Oh begitu"

"Chanyeol hyung " panggil Sehun.

"Hm"

"Maaf kalau aku terlalu ingin tahu, tapi aku ingin bertanya, kenapa semalam kau mabuk dan kau masih memakai seragam sekolahmu? Kau ada masalah? Cerita saja, mungkin aku bisa membantumu, atau setidaknya bebanmu sedikit ringan karena telah berbagi masalahmu denganku. Aku pendengar yang baik kok"

Chanyeol terdiam sebentar.

"Aku habis dimarahi ibuku"

Sehun terdiam sebentar sambil mendengarkan, menunggu Chanyeol untuk melanjutkan ceritanya.

"Ibu mengetahui aku bolos les tambahan kemarin, dan dia sangat marah padaku. Jujur aku lelah selalu diatur jadwal les ini les itu. Aku ingin bebas. Tapi ibu selalu memaksaku untuk selalu belajar terus agar aku bisa melanjutkan semua bisnis-bisnis sialannya itu. Bahkan dia mengancamku akan memindahkanku"

"Masalahmu rumit hyung. Tapi niat ibumu baik hyung, menyuruhmu belajar selalu agar kau menjadi orang yang berhasil nantinya. Tidak sepertiku.. aku bahkan iri denganmu yang belajar pun diperhatikan ibumu" Sehun menunduk.

"Ah.. memang orang tuamu kemana?"

"Aku sudah tak mempunyai orang tua. Mereka meninggal karena kecelakaan saat aku masih kecil. Aku anak satu-satunya, jadi saat aku kehilangan kedua orangtuaku aku dititipkan pada paman dan bibiku di Busan. Saat aku berada di tingkat akhir sekolah menengah pertama aku memutuskan untuk merantau ke Seoul untuk mengejar cita-citaku. Bersekolah dan memenuhi kebutuhanku sehari-hari dari hasil bekerja"

"Kau pasti sangat kesulitan ya—" Chanyeol mengelus kepala Sehun "—tapi kau terus bersemangat, kau pintar dan sangat bekerja keras. Aku salut denganmu. Kalau kau butuh bantuan, aku siap membantumu"

"Tidak perlu hyung , aku tidak mau merepotkan orang lain"

"Andai aku bisa sepertimu, Sehun"

"Nikmati saja hidupmu hyung , hidupku pasti sangat sulit untuk dijalani olehmu"

"Aku rasanya ingin melawan ibuku, aku lelah harus les tambahan terus. Bisakah kau membantuku?"

"Bantu apa, hyung ?"

"Ajari aku menjadi pintar sepertimu"

"Aku tidak yakin akan bisa hyung "

"Aku tak memaksamu, asal kau ada jadwal kosong saja. Tak setiap hari pun tak apa. Bahkan jika kau ada jam kosong di sekolah tak apa"

"Uumm... baiklah, hyung "

"Terimakasih Sehun" Chanyeol tersenyum.

'Sudah berapa kali kau tersenyum? Tolong hentikan, kau membuatku salah tingkah terus'

"Ah iya.. sama-sama hyung . Ah, ngomong-ngomong jam berapa sekarang?"

Sehun melihat ke arah jam di atas dinding.

"Sudah jam 10, dua jam lagi aku harus masuk kerja"

"Bahkan disaat hari libur kau masuk kerja juga, Sehun?" Tanya Chanyeol tidak percaya.

"Ya begitulah, pekerjaan ku kan menjaga minimarket yang harus buka setiap hari. Tapi terkadang hari sabtu atau minggu aku libur kalau ada yang menggantikan posisiku"

"Ah.. kalau begitu aku pulang dulu ya, Sehun"

"Rumahmu dimana hyung ? Biar ku antar, sekalian aku berangkat kerja"

"Tidak usah Sehun, aku tak mau merepotkanmu lagi"

"Aku tak merasa direpotkan olehmu, hyung. Sekalian aku ingin mampir ke rumahmu"

"Aku tinggal di apartemen, aku jarang pulang ke rumah ibu"

"Ah.. yasudah, biar ku antar sampai ke apartemenmu, sekalian aku juga memastikan kau baik-baik saja sampai rumah"

.

.

Sehun dan Chanyeol sampai di apartemen milik Chanyeol.

"Ini apartemenmu? Lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat kerjaku"

"Iya, kau mau mampir dulu ke dalam?"

"Ah tidak usah, hyung , aku ingin langsung ke minimarket"

"Yasudah kalau begitu—"

Chup.

"—selamat bekerja" Chanyeol tersenyum.

Sehun lagi-lagi terdiam. Terlalu terkejut dengan apa yang Chanyeol lakukan tadi.

"Kenapa terdiam Sehun? Ah, aku telah mencuri first kiss mu kan semalam? Aku mengingatnya, Sehun, maaf ya. Sudah sana, kau bilang ingin bekerja, kenapa masih diam disini?" Chanyeol terkekeh.

"A-ah i-iya a-aku berangkat sekarang"

Dengan kikuk dan tergagap Sehun langsung memutar badan dan berlari menuju tempat kerjanya.

'Dasar orang gila, aku hampir saja mati mendadak, sial' batin Sehun.

.

.

.

.

Hari minggu Sehun pulang lebih cepat, ia pulang pukul 5 sore karena sudah ada yang menggantikannya berjaga minimarket.

Sehun keluar dari minimarket dan melihat seseorang menaiki motor menunggu di depan minimarket.

"Sehun!"

"Eh? Kai? Kenapa kau disini?"

"Menjemputmu, bodoh"

Sehun mendengus.

"Menjemputku atau mau menculikku lalu mengejekku sepuasmu?" Sehun memutar bola matanya malas.

"Sekalian menculikmu juga sih, hehe. Cepat naik"

Kai memberikan helm untuk Sehun.

"Kau mau menculikku kemana?"

"Sudah lah ikut saja, nanti kau ku antar ke rumahmu lagi kalau sudah selesai"

Sehun memakai helm dan menaiki motor Kai.

"Eh Kai, kakimu bagaimana? Apa tak apa-apa kalau.."

"Sudah baikan. Sudah lah tutup mulutmu dan duduk manis saja dibelakangku. Jangan lupa pegangan, nanti kau terbang" potong Kai saat Sehun belum menyelesaikan kalimatnya. Sehun lagi-lagi hanya mendengus sebal.

.

.

Kai menghentikan motornya di depan sebuah restoran Jepang.

"Heh kenapa berhenti disini? Kita mau apa?" Tanya Sehun.

"Mau makan lah, bodoh"

"Berhenti mengataiku bodoh, sial"

"Sudahlah turun dari motorku, kau lapar kan? Gemukkan badan kurusmu itu. Ayo makan"

Sehun turun dari motor Kai.

"Kenapa harus di restoran Jepang?"

"Kau rindu masakan Jepang kan?"

"Tapi.."

"Sudahlah, ayo masuk"

Kai menarik Sehun masuk ke dalam restoran. Lalu mereka mangambil meja di pojok kanan dekat jendela.

"Cepat pesan, kau mau makan apa?"

"Tapi.."

"Aku yang bayar, Sehun. Cepat pesan atau aku yang pesankan untukmu"

Kai memanggil waitress lalu memberitahu apa saja yang ia dan Sehun pesan.

"Darimana kau tahu aku merindukan masakan Jepang?" Tanya Sehun.

"Sehun, aku tahu hidup di Korea seorang diri terasa sulit untukmu. Kau tidak ingin pulang ke Jepang?"

"Untuk apa aku kembali ke Jepang, toh aku sudah tak memiliki siapa-siapa disana. Orangtuaku kan sudah tiada" Sehun menunduk.

"Hei, sudah jangan menangis bodoh"

"Aku tidak menangis. Dan lagi, kenapa sih kau terus mengataiku bodoh bahkan saat suasananya sedih seperti ini" Sehun mendengus.

"Anggap saja bodoh itu panggilan kesayanganku untukmu"

"Iya, panggilan untuk menghinaku" desis Sehun.

Kai hanya terkekeh melihat wajah sebal Sehun, lalu mengusap kepalanya.

"Jangan marah, kita kan sudah berteman 5 tahun lamanya Sehun, kau pasti sudah terbiasa kan, haha"

Sehun hanya memutar bola matanya malas.

.

.

.

.

Pukul 7 malam. Sehun dan Kai tepat sampai di apartemen Sehun.

"Sudah turun, ku antar kau sampai pintu apartemenmu"

Sehun turun dari motor Kai, lalu menyerahkan helm pada Kai. Kai memarkirkan motornya lalu masuk ke dalam apartemen Sehun.

"Terimakasih ya Kai atas traktiran makanmu. Lain kali lagi ya" ucap Sehun saat sudah sampai di depan pintu apartemennya.

"Lain kali kau yang harus traktir aku" ucap Kai sambil memutar bola matanya malas.

"Iya, nanti gaji bulan depan aku akan mentraktirmu. Sudah sana pulang"

Sehun berbalik menghadap pintu apartemennya lalu akan membuka pintu apartemennya. Tiba-tiba kakinya merasa menabrak sesuatu di bawah. Lantas Sehun menunduk ke arah bawah kakinya.

.

.

"Oh god, apa lagi ini?"

.

.

.

Hai hai haaii ! Udah chapter 3 aja ya, fiuh. Bingung akutu nyelipin yang hot hotnya dimana wkwk

Makasih buat kalian yang udah review ff amatiran aku ini ^ω^

Makasih juga buat kalian yang udah aktif buat nebak-nebak siapa SA nya, wkwk

Terus ikutin aja ceritanya, aku juga gatau sampe chap berapa ini cerita kelar wkwk

.

.

.

Don't stop to review, 'cause i need advices and critics for my shortcoming ff

Salam gulugulu ^ 3^