Welcome back to Mea Fiction my Readers this is Mea here.
Bales review.
sofianyputri : Eheheh.. emang kakak kelas berapa? :D Iya.. maaf ya, untuk chapter ini Masamune tidak muncul, dia cuma disebut-sebut aja sebagai 'otou-san' disini^^ ya, sama-sama
Guest : Iye, Guztianyzich. Masuk kok. Iya nih, mantanku ngeselin. Dan tau gak? HARI INI AKU BOLOS! Pada hari Kamis tanggal 18 Desember 2014, aku bolos sekolah karena memperingati tiga minggu aku diputusin. Terus, aku juga agak gak enak badan, tapi aku gak ngirim surat ijin ke sekolah, jadinya ALPA deh! Yeee! *dihajar* Ya itulah Motonari, dia gak peduli sama anaknya. Kan ngeselin. Nah, disini aku mau hajar habis-habisan (?) si Motonari. Sip ini udah dilanjut dan terima kasih reviewnya!
Betewe sebulan yang lalu gue minjem buku "Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura" di perpus sekolah. Tentang school activity para anak-anak di Jepang gitu, tapi gue udah lupa nih -_- seinget gue anak-anak SD di Jepang pulang jam 7 malem—eh? Salah. Lupa. HAHA. (Napa lu gak nyari di Google aja, Mea? -_-)
Setau Mea untuk anak TK ada tidur siang di sekolahnya :3 enak ya. Terus, di beberapa sekolah TK, ada yang pake pengaman yang dipasangin password gitu di gerbang sekolahnya. Kalo lebih dari 30 detik dibuka, alarm bakal bunyi. Dan yang tau passwordnya cuma orangtua dari anak-anak tersebut, gak boleh dikasihtau ke siapa-siapa. Keren ya~
Well, enjoy!
"Apa?!" seru Mitsunari gregetan begitu Motonari menceritakan semuanya padanya lewat telepon.
Motonari hanya bisa menghela napas pasrah. Memang dirinya yang salah, tapi… tak sepantasnya juga 'kan, Motochika melakukan kekerasan seperti itu. Apalagi, kepada istrinya sendiri. Hal itu dilarang, baik dalam kepolisian, undang-undang, maupun agama. Iya, 'kan?
"Entahlah, Mitsunari-chan. Memang aku yang terlalu keras dalam mendidik anak—"
"Tidak, Motonari. Kau tak berhak mendapat tamparan seperti itu," ujar Mitsunari.
Terdengar kembali helaan napas Motonari. "Aku yang salah. Chousokabe tidak salah."
"Motonari? Kau masih waras, 'kan?"
Ieyasu yang sedang menyuapi Mitsuki bubur menengok ke arah istrinya itu seraya membatin, 'Apa yang sedang mereka bicarakan?'. Ia menaruh mangkuk tersembut kembali ke nampan bersama dengan segelas susu hangat dan beberapa potong buah pepaya. "Mitsuki, sebentar ya."
Mitsuki mengangguk.
Ieyasu melangkah kea rah Mitsunari seraya mencoleknya sambil berbisik. "Maaf lancang. Kau sedang membicarakan apa?"
Mitsunari sedikit kaget sambil menutupi HPnya dengan telapak tangan kanannya. "Bukan apa-apa, Ieyasu-sama. Nanti aku ceritakan. Motonari hanya curhat sedikit."
"… Baiklah."
Ieyasu kembali duduk di kursi sebelah ranjang Mitsuki dan kembali menyuapi anaknya.
"Otou-san, mau disuapin sama okaa-san," pinta Mitsuki polos sambil menepuk tangan Ieyasu hingga sendok yang digenggam Ieyasu nyaris saja jatuh.
"Aduh, Mitsuki, hampir saja sendoknya jatuh," kata Ieyasu sambil menyendokki bubur. "Okaa-san tidak bisa diganggu sekarang. Ia sedang menelepon Motonari-san. Sama otou-san aja, ya."
Mitsuki nyengir. "Iya, deh."
"Aku masih waras, Mitsunari!" jawab Motonari setelah terdiam cukup lama.
"Ya sudah. Kalau Mitsuki sudah sembuh, aku ke rumahmu ya. Kisaran beberapa hari lagi. Aku tutup dulu teleponnya, aku harus mengurusi Mitsuki. Jaa ne."
Untuk yang ketiga kalinya, Motonari kembali menghela napasnya. "Jaa."
Dengan perasaan kesal, Mitsunari mengunci HPnya dan memasukkannya ke tas tangan pribadinya.
"Ada apa, Mitsunari-chan?" tanya Ieyasu heran.
"Motochika dan Motonari KDRT," jawab Mitsunari pelan.
Ieyasu tersentak. "AP—APA?! MOTOCHIKA..?!"
"Yap. Kalian semua boleh pulang, anak-anak," tutup Matsu-sensei pada jam pulang sekolah tepat setelah bel berbunyi. Semua murid langsung grasak-grusuk membereskan tasnya—seperti saat perlombaan—agar dapat cepat pulang. Begitu juga Masaryuu—yang tampaknya sudah terlalu lelah menjalani bermacam-macam aktivitas yang ada di sekolah.
Ia dipaksa oleh Raito untuk lari keliling lapangan luas itu 3 kali tanpa henti, karena Masaryuu tidak sengaja menjatuhkan buku cerita kesayangan Raito ke selokan. Selokannya kering, padahal. Kejam, ya, Raito.
Shinju tidak bisa mencegah Raito karena dia sudah didahului oleh ceramah dari Raito yang tiada batasnya itu—yang pasti pada ujungnya Raito akan memukulnya kencang. Sudah berkali-kali dilaporkan pada Motochika, Ayah mereka, namun Raito terus-terusan saja berbuat ulah. Seolah-olah hanya Raito lah yang berkuasa disana.
Anak bandel.
Kini, Shinju dan Raito sedang melaksanakan ekskul yang sama, yakni Basket.
"Aku… Harus menjemput Shirayuki sekarang," gumamnya pelan sambil menapak keluar kelasnya yang sangat rusuh itu.
Masaryuu berjalan keluar sekolah—menuju sekolah adiknya—yang terletak di sebelah sekolah Masaryuu dkk. Kakinya merasa sangat sakit sekarang. Ia menengok kakinya—memastikan tidak ada apa-apa yang terjadi pada bagian tubuhnya itu. Namun, nampaknya memar-memar terpampang jelas di betisnya. Biru-biru semua.
"Kami-sama, tolong balas perbuatan jahat Raito padaku," mohonnya pada Tuhan sambil terus berjalan menuju pagar sekolah adiknya itu.
"Hei, Masaryuu!" panggil seseorang dari belakang. Suaranya terdengar seperti..
"Hanakura?" tebak Masaryuu sambil tersenyum.
Hanakura menepuk pundak Masaryuu pelan. "Yap. Hahaha! Tumben jalan sendiri, kau biasanya bersama adikmu yang lucu itu!"
"Justru ini aku ingin menjemput adikku itu." Masaryuu balik menepuk pundak Hanakura.
"Oh."
Masaryuu mengamati raut wajah Hanakura dengan seksama. "Hanakura-chan? Kau sedang sedih ya?" tanyanya lembut.
Hanakura mengangguk sedih. "Iya, Masaryuu. Aku rindu otou-san. Kangen sama otou-san," jawabnya.
Masaryuu yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa berkata, "Sabar ya, Hanakura-chan."
Hanakura kembali menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Pulangnya bareng, ya!". Masaryuu menyetujuinya. Mereka pun bersama-sama mencari Shirayuki di sekolahnya.
"Tadaima!" seru Masaryuu dan Shirayuki begitu mereka menginjaki teras rumah mereka seraya membuka pintu. "Okaa-san! Kami pulang!"
Ibu mereka, Sanada Yukimura, menyambut mereka dengan bahagia. "Kalian sudah pulang," jawabnya dengan wajah berseri-seri seperti kejatuhan durian runtuh.
"Okaa-san kok kayaknya seneng banget?" tanya Shirayuki polos sambil memiringkan kepalanya sedikit ke kanan—seperti anak anjing yang polos.
"Iya, sayang. Okaa-san punya kabar gembira. Otou-san baru saja memberitahukan okaa-san lewat telepon."
"Emang ada apa?" tanya Masaryuu heran.
Yukimura tersenyum penuh misteri. "Apa ya? Hehehe. Nanti okaa-san kasihtau kalau kalian sudah ganti baju dan makan siang."
Shirayuki merengut. "Yaah, Okaa-san mah gitu!"
"Iya nih okaa-san! Okaa-san jahat! Nggak seru, tahu!" sambung Masaryuu ikut-ikutan merengut seperti adiknya.
Yukimura tertawa geli. "Sudah, sudah! Kalian ganti baju dan makan siang dulu nanti okaa-san kasihtau. Janji deh."
"Bener ya?" Shirayuki memastikan.
"Iya, sayang," jawab Yukimura sambil mengelus rambut coklat tua Shirayuki penuh kasih sayang.
Shirayuki kembali senang. "Oke, deh!" serunya sambil berlari ke kamar untuk ganti baju diikuti oleh Masaryuu.
Yukimura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak-anakku memang lucu."
"OKAA-SAAN! Aku sudah ganti baju! Udah makan juga! Ada kabar gembira apa dari otou-san?" tanya Masaryuu penasaran.
"Iya, apa?" tanya Shirayuki ikut-ikutan.
Yukimura menarik napas. "Jadi, kata otou-san, kita akan—"
Perkataan Yukimura terpotong oleh suara ketukan pintu. Masaryuu dan Shirayuki yang mendengar itu langsung marah-marah. "Iih! Ganggu banget sih!"
Yukimura tersenyum. "Sudahlah. Okaa-san bukain pintunya dulu, siapa tahu penting. Oke? Kalian masuk kamar, gih, nanti habis terima tamu, okaa-san ke kamar kalian buat ceritain apa yang terjadi."
"Iya deh!" Shirayuki menganggguk.
"Yaudah, kita main aja dulu yuk, Shira!" ajak Masaryuu sambil menarik tangan Shirayuki.
Shirayuki mengomel. "Pelan-pelan, nii-san!"
Yukimura langsung menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya ia ketika yang datang ke rumahnya adalah..
"Motonari-dono?"
"Sanada." Motonari langsung memeluk Yukimura erat sambil menangis. "A—aku butuh bantuan, masukan, dan saran."
Motonari-dono, bukannya kau selama ini membenciku? Ke—kenapa kau—Hah? Batin Yukimura heran. "Masuk saja, Motonari-dono."
"… Terima kasih," ucap Motonari pelan sambil masuk ke dalam rumah Yukimura diikuti oleh Yukimura sendiri.
Yukimura dan Motonari duduk di sofa tamu. "Kamu kenapa, Motonari-dono?" mulai Yukimura hati-hati.
Motonari terisak. "Chou—Chousokabe…"
"Motochika-dono kenapa?" tanya Yukimura penasaran sambil mendekatkan dirinya ke Motonari.
"Dia… menamparku," lirih Motonari. Ia menjatuhkan kepalanya di bahu Yukimura seraya menangis. "Aku—aku—hiks—"
"Apa?!" seru Yukimura terkejut oleh perkataan Motonari. "Ba—Bagaimana bisa?!"
Motonari memeluk Yukimura erat. "Itu semua berawal olehku. Aku tidak bisa mengurus anak dan mengajar anak sikap yang baik—hiks."
"Ceritakanlah secara lengkap," ucap Yukimura lembut sambil mengelus rambut coklat tua Motonari lembut. Rambut coklat tua ini mengingatkanku pada Masamune-sama. Masamune-sama…, batinnya.
Motonari mengusap air matanya. "Tadi pagi aku menarik baju kedua anakku kasar karena mereka lambat dalam bertindak. Mereka tidak segera berangkat ke sekolah, mereka malah bermain-main dengan sepatu dan kaus kaki. Aku juga tidak sengaja memberitahukan hal itu pada Chousokabe-sama dan.. dia mengomeliku serta menamparku," ceritanya panjang lebar.
Yukimura manggut-manggut. "Oh. Kukira Chousokabe-dono benar."
"Maksudmu?" tanya Motonari.
"Ya… Mungkin kau memang terlalu keras dalam mendidik anak. Anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bukan kekerasan, Motonari-dono," ucap Yukimura blak-blakkan, namun ia tetap menjaga perasaan Motonari.
"Apa maksudmu?! Anak-anakku memang bandel dan tidak bisa diajak serius, tidak seperti anak-anakmu yang pintar dan bisa diatur itu!" seru Motonari kesal.
Yukimura menghela napas. "Anak-anakmu tidak salah, Motonari-dono. Tapi, kau yang membuat mereka menjadi 'salah'. Kau harus bisa menyadari itu."
"Ke—kenapa kau tidak ada di pihakku?!" tanya Motonari kesal.
"Karena aku menganggap bahwa kau salah," jawab Yukimura santai.
"Sial. Kau menyindirku?!" Emosi Motonari mulai melunjak.
Yukimura menggeleng kuat. "Tidak. Aku hanya berkata sesuai fakta. Dan itu memang benar, Motonari-dono. Motonari-dono tidak sepantasnya juga melakukan kekerasan fisik kepada anak-anakmu. Perlahan-lahan hati dan mental mereka akan rusak dan otak mereka akan terkontrol oleh kemauan para setan. Kamu mau, jika anak-anakmu sudah besar, mereka akan menjadi penjahat?"
"SIALAN KAU, SANADA!" teriak Motonari marah, namun amarahnya langsung terpotong oleh perkataan Yukimura yang benar-benar menusuk dirinya.
"Kau harus berubah. Pikiranmu bodoh, Motonari-dono. Sangat bodoh. Buatlah mereka senang selagi mereka masih kanak-kanak. Perhatikan dan manjakan mereka dengan segala belai kasih sayangmu. Sesungguhnya, mereka MEMBENCI semua yang kau lakukan. Mereka hanya menginginkan kasih sayang darimu."
"Sanada…" lirih Motonari pelan. Kini ia menyesal. Sangat menyesal.
Yukimura menyimpulkan senyuman. "Camkan saja perkataanku di hatimu. Renungkanlah."
"…" Motonari diam tak berkutik. Seluruh tubuhnya menjadi kaku. Ibu macam apa aku ini? Apa aku layak dinobatkan sebagai seorang Ibu—yang mengasihi anaknya, yang selalu mencurahkan kasih sayang pada anaknya, dan yang selalu mendengarkan segala keluh kesah anaknya? Aku rasa aku memang tidak layak, batinnya.
"Terima kasih, Sanada," ucap Motonari sakit. Hatinya sangat tertusuk oleh perkataan Yukimura yang masih terngiang-ngiang di kepalanya. "Aku… Aku pulang dulu ya."
Yukimura mengangguk sambil tersenyum manis. "Ya, Motonari-dono. Aku harap Motonari-dono bisa merubah sikap keras yang ada di dalam diri Motonari-dono."
Motonari terdiam sebentar. "Ya."
Yukimura pun mengantarkan Motonari sampai gerbang pintu rumahnya yang ternyata masih terbuka. "Ya sudah, sampai jumpa lagi, Motonari-dono."
Motonari mengangguk lemas. "Jaa ne."
Motonari pun berlalu menuju rumahnya. Yukimura menutup gerbang dan segera masuk rumah dan menutup pintu.
"Sekarang, aku harus memberitahukan anak-anak soal berita gembira itu."
"Okaa-san," panggil Mitsuki.
"Ya sayang," jawab Mitsunari sambil melangkah menuju ranjang Mitsuki. "Ada apa?"
Mitsuki manyun. "Mau pulang."
Mitsunari menghela napasnya. "Sabar, sayang. Kau bisa pulang kalau kau sudah sehat. Sekarang kamu masih sakit."
"Tapi 'kan, aku sudah sehat. Aku sudah seperti biasanya."
"Tetap saja. Trombositmu belum masuk jumlah normal."
Tok tok tok.
"Masuk!" Mitsunari mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu masuk.
Oh, rupanya Kasuga. "Mitsunari-san, saya mau memberikan surat hasil tes darah Mitsuki."
"Oh!" seru Mitsunari sambil menghampiri Kasuga. "Bagaimana hasilnya?"
"Mitsunari-san bisa langsung membaca hasil tes darahnya. Saya permisi dulu," pamit Kasuga sambil menyerahkan surat hasil tes darah, kemudian ia pergi.
Mitsunari membuka amplop tersebut dan ia membaca surat itu dengan teliti. Dan trombosit Mitsuki..
"121?!" seru Mitsunari senang. "Kami-sama terima kasih! Ya Tuhan..! Ini semua keajaiban!"
"Kenapa okaa-san?" tanya Mitsuki heran.
"... Sepertinya besok kamu boleh pulang, Mitsuki!"
"APA?! Otou-san akan mengajak kita semua pergi ke luar negeri saat liburan?!"
Yukimura mengangguk. "Iya, Masaryuu, Shirayuki. Dan tepatnya, ke Indonesia!"
"Asyiik!"
… To Be Continued …
Oke capek. Jangan ngomong yang macem-macem karena gue ngetiknya 3 jam gegara pake baca-baca fic, nonton Youtube, serta nyari sinyal wifi curian HUEHEHE.
Oiya. Mea minta maaf kalo ada yang mengalami seperti yang dialami (?) oleh Shinju dan Raito alias kalian diperlakukan keras oleh Ibu atau Ayah kalian. Minta maaf banget tapi ini entah kenapa otak lagi pengen bikin fic religi. Ketularan sinetron JIL, TBNH,sama CHSI sih. BEKAKAK/?.
Sekedar pemberitahuan, untuk kalian yang membenci sinetron. Tidak semua sinetron itu jelek, tidak semua sinetron itu berunsur negatif. Contohnya aja kek sinet Jilbab In Love, sinetronnya punya banyak banget amanat dalam kehidupan-kehidupan Islam terutama Hijabers. Atau sinetron Tukang Bubur Naik Haji the series, sinetronnya punya banyak juga amanat kehidupan Islam sehari-hari kita. Maaf untuk yang nonmuslim. I'M SORRY!
Tadinya sih fic ini mau diganti jadi fic religi Islami, tapi mengingat yang baca fic ini ada juga yang nonmuslim, jadinya gak jadi. Dibuat publik aja deh! :D
Thank you all for reading. If you wanna join the series, you can move on to the next chapter, or click follow me or stand by in my profile to wait for reading my future fiction. Good bye!
