SECRET ADMIRER

.

.

.

Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun (ChanHun), Kim Jongin (little bit KaiHun), and other cast.

Rated : M

Genre : Romance, School life, yaoi

.

.

.

Chapter 7 (Fifth Clue : Scarf)

.

.

.

"Sehun!" Panggil Sungmin saat Sehun datang memasuki minimarket.

"Ya hyung ?"

"Ada paket untukmu, ada di meja kasir, ambillah"

Paket?

"Dari siapa, hyung ?"

"Entahlah, pengirim paketnya tidak memberi tahu siapa yang mengirimnya untukmu"

"Terimakasih ya hyung . Oh iya, Jieun mana hyung ?"

"Oh, Jieun izin pulang duluan, ia bilang ingin menghadiri acara wisuda adiknya"

"Oh begitu"

Sehun menghampiri meja kasir lalu mulai membuka paketnya.

'Scarf? Dan surat lagi? Oh jangan lagi, Tuhan' Batin Sehun.

Sehun mulai membuka surat itu dan membacanya.

.

Ingat scarf ini? Ya, scarf berwarna biru langit milikmu yang kau berikan padaku saat Icheongmabi 10 tahun lalu. Sekarang aku kembalikan padamu. Ku harap setelah ini kau mengingatku.

-pengagum rahasiamu-

.

Sehun memegang scarf berwarna biru langit yang ada di dalam paket itu.

.

Scarf ini.. scarf biru langit milikku saat aku berusia 6 tahun.. pemberian ibuku.. memangnya saat itu aku memberikannya pada siapa?—Sehun.

.

"Permisi.."

Suara seorang wanita membuyarkan lamunan Sehun.

"Ah iya.. maaf maaf, ada yang bisa ku bantu nona?" Sahut Sehun yang baru saja sadar dari lamunannya.

"Tolong hitung semua belanjaanku ya"

"Baiklah"

Sehun mengambil keranjang belanjaan milik pelanggannya itu lalu segera menghitungnya.

"Kau melamun terus dari tadi, apakah kau sedang ada masalah? Tak baik melamun saat bekerja" ucap nona tadi.

"Ah iya maafkan aku nona, aku sedang memikirkan sesuatu tadi. Aku minta maaf, aku takkan mengulanginya lagi. Oh iya total semuanya 15000 won, nona"

Sehun menyerahkan kantung belanjaan kepada nona itu.

"Haha tidak apa, santai saja, terimakasih ya" sahut nona itu sambil menyerahkan uang pada Sehun.

"Terimakasih telah berbelanja disini, maaf atas ketidaknyamanan pelayanan kami"

"Ya, sama-sama... Oh Sehun-ssi , aku pergi dulu ya" kata nona tadi yang melihat name tag di seragam kerja Sehun, lalu berjalan keluar minimarket.

.

.

.

Sekarang sudah memasuki musim gugur, jadi jangan salahkan jika suhu udara memang cukup dingin, mengingat akan ada peralihan dari musim gugur menjadi musim dingin.

Oh ayolah, ini baru saja jam 9 malam, tetapi Sehun sudah merasa kedinginan. Belum lagi AC yang menyala di minimarketnya. Sehun memegang kedua lengannya, mengusap-usap lengannya agar tak kedinginan. Ia lupa, harusnya ia membawa jaketnya.

"Hosh hosh.. Sehun, belum tutup kan?" Tanya Kai yang tiba-tiba masuk ke minimarket Sehun dengan tergesa-gesa seperti orang yang habis berlari.

"Ini masih jam 9, dan minimarket ini tutup jam 11, jadi ya jelas lah masih buka" Sehun memutar bola matanya malas.

"Kenapa kau kemari tergesa-gesa begitu? Malam-malam lagi" tanya Sehun.

"Aku kelaparan dan kedai ramen disana sudah tutup, jadi aku berniat beli ramen instan saja disini"

Sehun terbengong sambil membuka mulutnya.

"Jadi hanya karena kau kelaparan kau bisa sampai tergesa-gesa kemari? Hanya karena ramen?" Sehun menatap Kai tak percaya.

"Ya begitulah, tuntutan perut yang lapar di malam hari"

Sehun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kai mengambil ramen instan nya lalu membayar nya pada Sehun.

"Berapa?" Tanya Kai sambil menyerahkan ramen instannya.

"2000 won"

Kai mengambil uang dari sakunya lalu memberikannya pada Sehun.

"Kau tidak pulang?"

"Mana bisa pulang, minimarket kan tutup jam 11 malam"

"Tutup lebih cepat saja, udara diluar dingin, kasihan kalau kau pulang larut malam. Sekalian ku antar kau pulang"

"Kerasukan apa kau tiba-tiba memperdulikanku, eh?" Desis Sehun.

"Ya! Aku kan memang selalu peduli padamu"

"Mana ada, yang ada kau selalu mengejekku"

"Aku kan sahabatmu, jadi jelas-jelas saja aku peduli padamu"

Kai terdiam sebentar.

.

Kenapa saat aku bilang kita sahabat rasanya sesak sekali?—Kai

.

"Heh! Malah diam, kau mendengarku tidak?!" Teriakan Sehun membuyarkan lamunan Kai.

"Hah? Apa? Kau bilang apa?"

"Ah sudahlah tidak jadi" dengus Sehun.

"Ayo pulang, tutup saja minimarketmu, ku antar kau sampai apartemen"

Sehun berpikir sejenak. Sepertinya ia harus menerima ajakan Kai, terlebih ia sudah lelah dan mengantuk juga, udara juga mulai menjadi dingin sekali, bahaya juga pulang larut malam.

"Baiklah, tunggu sebentar, aku tutup minimarket dulu, kau tunggu di luar saja"

.

.

Sehun menyusul Kai yang sudah stand by diatas motornya.

"Lama sekali sih" gerutu Kai.

"Maaf" sahut Sehun yang lagi tidak mau berdebat dengan Kai.

Sehun memeluk tubuhnya sambil mengusap-usap lengannya yang terasa dingin setelah kular dari minimarket. Rasanya suhu di luar lebih dingin daripada suhu di dalam minimarket.

"Pakai ini" Kai memberikan helm pada Sehun.

Kai yang tak tega melihat Sehun kedinginan langsung melepaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Sehun.

"Eh?" Sehun terkejut.

"Pakai saja, sepertinya kau lebih membutuhkan. Ayo cepat naik"

Sehun hanya diam saja lalu naik ke motor Kai.

"Pegangan, Sehun"

"Kau mau mencuri kesempatan dalam kesempitan, huh?!"

"Ya terserah saja, aku akan menyetir dengan kencang, udaranya cukup kencang dan dingin, jangan salahkan aku kalau kau kenapa-kenapa nanti"

"Ya ya baiklah" Sehun memutar bola matanya malas, lalu berpengangan di pundak Kai.

"Ya! Sehun! Kau pikir aku supirmu! Pegangan di pinggangku, bukan di pundakku!"

"Oh astaga" dengus Sehun lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kai.

"Nah begitu" Kai menyeringai, namun Sehun mungkin tak melihatnya.

.

.

.

"Sudah sampai, turunlah"

"..."

"Sehun! Kau tertidur ya?"

Kai menengok ke arah belakangnya. Benar saja, kepala Sehun sedang menyandar pada pundaknya dan tangannya yang masih erat memeluk pinggang Kai.

"Oh ya tuhan, kau membuatku tak tega membangunkanmu" desis Kai.

"Sehun, ayo bangun"

"Sehun, mau sampai kapan kau tidur begitu?"

Kai menggoyangkan badannya, berharap Sehun terbangun dari tidurnya.

"Eung.. aku dimana?" Tanya Sehun yang perlahan-lahan membuka kedua matanya.

"Akhirnya kau bangun juga. Turun, ini sudah sampai apartemenmu"

"Oh, begitu ya?"

Sehun turun dari motor Kai dengan keadaan linglung, masih berusaha mengumpulkan nyawanya.

"Terimakasih ya Kai sudah mengantarku pulang" kata Sehun sambil menyerahkan helm dan jaket pada Kai.

"Ya, sama-sama. Bolehkah aku minta sesuatu padamu?"

"Apa?"

Kai langsung memeluk erat Sehun. Erat sekali. Sehun hanya terkejut dengan apa yang dilakukan Kai.

"Terimakasih, Sehunku yang bodoh" ucap Kai sambil melepaskan pelukannya. Ia tersenyum kepada Sehun.

"Ah.. iya" sahut Sehun kikuk, bingung harus menjawab apa.

"Yasudah kalau begitu aku pulang ya, kau segeralah masuk dan tidur, udara diluar tak baik untukmu"

Kai langsung naik ke motornya lalu menancapkan gasnya meninggalkan Sehun yang masih terpaku dalam diam di depan apartemennya.

.

Kurasa aku takkan bisa menggapaimu, biarlah rasa ini ku simpan dalam-dalam, aku senang bisa selalu bersamamu walau hanya dalam status 'sahabat'—Kai

.

Sehun menghempaskan tubuhnya di ranjang. Persetan dengan ia harus membersihkan tubuhnya dulu yang bau, ia sudah terlanjur lelah dan mengantuk. Lagipula airnya pasti sangat dingin kalau Sehun mandi sekarang.

Tiba tiba Sehun teringat dengan scarf tadi. Dimana ia menyimpannya?

Sehun membuka tas nya dan benar saja, scarf nya ada didalamnya.

Sehun memandangi scarf berwarna biru langit itu. Ia ingat betul, ini scarf miliknya, pemberian ibunya pada saat Sehun berumur 6 tahun, sebelum ibunya meninggal dunia. Tapi apa pernah ia memberikan scarf ini pada seseorang? Kapan dan dimana? Siapa yang ia beri?

Sehun berpikir keras.

Mungkin saja ia melupakan sesuatu.

.

.

Tunggu.

Ia ingat, 10 tahun yang lalu. Ketika ia tinggal bersama paman dan bibinya di Busan. Sehun sering bermain di taman bermain yang terletak persis di depan rumahnya. Ada banyak anak di kompleks itu yang bermain di taman bermain itu, dan Sehun akrab dengan semuanya.

.

Oh iya!

.

Dulu Sehun sering menemani seorang anak laki-laki pendiam yang selalu duduk di ayunan. Ya, anak laki-laki yang selalu menampakkan wajah murungnya.

.

Apa mungkin dia? Tapi siapa? Bahkan aku saja tak mengetahui namanya

Ya, ku yakin pasti dia.—Sehun

.

Dengan sigap Sehun langsung menyambar ponselnya yang berada di atas nakas.

"Halo?" Sahut suara di seberang sana.

"Baek! Baek!"

"Ya, ada apa Sehun?"

"Aku tahu siapa pengirimnya!"

"Hah? Apa? Maksudmu si penggemar rahasiamu itu?"

"Ya, Baek"

"Oh sungguh?"

"Ya Baek! Bisakah kau menginap malam ini di rumahku? Akan ku ceritakan semuanya!"

"Hm bagaimana ya? Jam berapa sekarang?"

Sehun melirik kearah jam dinding.

"Masih jam 10, kau bisa kan ke apartemenku?"

"Baiklah, aku akan bilang ke ibu untuk menginap di rumahmu dan menyuruh supirku mengantarku, tunggu aku ya"

"Oke Baek, terimakasih ya"

.

.

.

20 menit kemudian Baekhyun sampai di rumah Sehun. Ia menenteng tas sekolahnya di punggungnya.

"Hai, Baek! Akhirnya kau datang juga"

"Cepat cerita, aku penasaran sekali!"

Sehun mempersilakan Baekhyun masuk. Lalu mengajak Baekhyun masuk ke kamarnya. Kamar Sehun terdapat 2 ranjang di dalamnya.

"Kenapa kau membawa tas sekolahmu, Baek?"

"Ya! Sehun, aku ini kan menginap di rumahmu, jadi aku harus membawa seragamku, baju gantiku, dan buku pelajaran. Kan sekalian berangkat sekolah bersama besok"

"Ah iya, aku lupa"

"Cepat cerita, ada apa?"

"Jadi begini... saat aku bekerja tadi aku mendapatkan kiriman paket dari seseorang, dan ternyata penggemar rahasiaku yang mengirim. Kau tau apa isinya?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya.

Kemudian Sehun mengambil scarf miliknya dan sebuah surat.

"Scarf ?" Tanya Baekhyun heran.

Sehun menganggukkan kepalanya.

Kemudian Baekhyun mengambil suratnya lalu membacanya.

"Kurasa dia ada di masa lalu mu, dan sepertinya dekat denganmu" tebak Baekhyun.

"Iya, aku juga berpikiran sama sepertimu, tapi..."

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimat nya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sehun mengambil ponselnya lalu melihat layar ponselnya.

.

Kesayangan Sehun is calling...

"Oh astaga, kenapa ia menelpon?"

"Siapa?"

"Chanyeol hyung "

"Angkat saja dulu, siapa tahu penting"

.

"Halo hyung "

"Sehun! Kau sudah pulang? Maaf aku tak bisa menjemputmu malam ini, maafkan aku" terdengar nada ke khawatiran pada ucapan Chanyeol.

"Ya hyung , tak apa, aku sudah sampai rumah, minimarket tutup lebih cepat"

"Kau pulang naik apa?"

"Aku diantar Kai, sahabatku, naik motor hyung "

"Syukurlah, aku tenang sekarang. Kalau begitu kau istirahatlah, selamat malam, Sehunku sayang"

"Y-ya hyung , selamat malam"

Sehun menutup sambungan teleponnya.

.

"Kenapa dia menelponmu, Hun?" Tanya Baekhyun.

"Dia bilang dia tidak bisa menjemputku pulang kerja malam ini, dan beruntung saja Kai mengantarku pulang"

"What ? Jadi selama ini Chanyeol sunbae selalu mengantar dan menjemputmu bekerja? Oh astaga, aku sungguh iri padamu Sehun, itu manis sekali" ucap Baekhyun dengan nada biasanya, ala fangirl.

"Kau terlalu berlebihan, Baek" Sehun memutar bola matanya malas.

"Eh tunggu? Kai mengantarmu pulang?"

"Iya, ia mengunjungi minimarketku tadi dan mengajakku pulang"

"Oh begitu. Ah hampir lupa, cepat ceritakan lagi!"

"Ah iya. Jadi saat aku membaca surat yang terselip di scarf itu aku teringat seseorang. Aku ingat betul, scarf itu pemberian ibuku saat aku berusia 6 tahun, sebelum ibuku meninggal. Lalu saat ibu dan ayahku meninggal, aku tinggal di rumah paman dan bibiku di Busan. Dulu, di depan rumah paman ada taman bermain. Aku suka sekali bermain disana setiap sore, bahkan aku sampai hafal dengan anak-anak yang selalu bermain disana. Suatu hari, saat aku sedang bermain pasir dengan teman-temanku, aku melihat seorang anak kecil selalu duduk menyendiri di sebuah ayunan. Aku penasaran, lalu mencoba mendekatinya. Aku mencoba mengajaknya berbicara, tetapi ia tak pernah menyahutiku. Lalu..."

"Lalu apa?"

"Aku lupa. Yang kuingat hanya waktu itu aku sepertinya pernah memberikan scarf ini pada anak itu, tapi aku tak tahu kenapa alasanku memberikan scarf ini padanya"

"Kau mengetahui namanya?"

"Tidak, aku merasa aku sering bertemu dengannya di taman bermain, tapi aku tak pernah mengetahui namanya. Ia sangat irit sekali berbicara, bahkan mungkin tak pernah berbicara"

"Ini aneh. Sehun, coba kau tunjukkan semua surat yang pernah kau terima"

Sehun mengambil semua surat dari penggemar rahasianya itu di dalam tasnya, lalu memberikannya pada Baekhyun. Baekhyun kembali membaca semua kumpulan surat itu.

"Ada yang aneh"

"Apa?"

"Kau bertemu anak laki-laki itu dimana saja?"

"Hanya di taman bermain. Aku tak pernah menemuinya di tempat lain"

"Kau bilang scarf itu dulu pernah kau berikan pada anak itu. Berarti kau sudah bertemu dengannya sebelum kau memberikan scarf mu itu. Aku yakin anak itu yang memberimu semua ini, dan setelah aku baca lagi semua surat ini, kejadiannya sangat kronologis, sesuai dengan urutan waktu pertama kali kau bertemu dengannya" terang Baekhyun.

Sehun berpikir sejenak.

"Dimulai dari pepero. Pernahkah kau membawa dan memakannya saat sedang berada di taman bermain?"

Sehun berpikir lagi. Ia berusaha keras mengingat masa lalunya.

"Sepertinya pernah.. bibi selalu memberiku pepero kesukaanku, dan aku selalu memakannya sambil bermain di taman bermain. Astaga... ya, ya, aku ingat!"

"Lalu, bunga Azalea ini. Aku sepertinya tidak yakin kalau kau bermain-main sambil membawa-bawa bunga Azalea.." Baekhyun mengernyitkan keningnya.

"Bunga itu.. mana mungkin aku bermain sambil membawa bunga! Memangnya aku anak perempuan!"

Sehun berpikir lagi.

"Oh iya, sepertinya di depan rumah paman banyak bunga itu. Bibi yang menanam dan merawatnya. Tapi apa hubungannya?" Gumam Sehun.

"Selanjutnya, radio ini. Pernahkah kau membawa-bawanya saat bermain?"

"Radio.. yang aku ingat paman pernah membelikanku radio, karena dulu di rumah paman tidak ada tv. Waktu itu aku sangat senang sekali di belikan radio oleh paman. Tapi apa iya..."

"Lalu Icheongmabi. Pernahkah kau bermain di taman bermain saat musim itu?"

"Aku tinggal dengan paman selama 6 tahun, dan setiap hari selama 6 tahun itulah aku selalu bermain di taman bermain itu. Jadi aku sudah berkali-kali melewati musim itu sambil bermain di taman bermain itu"

"Jawabanmu semua masih ambigu, Sehun. Dan terakhir scarf ini. Yang kau akui pernah memberikannya pada seorang anak laki-laki di sebuah taman bermain. Aku yakin kata kunci dari semua misteri ini ada di taman bermain dan anak laki-laki itu. Coba kau ingat-ingat lagi, siapa tahu kau melewatkan sebuah momen"

Sehun terdiam mendengar perkataan Baekhyun. Mencoba mencerna maksud dari Baekhyun dan mencoba berpikir keras lagi. Namun sepertinya otak nya sudah lelah memikirkan itu semua.

"Aku lelah, aku tidak bisa mengingatnya lagi"

"Ah Sehun! Aku menemukan sesuatu!"

"Apa itu, Baek?"

"Setelah ku pikir-pikir kalau semua clue dari semua surat ini dikumpulkan jadi satu, aku menyimpulkan sebuah kata"

"Oh ya? Apa itu?"

"Pepero - Azalea - Radio - Icheongmabi - Scarf, kalo huruf awal dari semuanya digabungkan menjadi P - A - R - I - S ? PARIS? Sebuah negara? Sehun, apakah anak itu lahir di Paris atau punya keturunan Paris atau pernah tinggal di Paris?"

"Ah.. sepertinya tidak, wajahnya asli wajah Korea, tidak mungkin punya asal-usul Paris"

"Hah, aku lelah memikirkannya" Baekhyun membuang napasnya lelah.

"Kalau ku pikir-pikir, kau pantas sekali menjadi detektif, Baek" Sehun terkekeh.

"Yak! Itu memang cita-citaku, haha" Baekhyun tertawa.

"Sudahlah, kita tidur saja, besok lagi saja memikirkannya, kalau kau memikirkan ini terus pasti tidak akan selesai" ucap Sehun, lalu menarik selimut nya dan tidur.

"Baiklah, selamat malam, Sehun" ucap Baekhyun lalu menarik selimutnya juga dan tidur.

"Selamat malam juga Baek"

.

.

.

Special update for ChanHun dayy yeeaayy

Happy ChanHun Day yaa buat kalian penggemar berat ChanHun muehehehe:3

Nah nah nah hampir ketauan tuh siapa SA nya, siapa hayooo

Buat ChanHun nya sabar dulu yak, masih belum jadian kok, masih digantung/apaini

Hayooo review yaa review:"v

Salam gulugulu^ω^