SECRET ADMIRER
.
.
.
Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun (ChanHun), Kim Jongin (little bit KaiHun), and other cast.
Rated : M
Genre : Romance, School life, yaoi
.
.
.
EPILOGUE
.
.
.
9 YEARS LATER
.
SEOUL, SOUTH KOREA, 11TH APRIL 2025
Dongdaemun Medical Centre
.
"Pisau scalpel "
"Ini dokter"
"Klem arteri"
"Ini dokter"
"Ambilkan benang dan needle holder "
"Baiklah, ini dokter"
"Dokter, dokter, tekanan darah pasien menurun, denyut jantungnya melemah"
"Siapkan defibrilator "
"Baik dokter"
.
"10 joule !"
Deg.
"20 joule !"
Deg.
.
"Akhirnya.. suster Kim tolong pantau terus keadaannya ya, nanti berikan aku catatan keadaannya, ku tinggal sebentar ke ruanganku dulu"
Seorang pria berjas putih keluar dari ruangan operasi.
"Dokter Oh, bagaimana keadaan anak saya? Apakah bisa diselamatkan?" Tanya seorang ibu dengan wajah yang kacaunya bukan main, sembab dan bengkak karena banyak menangis.
"Syukurlah, anak ibu masih bisa tertolong, dia mengalami pendarahan hebat dan beberapa organnya mengalami kerusakan akibat kecelakaan itu, dia sempat drop saat kami sedang mengoperasinya, tapi untung saja dia masih bisa bertahan. Ibu tunggu saja, mungkin 3/4 hari masa kritisnya akan berakhir, kami juga sedang mengusahakan agar keadaannya tetap stabil"
"Terimakasih banyak, dok. Tolong, selamatkan putri saya, anak satu-satu yang saya miliki" kata ibu itu sambil sesenggukan.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Ibu dimohon tetap mendoakan keselamatan anak ibu. Kalau begitu saya tinggal sebentar dulu ya, bu. Permisi"
"Baiklah dokter Oh, sekali lagi terimakasih banyak"
.
.
Ceklek.
.
"Halo, dokter Oh! Bagaimana operasinya?"
"Akhirnya aku bisa menyelamatkan anak itu, bahagia sekali rasanya. Kau tahu, tanganku sangat bergetar saat operasi tadi"
"Kau seperti dokter baru saja, tapi syukurlah operasinya berjalan lancar. Mau segelas kopi?"
"Boleh. Kau pasti tahu kan apa kesukaanku, Baek"
"Baiklah, tunggu sebentar"
.
Baekhyun kembali dengan 2 cangkir di tangannya. Lalu memberikan 1 cangkir pada Sehun.
"Ini pesananmu tuan Oh, coffe latte kesukaanmu"
"Thanks , Baek"
Sehun mengambil cangkir kopinya dari tangan Baekhyun, lalu menyeruputnya.
"Kau tidak ada pasien? Kau tenang-tenang saja dari tadi di ruanganmu"
"Ya, ada satu pasien tadi, dan dia mengeluhkan penyakit kepribadian gandanya. Ah itu sungguh membuatku sakit kepala"
"Itu kan memang sudah pekerjaanmu, Baek" Sehun terkekeh.
.
9 tahun, dari saat mereka masih di sekolah menengah sampai sekarang, selalu saja bersama. 2 orang sahabat tak terpisahkan, Baekhyun dan Sehun. Ya meskipun sebenarnya dokter bukan cita-cita Baekhyun, ya kalian pasti tahu kalau Baekhyun pernah bilang ia ingin menjadi detektif. Namun cita-citanya itu ditentang oleh ibunya dengan alasan "apa hidupmu hanya digunakan untuk memecahkan misteri orang lain? Lebih baik ikuti saja cita-cita Sehun, toh dokter itu pekerjaan yang sangat mulia, hidupmu pasti akan penuh dengan berkah jika kau bisa membantu mereka yang kesakitan" , begitulah kata ibu Baekhyun. Dan jadilah Baekhyun menjadi dokter. Bedanya, kalau Sehun dokter ahli bedah, Baekhyun memilih menjadi dokter kejiwaan. Mengambil universitas dan fakultas yang sama selama 5 tahun mereka berkuliah, dan sekarang sudah 2 tahun mereka mengabdi di rumah sakit tempat mereka bekerja, oh ayolah bahkan mereka satu tempat kerja. Mereka memang tak terpisahkan.
.
"Tumben Jongdae tidak menemuimu, biasanya jam segini ia sudah ada disini"
"Ya begitulah, sebagai pengacara yang sangat diandalkan dia menangani banyak kasus-kasus kliennya" terang Baekhyun.
Baekhyun dan Jongdae? Ya mereka sekarang sepasang kekasih. Terkejut? Sehun pun begitu. Bahkan mereka sudah 2 tahun menjalin kasih.
"Masih menunggunya?" Tanya Baekhyun.
"Ya, masih. Sampai detik ini aku masih menunggunya"
"Sudah mendapatkan surat darinya hari ini?"
"Belum. Demi apapun, aku seperti orang gila yang selalu menunggu kiriman surat darinya dan juga selalu membacakan semua surat darinya berulang-ulang" ucap Sehun sambil mengambil sebuah kotak berwarna biru langit dari dalam tas kerjanya yang berisi semua surat dari Chanyeol.
"Kau sabar saja, Chanyeol sunbae pasti kembali"
"Lagipula oh ayolah, ini jaman canggih, sudah ada alat komunikasi yang lebih baik, kenapa harus pakai surat-suratan segala! Mana hanya mengirim surat 3 bulan sekali" Sehun mengerang frustasi.
"Mungkin saja dia punya maksud lain. Coba sini, ku lihat lagi surat-suratnya"
Sehun memberikan kotak yang berisi semua suratnya pada Baekhyun. Baekhyun mengambil satu surat lalu membacanya.
.
Jleb.
.
"Sehun? Kau dimana? Kenapa lampunya mati?"
"Aku didepanmu, Baek. Sepertinya listriknya turun. Mungkin hanya sebentar saja"
Sehun menyipitkan matanya. Melihat sesuatu yang menyala di sekitar tangan Baekhyun.
"Baek, apa yang sedang kau pegang?"
"Surat milikmu"
"Benarkah? Lihatlah Baek, tulisannya menyala"
"Astaga, kau benar Hun."
.
Jleb.
.
Lampu kembali menyala.
"Sepertinya ada sesuatu dibalik semua surat-surat ini" terka Baekhyun.
"Iya. Pulang kerja nanti, kita ke apartemenku ya Baek. Kita pecahkan semua misteri aneh lagi dari si Chanyeol sialan itu"
Sehun mengambil ponselnya yang bergetar dari saku jas nya.
"Halo?"
"Halo, saya suster Kim, dokter Oh. Saya ingin memberikan data keadaan terkini pasien yang bernama Choi Jung Seol"
"Yasudah, kalau begitu letakkan di ruanganku saja, aku akan segera ke ruanganku"
Sehun menutup sambungan teleponnya.
"Dari siapa?" Tanya Baekhyun.
"Suster Kim, dia memberi tahu keadaan terkini anak yang tadi aku operasi. Kalau begitu aku ke ruanganku dulu ya, Baek"
"Oke, bye Hun"
.
.
.
Pukul 9 malam. Jam praktek Sehun sudah habis. Sehun membereskan peralatannya dan juga mejanya. Lalu bergegas keluar menemui Baekhyun yang sudah menunggu di loby.
.
"Lama sekali, sih" gerutu Baekhyun.
"Oh ayolah, jam praktek ku kan baru saja habis. Sudah ayo kita pulang"
Sehun merangkul bahu Baekhyun lalu berjalan menuju parkiran.
.
.
.
"Mau minum apa?" Tanya Sehun saat mereka sampai di apartemen milik Sehun.
"Apa saja, cepatlah aku sudah tak sabar memecahkan misteri ini"
"Baiklah, tunggu sebentar"
.
Sehun kembali dengan membawa 2 cangkir white coffee untuknya dan Baekhyun. Lalu meletakkannya diatas meja.
"Cepat, cepat, matikan dulu lampunya Sehun!"
Sehun menuruti perkataan Baekhyun untuk mematikan lampu ruang tamu, lalu kembali duduk di sebelah Baekhyun.
Baekhyun membalikkan semua semua surat-surat milik Sehun. Benar saja, dibalik semua suratnya terdapat sebuah tulisan yang menyala.
"Sehun bantu aku menyusunnya"
Sehun dan Baekhyun mulai menyusun surat-surat yang berisi sebuah kata dibalik kertasnya itu menjadi sebuah kalimat. Lalu Baekhyun membacanya.
"Oh
Sehun
Tunggu
Aku
Saat
Hari
Bahagiamu
9
Tahun
Kemudian "
"Apa maksudnya?" Tanya Sehun tidak mengerti.
"Entahlah, sepertinya dia akan kembali, Hun. Sudah tahun ke berapa sekarang?"
"Hhmm... sepertinya 9 tahun"
"Mungkin saja di waktu-waktu dekat ini dia akan kembali"
"Aku harap begitu"
"Sudahlah, aku lelah, aku menginap dirumahmu ya sudah pukul 11 malam. Aku tidur duluan ya, Sehun"
"Baiklah, selamat tidur, Baek"
.
.
SEOUL, SOUTH KOREA, 12TH APRIL 2025
.
.
Musim panas. Ya, musim yang sangat menyenangkan. Dimana udara yang hangat dan cuaca yang panas menyelimuti permukaan bumi.
Hari ini Sehun mendapatkan jadwal kosong, karena sudah ada dokter yang menggantikannya. Baekhyun sudah berangkat lebih dulu ke rumah sakit, karena hari ini ia ada jadwal praktek.
Sehun lebih memilih untuk bermalas-malasan. Terbukti, sudah pukul 10 pagi tetapi Sehun masih saja berguling-guling malas di kasurnya.
Ia mengambil ponsel di atas nakasnya, mengecek notifikasi barangkali ada pesan dari suster rumah sakit mengenai pasiennya atau pesan dari teman-temannya. Tidak ada. Tumben sekali ponselnya sepi.
Sehun beranjak dari kasur, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas susu.
.
Ting-tong.
.
Bel apartemennya berbunyi saat Sehun sedang meminum susunya.
"Siapa sih yang bertamu, mengganggu orang sedang santai saja" gerutu Sehun.
Sehun meletakkan gelas yang masih berisi setengah dari susunya, lalu berjalan ke arah pintu.
Sehun langsung membuka pintunya tanpa mengintip terlebih dahulu.
"SURPRIISEEE!"
"HAPPY BIRTHDAY DOCTOR OH SEHUN"
"Ya tuhan... kalian mengagetkanku!" Teriak Sehun sambil memegangi dadanya yang berdetak tak karuan karena terkejut.
"Ya! Harusnya kau biarkan kami masuk dulu dan segeralah tiup lilin ulang tahunmu!" ucap Jongdae.
"Ya, baiklah, silakan masuk sahabat-sahabatku" ucap Sehun sambil membuka pintu lebar-lebar agar sahabatnya bisa masuk kedalam.
"Ayolah, cepat make a wish dan tiup lilinnya!" Perintah Baekhyun.
"Iya Hun cepatlah, aku sudah tak sabar memakan kue nya" ucap Kai.
Sehun terkekeh. Ia menautkan kedua tangannya, menutup matanya, lalu memanjatkan doa di dalam hatinya. Kemudian meniup lilin di kue ulang tahunnya.
Jongdae, Baekhyun, dan Kai bertepuk tangan setelah Sehun meniup lilinnya.
"YEEAAYY SAENGIL CHUKKA HAMNIDA SEHUN!" Teriak Baekhyun.
"Terimakasih banyak untuk kalian semua, kalian memang yang paling terbaik" kata Sehun lalu memeluk ketiga sahabatnya itu.
"Jangan lupa traktirannya, Sehun!" Ucap Kai.
"Tenang saja, aku tak akan lupa hal itu" Sehun terkekeh.
"Sekarang kau potong kuenya dan beri first cake mu pada salah satu dari kami" ucap Jongdae sambil memberikan pisau pada Sehun.
Sehun memotong kue pertamanya, lalu meletakannya di piring.
"Bisakah aku memberikan potongan pertamaku pada kalian bertiga?" Sehun terkekeh.
"Tidak bisa, kau harus memberi salah satu dari kami" kata Jongdae.
"Iya, masa kita harus memakan kue itu bertiga" tambah Baekhyun.
"Baiklah, ini kuberikan pada Kai saja, kasihan dari tadi ia menahan air liurnya untuk memakan kue ini" Sehun tertawa yang disusul oleh tawa keras dari Jongdae dan Baekhyun.
"Niat memberi atau mengejekku sih, huh! Tapi tak apa, sini kuenya!" Kai menyambar kue yang ada di tangan Sehun.
"Tuhkan, dasar tukang makan!" Sekali lagi, Sehun, Jongdae, dan Baekhyun tertawa geli sekali.
.
.
.
"Mau sampai kapan kalian disini dan mengacak-acak apartemenku, huh!" Dengus Sehun.
"Hei, jangan marah-marah begitu dihari spesialmu" Baekhyun terkekeh.
"Biar saja, lagipula memang kalian tidak ada kerjaan lagi?! Kau Baek, bukannya kau ada jadwal praktek hari ini?!"
"Sebenarnya hari ini aku tidak ada jadwal, hanya tadi pergi ke rumah sakit saja mengecek keadaan" ucap Baekhyun dengan cengirannya.
Sehun menatap tajam pada Baekhyun karena membohonginya tadi. Baekhyun hanya cengar-cengir.
"Kau, Jongdae! Bukannya kau masih ada kasus yang harus kau selesaikan dengan klienmu?!"
"Kemarin kami sudah sidang dan kasusnya sudah selesai jadi aku tak punya kasus apapun" jawab Jongdae santai.
"Dan kau, Hitam! Bukannya kau harusnya masih ada di Jepang menghadiri acara festival modern dance?!"
"Ya! Aku sudah menyelesaikannya dan bahkan aku baru saja tiba di Seoul pukul 6 pagi tadi" desis Kai.
"Oh ya tuhan, mungkin sekarang aku tak punya alasan untuk mengusir kalian, kalau begitu silakan lanjutkan acara mengacak-acak apartemenku" dengus Sehun, lalu menghampiri Baekhyun yang sedang duduk di sofa sambil memakan cemilannya.
Seperti biasa, Jongdae dan Kai akan bermain ps dengan game kesukaan mereka ditemani popcorn dimasing-masing tangan mereka, sedangkan Baekhyun hanya menonton mereka bermain saja. Sehun sendiri kadang suka kesal melihat kelakuan sahabatnya, terutama Jongdae dan Kai yang selalu memberantakan apartemennya.
Ponsel Kai tiba-tiba berdering. Kai meletakkan stick ps nya lalu mengambil ponselnya di saku celananya.
"Hentikan dulu Jong, aku ingin mengangkat telepon dulu"
"Baik, bro !" Jongdae langsung mematikan ps nya.
Kai lalu mengangkat teleponnya lalu mengobrol dengan lawan bicaranya di telepon.
"Ada yang bisa menemaniku menjemput Kyungsoo nanti di bandara?" Tanya Kai setelah menyudahi teleponnya.
"Aku tidak bisa, aku dan Baekhyun akan jalan-jalan nanti, iya kan Baek?" Ucap Jongdae sambil melirik pada Baekhyun.
"Ya Kai, aku tidak bisa, aku akan jalan dengan si idiot ini"
"Hei! Tidak usah mengataiku idiot juga!"
"Memang kenyataannya begitu"
"Sudah-sudah jangan berkelahi, berarti kau, Sehunku yang bodoh. Kau harus menemaniku nanti! Tidak ada penolakan" ucap Kai sambil menunjuk kearah Sehun.
"Berhentilah mengataiku bodoh atau aku takkan menemanimu!" Desis Sehun.
"Oke baiklah, Sehunku tersayang maafkan aku"
"Jangan memanggilku seperti itu juga! Menggelikan" Sehun memutar bola matanya malas.
.
.
.
"Memangnya pacarmu si Kyungsoo habis darimana?" Tanya Sehun.
Mereka sekarang sedang duduk di kursi panjang yang dikhususkan untuk menunggu kedatangan penumpang di bandara.
"Dia ada job menyanyi di China" jawab Kai.
"Dia kan artis, kau tak takut tertangkap kamera saat ketahuan berjalan berdua dengannya di bandara?"
"Biar saja, biar mereka semua tahu kalau aku ini kekasihnya"
Ya, Kai dan Kyungsoo menjalin kasih saat mereka masih kuliah. Berada di jurusan yang sama membuat mereka sangat dekat. Tidak ada yang menyangka memang, bahkan saat mereka di sekolah menengah dulu mereka tak sedekat itu walaupun sekelas.
.
The answer is you
My answer is you
Nae modeungeol da boyeojwo bwasseo
You are my everything neomu hwaksinhaeseo
.
Lagu itu? Lagu yang Chanyeol hyung nyanyikan dulu, apa dia...
"Chanyeol hyung "
Sehun menyusuri kedua matanya ke segala arah di bandara ini, namun objek yang dicarinya tak ketemu juga.
"Kau bilang apa tadi Hun? Chanyeol?" Tanya Kai sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku seperti mendengar suara Chanyeol hyung bernyanyi tadi" Sehun masih saja mengelilingi pandangannya ke segala arah.
"Sepertinya kau harus benar-benar berkonsultasi pada Baekhyun, Hun. Aku khawatir padamu"
.
Plak.
.
"Sialan, kau pikir aku gila?! Aku masih waras!"
"Aaww sakit Hun, lama-lama aku sungguhan gegar otak karena kepalaku dipukuli terus olehmu dan Baekhyun" ringis Kai.
"Lagipula, kau seperti orang yang berhalusinasi saja, padahal wujud Chanyeol pun tidak ada disini, kalau bukan gangguan jiwa, lantas apa?"
.
Plak.
.
"Sekali lagi kau mengataiku gila aku tak segan-segan akan membelah dadamu dengan pisau bedahku!" Desis Sehun.
"Aaww sudah berhenti memukulku bodoh, kepalaku sakit" dengus Kai sambil meringis kesakitan.
"Kaaii!" Panggil seseorang dari kejauhan.
"Kyungsoo!" Kai langsung berlari ke arah Kyungsoo saat melihatnya baru keluar.
"Sudah lama menungguku? Maaf ya, pesawatku sempat jet lag tadi"
"Tidak apa, lagipula aku tak sendiri, ada Sehun yang menemaniku"
"Mana Sehun?"
"Itu disana, sedang mencari seseorang seperti orang gila padahal sosok yang dicari tidak ada"
"Sehun!" Panggil Kyungsoo.
"Hei, Kyungsoo! Bagaimana keadaanmu? Pasti melelahkan, ya" Sehun menghampiri Kyungsoo lalu memeluknya. Kyungsoo membalas pelukan Sehun.
"Aku baik-baik saja, dan ya cukup melelahkan, tapi aku senang" Kyungsoo terkekeh.
"Ayolah, lanjut di mobil saja bicaranya, kita harus segera pulang" ucap Kai.
.
.
.
.
Pukul 9 malam. Sungguh rasanya bagi Sehun sekarang libur itu sangat membosankan. Ia hanya sendiri di apartemennya. Kalau biasanya ia akan mengajak Baekhyun menginap di apartemennya sekarang sudah tak bisa. Baekhyun pasti sedang pergi jalan-jalan dengan Jongdae, Kai pasti sedang menikmati quality time nya dengan Kyungsoo yang baru saja tiba.
Sehun menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya, berguling-guling malas sampai seprei kasurnya berantakan. Sungguh sangat membosankan.
.
Ddrrtt.
.
Sehun bergegas mengambil ponselnya di atas nakas ketika ponselnya berdering.
"Halo?"
"Halo, dokter Oh, bisakah Anda kerumah sakit sekarang? Ada pasien korban kecelakaan yang membutuhkan operasi, keadaannya gawat darurat"
"Apakah tidak ada dokter lain yang menanganinya? Dokter Lee kemana memangnya?"
"Dokter Lee sedang menangani operasi pembuluh darah seorang pasien yang juga baru saja datang, pasien disini sangat banyak dan kami kekurangan dokter"
"Kalau begitu 20 menit lagi aku akan segera sampai kesana, tolong suster Kim segera siapkan semua alat operasinya"
Sehun mematikan sambungan teleponnya, mengambil jas putihnya dengan cepat lalu bergegas pergi kerumah sakit dengan terburu-buru.
.
.
.
"Hosh hosh, pasiennya berada di kamar berapa?" Tanya Sehun yang sambil ngos-ngosan setelah berlari pada seorang suster.
"Kamar 12 UGD bangsal VIP, dokter Oh"
Sehun segera berlari menuju kamar pasiennya, beruntung saja letaknya di lantai satu.
"Suster Kim, apa semuanya sudah siap?" Tanya Sehun saat membuka pintu kamar pasiennya dengan cepat sambil ngos-ngosan karena berlari.
.
Hening.
.
"Suster Kim? Kemana dia? Kenapa malah sepi seperti ini?"
Sehun mengernyitkan dahinya. Ia melihat ke atas ranjang. Kenapa pasiennya tubuhnya ditutupi selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya? Dia belum meninggal dunia, kan?
"Suster Kim!" Panggil Sehun, kali ini sedikit berteriak. Namun tidak ada sahutan apapun.
.
The answer is you
My answer is you
Nae modeungeol da boyeojwo bwasseo
You are my everything neomu hwaksinhaeseo
.
"Lagu itu lagi, astaga aku berhalusinasi lagi, mungkin Kai benar, aku harus segera konsultasi dengan Baekhyun" bisik Sehun.
"Suster Kim?!" Panggil Sehun lagi, namun tidak ada jawaban.
"Kenapa pasiennya ditutupi selimut seluruh tubuh begini? Memangnya dia sudah meninggal dunia? Benar-benar ya suster Kim, bukannya langsung dikasih selang infus malah ditutupi seperti mayat begini" gerutu Sehun.
Sehun menghampiri pasiennya yang sedang berbaring di ranjang, lalu membuka selimut yang menutupi tubuh pasiennya.
.
Deg.
.
"C-Cha-Chanyeol hyung ?!"
Sehun membelalakkan matanya. Terlalu terkejut, kenapa orang yang ia tunggu selama ini terbaring disini.
"Chanyeol hyung ! Bangunlah! Apa yang kau lakukan disini! Tolong jangan mati dulu!"
Sehun panik. Apa Chanyeolnya ini sudah tiada? Kenapa ia bisa-bisanya terbaring disini dengan keadaan tubuhnya yang diselimuti seluruhnya?
"Chanyeol hyung , bangun!" Sehun mulai terisak.
"Berisik sekali sih, aku tertidur lagi kan, kau lama sekali sih" gerutu Chanyeol sambil mengucek-ngucek matanya.
Sehun terdiam.
Sial.
"Kau?! Mau ku belah perutmu dengan pisau bedah milikku, huh?! Sialan, berani-beraninya kau mengerjaiku!"
Sehun memukul-mukul tubuh Chanyeol dengan kencang, membuat Chanyeol mengaduh kesakitan.
"Aaww Sehun, sakit! Hentikan!"
Chanyeol bangun dari tidurnya, lalu segera memegang kedua tangan Sehun agar ia berhenti memukul.
.
Chup.
.
Chanyeol mencium bibir Sehun secara tiba-tiba.
"Itu hukuman karena kau sudah memukuliku"
.
Chup.
.
"Yang ini hukuman karena kau sudah mengatakan sumpah serapah padaku"
.
Chup.
.
Chanyeol mencium bibir Sehun agak lama. Merindukan bibir yang sudah lama tak ia sentuh. Melumatnya dengan lembut sebentar, lalu melepasnya.
"Yang ini karena aku merindukanmu. Long time no see you, i really officially missing you, Oh Sehun" Chanyeol tersenyum.
"Kau jahat hyung , aku benci kau!" Tangis Sehun mulai pecah.
"Maafkan aku, aku mencintaimu" Chanyeol memeluk erat Sehun yang kini terisak di bahunya.
Chanyeol melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang ada di mata Sehun, lalu memegang pipinya sambil menatap matanya lekat.
"Jadi, apa kau sudah tahu sebelumnya kalau aku akan kesini? Apa kau menemukan sesuatu?"
"Dasar Park Chanyeol bodoh! Bisa-bisanya membuatku terlihat lebih bodoh dengan semua surat-suratmu!"
.
Chup.
.
"Semakin sering kau mengucapkan sumpah serapah maka dengan senang hatinya aku akan menciummu" Chanyeol terkekeh.
"Sialan"
.
Chup.
.
"Oh ayolah, hentikan! Aku belum selesai bicara!" Sehun memukul lengan Chanyeol.
"Aduh, sakit Sehun" Chanyeol mengusap-ngusap lengannya yang habis dipukul oleh Sehun.
"Apa maksudmu mengirimkan semua surat itu? Mau menjadi penguntitku lagi? Oh ayolah jaman sudah canggih, sudah banyak alat komunikasi yang lebih baik, kenapa kau repot-repot menuliskan itu semua dan mengirimkannya padaku? Dan juga, kau ini kurang kerjaan ya? Mengapa menulis semua kata-kata itu di balik suratnya dengan tinta glow in the dark ? Sampai kapanpun juga aku bahkan orang pintar pun juga tidak akan tahu kalau saja kemarin tidak mati listrik! Kau memang sengaja membuatku terlihat lebih bodoh dan menjadi gila ya! Bahkan Kai mengataiku gila karena aku selalu berhalusinasi tentangmu! Bahkan aku selalu menunggumu mengirimi surat sialan ini, dan selalu membacanya berulang-ulang dan—"
.
Chup.
.
Chanyeol kembali mencium lembut bibir Sehun, melumatnya sebentar lalu melepaskannya.
"Sudah hentikan. Maafkan aku ya, Sehun. Bukan maksudku seperti itu" Chanyeol memeluk Sehun erat, mengelus pelan punggung Sehun yang sedikit bergetar karena sepertinya Sehun mulai terisak lagi.
"Sudah jangan menangis lagi. Sekarang, ayo pulang. Aku lelah" Chanyeol menghapus air mata Sehun lalu menarik tangannya keluar dari kamar rumah sakit.
"Oh ya tuhan, jadi sekarang aku juga tidak ada kegiatan operasi? Dan pasien kecelakaan itu adalah kau? Kau dan suster Kim? Oh ayolah permainan apalagi ini, bahkan rumah sakit juga sudah berani membohongiku" gerutu Sehun sebal sambil memutar bola matanya malas.
"Berhentilah menggerutu dokter Oh, atau nanti tidak ada pasien yang mau dioperasi olehmu" ledek Chanyeol, tawanya sudah tidak bisa ditahan lagi.
.
Plak.
.
"Tutup mulutmu hyung dan segeralah antar aku pulang, aku mengantuk!"
"Aduh, sudah berapa kali kau memukulku? Sakit sekali, Sehun" Chanyeol meringis.
"Lebih banyak juga kau yang mencuri ciuman dariku seperti kucing yang mencuri ikan dari dapur" Sehun memutar bola matanya malas.
.
.
.
Sehun turun dari mobil Chanyeol, lalu mengernyitkan dahinya melihat tempat yang begitu asing dimatanya. Sebuah rumah megah dengan dekorasi yang bagusnya bukan main.
"Hei, kau membawaku kemana? Rumah siapa ini? Kenapa kau tak mengantarkanku ke apartemenku?" Tanya Sehun.
"Ini rumahku, ah tidak, lebih tepatnya rumah kita berdua. Sudahlah, masuk saja dulu" Chanyeol menarik lengan Sehun untuk masuk kedalam rumah.
Chanyeol membuka pintu rumahnya. Gelap. Itulah kesan pertama yang ada di pikiran Sehun. Chanyeol terus saja menarik lengannya untuk masuk ke dalam rumah yang gelap itu.
"Hyung , kenapa gelap sekali? Cepat, nyalakan lampunya!" Ucap Sehun.
Sehun menjulurkan kedua tangannya untuk meraba-raba ke sekelilingnya, mencari sosok Chanyeol. Namun ia tak menemukannya.
"Chanyeol hyung ? Kau dimana? Hyung , jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut!"
.
Jleb.
.
"Saengil Chukka Hamnida, sweetheart "
Lampu tiba-tiba saja menyala terang, lalu sosok Chanyeol sudah berdiri tepat di depannya sambil memegang kue ulang tahun di tangannya.
"Apa aku sangat telat? Maafkan aku ya"
"Tidak hyung , tidak. Terimakasih banyak" Sehun mulai terisak lagi.
"Masih pukul 11 malam, cepat buat harapanmu dan tiup lilinnya"
Sehun menutup matanya, menautkan kedua jarinya sambil berdoa di dalam hati, lalu setelahnya meniup lilin di atas kue ulang tahunnya.
Setelah Sehun meniup lilinnya, Chanyeol meletakkan sebentar kue itu diatas meja.
"Selamat ulang tahun ya, Sehunku sayang. Maafkan aku jika aku sangat telat mengucapkannya, aku sungguh-sungguh minta maaf"
Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru langit dari saku jas nya.
"Ini, hadiah dariku untukmu"
Sehun membuka kotak hadiah dari Chanyeol. Sebuah jam tangan berwarna gold. Sepertinya mahal, pikir Sehun.
"Itu jam tangan couple , limited edition , lihatlah aku juga memakai jam tangan yang sama dengan punyamu. Aku membelinya saat aku di Paris. Kapan-kapan aku akan mengajakmu pergi ke Paris"
"Hiks hiks"
Sehun menundukkan kepalanya.
Chanyeol panik.
"Sehun? Kau kenapa? Kenapa menangis? Kau tidak suka ya?" Tanya Chanyeol khawatir.
Sehun langsung menubrukkan dirinya pada tubuh Chanyeol.
"Terimakasih. Terimakasih banyak, hyung. Terimakasih sudah kembali. Terimakasih telah hadir kembali dihidupku.Aku mencintaimu, Chanyeol hyung " bisik Sehun di sela-sela isakannya.
"Sstt, sudah jangan menangis lagi, aku juga mencintaimu, Sehun. Lebih baik sekarang kau potong saja dulu kue ulang tahunmu" ucap Chanyeol sambil menghapus air mata Sehun.
"Kau benar juga, astaga hari ini aku terlihat cengeng sekali" Sehun tertawa.
Chanyeol mengambil kembali kuenya, lalu menyerahkan pisau kue kepada Sehun. Sehun memotong kuenya lalu meletakkannya di piring.
"Untuk siapa?" Tanya Chanyeol.
"Ya untukku lah"
Chanyeol mengerucutkan bibirnya, menggemaskan sekali, pikir Sehun.
"Aku bercanda hyung , ini untukmu" Sehun terkekeh.
Sehun menyuapkan kuenya ke mulut Chanyeol, Chanyeol langsung membuka mulutnya dan memakannya.
"Nah begitu, terimakasih sayang"
"Ya hyung , sama-sama"
"Ayo kita ke kamar, kau pasti mengantuk"
Chanyeol merangkul Sehun dan mengajaknya masuk ke kamar. Lalu Chanyeol membawa Sehun untuk berbaring di atas kasur. Chanyeol pun langsung merebahkan dirinya di samping Sehun.
"Mau bercerita sesuatu?"
"Justru aku ingin bertanya padamu"
"Yasudah, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan padaku"
"Kapan kau tiba di Korea?"
"Uumm... sepertinya kemarin siang. Maaf aku tak memberitahu kedatanganku kemarin padamu. Kau tahu, kemarin aku sudah memenuhi keinginanku yang selama ini aku inginkan"
Sehun mendelik sebentar kearah Chanyeol.
"Apa?"
"Melihatmu mengoperasi pasienmu dengan semua alat bedahmu itu, ugh kau sangat seksi dan manis, persis seperti harapanku" Chanyeol terkekeh.
"..."
"Aaww, ya! Sakit Sehun, jangan mencubit lenganku!" Chanyeol mengusap-ngusap lengannya.
"Sudah tak memberitahu kedatanganmu, berani-beraninya kau mengintip aku yang sedang bekerja!" Desis Sehun.
"Aku kan hanya ingin memberi kejutan padamu, Sehun"
Sehun memutar bola matanya malas.
"Lalu bagaimana kehidupanmu di Paris?"
"Tidak begitu menyenangkan. Hidupku bagai di diktator oleh grandmaku. Tapi syukurlah sekarang aku bisa menyelesaikan semua tugasku"
"Jadi.. kau sungguhan menjadi seorang pebisnis sukses?"
"Ya. Kau tau Park corp dan Jewell group? Itu perusahaan yang berhasil aku kembangkan. Keduanya memiliki cabang di Korea dan juga di Paris"
Sehun membulatkan matanya.
"Oh astaga.. kedua perusahaan itu sudah sangat maju dan makmur sekali. Itu, itu kau yang pegang?"
Chanyeol mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan ibumu?"
"Ibuku sudah lepas tangan dari semua perusahaan ayahku, dan sekarang semuanya itu aku yang pegang. Ibu memilih tinggal dengan damai bersama grandma di Paris"
"Lalu kau akan ikut menetap juga di Paris bersama ibu dan grandma mu?"
"Tidak. Aku akan tinggal disini, bersama kekasihku, di rumah ini" ucap Chanyeol lalu memeluk Sehun dengan erat.
"Hah? Lalu.. rumah ini.. milikmu sungguhan?"
"Iya, rumah ini ku beli khusus untuk kita tinggali berdua. Jadi, kau jual saja apartemenmu dan pindah ke rumah ini bersamaku"
.
Plak.
.
"Enak saja kau menyuruhku untuk menjualnya, apartemen itu ku beli dengan gajiku, tahu tidak! Lagipula apartemen itu sangat bagus dan mahal, beda sekali dengan apartemen yang dulu aku tinggali, jadi aku takkan mau menjualnya"
"Aduh sakit Sehun, jangan memukuli ku terus—" Chanyeol mengusap-usap lengannya, "—kalau begitu kau sewakan saja, kau harus tetap tinggal disini bersamaku, tidak ada penolakan"
"Ya, ya terserah kau saja hyung " dengus Sehun.
"Hm.. jadi, kau sungguhan menjadi dokter?"
"Iya, lebih tepatnya aku adalah seorang dokter bedah"
"Tak kusangka kau akan benar-benar mengejar cita-citamu, sudah berapa lama kau bekerja di rumah sakit itu?"
"Uumm.. mungkin sudah 2 tahun"
"Jadi, kalau aku sakit nanti aku tidak perlu repot-repot ke rumah sakit, aku langsung berobat saja dengan pacarku ini, pasti menyenangkan sekali dirawat olehmu saat aku sedang sakit" Chanyeol terkekeh.
"Kau tidak takut? Suntikan ku sakit sekali loh, hyung "
"Asal kau yang menyuntik aku tidak apa-apa" Chanyeol terkikik geli.
"Ya terserah kau saja"
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu dulu di minimarket?"
"Aku resign dari pekerjaanku di minimarket saat aku mendapatkan tawaran magang di rumah sakit tempat ku bekerja sekarang saat kuliah. Jieun dan Sungmin hyung sangat sedih mendengar aku keluar dari sana. Tapi mereka menerima keputusanku, dan sampai sekarang aku masih berteman baik dengan mereka, aku masih sering mengunjungi minimarket. Dan kau tahu? Sungmin hyung dipercayakan oleh bos ku yang sudah tua untuk memegang dan mengurus minimarket sekarang, sedangkan Jieun diangkat menjadi sekretaris di minimarket itu membantu Sungmin hyung . Aku sangat senang, akhirnya bukan hanya kehidupanku saja yang berangsur menjadi lebih baik, tetapi kehidupan mereka juga"
"Akhirnya, aku senang sekali mendengarnya. Oh ya Sehun, minggu depan kosongkan jadwal praktekmu"
"Untuk apa?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke Paris, anggap saja kita pergi untuk menikah dan berbulan madu disana" Chanyeol terkekeh.
"Hah?! Aku tidak—"
"Tidak ada penolakan Oh Sehun, jadi ku anggap kau bersedia ikut denganku"
"Kau menyebalkan!"
"Ya, terimakasih sudah mencintaiku" Chanyeol langsung memeluk Sehun erat.
"Hei, aku tidak berkata seperti itu!"
"Tapi hatimu berkata demikian, Sehun" Chanyeol terkekeh.
.
Chup.
.
Chanyeol mencium lembut bibir Sehun. Menyalurkan rasa kerinduan yang tertahan di dalam dirinya. Melumat pelan bibir kekasih tercintanya. Detik kemudian Sehun membalas ciuman dari Chanyeol. Mereka larut dalam ciuman lembut mereka yang memabukkan. Entah sejak kapan Chanyeol sudah berada diatas Sehun, menindihnya.
"Aku mencintaimu, terimakasih sudah menungguku dengan sabar selama 9 tahun" ucap Chanyeol, lalu kembali mencium Sehun.
"Terimakasih juga karena kau sudah kembali, aku juga mencintaimu" balas Sehun lalu kembali mencium Chanyeol lagi.
"Bisakah kita bermain sekarang? Aku merindukan berada didalam mu" Bisik Chanyeol.
"Bukannya di Paris kau bermain dengan semua wanita panggilanmu? Kau ini kan pebisnis tajir pasti sudah banyak wanita yang ingin mengencanimu" cibir Sehun.
"Hey, mana ada! Aku menahan hasratku selama 9 tahun sampai aku bertemu denganmu lagi! Harusnya aku yang bertanya itu padamu, kau pasti sudah berkencan dengan orang lain selama ini!"
"Enak saja, aku kuliah sibuk mengejar gelar doktor ku dan aku selalu sibuk menghabiskan waktuku di ruangan operasi dengan semua macam pisau bedah, jadi mana mungkin aku punya waktu untuk mengurusi semua hal itu!"
"Oh ayolah Sehun, sudah jangan mulai berdebat lagi, aku lelah, aku ingin bermain denganmu, boleh ya, boleh" rengek Chanyeol.
"Karena aku kasihan padamu, jadi yasudahlah, lakukan sesukamu. Lagipula, lihatlah punyamu sudah terbangun"
Sehun menggoda Chanyeol dengan menyentuh milik Chanyeol yang sudah menyembul itu, mengelusnya dengan pelan.
"Oh shit , Sehun, kau mencuri start duluan! Kau harus bertanggung jawab, Oh Sehun!"
Kemudian Chanyeol kembali meraup bibir mungil nan manis milik kekasihnya itu. Dan selanjutnya mereka bermain permainan yang Chanyeol minta itu, ya pasti kalian sudah bisa menebaknya. Mereka bermain sampai pukul 1 malam, melelahkan dan menguras keringat, tetapi mereka berdua saling menikmatinya. Kemudian mereka terlelap dalam tidur damainya, mereka saling berpelukan dengan erat. Senyum terukir manis dari kedua bibir mereka saat mereka tertidur.
.
.
Kau tak perlu takut untuk melepaskan dan ditinggalkan oleh orang yang kau sayangi, karena percayalah Tuhan pasti akan merencanakan sesuatu yang indah dengan menghadirkan seseorang yang lebih baik untukmu. Hidup memang penuh misteri, maka dari itu aku suka sekali bermain dengan misteri. Aku belajar banyak dari sesosok manusia yang menjalani hidupnya dengan tegas dan bijak, dan ku yakin Tuhan memang sengaja mengirimkannya untukku agar aku juga bisa menjadi sosok yang tegar sepertinya — Chanyeol.
.
Aku diajarkan menjadi orang yang tegar sejak kecil oleh paman dan bibiku, dan merelakan kepergian kedua orangtua yang aku sayangi, jadi aku terbiasa bersikap tegar dan selalu bekerja keras dalam menjalani hidup. Karena ku yakin Tuhan pasti merencanakan sesuatu yang indah, seindah musim gugur dan musim semi — Sehun.
.
.
.
THE END
.
.
Udah beneran end sekarang, maafin aku ending yang kemarin gak sesuai sama ekspektasi kalian wkwk:v/digebukreaders
Ada yang bisa ngambil pesan moral dari ceritaku ini? Wkwk:"v
Terimakasih banyak buat kalian yg udah mau ngikutin terus cerita ffku ini
Terimakasih banyak juga buat yang udah nge-review ceritaku ini, thanks to :
siensien, scorpiopita, , kyunie, park28sooyah, awkaihun, chuapexo31, happybubblee, song soo hwa, thedolphinduck, ilysmkji, dearmykrishan, izzSuzzie, lupanamaakun, chanlovehun, rellicious94, minnieWW, iira97, relks88, and many more that i can't mention one by one:3
Tunggu cerita baru aku selanjutnya yaa~
Mani mani saranghaee uugghh/love sign
Salamgulugulu^ω^
