Important Notice : kalau anda reader baru, saya sarankan untuk baca dulu prekuel dari serial ini, yaitu Himitsu no Uta (silakan cek profil author)
Additional Notice : Di bagian pertengahan cerita-setelah horizontal line yang ke-3 (yang ada di bawah tulisan ini adalah horizontal line pertama), disarankan membacanya sambil mendengarkan duet KiyoMiku dengan mengetikkan keyword : 【氷山キヨテル+初音ミク】微睡む月の夜のアリア di youtube. Selamat membaca!
Rhapsody of Secret ~秘密の狂詩曲
by Mizumori Fumaira
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha corp.
Genre : Drama, Hurt/Comfort, Romance (as subgenre)
Rate : T (some gore scene, mention some mental abnormality, people with disability)
Warning : typo(s), OC(s), some uncannons (cannons based on Hiyama Kiyoteru' profile from Ice Mountain fanbook)
Phase 1
Dari balik pintu, Kiyoteru bisa mendengar semuanya dengan jelas. Tentang tuduhan panitia pada gadisnya, tentang peserta lain yang tak tahu berterima kasih, tentang seorang panitia yang membela Miku bahkan menerimanya di fakultasnya.
Juga kericuhan yang tiba-tiba terjadi setelah terdengar bunyi kursi yang terbanting. Kiyoteru hendak membuka pintu itu—untuk kesekian kalinya selama Miku di dalam sana, namun lagi-lagi kalimat yang gadis itu ucapkan sebelumnya berhasil menahannya.
"Mulai dari sini, adalah pertarunganku. Sensei sudah terlalu banyak membantuku, jadi sekarang bagianku."
Walau begitu, berbeda dengan menit-menit sebelumnya, ada perasaan aneh yang menyelimuti Kiyoteru. Perasaan yang bahkan membuatnya ingin menendang pintu kayu itu begitu saja—alih-alih membukanya dengan cara biasa. Punggungnya terasa dingin seketika tanpa sebab yang jelas. Ia bisa saja terbunuh karena penasaran…
…sampai akhirnya beberapa orang panitia keluar dengan tergesa dari ruangan itu. Walau mereka berlari cepat melewatinya Kiyoteru tak melewatkan raut kecemasan yang amat sangat pada mereka.
Tanpa buang waktu, Kiyoteru segera masuk ke dalam ruangan. Gadis berambut perak tampak tertawa dan menangis histeris secara bersamaan, tangannya masing-masing dicekal orang seorang panitia. Sementara itu, seorang panitia sibuk mengambil beberapa barang dari kotak P3K. Satu-satunya panitia wanita di sana tengah berteriak ke ponselnya.
Segala kebisingan itu tak lagi menstimulasi saraf auditorinya ketika impuls lain merangsang saraf oksipitalnya.
Gadis berambut aquamarine tersungkur tak sadarkan diri di lantai. Wajahnya lebih putih daripada kertas. Mantelnya yang putih terdapat becak warna merah yang tak asing bagi pria itu, yang terutama terkonsentrasi di bagian punggung sebelah kiri sang gadis. Panitia dengan penampilan paling rapi tampak sigap membuka mantel gadis itu, lalu menekan pelan sumber pendarahan dengan sebuah kain. Tak jauh darinya, sebuah pisau saku berlumuran darah tergeletak begitu saja.
Tak perlu waktu lama bagi Kiyoteru untuk memahami apa yang telah terjadi. Pria itu menatap tajam gadis yang masih histeris, memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak begitu cepat dan dadanya terasa sesak—pengaruh elevasi hormon adrenalin yang tiba-tiba saja terjadi padanya, dan impuls lain yang meski sudah lama tidak ia rasakan namin bisa ia kenali dengan baik.
Namun sebelum pria itu berhasil mengeliminasi jaraknya dengan gadis itu, sebuah tangan menariknya dengan keras.
"Kau akan berterima kasih padaku nanti, Hiyama-kun."
Kiyoteru menatap pria itu tak percaya. Pria bersurai hitam legam dan bermata tajam seperti elang mencengkram pergelangan tangannya dengan erat.
"Himuro-sensei…"
"Ambulans sudah datang!" seru seorang panitia dari arah pintu. Beberapa orang lain datang dengan membawa tandu lipat, berlari melewati Kiyoteru dan Himuro yang masih terpaku di tempat. Kiyoteru mengepal tangannya erat—hingga tanpa ia sadari telapak tangannya mulai meneteskan cairan merah berbau khas besi, mengatur napasnya untuk menenangkan dirinya.
"Gadis itu…" Himuro memecah kesunyian di antara mereka.
"Kekasihku," potong Kiyoteru cepat, "apa dia akan baik-baik saja?"
"Kurosaki-sensei terlatih selama sepuluh tahun di IGD sebelum menjadi meisser, jadi dia berada di tangan yang tepat. Kami benar-benar minta maaf, Hiyama-kun," Himuro tampak sangat menyesal, "kami sama sekali tak menduga hal seperti ini akan terjadi."
"Apa gadis itu…" Kiyoteru mendelik ke arah gadis berambut perak yang kini sedang diikat pada tandu lain. Kali itu, ia menangis tersedu-sedu dan mengatakan kata-kata yang sama sekali tak Kiyoteru pedulikan.
"Entahlah. Dia dari luar kota. Tapi melihat gejalanya—meski saya tak punya kewenangan untuk mendiagnosis, dia punya gangguan mental."
Kiyoteru merasa dadanya terpilin. Himuro menepuk pundaknya pelan.
"Untuk sementara, saya rasa kita perlu meningkatkan dosis obatmu, Hiyama-kun. Tentu saja setelah kita berdiskusi dengan Ayu-sensei."
"…ki-laki… …ga diri…"
"…dak."
"…yo-kun, …ku…hon…"
"…af."
Miku seolah berada di dasar danau. Ia tak bisa melihat apapun, namun ia bisa mendengar beberapa potong suara. Suara-suara itu tak asing baginya, namun ia tak dapat merespon atau menggerakkan tubuhnya, sekeras apapun ia berusaha atau memberi sugesti pada otaknya—seperti yang biasa ia lakukan ketika bermimpi buruk dan ingin bangun.
Menyerah, Miku kembali mengabaikan berbagai suara yang ada di sekelilingnya, dan membiarkan kegelapan menariknya kembali. Namun tak berselang lama, ia bisa mendengar jelas suara yang begitu ia rindukan memanggilnya.
"Miku, kumohon, buka matamu…"
Gadis itu kembali berusaha.
Suara 'pip-pip' yang teratur menjadi impuls pertama yang merangsang penuh pendengarannya. Selanjutnya, Miku berusaha membuka matanya perlahan. Hanya cahaya bulan purnama yang menerangi dengan lembut ruangannya saat itu, membuat matanya dapat beradaptasi dengan mudah karena impuls yang tidak terlalu kuat. Selain itu…
…tangan kiri Miku terasa lebih hangat dari tangan kanannya. Miku berusaha menggerakkan bola matanya ke sebelah kirinya untuk melihat siapa yang menggenggam tangannya.
Seketika itu juga, Miku merasakan air matanya mengalir begitu saja. Pria bersurai cokelat-kopi itu tampak begitu pucat dan lebih kurus dari sebelumnya. Ia masih mengenakan jas dan kacamatanya, terlelap begitu nyenyak dengan tubuh condong ke ranjang dan kepala yang berbantalkan ranjang rumah sakit sambil menggenggam erat tangannya.
Miku berusaha bergerak sepelan mungkin—selain karena tubuhnya terasa lemas dan kaku secara bersamaan ia juga tak ingin membangunkan pria itu begitu saja, dan mengubah posisinya menjadi setengah duduk setelah mengatur tinggi ranjangnya dengan memijit beberapa tombol dengan tangan kanannya. Ia kemudian mengusap rambut pria itu dengan tangan kanannya selembut mungkin.
"Sen…sei…" hanya mengucap kata itu saja rasanya seperti menelan sekam, belum lagi rasa nyeri yang begitu persistent di punggung bagian bawah kiri,yang menjalar hingga keperitnya. Walau begitu, Miku lebih dari tahu kalau pria itu begitu mengkhawatirkannya. Makanya, ia harus tahu bahwa Miku sudah baik-baik saja.
Pria itu perlahan mengangkat tubuhnya, dan tampak begitu terkejut. Miku hanya tersenyum lemah dan menatap iris sewarna langit malam milik pria itu. Kemudian setelah terkejut dengan melihat air mata yang mengalir begitu saja dari kedua mata yang terbingkai oleh kacamata itu, kejutan lainnya adalah impuls tak terduga dari bibirnya.
Berbeda dengan ciuman pertamanya, ciuman kali ini begitu penuh dengan keputusasaan dan kerinduan yang menyesakkan. Rasa asin dan hangat khas air mata kian membumbui pertemuan mereka setelah entah berapa lama. Juga lebih singkat dari ciuman pertamanya, ditutup dengan pria itu membenamkan wajahnya pada bahu Miku.
"Kupikir… kupikir kau tidak akan pernah…" ucap pria itu dengan suara yang paling memilukan bagi Miku. Bahkan lebih dari saat pria itu menyanyikan lagu terbaru bandnya. Miku hanya bisa mengusap punggung pria itu perlahan.
"Aku disini, sensei. Maaf, lagi-lagi aku... membuat anda khawatir…" cicit Miku. Miku tidak pernah tahu kalau ia akan mendapatkan seseorang yang mencintainya seperti itu. Pria itu menggenggam tangannya lebih erat, masih terisak di bahunya.
"Sekali ini saja, Miku. Tolong panggil aku… dengan namaku…"
Miku merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat, sebelum menjadi begitu cepat sehingga menulikan telinganya. Rasanya ia tidak sanggup memanggil namanya begitu saja, entah kenapa. Walau begitu, Miku merasa pria itu benar-benar ingin namanya dipanggil.
"Aku disini, Kiyo…teru…" cicit Miku di tengah isakannya, "Kiyo…teru… Kiyo…teru… Kiyoteru…Kiyoteru…"
Walau jantungnya berdetak seakan mau meledak, Miku terus mengucapkan nama itu. Nama pria yang begitu ia cintai dan mencintainya. Miku tidak tahu apa yang mendorongnya untuk terus mengucapkan namanya—entah karena kerinduan yang teramat sangat, entah karena ia merasa Kiyoteru sendiri ingin namanya terus dipanggil.
Kalau hal itu bisa membuat kekasihnya bahagia, walau jantungnya meledak pun tidak masalah.
"Terima kasih, Miku," ujar Kiyoteru akhirnya sambil mengangkat wajahnya dari bahu Miku, tersenyum lembut, "kau telah… menyelamatkanku."
Perlahan, Kiyoteru mengusap air mata Miku, sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan singkat di kedua mata gadis itu. "Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang kauinginkan?"
"To… tolong ambilkan minum," ujar Miku dengan suara serak, "rasanya kayak habis karaoke seperti kemarin seharian penuh."
Miku mendesah lega saat ia melihat Kiyoteru tertawa kecil seperti biasanya. Kiyoteru mengambilkannya sebuah gelas berisi air dengan sedotan, memegangnya di depan Miku dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengarahkan sedotan itu ke bibir gadis bersurai aquamarine itu. Tak tanggung, Miku meminum air itu hingga habis.
"Mau tambah?" tanya Kiyoteru yang dibalas dengan gelengan Miku. "Kalau begitu kupanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu."
"Eh, tunggu," ujar Miku cepat, "berapa lama aku tak sadarkan diri?"
Kiyoteru hanya tersenyum lemah untuk menjawab pertanyaan Miku. Sampai akhirnya ia menghilang di balik pintu kamarnya setelah menyalakan lampu kamar. Ketidakjelasan itu membuat jantung Miku kembali berdegup kencang. Ia mengedarkan matanya ke sekeliling, untuk mencari penanda waktu. Selain jam dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari—Miku agak bergidik sendiri karena ia sendirian di bangsal rumah sakit pada witching hour seperti itu, ia tidak menemukan penanda waktu lainnya seperti jam digital berkalender, atau bahkan ponsel Kiyoteru.
Kemudian ia mengamati ruangannya. Ia dapat ruangan kelas I—jadi hanya ia sendiri pasien di kamar itu, entah VIP atau bukan tapi Miku merasa nyaman berada di ruangan bercat biru pucat itu. Ubinnya berwarna putih sempurna tanpa noda. Di sebelah kiri ranjangnya terdapat meja kecil dengan beberapa laci dan dua buah kursi, sementara sebelah kanannya—sisi kanan ruangan, terdapat tiga buah jendela. Di jendela tengah tergantung chizuru—seribu origami bangau, berbagai warna yang tersusun rapi, sementara di jendela yang paling dekat dengannya terdapat vas berisi bunga aster berwarna pink dan biru. Sisi kiri ruangan terdapat pintu yang menghubungkan kamarnya dengan koridor. Di pojok kiri terjauh terdapat pintu lain—kemungkinan besar ada kamar mandi di balik pintu itu. Selain ranjangnya yang terletak di pojok kanan ruangan, terdapat tiga buah sofa yang mengelilingi meja yang terletak apik di tengah ruangan. Di atas meja terdapat beberapa tumpuk kertas, headset dan sebuah laptop –kemungkinan besar semuanya milik Kiyoteru.
"Selamat pagi, Hatsune-san. Bagaimana keadaanmu?" sapa sebuah suara yang tak asing dari pintu. Miku tersenyum sambil mengangguk ke arah pria yang rambutnya sudah beruban banyak itu.
"Selamat pagi, Kurosaki-sensei. Aku baik-baik saja, hanya nyeri di… luka itu," balas Miku, "meski terasa sekali, masih bisa kutahan."
Miku bukan tipe orang yang terlalu bergantung pada obat-obat analgesik—meski ia sering kali mengalami sakit bulanan yang membuatnya ingin berguling di tengah kelas, karena ia pikir nanti pun ia harus menahan nyeri yang lebih dari itu sebagai seorang perempuan. Makanya ia harap Kurosaki tak meningkatkan dosis analgesiknya.
Dokter itu tersenyum mendengar jawaban Miku dan menyuruh perawat yang datang bersamanya untuk mengecek kondisinya. Sementara itu Kiyoteru ikut mengawasi sang perawat yang memeriksanya dengan mata tajam.
"Sekali lagi kami atas pihak panitia benar-benar minta maaf pada anda, Hatsune-san. Sebagai tanggung jawab kami, kami akan membiayai biaya pengobatan anda dan perawatan anda hingga tuntas," ujar Kurosaki, "saya pribadi pun, menyesal telah meragukan anda."
"Su…sudah kubilang tidak apa-apa, 'kan, Kurosaki-san. Aku juga telah berbuat seenaknya…"
"Tidak, Hatsune-san. Apa yang anda lakukan adalah sesuatu yang sudah jarang saya lihat pada para peserta ujian masuk," Kurosaki tersenyum lembut ke arah Miku, "kalau anda mendaftar ke fakultas kedokteran pun, saya juga tidak akan berkeberatan menerima anda. Anda punya sikap yang baik dan nilai anda lebih dari cukup."
Miku menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya dihiasi rona merah. Sang perawat yang memeriksanya pun tertawa kecil dan mengusap kepala gadis itu sambil berbisik, "jarang sekali aku mendengar Kurosaki-sensei memuji seseorang, lho. Kau harus sedikit bangga."
"Bagaimana hasilnya, Kawahara-san?"
"Semuanya bagus, sensei. Hanya suhu tubuhnya sedikit tinggi," ujar sang perawat sambil mengetuk-ngetuk tablet PC yang ia bawa. Kurosaki mengangguk puas.
"Ano, Kurosaki-sensei, kalau boleh tahu… apa yang terjadi padaku waktu itu?" tanya Miku, "maksudku aku tahu kalau Amano-san menyerangku, tapi lebih jelasnya…"
"Ah ya, itu…" Kurosaki menghela napas panjang, "tepat setelah Himuro-sensei menerimamu di fakultas farmasi, Amano-san bangkit dari kursinya dengan cara paling dramatis yang saya lihat. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang ternyata adalah sebuah pisau lipat…"
Kurosaki menghentikan penjelasannya, dan menatap Miku sekali lagi, "kamu yakin tidak apa-apa saya ceritakan dengan detail?"
"Onegai," Miku menjawab dengan tegas. "Aku biasa mendengar dengan hal-hal semacam itu,"—terima kasih pada drama kriminal barat yang ia tonton serta game-game yang ia mainkan.
"Tapi sepertinya Hiyama-kun tidak," ujar Kurosaki sambil melihat ke arah pria berkacamata itu dengan sebuah senyum penuh arti. Miku memperhatikan Kiyoteru yang mengeluarkan aura yang sama seperti saat ia menghajar stalker waktu itu, dingin dan tajam. Meski katanya Hiyama adalah nama dari keluarga angkatnya, menurut Miku nama itu sangat cocok dengannya, apalagi ketika ia berwajah seram seperti itu.
"Intinya, setelah saya melakukan beberapa jahitan, semua baik-baik saja. Bahkan saya terkejut kau sudah bisa bicara banyak seperti ini," ujar Kurosaki akhirnya. "Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan, Hatsune-san?"
"Ah iya! Sudah berapa lama sejak kejadian itu?" tanya Miku akhirnya. Kurosaki hanya menatap heran pada Kiyoteru, seolah menanyakan kau-belum-memberitahunya-?
"Percaya atau tidak, Hatsune-san, minggu depan seharusnya kau mengikuti inisiasi kampus," Kurosaki tersenyum simpul, "Hal tersebut—keadaan komamu maksud saya, disebabkan karena saat kau ambruk, kepalamu mengalami trauma yang cukup parah. Tapi semuanya sudah kami tangani dengan semaksimal mungkin. Jadi, mari kita berusaha agar kau bisa hadir setidaknya beberapa pertemuan terakhir."
Kami-sama, ia tidak sadarkan diri selama sebulan!
"Lukamu sangat dalam dan lebar, serta kau kehilangan banyak darah. Menurut Kurosaki-sensei kau bangun lebih cepat dari perkiraan," ujar Kiyoteru setelah Kurosaki dan Kawahara pergi dari ruangan. "Lebih cepat, katanya. Bagiku, satu detik saja rasanya seperti satu abad."
Miku tertawa kecil, "kurasa aku nggak begitu kaget. Kupikir sensei tak mau menjawab karena aku koma selama bertahun-tahun."
Walau begitu, ada beberapa hal yang membuat Miku merasa sedih. Dan Kiyoteru dapat melihat jelas raut kesedihan di wajah sang gadis. Ia kemudian mengambil tasnya dan memberikan sebuah buku bersampul warna-warni ke atas paha Miku.
"Ini…"
"Coba lihat bagian kelas kita."
Miku membalikkan halaman-halaman buku itu dengan cepat, hingga sampai ke bagian kelasnya. Setlah empat halaman penuh dengan pas foto dan data diri masing-masing anggota kelasnya, Miku perlahan membuka halaman selanjutnya…
"Kenapa…"
"Shion-iinchou yang mengusulkannya. Katanya agar beda dari kelas lain," jelas Kiyoteru sambil tersenyum simpul. "Yang meriasmu adalah Megurine-san. Semuanya sangat sedih ketika mendengar kabar tentangmu, dan kami sampai berulang kali mendiskusikan tentang ini. Bagaimana?"
Lagi-lagi Miku merasa air matanya mengalir. Sebenarnya, meski ia tak pernah membenci teman-teman sekelasnya, ia juga tidak dekat dengan mereka. Interaksi Miku dan teman-teman sekelasnya hanya seperlunya saja, karena sahabat-sahabat Miku—yang satu klub dengannya, berada di kelas yang lain. Tapi melihat foto kelas untuk album kenangan itu sampai dilakukan di rumah sakit dan mencari tema yang tepat—fairy tale dengan ia didandani sebagai snow white, bagaimana mungkin Miku bisa membenci mereka?
"Meski kau tak menyadarinya Miku, mereka sangat menyukaimu," Kiyoteru mengusap kepala Miku lembut, "mereka bilang, kau banyak sekali membantu mereka meski mereka bingung bagaimana cara mendekatimu. Bahkan Akaishi-san si berandalan kelas jadi orang pertama yang menyetujui hal ini. Katanya ia berhutang nyawa padamu."
Padahal Miku merasa tidak melakukan banyak hal di kelas, hanya diam dan ikut membantu saja. Apa yang ia lakukan pada Akaishi pun bukan sesuatu yang besar—hanya memberinya antasida, kompres air hangat, dan biskuit untuk perutnya ketika ia mengeluh perutnya perih karena belum makan.
"Aku juga menyukai mereka… mereka baik sekali mau menerimaku yang begini," Miku mengusap air matanya, "rasanya aku benar-benar melewatkan banyak hal selama sebulan ini…"
"Banyak hal?"
"Tentu saja pembuatan album kelas dan perpisahan, juga…" Miku menatap ke arah jendela, "…valentine, dan upacara kelulusan. Aku ingin menerima piagam yang diberikan sensei. Aku juga ingin mendengar pidato sensei…"
"Bodoh, yang seperti itu tidak usah dipikirkan," Kiyoteru menjitak kepala gadis itu lembut, "pidatoku sangat memalukan sampai-sampai semuanya menangis. Syukurlah kau tidak di sana."
"Eeh… bukankah bagus?" Miku jadi makin penasaran. "Mungkin Kaito-iinchou merekamnya…" gumam Miku pelan.
"Miku!"
Belum sempat Miku mengidentifikasi siapa yang memanggilnya, tubuhnya segera dilingkupi oleh kehangatan yang tidak asing untuknya. Harum bunga sakaki yang lembut segera memenuhi indera penciumannya. Lagi-lagi, Miku menangis, kali ini terisak kencang karena ia tidak akan pernah bisa menahan tangisnya dalam dekapan orang itu.
"Aku pulang…ibu…" isak Miku, "maafkan aku… maaf…"
"Dasar anak bodoh, rasanya rambut ibu hampir putih semua saat mendengar berita itu!" Hatsune Miho mendekap anak semata wayangnya erat.
Selain dekapan ibunya, Miku bisa merasakan tangan ayahnya mengusap kepalanya lembut. Pria itu tak berkata apapun, namun dari belaian di kepalanya, Miku bisa meraskan perasaan yang begitu kuat mengalir dari jari-jarinya yang kasar.
"Ayah… maaf, lagi-lagi aku seenaknya…"
"Kekeraskepalaanmu menurun dari ayah, ayah tidak kaget," balas pria itu dengan suara bergetar. "Tapi tolong ingat kalau jantung ayah tidak sebaik sepuluh tahun lalu."
Setelah keluarga kecil itu menenangkan diri, Hatsune Kuga—ayah Miku, membungkuk dalam pada Kiyoteru.
"Terima kasih banyak karena telah membantu Miku berjuang sampai sejauh ini, Hiyama-kun," ujar Kuga yang diikuti oleh bungkukan yang dilakukan Miho, "tolong kali ini urus dirimu dengan benar. Aku tak mau melihatmu berakhir di rumah sakit seperti anakku yang bodoh."
"Kiyo-kun, terima kasih banyak. Ia benar, kau harus memperbaiki pola makanmu," lanjut Miho, "apa makanan favoritmu, Kiyo-kun? Ibu akan senang hati memasakannya untukmu."
"Aku ingin negimaki buatan ibu!" sahut Miku cepat sambil mengacungkan tangan.
"Ibu bertanya pada Kiyo-kun, bukan kau! Lagipula Kurosaki-sensei bilang kau belum boleh makan yang berat-berat setidaknya selama beberapa minggu kedepan," balas Miho, "ne Kiyo-kun, jadi mau dimasakan apa?"
Miku dapat melihat Kiyoteru yang tampak terkejut. Namun saat Kuga menepuk pundaknya, senyum Kiyoteru perlahan mengembang.
"Ah, betul. Kuga-san aku ingin menonton video pertandingan dari Institut Go yang anda ceritakan waktu itu. Jadi… rebusan kacang kapri?"
"Juga sake!" tambah Kuga cepat.
"Mou—kalian ini, itu bukan masakan!" protes Miho, "tapi baiklah. Kau yakin tidak ingin yang lain untuk makan malam, Kiyo-kun?"
"Ibu sudah janji akan masak beef stew!" kali ini Kuga segera menyela, membuat Kiyoteru tertawa kecil.
"Aku juga mau beef stew buatan ibu!" Miku kembali mengacungkan tangan, yang dibalas oleh delikan Miho.
"Kalau begitu aku juga ingin beef stew," ujar Kiyoteru akhirnya, sambil tersenyum lebar dan menyambut high-five dari Kuga. Sementara Miho menceramahi mereka tentang kolesterol dan asupan serat, Miku hanya tertawa kecil dan berharap agar momen seperti itu bisa terus berlanjut.
Glossary :
meisser : dokter bedah
persistent : merujuk pada karakteristik nyeri yang terus-menerus terasa tanpa henti
antasida : jenis obat tukak lambung (sakit maag) yang bekerja dengan menetralkan asam berlebih di lambung. Sering digunakan sebagai obat pertama untuk penanganan sakit maag karena dijual bebas tanpa resep dokter
(A/N) : Haaa, akhirnya saya mengupdate chapter selanjutnya dari HimiKyo ini! Karena kemarin ending prolognya agak hurt, maka saya beri comfort yang lumayan (sesungguhnya saya juga malu banget nulis adgena itu kyaaaaa *biarkan author ini sendiri*). Selanjutnya saya ucapkan terima kasih kepada arikuloli dan cilokchan atas reviewnya di prolog, serta orang-orang yang memberi dukungan pada saya lewat PM, dan followers serta favoriters. Juga silent readers kalo ada. Aku sayang kalian~~
Chapter selanjutnya akan ada sebagian yang dilihat dari sisi Kiyoteru. Saya akan tetap merahasiakan penyakit apa yang diderita Kiyoteru karena saya ingin pembaca berada dalam posisi yang kurang lebih sama dengan Miku dan ikut penasaran tentang apa yang disembunyikan Kiyoteru. Semoga pembaca yang terhormat tidak keberatan (_ _)
Dan, satu hal lagi yang mungkin perlu saya tulis : saya menerima segala jenis review baik yang manis maupun pait-pait-pedas kayak lada *siapin obat maag*, yang membangun atau sekedar menunjukkan kesan pembaca setelah membaca ceritanya-itu semua sangat berarti bagi saya. Bagi yang nggak ada niatan riview juga gapapa, harapan saya cuma ingin menghibur (emang bisa pake genre beginian *dilempar*) pembaca dengan imajinasi liar.
ah, kepanjangan lagi. Ja, ne~~
