Important Notice : kalau anda reader baru, saya sarankan untuk baca dulu prekuel dari serial ini, yaitu Himitsu no Uta (silakan cek profil author)
Rhapsody of Secret ~秘密の狂詩曲
by Mizumori Fumaira
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha corp.
Genre : Drama, Hurt/Comfort, Romance (as subgenre)
Rate : T (some gore scene, mention some mental abnormality, people with disability)
Warning : typo(s), OC(s), some uncannons (cannons based on Hiyama Kiyoteru' profile from Ice Mountain fanbook)
Phase 2
Miku kembali membuka matanya perlahan. Ia tertidur di tengah obrolan mereka tentang sayuran dan daging. Cahaya matahari yang bersinar lembut dari jendelanya membuat Miku memperkirakan kalau hari masih belum terlalu siang.
"Ah, sudah bangun?" suara lembut Miho menyapanya, membuat Miku menengok ke arah kirinya. Tampak ibunya sedang menumbuk sesuatu dengan mortar yang entah dia dapat dari mana. Di meja sebelah kiri kasurnya terdapat mangkuk yang ditutup plastic wrap berisi bubur polos dan segelas air putih. Miho kemudian meletakkan mortar itu di meja dan mengambilkan gelas air putih yang diberi sedotan. Sementara itu, Miku yang baru mengatur tinggi ranjangnya mengulurkan tangannya untuk menerima gelas.
"Ibu tak yakin kau sudah bisa memegang gelas ini atau belum," ujarnya dengan nada pahit. Miku memiringkan kepalanya dan menatap Miho bingung.
"Maksud ibu?"
"Mau coba?" tantang ibunya. Miku mengangguk pelan dan meraih gelas itu. Padahal hanya sebuah gelas berisi air tapi rasanya begitu berat. Miku terkejut merasakan tangannya gemetar begitu hebat hanya karena melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Miho tertawa kecil dan mengambil gelas itu kembali, memosisikan sedotan ke dalam mulut anak gadis semata wayangnya.
"Kau sudah tidur selama hampir sebulan, meski petugas fisioterapi datang setiap hari dan menjaga agar ototmu tidak kaku, tentu saja kau perlu rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi ototmu," jelas Miho yang merupakan lulusan jurusan kesehatan masyarakat, "makan, minum, memegang benda, bahkan berjalan pun… semuanya harus dilatih kembali."
Untunglah Miku sudah selesai minum saat ibunya mengucapkan kalimat yang terakhir. Jantungnya berdegup kencang. Tinggal seminggu lagi ia harus sudah mulai kuliah tapi ia harus menjalaninya sebagai orang disabilitas? Bagaimana ia menghadapi lingkungan yang baru dengan kekurangannya? Bagaimana kalau ia lumpuh permanen? Bagaimana kalau…
…bagaimana kalau ia harus merepotkan Kiyoteru seumur hidupnya?
"Miku," suara lembut Miho dan tepukan pelan di pundaknya seolah menghilangkan keresahannya, "jangan takut. Ibu dan ayah akan selalu membantumu. Kiyo-kun juga tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Ibu… ibu yakin?" tanya Miku dengan suara bergetar, "ibu yakin sensei tak akan meninggalkanku? Bukankah, aku hanya akan… merepotkannya? Kalau aku seperti ini terus…"
Untuk menghentikan ocehan putrinya, Miho menyendokkan sesuatu dari dalam mortar ke dalam mulut Miku. Rasa manis kesat yang familiar menstimulasi indera perasa Miku dengan begitu menyenangkan, membuat gadis itu menghentikan kalimatnya begitu saja. Ternyata aroma buah manis berwarna merah yang ia hirup mulai dari bangun tidur tadi bukan bersumber dari pewangi ruangan, melainkan dari buah apel itu sendiri.
"Daripada ibu dan ayah, Kiyo-kun adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktunya di sini. Ibu tidak yakin kalau ia pernah tidur di apartemennya selama kau berada di sini—ia hanya ke sana untuk mengambil barang-barang saja," Miho mulai menjelaskan, "saat kau sedang dioperasi, mengetahui kalau lukamu begitu lebar dan dalam, ibu khawatir bekas jahitannya akan sangat kentara. Ayah juga tahu kalau butuh waktu lama untukmu pulih seperti semula. Kami sudah berulang kali bilang padanya kalau kemungkinan besar kau akan membebaninya bila ia memilih untuk tetap bersamamu. Kau tahu jawabannya saat itu?"
Miku menggeleng pelan. Miho tersenyum lembut dengan mata bersinar, sinar yang sama dengan setiap kali wanita itu menjelaskan kenapa ia men-ship satu tokoh dengan tokoh lain.
"'Aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana aku hidup tanpa Miku. Jadi kumohon, izinkan aku untuk selalu bersamanya. Aku tidak peduli bagaimana keadaannya nanti, yang pasti aku akan menjaganya lebih dari nyawaku sendiri,' begitu katanya," ujar Miho sambil menghapus air mata putrinya, "ibu yakin Kiyo-kun bukan orang yang mengatakan hal seperti itu pada sembarang orang. Jadi, percayalah padanya. Love conquers all, dear."
Miku tak bisa menghentikan air matanya. Ia tak mengerti mengapa pria itu mencintainya sampai seperti itu—ia bahkan tak pernah bermimpi bisa dicintai sebesar itu oleh orang lain selain ayah dan ibunya. Padahal belum genap setahun sejak ia mengenalnya dengan dekat. Padahal semua yang ia berikan padanya hanyalah beban dan kekhawatiran.
"Aku… aku nggak ngerti, bu…" isak Miku, "kenapa… kenapa Hiyama-sensei sampai…"
"Karena dia mencintaimu. Hanya itu alasannya," potong Miho yakin sambil kembali menggerus apel dalam mortar, "kalau kenapa dia mencintaimu, ibu juga penasaran. Tapi yang pasti Miku, it's just because you're being you, ibu yakin. Nah, sekarang tenangkan dirimu, kau harus segera makan."
Sementara Miku berusaha membersihkan wajahnya dengan tisu yang diberikan ibunya, ibunya meraih mangkuk berisi bubur yang sengaja dibuat sangat cair—hingga hampir tidak bisa dibilang bubur lagi, dan mengaduknya. Miku hanya menatap bubur itu tanpa selera.
"Nah, jangan berwajah seperti itu. Kalau tiba-tiba makan negimaki setelah sebulan perutmu dibiarkan kosong, nanti negimaki malah jadi trauma buatmu," ibunya menyuapkan sesendok bubur ke mulut Miku, "bersabarlah sampai beberapa minggu lagi sampai kau bisa makan nasi. Ibu juga sudah buatkan bubur apel untukmu, kata dokter boleh dicoba asal kau sudah makan."
Miku hanya mengangguk. Di luar dugaan, bubur itu tidak bisa dibilang tidak enak meski rasanya begitu tipis. Miho menjelaskan kalau rumah sakit universitas S juga mempekerjakan beberapa koki yang lulus dari jurusan gizi universitas tersebut, jadi ia cukup beruntung. Rasanya Miku jadi ingin menangis karena sudah umur 18 tahun pun ia masih disuapi ibunya seperti itu.
"Ibu?" ujar Miku sambil membersihkan mulutnya setelah menghabiskan bubur dan bubur apelnya.
"Hmm?"
"Terima kasih. Aku cinta ibu," Miku tersenyum lebar, membuat ibunya hanya mencium keningnya sambil berkata, 'dasar anak gombal.'
Miku akan berusaha agar tidak membuat ibunya khawatir lagi.
"Eeh… jadi masih belum boleh makan kroket, ya?" keluh Len dengan nada kecewa sambil mengangkat satu bungkusan berisi kotak yang cukup besar, "padahal aku bawa yang waktu itu lho, Miku-chan."
Mau tidak mau, Miku jadi ngiler juga. Pasalnya kroket isi keju-dan-Kagamine-secret-spices memang enak sekali. Miho hanya menggeleng pelan sambil tersenyum jahil.
"Terima kasih Len-kun, tante terima kroketnya. Lumayan sebagai pengganjal perut untuk menemani Miku disini," Miho mengulurkan tangannya, membuat Miku menggembungkan pipinya.
"Ibu!"
"Makanya, cepat sehat," sahut Miho yang sudah menggigit salah satu kroket dari kotak yang diserahkan Len padanya, "uwah, ini beneran enak!"
"Mou, Miku-chan tenanglah," Rin, saudara kembar pemuda berambut pirang yang dihiasi bandana berwarna putih, mengacungkan sebuah kantong lain yang tidak kalah besar, "biar kamu nggak bosen, aku udah bawain kamu beberapa komik."
"Waah, makasih banyak Rin-chaaan!" Miku memeluk gadis yang berdiri di dekatnya itu.
"Bacanya pelan-pelan, itu sudah yang paling baru, lho," tegur Rin yang tahu betul kalau gadis berambut aquamarine itu bisa saja menghabiskan komik yang ia bawa dalam satu hari.
"Oke oke. Hah, sayangnya aku belum bisa main game, jadi cuma ini satu-satunya yang bisa kulakukan untuk mengisi waktuku," Miku mencoba menggenggam sebuah komik yang diserahkan ibunya. Ternyata, meski bobot buku itu terasa berat dan membuat tangannya juga gemetaran, ia tidak melakukannya dengan kesulitan seperti mengangkat gelas tadi. "Yap, tidak maslah."
"Ayah dan ibu titip salam untukmu dan minta maaf karena tidak bisa ke sini," ujar Len akhirnya.
"Tolong sampaikan terima kasih pada mereka, ya," balas Miho, "nah, ibu mau cek ke rumah dulu. Kalian ngobrol saja yang santai selama orang tua ini keluar."
Setelah membungkuk pada Miho yang keluar dari kamar, kedua saudara kembar itu dengan waktu yang bersamaan segera duduk di samping mata dengan mata penuh ketertarikan.
"Jadi, kejadiannya gimana? Yang detail!" tanya mereka bersamaan. Aah, andai saja tubuhnya tidak begitu lemas dan kaku, Miku ingin sekali mencubit pipi mereka bersamaan. Habisnya mereka lucu sekali, sih!
"Jadi gini—"
"Permisi…" sebuah suara lembut menginterupsi penjelasan Miku. Pintu kamarnya terbuka setelah Miku mempersilakan orang tersebut masuk. Tampak gadis berambut hitam yang terkepang rapi memasuki ruangan sambil membawa kantong yang kira-kira seukuran kantong dari Rin. Ketiganya segera menyambut gadis itu.
"Ayako-chan!"
"Wah, wah, ada Rin-chan dan Len-kun juga. Apa kabar?" balas Ayako dengan senyum manis.
"Baik," balas si kembar itu bersamaan, "Udah lama nggak ketemu, ya? Jadi masuk akademi keperawatan?" sahut Len. Rin sendiri segera mengambilkan kursi lain yang terletak di pojok ruangan dekat kamar mandi.
"Iya. Bagaimana kabarmu Miku-chan?" tanya Ayako sambil meletakkan kantongnya di sebelah kantong dari Rin, "wah kita punya ide yang sama ya, Rin-chan? Untunglah aku membawa light novel."
"Kalau buat dia nggak usah repot-repot mikir. Kalau nggak makanan ya palingan buku," Rin menempatkan kursi itu sehingga Ayako duduk di sebelahnya. Sementara Len berada paling dekat dengan meja kecil sekaligus rak di sebelah ranjang Miku.
"Mou, kalian membuatku terdengar seperti hiki," rajuk Miku, "begitulah, Ayako-chan. Banyak hal yang harus kulatih lagi mulai dari memegang gelas sampai berjalan."
"Sampai seperti itu, ya… semoga kita bisa jalan-jalan lagi secepatnya ya," Ayako mengusap tangan Miku lembut, "jadi gimana kejadiannya?"
"Ah, Ayako-chan datang pada waktu yang pas," seru Len, "Miku baru saja akan menceritakannya pada kami."
"Iya, bagus juga. Jadi aku nggak usah cerita dua kali," Miku berdeham sedikit, "jadi begini…"
Gadis itu pun menceritakan semuanya, mulai dari saat ia mengikuti ujian di universitas S, nomornya yang tidak tertera di papan pengumuman, telepon dari panitia, perdebatan di ruang panitia, sampai ia akhirnya diterima kemudian diserang oleh anak yang ditolongnya.
"Tuh kan, kubilang juga apa, Miku-chan. Kau ini terlalu baik sampai nyaris terbunuh karenanya," komentar Ayako yang tanpa sepengetahuan orang banyak adalah hipokrit—tentu saja tiga orang lainnya di ruangan itu tahu betul karena cukup dekat.
"Aku setuju," Len mengangguk berkali-kali. "terlalu baik sampai lupa dirinya sendiri."
"Miku-chan memang mengidap heroine complex, jadi ya wajar aja," Rin mengangguk, "detail penyerangannya?"
"Itu juga aku nggak begitu tahu pasti. Yang jelas, waktu aku lagi seneng-senengnya, tiba-tiba ada suara kursi kebanting, terus tiba-tiba keluar darah dari mulutku,"—disini Len sudah jelas-jelas ingin muntah sementara dua orang lainnya malah terlihat makin bersemangat mendengar cerita Miku, "terus rasnya sakit dan perih banget di punggung sampai perut, lalu rasanya kayak naik cangkir putar yang diputarkan Rin. Setelah itu aku langsung pingsan."
"Selama koma sendiri rasanya kayak gimana?" tanya Ayako penasaran. Len kembali tertarik.
"Hmm… kayak tidur aja sih, tapi meski aku belum sadar, beberapa kali aku ngerasa kayak bangun gitu. Tapi, antara orang di sekitarku dan aku kayak terpisah oleh…filamen? Entahlah. Aku sih ngerasanya kayak aku tenggelam di dasar danau. Aku bisa denger sedikit-sedikit, tapi aku nggak bisa merespon."
"Terus…" Rin mulai tersenyum aneh di sini, "apa yang membuatmu sadar?"
Ketiga penjenguk itu tersenyum jahil melihat gadis berambut aquamarine itu mulai merah wajahnya. Ketiganya tahu kalau Miku sudah punya hubungan khusus dengan seseorang sejak beberapa bulan lalu.
"Eh itu ya… duh, nggak dijelasin pun kalian udah bisa nebak 'kan?!" seru Miku.
"DETAIL!" seru Rin, Len, dan Ayako bersamaan. Miku hanya menghela napas panjang, wajahnya masih merah.
"A…aku bisa dengar suara sensei dengan jelas," ujar Miku sambil menunduk. "Berulang kali, setiap kali aku 'tertidur' suranya membuatku 'terbangun'. Setiap kali aku menyerah untuk mencoba naik ke permukaan, suaranya membuatku berusaha lagi… Dan selalu, aku selalu merasakan sesuatu yang hangat di tangan kiriku."
"UWAAH! TERUS? TERUS?" para penyimak makin bersemangat. Miku makin menunduk.
"Terus, saat aku berhasil sadar, sensei sedang tidur di kursi, sambil menggenggam erat tangan kiriku. Se… selesai."
"Bohong! Mana klimaksnya?" protes Len yang diam-diam suka nonton drama koleksi Rin. Rin dan Ayako juga menatap Miku dengan tatapan menuntut yang bisa Miku rasakan walau ia tidak melihat mereka.
"Duh, harus banget—"
"HARUS!"
"Duh, ini khusus kalian aja, ya!" Miku menyerah, masih belum berani melihat ke arah mereka, "ja… jadi pas aku sadar, aku langsung ngebangunin sensei. Terus, pas dia lihat aku sadar, dia nangis…"
"AWW! TERUS? TERUS?" sementara Rin dan Ayako squee-ing, Len masih berusaha mempertahankan imejnya sebagai pria dengan menahan diri untuk tidak melakukan apa yang saudara kembarnya lakukan.
"…Dia… menciumku. Desperately and longingly."
"KYAAAA!"—masa bodoh dengan manliness, Len juga ikut teriak girlish setelah mendengar pernyataan Miku. Menurutnya, drama percintaan sahabatnya itu jauh lebih seru daripada drama-drama yang ia tonton selama ini.
"Sshh!" Miku menempelkan telunjuk ke bibirnya dengan cepat. "Kalian norak banget tau!"
"Habisnya aku nggak nyangka Hiyama-sensei yang tampangnya herbivor begitu ternyata…" komentar Ayako cepat dengan anggukan Kagamine kembar sebagai backingan.
Sebenarnya, Miku tak pernah membeberkan soal hubungannya dengan Kiyoteru pada siapapun. Kagamine kembar mengetahuinya karena mereka dengar dari orang tua mereka yang dikenalkan langsung dengan Kiyoteru oleh ibunya Miku—tentu saja tanpa memberitahukan bahwa ia guru Miku, tapi Kagamine kembar tahu kalau itu guru Utaunoda meski mereka dan Miku sekolah di tempat berbeda. Sementara Ayako pernah bertemu mereka di perpustakaan kota dan Kiyoteru hanya membalasnya dengan senyuman saat ia bertanya 'apakah kalian pacaran?' pada keduanya. Kiyoteru sendiri sudah tahu kalau hubungan mereka sudah diketahui tiga orang itu, dan ia tampak tenang-tenang saja.
"A… aku juga sebenernya nggak nyangka," Miku menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "kalau aku mati gara-gara serangan jantung, kalian tau kan, siapa pelaku—"
"Aku tag laptop Miku sebagai warisan buatku," potong Rin.
"Aku tag koleksi buku dan komiknya," sambar Ayako cepat.
"Aku… aku…" Len jadi bingung sendiri, "aku duit tabungannya aja!"
"Sialan kalian!"
Derai tawa memnuhi bangsal kelas I yang mulai disinari gradasi lembayung langit senja musim semi.
Flashback—Two days after incident
Seorang pria berambut cokelat kopi menghela napas panjang. Tanpa bermaksud tak sopan, ia menyandarkan punggungnya ke kursi yang sudah ia duduki selama entah berapa jam. Dari balik lensa kacamatanya, ia kemudian mengawasi wanita yang tengah duduk di depannya. Mata biru wanita itu tampak fokus pada catatan yang ia buat selama mereka wawancara tadi.
Ayurveda Suryahusada van Aalsburg, lebih akrab disapa dengan nama depannya—Ayu-sensei, merupakan nama wanita yang tengah duduk di depannya. Meski ia memiliki kulit seputih porselen dan mata sewarna batu safir khas orang dengan ras kaukasian, wajahnya yang tampak sepuluh tahun lebih muda sudah jelas merupakan pemberian dari ibunya yang merupakan orang Asia Tenggara—Indonesia persisnya. Rambutnya yang sehitam bulu gagak tersanggul asal, merupakan tanda bahwa wanita itu bukan tipe orang yang rapi dan terorganisir. Namun, wanita itu merupakan psikiater yang kehebatannya diakui baik di Eropa maupun Asia.
Pria berkacamata itu jadi ingat bagaimana ia bisa menjadi pasien Ayu. Semua dimulai dari peristiwa sekitar sepuluh tahun lalu—saat ia SMA. Ayu yang kebetulan sedang menjadi dosen tamu di Universitas S tertarik pada kasusnya dan pria itu merasa nyaman berkonsultasi dengan Ayu. Maka dari itu, dokter yang menanganinya sejak awal mempercayakannya pada Ayu karena kondisinya yang makin stabil seiring ia beranjak dewasa, sehingga ia cukup berkonsultasi via Skype setiap akhir bulan kepada wanita yang menetap di tanah kelahiran ibunya itu.
Kebetulan, di akhir tahun ajaran, wanita yang sudah mempunyai seorang anak itu kembali diundang oleh Universitas S untuk menjadi dosen tamu. Sehingga, mereka bisa mengadakan sesi konsultasi langsung di rumah sakit Universitas S.
"Bagaimana, Ayu-sensei?" suara bariton milik Himuro yang duduk di sebelah pria itu memecah kesunyian yang mulai menulikan. Ayu mengalihkan pandangannya dari kertas yang ia pegang, iris safirnya bersirobok dengan iris sewarna langit malam milik sang pria. Dengan sebuah senyuman—yang penuh ketertarikan, Ayu meletakkan kertas-kertasnya di meja yang memisahkan ia dan pasien serta farmasisnya.
"Yang ingin saya ucapkan pertama kali adalah, selamat Kiyoteru-kun. Akhirnya kau menemukan seseorang yang berarti bagimu, bukan?" ujar wanita itu dengan suara lembut dan Bahasa Jepang yag fasih tanpa logat aneh. "Padahal sudah beberapa bulan sejak kalian jadian, kenapa kau tidak membahasnya pada konseling bulan November atau selanjutnya?"
Kiyoteru hanya tertawa gugup, "Kupikir itu tidak rele—"
"Jelas sangat relevan, Kiyoteru-kun," potong Ayu cepat, dengan nada serius namun senyum penuh ketertarikan masih belum memudar dari wajahnya, "dengan memiliki kekasih, artinya kau mempunyai hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain. Itu, akan sangat mempengaruhi kestabilan mentalmu."
Tepat setelah Ayu mengucapkan kalimat itu, Kiyoteru tanpa sadar menelan ludahnya. Melihat wajah Kiyoteru yang tampak tegang, Ayu memasang sebuah senyuman yang meneduhkan.
"Tenang saja, semua orang mempunyai hak untuk mencintai termasuk orang-orang sepertimu, Kiyoteru-kun. Oleh karena itu, jangan khawatir dan mari kita berusaha bersama agar semuanya baik-baik saja." Wanita itu kemudian menatap pria dengan rambut yang sewarna dengan rambutnya, iris safirnya bersirobok dengan iris sewarna kayu eboni milik sang pria, "Himuro-sensei, berdasarkan hasil konseling tadi saya menyetujui usulan peningkatan dosis obat anticemas untuk Kiyoteru-kun. Dosis yang anda sarankan pun sudah cukup. Tapi karena saya harus pulang ke Indonesia, tolong bantu saya untuk mengontrol keadaaan Kiyoteru-kun."
"Terima kasih, Ayu-sensei. Saya akan mengatur agar pemberian obatnya dilakukan setiap seminggu sekali. Saya akan kirimkan laporan perkembangannya lewat e-mail."
Ayu mengangguk puas. "Kochira koso. Saya bisa tenang kalau ada Himuro-sensei yang mengawasi," ia kembali menatap mata Kiyoteru, lagi-lagi senyum penuh ketertarikan tersungging di wajahnya, "Kiyoteru-kun juga harus memberi saya laporan perkembangan. Sayang sekali saya tidak bisa mengenal langsung Hatsune-chan, tapi saya berdoa semoga ia bisa sadar secepatnya."
"Ba… baik…" balas Kiyoteru. Pria itu tahu betul yang Ayu maksud adalah laporan perkembangan hubungannya dengan gadis berambut aquamarine dari awal sampai insiden itu terjadi. Pasalnya, mata wanita itu bersinar-sinar persis seperti mata ibu dari kekasihnya yang jelas-jelas ngeship anaknya dengan dirinya.
"Satu hal lagi, Kiyoteru-kun. Tolong patuh pada petunjuk Himuro-sensei dan jangan berbuat yang tidak-tidak, apapun yang terjadi. Saya sarankan untuk sering mengikuti kegiatan keagamaan untuk membantumu menstabilkan kondisimu," ujar Ayu dengan nada serius.
"Aku mengerti," balas Kiyoteru. "Terima kasih karena telah menyempatkan waktu anda, Ayu-sensei."
"Tentu saja."
Hiyama Kiyoteru memandang kosong sebuah pot obat kecil yang berada di genggamannya. Sudah sebulan sejak ia menerima peningkatan dosis—dari sebelumnya ia hanya mengonsumsi obatnya seminggu sekali, kini ia harus mengonsumsinya setiap hari. Padahal, tinggal sedikit lagi sebelum ia benar-benar lepas dari obat tersebut.
"Memang benar, kasusmu tidak ada obatnya. Tapi kita bisa mencegah kekambuhannya. Kau juga punya kekuatan untuk mencegah itu. Juga, kelak suatu saat nanti saya yakin kalian akan menemukan solusinya. Jadi, percaya dirilah."
Itu adalah kata-kata terakhir yang Ayu ucapkan saat konseling pertama mereka. Kata-kata tersebutlah yang membuat Kiyoteru bisa melalui masa SMA, kuliah, juga karirnya dengan mulus. Karena ia yakin bisa menahannya. Karena, seperti yang Ayu pernah bilang juga, There's nothing new under the sun—apapun yang akan ia hadapi, ia bisa menghadapinya dengan tenang sebagai dirinya sendiri.
Walau begitu, insiden sebulan lalu seolah menghancurkan kepercayaan dirinya. Tidak, bahkan peristiwa yang terjadi sebelum itu saja sudah membuatnya kehilangan kendali.
Ketika berpikir bahwa gadis bersurai aquamarine itu berada dalam bahaya, ia kembali muncul dan nyaris mendominasi dirinya. Ketika gadis itu terluka, ia sudah hampir tak bisa dikendalikan.
Ditambah lagi, yang menyebabkan gadis itu terlibat dalam insiden itu adalah seseorang yang sama dengannya.
"Aku… aku tak habis pikir. Bagaimana bisa, orang seperti itu bisa berkeliaran bebas dan melukai orang lain, melukai Miku… Dengan pisau lipat kecil saja, ia bisa membuat luka separah itu…"
Kata-kata yang pernah diucapkan Miho saat mereka menunggu Miku yang baru masuk ruang operasi waktu itu, tak pernah berhenti menghantui pikirannya.
"Tenang saja, semua orang mempunyai hak untuk mencintai termasuk orang-orang sepertimu, Kiyoteru-kun."
Ayu benar, tapi yang membuat Kiyoteru merasa berat adalah pantaskah gadis itu dicintai orang sepertinya?
Gadis itu… seharusnya mendapatkan lebih dari itu. Lebih dari dia, dirinya.
"Jadi, Kiyoteru-kun," sebuah suara penuh wibawa menyadarkan pria itu dari lamunannya, "kau yakin kau kemari hanya untuk menyerahkan kue pandan saja?"
Onizuka Seiichirou, kepala sekolah SMA Hachigata-jou Minami, duduk di sofa di samping sofa yang diduduki Kiyoteru. Ia menatap muridnya dalam-dalam, seolah berusaha mengintip apa yang ada di pikirannya.
"Maaf karena tiba-tiba datang kemari tanpa mengabari," Kiyoteru membungkuk dalam posisi duduknya setelah memasukkan kembali pot obat kosong itu ke dalam saku jaketnya, "kebetulan saya habis mengunjungi bapa, jadi saya ingin mampir kemari. Rasanya sudah lama tidak bertemu sensei."
"Langsung saja, Kiyoteru-kun. Hal macam apa yang membuat sinar matamu begitu redup?" balas Seiichirou tajam. Kiyoteru hanya tertawa gugup—ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun dari mantan wali kelasnya itu. Wali kelas yang mengetahui betul tentang dirinya. Guru paling killer se-SMAnya itu sudah memfavoritkannya semenjak ia menjawab soal kuis matematika aplikasi tersulit yang ia beri pada kelasnya dulu. Selain itu, Seiichirou menganggap Kiyoteru tak pernah menganggapnya sebagai guru killer atau apapun—tak seperti kebanyakan muridnya yang takut padanya entah ada atau tanpa alasan.
Kiyoteru mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya—sebuah ruang tamu sederhana dengan tiga buah sofa yang mengelilingi sebuah meja dari kayu yang dihiasi vas berisi rangkaian bunga khas musim semi. Tepat di dinding di seberangnya, sebuah foto keluarga Onizuka terpajang. Sebuah foto yang berisi Seiichirou, istrinya, dan dua orang anak perempuan.
"Seandainya… seandainya seseorang seperti saya ingin berhubungan dengan putri sensei… Apakah anda akan menyetujuinya?"
Seiichirou yang tengah menyesap teh yang sudah disuguhkan oleh istrinya dari beberapa menit lalu, menaruh kembali cangkir tehnya di meja. Sekali lagi, ia menatap dalam iris sewarna langit malam milik muridnya, berpikir sejenak, kemudian menghela napas panjang. Tentu saja Seiichirou tahu kalau itu hanya perumpamaan—anaknya yang paling tua sudah bertunangan sementara anak bungsunya baru lulus SD.
"Entahlah," hanya kata itu yang terucap dari mulutnya untuk memulai penjelasannya, "tentu saja aku mengharapkan yang lebih baik. Bahkan, aku akan menyelidiki terlebih dahulu orang tersebut bila ia memang sungguh-sungguh. Kalau ia tidak serius, aku akan mengempiskan semua ban kendaraan yang ia pakai.
"Tapi," ia menepuk kepala Kiyoteru, "kalau itu kau, Kiyoteru-kun, aku akan menyetujuinya."
Kiyoteru menatap Seiichirou heran, "mengapa?"
"Karena Hiyama Kiyoteru yang kukenal adalah orang yang kuat. Apapun yang terjadi, aku yakin dia bisa melindungi putriku dengan baik."
"Bukankah… bukankah bisa saja putri sensei terluka karenanya?"
"Hmm… mungkin saja, tapi kalau putriku juga memiliki perasaan yang sama, ia pasti bisa menghadapinya," balas Seiichirou mantap, "Kau pun… aku yakin dibalik semuanya, hubungan kalian seperti sumbu x dan y—meski berbeda arah pasti ada satu titik temu yang menghubungkan kalian."
Karena Kiyoteru masih menatapnya dengan tatapan tak percaya, Seiichirou melanjutkan,
"Percayalah pada dirimu sendiri. Juga, percayalah pada gadis itu. Aku yakin gadis yang kaupilih bukan gadis sembarangan, bukan?"
Kiyoteru merasakan hatinya sedikit ringan. Ia tersenyum kepada Seiichirou.
"Terima kasih, Onizuka-sensei."
"Nah, kau sudah bisa tersenyum seperti itu. Sekarang, aku ingin mendengar cerita tentangmu menjadi guru. Bagaimana rasanya dikelilingi bocah-bocah sombong zaman sekarang?"
Glossary
negimaki : irisan daging sapi tipis yang dibumbui dengan saus teriyaki, kemudian digulung bersama negi/daun bawang dan dipanggang (emang keknya enak banget :9, bisa dicoba nih mumpung mau Idul Adha)
hiki : (hikikomori) orang yang mengurung diri di rumah-bahkan sampai fobia ke luar rumah, karena alasan tertentu. Biasanya dialami para korban bullying dan otaku kelas berat.
herbivor : secara literal merupakan jenis hewan pemakan tanaman maupun produk tanaman. Di sini maksudnya adalah jenis pria yang pasif, bahkan cenderung tidak punya inisiatif dalam menjalin hubungan asmara.
obat anticemas/antianxiety drugs : obat yang digunakan untuk mengobati rasa cemas berlebih pada seseorang yang mengalami gangguan kecemasan. Jenisnya banyak, merupakan obat yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter.
(A/N) Huaah... sejujurnya ini stok terakhir cerita yang saya punya, which means, saya ngga janji bisa update jumat depan *dilempar* Ohya, disini saya kasih hint dikit tentang obat apa yang Kiyoteru konsumsi. Itu hint yang cukup besar, tapi tidak secara langsung menunjukkan penyakit Kiyoteru yang sebenarnya ^ ^.
Seperti biasa, saya ucapkan terima kasih pada reviewer chapter sebelumnya : cilokchan, Arischa, chindleion yang sudah menyampaikan aspirasi *?* pada saya. juga pada follower, favoriters, dan silent readers (kalo ada). Saya minta doa kalian agar saya nggak nabrak dinding (baca : writer block) selama bikin cerita ini.
Sekian dari saya, ja na~~
