Important Notice : kalau anda reader baru, saya sarankan untuk baca dulu prekuel dari serial ini, yaitu Himitsu no Uta (silakan cek profil author)
Rhapsody of Secret ~秘密の狂詩曲
by Mizumori Fumaira
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha corp.
Genre : Drama, Hurt/Comfort, Romance (as subgenre)
Rate : T (some gore scene, mention some mental abnormality, people with disability)
Warning : typo(s), OC(s), some uncannons (cannons based on Hiyama Kiyoteru' profile from Ice Mountain fanbook)
Phase 3
Miku baru selesai membaca komik ketiganya saat ia mendengar seseorang membuka pintu kamar inapnya. Ia bisa melihat jelas pria berambut cokelat-kopi itu tampak agak kelelahan. Tidak bisa menghampirinya untuk menyambutnya, Miku hanya bisa tersenyum ke arah pria yang tengah melepas jaketnya.
"Okaeri," sapa Miku, berhasil mengalihkan atensi pria itu sepenuhnya kepadanya. Ia tampak terkejut, namun tak lama sebuah senyum lembut menghiasi wajahnya.
"Tadaima," balasnya.
Rasanya ada kebahagiaan yang tak terkira memenuhi hati Miku. Hanya bertukar salam seperti itu saja sudah membuat ia melayang. Ia berharap, kedepannya pun ia bisa mengucapkan kata itu pada pria yang ia cintai.
"Sensei kelihatan capek. Darimana?" tanya Miku sambil meletakkan kembali komik yang baru selesai ia baca ke dalam kantong yang diletakkan di atas kursi di sebelah ranjang Miku.
"Aku mengunjungi bapa untuk memberitahukan keadaanmu. Katanya ia akan menjenguk kalau sudah selesai menunjuk panitia persiapan paskah," jelas Kiyoteru, "setelah itu, aku berkunjung sebentar menemui guru SMA-ku."
"Hee… menyenangkan, ya?" ujar Miku, "sudah lama aku tidak ke Shizuoka, jadi kangen. Aku juga ingin lihat gereja tempat sensei tinggal dulu."
"Makanya cepat sembuh. Nanti kita jalan-jalan," ujar Kiyoteru sambil mengacak rambut Miku setelah meletakkan jaketnya di sandaran kursi yang sama tempat kantong kertas berisi komik dan novel pinjam Rin dan Ayako. Ia lalu melihat ke arah meja kecil di sebelah ranjang Miku, "sudah waktunya makan malam, ya?"
"Ah, ya. Baru sekitar lima menitan diantarkan, tapi ibu masih belum pu—Tunggu, sensei mau apa?"
"Memberimu makan, tentu saja," balasnya sambil meraih mangkuk bubur dari meja.
"Eeh, tapii…" Miku bisa merasakan wajahnya menjadi panas, "…tu, tunggu ibu saja."
"Kenapa? Tidak mau kusuapi?" ujar Kiyoteru dengan nada dan tatapan memelas dan kedua tangan memegang erat mangkuk bubur itu. Miku tidak akan bisa menang kalau sudah begitu.
"Ba… baiklah…" ujar Miku akhirnya, membuat Kiyoteru tersenyum girang. Pria itu menyendokkan bubur dan tersenyum manis ke arah sang gadis. "Selamat makan," gumam Miku.
"Nah, buka mulutnya, aaa…"
"Bo—hmph!" ejekan Miku tertahan oleh bubur yang masuk ke mulutnya, membuatnya segera menelan bubur itu, "kenapa harus seperti itu sih? Memangnya aku anak SD?"
"Ups. Kupikir Miku-chan masih TK," ejek Kiyoteru, "mukamu merah sekali. Mau kuberitahu Kurosaki-sensei agar kau diresepkan obat penurun panas?"
"Nggak usah! Sensei tau 'kan, penyebabnya bukan demam?!" protes Miku di sela-sela acara makannya. Kiyoteru tertawa puas melihat Miku marah-marah dengan wajah merah dan berusaha menelan bubur yang terus ia berikan.
"Dasar S. Apanya yang herbivor?" batin Miku kesal. Tapi melihat Kiyoteru yang tertawa seperti itu, ia pasrah saja. Ia akan melakukan apapun, asalkan tawa dan senyumnya tidak memudar dari wajahnya.
Dengan diselingi tawa Kiyoteru dan protes Miku, makan malam itu berlangsung damai.
"Terima kasih atas hidangannya," ujar Miku sambil menangkupkan tangannya setelah bubur itu habis, kemudian Kiyoteru membantunya minum dari gelas. Menatap Kiyoteru yang merapikan mangkuk dan gelas bekasnya, Miku tersenyum,
"terima kasih, sensei. Ini makan malam yang menyenangkan."
Kiyoteru membalas senyumnya, "mulai sekarang, aku berharap bisa melewati makan malam yang menyenangkan bersamamu."
Miku merasakan ada hal yang aneh dari senyumnya itu. Juga senyumnya saat ia mengatakan tadaima. Ada perasaan aneh yang membuat Miku merasa tidak tenang.
Gadis itu mengangkat kelingking kirinya.
"Janji?"
Sebelum Kiyoteru sempat mengaitkan kelingkingnya pada Miku, seorang perawat masuk ke dalam ruangan. Perawat itu merupakan perawat yang baru pertama Miku lihat, karena selama ini yang merawatnya adalah Kawahara Azami, perawat yang pertama kali ia temui saat ia sadar.
"Ah, Kiyoteru-san benar di sini rupanya. Anda dicari oleh Himuro-sensei," ujar perawat itu. Iris merah mudanya kemudian bersirobok dengan iris aquamarine milik Miku, membuat Miku mengangguk tanpa sadar—sebagai gestur sapa. Perawat itu balas mengangguk.
"Terima kasih, Miki-san," ujar Kiyoteru. "nah, Miku, kutinggal sebentar tidak apa-apa?"
"Nggak masalah," ujar Miku, yang masih memerhatikan perawat itu. Miki… bukankah itu nama kecil? Perawat itu juga… memanggilnya dengan nama kecil.
Miku menggelengkan kepala. "Mungkin teman SMA atau kuliah… sudahlah…"
Segera setelah Kiyoteru dan Miki keluar dari kamarnya, Miku meraih komik lain dari kantong kertas di sebelahnya, namun tanpa sengaja menyenggol jaket Kiyoteru. Sebuah pot obat terjatuh begitu saja ke dalam kantung komik dan menarik perhatiannya. Miku meraih pot obat itu, dan membaca label yang tertempel.
"Obat untuk sensei… kenapa dia minum obat? Apa ia sakit?" batin Miku. Ia kemudian menilik lebih teliti obat itu, "Xan… hmm… aku tidak bisa membaca merknya. Tapi, ini obat yang harus ditebus dengan resep dokter. Berarti… obat keras?"
Miku merasakan jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang tidak ia ketahui Kiyoteru—tidak, sesungguhnya Miku merasa ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Kiyoteru.
Namun Miku berusaha menepis prasangkanya.
"Mungkin hanya obat biasa. Aku tidak boleh berpikir macam-macam," pikir Miku akhirnya. "tapi sebaiknya, mungkin aku akan mencoba mencari tahu lebih lanjut…"
Hatsune Miku menatap jendela di samping ranjangnya. Terlihat di kejauhan bunga-bunga sakura yang mulai bermekaran. Tidak terasa, tiga hari lagi ia akan mulai masuk kuliah. Walau begitu, Miku rasanya berharap waktu tidak berjalan secepat itu.
Setelah latihan, ia bisa menggunakan tangannya untuk beberapa hal yang ringan seperti memegang buku, menyuapi dirinya sendiri—meski lebih lambat dari biasanya, mencengkram, memakai dan mengancingi baju, dan menulis. Walau begitu, semuanya sangat terasa terbatas karena seringkali tangannya terasa kaku atau lemas, bahkan keduanya sekaligus. Selain itu, untuk menulis, ia masih kesulitan menuliskan kanji-kanji yang banyak goresannya.
Kabar baiknya, setelah Miku mencoba mengerjakan ulang soal ujian masuknya—yang diberikan oleh Kurosaki, ia bisa mengerjakannya dengan baik bahkan mendapat skor lebih tinggi dari ujiannya yang asli. Hal tersebut membuktikan bahwa trauma pada lobus frontalis otaknya benar-benar hanya berefek pada gerakan motorik sadarnya. Miku sangat bersyukur akan hal tersebut—karena bisa saja ia dikeluarkan dari universitas S bahkan sebelum ia mulai kuliah karena dianggap tidak kompeten.
Untuk mandi dan membersihkan dirinya sendiri, ia masih perlu dibantu. Walau begitu, Miku juga akan terus berlatih. Selain itu, ada lagi yang harus ia mulai latih.
"Oke, sekarang mari kita ke ruang latihan," ujar Azami, lalu memindahkan Miku dari ranjang ke kursi dengan tangkas. Setiap meter ia menjauh dari bangsalnya, Miku merasakan detak jantungnya makin kencang.
"Kawahara-san," ujar Miku akhirnya, "menurutmu apakah aku bisa jalan dengan kedua kakiku lagi?"
Perawat bersurai hitam tersanggul itu menghentikan lajunya. Miku bisa mendengar ia menghela napas pendek, lalu mengubah arah perjalanan mereka. Miku hanya menatap perawatnya heran.
Setelah sekitar 10 menit, ia sampai di bagian rumah sakit yang sedikit berbeda : cat warna-warni dan bergambar, aroma strawberry yang samar, serta terdengar riuh-rendah suara anak-anak tertawa maupun menangis. Kemudian, gadis itu dibawa masuk ke suatu ruangan yang berkesan luas dan terang oleh cahaya matahari yang lembut dari jendela-jendela yang ada di salah satu sisi ruangan.
"Ini…"
Tak banyak orang di ruangan itu. Hanya ada beberapa ibu bersama anak-anaknya masing-masing. Meski mereka melakukan hal yang berbeda-beda, sudah jelas bahwa itu adalah ruangan latihan bagi para balita untuk belajar berjalan. Ada yang masih merangkak, ada yang berusaha berdiri namun kemudian limbung dan ditangkap oleh ibunya yang tertawa kecil, ada yang berusaha berjalan sambil meletakkan tangannya di tembok, juga satu balita yang tampak bersungguh-sungguh mencapai ayahnya yang berdiri tak jauh darinya sambil merentangkan tangan sementara sang ibu menjaga dengan siaga di belakang sang anak.
"Kita semua pernah melaluinya, Miku, hanya saja kita tidak ingat. Berulang kali bangkit dan terjatuh, hingga akhirnya kita bahkan bisa berlari sepuas hati," Azami berujar lembut, "memang sayang sekali kau harus mengalaminya sekali lagi, tapi percayalah bahwa kau bisa melewatinya."
Perlahan Miku bisa merasakan dirinya tersenyum saat sang anak yang tadi berhasil mencapai ayahnya meski sempat terjatuh sesekali. Tampak ayah dan ibu dari anak itu tertawa gembira, sementara ibu-ibu yang lain bertepuk tangan. Miku juga jadi bertepuk tangan.
"Ayo, Kawahara-san. Aku akan berusaha."
Tak sampai lima belas menit, Miku menemukan dirinya berdiri dengan Azami menyokong tubuhnya. Kedua tangannya mencengkram erat palang yang ada di kiri dan kanannya. Kakinya masih terasa seperti jelly bahkan lebih tidak konsisten lagi. Sementara itu, ternyata ibunya sudah sampai lebih dulu di ruang latihan dan duduk di sisi lain ruangan, memerhatikannya dengan saksama.
"Baiklah, Hatsune-chan. Aku akan meminta Kawahara-san melepaskanmu. Kau siap?" tanya seorang pria botak yang tak lain adalah dokter spesialis ortopedi yang menangani Miku, Kuukai Aoto-sensei.
"Aku siap."
Perlahan, Miku tidak merasakan adanya sokongan yang membuat tubuhnya tetap tegak. Bersamaan dengan itu, ia merasakan beban yang begitu berat—tubuhnya sendiri. Ia bisa merasakan kakinya begitu lemas dan tak mampu menahan bobotnya sendiri. Tangan Miku yang jadi penopang pun mulai gemetar hebat karena merasa berat dan sakit. Tapi ia tidak bisa menyerah di sini. Ia tak boleh—
Tubuhnya belum sempat menumbuk tanah karena Azami dengan sigap menangkapnya, namun ada rasa nyeri lain yang menjalar di seluruh tubuhnya. Bukan berasal dari luka tikamnya, melainkan rasa nyeri yang bercampur dengan ketakutan yang amat sangat. Kenyataan bahwa ia bahkan tak bisa menopang bobot badannya sendiri memadamkan semangatnya begitu saja. Ia bisa merasakan pandangannya mulai kabur karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Walau begitu, ada hal lain yang membuatnya memutuskan untuk tidak menangis.
Jauh beberapa meter darinya, pundak Miho tampak bergetar, kedua tangannya menutup mukanya yang sepertinya basah oleh air mata. Wanita itu pasti sangat khawatir, juga pasti merasakan rasa sakit yang sama dengannya. Oleh karena itu, dengan kekuatan yang tersisa, ia harus melakukan sesuatu agar ibunya tak khawatir lebih dari itu. Dengan susah-payah, ia menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Tidak apa-apa, bu. Aku hanya kaget," Miku berujar, dengan nada paling tenang yang bisa ia buat, "sensei, bolehkah aku melakukannya sekali lagi?"
"Kau yakin kau mau melakukannya sekali lagi?" tanya Aoto. Ini baru latihan pertamanya namun gadis itu berusaha untuk tampak tidak kelelahan, seolah mengontradiksi eksistensi dari peluh yang membasahi pelipisnya. Banyak pasien yang bahkan perlu dibujuk untuk berlatih lagi setelah mengetahui kenyataan seperti itu, namun gadis itu tampak berbeda.
Kata kunci : berusaha.
"Tolong, sensei," Miku menundukkan kepalanya, "aku tidak bisa… membuat ibu terus bersedih," bisiknya tanpa ada satupun yang mendengar.
"Baiklah, Hatsune-chan. Kau sudah siap?" Miku mengangguk. Sekali lagi, ia merasakan bobot tubuhnya membebani kakinya. Walau begitu kali ini, kakinya harus bertahan. Selama ia berusaha memindahkan tumpuannya pada kedua kakinya, tangannya mulai terasa sakit dan berat. Tak lebih dari lima detik, ia merasakan tubuhnya limbung kembali.
Sifat optimis miliknya yang selalu ia banggakan hilang entah ke mana. Miku merasakan keputusasaan yang begitu pekat.
Walau begitu, sebuah senyum tetap terukir di wajahnya.
"Kalau begitu, ibu pulang dulu. Jangan terlalu berpikir yang berat-berat dan tidur saja. Kiyo-kun akan datang sebentar lagi, katanya," ujar Miho sambil membuka pintu bangsalnya. Malam sudah menjelang dan Miho memutuskan untuk pulang ke rumah setelah beberapa hari menginap di rumah sakit dan menemani Miku latihan menggunakan tangannya.
"Iya, bu. Terima kasih. Hati-hati di jalan."
Suara pintu yang tertutup merupakan impuls yang membuat senyuman di wajah gadis itu lenyap seketika. Tak berselang lama, sesuatu yang hangat mengalir deras dari kedua matanya. Keputusasaan, rasa rendah diri, rasa takut, rasa bersalah, semuanya bermanifestasi menjadi air mata yang tak bisa ia pendam lagi. Ia tak mau memperlihatkan dirinya yang lemah seperti itu kepada siapapun—tidak pada ayah dan ibunya juga Kiyoteru. Sudah cukup ia membuat mereka terus-menerus khawatir. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berusaha kuat dan tetap tersenyum…
…walau rasanya begitu melelahkan.
Tanpa sadar, gadis itu tertidur dalam tangisannya. Kemudian, dalam tidurnya yang tak bermimpi, ia dapat merasakan sesuatu yang hangat mengusap wajahnya, membuat hatinya terasa sedikit ringan.
Meski melelahkan, Miku bersyukur karena hidupnya dikelilingi orang-orang yang ia cintai dan mencintainya. Oleh karena itu, ia tak boleh menyerah. Ia tidak bisa menyerah
(A/N) : yaash akhirnya keliatan aslinya author yang tukang ngaret. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan saya mau minta maaf karena ada kemungkinan minggu depan nggak bisa update lagi, walau sya akan berusaha sekuat tenaga untuk update tiap minggu. Chapter ini juga sedikit banget dan penuh bawang, mungkin, tapi kalo soal ini saya nggak akan minta maaf *bersembunyi di balik genre H/C*
eniwei seperti biasa terima kasih kepada reviewer chapter sebelumnya cilok-chan dan chindleion juga follower, favoriter dan silent reader! Doakan saja agar author ini tidak ngaret lagi.
Ja mata ne!
