• Daddy and His Beloved Triplets [ II ] •
[ series ; bahasa ; b x b ; bts ; namjoon ft. jimin, taehyung, jungkook ; namjin ; pg / k+ ]
a/n: baru tahap-tahap bapaknya eskaesde gitu deh ke guru les anak-anaknye.
sama buat temen sekelas w dua orang cewe cowo, Aurel dan Irul, numpang pinjem nama ye. mayan lah ngeksis di ff w.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Jungkook & sohib di kelas - Naskah Drama Ver.)
Seulgi: "Hhh... liburan semester kapan yah."
Wendy: "Pengen cepet-cepet."
Joy: "Tiga bulan kapan selesai yah."
Irene: "Dari Maret loncat langsung ke Juni tanggal merah gak bisa gitu yah."
Yeri: "Maunya sih loncat dari jendela aja kalo idup gini-gini aja."
Irene: "Hhh."
Joy:"Lelah sama sekolah."
Wendy: "Lelah sama Pak Amir."
Seulgi: "Lelah sama candaannya Suho."
Wendy: "Pengen berenti sekolah."
Joy: "Pengen libur selamanya."
Irene: "Laper."
Yeri: "Iya, laper."
Jungkook: "Yuk, kantin."
Seulgi, Wendy, Joy, Irene, Yeri: "Yuk."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Jimin dan krocos di Gedung BigHit)
"Okeh. Kali ini kita coba latihan tari gak ketemu dompet ya." Sambil bertepuk tangan sekali, Taemin, instruktor dance di BigHit, menyerukan kepada seluruh dancer yang berjumlah sepuluh orang yang sedang latihan.
"Tari gak ketemu dompet? Apaan tuh Kak?" tanya Minhyuk.
"Udah pada liat 9GAG belum? Kan dance-nya Call Me Baby EXO masup tuh. Caption-nya 'Can't Find My Wallet'," jawab instruktor.
"HAHAHAHAHAH iya itu gue liat! Pecah sih." Min langsung berseru.
"Mana sih mana?" Jimin ikut penasaran. Yang lain ikut mengerubungi.
"Nih nih," ujar Min sembari bersemangat membuka handphone-nya.
.
.
.
.
.
5 menit kemudian.
"WAHAHAHAHA! KOCAK BANGET!"
Taemin kembali bertepuk tangan, "Ya, ya, nonton Mister Bean-nya nanti aja ya, kita langsung mulai aja latihannya."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Taehyung & sohib di kelas - Naskah Drama Ver.)
Eunji: "Sebel banget sih. Tiap hari dapet notif Let's Get Rich mulu. Enak juga kalo kena notif jadi beneran banyak duit."
Sandeul: "Bisa kok itu dimatiin."
Eunji: "Oh iya? Gimana caranya?"
Sandeul: "Auk deh. Tanya aja ama yang ngerti matiinnya gimana."
Eunji: "Yee. Kirain ngerti."
Chorong: "Sama lop stori lop stori gitu apaan sih. Galau mulu kerjaan apa ya."
Bomi: "Mending juga notif Zodiak apa Golongan Darah gitu ye."
Eunji: "Iye dah, kedemenan lu banget kek begitu-begitu emang."
Bomi: "Yee 'kan lebi seru daripada galau." (sambil membuka LINEchatroom)
Chorong: "Ih kok stikernya lucu banget? Baru ye, Dewi Sandra ngipas-ngipas gitu?"
Bomi: "Iye nih. Padahal kemaren gue belom ngijinin."
Eunji: "Ngijinin apaan?"
Bomi: "Ngijinin LINE-nya buat ngeluarin stiker muka gue."
Sandeul: "Mpok Atik kalo ngarep jangan ketinggian, Mpok."
Bomi: "Iyein aje dah gembok warung ngomong."
Sandeul: "'Sa ae lu kunci musola."
Eunji: "Apaan dah lu pada."
.
.
.
.
.
.
.
#
Eunji: "Loh, Taehyungnya mana? Kita doang ni yang ngomong?"
Sandeul: "Dia ceritanya lagi kejar setoran gitu, ke wese."
Eunji: "Oo. Kejer setoran mulu ye. Bokong ape pegawai TU."
Bomi: "Laper nih. Makan yuk pada."
Sandeul & Eunji & Chorong: "Yuk."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Narrator's Speech Ver.)
Wawawawawawaawablablablawawawawaaasasasahahahahaha (ceritanya suasana kelas yang ribut. Kelasnya Taehyung)
1 menit kemudian.
"ADA PAK RIDWAN~ ADA PAK RIDWAN~" Seru ketua kelas, Kwon Jiyong sambil meloncati meja guru dan berjalan menuju kursinya. Dia memang ketua kelas yang tingkahnya agak eksentrik.
Serentak semua murid menghentikan aktivitas mengobrolnya dan kembali ke tempat duduk masing-masing.
Tak lama kemudian, muncullah sosok yang tidak asing di mata semua murid. Wajah yang tenang, diliputi kacamata yang tak pernah terlepas dari wajah sekalipun tidur maupun berwudhu.
Bapak Ridwan Kamil.
(Kebetulan nama dan perawakannya saja yang agak mirip dengan walikota X.)
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Pak Ridwan berjalan dengan langkah mantap dengan dandanannya seperti biasa. Peci di kepala, syal di leher, dan sarung di pinggang. Dan sandal jepit mushalla yang alhamdulillah bukan hasil curian. Jangan salah paham, penampilan beliau memang seperti demikian, bukan karena dia habis khotbah shalat Jumat. Juga tentu saja, dia bukan mengajar pelajaran Agama Islam ataupun mengaji, tapi kesenian. Karena buku yang dikepit di tangannya adalah buku Kesenian SMA dan buku gambar.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Dengan khidmat seluruh murid di kelas menjawab.
"Puji syukur atas berkat dan rahmat kita panjatkan ke hadirat Allah swt. Yang telah merahmati kita karena atas berkat dan rahmat-Nya jua lah kita dirahmati untuk kembali bertemu lagi dalam kesempatan yang dirahmati ini."
"Rahmatnya banyak banget Pak, mentang-mentang orangnya ga masuk," sahut Seungri.
"Kalimatnya ngulang-ngulang gitu ya, Pak." Taeyang juga menyahut.
"Si bapak mo ngajar ato mo pidato ya, Pak." Daesung pun ikut menyahut.
T.O.P tidak ikut menyahut karena dialah Rahmat yang dimaksud. Nama lengkapya adalah Rahmat Seunghyun.
"Ngga, cuman iseng aja. Yuk, keluarin buku gambarnya, hari ini kita gambar perspektif."
.
.
.
.
.
.
.
#
"Okeh, break dulu ya semua."
Semua dancer langsung duduk dari posisi, terlihat kelelahan. Ada yang mengambil minum, ada yang mengatur napas, ada juga yang senam sehabis nge-dance.
"Yak, jadi sekarang aku mau koreksi ajah dari latian tadi. Karena dance gak ketemu dompet masih baru, kayanya masih ada yang salah gerakannya. Jongup, agak terlalu lebay nepuk-nepuk badannya. Zelo malah agak lemes pas bagian nepuk-nepuknya. Belum sarapan ya?"
"Udah kok Kak."
"Oh udah. Kalo belum aku kasih susu pisang tuh, ada di tas." "Oke, terus... siapa lagi ya... oh iya. Hyuna jangan lenggak-lenggok banget ya, nanti dikira sinden."
"Jimin, Kak, Jimin?"
"Jimin udah bagus. Tinggal dipoles dikit lagi aja."
"Gitu ya kak. Hehe. Tengkyu."
"Iyah. Sama-sama. Okeh, mau ngomong itu aja. Sekarang break dulu sepuluh menit, nanti kita lanjut lagi ya."
"Oke Kaaa~k"
.
.
.
.
.
"Ka Taemin! Ka Taemin! Pacar dateng, pacar!" seru Min dari kejauhan.
"Eh iya?" Taemin langsung beranjak dari posisi duduknya. Kelihatan sekali mukanya langsung berubah cerah. "Bentar dong, bilangin dia aku cuci muka dulu. Nggak enak muka kudel begini."
"Cieee okeh, Kak~"
.
.
.
.
.
"Heeey, sayang~ pus pus~"
"Meow~"
"Loh, pacarnya kucing?"
"Bukan, pacarnya yang bawain kucing itu."
Seorang pria tampan seperti pemain drama Korea.
"Hei." Pria itu tersenyum melihat sang pacar yang habis cuci muka.
"Sapa tu?" Jimin berbisik dengan Min melihat pacarnya instruktor dari kejauhan.
"Itu, Kak Minho namanya. Tajir loh denger-denger. Rumahnya kan di kawasan Pantai Indah Kapuk."
"Iya sih. Mobilnya aja Lamborghini." Minhyuk ikutan gosip.
"Iya." jawab Min.
"Wong dia emang businessman sukses gitu ya katanya." Hyuna ikutan gosip.
"Iya." jawab Min.
"Masa? Bukannya pemain bola juga?" Minhyuk bertanya lagi.
"Iya." jawab Min.
"Ganteng banget ya." ucap Jimin.
"Iya." jawab Min.
Min empat kali menjawab 'iya' bukan karena dia hanya mengiyakan, tapi memang semua yang dikatakan oleh geng gosip tentang si pacar itu benar.
"Hei, sayang," Taemin tersenyum, cara bilang 'sayang'-nya beda dengan cara dia bilang 'sayang' terhadap kucingnya. Dikalungkannya kedua tangannya di leher pacarnya, berciuman mesra. Kucingnya hanya bersahut meong melihat keduanya.
"Hhh. ngiri sama Kak Taemin." Keempat bocah gosip itu berbarengan bicara.
"Eaaa, mupeng, mupeng." Sahut Jongup dan Zelo dari belakang.
.
.
.
.
.
.
.
#
(di kelasnya Jungkook - Bahasa Gaul Ver.)
Ada guru.
Ada murid.
Gurunya cewe. Ibu-ibu. Namanya Bu Darsimah. Umurnya sekitar 70-an. Pake jilbab. Ngajar Bahasa Indonesia.
"Ingat ya, kwitansi pake 'W' itu bukan kata baku, tapi kuitansi pake 'U' yang bener." "Coba yang ada KBBI diliat lagi ya, bener apa ngganya. Ada yang bawa KBBI?"
"Ni Buk, saya ada KBBI di hape." Baekhyun menyahut dari belakang.
"Widih. Canggih bener hapenye. Mana coba Ibu liat."
Baekhyun cuman mesem-mesem sambil bawa hape ke meja guru.
"Mana KBBI-nya?"
"Bentar Buk, buka dulu kunci hapenya." "Nih, Buk."
"Ooo... iya iya." "Canggih bener ya. Jaman ibuk belom ada nih yang kek gini." Katanya sambil manggut-manggut. Kacamatanya sampe goyang-goyang.
Baekhyun mesem-mesem dobel. Yang ngeliat cuman ngekek dikit. Maklum, nenek-nenek.
Tiba-tiba.
"Astagfirullah!"
"Eh, astagfirullah! Kenapa, Bu?"
"Ini kenapa gerak sendiri hapenya?"
Baekhyun ngintip.
Abis itu pengen ngakak.
"Ee... buk, itu kepencet deh kayanya."
"Oh iya? Ini ibu teken gerak sendiri?"
"Iya, kan hapenya touchscreen, Bu."
"O gitu... ckck, macem-macem aja dah jaman sekarang, canggih bener."
Yang laen udah nahan ketawa aja.
.
.
.
.
.
Sementara itu, Jungkook dan sohib, Hayoung, di belakang. Bisik-bisik bedua.
"Sst, Young."
"Ape."
"Udah mulai belom Music Banknya?"
"Bentar lagi nih. Streaming-nya nge-lag."
.
.
.
.
.
Satu jam pelajaran berlalu.
Jungkook dan Hayoung, masih sibuk sendiri nungguin streaming-an Music Bank di laptopnya Hayoung. Sampe Jungkook bobo bentar, ga merhatiin Bu Darsimah jelasin.
"Eh, Kookie, Kookie, sini cepetan."
"Eh? Udah mulai ya?"
"Udah nih, abis iklan." "Duh nge-lag lagi. Sial banget sik streaming-nya."
"Cepet napa ih, mau liat Eksooohhh." Jungkook merengek sambil geleng-geleng badan.
"Eh, udah ni udah!" Hayoung langsung senggol-senggol seru.
Terus Jungkook langsung bahagia. "Mana, manaaa?! Omaygat Chanyeol-"
"Jungkook."
DEG. Si Ibu akhirnya notice. Dua-duanya langsung matung.
"I-iya, Bu?"
"Ngapain sama Rizki di belakang?" Si Ibu mulai nurunin kacamata. Natep selidik.
"Ha? Rizki?"
"Iya, itu sebelah kamu tu Rizki bukan namanya?"
"Hayoung, Bu, Oh Hayoung," yang punya nama membenarkan. Mane mane Rizki dah, si nenek ngaco mulu kerjaannye, keluhnya dalam hati.
"Oh... Hayoung. Kirain Ibu Rizki tadi, Rizki Aurelia."
Yang laen bengong. Hayoungnya udah hela napas aja.
"Iya. Jadi ngapain tu, si Chairul sama Hayoung di belakang?"
"Ha? Chairul?"
"Iya. Chairul Insan kan, namanya?"
"Jungkook kali, Bu." sahut Baekhyun udah nggak tega dengan penyalahsebutan nama dua oknum tersebut.
Bener-bener dah.
.
.
.
.
.
(Beberapa saat kemudian setelah insiden salah nama beres)
"Ee... ngga ngapa-ngapain, Bu." Jungkook salah tingkah.
"Trus kalo ngga ngapa-ngapain kenapa cuman laptop-nya Hayoung yang diliat, bukan penjelasan Ibu?"
"Kita nonton, Bu." Timpal Hayoung jujur.
"Sst, Young!" Jungkook nyenggol-nyenggol.
"Udah, biarin." Hayoung cuek.
"Nonton apa?"
"Music Bank di Indosiar."
"Oh. Bagus. Nonton Music Bank di kelas Ibu ya."
"...Ma- maaf, Bu." Jungkook makin ga enak. Duh, mampus ini, batinnya dalam hati. Si ibu kalo udah ngambek bahaya juga. Keluar kelas pake jalan mundur. Iye, bukan bahaya lantaran serem dia ngamuk, tapi gegara penyakit uzurnya itu.
Hayoung cuek aja. Paling abis ini disuruh apa gitu, pikirnya. Hukum bediri depan kelas sambil tarik kuping, kali.
"Yaudah, Jungkook. Hayoung."
"I- iya Bu?"
"Idupin proyektor. Pasang speaker. Kita nonton Music Bank bareng."
.
.
.
.
.
.
.
#
( Rumah Keluarga Cemara - Bahasa Gaul Ver.)
Lagi di rumah.
Ada Jungkook, Taehyung ama Seokjin.
Ngerjain peer. Biasa, bulan-bulanin guru lesnya kalo musim peer dateng.
"Hnngggg ini kok susah banget sih, Kaak."
"Jungkook... yang namanya soal itu dikerjain, bukan dikeluhin. Kerjain aja dulu yah."
"Tapi ini tuh Kookie ga ngertii, ga nyambung ama rumusnyaa."
"Yang mana kamu ga ngerti sini, coba kaka liat."
Taehyung yang sedari tadi anteng-anteng aja jadi senyum-senyum singkat melihat tingkah laku adik bungsunya yang memang manja itu.
"Tuh. Apanya yang susah? Tinggal masukin ro ge ha aja."
"Iya, tapi kayak... orang ha-nya aja gak diketahui?"
"Kak, ini gimana ya. Pake cara biasa atau rumus laen?" Taehyung ikut nimbrung.
"Lagi asik apa nih, seru banget kayanya?" "Papa ikut dong~"
Tiba-tiba datang yang tidak diharapkan. Ketua geng.
"Hush, hush, Papa gak usah ganggu." Si bungsu ngibas-ngibasin tangannya.
"Jahat ih. Papa juga 'kan pengin belajar gitu." "Ini apaan nih, kok kaya cacing?"
"Itu bukan cacing. Itu bacanya 'beta'."
"Oh, beta tu gini kan, 'beta kelaparan! dari kemarin belum makan! kasihanilah beta!"
Taehyung, juga Seokjin ketawa aja ngeliat sang ayah memeragakan omongannya dengan wajah komikalnya.
"Papa malu-maluin ih. Udah sana." Si bungsu merengut mendorong kecil ayahnya.
"Eh, eh, kok gitu sih, Kookie sama Papah. Jangan gitu sayang ~"
"Gausah nyanyi."
"Sibapak keknya gembira banget ya hari ini." Seokjin tiba-tiba latah.
"Udah biarin aja, dia emang suka gila sendiri."
Trus abis itu malah si Papah ngajak Taehyung ama Seokjin ngobrol aja nyuekin Jungkook.
Ngambeklah si bungsu.
.
.
.
.
.
.
.
#
( keesokan harinya, Seokjin di Gramedia )
"Hmm... udah semua belum ya ini."
Seokjin mengecek daftar barang yang harus dibeli.
Attack on Titan Vol. 14: Check
Beelzebub Vol. 20: Check
Topeng Kaca Vol. 55: Check
DVD Tersanjung All Episodes: Check
Hai, Miiko! Vol. 28: Belum Check
Kuroko's Basketball 12: Belum Check
"Oh iya, Miiko ama Kurobas."
Seokjin bergegas ke arah rak komik-komik baru, tapi tidak mendapatkan apa yang dia cari setelah skimming.
"Hh... masih yang ini ya. Lama banget sih yang barunya."
Kemudian dia berjalan ke sektor rak lain. Rak buku cara memasak.
.
.
.
.
.
Tiba-tiba di sektor buku anak-anak.
"Eh, Saudara Seokjin."
"Eh, Pak Namjoon." "Nggak sama anak-anak nih, Pak?"
"Ngga, jomblo aja kok ini." "Kamu jomblo juga nih?"
"Iya, Pak." "Maksud saya, dateng kesininya gitu yang jomblo."
"Iya. Tapi aslinya jomblo juga 'kan?"
"Eh- hahaha..."
Si bapak jahat juga ya. (dalem hatinya Seokjin.)
"Cocok gitu ya kita, sama-sama jomblo. Jombloers." "Btw cari apa nih, kamu?"
"Anu... ini, cari Kurobas."
"Ooh. Nanti saya pinjemin deh. Di rumah ngoleksi kok hehe."
"Ooh... punya anak Bapak?"
"Punya saya dong."
"Oh iya. Bapak kan demen yang begitu-begitu. Hehe."
"Begitu-begitu gimana tuh maksudnya?"
"Iya... begitu-begitu deh."
"Ooh. Yaudah nanti lain kali saya ngomongin Kurobas komik yang 'begitu-begitu deh' aja ya."
"Iya deh, semaunya Bapak aja."
.
.
.
.
.
.
.
#
TINUT, TINUT.
TINUT, TINUT.
Tet.
"Halo, Jongdae?"
"Pak, anu... mobil kantor masih diasuransi ya?"
"Iya, kenapa emang?"
"Ini, katanya si Joko mau minjem, buat nganterin tetangganya ke pasar."
"Ha? Nganterin ke pasar aja kok mesti pake mobil kantor segala. Naek becak aja bisa kan, apa Kopaja gitu. Bayarin." "Ato kalo mo gampang dia yang narikin becaknya sekalian."
"Gatau nih Pak, kerjaannya si Joko."
"Lagian tetangga yang mo belanja kenapa si Joko yang repot?"
"Gatau juga Pak. Joko bilangnya kemaren udah dipinjemin duit ama tetangganya, jadi pengen bales budi gitu."
"Loh kok dipinjemin duit balikinnya bukan pake duit juga?"
"Yah, urusan Joko lah, Pak. Kita mah mana tau."
"Hh... ada-ada aja si Joko mah. Yaudah bilang aja sama dia, mobil lagi dibenerin di bengkel."
"Loh ngga bilang diasuransiin aja, Pak?"
"Ya kan sama aja diasuransi ama dibengkel."
"Ha? Beda tau, Pak."
"Ya kan sama-sama disimpen gitu mobilnya."
"Oh... iya sih Pak."
"Iya, gitu. Iyain aja saya ngomong apa."
"Iya, Pak."
"Hehe. Lagian si Joko kalo dipinjemin bukannya balik ke kantor, tapi balik ke asuransi lagi. Iya 'kan?"
"...iya juga ya Pak. Betewe ini tuh mobil diasuransi gara-gara si Joko ya Pak?"
"Iya. Tuh kamu tau.
"Oalah..."
"Iya. Udah, mo ngomong itu aja?"
"Anu, Pak..."
"Apa? Anu apa?"
"Gaji... kapan turun ya, Pak?"
"Oh... itu mah gampang. Minta turunin aja dari langit. Hehe. Kan rezeki dari Tuhan, gitu."
"...iya sih, Pak... ngerti..."
"Iya. Bagus deh kalo ngerti."
"Pak..."
"Iya, iya, jangan nangis. Besok, deh, besok. Kamu kaya anak saya aja."
"Bener nih ya, Pak?
"Iya. Bener."
"Janji, Pak?"
"Janji."
"Serius?"
"Serius."
"Beneran?"
"Beneran."
"Demi?"
"Demi."
"Alhamdulillah... makasih banyak ya, Pak. Akhirnya."
"Alah kamu orang tanggal turun gajinya masih seminggu lagi aja rewel."
"Hehe... abis Bapak kalo gak diingetin suka lupa gitu."
"Gitu ya. Bisa aja kamu."
"Bisa dong Pak. Hehe."
"Pak." Seokjin tiba-tiba menyentil tangannya. Namjoon melihat ke arahnya.
"Ya?"
Seokjin membisikkan sesuatu.
"Loudspeaker-nya kenceng banget."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Masih bersama Namjoon dan Seokjin - yang pertama ngomong si Seokjin)
"Yang tadi nelpon siapa, Pak?"
"Ha? Kenapa emang?" "Cemburu ya?"
"Haha, bisa aja si Bapak mah."
"Pacar saya tadi tuh, di kantor."
"Eeh? Beneran?"
"Tu, tu, cemburu kan, cemburu... ciee..."
"Eeh, bukannya cemburu atuh, Pak." "Kaget aja gitu kalo misalnya bapak tiba-tiba punya pacar."
"Kamu anggep serius amat."
"Iya ya Pak, haha. Maaf ya, Pak."
"Tuh, pake minta maap segala. Apa coba yang mesti dimaapin."
"Iya Pak, saya mah gitu orangnya emang. Maklum aja, Pak, hehe."
"Oo... jadi kamu kalo misalnya ditanya nama aja bakal minta maap gitu ya, punya nama?"
"Yaaa ga gitu juga kali Pak, bisa aja nih."
"Ooh nggak, kirain." "Kalo saya nih, tipikalnya kalo ngambil duit di ATM, struknya yang diambil. Duitnya mah dibuang."
"Oo beneran ni Pak?"
"Bener. Saya mah gitu orangnya."
Seokjin ketawa aja. Namjoon ikut ketawa.
Becanda doang, jing.
.
.
.
.
.
"Betewe kenapa kaget kalo saya punya pacar?"
"Eh? Iya... kenapa ya? Emang saya kaget ya, Pak?"
"Tadi bilang 'kaget kalo Bapak tiba-tiba punya pacar' gitu apa maksudnya?"
"Oh... haha, ga kok, Pak." "Ya... kaya kaget aja gitu. Orang kaya Bapak bisa punya pacar."
"Loh? Kok jahat gitu sih nilainya?"
"Eh ngga gitu kok maksud saya, Pak." "Maksudnya kayak... Bapak kan udah punya istri gitu..."
"Hm."
"Iya, Pak."
"Terus?"
"Terus? Apa, Pak?"
"Terus kamu mau jadi pacar saya?"
"Lohh kenapa malah kesana coba, Pak, nyambungnya. Hehe..." (salah tingkah.)
Si Namjoon ngekek seneng aja.
.
.
.
.
.
(Masih bersama Namjoon dan Seokjin - yang pertama ngomong si Namjoon)
"Laper nggak sih?"
"Saya nggak begitu. Bapak udah laper ya?"
"Lumayan. Tapi ngga papa deh ntar aja."
"Oh, gapapa kalo Bapak mau makan dulu."
"Gitu?"
"Iya."
"Beneran?"
"Beneran, Pak."
"Kalo gitu kamu temenin saya mau nggak?"
"Boleh, Pak."
"Demi apa?"
"Demi lah, Pak."
"Oke deh, ke Sushi Tei mau ya? Ngidam sushi banget nih."
"Ke mana aja boleh lah, Pak."
"Yakin nih?"
"Yakin dong, Pak."
"Coba bilang 'bawa aku kemanapun kau mau'."
"Wah gombal nih si bapak."
"Udah, bilang aja."
"'Bawa aku kemanapun kau mau'."
"'Akan kubawa kau ke hatiku.'" "Aseek~"
"Pak, nanti antreannya makin panjang. Mending bayar dulu bukunya."
"Oiya, bener juga kamu."
.
.
.
.
.
.
.
#
"Permisi Pak, mau pesan apa?"
"Bentar ya Mbak." Seokjin menjawab dengan sopan setelah menutup buku menu. "Udah mau pesen, Pak?"
"Oh boleh, boleh." Namjoon kemudian ikut menutup buku menu. "Ee... saya mau pesen... nasi timbel, ada mbak?"
"Mohon maaf, Pak, untuk nasi timbel kita tidak menyediakan disini."
"Ogitu? Trus menyediakan apa ya Mbak?"
Hening sebentar. Seokjin pura-pura menggaruk kepala.
.
.
.
.
.
"Hehe, iseng kok, mbak. Saya pesan ini, ini, sama ini ya. Minumannya yang ini." "Kamu mau pesen apa?"
Seokjin tertawa kecil. Dia seperti sesaat terlupa jika pria di depannya memang suka iseng.
"Saya yang ini, ini, sama ini ya, Mbak. Minumnya air mineral aja."
"Oke, saya ulangi lagi ya, Mas, pesanannya."
.
.
.
.
.
"Kamu banyak juga makannya."
"Iya Pak, makanya gendut gini kan."
"Ah, masih gendutan anak saya."
"Emang ada ya anak Bapak yang gendut?"
"Ada tuh. Si Jimin."
"Loh, tapi Jimin nggak gendut kok."
"Oh gitu? Alhamdulillah deh. Akhirnya ada yang ngomongin dia ga gendut juga."
(sempet ketawa bentar) "Oh iya. Omong-omong, Ibu nggak ikut ya Pak?"
"Ibu mana?"
"Itu... istri Bapak maksud saya."
"Ooh... istri mah udah lama meninggal."
Raut muka Seokjin langsung berubah. Beneran lupa banget kalo istrinya Pak Namjoon sudah tiada.
"Oh, maaf ya, Pak."
"Gapapa. Saya 'kan emang duren. Duda keren."
Seokjin tertawa.
.
.
.
.
.
Di sela-sela kediaman mereka selanjutnya, Namjoon memperhatikan buku-buku yang dibeli oleh Seokjin.
Diantaranya yang paling menyita perhatiannya adalah 'Inferno by Dan Brown'.
"Selera kamu hebat juga."
Seokjin melirik sesaat ke buku yang dimaksud oleh Namjoon, kemudian langsung menampik. "Eh... nggak kok, Pak. Cuman iseng pengen nyobain novel aja." "Saya sih sebenernya dari dulu ga kuat, cuman ini kek nyobain aja gitu. Seberapa tahan."
(manggut-manggut) "Kamu kok sama banget sih kayak saya. Gak tahan baca novel."
"Hehe. Gitu ya, Pak."
"Iya."
Kemudian dua sejoli itu melanjutkan obrolan asiknya sampai sore.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Seokjin dan Namjoon, LINE Chatroom Ver.)
(20.02 WIB, rumahnya Seokjin)
'Selamat malam. Ini saya, Namjoon.'
Seokjin sedikit bingung dengan fakta Namjoon yang mengetahui nomornya. Oh, Seokjin hampir lupa. Kalau misalnya dia mengetahuinya dari salah satu anaknya, tentu itu adalah hal yang mudah.
Tapi buat apa?
'Selamat malam, Pak. Ada apa ya?'
'Kamu besok ada jadwal mengajar di rumah saya?'
'Ya, ada.'
'Bagus kalau begitu.'
'Eee, Pak.'
'Ya?'
'Kalau boleh tahu, ada apa ya, Pak?'
'Kamu benar-benar tidak ingat?'
'Ingat apa ya, Pak?'
'Sampe kita pulang dari Sushi Tei 'kan kamu nggak bawa apa-apa.'
Seokjin langsung curiga.
'Oh iya, buku saya. Maaf, Pak, saya benar-benar lupa.'
'Ah, nggak lupa kok. Tuh, inget 'kan buktinya.'
'Tenang aja, bukunya ada di saya.'
'Numpang baca ya.'
'Santai saja, Pak. Terimakasih banyak sebelumnya, Pak. Maaf sudah merepotkan Bapak.'
'Kamu kebanyakan deh, 'Pak'-nya. Okelah, kamu juga santai aja.'
'Baik Pa-
'Lain kali tidak usah panggil saya 'Pak', ya.'
'Memangnya kenapa, Pak?'
'Kamu 'kan bukan bawahan saya. Nggak usah panggil saya 'Pak' gapapa.'
'Kalo gitu saya sebaiknya panggil Bapak apa?'
'Panggil nama saja.'
'Beneran, Pak?'
'Sudah saya bilang, nggak usah sungkan.'
.
.
.
.
.
.
.
#
(Esok harinya Rumah Keluarga Cemara - Naskah Drama Ver.)
Ceritanya udah sore, habis pulang sekolah.
Taehyung: "Tuh 'kan, apa dibilang. Ka Seokjin uda dateng."
Seokjin: "Haloo, baru pulang?"
Taehyung: "Iya nih, Ka. Tadinya mau nemenin dia nonton Naruto, tapi ga jadi."
Seokjin: "Hee mau bolos les gitu ya?"
Jungkook: "Iih 'kan filmnya sejam sebelum les." (mengerucutkan bibir.)
Seokjin: "Tetep aja. Kan filmnya dua jam lebih."
Jungkook: "Emang kaka udah nonton filmnya?"
Seokjin: "Belumlah. Orang filmnya baru banget keluar, 'kan."
Taehyung: "Dia mau pamer gitu kak, ama temennya di Path, jadi yang perdana nonton."
Jungkook: "Apaan sih, sok tau kamu."
Taehyung: "Yee, bener 'kan. Abisan ngotot gitu minta temenin."
Seokjin: "Yaudah deh, hari ini ga ada les dulu. Kita nonton Naruto aja."
Jungkook: "Eh, beneran nih ka?" (langsung nada kegirangan)
Seokjin: "Iyaa. Kaka jadi pengen juga deh nonton. Ngehitz banget 'kan filmnya soalnya."
Jungkook: "Huwaa, tengkyu kakaaaa~ the best banget deh!"
Taehyung: "Oiya. Kedemenan bapak banget ya yang begitu-begitu."
.
.
.
.
.
.
.
#
(Keluarga Cemara di XXI PIM)
Jungkook: "Yaaaah aku keduluan sama Taeyong :("
Taehyung: "Apanya?"
Jungkook: "Dia udah update Naruto yang jam 14.45 tadi :("
Taehyung: "Yaudasih, tinggal update aja yang jam sekarang."
(abis itu iseng ngeliatin Seokjin maen hape)
Taehyung: "Ngapain, Kak? Sms-an ya ama pacar?"
Seokjin: "Ngaco. Mau pamer dulu dong di Path, jadi yang perdana. Hehe."
Taehyung: "Yaelah. Sama aja."
Taehyung membuka Path. Meng-update 'Watching: The Last: Naruto The Movie at XXI Pondok Indah Mall 2'.
.
.
.
.
.
.
.
#
Friday, 16:47.
Kim Jungkook Watching: The Last: Naruto The Movie with Taehyung and Seokjin at XXI Pondok Indah Mall 2.
"H3H3."
Hayoung loved you with Taehyung and Seokjin.
Hayoung commented: "tjie finally"
Jungkook commented: "finally sisstttt"
Bomi loved you with Taehyung and Seokjin.
Eunji loved you with Taehyung and Seokjin.
Bobby commented: "pertamax bro"
Jungkook commented: "Taeyong tu pertamax"
Namjoon commented: "pertamax bro"
Namjoon commented: "bolos kursus niye"
Jungkook commented: "gurunya sendiri yang minta fyi xD"
Namjoon commented: "OOO."
Taehyung commented: "OOO."
Hayoung commented: "Astagfirullah Pak Seokjin"
Taehyung commented: "Astagfirullah Pak Seokjin"
Namjoon commented: "Astagfirullah Pak Seokjin"
Seokjin commented: "ya ampun ^^;; maaf banget loh ^^;;"
Jimin frowned at you with Taehyung and Seokjin.
Jimin commented: "KOK AKU GA DIAJAAKKKKK"
Namjoon frowned at you with Taehyung and Seokjin.
Namjoon commented: "Papa juga ga diajak kok :("
Jimin commented: "Hiks :( Pundung :("
Namjoon commented: "Hiks :( Pundung :("
Jungkook commented: "Maap ya ndud. Sisa popcorn aja ya :)"
Namjoon commented: "Papa ga dikasi maap ni? :("
Jungkook commented: "Papah mah bungkus akua aja :)"
Namjoon commented: "Hiks :( Pundung part 2 :("
Taehyung commented: "Udah, udah. Fokus."
Seokjin laughed at you with Taehyung.
Jungkook loved you with Seokjin.
Taehyung loved you with Seokjin.
.
.
.
.
.
.
.
#
(Rumah Keluarga Cemara)
"Kami pulangggg~~"
"Halooo anak-anak gaul." "Gimana filmnya?" Si Papa bertanya.
"Asiklah, mayan," jawab Taehyung.
"Jahat ih ngga ajak-ajak :(" Jimin pundung.
"Kamu 'kan les nari?" timpal Jungkook.
"Iya sih... tapi 'kan kalian bolos~ aku juga mau diajak bolos :(" "Oh iya sih tapi, 2 bulan lagi dance competition."
"Eh, dance competition dimana? Kudet nih Papa."
"Disini aja kok, udah masuk tingkat provinsi." "Ya tapi gapapa tau bolos sehari aja."
"Widih, hebat si ndud udah masuk provinsi." "Nanti papa nonton deh, pake seragamnya cheerleader. 'Enndud, Enndud, FIGHTIIIING~~!' gitu nanti Papa."
"HAHAHAHA gimana Pah tadi?"
"Enndud, Enndud, FIGHTIIIING~~!" (silahkan dibayangkan sendiri gaya norak seorang Namjoon.)
"Yaelah Pa..." Taehyung yang baru selesai dari kamar mandi langsung merasa ingin ke kamar mandi lagi melihat tingkah ayahnya.
"Papaaaaah, kelakuan ih :(" Jungkook merengut yang kesekian kali.
"Oh iya, jaga kelakuan ya."
"HAHAHAHAH KOCAK BANGET." Jimin masih sibuk tertawa.
"Btw leh-oleh buat Papa mana?"
"Nih, KFC."
"Oh, ngga jadi bungkus akua?"
"Mau Papah? Nih."
"Ih, becanda tauk." "Tengkyu ya gorengannya."
"Ayam gorenggg, bukan gorengan."
"Lah 'kan ayam goreng tu digoreng? Gorengan juga dong."
"Iya, iya. Suka-suka Papah."
"Chim mau Pah, suapin~"
"Lah kamu katanya diet?"
"Gapapa kali icip dikit."
"Pak Seokjin mana?"
"Kan duluan."
"Lho, ga bareng ama kalian?"
"Yeee, kenapa emang?"
"Yaa nanya aja sik. Gaboleh?"
"Iye boleh iye."
"Eh, besok jalan yuk! Malming-an." sahut Papanya kemudian semangat.
"Ayuuuk, mau kemana?" Ketiga bocahnya ikut bersemangat.
.
.
.
.
.
.
.
# to be continued
